Namaku Karina Putri Adi Hermana, sering disapa Karin..
Aku seorang cewek yang terhitung cewek tomboy. Aku gak bisa dandan, aku gak bisa masak, dan bla.. bla.. bla.. aku gak bisa ngelakuin sederetan pekerjaan yang biasa dilakukan cewek-cewek yang feminim itu. Haha.. entah apalah namanya itu, yang aku bisa ya cuma main basket sama ini nih sahabatku sejak kecil, namanya Glen.
Banyak cewek-cewek disekolah kami tergila-gila padanya. Ya ya ya, harus ku akui dia tampan, mempunyai bentuk wajah yang oval, kulitnya yang putih bersih, senyumnya yang manis, juga soal pelajaran dia itu jagoannya, tentu saja membuat cewek-cewek itu jatuh hati padanya. Meskipun dia mempunyai banyak penggemar seperti itu disekolah kami, tak membuatnya memilih salah satu dari mereka. Setiap kali kutanya, dia selalu bilang "Gak mau" atau "Gak suka" dan sederetan hal-hal yang lainnya. Aku sih tahu alasannya yang sebenarnya adalah karena cewek-cewek itu bukan tipenya. Nah aku? Haha.. Aku sih juga bukan tipenya.
Jangan tanya tentang perasaanku padanya, aku tak tahu dan aku tak mengerti dan aku tak peduli. Yah untuk saat ini memang aku tak peduli dengan perasaanku padanya. Tapi entah sejak kapan dan darimana rasa itu datang, semuanya terasa berubah saat kedatangan seorang siswi baru di sekolah kami, tepatnya dia sekelas dengan kami berdua. Semenjak itu Glen sudah jarang bermain basket denganku, ataupun melupakan sederetan hal yang sering kami lakukan bersama. Glen benar-benar melupakanku, dia sekarang lebih terlihat berjalan bersama dengan Tania, siswi baru itu. Sering ku melihat mereka berdua bersama, sering pula aku merasa seperti ada yang hilang dariku.
Teng.. Teng.. Teng..
Bel istirahat menyadarkanku dari lamunanku sedaritadi saat melihat Glen dan Tania dari kejauhan tampak sedang berjalan bersama. Malahan kadang terlihat tertawa dan saling menyikut bahkan mencubit sesekali dilakukan keduanya.
"Mereka berdua serasi ya?" desis seorang cowok perlahan ditelingaku.
Aku kenal baik dengan suara ini, yah siapa lagi kalau bukan Eza. Nah ini dia ni, cowok yang paling sering gangguin aku. Padahal kalau mau dibilang, banyak cowok di sekolah yang takut dekat denganku apalagi gangguin aku, selain Glen yang jelas-jelas adalah sahabatku semejak kecil dan cowok yang satu ini, Eza. Wajahnya termasuk tampan, gak beda jauh kok dari wajah Glen. Tapi..
"Apaan sih?" tanyaku dengan intonasi kesal dan memutar kedua bola mataku.
"Hehe.. Gak kok, cuma bilang aja kalau mereka berdua itu serasi banget ya.." katanya sambil menunjuk kearah Glen dan Tania.
Aku mulai bertambah kesal dengan kata-katanya itu. Langsung saja ku berjalan menjauhi Eza, tapi justru dia mengikutiku sampai di meja kantin.
"Ngapain sih ngikutin gue terus?!!!" Aku membentaknya, berharap dia gak ngikutin ku lagi.
Bentakanku gak membuat dia berdiri dari kursi yang tepat berada didepanku. Eza tertawa lebar sebelum akhirnya dia menatapku lekat-lekat.
Keningku berkerut. "Apaan sih ini anak? Gak ada bosannya, gangguin gue melulu.. Gak ada takut-takutnya, padahal gue sering banget membentaknya. Terbuat dari apa ini anak?" pikirku
"Lo suka kan sama Glen?" tanya Eza dengan nada suara seolah meledekku.
