-Kesempatan Kedua-
"Hari ini bertepatan dengan kejadian setahun lalu.. dimana aku harus kehilangan orang yang menyayangiku setulus hatinya dan malah memilih orang yang aku cintai tapi pada akhirnya malah orang yang aku cinta meninggalkan diriku demi orang yang dia cintai.
Andai waktu bisa kuputar kembali, aku akan memilih dia yang menyayangiku itu ketimbang memilih orang yang aku cintai tapi malah meningggalkanku. Andai saja waktu itu aku memilih Rei bukan Gino, pasti hidupku tak diliputi rasa penyesalan seperti ini. Andai saja waktu itu datang kembali, mungkinkah aku bisa bersama dengan Rei lagi?" jemari Pitty terus saja mengetik keyboard laptop miliknya.
Tet.. Tet.. Tet..
Andai waktu bisa kuputar kembali, aku akan memilih dia yang menyayangiku itu ketimbang memilih orang yang aku cintai tapi malah meningggalkanku. Andai saja waktu itu aku memilih Rei bukan Gino, pasti hidupku tak diliputi rasa penyesalan seperti ini. Andai saja waktu itu datang kembali, mungkinkah aku bisa bersama dengan Rei lagi?" jemari Pitty terus saja mengetik keyboard laptop miliknya.
Tet.. Tet.. Tet..
Hp miliknya bergetar. Untuk sesaat dia menghentikan aktifitasnya didepan laptop dan mengalihkan perhatiannya tertuju ke layar hp miliknya -TELKOMSEL- ternyata pesan masuk dari operator.
"Mungkinkah aku bisa miliki Rei lagi seperti dulu? Aku ingin berlari dan mengatakan padanya kalau ternyata hidupku takan ada arti tanpa dirinya. Namun apakah itu mungkin? Mungkinkah kami bisa bersama lagi? Kini hanya tinggal keping-keping penyesalanku. Aku telah melukai hati Rei yang mencintaiku dengan memilih orang yang jelas-jelas tak memilihku. Andai saja aku punya kesempatan kedua, akan ku coba semampuku untuk membahagiakannya dan menyayanginya setulus hatiku.. " Pitty terus mengetik kata-katanya di blog miliknya, tanpa menyadari seseorang tengah membaca kata-katanya di monitor laptopnya.
"Serius?"
Suara seorang cowok dibelakangnya langsung saja membuat jemari Pitty berhenti mengetik. Suara yang masih tak asing baginya, suara yang sampai detik ini masih terus menghantuinya dengan rasa penyesalan terdalam.
Pitty tak berani menatap sosok cowok dibelakangnya ini, sampai akhirnya cowok itu duduk tepat didepannya. Dengan perlahan Pitty menatap cowok didepan duduknya ini. Ternyata benar, suara yang masih sangat dikenalnya itu tak lain adalah milik Rei.
Pitty berusaha mengatur nafasnya yang sedikit tercekat melihat cowok dihadapannya ini adalah Rei, mantan kekasihnya setahun yang lalu, yang dengan mudah saja dia tinggalkan dan memilih orang yang dicintainya.
Rei tersenyum lebar menatapnya.
"Hai Ty.. sudah lama ya, kita gak ketemuan? kira-kira udah setahun. Iya kan?" tanya Rei sambil terus tersenyum menatap Pitty, namun Pitty tak berani menatapnya.
"Ataukah aku harus move on dan melupakannya saja? entahlah! aku sendiri tak tahu aku harusnya gimana. Ingin rasanya aku untuk berlari ke dunia lain untuk melupakan segalanya, setidaknya sejenak saja aku ingin berhenti hidup dalam rasa penyesalanku padanya, pada Rei." Pitty melanjutkan tulisan di blognya yang belum usai.
"Pitty.." panggil Rei pelan.
Jemari Pitty mulai berhenti untuk mengetik lagi, tapi dia hanya terdiam. Mulutnya seakan penuh, lidahnya seolah kaku, untuk berbicara. Karena sebenarnya dia pun tak tahu apa yang harus dia katakan pada Rei setelah setahun belakangan ini mereka tak pernah saling bertemu dan kini Rei muncul di hadapannya.
"Lo masih gak mau natap wajah gue?" tanya Rei.
Perlahan-lahan Pitty mengarahkan pandangannya ke cowok di hadapannya ini.
"Gue kangen masa-masa kita yang dulu. Masa-masa dimana gue bisa terus melihat senyum dan tawa lo yang ceria. Bukan lo yang sekarang! Bukan Pitty Aditia Sungkar yang berubah 180 derajat menjadi Pitty yang pemurung." tutur Rei
"Apa peduli lo sama gue? Bukan urusan lo kan, kalau gue kayak gini? Toh lo bukan siapa-siapa gue lagi!" kata Pitty dengan tekanan suara yang sedikit meninggi.
"Iya, iya, iya.. Memang gue bukan siapa-siapa lo lagi. Tapi asal lo tau.. gue masih sayang banget sama lo. Jelas?!!" bentak Rei
Bentakan Rei membuat hampir seluruh mata di kafe mengarah pada mereka berdua.
Airmata Pitty menetes dikedua pipinya. "Bagaimana mungkin orang yang telah ku sakiti masih mencintaiku hingga detik ini?" tanya Pitty dalam hatinya. Kata-kata Rei itu seolah terus terdengar dikedua telinganya, membuatnya semakin sakit.
"Idiot!" kata Pitty dengan ketus, lalu berjalan secepat mungkin keluar dari kafe. Rei mengikutinya dari belakang.
"Aku memang idiot, tapi kamu sangat bodoh dan cukup idiot kalo kamu terus-terusan hidup dalam rasa penyesalan kamu!" teriak Rei saat sudah berada di depan kafe.
Mendengar itu Pitty menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Rei.
"Kamu gak tahu apa yang aku rasakan selama ini. Aku.."
"Zzzzzttt...." jari telunjuk Rei melekat dibibir Pitty. "Aku sudah gak peduli tentang apa yang terjadi dimasa lalu. Aku hanya mau satu.. kamu dan aku menjadi kita lagi. Kita mulai semuanya dari awal lagi." tutur Rei lembut
"Ta-ta..pi.." tapi aku takut membuatmu menangis lagi seperti setahun yang lalu..
Belum sempat kalimat itu dia teruskan, tiba-tiba Rei menciumnya..
Beberapa detik berlangsung. Dunia seolah berputar, seolah isinya kosong dan hanya mereka berdua saja. Helaan nafas Rei yang begitu hangat membelai kulit wajah Pitty, membuatnya harus menahan nafas untuk beberapa detik dan berusaha mengatur debaran jantungnya yang semakin kencang.
"Lo masih gak mau natap wajah gue?" tanya Rei.
Perlahan-lahan Pitty mengarahkan pandangannya ke cowok di hadapannya ini.
"Gue kangen masa-masa kita yang dulu. Masa-masa dimana gue bisa terus melihat senyum dan tawa lo yang ceria. Bukan lo yang sekarang! Bukan Pitty Aditia Sungkar yang berubah 180 derajat menjadi Pitty yang pemurung." tutur Rei
"Apa peduli lo sama gue? Bukan urusan lo kan, kalau gue kayak gini? Toh lo bukan siapa-siapa gue lagi!" kata Pitty dengan tekanan suara yang sedikit meninggi.
"Iya, iya, iya.. Memang gue bukan siapa-siapa lo lagi. Tapi asal lo tau.. gue masih sayang banget sama lo. Jelas?!!" bentak Rei
Bentakan Rei membuat hampir seluruh mata di kafe mengarah pada mereka berdua.
Airmata Pitty menetes dikedua pipinya. "Bagaimana mungkin orang yang telah ku sakiti masih mencintaiku hingga detik ini?" tanya Pitty dalam hatinya. Kata-kata Rei itu seolah terus terdengar dikedua telinganya, membuatnya semakin sakit.
"Idiot!" kata Pitty dengan ketus, lalu berjalan secepat mungkin keluar dari kafe. Rei mengikutinya dari belakang.
"Aku memang idiot, tapi kamu sangat bodoh dan cukup idiot kalo kamu terus-terusan hidup dalam rasa penyesalan kamu!" teriak Rei saat sudah berada di depan kafe.
Mendengar itu Pitty menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Rei.
"Kamu gak tahu apa yang aku rasakan selama ini. Aku.."
"Zzzzzttt...." jari telunjuk Rei melekat dibibir Pitty. "Aku sudah gak peduli tentang apa yang terjadi dimasa lalu. Aku hanya mau satu.. kamu dan aku menjadi kita lagi. Kita mulai semuanya dari awal lagi." tutur Rei lembut
"Ta-ta..pi.." tapi aku takut membuatmu menangis lagi seperti setahun yang lalu..
Belum sempat kalimat itu dia teruskan, tiba-tiba Rei menciumnya..
Beberapa detik berlangsung. Dunia seolah berputar, seolah isinya kosong dan hanya mereka berdua saja. Helaan nafas Rei yang begitu hangat membelai kulit wajah Pitty, membuatnya harus menahan nafas untuk beberapa detik dan berusaha mengatur debaran jantungnya yang semakin kencang.
"Kamu mau kan?" tanya Rei perlahan ketika kedua
pasang mata mereka saling bertemu. Pitty mengangguk pelan. Pitty tersenyum di dalam tangisnya. Rei ikut tersenyum lebar
menatapnya.
Tindakan Rei yang dengan berani mencium Pitty didepan umum,
ternyata membuat beberapa pasang mata yang mengarah ke tepat ke keduanya kadang
terlihat sedang berbisik-bisik. Namun apa pedulinya.. Keduanya benar-benar
dimabuk asmara.
to be continued..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar