"Aku ingin seperti ini selalu denganmu Rafa." ungkap Aqila sesaat sebelum dia melabuhkan kepalanya dibahu Rafa.
Rafa hanya terdiam dan mendekap kekasihnya dengan lembut.
Rafa hanya terdiam dan mendekap kekasihnya dengan lembut.
Ditemani cahaya indah sang raja dan ratu langit malam, keduanya saling mendekap melepaskan kerinduan mereka.
"Sayang.." Bisik Rafa pelan ditelinga Aqila
"Hmm.."
"Ada yang ingin aku katakan padamu.."
Aqila mengadahkan kepalanya menatap Rafa lekat-lekat. "Apa?"
"Lusa papa dan mamaku akan pindah ke Singapura."
"Singapura? Lalu?" Aqila menatap Rafa, berharap kalimat selanjutnya bukanlah kalimat yang dia bayangkan.
"Aku juga akan ikut pindah." tutur Rafa pelan. Seakan kalimat itu tak ingin keluar dari mulutnya. Aqila terdiam sejenak. Kristal bening mulai mengalir pelan dari mata indahnya.
Bukan kalimat itu yang ingin didengarnya. Bukan kalimat yang diharapkannya. Dia terdiam dan menatap lurus kedepan. Dia tak ingin Rafa melihatnya menangis.
"Maafkan aku kalau ini harus aku katakan, sayang." Rafa berlutut dihadapan Aqila sambil meraih tangan mungil Aqila.
"Aku tahu.. Aku mengerti kamu harus sama-sama dengan papa dan mama. Aku ikhlas meski aku gak tahu apa arti ikhlas saat melihatmu pergi."
"Aku cinta kamu, Aqila. Selamanya aku akan mencintai kamu, meski untuk beberapa lama kita gak bakalan ketemu."
"Kamu yakin akan tetap mencintaiku meski kita nanti berjauhan?" tanya Aqila
"Aku yakin. Entah kamu percaya atau tidak, aku yakin dengan perasaanku padamu. Kita akan selamanya bersama. Kepergianku kesana pun untuk masa depan kita, untuk kamu."
Aqila tersenyum dan keduanya saling berpelukan. Entah senyuman itu senyuman ikhlas merelakan kepergian Rafa, kekasihnya ataukah senyuman terpaksa agar Rafa tenang dan pergi melanjutkan kuliahnya disana.
***
Hari itu hujan deras.. Tibalah saatnya Rafa bersama kedua orang tuanya berangkat ke Singapura.
"Nomor yang anda tuju sedang berada diluar jangkauan. Cobalah beberapa saat lagi."
Suara operator terdengar ditelinga Rafa.
Rafa sudah putus asa. Sedaritadi dia menunggu Aqila namun dia tak kunjung datang.
"Rafa.. ayo nak. Sudah saatnya kita naik ke pesawat." Ajak mamanya
"Iya ma." Rafa dengan langkah kaki lesuh mengikuti langkah kaki kedua orang tuanya.
"RAFA !!!" Teriak seorang cewek berbaju merah. Suara yang sangat dikenal Rafa. Rafa tersenyum senang dan berbalik menatap cewek cantik yang sedang berlari menujunya.
"Kamu datang sayang.." kata Rafa sambil memeluk erat Aqila, kekasihnya itu.
"Maaf aku telat. Hujan dan macet. Aku sempat singgah dirumahmu, tapi kata bibik kamu dan papa, mama sudah ke bandara. Maaf aku telat."
"Nggak apa-apa. Asalkan kamu ada disini."
Dari jauh, kedua orang tua Rafa saling menatap dan tersenyum melihat mereka.
Tak lama kemudian, panggilan operator di bandara sudah memanggil nama mereka untuk segera naik ke pesawat.
Rafa dengan langkah kaki yang berat berjalan meninggalkan Aqila.
***
Seminggu sudah keduanya dipisahkan oleh jarak. Tapi cinta mereka malah semakin kuat tak lekang oleh jarak dan waktu.
Walaupun Rafa sibuk dengan aktivitas kuliahnya, dia selalu menyempatkan waktunya untuk menghubungi Aqila. Begitupun sebaliknya.
Awalnya semuanya baik-baik saja.. Sampai suatu hari, segalanya berubah. Kecelakaan maut merenggut nyawa kedua orang tua Rafa dalam sebuah pesawat. Semuanya itu membuat Rafa tidak bisa menolak untuk menggantikan posisi papanya yang tak lain adalah seorang presiden direktur di sebuah perusahan industri terkenal dan terbesar. Posisi itu membuat Rafa harus bekerja sambil melanjutkan kuliahnya. Tentu saja waktunya sering dihabiskan dipekerjaannya dan kuliahnya. Hal itu berdampak pada hubungan komunikasinya dengan Aqila, yang semakin hari semakin renggang dengan perdebatan kecil diantara keduanya.