"Apa-apaan sih?! KEPO banget lo!" kataku dengan ketus. "Glen itu sahabatku, mana mungkin aku suka sama dia!" lanjutku
"Nah kalo lo gak suka sama Glen, ngapaian tadi lo ngelamun?" tanya Eza
"Bukan urusan lo kan?" aku balik bertanya dengan nada sinis
"Kalo begitu lo sukanya sama siapa? sama gue?" pertanyaan Eza membuat kedua mata gue hampir saja keluar. Apaan lagi sih ini anak? Tambah aneh
Teng.. Teng.. Teng..
Bel istirahat menyadarkanku dari lamunanku sedaritadi saat melihat Glen dan Tania dari kejauhan tampak sedang berjalan bersama. Malahan kadang terlihat tertawa dan saling menyikut bahkan mencubit sesekali dilakukan keduanya.
"Mereka berdua serasi ya?" desis seorang cowok perlahan ditelingaku.
Aku kenal baik dengan suara ini, yah siapa lagi kalau bukan Eza. Nah ini dia ni, cowok yang paling sering gangguin aku. Padahal kalau mau dibilang, banyak cowok di sekolah yang takut dekat denganku apalagi gangguin aku, selain Glen yang jelas-jelas adalah sahabatku semejak kecil dan cowok yang satu ini, Eza. Wajahnya termasuk tampan, gak beda jauh kok dari wajah Glen. Tapi..
"Apaan sih?" tanyaku dengan intonasi kesal dan memutar kedua bola mataku.
"Hehe.. Gak kok, cuma bilang aja kalau mereka berdua itu serasi banget ya.." katanya sambil menunjuk kearah Glen dan Tania.
Aku mulai bertambah kesal dengan kata-katanya itu. Langsung saja ku berjalan menjauhi Eza, tapi justru dia mengikutiku sampai di meja kantin.
"Ngapain sih ngikutin gue terus?!!!" Aku membentaknya, berharap dia gak ngikutin ku lagi.
Bentakanku gak membuat dia berdiri dari kursi yang tepat berada didepanku. Eza tertawa lebar sebelum akhirnya dia menatapku lekat-lekat.
Keningku berkerut. "Apaan sih ini anak? Gak ada bosannya, gangguin gue melulu.. Gak ada takut-takutnya, padahal gue sering banget membentaknya. Terbuat dari apa ini anak?" pikirku
"Lo suka kan sama Glen?" tanya Eza dengan nada suara seolah meledekku.
"Apa-apaan sih?! KEPO banget lo!" kataku dengan ketus. "Glen itu sahabatku, mana mungkin aku suka sama dia!" lanjutku
"Nah kalo lo gak suka sama Glen, ngapaian tadi lo ngelamun?" tanya Eza
"Bukan urusan lo kan?" aku balik bertanya dengan nada sinis
"Kalo begitu lo sukanya sama siapa? sama gue?" pertanyaan Eza membuat kedua mata gue hampir saja keluar. Apaan lagi sih ini anak? Tambah aneh
Sesaat kemudian Eza malah tertawa lagi. Aku menjadi semakin bingung.
"Wajah lo.. wajah lo itu lucu banget.. wuahaha.." tawa Eza membuat beberapa pasang mata cewek-cewek mengarah tepat ke meja kami, bahkan terdengar sedikit cibiran mereka membuatku hampir muak dengan keadaan ini. Benar-benar mengusikku.
"EZA!!!" teriakku dengan keras sambil menutup mulutnya dengan kedua tanganku. "Bisa diam gak lo?!" Lagi-lagi aku membentaknya. Untuk sesaat dia terdiam, tapi sesaat kemudian dia tertawa kecil dan kemudian terdiam lagi.
"Sorry.. sorry deh.. habisnya wajah lo lucu banget. Jadinya perutku mules. Gak baik kan kalo nahan ketawa." katanya dengan masih sedikit meledekku.
Aku memutar kedua bola mataku.
"Sudahlah! Aku jadi gak mood makan disini lagi. Gara-gara wajah lo!" kataku dan langsung beranjak dari kursiku.
