BEAUTIFUL LOVE IN
PARIS
Hujan yang turun semakin deras membasahi bumi. Cherry hanya
duduk kaku melihat derasnya hujan yang turun. Menatap lurus, entah apa yang
sedang dipikirkannya.
“Cherr ..” panggil wanita setengah baya yang sedaritadi
memperhatikan raut wajah cherry.
seketika cherry langsung tersentak kaget dari lamunannya, “Eh ! maa..mah ” jawab cherry dengan nada suara sedikit terbata-bata. “Ada apa?” sambungnya lagi.
“Nggak sayang, mama cuman sedikit khawatir melihat kamu. Mama perhatikan semenjak Gino meninggal, kamu murung terus.” kata mamanya cherry sembari merangkul putri semata wayangnya itu. “Mama tau perasaan kamu sayang. Mama ngerti banget. Tapi kamu harus kuat Cherr ! Kamu gak boleh terus-terusan sedih. Gino kalo liat kamu sedih seperti ini pun dia akan sedih dan marah kalo kamu terus-terusan kayak gini.” sambung mamanya lagi memberi semangat untuknya, tanpa membiarkan anaknya membalas ucapannya, wanita itu langsung mencium dahi putrinya itu dan memeluknya menghapus kesedihan mendalam yang dirasakan oleh Cherry.
seketika cherry langsung tersentak kaget dari lamunannya, “Eh ! maa..mah ” jawab cherry dengan nada suara sedikit terbata-bata. “Ada apa?” sambungnya lagi.
“Nggak sayang, mama cuman sedikit khawatir melihat kamu. Mama perhatikan semenjak Gino meninggal, kamu murung terus.” kata mamanya cherry sembari merangkul putri semata wayangnya itu. “Mama tau perasaan kamu sayang. Mama ngerti banget. Tapi kamu harus kuat Cherr ! Kamu gak boleh terus-terusan sedih. Gino kalo liat kamu sedih seperti ini pun dia akan sedih dan marah kalo kamu terus-terusan kayak gini.” sambung mamanya lagi memberi semangat untuknya, tanpa membiarkan anaknya membalas ucapannya, wanita itu langsung mencium dahi putrinya itu dan memeluknya menghapus kesedihan mendalam yang dirasakan oleh Cherry.
Beberapa menit kemudian .. Tok tok tok !
“Ada apa bi?” ucap mamanya cherry sambil melepaskan pelukannya.
“Maaf bu, ada telpon dari Tuan di Paris” tutur wanita tua yang berdiri di depan pintu kamar yang sedikit terbuka.
“Oh iya, Bi .. makasih. Sampaikan 5 menit lagi saya akan telpon dia balik” jawab Riska yang adalah mamanya Cherry.
“Ada apa bi?” ucap mamanya cherry sambil melepaskan pelukannya.
“Maaf bu, ada telpon dari Tuan di Paris” tutur wanita tua yang berdiri di depan pintu kamar yang sedikit terbuka.
“Oh iya, Bi .. makasih. Sampaikan 5 menit lagi saya akan telpon dia balik” jawab Riska yang adalah mamanya Cherry.
“Baik bu”
“Telpon dari papa kan ma ? papa masih maksain mama untuk aku
mengikutinya ke Paris?” Tanya Cherry
“Ah .. mmm sayang, mama bicara dulu ya sama papa. Sudahlah. Ayo istirahat sayang..” jawab mamanya sambil berjalan ke arah pintu kamar mewah dengan hiasan warna merah mudah, warna kesukaan Cherry. “Bonne nuit cher” sambungnya sambil mematikan lampu kamar Cherry dan menutup pintu kamarnya.
“Ah .. mmm sayang, mama bicara dulu ya sama papa. Sudahlah. Ayo istirahat sayang..” jawab mamanya sambil berjalan ke arah pintu kamar mewah dengan hiasan warna merah mudah, warna kesukaan Cherry. “Bonne nuit cher” sambungnya sambil mematikan lampu kamar Cherry dan menutup pintu kamarnya.
Cherry hanya terdiam, tapi kemudian beranjak dari tempat
tidurnya dan mengambil sebuah buku diary berwarna putih bergambar hati di laci
lemari dekat tempat tidurnya, sambil membuka buku tersebut dan ditemukan
sepucuk surat dari laki-laki yang sangat dicintainya. Gino .. yaa Gino. Cowok
berwajah tampan dan pintar berbahasa Inggris dan Perancis yang sangat dikagumi
cewek-cewek disekolah mereka. Gino adalah kekasihnya semenjak mereka sama-sama
duduk di bangku SMP kelas VII, sampai akhirnya menjelang pengunguman kelulusan
siswa-siswi di bangku SMA kelas XII, Gino akhirnya menghembuskan nafas
terakhirnya dipelukan Cherry setelah dirawat di Rumah Sakit Harapan Kita selama sebulan, karena mengidap penyakit
gagal jantung.
Aku tahu kamu menyayangiku hingga detik aku menghembuskan
nafas terakhirku.
Bahkan hingga detik ini kamu masih menyayangiku.
Terima kasih untuk kasih dan setiamu padaku.
Walau sekarang aku tak dapat lagi menggenggam tanganmu, melihat senyum dan tawamu yang sangat ku sukai, memelukmu dan mencium dahimu, kamu harus ta’u dimanapun aku berada, aku selalu mencintaimu.
Aku bahagia sayang pernah menjadi bagian terindah dalam hidupmu walau itu hanya sesaat.
Aku sekarang sudah berada di suatu tempat terindah, tempat dimana aku masih bisa melihatmu walau tak didekatmu, tapi percayalah aku ada dihatimu dan itu jauh lebih dekat dari apapun.
Aku ingin kamu bahagia, Cherry. Bukan hanya untuk sesaat, tapi untuk selamanya.
Temukan dia yang mampu membuatmu berarti sama seperti aku membuatmu berarti sepanjang nafasku.
Aku selalu berdoa untuk bahagiamu sayangku.
Merci chère
Gino
Bahkan hingga detik ini kamu masih menyayangiku.
Terima kasih untuk kasih dan setiamu padaku.
Walau sekarang aku tak dapat lagi menggenggam tanganmu, melihat senyum dan tawamu yang sangat ku sukai, memelukmu dan mencium dahimu, kamu harus ta’u dimanapun aku berada, aku selalu mencintaimu.
Aku bahagia sayang pernah menjadi bagian terindah dalam hidupmu walau itu hanya sesaat.
Aku sekarang sudah berada di suatu tempat terindah, tempat dimana aku masih bisa melihatmu walau tak didekatmu, tapi percayalah aku ada dihatimu dan itu jauh lebih dekat dari apapun.
Aku ingin kamu bahagia, Cherry. Bukan hanya untuk sesaat, tapi untuk selamanya.
Temukan dia yang mampu membuatmu berarti sama seperti aku membuatmu berarti sepanjang nafasku.
Aku selalu berdoa untuk bahagiamu sayangku.
Merci chère
Gino
Setiap kata yang dibaca membuat airmata Cherry terus
berlinang membaca surat terakhir kekasih yang sangat dicintainya itu. Cinta
pertamanya. Sambil memeluk sepucuk surat itu dia terus menangis hingga terlelap
dalam tidurnya.
Disaat yang sama di ruang keluarga ..
“Bonsoir..” sapa Riska
“Bonsoir” sapa balik pria diseberang telpon, “Riska .. Aku rasa kamu sudah tau maksudku menghubungimu.” Sambungnya
“Mas, aku rasa kita sudah membicarakan hal ini berulang-ulang kali. Cherry satu-satunya anak yang kumiliki. Dia itu hidupku, mas.” Tutur Riska
“Aku tau .. tapi kamu juga harus ingat. Cherry adalah anakku juga, bukan cuma kamu. Aku ingin yang terbaik untuk dia. Itu saja. Sebagai papa aku belum pernah memberi kehangatan seorang papa baginya dan kewajibanku sebagai papanya juga ..”
“Mas” potong Riska, “Jangan lagi mengulang kata-kata yang sama setiap kali mas menghubungiku untuk Cherry. Kalo mas memang sayang sama Cherry, waktu itu mas nggak mungkin tega ninggalin dia yang masih bayi bersama denganku demi pergi ke Paris mengikuti kata-kata orang tua mas yang ingin memisahkan kita.”
“Iya .. aku salah. Dulu aku demi impianku dan demi menuruti mereka hingga aku harus meninggalkan anak dan istriku. Maafkan aku.” Pintanya. “Tapi izinkan aku untuk menebus kesalahanku. Setidaknya walau aku tak bisa memilikimu dan membahagiakanmu, tapi aku bisa membahagiakan Cherry, anakku, anak kita berdua. Aku tau suamimu yang sekarang mampu untuk membiayai hidupnya, hidup kalian. Tapi tolong Ris, aku tidak punya siapa-siapa lagi selain dia satu-satunya harta terindah bagiku sekarang.”
“Berikan aku waktu untuk berpikir mas ..” pinta Riska pada mantan suaminya 19 tahun yang lalu.
“Baiklah .. aku akan menunggu jawabanmu” kata pria diseberang telpon itu. Tut tut tut .. bunyi nada telpon yang sudah ditutup.
“Bonsoir..” sapa Riska
“Bonsoir” sapa balik pria diseberang telpon, “Riska .. Aku rasa kamu sudah tau maksudku menghubungimu.” Sambungnya
“Mas, aku rasa kita sudah membicarakan hal ini berulang-ulang kali. Cherry satu-satunya anak yang kumiliki. Dia itu hidupku, mas.” Tutur Riska
“Aku tau .. tapi kamu juga harus ingat. Cherry adalah anakku juga, bukan cuma kamu. Aku ingin yang terbaik untuk dia. Itu saja. Sebagai papa aku belum pernah memberi kehangatan seorang papa baginya dan kewajibanku sebagai papanya juga ..”
“Mas” potong Riska, “Jangan lagi mengulang kata-kata yang sama setiap kali mas menghubungiku untuk Cherry. Kalo mas memang sayang sama Cherry, waktu itu mas nggak mungkin tega ninggalin dia yang masih bayi bersama denganku demi pergi ke Paris mengikuti kata-kata orang tua mas yang ingin memisahkan kita.”
“Iya .. aku salah. Dulu aku demi impianku dan demi menuruti mereka hingga aku harus meninggalkan anak dan istriku. Maafkan aku.” Pintanya. “Tapi izinkan aku untuk menebus kesalahanku. Setidaknya walau aku tak bisa memilikimu dan membahagiakanmu, tapi aku bisa membahagiakan Cherry, anakku, anak kita berdua. Aku tau suamimu yang sekarang mampu untuk membiayai hidupnya, hidup kalian. Tapi tolong Ris, aku tidak punya siapa-siapa lagi selain dia satu-satunya harta terindah bagiku sekarang.”
“Berikan aku waktu untuk berpikir mas ..” pinta Riska pada mantan suaminya 19 tahun yang lalu.
“Baiklah .. aku akan menunggu jawabanmu” kata pria diseberang telpon itu. Tut tut tut .. bunyi nada telpon yang sudah ditutup.
Riska yang setelah menutup telpon itu, lalu berlari kea rah
kamarnya Cherry putri semata wayangnya dan mendapati anaknya yang sudah
terlelap sambil memeluk erat sepucuk surat dari almarhum kekasihnya itu.
Butiran bening membasahi pipi wanita setengah baya itu, sambil membelai rambut
anaknya, dia terus mengusap linangan
airmata di pipinya. “Sakit rasanya sayang, mama melihatmu merasakan rasa yang
sesakit ini. Mama nggak mau jauh dari kamu. Tapi kalo kamu tinggal menetap di
Indonesia, bakalan lebih susah bagimu untuk ngelupain Gino. Mama juga mau yang
terbaik untukmu, Cherry anak mama.” Ucapnya dalam hati sambil terus membelai
rambutnya Cherry.
Keesokan paginya ..
“Bi .. Bi .. Bibi” panggil Cherry sambil menuruni tangga rumah mewah milik mereka dengan baju piama berwarna pink
“iya non ..” jawab wanita tua yang dipanggil bibi itu sembil berlari kecil ke arah Cherry.
“Dimana mama dan papa ?”
Keesokan paginya ..
“Bi .. Bi .. Bibi” panggil Cherry sambil menuruni tangga rumah mewah milik mereka dengan baju piama berwarna pink
“iya non ..” jawab wanita tua yang dipanggil bibi itu sembil berlari kecil ke arah Cherry.
“Dimana mama dan papa ?”
“Tuan dan nyonya ada di taman bunga samping rumah non ..”
“oh makasih ya bi.”
“iya non. Yaudah bibi balik kerja di dapur dulu ya non, kalo non butuh sesuatu panggil bibi saja”
“iya bi”
sambil berjalan kearah taman bunga disamping rumah besar dan mewah milik mereka itu.
“Papa, mama” panggilnya sembil berlari kecil memeluk mamanya dan papa tirinya yang sudah seperti papa kandung baginya karna sangat menyayanginya, yang seketika menghentikan obrolan mereka ketika putri semata wayang mereka itu datang menghampiri mereka. “loh kok berhenti sih obrolannya? Papa sama mama lagi ngomongin apaan sih? Kok jadi mencurigakan gitu yah?” Tanya Cherry dengan kening berkerut.
“Aduh sini anak papa. Baru bangun yah sayang? Ayo minum teh sama papa dan mama” ajak papa tirinya itu untuk mengalihkan pembicaraan, “Bi Imah ..” panggilnya melanjutkan.
“Pah.. pah .. papa” potong Cherry. “Cherry gak mau minum. Cherry hanya mau tau papa sama mama lagi ngomongin apa. Kok pas cherry datang, kalian malah behenti bicaranya”
“Cherr, cherry” sela mamanya. “Mama sama papa cuma lagi ngebahas soal kamu pergi ke Paris”
“APA ?!!!” mata Cherry langsung terbelalak mendengar kata-kata mamanya.
“Mama sama papa cum..” belum sempat Riska melanjutkan kata-katanya Cherry memotong
“ENGGAK ! sekali aku bilang gak yaah enggak !” teriak Cherry dengan kerasnya “Mama sama papa jahat!” Cherry langsung berlari menuju kamarnya.
“Cherry !” seru papa dan mamanya serentak, sehingga membuat papa tirinya itu beranjak dari duduknya dan mengejar putri kesayangannya yang sudah dibesarkan dan dijaganya selama 15 tahun yang lalu.
“oh makasih ya bi.”
“iya non. Yaudah bibi balik kerja di dapur dulu ya non, kalo non butuh sesuatu panggil bibi saja”
“iya bi”
sambil berjalan kearah taman bunga disamping rumah besar dan mewah milik mereka itu.
“Papa, mama” panggilnya sembil berlari kecil memeluk mamanya dan papa tirinya yang sudah seperti papa kandung baginya karna sangat menyayanginya, yang seketika menghentikan obrolan mereka ketika putri semata wayang mereka itu datang menghampiri mereka. “loh kok berhenti sih obrolannya? Papa sama mama lagi ngomongin apaan sih? Kok jadi mencurigakan gitu yah?” Tanya Cherry dengan kening berkerut.
“Aduh sini anak papa. Baru bangun yah sayang? Ayo minum teh sama papa dan mama” ajak papa tirinya itu untuk mengalihkan pembicaraan, “Bi Imah ..” panggilnya melanjutkan.
“Pah.. pah .. papa” potong Cherry. “Cherry gak mau minum. Cherry hanya mau tau papa sama mama lagi ngomongin apa. Kok pas cherry datang, kalian malah behenti bicaranya”
“Cherr, cherry” sela mamanya. “Mama sama papa cuma lagi ngebahas soal kamu pergi ke Paris”
“APA ?!!!” mata Cherry langsung terbelalak mendengar kata-kata mamanya.
“Mama sama papa cum..” belum sempat Riska melanjutkan kata-katanya Cherry memotong
“ENGGAK ! sekali aku bilang gak yaah enggak !” teriak Cherry dengan kerasnya “Mama sama papa jahat!” Cherry langsung berlari menuju kamarnya.
“Cherry !” seru papa dan mamanya serentak, sehingga membuat papa tirinya itu beranjak dari duduknya dan mengejar putri kesayangannya yang sudah dibesarkan dan dijaganya selama 15 tahun yang lalu.
“Cherry..” panggil papanya pelan, ketika menghampirinya dan
memeluknya. “Hei, lihat papa .. papa sayang kamu nak. Papa sama mama gak mau
kehilangan kamu atau harus hidup terpisah jauh dari kamu. Tapi ini untuk
kebaikan kamu.”
“Kebaikan apa maksud papa?” Tanyanya dengan suara agak marah “Aku justru sama papa dan mama baik kok. Aku bahagia .. atau karna papa udah merasa terbebani untuk biayain hidup aku pa, gitu pa, karna aku bukan anak kandung papa, iya pa ?!”
“Cherry .. hei sayang, kamu itu anak papa sayang.” Kata papanya sambil memeluknya erat. “Walau kamu bukan anak kandung papa, kamu itu anak yang paling papa sayangi. Papa masih mampu biayain hidup kamu. Tapi ..” melepaskan pelukan “ dengar Cherry, papa mau kamu kesana dan bertemu papa kandungmu. Dia lebih berhak untuk menjagamu dan memberimu kebahagian dan menuntaskan kewajibannya sebagai papamu. Disana kamu akan temukan bahagiamu. Percaya sama papa. Kamu disini hanya akan terluka karna tempat ini mengingatkan kamu kenangan tentang Gino. Papa hanya ingin melihatmu tertawa lepas seperti dulu saat masih ada Gino.” Pintanya
“Paaaaaah ..” isak Cherry
“Papa mohon Cherry. Ini sudah jadi keputusan papa sama mama kamu. Berat untuk papa dan mamamu. Tapi kami rasa ini yang terbaik untukmu”
“Benar sayang” kata mamanya yang sejak tadi berdiri di muka pintu kamar, mengiyakan kata-kata suaminya sambil menghapus airmata dipipinya mendengar kata-kata suaminya.
Cherry hanya terdiam namun beberapa saat kemudian, dia lalu mengangguk mengiyakan permintaan mereka. Mereka bertigapun lalu saling berpelukan lama sekali.
Malamnya ..
Riska sedang sibuk mengirimkan sms ke mantan suaminya di Paris itu yang merupakan papa kandung Cherry.
“Mas Eky, aku dan mas Andi sudah membicarakannya. Mas Andi sudah setuju begitupun Cherry sudah setuju. 3 hari lagi Cherry akan berangkat menuju Paris. Tolong jaga putriku.”
Beberapa menit kemudian bunyi sms masuk dari Eky papa kandung Cherry pun berdering , “Baiklah. Aku tunggu kedatangannya. Aku sendiri yang akan menjemputnya. Terima kasih. Sampaikan salamku untuk suamimu”
3 hari kemudian, Cherry lalu berangkat ke Paris seperti yang dijadwalkan papa dan mamanya. Di dalam pesawat sebelum take-off, “Gino .. aku pergi ke Paris meninggalkan Jakarta, tapi hati aku berat banget, aku gak tau Gin, apa aku bisa terus jalani hidupku setelah kepergianmu. Tapi aku tau kamu , cinta kita selalu bersamaku, dimanapun aku berada.” Katanya dalam hati. Tak lama pesawat itu pun lepas landas menuju Kota Paris.
“Kebaikan apa maksud papa?” Tanyanya dengan suara agak marah “Aku justru sama papa dan mama baik kok. Aku bahagia .. atau karna papa udah merasa terbebani untuk biayain hidup aku pa, gitu pa, karna aku bukan anak kandung papa, iya pa ?!”
“Cherry .. hei sayang, kamu itu anak papa sayang.” Kata papanya sambil memeluknya erat. “Walau kamu bukan anak kandung papa, kamu itu anak yang paling papa sayangi. Papa masih mampu biayain hidup kamu. Tapi ..” melepaskan pelukan “ dengar Cherry, papa mau kamu kesana dan bertemu papa kandungmu. Dia lebih berhak untuk menjagamu dan memberimu kebahagian dan menuntaskan kewajibannya sebagai papamu. Disana kamu akan temukan bahagiamu. Percaya sama papa. Kamu disini hanya akan terluka karna tempat ini mengingatkan kamu kenangan tentang Gino. Papa hanya ingin melihatmu tertawa lepas seperti dulu saat masih ada Gino.” Pintanya
“Paaaaaah ..” isak Cherry
“Papa mohon Cherry. Ini sudah jadi keputusan papa sama mama kamu. Berat untuk papa dan mamamu. Tapi kami rasa ini yang terbaik untukmu”
“Benar sayang” kata mamanya yang sejak tadi berdiri di muka pintu kamar, mengiyakan kata-kata suaminya sambil menghapus airmata dipipinya mendengar kata-kata suaminya.
Cherry hanya terdiam namun beberapa saat kemudian, dia lalu mengangguk mengiyakan permintaan mereka. Mereka bertigapun lalu saling berpelukan lama sekali.
Malamnya ..
Riska sedang sibuk mengirimkan sms ke mantan suaminya di Paris itu yang merupakan papa kandung Cherry.
“Mas Eky, aku dan mas Andi sudah membicarakannya. Mas Andi sudah setuju begitupun Cherry sudah setuju. 3 hari lagi Cherry akan berangkat menuju Paris. Tolong jaga putriku.”
Beberapa menit kemudian bunyi sms masuk dari Eky papa kandung Cherry pun berdering , “Baiklah. Aku tunggu kedatangannya. Aku sendiri yang akan menjemputnya. Terima kasih. Sampaikan salamku untuk suamimu”
3 hari kemudian, Cherry lalu berangkat ke Paris seperti yang dijadwalkan papa dan mamanya. Di dalam pesawat sebelum take-off, “Gino .. aku pergi ke Paris meninggalkan Jakarta, tapi hati aku berat banget, aku gak tau Gin, apa aku bisa terus jalani hidupku setelah kepergianmu. Tapi aku tau kamu , cinta kita selalu bersamaku, dimanapun aku berada.” Katanya dalam hati. Tak lama pesawat itu pun lepas landas menuju Kota Paris.