"Tinggalkan pesan anda setelah bunyi berikut. Tet." -suara operator-
"Maafkan aku kalau ini harus aku katakan, sayang." Rafa berlutut dihadapan Aqila sambil meraih tangan mungil Aqila.
"Aku tahu.. Aku mengerti kamu harus sama-sama dengan papa dan mama. Aku ikhlas meski aku gak tahu apa arti ikhlas saat melihatmu pergi."
"Aku cinta kamu, Aqila. Selamanya aku akan mencintai kamu, meski untuk beberapa lama kita gak bakalan ketemu."
"Kamu yakin akan tetap mencintaiku meski kita nanti berjauhan?" tanya Aqila
"Aku yakin. Entah kamu percaya atau tidak, aku yakin dengan perasaanku padamu. Kita akan selamanya bersama. Kepergianku kesana pun untuk masa depan kita, untuk kamu."
Aqila tersenyum dan keduanya saling berpelukan. Entah senyuman itu senyuman ikhlas merelakan kepergian Rafa, kekasihnya ataukah senyuman terpaksa agar Rafa tenang dan pergi melanjutkan kuliahnya disana.
***
Hari itu hujan deras.. Tibalah saatnya Rafa bersama kedua orang tuanya berangkat ke Singapura.
"Nomor yang anda tuju sedang berada diluar jangkauan. Cobalah beberapa saat lagi."
Suara operator terdengar ditelinga Rafa.
Rafa sudah putus asa. Sedaritadi dia menunggu Aqila namun dia tak kunjung datang.
"Rafa.. ayo nak. Sudah saatnya kita naik ke pesawat." Ajak mamanya
"Iya ma." Rafa dengan langkah kaki lesuh mengikuti langkah kaki kedua orang tuanya.
"RAFA !!!" Teriak seorang cewek berbaju merah. Suara yang sangat dikenal Rafa. Rafa tersenyum senang dan berbalik menatap cewek cantik yang sedang berlari menujunya.
"Kamu datang sayang.." kata Rafa sambil memeluk erat Aqila, kekasihnya itu.
"Maaf aku telat. Hujan dan macet. Aku sempat singgah dirumahmu, tapi kata bibik kamu dan papa, mama sudah ke bandara. Maaf aku telat."
"Nggak apa-apa. Asalkan kamu ada disini."
Dari jauh, kedua orang tua Rafa saling menatap dan tersenyum melihat mereka.
Tak lama kemudian, panggilan operator di bandara sudah memanggil nama mereka untuk segera naik ke pesawat.
Rafa dengan langkah kaki yang berat berjalan meninggalkan Aqila.
***
Seminggu sudah keduanya dipisahkan oleh jarak. Tapi cinta mereka malah semakin kuat tak lekang oleh jarak dan waktu.
Walaupun Rafa sibuk dengan aktivitas kuliahnya, dia selalu menyempatkan waktunya untuk menghubungi Aqila. Begitupun sebaliknya.
Awalnya semuanya baik-baik saja.. Sampai suatu hari, segalanya berubah. Kecelakaan maut merenggut nyawa kedua orang tua Rafa dalam sebuah pesawat. Semuanya itu membuat Rafa tidak bisa menolak untuk menggantikan posisi papanya yang tak lain adalah seorang presiden direktur di sebuah perusahan industri terkenal dan terbesar. Posisi itu membuat Rafa harus bekerja sambil melanjutkan kuliahnya. Tentu saja waktunya sering dihabiskan dipekerjaannya dan kuliahnya. Hal itu berdampak pada hubungan komunikasinya dengan Aqila, yang semakin hari semakin renggang dengan perdebatan kecil diantara keduanya.
"Tinggalkan pesan anda setelah bunyi berikut. Tet." -suara operator-
"Lagi-lagi seperti ini." gumam Aqila dengan kesalnya, sampai-sampai boneka pemberian Rafa dihari jadi setahun mereka jadi pelampiasaan kekesalannya.
Beberapa pesan singkat dia kirimkan ke handphone Rafa. Menunggu dan tak ada balasan. Hingga malam tiba, Aqila masih menunggu.
"Kok smsku gak dibalas sayang? Kamu dimana?"
"Kalo kamu lagi sibuk ngabarin aku .. agar aku tahu kamu sibuk. Jangan diemin aku kayak gini."
"Rafa"
"Aku merindukanmu Rafa."
Sederetan pesan dia kirimkan dan berharap Rafa menghubunginya. Dia terus menunggu dan akhirnya terlelap.
Pagi harinya..