Tepat saat aku didepan pintu masuk kantin, aku berpapasan dengan Glen dan Tania.
"Hei.. Rin!" seru Glen sambil kemudian merangkulku. Kulihat Tania tersenyum menatap kami berdua.
"Tania, ini sahabat gue yang sering gue ceritakan itu." tutur Glen memperkenalkanku.
"Gue tau kok.. Kita kan sekelas." jawab Tania
"Aaaah! Iya ya.. kita kan sekelas."
Yaampun.. Glen benar-benar tak mengingat kita sekelas, semudah itu? Setahuku dia bukan tipe orang yang mempunyai daya ingat yang lemah sampai-sampai gak ingat kalau aku dan dia sekelas.
Aku tersenyum dalam kekecewaan dihatiku. Baru sebentar saja mengenal Tania, dia sudah melupanku dan entah kenapa dihatiku terasa ada sesuatu yang hilang.
"Rin, kami berdua ke kantin dulu ya.. Laper" kata Glen sambil melepaskan rangkulannya dariku
mm-Hmm.. baru saja mulutku membuka, kulihat Glen meraih tangan Tania.
"Yuk.." kata Glen sambil berjalan masuk ke pintu kantin.
"Eh ajak Karin lagi ya.." pinta Tania.
"Gak.. gak usah. Dia pasti sudah makan. Noh dia saja baru keluar dari kantin, sekarang giliran kita. Yuk.." kata Glen, "Duluan ya Rin. Bye.." lanjutnya.
Aku berdiri mematung ditempat itu melihat mereka berdua yang perlahan-lahan berjalan menjauhiku.
***
Beberapa hari berlalu.. Semakin dekat saja Glen dan Tania, sementara aku semakin kacau dengan perasaanku. Aku pun bingung dengan perasaan ini.
"Karin.. Karin.. hei.. hei bangun.. bangun.." Glen membangunkanku dari tidur siangku.
"Apa?" suaraku terdengar sedikit berat diakibatkan rasa ngantukku.
"Ayo.. ayo.. bangun. Bantuin gue nyari baju yang cocok buat gue." katanya
"Buat apaan sih?"
"Ah udah ntar baru gue jelasin. Skarang bantu gue nyari baju yang cocok dulu, yang keren deh pokoknya." katanya sambil menyodorkan kepadaku beberapa pasang baju yang dibawanya dari rumahnya. Rumah kami bersebelahan, jadinya ya gini..
"Nah ini nih.. cocok!" kataku
Glen cepat-cepat memakainya dengan tersenyum dan memelukku.
"Gue senang banget Rin.. lo tau gak, gue hari ini akan nembak Tania buat jadi pacar gue." ucap Glen
"APA?!!!" teriak hatiku. Seakan ingin meledak emosiku saat itu juga. Bisa kurasakan airmataku mulai tergenang dikedua bola mataku, tapi ku mencoba menahannya dengan tersenyum kecil pada Glen.
"Nah jadi gini nih ceritanya.. gue udah nyiapin tempat yang paling romantis di villa keluarga gue di puncak. Si Tania kan paling suka sama yang gituan. Nah gue akan ngasih dia hati ini. Kalau dia nerima gue, dia ambil tapi.." Glen tertunduk sejenak, "Tapi kalau gak.. yah dia matahin aja hati ini biar sama dengan hati gue yang patah kalo dia gak nerima gue." tutur Glen.
Penuturan Glen semakin terasa sakit saja dihatiku. Lidahku terasa kaku, tenggorokkanku seolah ada yang menahannya, kuusahakan mengatur kembali nafasku yang sedikit tercekat dibuatnya.
"Nah ya gitu deh.. Menurut lo gimana?" tanya Glen
"Ha? Apa?" Aku bali bertanya, sungguh sebenarnya aku tak ingin dia mengatakan itu lagi, aku berharap yang tadi ku dengar itu salah, bukan seperti itu. Tapi ternyata aku terlalu banyak berharap.
"Gue mau nembak Tania. Lo setuju kan?" tanya Glen, "Menurut lo gimana?" sambungnya lagi.
"Gue.. eeh, menurut gue itu sudah bagus. Semoga sukses." Lidahku terasa pahit mengeluarkan kata-kata itu dari mulutku sendiri.
Glen cepat-cepat memakainya dengan tersenyum dan memelukku.
"Gue senang banget Rin.. lo tau gak, gue hari ini akan nembak Tania buat jadi pacar gue." ucap Glen
"APA?!!!" teriak hatiku. Seakan ingin meledak emosiku saat itu juga. Bisa kurasakan airmataku mulai tergenang dikedua bola mataku, tapi ku mencoba menahannya dengan tersenyum kecil pada Glen.
"Nah jadi gini nih ceritanya.. gue udah nyiapin tempat yang paling romantis di villa keluarga gue di puncak. Si Tania kan paling suka sama yang gituan. Nah gue akan ngasih dia hati ini. Kalau dia nerima gue, dia ambil tapi.." Glen tertunduk sejenak, "Tapi kalau gak.. yah dia matahin aja hati ini biar sama dengan hati gue yang patah kalo dia gak nerima gue." tutur Glen.
Penuturan Glen semakin terasa sakit saja dihatiku. Lidahku terasa kaku, tenggorokkanku seolah ada yang menahannya, kuusahakan mengatur kembali nafasku yang sedikit tercekat dibuatnya.
"Nah ya gitu deh.. Menurut lo gimana?" tanya Glen
"Ha? Apa?" Aku bali bertanya, sungguh sebenarnya aku tak ingin dia mengatakan itu lagi, aku berharap yang tadi ku dengar itu salah, bukan seperti itu. Tapi ternyata aku terlalu banyak berharap.
"Gue mau nembak Tania. Lo setuju kan?" tanya Glen, "Menurut lo gimana?" sambungnya lagi.
"Gue.. eeh, menurut gue itu sudah bagus. Semoga sukses." Lidahku terasa pahit mengeluarkan kata-kata itu dari mulutku sendiri.
Ya ampun apa yang telah kulakukan? Bisakah aku melihatnya dengan cewek lain? Kalaupun aku gak menyukainya, kenapa hatiku harus sesakit ini?
Tak berapa lama kemudian, Glen pergi meninggalkanku sendiri dikamarku.
Aku menatap kepergiannya dari balik jendela kamarku yang terletak dilantai dua rumahku. Airmata yang sejak tadi kutahan, kini menetes begitu saja.
***
Keesokkan harinya..
Berita telah tersebar di sekolahku tentang hubungan Glen dan Tania. Yah karena Glen sudah seperti artis di sekolah jadinya apapun mengenainya pasti menjadi salah satu trending topik di sekolah, apalagi dikalangan cewek-cewek yang sering sekali terdengar olehku kemarahan mereka atau kadang terlihat histeris saat melihat Glen menggenggam tangan Tania di sekolah. Bisa kupahami apa yang cewek-cewek itu rasakan. Karena akupun merasakan hal yang sama..
"Yah ternyata bukan cuma cewek-cewek itu yah yang galau, tapi yang lagi duduk taman saat ini juga lagi galau sepertinya nih."
Suara seseorang dibelakang kursi ditaman sekolah yang sedang kududuki saat itu.
"Bukan urusan lo!" kataku
Perlahan-lahan Eza duduk disampingku.
"Galau itu nyesek ya? Buktinya bisa buat cewek sekuat kamu jadi rapuh juga."
Eza terdiam sesaat sebelum akhirnya mengarahkan pandangannya kearahku dan dengan tangannya dia meraih daguku agar aku menatapnya.
"Lo habis nangis ya?" tanyanya lagi.
Tapi kali ini raut wajahnya bukan seperti raut wajah seorang Eza yang sering sekali menggangguku.
"Bidadariku yang cantik.. kamu gak boleh nangis lagi ya.." katanya sambil memberi kutikkan kecil didahiku.
Sesaat dia membuatku terperangah dengan sikapnya yang lain dari sebelumnya.