Di dalam mobil, mamanya terus menangis melihat kepergian
anaknya dan harus menerima kenyataan, dia takan bersama putrinya lagi untuk
waktu yang lama.
“Ma sudahlah .. Kita kan masih bisa video-call sama Cherry” kata Andi menyemangati istrinya sambil membelai rambut istrinya untuk menenangkannya.
“Iya pa, aku tau. Tapi Paris sama Jakarta itu jauh sekali. Aku gak tega dan aku .. aku gak bisa lagi membelai rambutnya, mencium dahinya bahkan memeluknya.” Isak Riska
Mobil mewah BMW limit-edition itu terus melaju menyisir jalanan.
Setelah berjam-jam kemudian, pesawat yang dinaiki Cherry sampai juga di Paris. Cherry yang baru pertama kali menginjakan kakinya di kota romantis itu, sempat kebingungan mencari-cari dimana papanya saat sudah berada di pintu kedatangan, dan khawatir kalau-kalau dia tidak dijemput papanya. Tiba-tiba ada sosok seorang pria menepuk bahunya langsung saja membuat dia membalikkan badannya dan matanya menatap sosok pria setengah baya dengan wajah tersenyum.
“désolé, mais .. qui .. êtes-vous?” Tanya Cherry dengan nada suara menunjukkan dirinya takut, sambil menerka-nerka siapa pria didepanya ini, dan siapa sosok cowok yang menurutnya sebaya dengannya.
Sambil tersenyum pria setengah baya itu menjawab, “Cherry, ini papa.” Kata Eky sambil mengambil sebuah foto, yang ternyata foto itu adalah foto Cherry dan mamanya semasa Cherry masih bayi, yah sebelum papanya meninggalkan mereka dan pergi ke Paris.
“Papa..”
“Iya sayang” katanya sambil memeluk erat tubuh mungil anaknya, yang selama ini sering ada didalam mimpinya dan angan-angannya untuk memeluk anaknya yang ditinggalkannya 19 tahun lalu.
Lama sekali dia memeluk anaknya, dan akhirnya pelukannya dibalas anaknya itu.
“Ma sudahlah .. Kita kan masih bisa video-call sama Cherry” kata Andi menyemangati istrinya sambil membelai rambut istrinya untuk menenangkannya.
“Iya pa, aku tau. Tapi Paris sama Jakarta itu jauh sekali. Aku gak tega dan aku .. aku gak bisa lagi membelai rambutnya, mencium dahinya bahkan memeluknya.” Isak Riska
Mobil mewah BMW limit-edition itu terus melaju menyisir jalanan.
Setelah berjam-jam kemudian, pesawat yang dinaiki Cherry sampai juga di Paris. Cherry yang baru pertama kali menginjakan kakinya di kota romantis itu, sempat kebingungan mencari-cari dimana papanya saat sudah berada di pintu kedatangan, dan khawatir kalau-kalau dia tidak dijemput papanya. Tiba-tiba ada sosok seorang pria menepuk bahunya langsung saja membuat dia membalikkan badannya dan matanya menatap sosok pria setengah baya dengan wajah tersenyum.
“désolé, mais .. qui .. êtes-vous?” Tanya Cherry dengan nada suara menunjukkan dirinya takut, sambil menerka-nerka siapa pria didepanya ini, dan siapa sosok cowok yang menurutnya sebaya dengannya.
Sambil tersenyum pria setengah baya itu menjawab, “Cherry, ini papa.” Kata Eky sambil mengambil sebuah foto, yang ternyata foto itu adalah foto Cherry dan mamanya semasa Cherry masih bayi, yah sebelum papanya meninggalkan mereka dan pergi ke Paris.
“Papa..”
“Iya sayang” katanya sambil memeluk erat tubuh mungil anaknya, yang selama ini sering ada didalam mimpinya dan angan-angannya untuk memeluk anaknya yang ditinggalkannya 19 tahun lalu.
Lama sekali dia memeluk anaknya, dan akhirnya pelukannya dibalas anaknya itu.
Beberapa saat kemudian ..
“Cherry, tadi mama sama papa kamu dari Jakarta telpon, dan nanyain kamu. Katanya hp kamu masih gak aktif, sayang”
“Iya pa” kata Cherry mengiyakan, “Tadi hp aku habis batreinya”
“Oh iya, papa lupa ngenalin kalian. Cherry ini Reza.” Kata Eky sambil merangkul cowok tampan di sebelahnya itu yang sedaritadii memperhatikan ayah dan anak yang sekian lama baru bertemu. “dan Eza, ini Cherry”
Reza dan Cherry saling berkenalan. Dalam hati ada rasa kagum antara dua insan ini. Tapi bagi Cherry hanya sebatas rasa kagum dihatinya, karena sampai detik ini dia takan pernah bisa menggantikan sosok Gino dengan yang lain dihatinya. Reza memang tampan, wajahnya seperti orang Korea tapi matanya bulat dan bola matanya agak kebiruan. Yah karena dia adalah anak keturunan Korea dan Perancis. Ibunya berasal dari Seul, Korea Selatan serta masih berdarah Indonesia dari ayah ibunya yang tak lain adalah opanya, dan ayahnya memang dari Paris, yang membuat siapapun cewek yang melihatnya akan terpesona pada pandangan pertama termasuk Cherry. Hal yang sama juga dirasakan Reza, Reza sangat mengagumi kecantikan Cherry, gadis belia dihadapannya ini. Rambutnya terurai lurus dan agak bergelombang pada bagian bawahnya, kulitnya sawo matang dan congkak pada pipinya yang menambah keunikan tersendiri pada gadis ini, apalagi tubuh mungilnya tentu akan membuat orang gemas padanya ketika melihat wajahnya. Setelah berkenalan, Eky mengajak mereka untuk segera naik ke mobil mewah yang sudah menunggu mereka sedaritadi. Begitu mau masuk, pintu mobil dibukakan seorang body-guard papanya
“Cherry, tadi mama sama papa kamu dari Jakarta telpon, dan nanyain kamu. Katanya hp kamu masih gak aktif, sayang”
“Iya pa” kata Cherry mengiyakan, “Tadi hp aku habis batreinya”
“Oh iya, papa lupa ngenalin kalian. Cherry ini Reza.” Kata Eky sambil merangkul cowok tampan di sebelahnya itu yang sedaritadii memperhatikan ayah dan anak yang sekian lama baru bertemu. “dan Eza, ini Cherry”
Reza dan Cherry saling berkenalan. Dalam hati ada rasa kagum antara dua insan ini. Tapi bagi Cherry hanya sebatas rasa kagum dihatinya, karena sampai detik ini dia takan pernah bisa menggantikan sosok Gino dengan yang lain dihatinya. Reza memang tampan, wajahnya seperti orang Korea tapi matanya bulat dan bola matanya agak kebiruan. Yah karena dia adalah anak keturunan Korea dan Perancis. Ibunya berasal dari Seul, Korea Selatan serta masih berdarah Indonesia dari ayah ibunya yang tak lain adalah opanya, dan ayahnya memang dari Paris, yang membuat siapapun cewek yang melihatnya akan terpesona pada pandangan pertama termasuk Cherry. Hal yang sama juga dirasakan Reza, Reza sangat mengagumi kecantikan Cherry, gadis belia dihadapannya ini. Rambutnya terurai lurus dan agak bergelombang pada bagian bawahnya, kulitnya sawo matang dan congkak pada pipinya yang menambah keunikan tersendiri pada gadis ini, apalagi tubuh mungilnya tentu akan membuat orang gemas padanya ketika melihat wajahnya. Setelah berkenalan, Eky mengajak mereka untuk segera naik ke mobil mewah yang sudah menunggu mereka sedaritadi. Begitu mau masuk, pintu mobil dibukakan seorang body-guard papanya
“Merci” kata Cherry sambil memasuki mobil tersebut dan
duduk.
Segera setelah mereka bertiga berada didalam, mobil itu pun
langsung melaju pulang menuju rumahnya diikuti dua mobil dibelakangnya yang
ditempati body-guard papanya dan assisten pribadi papanya yang harus mengikuti
papanya kemanapun dia bepergian.
Mobil itu terus saja melaju dan ketika melewati menara Eiffel, langsung saja mata Cherry tak henti-hentinya kagum dengan keindahannya walau hanya melihatnya dari mobil mewah yang terus melaju. Ternyata kekaguman Cherry nampak jelas pada raut wajahnya yang diperhatikan papanya.
“Cette voiture s'est arrêtée” suara papanya menghentikan mobil yang mereka tumpangi.
“Yes Monsieur” kata supir yang mengendarai mobil
Cherry menatap wajah papanya yang tersenyum menatapnya. “Turunlah nak. Papa rasa kamu butuh merasakan indahnya tempat ini sebelum kamu tinggal menetap disini bersama papa. Reza akan menemanimu”
“Eza, bisakan kamu menemani putri kecil oom ini ?”
“Bisa oom”
Reza dan Cherry lalu turun dari mobil dan ketika Cherry turun, papanya memberikan pesan untuk Reza agak menjaganya dengan baik dan membawa pulang dia dengan selamat. Pesan-pesan Eky disanggupi oleh Reza. Mobil itu lalu kemudian melaju kembali diikuti dua mobil body-guard papanya itu.
“Ayo !” ajak Reza sambil mempersilahkan Cherry untuk berjalan
Tanpa berkata apa-apa, Cherry mengikuti langkah Reza memasuki pelataran taman yang ditengah-tengahnya terdapat menara yang menjadi salah satu dari tujuh keajaiban di dunia itu. Sambil terus menatap menara Eiffel dan sekelilingnya, Cherry terus saja merasakan kekaguman pada tempat ini. Tempat terindah dari tempat-tempat yang pernah dia datangi sebelumnya bersama Gino. Ah.. lagi-lagi dia teringat akan cowok yang sangat dicintainya hingga detik terakhir hidup Gino dan hingga detik ini. Sikap ceria yang tiba-tiba berubah menjadi murung lagi ternyata lagi-lagi nampak jelas di raut wajahnya dan hal ini tak bisa dia pungkiri dari mata Reza yang terus memandanginya.
“Cherr” panggil Reza yang sontak menyadarkannya dari kemurungannya.
“Eh,”
“Gue perhatikan lo wajah elo murung” Jelas Reza, “Gue pikir lo gak terlalu suka yah tinggal disini ?”
“Ah ! gak .. gak .. gue .. gue hanya ..”
Belum sempat dia melanjutkan kata-katanya, dipotong oleh Reza, “AHA! Gue rasa gue tau gimana caranya buat lo ngerasa senang” kata Reza dengan percaya diri sambil menepuk bahunya Cherry “Tunggu sebentar disini. Jangan kemana-mana. Gue akan kembali” sambungnya melanjutkan kata-katanya tadi sambil berlari kearah perginya penjual balon yang sudah hilang diantara keramaian orang yang sedang menikmati keindahan kota romantis itu.
Cherry hanya terdiam menatap bahunya Reza yang tak lama menghilang diantara keramaian.
Dari arah berlawanan, tampak seorang cowok sedang saling mengejar dengan temannya yang juga cowok saat si cowok tidak memperhatikan larinya, Cherry yang jalan sambil menengok kekiri dan kekanan, langsung bertabrakan dengan si cowok. Sontak saja keduanya sama-sama kaget lalu memalingkan wajah mereka masing-masing dan sama-sama bertatapan. Keempat bola mata dua insan ini saling bertemu dan beradu tanpa mengedipkan mata sekalipun. Tak lama kemudian, lagi-lagi butiran bening jatuh menghiasi pipi Cherry. Mulutnya hanya bergumam satu nama “Gi..Gino”
Nama itu langsung menyadarkan si cowok dari tatapannya pada Cherry, cewek berparas cantik dihadapannya ini, dan sempat kaget mendengar nama yang digumamkan Cherry sambil tersenyum.
“Siapa?” tanyanya, “Gino siapa?” tanyanya lagi, “Sorry gue bukan Gino. Gue Marcel” katanya dengan gaya yang penuh percaya diri sambil memperkenalkan diri tanpa diminta.
Namun sodoran tangannya tak dibalas Cherry yang masih menatap matanya dengan mata berkaca-kaca dan sedikit berair karena tadi sempat meneteskan airmata. Hal itu membuat teman-teman Marcel, cowok tampan itu tertawa kecil melihat baru pertama kalinya jabatan tangan teman mereka itu tak dihiraukan oleh cewek. Padahal biasanya, justru cewek-cewek lah yang selalu ingin berkenalan dengannya dan sebagainya. Merasa sudah cukup lama tanggannya tak dihiraukan cewek dihadapannya ini, dia menurunkan kembali tanggannya dan hanya tersenyum lalu kembali menatap mata Cherry yang sejak tadi masih melihat matanya dengan gumaman kecil nama Gino. Dalam hati Marcel juga bertanya, siapa Gino, kenapa cewek ini terus saja menyebutnya Gino. Padahal dia sudah memperkenalkan diri. Teman-temannya bergerombol datang menghampiri mereka berdua.
“Sudahlah .. elo ditolak men.” Kata salah satu tem annya sambil yang lain ikut tertawa
“ssssstt” desis Marcel, “Hei !” suaranya yang sedikitn keras lalu akhirnya bisa juga menyadarkan Cherry yang sejak tadi terus memperhatikan Marcel seolah tak ada siapapun disitu hanya dia dan Gino , yah maksudnya Marcel. Tapi akhirnya dia menyadari Gino sudah tiada di dunia. Cowok ini hanya mempunyai kemiripan dengan Gino tapi bukan berarti dia Gino.
“Eh, maafin gue.” Ucap Cherry dengan pelan.
“Gak apalah .. oh iya kenalin Gue Marcel” katanya lagi memperkenalkan diri untuk kedua kali
“Gue ..”
Belum sempat Cherry memperkenalkan diri, tiba-tiba ..
“Cherry” panggil seorang dari jarak jauh sambil berlari dengan sedikit cepat kearah mereka, dengan perasaan takut kalau-kalau cowok-cowok yang sedang mengerumuni cewek cantik itu bermaksud jahat padanya. Panggilan itu juga membuat Cherry dan yang lain sama-sama mengarahkan matanya kearah suara tersebut berasal dan itu ternyata adalah Reza yang sedang berlari sambil membawa beberapa balon dan sekotak es krim coklat.
“Lho! Elo Cel” kata Reza
“Lho .. Reza, ngapain lo disini?” Tanya Marcel yang kaget dengan kedatangan Reza sambil menerka-nerka dalam hati ada apa antara cewek cantik yang dipanggil Reza dengan sebutan Cherry ini. Karena dalam bahasa Perancis, panggilan sayang adalah Cher. “Kalian berdua pacaran ya?” sambungnya menanyakan pada cowok dan cewek dihadapannya ini. Pertanyaan ini membuat Cherry dan Reza sama-sama saling menatap.
“Bukan” kata Reza memotong pikiran Marcel yang mulai menerka-nerka lebih sambil memperhatikan apa yang dibawa Reza. “Dia .. dia anaknya bos papa gue” jelas Reza pada Marcel untuk memperjelas kata-katanya tadi dan menghentikan terkaan Marcel yang kemudian menggangguk-ngangguk sebagai tanda mengerti. “Dia baru datang tadi dari Indonesia dan gue diminta papanya untuk ngejagain dia”
“Oh ya ya ya, gue mengerti. Tapi tadi kenapa lo manggil dia dengan sebutan Cherr..”
Belum sempat dia mengatakan Cherry, Cherry langsung memperkenalkan diri
Mobil itu terus saja melaju dan ketika melewati menara Eiffel, langsung saja mata Cherry tak henti-hentinya kagum dengan keindahannya walau hanya melihatnya dari mobil mewah yang terus melaju. Ternyata kekaguman Cherry nampak jelas pada raut wajahnya yang diperhatikan papanya.
“Cette voiture s'est arrêtée” suara papanya menghentikan mobil yang mereka tumpangi.
“Yes Monsieur” kata supir yang mengendarai mobil
Cherry menatap wajah papanya yang tersenyum menatapnya. “Turunlah nak. Papa rasa kamu butuh merasakan indahnya tempat ini sebelum kamu tinggal menetap disini bersama papa. Reza akan menemanimu”
“Eza, bisakan kamu menemani putri kecil oom ini ?”
“Bisa oom”
Reza dan Cherry lalu turun dari mobil dan ketika Cherry turun, papanya memberikan pesan untuk Reza agak menjaganya dengan baik dan membawa pulang dia dengan selamat. Pesan-pesan Eky disanggupi oleh Reza. Mobil itu lalu kemudian melaju kembali diikuti dua mobil body-guard papanya itu.
“Ayo !” ajak Reza sambil mempersilahkan Cherry untuk berjalan
Tanpa berkata apa-apa, Cherry mengikuti langkah Reza memasuki pelataran taman yang ditengah-tengahnya terdapat menara yang menjadi salah satu dari tujuh keajaiban di dunia itu. Sambil terus menatap menara Eiffel dan sekelilingnya, Cherry terus saja merasakan kekaguman pada tempat ini. Tempat terindah dari tempat-tempat yang pernah dia datangi sebelumnya bersama Gino. Ah.. lagi-lagi dia teringat akan cowok yang sangat dicintainya hingga detik terakhir hidup Gino dan hingga detik ini. Sikap ceria yang tiba-tiba berubah menjadi murung lagi ternyata lagi-lagi nampak jelas di raut wajahnya dan hal ini tak bisa dia pungkiri dari mata Reza yang terus memandanginya.
“Cherr” panggil Reza yang sontak menyadarkannya dari kemurungannya.
“Eh,”
“Gue perhatikan lo wajah elo murung” Jelas Reza, “Gue pikir lo gak terlalu suka yah tinggal disini ?”
“Ah ! gak .. gak .. gue .. gue hanya ..”
Belum sempat dia melanjutkan kata-katanya, dipotong oleh Reza, “AHA! Gue rasa gue tau gimana caranya buat lo ngerasa senang” kata Reza dengan percaya diri sambil menepuk bahunya Cherry “Tunggu sebentar disini. Jangan kemana-mana. Gue akan kembali” sambungnya melanjutkan kata-katanya tadi sambil berlari kearah perginya penjual balon yang sudah hilang diantara keramaian orang yang sedang menikmati keindahan kota romantis itu.
Cherry hanya terdiam menatap bahunya Reza yang tak lama menghilang diantara keramaian.
Dari arah berlawanan, tampak seorang cowok sedang saling mengejar dengan temannya yang juga cowok saat si cowok tidak memperhatikan larinya, Cherry yang jalan sambil menengok kekiri dan kekanan, langsung bertabrakan dengan si cowok. Sontak saja keduanya sama-sama kaget lalu memalingkan wajah mereka masing-masing dan sama-sama bertatapan. Keempat bola mata dua insan ini saling bertemu dan beradu tanpa mengedipkan mata sekalipun. Tak lama kemudian, lagi-lagi butiran bening jatuh menghiasi pipi Cherry. Mulutnya hanya bergumam satu nama “Gi..Gino”
Nama itu langsung menyadarkan si cowok dari tatapannya pada Cherry, cewek berparas cantik dihadapannya ini, dan sempat kaget mendengar nama yang digumamkan Cherry sambil tersenyum.
“Siapa?” tanyanya, “Gino siapa?” tanyanya lagi, “Sorry gue bukan Gino. Gue Marcel” katanya dengan gaya yang penuh percaya diri sambil memperkenalkan diri tanpa diminta.
Namun sodoran tangannya tak dibalas Cherry yang masih menatap matanya dengan mata berkaca-kaca dan sedikit berair karena tadi sempat meneteskan airmata. Hal itu membuat teman-teman Marcel, cowok tampan itu tertawa kecil melihat baru pertama kalinya jabatan tangan teman mereka itu tak dihiraukan oleh cewek. Padahal biasanya, justru cewek-cewek lah yang selalu ingin berkenalan dengannya dan sebagainya. Merasa sudah cukup lama tanggannya tak dihiraukan cewek dihadapannya ini, dia menurunkan kembali tanggannya dan hanya tersenyum lalu kembali menatap mata Cherry yang sejak tadi masih melihat matanya dengan gumaman kecil nama Gino. Dalam hati Marcel juga bertanya, siapa Gino, kenapa cewek ini terus saja menyebutnya Gino. Padahal dia sudah memperkenalkan diri. Teman-temannya bergerombol datang menghampiri mereka berdua.
“Sudahlah .. elo ditolak men.” Kata salah satu tem annya sambil yang lain ikut tertawa
“ssssstt” desis Marcel, “Hei !” suaranya yang sedikitn keras lalu akhirnya bisa juga menyadarkan Cherry yang sejak tadi terus memperhatikan Marcel seolah tak ada siapapun disitu hanya dia dan Gino , yah maksudnya Marcel. Tapi akhirnya dia menyadari Gino sudah tiada di dunia. Cowok ini hanya mempunyai kemiripan dengan Gino tapi bukan berarti dia Gino.
“Eh, maafin gue.” Ucap Cherry dengan pelan.
“Gak apalah .. oh iya kenalin Gue Marcel” katanya lagi memperkenalkan diri untuk kedua kali
“Gue ..”
Belum sempat Cherry memperkenalkan diri, tiba-tiba ..
“Cherry” panggil seorang dari jarak jauh sambil berlari dengan sedikit cepat kearah mereka, dengan perasaan takut kalau-kalau cowok-cowok yang sedang mengerumuni cewek cantik itu bermaksud jahat padanya. Panggilan itu juga membuat Cherry dan yang lain sama-sama mengarahkan matanya kearah suara tersebut berasal dan itu ternyata adalah Reza yang sedang berlari sambil membawa beberapa balon dan sekotak es krim coklat.
“Lho! Elo Cel” kata Reza
“Lho .. Reza, ngapain lo disini?” Tanya Marcel yang kaget dengan kedatangan Reza sambil menerka-nerka dalam hati ada apa antara cewek cantik yang dipanggil Reza dengan sebutan Cherry ini. Karena dalam bahasa Perancis, panggilan sayang adalah Cher. “Kalian berdua pacaran ya?” sambungnya menanyakan pada cowok dan cewek dihadapannya ini. Pertanyaan ini membuat Cherry dan Reza sama-sama saling menatap.
“Bukan” kata Reza memotong pikiran Marcel yang mulai menerka-nerka lebih sambil memperhatikan apa yang dibawa Reza. “Dia .. dia anaknya bos papa gue” jelas Reza pada Marcel untuk memperjelas kata-katanya tadi dan menghentikan terkaan Marcel yang kemudian menggangguk-ngangguk sebagai tanda mengerti. “Dia baru datang tadi dari Indonesia dan gue diminta papanya untuk ngejagain dia”
“Oh ya ya ya, gue mengerti. Tapi tadi kenapa lo manggil dia dengan sebutan Cherr..”
Belum sempat dia mengatakan Cherry, Cherry langsung memperkenalkan diri
“Cherry.” Suara Cherry keluar dan membuat Marcel sedikit
mengerutkan kening, “Nama gue Cherry Aditia”
Marcel lalu tersenyum lalu mengangguk lagi tanda dia sudah lebih mengerti.
“Welcome to Paris” kata Marcel sambil merentangkan kedua tangannya untuk memperkenalkan Paris, padahal maksudnya adalah untuk memperkenalkan dirinya pada cewek cantik dihadapannya ini. Dalam hatinya sangat mengagumi sosok cewek dihadapannya ini. Baginya Cherry tak seperti cewek-cewek lain yang begitu agresif bila melihatnya, walaupun sempat tadi mata Cherry menatapnya tanpa henti tapi nama yang digumamkan bukan namanya melainkan nama Gino yang masih menjadi tanda tanya tersendiri didalam hatinya.
Marcel lalu tersenyum lalu mengangguk lagi tanda dia sudah lebih mengerti.
“Welcome to Paris” kata Marcel sambil merentangkan kedua tangannya untuk memperkenalkan Paris, padahal maksudnya adalah untuk memperkenalkan dirinya pada cewek cantik dihadapannya ini. Dalam hatinya sangat mengagumi sosok cewek dihadapannya ini. Baginya Cherry tak seperti cewek-cewek lain yang begitu agresif bila melihatnya, walaupun sempat tadi mata Cherry menatapnya tanpa henti tapi nama yang digumamkan bukan namanya melainkan nama Gino yang masih menjadi tanda tanya tersendiri didalam hatinya.
Mereka semua lalu duduk berbincang-bincang di pelataran
tempat duduk di Sungai Seine sambil melihat keindahan kota ini. Namun mata
Marcel terus saja memperhatikan wajah Cherry yang lagi-lagi nampak murung dan
sejak tadi tak mengeluarkan sepatah katapun sedang yang lain sedang asyik
mengobrol mengenail kuliah mereka karena kebetulan mereka berada di satu
universitas dan satu fakultas walau berbeda jurusan, tapi mereka cukup saling
mengenal nama dan wajah satu sama lain karena sama-sama berasal dari Indonesia.
Yah walaupun Reza dan Marcel terbilang sudah cukup lama mereka berdomisili di
Paris. Marcel wajahnya yang begitu mirip dengan Gino, tak lain adalah orang
Indonesia yang sudah tinggal lama di Paris menjadi warga negara Perancis. Lalu
.. sodoran gelas mengagetkan Cherry yang sudah memilih untuk duduk menyendiri
terpisah dari keasyikan mengobrol dari cowok-cowok tampan itu. Cherry langsung
saja mengangkat kepalanya sedikir melihat kearah sosok cowok yang berdiri
disampingnya menyodorkan gelas padanya.
“Marcel ? elo ? ngapain disini ? gak duduk bersama yang lain ?” sederetan pertanyaan Cherry tak dijawab sepatah katapun oleh cowok tampan ini. Dia hanya tersenyum lalu mengambil posisi duduk bersebelahan dengan Cherry
Lama sekali mereka saling berdiam, lalu Marcel kembali menyodorkan gelas yang berisi minuman pada Cherry.
“Ini .. minumlah. Teh asli buatan Indonesia. Ya siapa tau bisa bantu lo ngelepasin semua dibenak lo yang ngebuat penat dikepala lo” kata Marcel dengan sok tahunya
Cherry yang menerima teh itu lalu meneguknya sedikit demi sedikit.
“Enak kan ?” Tanya Marcel. Cherry hanya menggangguk kecil. “Itu salah satu bisnis keluarga gue” kata Marcel membuat Cherry menatapnya menunggu penjelasan dari mulut cowok tampan yang duduk disebelahnya ini. “Ya, mama gue orang Indonesia dari oma gua. Tapi hanya tinggal di Indonesia untuk sementara waktu dan pindah kesini.Keluarga kami memang menyediakan minuman seperti ini mengingat banyak orang Indonesia yang sering berkunjung kesini dan juga mengingatkan keluarga gue kalo kami juga orang Indonesia walaupun sudah jadi warga sini” jelasnya sambil sedikit tertawa dibibirnya seolah-olah dia sudah mengetahui apa yang diinginkan cewek cantik yang sedang menatapnya menunggu ceritanya.
Lalu mereka berdua kembali terhening. Begitu melihat ada kapal kecil yang melintasi perairan Sungai Seine, Marcel lalu mengambil kameranya lalu mulai memotret pemandangan disitu. Yah dia memang sangat menyukai segala sesuatu dalam dunia fotografer. Walaupun dia kuliah dibagian bisnis.
“Marcel ? elo ? ngapain disini ? gak duduk bersama yang lain ?” sederetan pertanyaan Cherry tak dijawab sepatah katapun oleh cowok tampan ini. Dia hanya tersenyum lalu mengambil posisi duduk bersebelahan dengan Cherry
Lama sekali mereka saling berdiam, lalu Marcel kembali menyodorkan gelas yang berisi minuman pada Cherry.
“Ini .. minumlah. Teh asli buatan Indonesia. Ya siapa tau bisa bantu lo ngelepasin semua dibenak lo yang ngebuat penat dikepala lo” kata Marcel dengan sok tahunya
Cherry yang menerima teh itu lalu meneguknya sedikit demi sedikit.
“Enak kan ?” Tanya Marcel. Cherry hanya menggangguk kecil. “Itu salah satu bisnis keluarga gue” kata Marcel membuat Cherry menatapnya menunggu penjelasan dari mulut cowok tampan yang duduk disebelahnya ini. “Ya, mama gue orang Indonesia dari oma gua. Tapi hanya tinggal di Indonesia untuk sementara waktu dan pindah kesini.Keluarga kami memang menyediakan minuman seperti ini mengingat banyak orang Indonesia yang sering berkunjung kesini dan juga mengingatkan keluarga gue kalo kami juga orang Indonesia walaupun sudah jadi warga sini” jelasnya sambil sedikit tertawa dibibirnya seolah-olah dia sudah mengetahui apa yang diinginkan cewek cantik yang sedang menatapnya menunggu ceritanya.
Lalu mereka berdua kembali terhening. Begitu melihat ada kapal kecil yang melintasi perairan Sungai Seine, Marcel lalu mengambil kameranya lalu mulai memotret pemandangan disitu. Yah dia memang sangat menyukai segala sesuatu dalam dunia fotografer. Walaupun dia kuliah dibagian bisnis.
Tanpa sengaja kameranya tertuju pada Cherry yang sedang
menatap kapal yang lewat itu sambil tersenyum. Cherry yang tersadar dirinya
difoto, akhirnya ikut tertawa melihat tingkah laku Marcel saat memotret
pemandangan disekitarnya dan dan juga memotret Cherry. Tingkah laku mereka
berdua sejak tadi ternyata sedang diperhatikan dengan seksama oleh Reza dari
kejauhan. Terlebih Reza lebih memperhatikan wajah Cherry yang mulai berubah
dari murung menjadi tawa yang menghiasi bibirnya dan nampak jelas kebahagiaan
yang dirasakan cewek cantik itu pada wajahnya. Lama sekali dia memperhatikan
mereka berdua, lalu kemudian mulai berjalan menuju mereka.
“Hey Za” kata Marcel yang sudah menyadari kedatangan Reza
Reza hanya membalas dengan senyuman dan meraih tangan Cherry, dan berjalan meninggalkan Marcell. Marcel dengan gerakan cepat langsung meraih tangan Cherry yang lain. Reza dan Marcell saling bertatapan. Cherry dibuat bingung oleh kedua cowok tampan ini yang saling beradu memperebutkan tangan Cherry tapi justru hal itu membuat Cherry merasa kesakitan dengan marahnya Cherry membentak mereka berdua sambil berusaha melepaskan kedua tangannya yang masing-masing dipegang kedua cowok tampan ini. Reza dan Marcel menyadari hal itu dan sama-sama melepaskan tangan Cherry.
‘”Lo berdua napa sih!” katanya dengan jengkel, sambil mengusap-ngusap pada bagian pergelangan tangannya yang sedikit memerah.
“Sorry” Kata mereka berdua serentak
“Yaudah gue mau pulang. Ayo Reza” suntuk Cherry yang langsung berjalan meninggalkan kedua cowok tampan ini.
“Marcel, gue gak mau liat elo ngedeketin Cherry. Inget itu” kata Reza lalu kemudian berlari mengejar Cherry.
Setelah mendapati Cherry, Reza lalu mengantar pulang dia kembali ke rumah besar yang dikelilingi taman itu dan dijaga oleh sistem keamanan 24 jam.
Hari-hari di Paris terus berlalu. Walau segala kebutuhan Cherry selalu dipenuhi tetap saja dia merasa kesepian. Hari-harinya ditemani Reza kalau cowok tampan ini pulang dari kampus, akan diminta papanya untuk menjaga Cherry atau mengajaknya jalan-jalan. Semua tempat indah di Paris sudah mereka kunjungi walau membuatnya merasa kagum tapi ada hal-hal tertentu yang secara tak langsung membuat dia berubah menjadi murung lagi. Semenjak mereka sering berjalan bersama, perasaan cinta dihati Reza pada Cherry mulai tumbuh seiring berjalannya waktu. Dia selalu mencuri-curi kesempatan untuk menatap Cherry dengan tatapan lain dari biasanya, yakni tatapan cinta dari cowok ke cewek. Hal itu terus dilakukan Reza tanpa diketahui atau disadari oleh Cherry.
Suatu hari, papanya Cherry begitu disibukkan dengan kerjaannya sehingga dia tidak mempunyai kesempatan bersama Cherry. Cherry lalu dititipkannya pada Reza untuk dijaga sebaik-baiknya.