Handphonenya berdering. -Sayang-
"Halo, sayang.. selamat pagi, masih tidur ya? Bangun gih! Mandi sana." kata Rafa dari seberang telpon.
"Semalaman kamu kemana? Telpon gak dijawab. Ditelpon lagi malah suara operator suruh ninggalin pesan. Di sms juga kagak dibalas. Ada apa lagi?!" tekanan suara Aqila terdengar setengah berteriak. Ya jelas saja dia masih marah atas sikap Rafa yang seolah tak memperhatikannya.
Beberapa pesan singkat dia kirimkan ke handphone Rafa. Menunggu dan tak ada balasan. Hingga malam tiba, Aqila masih menunggu.
"Kok smsku gak dibalas sayang? Kamu dimana?"
"Kalo kamu lagi sibuk ngabarin aku .. agar aku tahu kamu sibuk. Jangan diemin aku kayak gini."
"Rafa"
"Aku merindukanmu Rafa."
Sederetan pesan dia kirimkan dan berharap Rafa menghubunginya. Dia terus menunggu dan akhirnya terlelap.
Pagi harinya..
Handphonenya berdering. -Sayang-
"Halo, sayang.. selamat pagi, masih tidur ya? Bangun gih! Mandi sana." kata Rafa dari seberang telpon.
"Semalaman kamu kemana? Telpon gak dijawab. Ditelpon lagi malah suara operator suruh ninggalin pesan. Di sms juga kagak dibalas. Ada apa lagi?!" tekanan suara Aqila terdengar setengah berteriak. Ya jelas saja dia masih marah atas sikap Rafa yang seolah tak memperhatikannya.
"Sudah?" tanya Rafa setelah selesai mendengar omelan Aqila. "Sudah ngomel-ngomelnya?" tanya Rafa lagi. Tapi kali ini tekanan suaranya ikut meninggi.
"Iya sudah!" jawab Aqila masih dengan kekesalannya.
"Iya sudah!" jawab Aqila masih dengan kekesalannya.
"Oke aku minta maaf kalau aku gak ngabarin kamu. Tapi aku semalaman lembur dengan tugas kantor. Banyak pekerjaan almarhum papa yang harus aku selesein. Kamu bisa gak sih ngertiin aku? Dulu kamu itu gak gini. Lama-lama aku juga jenuh dengan sikap kamu yang mulai gak ngerti keadaan dan posisi aku skarang ini!"
"Jenuh? Terserah deh kamu udah mulai jenuh dengan sikap aku! Aku gak minta lebih kok. Aku hanya minta kabar kamu. Masa iya 24 jam kamu sibuk terus?! Masa iya semenit aja buat ngabarin aku kamu gak punya waktu untuk itu?! Kamu berubah Rafa!"
"Jenuh? Terserah deh kamu udah mulai jenuh dengan sikap aku! Aku gak minta lebih kok. Aku hanya minta kabar kamu. Masa iya 24 jam kamu sibuk terus?! Masa iya semenit aja buat ngabarin aku kamu gak punya waktu untuk itu?! Kamu berubah Rafa!"
"Iya sikapku kekenak-kanankan karena aku merindukan kamu. Aku merindukanmu tapi kamu hanya diam. Kamu terlalu ditenggelamkan oleh kesibukanmu itu. Sedikit waktu untukku apakah kamu gak punya sama sekali?"
"Iya iya.. aku tahu aku salah gak ngasih kabar untukmu, gak ada saat kamu merindukanku. Tapi itu bukan sebuah alasan aku tidak memperdulikan kamu lagi. Kamu salah kalau berpikir aku gak mempedulikanmu. Aku peduli sama kamu, makanya aku ambil alih pekerjaan almarhumah papa karena aku sayang sama kamu, ini untuk masa depan kita. Seharusnya kamu mengerti itu."
Lama keduanya terdiam..
"Apa salahnya kamu menenangkan dirimu sejenak untuk mengerti kalau ini semua juga aku lakukan untuk masa depan kita bersama." kata Rafa, "Sayang.."
"Baiklah, aku mengerti. Aku yang salah sudah marah-marah padamu tanpa mendengar penjelasanmu. Tapi aku ingin kamu mendengarku kali ini. Aku merindukanmu.. Aku rindu saat-saat kita dulu. Dulu kamu bisa membagi waktumu dengan baik. Skarang, semenit untuk ngabarin aku lewat satu pesan singkat pun kamu gak ada waktu. Bisahkan kamu berkaca dari semua yang terjadi dulu? Aku merindukannya." ungkap Aqila pelan.
Perdebatan kecil mereka itu akhirnya terselesaikan. Masalah yang dihadapi pun terselesaikan dengan baik walaupun awalnya keduanya sama-sama saling keras kepala mempertahankan argumen masing-masing.
to be continued..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar