-Edisi Wanita Hebat- "Aku wanita bodoh yang mencintaimu dalam kehebatan cinta dan kesetiaanku"
"Banci lo!" kata Roby ke Kevin
"Banci lo!" kata Roby ke Kevin
"Tapi gue gak mau nyelingkuhin dia." kata Kevin ke kedua cowok dihadapannya ini
"Jadi.. lo mau setia?" tanya Raka
Kevin dan Raka sama-sama terkekeh kecil.
"Zaman skarang lo mau setia? Haha bisa-bisa lo diketawain sama ayam!" kata Roby sambil meletakan tangannya di pundak Kevin yang terlihat bingung, entah harus menuruti kata-kata teman-temannya itu ataukah tetap menjaga kesetiannya ke Pevita, kekasihnya yang sangat dia cintai itu.
"Yapz betul!" timpal Raka, "Zaman skarang lo itu gak dianggap keren kalo gak punya pacar lebih dari satu."
"Setuju gue bro!" kata Roby
"Gimana?" tanya Raka
"Entahlah.." jawab Kevin datar
"Vin.. gini aja deh. Kalo lo bisa jadiin Saskia itu pacar lo, ya kita berdua rela deh jadi babu lo selama sebulan, terserah deh lo mau lakuin apa ke kita berdua, oke oke!" kata Raka
"Gue setuju banget bro." kata Roby, "Kita berdua kasi waktu ke lo selama seminggu, dekatin Saskia si anak Biologi itu. Kalo perlu noh mobil gue, kuncinya gue kasi deh ke lo bebas lo pake selama sebulan asal lo bisa jadiin Saskia itu pacar lo. Gimana?"
Kevin tak menjawab .. pikirannya kacau saat itu, mana yang harus dia pilih.
"Tenang aja deh Vin.. kalo lo lagi dekat sama Saskia, ya pacar lo siapa itu namanya?"
"Pevita.." jawab Kevin dan Roby secara serentak, yang kemudian keduanya saling pandang.
"Haa.. Iya, iya.. Pevita." ucap Raka, "Tenang aja deh, rahasia lo bakalan aman sama kita-kita. Pevita gak bakalan tau kok."
"Hmm.. Roby dan Raka mungkin ada benarnya. Tawarannya juga kayaknya asyik nih. Lagian.. cuma seminggu kan gue deket sama Saskia? Gak lebih. Kalo Pevita tau gimana ya? Ah kan cuma seminggu.. Boleh juga, babu dan mobil sport, wow!" gumamnya dalam hati
"Gimana Vin?" tanya Roby lagi
"Ok.. gue mau." kata Kevin
"Sip! Gitu dong.. tapi ingat ya waktunya cuma seminggu. Kalo lo gak bisa buat Saskia jadi pacar lo dalam waktu seminggu, lo kalah dan itu berarti lo yang jadi babu kita selama sebulan." kata Roby
Kevin mengangguk.
Tak lama kemudian, Kevin kembali ke rumahnya dengan motor king hijau miliknya.
"Haha rasain tu anak.. abis kita kerjain! Haha dia kira gampang apa deketin Saskia?! Lo tau sendiri kan Ka, tu Saskia jutek banget." kata Roby diselingi dengan tawanya.
Raka ikut tertawa
"Eh.. tapi Rob itu Saskia kalo gak salah kan masih sepupu lo sendiri?"
"Haha iya sih .. Haha tapi biarlah, haha gue jamin dia gak bakalan bisa deh jadiin Saskia itu cewenya apalagi tantangan yang kita kasi itu kan cuma seminggu." kata Roby, "Haha nah lo deketin si Saskia waktu kita SMA dulu aja malah di bully kan sama dia?" lanjutnya
Raka ikut tertawa
"Eh.. tapi Rob itu Saskia kalo gak salah kan masih sepupu lo sendiri?"
"Haha iya sih .. Haha tapi biarlah, haha gue jamin dia gak bakalan bisa deh jadiin Saskia itu cewenya apalagi tantangan yang kita kasi itu kan cuma seminggu." kata Roby, "Haha nah lo deketin si Saskia waktu kita SMA dulu aja malah di bully kan sama dia?" lanjutnya
Raka mengiyakan. Keduanya kembali tertawa bersama-sama.
***
***
Keesokkan harinya..
-"Kevin kamu dimana sayang? Kok aku telpon nomor kamu gak aktif sayang?"- sms terkirim
Pevita merasa gelisah hari itu. Entah karena apa, belakangan ini dia merasakan kalo Kevin sudah mulai berubah. Sekarang dia lebih sering meluangkan waktunya bersama kedua teman sekelasnya itu, Roby dan Raka.
Tak lama kemudian..
Piip.. Piip.. Piip..
Bunyi klakson motor yang sangat dikenalnya. Siapa lagi kalau bukan Kevin.
"Sayang.." Pevita tersenyum senang melihat kekasihnya datang tepat disampingnya dengan motor king hijau milik cowok tampan dan berlesung pipi ini.
"Hai sayang." Kevin balas tersenyum, "Pulang yuk.. Aku antar."
"Hmmm" Pevita langsung saja menaiki motor kekasihnya itu.
"Sayang aku tadi telpon kamu tapi nomor kamu gak aktif." kata Pevita
"Iya sayang, aku minta maaf ya.. tadi batreiku lowbet. Gak sempat ngejawab telpon kamu. Maaf ya sayang.."
"Iya deh.. Gak apa sayang. Love you." bisik Pevita ditelinga Kevin dan semakin mempererat pelukannya.
Ketika tiba dirumah Pevita, cewek cantik berdarah Jerman-Indonesia itu langsung turun dari motor kekasihnya.
"Sayang, gak mampir dulu?" tanya Pevita
"Lain kali aja ya sayang? Aku masih ada tugas yang harus aku selesein."
"Baiklah.."
Setelah mencium kening Pevita seperti biasa, Kevin dan motornya langsung melaju hingga lenyap dari pandangan Pevita.
"Bik aku pulang!" seru Pevita saat masuk kerumahnya
"Lo?" tanya Pevita begitu bola matanya yang kecoklatan itu menatap sosok cowok tampan berbaju merah yang sedang duduk dikursi ruang tamu.
"Hai Vit.." sapa cowok tampan berbaju merah itu.
"Lo ngapain disini?" tanya Pevita dengan nada sedikit ketus
"Haha ya gue cuma datang untuk liyat wajah calon istri gue ajah kok." jawab cowok tampan itu
"Jangan mimpi lo Roby!" kata Pevita sambil berjalan hendak memasuki kamarnya
"Terserah lo deh Vit.. yang jelas gue sayang banget sama lo dan lo bakalan jadi istri gue. Bokap nyokap lo masih di Jerman kan? Asal lo tau aja, yang jadi penolong perusahan bokap nyokap lo itu bokap gue."
"Nah truuusss? Apa? Gue musti bilang makasih gitu? Ya udah makasih, tapi bukan sama lo. Makasihnya sama bokap lo." Pevita langsung masuk kedalam kamarnya
***
"Hai Saskia.." sapa Kevin
Saskia tak menghiraukan sapaan Kevin malah melanjutkan membaca buku ditangannya.
-"Kevin kamu dimana sayang? Kok aku telpon nomor kamu gak aktif sayang?"- sms terkirim
Pevita merasa gelisah hari itu. Entah karena apa, belakangan ini dia merasakan kalo Kevin sudah mulai berubah. Sekarang dia lebih sering meluangkan waktunya bersama kedua teman sekelasnya itu, Roby dan Raka.
Tak lama kemudian..
Piip.. Piip.. Piip..
Bunyi klakson motor yang sangat dikenalnya. Siapa lagi kalau bukan Kevin.
"Sayang.." Pevita tersenyum senang melihat kekasihnya datang tepat disampingnya dengan motor king hijau milik cowok tampan dan berlesung pipi ini.
"Hai sayang." Kevin balas tersenyum, "Pulang yuk.. Aku antar."
"Hmmm" Pevita langsung saja menaiki motor kekasihnya itu.
"Sayang aku tadi telpon kamu tapi nomor kamu gak aktif." kata Pevita
"Iya sayang, aku minta maaf ya.. tadi batreiku lowbet. Gak sempat ngejawab telpon kamu. Maaf ya sayang.."
"Iya deh.. Gak apa sayang. Love you." bisik Pevita ditelinga Kevin dan semakin mempererat pelukannya.
Ketika tiba dirumah Pevita, cewek cantik berdarah Jerman-Indonesia itu langsung turun dari motor kekasihnya.
"Sayang, gak mampir dulu?" tanya Pevita
"Lain kali aja ya sayang? Aku masih ada tugas yang harus aku selesein."
"Baiklah.."
Setelah mencium kening Pevita seperti biasa, Kevin dan motornya langsung melaju hingga lenyap dari pandangan Pevita.
"Bik aku pulang!" seru Pevita saat masuk kerumahnya
"Lo?" tanya Pevita begitu bola matanya yang kecoklatan itu menatap sosok cowok tampan berbaju merah yang sedang duduk dikursi ruang tamu.
"Hai Vit.." sapa cowok tampan berbaju merah itu.
"Lo ngapain disini?" tanya Pevita dengan nada sedikit ketus
"Haha ya gue cuma datang untuk liyat wajah calon istri gue ajah kok." jawab cowok tampan itu
"Jangan mimpi lo Roby!" kata Pevita sambil berjalan hendak memasuki kamarnya
"Terserah lo deh Vit.. yang jelas gue sayang banget sama lo dan lo bakalan jadi istri gue. Bokap nyokap lo masih di Jerman kan? Asal lo tau aja, yang jadi penolong perusahan bokap nyokap lo itu bokap gue."
"Nah truuusss? Apa? Gue musti bilang makasih gitu? Ya udah makasih, tapi bukan sama lo. Makasihnya sama bokap lo." Pevita langsung masuk kedalam kamarnya
***
"Hai Saskia.." sapa Kevin
Saskia tak menghiraukan sapaan Kevin malah melanjutkan membaca buku ditangannya.
"Yaampun ini cewek budek kali ya?" gumam Kevin dalam hatinya.
"Hai Sas.. Lo lagi baca apaan sih?" tanya Kevin yang langsung membolak-balikaan buku yang sedang dibaca Saskia.
"Lo apa-apaan sih?!!" bentak Saskia. Lalu kemudian beranjak dari duduknya dan pindah ke tempat duduk yang lain ditaman dekat dengan ruangan program studinya.
Kevin tak mau menyerah begitu saja meski dalam hatinya, dia kesal dengan sikap Saskia yang menurutnya sok kecakepan banget dan sok jual mahal banget. Padahal jelas-jelas didekatin sama cowok setampan Kevin.
"Huh ini kalo bukan demi tantangan itu, deeeeeh malas banget dah gue deket sama cewek kayak gini! Masih mendingan skarang gue nemenin Pevita aja. Aaaaaaarghh!" Kevin mengomel dalam hatinya sendiri.
"Sas.. lo cantik banget deh hari ini." Lidah Kevin terasa ingin muntah saat dia mengatakan kalimat itu dari mulutnya sendiri.
"Oh makasih." jawab Saskia singkat sambil terus membaca bukunya.
"Sas bentar lo ada waktu gak?"
"Ngapain nanya-nanya?" Saskia balik bertanya
"Gue mau ngajak lo dinner, di tempat yag istimewa buat cewek secantik lo."
"Basi!" kata Saskia dengan ketus
"Huh sialan ni cewek, jual mahal banget! Apa karna sikapnya gini jadinya gak punya pacar juga ya sampe hari gini. Sikapnya gini, gue jamin jomblo seumur hidup lo. Puuuf.. Kalo bukan demi taruhan itu gue gak bakalan deket-deket sama lo." gumam Kevin dengan kesal dalam hatinya.
"Suer Sas. Gue pengen dinner sama lo." kata Kevin
"Gak ada waktu!" jawab Saskia datar
Saskia langsung beranjak dari duduknya dan berlalu dari pandangan Kevin begitu saja..
***
"Hei!" seru Raka dan Roby saat melihat Kevin berjalan mendekati mereka.
"Hei.." balas Kevin
"Gimana bro dengan Saskia?" tanya Raka saat Kevin duduk ditengah-tengah keduanya.
"Susah bro.."
"Haha jadi lo nyerah gitu?" tanya Roby
"Berarti lo kalah taruhan ni.. jadi siap-siap deh jadi babunya kita berdua."
"Eh tunggu-tunggu! Lo gak bisa gitu aja dog Vin.." timpal Roby.
Raka menatap Kevin dengan heran.
"Ya maksud gue, lo gak harus nyerah gitu juga kan? Kan masih ada 5 hari lagi. Siapa tau lo bisa jadi pacarnya Saskia." kata Roby, "Ini kan belum sampai tanggal batas tantangan yang kita kasi ke lo. Kalo lo kalah sama aja dengan pecundang kan?" lanjut Roby meyakinkan Kevin untuk tidak mundur dari tantangan yang mereka berikan.
"Baiklah.." jawab Kevin datar
***
Hari ke-4 ..
"Belakangan ini dia jarang ngunjungi gue Ndo. Telponnya juga kadang di non-aktifkan. Gue tanya dia bilang, lagi kerja tugas." ungkap Pevita ditelpon kepada Rolando, sahabat sejak kecilnya Kevin.
"Gue ngerti perasaan lo Vita. Tapi ya lo kan tau dia itu sayang banget sama lo. Buktinya aja dia gak pernah selingkuh kan dari lo selama kalian jadian udah 4 tahunan ini?"
"Iya sih.."
"Nah gitu dong. Itu baru namanya Pevita Cleo Eileen Pearce yang gue kenal. Lo harus percaya sama dia Vit." Rolando menasihati Pevita yang juga adalah sahabat dekatnya.
Siangnya dikampus..
"Hei lo Pevita pacaranya Kevin Hendry Anggara kan? -iya- Dia lagi pacaran sama Saskia Sigar Sastrowijoyo, anak Biologi itu!"
Semenjak tadi hanya kalimat itu yang selalu mengusik pikirannya. Bagaimana tidak? Hari ini, tepatnya siang ini saat dia baru memasuki ruangan kelas, seorang cewek berkulit hitam manis datang menghampirinya dan mengatakan kata-kata itu.. Tentang Kevin, tentang kekasihnya yang katanya sedang..
"Aaaaaaaaargggh!!" Teriak kecil Pevita, "Apa yang gue pikirin sih? Gak! Kevin gak mungkin gitu! Gue percaya sama dia. Ya.. gue gak apa-apa. Harus percaya sama Kevin. Apapun yang cewek itu bilang." gumamnya pelan pada dirinya sendiri
"Cie yang lagi galau.."
"Lo? Lo lagi.. lo lagi.. Ngapain sih ngikutin gue melulu?" tanya Pevita ke Roby
"Hai jodoh gue, yang lagi terdampar di jodohnya orang lain.." ucap Roby yang sengaja tidak ingin menjawab pertanyaan Pevita padanya
"Apa-apaan sih? Mimpi lo.. sampe gue mati pun, jangan mimpi buat dapetin cinta gue."
Pevita berdiri dari duduknya tapi saat dia hendak melangkahkan kaki pergi, Roby malah mencengkram pergelangan tangan kanannya.
"Roby! Lepasin, sakit.." Pevita mencoba melepaskan cengkraman tangan Roby dari pergelangannya tapi tampak usahanya sia-sia saja.
"Kenapa sih, lo gak bisa terima gue? Hoo.. apa karna Kevin?" Roby tertawa sinis
"Iya .. gue gak bisa terima lo karena hati dan cinta gue udah jadi miliknya Kevin sejak 4 tahun yang lalu, sejak lo ninggalin gue gitu aja dengan memberi gue harapan palsu dan sekarang lo datang ngemis-ngemis minta cinta gue balik sama lo? Gak! Gak bakalan! Lo mau tau kenapa karena gue sangat bahagia dari 4 tahun lalu sampai sekarang karna gue miliki seseorang di hidup gue, dan itu bukan lo tapi Kevin Hendry Anggara. Jelas?"
"Kevin? Haha.. Kevin.." Roby yang saat itu sudah berdiri juga, lagi-lagi tampak senyuman sinis dibelahan bibirnya.
"Vita .. lo sadar gak sih? Kevin itu gak ada apa-apanya dibandingkan gue. Ayahnya itu pegawai bokap gue. Apa sih yang Kevin punya? Kevin gak bisa buat lo bahagia, yang pantas buat lo bahagia itu gue karna gue punya segalanya yang Kevin gak punya! Jelas?" bentak Roby, "Sadar dong Vit.. Kevin itu gak bisa ngasih lo apa-apa, dibanding gue. Apa yang lo mau? Uang? Harta? Apa?! Tinggal sebut saja gue bakalan penuhi itu semua dalam sekejap yang sama skali gak bisa dilakuin Kevin."
"Lo salah!" seru Vita sambil menatap Roby dengan tegas, "Lo salah besar kalo bilang Kevin gak punya apa-apa dibandingkan lo. Kevin punya cinta yang buat gue bahagia dan bersyukur gue memiliki seseorang disamping gue seperti dia. Itu sesuatu yang gak lo punya sama sekali." kata Pevita, "Uang dan harta kekayaan yang lo miliki gak bakalan bisa membeli cinta gue. Lo salah besar kalo berpikir gue bisa bahagia dengan kekayaan. Lo harusnya nyadar Rob, apapun yang lo mau gak bisa seenaknya lo beli gitu aja, gak semuanya lo bisa milikin. Ada hal-hal yang harus lo relakan dan lepaskan."
Pelan-pelan Roby melepaskan cengkraman dipergelangan tangan Pevita, yang kemudian terduduk dan terdiam di kursi. Pevita pun beranjak dari tempat itu dan beralih ke perpustakaan tempat dia menghabiskan waktunya selain ditaman dekat gedung fakultasnya.
Sedangkan dari balik pohon tak jauh dari taman yang tadi Pevita dan Roby sedang berbincang, Raka sedang mendengar pembicaraan mereka.
"Eh ketemu lagi mbak.." suara cewek yang sama, yang beberapa hari lalu sempat bertemu denganya juga di perpustakaan ini.
"Eh iya ni mbak.."
Pevita melirik sekuntum bunga yang sejak tadi dipeluk oleh cewek disamping mejanya ini.
"Pasti baru dikasih bunga sama pacar ya?" tanya Pevita
"Eh si mbak ini masih ingat aja.." ucapnya dengan malu-malu
Pevita tersenyum
"Aku jadi malu ni.." Saskia meraba-raba pipinya yang panas-panas tak menentu mungkin saat itu kalau ada kaca, pasti dia sudah bisa melihat wajahnya sendiri yang merah merona.
"Setiap kita ketemuan, mbak kan selalu cerita tentang si cowok misterius itu."
"Ah iya ya.." Saskia terkekeh, "Mbak tau gak hari ini dia romantisnya pake banget. Dia ngasih aku bunga dan coklat, aah juga tiket nonton konser musik ini." Saskia memperlihatkan tiket itu ke Pevita. "Aku sih masih belaga bodoh aja, padahal aslinya aku suka banget sama dia, mbak. Diam-diam aku menaruh rasa sama dia. Tapi aku takut dia cuma pura-pura sama aku."
"Ngapain takut? Percaya saja sama dia. Siapa tahu dia beneran cinta sama mbak bukan pura-pura seperti apa yang mbak pikirkan."
"Iya juga ya mbak.." Saskia mengiyakan, "Eh sampe lupa, mbak kita kan belum kenalan? Namaku Saskia Sigar Sastrowijoyo."
"Saskia Sigar Satrowijoyo? Saskia Sigar Sastrowijoyo? Saskia Sigar Sastro.."
"Mbak.. mbak.." panggil Saskia
Lamunan Pevita buyar dari pikirannya pelan-pelan
"Eh iya, maaf.. namaku.. namaku Pevita Cleo Eileen Pearce." suara Pevita terdengar sedikit terbata-bata, wajahnya seakan pucat pasi, denyut nadinya berdetak lemah, bunyi jantungnya seolah-olah sudah tidak dag dig dug
"Mbak, mbak baik-baik aja kan?" tanya Saskia yang menyadari wajah Pevita yang tampak tak sebaik tadi.
"Iya.. aku baik-baik kok. Memangnya siapa nama cowok itu? Pasti dia tampan setampan hatinya sama mbak."
Saskia terkekeh pelan, "Kevin Hendry Anggara, mbak. Anak jurusan TI."
"Mbak, maaf aku ada kelas.. aku pamit duluan ya.." kata Pevita yang langsung berjalan keluar perpustakaan.
Pevita berlari sekencang-kencangnya yang dia bisa dari kampus. Airmata dibelahan mata bawahnya langsung menetes dipipinya.
***
Sesampainya dirumah, dia masuk kekamarnya dan menangis memeluk hadiah boneka big bear yang diberikan Kevin, kekasihnya pada anniv mereka yang ke 4 tahun lalu.
Sorenya..
"Sayang..sayang.." panggil Kevin yang membangunkannya dari tidurnya.
Pevita membuka matanya pelan-pelan, menatap kekasihnya yang duduk disamping tidurnya ini.
"Kamu sakit sayang?" tanya Kevin, "Aku dengar dari bibik tadi kamu pulang wajahmu pucat skali tapi gak mau makan, minum, ataupun dokter mau priksa kamu aja kamu gak mau. Kenapa sih sayang? Cerita sama aku."
Pevita tak menjawab tapi bangun dari tidurnya dan memeluk kekasihnya itu. Erat, erat sekali. Kevin balik memeluk kekasihnya yang sangat dicintainya itu, sama eratnya.
Untuk beberapa saat, keduanya tak berbicara hanya saling memeluk.
"Vin.. jangan pergi."
"Kok ngomong gitu?" Kevin melepaskan pelukannya.
Pevita kembali menarik tubuh Kevin dan dipeluknya lagi. Kevin balas memeluknya.
"Jangan tinggalin aku sayang. Aku gak ingin kamu pergi, pergi dari hatiku, dari hidupku."
Kevin mengeratkan pelukannya.
"Iya aku janji sama kamu, aku gak bakalan pergi. Aku gak bakalan tinggalin kamu. Kamu itu istriku Pevita. Aku jamin itu!"
"Janji?"
"Hmm.." Kevin melepaskan pelukannya dan menatap Pevita lekat-lekat. "Kamu itu wanita pertama dan terakhir untuk hidupku." Kevin memeluknya lagi.
***
Malamnya..
"Wah.. indahnya ini.." kata Saskia, matanya berbinar-binar menatap semua yang ada didepannya. "Kevin, kamu yang nyiapin semua ini?"
"Ehem" Kevin berdehem, "Kasih tau gak ya? Kasih tau gak ya? Mau tau, apa mau tau banget?"
"Ih kamu.." Saskia mencubit perut Kevin dengan mesra, "Apa-apaansih? ledek.."
"Hehe .. gak kok."
Ditaman tempat biasanya anak-anak muda sering berduaan dengan kekasihnya, dibawah sinar rembulan yang indah, Kevin dan Saskia menikmati makan malam mereka.
"Ini.." Mata Saskia mengangkat sebuah cincin yang muncul dipotongan puding coklat dipiringnya.
Kevin tersenyum dan berjalan mendekati Saskia lalu berlutut disamping kursinya.
"Sas.. aku suka sama kamu dan aku ingin rasa ini terwujud. Aku ingin kamu jadi kekasihku. Aku juga bingung dengan semua ini, tapi sikap kamu yang mungkin bagi cowok lain itu jutek banget dan gak banget, tapi bagiku gak gitu. Sikap kamu malah membuat aku jadi suka sama kamu."
Saskia langsung memeluk Kevin
"Aku juga suka kamu."
"Jadi kita jadian?"
Saskia mengangguk pelan.
Kevin tersenyum kemenangan. Ya.. dengan semua ini dia bisa buktikan kalo dia itu bukan pecundang dan bisa taklukin cewek sejutek Saskia dan itu artinya juga Roby dan Raka akan menjadi babunya selama sebulan dan mobil sport milik Roby bisa dia miliki untuk sebulan juga.
Brem.. breem.. breeem..
Motor Kevin tiba didepan rumahnya Saskia yang juga langsung turun dari boncengan Kevin.
"Aku masuk dulu ya.."
"Hmm masuklah.."
"Eh.." Saskia langsung mendaratkan ciumanya dipipi Kevin. "Good night sayang, makasih buat segalanya khusunya malam ini. Aku sayang kamu." Setelah mengatakan itu Saskia langsung masuk ke rumahnya.
"Ih..ih..ih amit-amit jabang bayi. Ih..ih..ih.. dicium sama dia, ih..ih..ih amit-amit dah! Mendingan dicium sama Pevita. Ih..ih..ih.." gumam Kevin sambil berusaha menghapuskan ciuman dipipinya tadi.
***
Keesokkan harinya..
"Hai sayang.." Kevin menghampiri Pevita dan seperti biasa mencium kening cewek cantik ini.
Namun ekspresi wajah Pevita datar. Tak ada sapaan balik untuk kekasihnya layaknya dia yang biasanya.
"Loh kamu kenapa sayang? Kamu sakit lagi?" tanya Kevin sambil meraba-raba dahi dan leher juga tangan-tangan kekasihnya ini. "Gak panas kok.."
"Aku sakit. Tapi bukan badan aku yang sakit..yang sakit itu hati aku."
"Sayang, sayang.. hei kamu kenapa sayang? Cerita sama aku.."
"Aku gak perlu cerita kok, kamu kan sudah tau sendiri ceritanya kayak gimana."
Disaat yang sama dari matanya keluarlah sudah butiran bening itu..
Kevin menghapus airmata kekasihnya itu dan memeluknya.
"Aku gak ngerti maksud kamu apa? Aku gak ngerti.. tapi tolong jangan katakan hal-hal yang gak aku ingini keluar dari mulutmu sendiri." kata kevin dengan setengah berbisik.
Pevita melepaskan pelukannya Kevin dan menyodorkan kepadanya beberapa fax foto yang baru diterimanya tadi pagi. Kevin mengambil foto-foto tersebut dan melihatnya satu per satu. Semuanya itu adalah fotonya semalam bersama Saskia..
Pevita menahan airmatanya kembali jatuh, dia menunjukkan rekaman vidio yang baru tadi pagi diterimanya via BBM.
Mata Kevin seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Foto-foto yang dipegangnya tadi jatuh berserakan dilantai rumah Pevita.
"Sayang.. sayang.. aku bisa jelasin semua ini. Tolong.. tolong kamu percaya sama aku." Kevin memegang kedua lengan cewek cantik dihadapannya ini. "Ini semua tipuan.. tolong Vita.. jangan percaya sama ini. Kamu dengar aku kan sayang? plis.."
Airmata dari matanya kembali menetes.
"Aku percaya sama kamu Vin. Bahkan saat aku sudah mendengar sendiri dari mulut Saskia yang gak sengaja curhat tentang kamu ke aku.." suara Pevita terdengar lemah. "Tapi kamu tau apa, aku tetap percaya sama kamu bahkan setelah itu semua, aku.. aku tetap kuatin hati aku sendiri untuk tetap nahan semuanya dan percaya sama kamu."
Suara Pevita makin lama makin terdengar lemah dan pelan..
Sementara Kevin pun sudah tak bisa membendung tangisnya lagi. Dia menangis untuk pertama kali untuk, demi, dan oleh seorang cewek yang sangat dia cintai.
"Hari ini aku terima fax dan BBM ini semuanya tentang kamu. Kamu tau Vin, sakit banget.. sakit banget ngeliyat cowok yang sangat dicintai malah menghabiskan waktu bersama cewek lain. Kamu tau, hati ini cemburu dan marah juga sakit skali." lanjut Pevita
"Vita.." suara Kevin pun terdengar lemah dan pelan.
"Ini semua seperti berdiri dibatu karang.. awalnya mungkin baik, melihat ombak yang datang dan bisa dikalahkan oleh batu karang. Tapi lama kelamaan batu karang itu pun bisa terkikis oleh kuatnya ombak." ungkap Pevita sambil menghapus airmatanya sendiri.
"Sekarang.. pergilah.. bersama dia yang jauh lebih baik dariku."
Lalu Pevita membalikkan badannya dan berjalan pelan menuju kamarnya.
Kevin mengejarnya dan memeluknya.
"Kamu kemarin minta aku untuk jangan tinggalin kamu, tapi kenapa skarang malah kamu yang tinggalin aku?" tanya Kevin disela-sela isak tangisnya.
"Sudahlah Kevin.."
"Jangan! Tolong jangan lakuin ini ke aku Vit.."
Pevita melepaskan dekapan Kevin dari belakang badannya dan berlari masuk kekamarnya.
"Pevita!" teriak Kevin dari balik pintu kamarnya Vita. "Pevita buka pintunya, tolong.. aku mau jelasin semuanya. Kamu harus dengar penjelasanku dulu."
Lama Kevin menangis didepan pintu kamar Pevita sambil memanggil-manggil nama cewek yang dicintainya itu. Namun tak ada hasil apapun.. Pevita meninggalkannya dan itu semua karena kebodohannya sendiri.
***
"Hei bro.. gimana sama Saskia? Gue dengar lo sama dia udah jadian ya?" tanya Roby.
Raka hanya terdiam menatap Kevin yang tertunduk lemas.
"Wah kayaknya gue sama Raka siap-siap jadi babu lo sebulan ni.. juga nih kunci mobil gue." Roby menyodorkan kunci mobil miliknya kepada Kevin
Tapi Kevin malah menyodorkan kembali kunci mobil itu ketangan si pemilik mobil.
"Loh? Bukannya ini perjanjian dari tantangan kita? Ngapain lo tolak?" tanya Roby
Kevin berjalan kebelakang mereka berdua dan merangkul mereka berdua.
"Perjanjian kita batal. Gue gak butuh semua itu. Jadi lo berdua bebas. Gak ada babu-babuan dan gak ada mobil sport atau mobil semewah apapun itu, gue gak butuh lagi."
Kemudian dia berjalan meninggalkan keduanya..
"Rob.. lo udah keterlaluan banget!" sungut Raka
"Loh santai bro.. bukannya ini bagian dari permainan kita. Just enjoy lai.. ini juga ide lo buat ngerjain dia kan?"
"Iya tapi ini udah lewat batas. Gue kira ini cuma buat ngerjain dia doang, tapi nyatanya semua ini untuk tujuan terselubung lo semata! Gak nyangka gue sama lo.."
"Hei Raka.. Raka.." Roby memanggil-manggil Raka yang berjalan minggalkannya.
***
Keesokkan sorenya..
Pevita duduk di depan danau kecil tepatnya danau buatan di dekat tempat tinggalnya, tempat yang menjadi tempat pertemuan dan awal kisah cintanya bersama Kevin.
Dari balik pohon, Kevin sedang memperhatikan Pevita. Tapi dia masih takut untuk mendekati kekasihnya ini.
"Aku tau kok kamu disitu Kevin.." Pevita membalikkan badan dan menatap kearah pohon tempat Kevin bersembunyi.
Kevin berjalan pelan mendekati Pevita.
"Hai..sa.." sayang .. bahkan kata itupun sudah tak mampu dia ucapkan mengingat semua kesalahan dan kebodohannya menyakiti cewek yang sangat dicintainya ini.
Lama mereka berdua terdiam..
"Vita.." panggil Kevin pelan
Pevita balik menatap Kevin lekat-lekat
"Aku minta maaf." ucap Kevin pelan, "Aku.."
Pevita tersenyum, "Aku sudah maafin kamu kok.. dan aku juga sudah dengar semuanya." potong Pevita
"Mak-sud-ka-mu?" tanya Kevin terbata-bata
"Maksud aku, aku udah dengar semua penjelasan dari Raka." Pevita tersenyum, "Kemarin Raka datang kerumahku, diantar sama Rolando. Raka nyeritain semuanya ke aku. Semuanya tentang tantangan yang mereka kasi ke kamu yang semula hanya untuk ngerjain kamu, ternyata malah digunakan sebagai kesempatan bagi Roby untuk hancurin cinta kita, sayang.."
"Apa?"
Sebenarnya Kevin bertanya "apa?" bukanlah karena dia kaget denga pernyataan Pevita tentang Raka dan Roby karena sebelum Raka menemui Pevita, Raka sudah terlebih dahulu menemui dan mejelaskan semuanya ke Kevin. Kata "sayang.." yang keluar dari mulut Pevita lah yang membuatnya kaget.
Dia berpikir bahwa dengan kesalahan dan kebodohannya mengkhianati cinta mereka yang telah dibangun selama 4 tahun, tak akan mungkin dimaafkan Pevita bahkan kalaupun itu hanya sebuah permainan antara dia dan Saskia, Pevita mana mungkin memaafkan cowok sebrengsek dirinya. Tapi ini..
"Kenapa?" Pevita balik bertanya, "Kamu gak mau aku panggil sayang lagi?"
Kevin tertawa dan tersenyum lalu memeluk Pevita kegirangan.
"Aku senang kok.. Senang banget." kata Kevin, "Aku cinta kamu Pevita. Sumpah demi Tuhan!"
"Iya, aku juga cinta kamu.."
Keduanya berpelukan kembali.
***
Ting.. Tong.. Ting..Tong..
Bel rumah Saskia berbunyi..
"Iya tunggu.. tunggu sebentar" Suara Saskia dari dalam rumahnya.
"Lo?! Ngapain lo disini? Pulang sana! Gue benci sama lo!" bentak Saskia yang kemudian menutup pintu rumahnya namun dihalangi oleh Pevita.
"Saskia.."
"Pevita.."
"Aku mau ngomong sama kamu.. tepatnya aku datang kemari bersama Kevin buat minta maaf sama kamu atas apa yang sudah dilakuin sama Raka dan Roby ke Kevin yang juga telah melukai kamu."
"Iya Saskia.. Gue minta maaf.."
"Sudahlah lupain aja.. Gue sudah maafin lo kok. Raka udah ngejelasin semua ke gue juga. Sorry tadi gue kasar gitu soalnya kalo gak gitu ya nantinya Pevita cemburu loh." Saskia tertawa lebar.
"Yaa ampun.. Saskia.. Lo ya.." Pevita memeluk Saskia yang juga membalas pelukannya
"Eh.. ayo masuk. Gue punya suprise untuk kalian dan tentunya ini berita bahagia yang sangat membahagiakan bagi gue khusunya."
Kevin dan Pevita turut masuk dalam rumahnya Saskia.
"Hei"
"Hai.."
"Raka? Rolando? Kalian?" tanya Kevin
"Kalian disini juga?"
"Vin .. sini Vin, ayo makan" ajak Rolando sambil terus melahap makanan diatas meja.
Kevin menghampiri kedua cowok dimeja makan milik Saskia itu.
"Ini.."
"Ini semua berkah Vit. Aku dulunya gak ada teman, sahabat bahkan aku gak punya. Tapi kini aku punya sahabat yaitu kamu, Kevin, Rolando, dan Raka, kekasihku."
Pevita terkejut mendengar kata terakhir yang keluar dari mulut Saskia
"Raka?"
"Iya kami baru jadian tadi.."
"Yaampun, senang banget dengarnya.. Selamat ya Sas.."
"Makasih Vita."
Ditaman belakang rumah Saskia..
Kevin dan Pevita memilih duduk ditaman belakang rumah Saskia agar terhindar dari ributnya Saskia, Raka dan Rolando.
"Sayang,"
"Hmmm.."
"Kamu kenapa masih milih aku, padahal aku udah nyakitin kamu?"
"Karena aku cinta kamu jadi aku juga harus siap untuk sewaktu-waktu disakitin kamu."
"Cuma itu?"
Pevita terkekeh, "Mungkin karena aku ini cewek bodoh."
"Kok bodoh sih sayang?"
Pevita tersenyum, "Cewek bodoh yang mencintaimu.."
Kata-katanya terpotong sesaat, saat dia menatap bola mata Kevin yang menatapnya dengan serius seolah tidak sabaran menunggu kalimat-kalimat selanjutnya.
"Yang mencintaimu dalam kehebatan cinta dan kesetiaanku."
Kevin tersenyum bahagia mendengar kata-kata Pevita dan memeluknya, memeluk tubuh cewek yang sangat dicintainya itu.
"dan aku cewek bodoh yang diam-diam mencintaimu." gumam Saskia dalam hatinya saat menatap dari balik jendela tepat ke ayunan tempat duduk Kevin dan Pevita ditaman itu.
TAMAT
"Hai Sas.. Lo lagi baca apaan sih?" tanya Kevin yang langsung membolak-balikaan buku yang sedang dibaca Saskia.
"Lo apa-apaan sih?!!" bentak Saskia. Lalu kemudian beranjak dari duduknya dan pindah ke tempat duduk yang lain ditaman dekat dengan ruangan program studinya.
Kevin tak mau menyerah begitu saja meski dalam hatinya, dia kesal dengan sikap Saskia yang menurutnya sok kecakepan banget dan sok jual mahal banget. Padahal jelas-jelas didekatin sama cowok setampan Kevin.
"Huh ini kalo bukan demi tantangan itu, deeeeeh malas banget dah gue deket sama cewek kayak gini! Masih mendingan skarang gue nemenin Pevita aja. Aaaaaaarghh!" Kevin mengomel dalam hatinya sendiri.
"Sas.. lo cantik banget deh hari ini." Lidah Kevin terasa ingin muntah saat dia mengatakan kalimat itu dari mulutnya sendiri.
"Oh makasih." jawab Saskia singkat sambil terus membaca bukunya.
"Sas bentar lo ada waktu gak?"
"Ngapain nanya-nanya?" Saskia balik bertanya
"Gue mau ngajak lo dinner, di tempat yag istimewa buat cewek secantik lo."
"Basi!" kata Saskia dengan ketus
"Huh sialan ni cewek, jual mahal banget! Apa karna sikapnya gini jadinya gak punya pacar juga ya sampe hari gini. Sikapnya gini, gue jamin jomblo seumur hidup lo. Puuuf.. Kalo bukan demi taruhan itu gue gak bakalan deket-deket sama lo." gumam Kevin dengan kesal dalam hatinya.
"Suer Sas. Gue pengen dinner sama lo." kata Kevin
"Gak ada waktu!" jawab Saskia datar
Saskia langsung beranjak dari duduknya dan berlalu dari pandangan Kevin begitu saja..
***
"Hei!" seru Raka dan Roby saat melihat Kevin berjalan mendekati mereka.
"Hei.." balas Kevin
"Gimana bro dengan Saskia?" tanya Raka saat Kevin duduk ditengah-tengah keduanya.
"Susah bro.."
"Haha jadi lo nyerah gitu?" tanya Roby
"Berarti lo kalah taruhan ni.. jadi siap-siap deh jadi babunya kita berdua."
"Eh tunggu-tunggu! Lo gak bisa gitu aja dog Vin.." timpal Roby.
Raka menatap Kevin dengan heran.
"Ya maksud gue, lo gak harus nyerah gitu juga kan? Kan masih ada 5 hari lagi. Siapa tau lo bisa jadi pacarnya Saskia." kata Roby, "Ini kan belum sampai tanggal batas tantangan yang kita kasi ke lo. Kalo lo kalah sama aja dengan pecundang kan?" lanjut Roby meyakinkan Kevin untuk tidak mundur dari tantangan yang mereka berikan.
"Baiklah.." jawab Kevin datar
***
Hari ke-4 ..
"Belakangan ini dia jarang ngunjungi gue Ndo. Telponnya juga kadang di non-aktifkan. Gue tanya dia bilang, lagi kerja tugas." ungkap Pevita ditelpon kepada Rolando, sahabat sejak kecilnya Kevin.
"Gue ngerti perasaan lo Vita. Tapi ya lo kan tau dia itu sayang banget sama lo. Buktinya aja dia gak pernah selingkuh kan dari lo selama kalian jadian udah 4 tahunan ini?"
"Iya sih.."
"Nah gitu dong. Itu baru namanya Pevita Cleo Eileen Pearce yang gue kenal. Lo harus percaya sama dia Vit." Rolando menasihati Pevita yang juga adalah sahabat dekatnya.
Siangnya dikampus..
"Hei lo Pevita pacaranya Kevin Hendry Anggara kan? -iya- Dia lagi pacaran sama Saskia Sigar Sastrowijoyo, anak Biologi itu!"
Semenjak tadi hanya kalimat itu yang selalu mengusik pikirannya. Bagaimana tidak? Hari ini, tepatnya siang ini saat dia baru memasuki ruangan kelas, seorang cewek berkulit hitam manis datang menghampirinya dan mengatakan kata-kata itu.. Tentang Kevin, tentang kekasihnya yang katanya sedang..
"Aaaaaaaaargggh!!" Teriak kecil Pevita, "Apa yang gue pikirin sih? Gak! Kevin gak mungkin gitu! Gue percaya sama dia. Ya.. gue gak apa-apa. Harus percaya sama Kevin. Apapun yang cewek itu bilang." gumamnya pelan pada dirinya sendiri
"Cie yang lagi galau.."
"Lo? Lo lagi.. lo lagi.. Ngapain sih ngikutin gue melulu?" tanya Pevita ke Roby
"Hai jodoh gue, yang lagi terdampar di jodohnya orang lain.." ucap Roby yang sengaja tidak ingin menjawab pertanyaan Pevita padanya
"Apa-apaan sih? Mimpi lo.. sampe gue mati pun, jangan mimpi buat dapetin cinta gue."
Pevita berdiri dari duduknya tapi saat dia hendak melangkahkan kaki pergi, Roby malah mencengkram pergelangan tangan kanannya.
"Roby! Lepasin, sakit.." Pevita mencoba melepaskan cengkraman tangan Roby dari pergelangannya tapi tampak usahanya sia-sia saja.
"Kenapa sih, lo gak bisa terima gue? Hoo.. apa karna Kevin?" Roby tertawa sinis
"Iya .. gue gak bisa terima lo karena hati dan cinta gue udah jadi miliknya Kevin sejak 4 tahun yang lalu, sejak lo ninggalin gue gitu aja dengan memberi gue harapan palsu dan sekarang lo datang ngemis-ngemis minta cinta gue balik sama lo? Gak! Gak bakalan! Lo mau tau kenapa karena gue sangat bahagia dari 4 tahun lalu sampai sekarang karna gue miliki seseorang di hidup gue, dan itu bukan lo tapi Kevin Hendry Anggara. Jelas?"
"Kevin? Haha.. Kevin.." Roby yang saat itu sudah berdiri juga, lagi-lagi tampak senyuman sinis dibelahan bibirnya.
"Vita .. lo sadar gak sih? Kevin itu gak ada apa-apanya dibandingkan gue. Ayahnya itu pegawai bokap gue. Apa sih yang Kevin punya? Kevin gak bisa buat lo bahagia, yang pantas buat lo bahagia itu gue karna gue punya segalanya yang Kevin gak punya! Jelas?" bentak Roby, "Sadar dong Vit.. Kevin itu gak bisa ngasih lo apa-apa, dibanding gue. Apa yang lo mau? Uang? Harta? Apa?! Tinggal sebut saja gue bakalan penuhi itu semua dalam sekejap yang sama skali gak bisa dilakuin Kevin."
"Lo salah!" seru Vita sambil menatap Roby dengan tegas, "Lo salah besar kalo bilang Kevin gak punya apa-apa dibandingkan lo. Kevin punya cinta yang buat gue bahagia dan bersyukur gue memiliki seseorang disamping gue seperti dia. Itu sesuatu yang gak lo punya sama sekali." kata Pevita, "Uang dan harta kekayaan yang lo miliki gak bakalan bisa membeli cinta gue. Lo salah besar kalo berpikir gue bisa bahagia dengan kekayaan. Lo harusnya nyadar Rob, apapun yang lo mau gak bisa seenaknya lo beli gitu aja, gak semuanya lo bisa milikin. Ada hal-hal yang harus lo relakan dan lepaskan."
Pelan-pelan Roby melepaskan cengkraman dipergelangan tangan Pevita, yang kemudian terduduk dan terdiam di kursi. Pevita pun beranjak dari tempat itu dan beralih ke perpustakaan tempat dia menghabiskan waktunya selain ditaman dekat gedung fakultasnya.
Sedangkan dari balik pohon tak jauh dari taman yang tadi Pevita dan Roby sedang berbincang, Raka sedang mendengar pembicaraan mereka.
"Eh ketemu lagi mbak.." suara cewek yang sama, yang beberapa hari lalu sempat bertemu denganya juga di perpustakaan ini.
"Eh iya ni mbak.."
Pevita melirik sekuntum bunga yang sejak tadi dipeluk oleh cewek disamping mejanya ini.
"Pasti baru dikasih bunga sama pacar ya?" tanya Pevita
"Eh si mbak ini masih ingat aja.." ucapnya dengan malu-malu
Pevita tersenyum
"Aku jadi malu ni.." Saskia meraba-raba pipinya yang panas-panas tak menentu mungkin saat itu kalau ada kaca, pasti dia sudah bisa melihat wajahnya sendiri yang merah merona.
"Setiap kita ketemuan, mbak kan selalu cerita tentang si cowok misterius itu."
"Ah iya ya.." Saskia terkekeh, "Mbak tau gak hari ini dia romantisnya pake banget. Dia ngasih aku bunga dan coklat, aah juga tiket nonton konser musik ini." Saskia memperlihatkan tiket itu ke Pevita. "Aku sih masih belaga bodoh aja, padahal aslinya aku suka banget sama dia, mbak. Diam-diam aku menaruh rasa sama dia. Tapi aku takut dia cuma pura-pura sama aku."
"Ngapain takut? Percaya saja sama dia. Siapa tahu dia beneran cinta sama mbak bukan pura-pura seperti apa yang mbak pikirkan."
"Iya juga ya mbak.." Saskia mengiyakan, "Eh sampe lupa, mbak kita kan belum kenalan? Namaku Saskia Sigar Sastrowijoyo."
"Saskia Sigar Satrowijoyo? Saskia Sigar Sastrowijoyo? Saskia Sigar Sastro.."
"Mbak.. mbak.." panggil Saskia
Lamunan Pevita buyar dari pikirannya pelan-pelan
"Eh iya, maaf.. namaku.. namaku Pevita Cleo Eileen Pearce." suara Pevita terdengar sedikit terbata-bata, wajahnya seakan pucat pasi, denyut nadinya berdetak lemah, bunyi jantungnya seolah-olah sudah tidak dag dig dug
"Mbak, mbak baik-baik aja kan?" tanya Saskia yang menyadari wajah Pevita yang tampak tak sebaik tadi.
"Iya.. aku baik-baik kok. Memangnya siapa nama cowok itu? Pasti dia tampan setampan hatinya sama mbak."
Saskia terkekeh pelan, "Kevin Hendry Anggara, mbak. Anak jurusan TI."
"Mbak, maaf aku ada kelas.. aku pamit duluan ya.." kata Pevita yang langsung berjalan keluar perpustakaan.
Pevita berlari sekencang-kencangnya yang dia bisa dari kampus. Airmata dibelahan mata bawahnya langsung menetes dipipinya.
***
Sesampainya dirumah, dia masuk kekamarnya dan menangis memeluk hadiah boneka big bear yang diberikan Kevin, kekasihnya pada anniv mereka yang ke 4 tahun lalu.
Sorenya..
"Sayang..sayang.." panggil Kevin yang membangunkannya dari tidurnya.
Pevita membuka matanya pelan-pelan, menatap kekasihnya yang duduk disamping tidurnya ini.
"Kamu sakit sayang?" tanya Kevin, "Aku dengar dari bibik tadi kamu pulang wajahmu pucat skali tapi gak mau makan, minum, ataupun dokter mau priksa kamu aja kamu gak mau. Kenapa sih sayang? Cerita sama aku."
Pevita tak menjawab tapi bangun dari tidurnya dan memeluk kekasihnya itu. Erat, erat sekali. Kevin balik memeluk kekasihnya yang sangat dicintainya itu, sama eratnya.
Untuk beberapa saat, keduanya tak berbicara hanya saling memeluk.
"Vin.. jangan pergi."
"Kok ngomong gitu?" Kevin melepaskan pelukannya.
Pevita kembali menarik tubuh Kevin dan dipeluknya lagi. Kevin balas memeluknya.
"Jangan tinggalin aku sayang. Aku gak ingin kamu pergi, pergi dari hatiku, dari hidupku."
Kevin mengeratkan pelukannya.
"Iya aku janji sama kamu, aku gak bakalan pergi. Aku gak bakalan tinggalin kamu. Kamu itu istriku Pevita. Aku jamin itu!"
"Janji?"
"Hmm.." Kevin melepaskan pelukannya dan menatap Pevita lekat-lekat. "Kamu itu wanita pertama dan terakhir untuk hidupku." Kevin memeluknya lagi.
***
Malamnya..
"Wah.. indahnya ini.." kata Saskia, matanya berbinar-binar menatap semua yang ada didepannya. "Kevin, kamu yang nyiapin semua ini?"
"Ehem" Kevin berdehem, "Kasih tau gak ya? Kasih tau gak ya? Mau tau, apa mau tau banget?"
"Ih kamu.." Saskia mencubit perut Kevin dengan mesra, "Apa-apaansih? ledek.."
"Hehe .. gak kok."
Ditaman tempat biasanya anak-anak muda sering berduaan dengan kekasihnya, dibawah sinar rembulan yang indah, Kevin dan Saskia menikmati makan malam mereka.
"Ini.." Mata Saskia mengangkat sebuah cincin yang muncul dipotongan puding coklat dipiringnya.
Kevin tersenyum dan berjalan mendekati Saskia lalu berlutut disamping kursinya.
"Sas.. aku suka sama kamu dan aku ingin rasa ini terwujud. Aku ingin kamu jadi kekasihku. Aku juga bingung dengan semua ini, tapi sikap kamu yang mungkin bagi cowok lain itu jutek banget dan gak banget, tapi bagiku gak gitu. Sikap kamu malah membuat aku jadi suka sama kamu."
Saskia langsung memeluk Kevin
"Aku juga suka kamu."
"Jadi kita jadian?"
Saskia mengangguk pelan.
Kevin tersenyum kemenangan. Ya.. dengan semua ini dia bisa buktikan kalo dia itu bukan pecundang dan bisa taklukin cewek sejutek Saskia dan itu artinya juga Roby dan Raka akan menjadi babunya selama sebulan dan mobil sport milik Roby bisa dia miliki untuk sebulan juga.
Brem.. breem.. breeem..
Motor Kevin tiba didepan rumahnya Saskia yang juga langsung turun dari boncengan Kevin.
"Aku masuk dulu ya.."
"Hmm masuklah.."
"Eh.." Saskia langsung mendaratkan ciumanya dipipi Kevin. "Good night sayang, makasih buat segalanya khusunya malam ini. Aku sayang kamu." Setelah mengatakan itu Saskia langsung masuk ke rumahnya.
"Ih..ih..ih amit-amit jabang bayi. Ih..ih..ih.. dicium sama dia, ih..ih..ih amit-amit dah! Mendingan dicium sama Pevita. Ih..ih..ih.." gumam Kevin sambil berusaha menghapuskan ciuman dipipinya tadi.
***
Keesokkan harinya..
"Hai sayang.." Kevin menghampiri Pevita dan seperti biasa mencium kening cewek cantik ini.
Namun ekspresi wajah Pevita datar. Tak ada sapaan balik untuk kekasihnya layaknya dia yang biasanya.
"Loh kamu kenapa sayang? Kamu sakit lagi?" tanya Kevin sambil meraba-raba dahi dan leher juga tangan-tangan kekasihnya ini. "Gak panas kok.."
"Aku sakit. Tapi bukan badan aku yang sakit..yang sakit itu hati aku."
"Sayang, sayang.. hei kamu kenapa sayang? Cerita sama aku.."
"Aku gak perlu cerita kok, kamu kan sudah tau sendiri ceritanya kayak gimana."
Disaat yang sama dari matanya keluarlah sudah butiran bening itu..
Kevin menghapus airmata kekasihnya itu dan memeluknya.
"Aku gak ngerti maksud kamu apa? Aku gak ngerti.. tapi tolong jangan katakan hal-hal yang gak aku ingini keluar dari mulutmu sendiri." kata kevin dengan setengah berbisik.
Pevita melepaskan pelukannya Kevin dan menyodorkan kepadanya beberapa fax foto yang baru diterimanya tadi pagi. Kevin mengambil foto-foto tersebut dan melihatnya satu per satu. Semuanya itu adalah fotonya semalam bersama Saskia..
Pevita menahan airmatanya kembali jatuh, dia menunjukkan rekaman vidio yang baru tadi pagi diterimanya via BBM.
Mata Kevin seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Foto-foto yang dipegangnya tadi jatuh berserakan dilantai rumah Pevita.
"Sayang.. sayang.. aku bisa jelasin semua ini. Tolong.. tolong kamu percaya sama aku." Kevin memegang kedua lengan cewek cantik dihadapannya ini. "Ini semua tipuan.. tolong Vita.. jangan percaya sama ini. Kamu dengar aku kan sayang? plis.."
Airmata dari matanya kembali menetes.
"Aku percaya sama kamu Vin. Bahkan saat aku sudah mendengar sendiri dari mulut Saskia yang gak sengaja curhat tentang kamu ke aku.." suara Pevita terdengar lemah. "Tapi kamu tau apa, aku tetap percaya sama kamu bahkan setelah itu semua, aku.. aku tetap kuatin hati aku sendiri untuk tetap nahan semuanya dan percaya sama kamu."
Suara Pevita makin lama makin terdengar lemah dan pelan..
Sementara Kevin pun sudah tak bisa membendung tangisnya lagi. Dia menangis untuk pertama kali untuk, demi, dan oleh seorang cewek yang sangat dia cintai.
"Hari ini aku terima fax dan BBM ini semuanya tentang kamu. Kamu tau Vin, sakit banget.. sakit banget ngeliyat cowok yang sangat dicintai malah menghabiskan waktu bersama cewek lain. Kamu tau, hati ini cemburu dan marah juga sakit skali." lanjut Pevita
"Vita.." suara Kevin pun terdengar lemah dan pelan.
"Ini semua seperti berdiri dibatu karang.. awalnya mungkin baik, melihat ombak yang datang dan bisa dikalahkan oleh batu karang. Tapi lama kelamaan batu karang itu pun bisa terkikis oleh kuatnya ombak." ungkap Pevita sambil menghapus airmatanya sendiri.
"Sekarang.. pergilah.. bersama dia yang jauh lebih baik dariku."
Lalu Pevita membalikkan badannya dan berjalan pelan menuju kamarnya.
Kevin mengejarnya dan memeluknya.
"Kamu kemarin minta aku untuk jangan tinggalin kamu, tapi kenapa skarang malah kamu yang tinggalin aku?" tanya Kevin disela-sela isak tangisnya.
"Sudahlah Kevin.."
"Jangan! Tolong jangan lakuin ini ke aku Vit.."
Pevita melepaskan dekapan Kevin dari belakang badannya dan berlari masuk kekamarnya.
"Pevita!" teriak Kevin dari balik pintu kamarnya Vita. "Pevita buka pintunya, tolong.. aku mau jelasin semuanya. Kamu harus dengar penjelasanku dulu."
Lama Kevin menangis didepan pintu kamar Pevita sambil memanggil-manggil nama cewek yang dicintainya itu. Namun tak ada hasil apapun.. Pevita meninggalkannya dan itu semua karena kebodohannya sendiri.
***
"Hei bro.. gimana sama Saskia? Gue dengar lo sama dia udah jadian ya?" tanya Roby.
Raka hanya terdiam menatap Kevin yang tertunduk lemas.
"Wah kayaknya gue sama Raka siap-siap jadi babu lo sebulan ni.. juga nih kunci mobil gue." Roby menyodorkan kunci mobil miliknya kepada Kevin
Tapi Kevin malah menyodorkan kembali kunci mobil itu ketangan si pemilik mobil.
"Loh? Bukannya ini perjanjian dari tantangan kita? Ngapain lo tolak?" tanya Roby
Kevin berjalan kebelakang mereka berdua dan merangkul mereka berdua.
"Perjanjian kita batal. Gue gak butuh semua itu. Jadi lo berdua bebas. Gak ada babu-babuan dan gak ada mobil sport atau mobil semewah apapun itu, gue gak butuh lagi."
Kemudian dia berjalan meninggalkan keduanya..
"Rob.. lo udah keterlaluan banget!" sungut Raka
"Loh santai bro.. bukannya ini bagian dari permainan kita. Just enjoy lai.. ini juga ide lo buat ngerjain dia kan?"
"Iya tapi ini udah lewat batas. Gue kira ini cuma buat ngerjain dia doang, tapi nyatanya semua ini untuk tujuan terselubung lo semata! Gak nyangka gue sama lo.."
"Hei Raka.. Raka.." Roby memanggil-manggil Raka yang berjalan minggalkannya.
***
Keesokkan sorenya..
Pevita duduk di depan danau kecil tepatnya danau buatan di dekat tempat tinggalnya, tempat yang menjadi tempat pertemuan dan awal kisah cintanya bersama Kevin.
Dari balik pohon, Kevin sedang memperhatikan Pevita. Tapi dia masih takut untuk mendekati kekasihnya ini.
"Aku tau kok kamu disitu Kevin.." Pevita membalikkan badan dan menatap kearah pohon tempat Kevin bersembunyi.
Kevin berjalan pelan mendekati Pevita.
"Hai..sa.." sayang .. bahkan kata itupun sudah tak mampu dia ucapkan mengingat semua kesalahan dan kebodohannya menyakiti cewek yang sangat dicintainya ini.
Lama mereka berdua terdiam..
"Vita.." panggil Kevin pelan
Pevita balik menatap Kevin lekat-lekat
"Aku minta maaf." ucap Kevin pelan, "Aku.."
Pevita tersenyum, "Aku sudah maafin kamu kok.. dan aku juga sudah dengar semuanya." potong Pevita
"Mak-sud-ka-mu?" tanya Kevin terbata-bata
"Maksud aku, aku udah dengar semua penjelasan dari Raka." Pevita tersenyum, "Kemarin Raka datang kerumahku, diantar sama Rolando. Raka nyeritain semuanya ke aku. Semuanya tentang tantangan yang mereka kasi ke kamu yang semula hanya untuk ngerjain kamu, ternyata malah digunakan sebagai kesempatan bagi Roby untuk hancurin cinta kita, sayang.."
"Apa?"
Sebenarnya Kevin bertanya "apa?" bukanlah karena dia kaget denga pernyataan Pevita tentang Raka dan Roby karena sebelum Raka menemui Pevita, Raka sudah terlebih dahulu menemui dan mejelaskan semuanya ke Kevin. Kata "sayang.." yang keluar dari mulut Pevita lah yang membuatnya kaget.
Dia berpikir bahwa dengan kesalahan dan kebodohannya mengkhianati cinta mereka yang telah dibangun selama 4 tahun, tak akan mungkin dimaafkan Pevita bahkan kalaupun itu hanya sebuah permainan antara dia dan Saskia, Pevita mana mungkin memaafkan cowok sebrengsek dirinya. Tapi ini..
"Kenapa?" Pevita balik bertanya, "Kamu gak mau aku panggil sayang lagi?"
Kevin tertawa dan tersenyum lalu memeluk Pevita kegirangan.
"Aku senang kok.. Senang banget." kata Kevin, "Aku cinta kamu Pevita. Sumpah demi Tuhan!"
"Iya, aku juga cinta kamu.."
Keduanya berpelukan kembali.
***
Ting.. Tong.. Ting..Tong..
Bel rumah Saskia berbunyi..
"Iya tunggu.. tunggu sebentar" Suara Saskia dari dalam rumahnya.
"Lo?! Ngapain lo disini? Pulang sana! Gue benci sama lo!" bentak Saskia yang kemudian menutup pintu rumahnya namun dihalangi oleh Pevita.
"Saskia.."
"Pevita.."
"Aku mau ngomong sama kamu.. tepatnya aku datang kemari bersama Kevin buat minta maaf sama kamu atas apa yang sudah dilakuin sama Raka dan Roby ke Kevin yang juga telah melukai kamu."
"Iya Saskia.. Gue minta maaf.."
"Sudahlah lupain aja.. Gue sudah maafin lo kok. Raka udah ngejelasin semua ke gue juga. Sorry tadi gue kasar gitu soalnya kalo gak gitu ya nantinya Pevita cemburu loh." Saskia tertawa lebar.
"Yaa ampun.. Saskia.. Lo ya.." Pevita memeluk Saskia yang juga membalas pelukannya
"Eh.. ayo masuk. Gue punya suprise untuk kalian dan tentunya ini berita bahagia yang sangat membahagiakan bagi gue khusunya."
Kevin dan Pevita turut masuk dalam rumahnya Saskia.
"Hei"
"Hai.."
"Raka? Rolando? Kalian?" tanya Kevin
"Kalian disini juga?"
"Vin .. sini Vin, ayo makan" ajak Rolando sambil terus melahap makanan diatas meja.
Kevin menghampiri kedua cowok dimeja makan milik Saskia itu.
"Ini.."
"Ini semua berkah Vit. Aku dulunya gak ada teman, sahabat bahkan aku gak punya. Tapi kini aku punya sahabat yaitu kamu, Kevin, Rolando, dan Raka, kekasihku."
Pevita terkejut mendengar kata terakhir yang keluar dari mulut Saskia
"Raka?"
"Iya kami baru jadian tadi.."
"Yaampun, senang banget dengarnya.. Selamat ya Sas.."
"Makasih Vita."
Ditaman belakang rumah Saskia..
Kevin dan Pevita memilih duduk ditaman belakang rumah Saskia agar terhindar dari ributnya Saskia, Raka dan Rolando.
"Sayang,"
"Hmmm.."
"Kamu kenapa masih milih aku, padahal aku udah nyakitin kamu?"
"Karena aku cinta kamu jadi aku juga harus siap untuk sewaktu-waktu disakitin kamu."
"Cuma itu?"
Pevita terkekeh, "Mungkin karena aku ini cewek bodoh."
"Kok bodoh sih sayang?"
Pevita tersenyum, "Cewek bodoh yang mencintaimu.."
Kata-katanya terpotong sesaat, saat dia menatap bola mata Kevin yang menatapnya dengan serius seolah tidak sabaran menunggu kalimat-kalimat selanjutnya.
"Yang mencintaimu dalam kehebatan cinta dan kesetiaanku."
Kevin tersenyum bahagia mendengar kata-kata Pevita dan memeluknya, memeluk tubuh cewek yang sangat dicintainya itu.
"dan aku cewek bodoh yang diam-diam mencintaimu." gumam Saskia dalam hatinya saat menatap dari balik jendela tepat ke ayunan tempat duduk Kevin dan Pevita ditaman itu.
TAMAT

Tidak ada komentar:
Posting Komentar