“Iya oom, aku ngerti” kata Reza sambil mengangguk.
Tentu dengan itu papanya Cherry sangat senang mendengarnya dan dia lalu merasa lega saat akan meninggalkan Cherry untuk beberapa hari untuk tujuan bisnisnya di Inggris. Setelah itu, laki-laki setengah baya itu pun segera memasuki mobil miliknya menuju ke bandara pribadinya.
“Hey Za” kata Marcel yang sudah menyadari kedatangan Reza
Reza hanya membalas dengan senyuman dan meraih tangan Cherry, dan berjalan meninggalkan Marcell. Marcel dengan gerakan cepat langsung meraih tangan Cherry yang lain. Reza dan Marcell saling bertatapan. Cherry dibuat bingung oleh kedua cowok tampan ini yang saling beradu memperebutkan tangan Cherry tapi justru hal itu membuat Cherry merasa kesakitan dengan marahnya Cherry membentak mereka berdua sambil berusaha melepaskan kedua tangannya yang masing-masing dipegang kedua cowok tampan ini. Reza dan Marcel menyadari hal itu dan sama-sama melepaskan tangan Cherry.
‘”Lo berdua napa sih!” katanya dengan jengkel, sambil mengusap-ngusap pada bagian pergelangan tangannya yang sedikit memerah.
“Sorry” Kata mereka berdua serentak
“Yaudah gue mau pulang. Ayo Reza” suntuk Cherry yang langsung berjalan meninggalkan kedua cowok tampan ini.
“Marcel, gue gak mau liat elo ngedeketin Cherry. Inget itu” kata Reza lalu kemudian berlari mengejar Cherry.
Setelah mendapati Cherry, Reza lalu mengantar pulang dia kembali ke rumah besar yang dikelilingi taman itu dan dijaga oleh sistem keamanan 24 jam.
Hari-hari di Paris terus berlalu. Walau segala kebutuhan Cherry selalu dipenuhi tetap saja dia merasa kesepian. Hari-harinya ditemani Reza kalau cowok tampan ini pulang dari kampus, akan diminta papanya untuk menjaga Cherry atau mengajaknya jalan-jalan. Semua tempat indah di Paris sudah mereka kunjungi walau membuatnya merasa kagum tapi ada hal-hal tertentu yang secara tak langsung membuat dia berubah menjadi murung lagi. Semenjak mereka sering berjalan bersama, perasaan cinta dihati Reza pada Cherry mulai tumbuh seiring berjalannya waktu. Dia selalu mencuri-curi kesempatan untuk menatap Cherry dengan tatapan lain dari biasanya, yakni tatapan cinta dari cowok ke cewek. Hal itu terus dilakukan Reza tanpa diketahui atau disadari oleh Cherry.
Suatu hari, papanya Cherry begitu disibukkan dengan kerjaannya sehingga dia tidak mempunyai kesempatan bersama Cherry. Cherry lalu dititipkannya pada Reza untuk dijaga sebaik-baiknya.
“Iya oom, aku ngerti” kata Reza sambil mengangguk.
Tentu dengan itu papanya Cherry sangat senang mendengarnya dan dia lalu merasa lega saat akan meninggalkan Cherry untuk beberapa hari untuk tujuan bisnisnya di Inggris. Setelah itu, laki-laki setengah baya itu pun segera memasuki mobil miliknya menuju ke bandara pribadinya.
Tak lama kemudian, bunyi dering handphone milik Reza
berbunyi ..
“Bonjuor” sapa Reza
(suara di telpon menjawab) dan mereka mengobrol sesuatu.
“Baiklah, gue akan menuju kesana, Sis” sambungnya kemudian dia menutup telpon
“Mau ke kampus ya Za?” suara kecil itu mengagetkan Reza
“Eh Cherr .. sejak kapan lo disini”
“Udah daritadi kok” katanya, “Lo pergi aja Za, gue gak pa-pa kok disini. Kan pembantu papa gue”
“Gak .. gue akan bawa lo bersama gue” tegas Reza. Dalam hati sebenarnya “Kemanapun gue pergi, gue akan bawa elo juga Cher. Karena gue gak bisa sedetik pun gak liat wajah elo. Gue gak bisa hidup tanpa elo”
Reza lalu menggenggam tangan Cherry erat sekali lalu membawanya menaiki mobil miliknya menuju ke kampus tempat Reza kuliah dan juga tempat Marcel, cowok yang wajahnya begitu mirip dengan Gino.
Begitu tiba dan memarkirkan mobilnya, mereka berdua kemudian turun dari mobil itu dan Reza mengajak Cherry untuk melihat-lihat kedalam universitas terkenal di Paris itu.
“Reza!” teriak seorang cewek cantik bergaya modis ala Perancis itu membuat Reza memalingkan wajah kearah datangnya suara itu yang sedang berjalan penuh langkah percaya diri ke arah Reza dan Cherry yang baru saja hendak memasuki pelataran taman depan kampus terkenal itu.
“Hei” sapa Reza begitu cewek itu berada dihadapannya
“Hei ..” sapa balik cewek itu sambil melirikan matanya sedikit melihat Cherry yang sama sekali tidak melihatnya. Sebenarnya bukan tidak melihatnya saja, tapi memang Cherry tidak peduli dengan kedatangan cewek itu. Siapapun itu Cherry kurang begitu perhatian seperti dulu yah sebelum Gino meninggal dunia dia begitu peduli pada orang lain. Tapi setelah Gino meninggal, baginya duniapun seakan lenyap dan semua terasa percuma saja.
“Gue baru saja mau samperin elo. Eh tak taunya elo disini Sis.” Kata-kata Reza membuat cewek cantik yang bernama Siska ini tidak lagi memperhatikan Cherry
Sambil sedikit memberikan tawa kecil pada belahan bibirnya, Siska menjawab “Gue malah bermaksud mau nyamperin elo. Makanya elo, gue tunggu di parkiran ini”
Keduanya kemudian saling tertawa kecil.
“Oh ya .. kenalin, ini Cherry” kata Reza pada Siska sambil merangkul Cherry. Hal itu membuat Siska, yah cewek cantik ini merasa seperti hatinya tertusuk dengan paku yang dimasukan dalam bara yang panas.
Cherry lalu menyodorkan tangannya ke Siska untuk menyalaminya. Siska yang awalnya berat untuk membalas , akhirnya membalas ketika tatapan mata Reza terus menatapnya seolah menyuruhnya untuk membalas salaman itu.
“Gue Siska”
“Cherry”
“Dia ?” kata Siska terbata-bata
“Dia anak dari bosnya bokap gue”
“Oh” senyum sinis Siska pada Cherry yang sama sekali tak menggubris senyuman sinis itu.
Setelah berbincang-bincang Reza dan Siksa, Reza lalu mengajak mereka bertiga untuk masuk kedalam gedung kampus itu. Tapi Cherry menolak dengan halus dan meminta untuk dia menunggu mereka disini saja. Maksudnya menunggu mereka di taman kampus. Setelah beberapa lama Reza akhirnya memutuskan untuk mengikuti kemauan Cherry, walaupun dia agak sedikit khawatir. Bagaimana kalau Cherry diganggu oleh orang-orang yang iseng. Tapi tatapan Cherry yang begitu meyakinkan Reza akhirnya membuat Reza merelakan Cherry menunggunya ditaman. Reza dan Siska lalu masuk kedalam gedung kampus . Sedangkan Cherry mulai berjalan ditaman kampus mencari tempat agar dia bisa duduk.
Setelah mendapatkan tempat duduk dan mulai duduk, dia mengambil sebuah headset dan memasang pada handphonenya sambil mendengar lantunan musik. Tanpa diketahuinya muncul sosok cowok duduk bersebelahan dengannya yang mulai mengajaknya ngobrol dengan bahasa Perancis. Tanpa melihat kesebelahnya, dia terus saja mendengar musik tanpa peduli apa yang dibicarakan cowok itu. Cowok itu yang merasa dirinya tidak dihiraukan, lalu mencoba melepaskan headset yang menempel pada telinga Cherry. Cherry dengan marahnya berkata-kata dalam bahasa Inggris, “Don’t touch me!” Cherry yang kurang pandai berbahasa Perancis hanya menggunakan bahasa Inggris sebagai komunikasinya. Kata-kata itu diucapkannya tanpa memperhatikan kesebelahnya. Cowok itu terus berusaha melepaskan headset yang masih menempel.
Semakin marahnya, Cherry melepaskan headsetnya sendiri dan dengan suara kasar “Hey! Are you crazy?!” sontak langsung membalikkan badannya dan matanya kesebelah duduknya itu dan betapa kagetnya ternyata cowok tampan yang dihadapannya adalah Gino. Eh bukan-bukan cowok tampan itu adalah Marcel, seorang cowok yang wajahnya sangat mirip dengan Gino, kekasih yang sangat dicintainya yang telah meninggal.
“Gino .. eh maaf.” Katanya meminta maaf saat menyadari dengan cepat siapa cowok disebelah duduknya ini. “Lo Marcel ?”
“Iya .. gue. Masih inget gue ?”
“Iya”
“mmm .. BTW ngapain lo disini ? Sama Reza ya ? Trus mana Reza ?”
“Reza lagi sama Siska”
“Oh Siska ..”
“Iya”
“Terus Reza ninggalin lo sendiri gitu disini ?”
“Gak .. gue yang minta kok”
“Oh”
“Lo ngapain disini ?”
Sambil tertawa, Marcel kemudian menjelaskan bahwa dia itu juga satu kampus dengan Reza.
“Oh”
“Bagaimana .. lo suka disini ?”
“Gue?”
Marcel menggangguk.
“Gue senang kok disini. Hanya saja, gue lebih suka tinggal di Indonesia”
Sambil tertawa, Marcel membalas “Kalo gitu gue akan buat lo ngerasain hal yang menyenangkan lebih dari yang lo rasain di Indonesia”
Dengan kening terangkat saat kata-kata itu keluar dari mulut Marcel. Cherry hanya mengikuti tarikan tangan Marcel sambil berlari kecil, mereka menyusuri jalanan di kota romantis itu pergi ke menara Eiffel. Disana Marcel menunjukkan hal-hal yang tak pernah dilihat Cherry di kota itu. Cherry yang tadinya kagum sekilas pada kota itu menjadi kagum berbunga-bunga seperti orang yang jatuh cinta ataukah memang dia mulai merasakan benih cinta dihatinya pada Marcel ataukah karena Marcel kebetulan wajahnya mempunyai kemiripan dengan Gino.
Mereka bermain dan bersenang-senang di situ, sampai saat senja hampir menyongsong, Marcel merangkul Cherry pergi mencari tempat duduk dimana dari tempat itu bisa melihat cahaya yang indah yang terpancar dari menara Eiffel.
“Wow” Girangnya Cherry sampai pipinya merah merona tak henti-hentinya melihat keindahan dari menara Eiffel.
“Lo suka ?”
“Gue suka banget Marcel. Gue suka banget ngeliat pemandangan seindah ini. Baru pertama kalinya gue kesini, saat begini dan gue ngerasain indahnya tempat ini”
“Gue senang kalo lo bahagia” kata Marcel sambil tersenyum, “dan gue senang senyum dibibir elo itu karena gue” Kata-kata ini membuat Cherry menjadi kaget dengan sedikit kaget bercampur rasa bahagia dan malu entah bagaimana mengungkapkan bahagianya. Dia hanya terdiam. Mata kedua insan ini saling bertatap lama sekali tanpa mengedipkan matanya. Saling beradu namun bibir tak berucap dalam hati begitu bahagia. Entah bagaimana menjelaskannya apalagi mengungkapkannya. Marcel kemudian tersenyum lagi sambil mencubit pipi Cherry “Hey .. terpesona lo sama gue. Hati-hati loh, jangan sampe lo jatuh hati ama gue” tuturnya sambil tertawa terbahak-bahak. Cherry hanya tersenyum nyengir sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Marcel membawa Cherry berjalan-jalan menikmati pemandangan yang indah di tempat itu. Cherry yang dulunya merasa tempat ini seperti tak berarti, mulai tumbuh rasa suka dan ingin tetap tinggal ditempat ini karena sosok Marcel, sosok cowok yang wajahnya mirip banget dengan Gino.
Setelah mereka selesai bersenang-senang berjalan melihat keindahan kota Paris, Marcel mengantar Cherry pulang ke rumahnya. Saat tiba di rumahnya Cherry, betapa kagetnya Cherry yang membukakan pintu bukan pembantu papanya, tetapi Reza yang sudah lama menunggunya. Cherry pun tersadar tadi dia sedang menunggu Reza di taman dan kemudian mengikuti Marcel berjalan-jalan merasakan kebahagian yang dulu sempat sirna saat Gino meninggal.
“Reza .. “ sapa Cherry
“Siska” Marcel menyebut nama Siska yang berada di belakang Reza saat dia membuka pintu. “Kalian ..”
“Reza” potong Cherry, “Lo .. gue, emmh .. gue minta maaf Za, gue tadi ..”
“Tadi dia bareng gue” Marcel menjelaskan hal yang ingin dijelaskan Cherry pada Reza
“Marcel, lo bareng dia?” tanya Siska yang sudah berada disamping Reza
“Iya .. Oh iya Sorry ya bro gue tadi ajak Cherry jalan-jalan sebentar. Soalnya tadi gue liat dia sendirian”
“Sudahlah .. Thanks sudah nganterin dia sampe sini. Skarang lo boleh pulang!” kata Reza dengan tegas , ada sedikit marah dihatinya tapi dia tak ingin Cherry sampai mengetahuinya. Bisa malu dia kalo sampai dia tahu kalo Reza sebenarnya jatuh cinta pada anak bos papanya.
“Okeh .. ayo Sis, kita pulang. Tadi nyokap telpon nanyain elo”
Siska hanya menggangguk tanda mengerti.
“Cherr , gue pamit. Kapan-kapan kita ketemu lagi. Bonsoir” kata Marcel sambil tersenyum lalu berjalan kearah mobilnya dan diikuti Siska dari belakang.
“Cherr ayo masuk!” panggil Reza yang berjalan memasuki rumah Cherry dan diikuti cewek cantik ini.
“Za .. gue ..”
“Udahlah Cherr, gak pa-pa kok. Gue ngerti .. Istirahatlah. Oh iya, bibi sudah nyiapin air hangat buat lo”
Cherry hanya terdiam dan berjalan memasuki kamarnya. Dalam hati ada rasa bersalah pada Reza yang sikapnya mulai dingin padanya hari ini. Yah sikap ini lain dari sikap Reza yang biasanya selalu khawatir seperti seorang kakak kepada adiknya.
“Andai lo tahu Cherr, gue sayang banget ama elo. Tapi gue sadar kok posisi gue” Ucapnya Reza dalam hatinya yang memperhatikan jalannya Cherry masuk ke kamarnya.
Dalam kamarnya Cherry, dia masih mengingat kejadian tadi sore sampai malam yang dilewatinya bersama Marcel. Dia merasa kalau Gino sedang bersamanya. Yah lagi-lagi dia mengingat Gino wajah yang selalu muncul didepan matanya bila melihat Marcel. Tapi tanpa sadar dia mengeluarkan senyum dan tawa kecil dibibirnya. Tanpa dia sadari juga, Reza sedang memperhatikannya dari pintu kamarnya. Hal yang sama juga malam itu dirasakan oleh Marcel saat dia ada ditempat tidurnya, wajah Cherry yang selalu menghiasi di langit-langit kamarnya. Bukan hanya dilangit kamarnya tapi memang sudah mengisi hatinya. Karena sedang melamunkan wajahnya Cherry, dia tak menyadari kalau-kalau Siska sudah berada dipinggiran tempat tidurnya sambil menatap heran wajah saudara sepupunya yang sedang tertawa sendiri dengan pandangan lurus ke langit-langit kamarnya.
“WOI .. “ teriak Siska di telinganya. Sontak saja langsung membuat Marcel terkaget dan bangun dari tidurnya serta lamunannya.
“Eh lu Siska .. masuk ketuk dulu kek ..” ujar cowok tampan ini dengan kesalnya.
“Nah lo .. ini nih lo ! haha eh gue tadi itu udah ketok pintunya elo seperti suara bom tau gak? Lo nya ajah yang gak dengar. Nah lo ngapain ayo .. ngaku” ledek Siska pada saudara sepupunya itu.
“KEPO .. mau tau urusan orang aja loh”
“Ye itu sih bukan KEPO tau ..” ledek Siska yang semakin membuat Marcel bertambah kesal tapi juga malu-malu. Sekilas hal itu dapat ditangkap oleh Siska. “Lo suka ya sama Cherry?”
“Yeee .. gak”
“Kalo suka bilang aja ..”
“nah lo sendiri suka juga kan sama Reza sejak awal lo datang kesini ?”
“Yeee jangan balik pertanyaan dong”
“Yaudah lah .. jangan bahas. Kenapa lo datang ke kamar gue?”
“Oh iya benar” kata Siska sambil mengusap dahinya, “tante suruh lo tolong cariin album foto kenangan sama oma, yah katanya tante cuma kangen saja sama oma dan suasana di Indonesia sewaktu tante masih kecil” jelasnya
Marcel lalu berdiri dari duduknya dan berjalan menuju ke gudang belakang yang disimpan sejumlah album foto yang sudah usang dan berdebu.
Saat sedang mencari-cari album foto yang dimaksud mamanya, tanpa sengaja dia menjatuhkan setumpuk album foto yang hampir sobek dan samar-samar wajah-wajah orang di kumpulan foto itu. Tapi dia meneruskan mencari album foto yang di maksud mamanya. Setelah ketemu dan hendak keluar gudang, dia lalu balik lagi ketempat jatuhnya album foto yang tadi dan mulai mengambil satu persatu foto-foto yang beramburan dilantai. Saking penasarannya dia, dia lalu berusaha menyingkirkan debu yang telah memenuhi hampir seleuruh dari kumpulan foto di album itu. Matanya terbelalak melihat sosok seorang wanita sedang menggendong dua bayi yang mungil di kedua lengannya dan tampak sosok pria berkumis dan berkacamata dibelakang wanita itu sedang memeluk mereka. Wanita itu tak lain adalah wajah mamanya sendiri. Dalam hati dia bertanya siapa bayi-bayi ini dan siapa pria dibelakang wanita itu. Kelihatan begitu mesra. Tanpa dia sadari mamanya sudah dibelakangnya dan merebut foto itu dari tangannya.
“Mama ..” ucap Marcel sambil berlari mengikuti mamanya menuju kamar mamanya. “Mama .. “ sambil mengusap-ngusap pundak ibunya dan memelukibuny saat ibunya menangis melihat foto itu mengingat kejadian 20 tahun lalu.
“Maafin mama Cel ..” tutur mamanya sambil memeluknya.
“Mama gak salah, ngapaian mama harus minta maaf ?”
“Kamu .. kamu gak tahu Cel, apa yang sudah mama lakuin.”
“Apa maksudnya mama ? Aku ..”
“Mama udah misahin kamu sama ..”
“Sama siapa ? maksud mama apa ?”
“Sodara kembarmu, kakakmu sendiri.”
Marcel langsung melepaskan pelukannya, baginya dunia seakan telah runtuh saat mendengar kata-kata mamanya. Ternyata selama ini dia mempunyai saudara yang tak lain adalah kembarannya, kakak kandungnya sendiri. Dia mendengar penjelasan cerita ibunya sambil ikut menangis merasakan kepedihan dihati ibu yang telah melahirkan dan membesarkannya ini.
“Ma, mama itu bidadari tanpa sayap yang Tuhan kasih ke aku. Aku gak pernah anggap mama jahat atau apa, karena sudah misahin kami berdua. Aku sayang mama, dan aku bangga miliki mama” tuturnya dengan lembut memberikan kekuatan pada mamanya, walau sebenarnya hatinya juga ikut hancur mengetahui kejadian sebenarnya.
“Bonjuor” sapa Reza
(suara di telpon menjawab) dan mereka mengobrol sesuatu.
“Baiklah, gue akan menuju kesana, Sis” sambungnya kemudian dia menutup telpon
“Mau ke kampus ya Za?” suara kecil itu mengagetkan Reza
“Eh Cherr .. sejak kapan lo disini”
“Udah daritadi kok” katanya, “Lo pergi aja Za, gue gak pa-pa kok disini. Kan pembantu papa gue”
“Gak .. gue akan bawa lo bersama gue” tegas Reza. Dalam hati sebenarnya “Kemanapun gue pergi, gue akan bawa elo juga Cher. Karena gue gak bisa sedetik pun gak liat wajah elo. Gue gak bisa hidup tanpa elo”
Reza lalu menggenggam tangan Cherry erat sekali lalu membawanya menaiki mobil miliknya menuju ke kampus tempat Reza kuliah dan juga tempat Marcel, cowok yang wajahnya begitu mirip dengan Gino.
Begitu tiba dan memarkirkan mobilnya, mereka berdua kemudian turun dari mobil itu dan Reza mengajak Cherry untuk melihat-lihat kedalam universitas terkenal di Paris itu.
“Reza!” teriak seorang cewek cantik bergaya modis ala Perancis itu membuat Reza memalingkan wajah kearah datangnya suara itu yang sedang berjalan penuh langkah percaya diri ke arah Reza dan Cherry yang baru saja hendak memasuki pelataran taman depan kampus terkenal itu.
“Hei” sapa Reza begitu cewek itu berada dihadapannya
“Hei ..” sapa balik cewek itu sambil melirikan matanya sedikit melihat Cherry yang sama sekali tidak melihatnya. Sebenarnya bukan tidak melihatnya saja, tapi memang Cherry tidak peduli dengan kedatangan cewek itu. Siapapun itu Cherry kurang begitu perhatian seperti dulu yah sebelum Gino meninggal dunia dia begitu peduli pada orang lain. Tapi setelah Gino meninggal, baginya duniapun seakan lenyap dan semua terasa percuma saja.