"Lo apa-apaan sih?" kataku sambil menyingkirkan tangannya dari dahiku.
Eza hanya tersenyum kepadaku.
Bahkan senyumannya pun terasa lain bagiku. Bukan seperti Eza.
"Maaf.." samar-samar desisannya terdengar ditelingaku.
Kata maafnya pun ini terasa lain bagiku, benar-benar bukan seperti Eza yang kukenal.
Lama kami berdua terdiam. Sesekali kami berdua saling bertatapan. Bisa kulihat dengan jelas tampak dikedua bola matanya, sorot mata yang memang beda dari sebelumnya.
"Karin.." panggil Eza pelan
Pelan-pelan juga aku mengarahkan mataku kearahnya.
"Gue suka sama lo." ujar Eza
Tak berapa lama kemudian, Glen pergi meninggalkanku sendiri dikamarku.
Aku menatap kepergiannya dari balik jendela kamarku yang terletak dilantai dua rumahku. Airmata yang sejak tadi kutahan, kini menetes begitu saja.
***
Keesokkan harinya..
Berita telah tersebar di sekolahku tentang hubungan Glen dan Tania. Yah karena Glen sudah seperti artis di sekolah jadinya apapun mengenainya pasti menjadi salah satu trending topik di sekolah, apalagi dikalangan cewek-cewek yang sering sekali terdengar olehku kemarahan mereka atau kadang terlihat histeris saat melihat Glen menggenggam tangan Tania di sekolah. Bisa kupahami apa yang cewek-cewek itu rasakan. Karena akupun merasakan hal yang sama..
"Yah ternyata bukan cuma cewek-cewek itu yah yang galau, tapi yang lagi duduk taman saat ini juga lagi galau sepertinya nih."
Suara seseorang dibelakang kursi ditaman sekolah yang sedang kududuki saat itu.
"Bukan urusan lo!" kataku
Perlahan-lahan Eza duduk disampingku.
"Galau itu nyesek ya? Buktinya bisa buat cewek sekuat kamu jadi rapuh juga."
Eza terdiam sesaat sebelum akhirnya mengarahkan pandangannya kearahku dan dengan tangannya dia meraih daguku agar aku menatapnya.
"Lo habis nangis ya?" tanyanya lagi.
Tapi kali ini raut wajahnya bukan seperti raut wajah seorang Eza yang sering sekali menggangguku.
"Bidadariku yang cantik.. kamu gak boleh nangis lagi ya.." katanya sambil memberi kutikkan kecil didahiku.
Sesaat dia membuatku terperangah dengan sikapnya yang lain dari sebelumnya.
"Lo apa-apaan sih?" kataku sambil menyingkirkan tangannya dari dahiku.
Eza hanya tersenyum kepadaku.
Bahkan senyumannya pun terasa lain bagiku. Bukan seperti Eza.
"Maaf.." samar-samar desisannya terdengar ditelingaku.
Kata maafnya pun ini terasa lain bagiku, benar-benar bukan seperti Eza yang kukenal.
Lama kami berdua terdiam. Sesekali kami berdua saling bertatapan. Bisa kulihat dengan jelas tampak dikedua bola matanya, sorot mata yang memang beda dari sebelumnya.
"Karin.." panggil Eza pelan
Pelan-pelan juga aku mengarahkan mataku kearahnya.
"Gue suka sama lo." ujar Eza
Mataku benar-benar tak bisa berkedip. Aku menatap matanya yang terus menatapku.
Tak bisa aku mempercayai ini, Eza.. Eza yang kukenal sering menggangguku, sering iseng terhadapku walaupun aku sering dijauhi cowok-cowok disekolah karena saking galaknya aku hingga gak ada satupun cowok yang ingin menjadikan aku kekasihnya. Tapi apa ini.. sekarang Eza ngomong kalau dia menyukaiku. Gak salah?
"Gue tau lo pasti terkejut mendengarnya. Tapi udah lama gue suka sama lo. Alasan gue sering gangguin lo disaat semua cowok disekolah ini menjauhi lo karena lo galak banget, adalah karena gue sayang banget sama lo. Liyat lo seperti ini membuat hati gue seperti diiris-iris. Gue khawatir banget sama lo. Gue peduli banget sama lo. Gue sayang sama lo, Rin.."
Penjelasan Eza tentang perasaanya membuat mulutku tak bisa mengeluarkan satu katapun. Mataku pun tak mau berkedip. Jantungku berdebar dengan kencang.
"Emang sih.. lo beda dari cewek-cewek yang lain. Tapi justru dibalik itu, itulah yang ngebuat gue jadi suka sama lo."
Aku tak bisa lagi mengerti semua. Aku tak mampu bersuara seolah ada yang menahan tenggorokkanku.
"Kenapa? Aneh ya? Tiba-tiba gue ngomong kayak gini?" tanya Eza, "Hehe.. gue juga ngerasa aneh sih, tapi entah kenapa semakin gue berusaha untuk gak larut dengan perasaan ini, justru rasa sayang ini semakin besar ke lo. Gue juga tau kok kalo lo sukanya sama Glen, tapi.." lanjutnya
"Za.." kataku perlahan memotong pembicaraannya
"Gak, lo gak perlu jawab apa-apa ke gue. Gue takut jawaban itu bukan jawaban yang ingin banget gue dengar tapi malah.."
"Za.." Aku mengarahkan pandanganku lagi kearahnya setelah airmataku menetes lagi dipipiku.
Entah mengapa aku jadi serapuh ini. Yah mau gimana lagi, sekuat-kuatnya besi suatu saat akan berkarat juga.
"Jangan.. jangan lo katakan apapun ke gue. Gue sudah bilang kan tadi, gue takut." kata Eza sambil tertunduk sesaat kemudian menatapku lagi sambilm tersenyum. "Tapi gue sudah lega kok.. Gue udah bisa ngungkapin perasaan yang selama ini gue pendam. Gue akan tunjukin betapa besarnya rasa cinta ini ke lo. Gue akan buktikan itu!" kata-katanya sungguh tegas terdengar olehku.
"Eza.."
Namun Eza tak membiarkanku melanjutkan kalimatku yang belum sempat kukeluarkan.
"Walaupun gue tau lo pada akhirnya gak bakalan milih gue, yang penting gue udah ungkapin dan gue akan tetap buktikan rasa cinta gue ini ke lo." katanya pelan sambil memandangku lekat-lekat.
"Gue pergi dulu.." kata Eza sambil beranjak dari kursi ditaman sekolah yang kami duduki bersama tadi.
Dalam hitungan detik, aku berlari dan memeluknya dari belakang. Entah apa yang ada diotakku saat itu, hingga hal yang tak pernah kupikirkan akan kulakukan akhirnya kulakukan juga. Aku memeluk Eza dari belakang.
"Jangan pergi.." kataku lirih
Hanya itu yang mampu kukatakan untuk menahannya.
Tak berapa lama kemudian, Eza membalikkan badannya dan langsung saja memelukku.
"Bodoh!" katanya sambil terus memelukku. "Memangnya siapa yang mau pergi?"
"Lo kan tadi mau pergi?" kataku pelan masih berada dalam pelukkan cowok tampan dengan dada bidangnya ini.
"Kan cuma pergi ke kelas.. ntar ketemu lagi."
Dia melepaskan sedikit pelukkannya dan menatap kedua mataku kemudian balik lagi memelukku bahkan lebih erat pelukkannya kali ini.
"Gue gak mungkin bisa pergi dari bidadari gue." ucapnya lembut
Aku tersenyum bahagia dalam pelukkannya.
"Gue tau lo pasti terkejut mendengarnya. Tapi udah lama gue suka sama lo. Alasan gue sering gangguin lo disaat semua cowok disekolah ini menjauhi lo karena lo galak banget, adalah karena gue sayang banget sama lo. Liyat lo seperti ini membuat hati gue seperti diiris-iris. Gue khawatir banget sama lo. Gue peduli banget sama lo. Gue sayang sama lo, Rin.."
Penjelasan Eza tentang perasaanya membuat mulutku tak bisa mengeluarkan satu katapun. Mataku pun tak mau berkedip. Jantungku berdebar dengan kencang.
"Emang sih.. lo beda dari cewek-cewek yang lain. Tapi justru dibalik itu, itulah yang ngebuat gue jadi suka sama lo."
Aku tak bisa lagi mengerti semua. Aku tak mampu bersuara seolah ada yang menahan tenggorokkanku.
"Kenapa? Aneh ya? Tiba-tiba gue ngomong kayak gini?" tanya Eza, "Hehe.. gue juga ngerasa aneh sih, tapi entah kenapa semakin gue berusaha untuk gak larut dengan perasaan ini, justru rasa sayang ini semakin besar ke lo. Gue juga tau kok kalo lo sukanya sama Glen, tapi.." lanjutnya
"Za.." kataku perlahan memotong pembicaraannya
"Gak, lo gak perlu jawab apa-apa ke gue. Gue takut jawaban itu bukan jawaban yang ingin banget gue dengar tapi malah.."
"Za.." Aku mengarahkan pandanganku lagi kearahnya setelah airmataku menetes lagi dipipiku.
Entah mengapa aku jadi serapuh ini. Yah mau gimana lagi, sekuat-kuatnya besi suatu saat akan berkarat juga.
"Jangan.. jangan lo katakan apapun ke gue. Gue sudah bilang kan tadi, gue takut." kata Eza sambil tertunduk sesaat kemudian menatapku lagi sambilm tersenyum. "Tapi gue sudah lega kok.. Gue udah bisa ngungkapin perasaan yang selama ini gue pendam. Gue akan tunjukin betapa besarnya rasa cinta ini ke lo. Gue akan buktikan itu!" kata-katanya sungguh tegas terdengar olehku.
"Eza.."
Namun Eza tak membiarkanku melanjutkan kalimatku yang belum sempat kukeluarkan.
"Walaupun gue tau lo pada akhirnya gak bakalan milih gue, yang penting gue udah ungkapin dan gue akan tetap buktikan rasa cinta gue ini ke lo." katanya pelan sambil memandangku lekat-lekat.
"Gue pergi dulu.." kata Eza sambil beranjak dari kursi ditaman sekolah yang kami duduki bersama tadi.
Dalam hitungan detik, aku berlari dan memeluknya dari belakang. Entah apa yang ada diotakku saat itu, hingga hal yang tak pernah kupikirkan akan kulakukan akhirnya kulakukan juga. Aku memeluk Eza dari belakang.
"Jangan pergi.." kataku lirih
Hanya itu yang mampu kukatakan untuk menahannya.
Tak berapa lama kemudian, Eza membalikkan badannya dan langsung saja memelukku.
"Bodoh!" katanya sambil terus memelukku. "Memangnya siapa yang mau pergi?"
"Lo kan tadi mau pergi?" kataku pelan masih berada dalam pelukkan cowok tampan dengan dada bidangnya ini.
"Kan cuma pergi ke kelas.. ntar ketemu lagi."
Dia melepaskan sedikit pelukkannya dan menatap kedua mataku kemudian balik lagi memelukku bahkan lebih erat pelukkannya kali ini.
"Gue gak mungkin bisa pergi dari bidadari gue." ucapnya lembut
Aku tersenyum bahagia dalam pelukkannya.
Yah ternyata Tuhan itu memang baik dan adil. Dia sudah menyiapkan masing-masing orang dengan jodohnya masing-masing. Mungkin Tania adalah jodohnya Glen dan aku harus mengikhlaskan itu. Toh cinta itu akan datang dengan sendirinya, seperti sekarang ini.. aku dan Eza yang sering menggangguku ternyata menyukaiku. Eza menjadi malaikat tanpa sayap yang datang tuk menghapus sedihku dan menggantinya dengan kebahagiaan. Aku harus bersyukur untuk itu.
TAMAT

Tidak ada komentar:
Posting Komentar