“Gue baru saja mau samperin elo. Eh tak taunya elo disini Sis.” Kata-kata Reza membuat cewek cantik yang bernama Siska ini tidak lagi memperhatikan Cherry
Sambil sedikit memberikan tawa kecil pada belahan bibirnya, Siska menjawab “Gue malah bermaksud mau nyamperin elo. Makanya elo, gue tunggu di parkiran ini”
Keduanya kemudian saling tertawa kecil.
“Oh ya .. kenalin, ini Cherry” kata Reza pada Siska sambil merangkul Cherry. Hal itu membuat Siska, yah cewek cantik ini merasa seperti hatinya tertusuk dengan paku yang dimasukan dalam bara yang panas.
Cherry lalu menyodorkan tangannya ke Siska untuk menyalaminya. Siska yang awalnya berat untuk membalas , akhirnya membalas ketika tatapan mata Reza terus menatapnya seolah menyuruhnya untuk membalas salaman itu.
“Gue Siska”
“Cherry”
“Dia ?” kata Siska terbata-bata
“Dia anak dari bosnya bokap gue”
“Oh” senyum sinis Siska pada Cherry yang sama sekali tak menggubris senyuman sinis itu.
Setelah berbincang-bincang Reza dan Siksa, Reza lalu mengajak mereka bertiga untuk masuk kedalam gedung kampus itu. Tapi Cherry menolak dengan halus dan meminta untuk dia menunggu mereka disini saja. Maksudnya menunggu mereka di taman kampus. Setelah beberapa lama Reza akhirnya memutuskan untuk mengikuti kemauan Cherry, walaupun dia agak sedikit khawatir. Bagaimana kalau Cherry diganggu oleh orang-orang yang iseng. Tapi tatapan Cherry yang begitu meyakinkan Reza akhirnya membuat Reza merelakan Cherry menunggunya ditaman. Reza dan Siska lalu masuk kedalam gedung kampus . Sedangkan Cherry mulai berjalan ditaman kampus mencari tempat agar dia bisa duduk.
Setelah mendapatkan tempat duduk dan mulai duduk, dia mengambil sebuah headset dan memasang pada handphonenya sambil mendengar lantunan musik. Tanpa diketahuinya muncul sosok cowok duduk bersebelahan dengannya yang mulai mengajaknya ngobrol dengan bahasa Perancis. Tanpa melihat kesebelahnya, dia terus saja mendengar musik tanpa peduli apa yang dibicarakan cowok itu. Cowok itu yang merasa dirinya tidak dihiraukan, lalu mencoba melepaskan headset yang menempel pada telinga Cherry. Cherry dengan marahnya berkata-kata dalam bahasa Inggris, “Don’t touch me!” Cherry yang kurang pandai berbahasa Perancis hanya menggunakan bahasa Inggris sebagai komunikasinya. Kata-kata itu diucapkannya tanpa memperhatikan kesebelahnya. Cowok itu terus berusaha melepaskan headset yang masih menempel.
Semakin marahnya, Cherry melepaskan headsetnya sendiri dan dengan suara kasar “Hey! Are you crazy?!” sontak langsung membalikkan badannya dan matanya kesebelah duduknya itu dan betapa kagetnya ternyata cowok tampan yang dihadapannya adalah Gino. Eh bukan-bukan cowok tampan itu adalah Marcel, seorang cowok yang wajahnya sangat mirip dengan Gino, kekasih yang sangat dicintainya yang telah meninggal.
“Gino .. eh maaf.” Katanya meminta maaf saat menyadari dengan cepat siapa cowok disebelah duduknya ini. “Lo Marcel ?”
“Iya .. gue. Masih inget gue ?”
“Iya”
“mmm .. BTW ngapain lo disini ? Sama Reza ya ? Trus mana Reza ?”
“Reza lagi sama Siska”
“Oh Siska ..”
“Iya”
“Terus Reza ninggalin lo sendiri gitu disini ?”
“Gak .. gue yang minta kok”
“Oh”
“Lo ngapain disini ?”
Sambil tertawa, Marcel kemudian menjelaskan bahwa dia itu juga satu kampus dengan Reza.
“Oh”
“Bagaimana .. lo suka disini ?”
“Gue?”
Marcel menggangguk.
“Gue senang kok disini. Hanya saja, gue lebih suka tinggal di Indonesia”
Sambil tertawa, Marcel membalas “Kalo gitu gue akan buat lo ngerasain hal yang menyenangkan lebih dari yang lo rasain di Indonesia”
Dengan kening terangkat saat kata-kata itu keluar dari mulut Marcel. Cherry hanya mengikuti tarikan tangan Marcel sambil berlari kecil, mereka menyusuri jalanan di kota romantis itu pergi ke menara Eiffel. Disana Marcel menunjukkan hal-hal yang tak pernah dilihat Cherry di kota itu. Cherry yang tadinya kagum sekilas pada kota itu menjadi kagum berbunga-bunga seperti orang yang jatuh cinta ataukah memang dia mulai merasakan benih cinta dihatinya pada Marcel ataukah karena Marcel kebetulan wajahnya mempunyai kemiripan dengan Gino.
Mereka bermain dan bersenang-senang di situ, sampai saat senja hampir menyongsong, Marcel merangkul Cherry pergi mencari tempat duduk dimana dari tempat itu bisa melihat cahaya yang indah yang terpancar dari menara Eiffel.
“Wow” Girangnya Cherry sampai pipinya merah merona tak henti-hentinya melihat keindahan dari menara Eiffel.
“Lo suka ?”
“Gue suka banget Marcel. Gue suka banget ngeliat pemandangan seindah ini. Baru pertama kalinya gue kesini, saat begini dan gue ngerasain indahnya tempat ini”
“Gue senang kalo lo bahagia” kata Marcel sambil tersenyum, “dan gue senang senyum dibibir elo itu karena gue” Kata-kata ini membuat Cherry menjadi kaget dengan sedikit kaget bercampur rasa bahagia dan malu entah bagaimana mengungkapkan bahagianya. Dia hanya terdiam. Mata kedua insan ini saling bertatap lama sekali tanpa mengedipkan matanya. Saling beradu namun bibir tak berucap dalam hati begitu bahagia. Entah bagaimana menjelaskannya apalagi mengungkapkannya. Marcel kemudian tersenyum lagi sambil mencubit pipi Cherry “Hey .. terpesona lo sama gue. Hati-hati loh, jangan sampe lo jatuh hati ama gue” tuturnya sambil tertawa terbahak-bahak. Cherry hanya tersenyum nyengir sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Marcel membawa Cherry berjalan-jalan menikmati pemandangan yang indah di tempat itu. Cherry yang dulunya merasa tempat ini seperti tak berarti, mulai tumbuh rasa suka dan ingin tetap tinggal ditempat ini karena sosok Marcel, sosok cowok yang wajahnya mirip banget dengan Gino.
Setelah mereka selesai bersenang-senang berjalan melihat keindahan kota Paris, Marcel mengantar Cherry pulang ke rumahnya. Saat tiba di rumahnya Cherry, betapa kagetnya Cherry yang membukakan pintu bukan pembantu papanya, tetapi Reza yang sudah lama menunggunya. Cherry pun tersadar tadi dia sedang menunggu Reza di taman dan kemudian mengikuti Marcel berjalan-jalan merasakan kebahagian yang dulu sempat sirna saat Gino meninggal.
“Reza .. “ sapa Cherry
“Siska” Marcel menyebut nama Siska yang berada di belakang Reza saat dia membuka pintu. “Kalian ..”
“Reza” potong Cherry, “Lo .. gue, emmh .. gue minta maaf Za, gue tadi ..”
“Tadi dia bareng gue” Marcel menjelaskan hal yang ingin dijelaskan Cherry pada Reza
“Marcel, lo bareng dia?” tanya Siska yang sudah berada disamping Reza
“Iya .. Oh iya Sorry ya bro gue tadi ajak Cherry jalan-jalan sebentar. Soalnya tadi gue liat dia sendirian”
“Sudahlah .. Thanks sudah nganterin dia sampe sini. Skarang lo boleh pulang!” kata Reza dengan tegas , ada sedikit marah dihatinya tapi dia tak ingin Cherry sampai mengetahuinya. Bisa malu dia kalo sampai dia tahu kalo Reza sebenarnya jatuh cinta pada anak bos papanya.
“Okeh .. ayo Sis, kita pulang. Tadi nyokap telpon nanyain elo”
Siska hanya menggangguk tanda mengerti.
“Cherr , gue pamit. Kapan-kapan kita ketemu lagi. Bonsoir” kata Marcel sambil tersenyum lalu berjalan kearah mobilnya dan diikuti Siska dari belakang.
“Cherr ayo masuk!” panggil Reza yang berjalan memasuki rumah Cherry dan diikuti cewek cantik ini.
“Za .. gue ..”
“Udahlah Cherr, gak pa-pa kok. Gue ngerti .. Istirahatlah. Oh iya, bibi sudah nyiapin air hangat buat lo”
Cherry hanya terdiam dan berjalan memasuki kamarnya. Dalam hati ada rasa bersalah pada Reza yang sikapnya mulai dingin padanya hari ini. Yah sikap ini lain dari sikap Reza yang biasanya selalu khawatir seperti seorang kakak kepada adiknya.
“Andai lo tahu Cherr, gue sayang banget ama elo. Tapi gue sadar kok posisi gue” Ucapnya Reza dalam hatinya yang memperhatikan jalannya Cherry masuk ke kamarnya.
Dalam kamarnya Cherry, dia masih mengingat kejadian tadi sore sampai malam yang dilewatinya bersama Marcel. Dia merasa kalau Gino sedang bersamanya. Yah lagi-lagi dia mengingat Gino wajah yang selalu muncul didepan matanya bila melihat Marcel. Tapi tanpa sadar dia mengeluarkan senyum dan tawa kecil dibibirnya. Tanpa dia sadari juga, Reza sedang memperhatikannya dari pintu kamarnya. Hal yang sama juga malam itu dirasakan oleh Marcel saat dia ada ditempat tidurnya, wajah Cherry yang selalu menghiasi di langit-langit kamarnya. Bukan hanya dilangit kamarnya tapi memang sudah mengisi hatinya. Karena sedang melamunkan wajahnya Cherry, dia tak menyadari kalau-kalau Siska sudah berada dipinggiran tempat tidurnya sambil menatap heran wajah saudara sepupunya yang sedang tertawa sendiri dengan pandangan lurus ke langit-langit kamarnya.
“WOI .. “ teriak Siska di telinganya. Sontak saja langsung membuat Marcel terkaget dan bangun dari tidurnya serta lamunannya.
“Eh lu Siska .. masuk ketuk dulu kek ..” ujar cowok tampan ini dengan kesalnya.
“Nah lo .. ini nih lo ! haha eh gue tadi itu udah ketok pintunya elo seperti suara bom tau gak? Lo nya ajah yang gak dengar. Nah lo ngapain ayo .. ngaku” ledek Siska pada saudara sepupunya itu.
“KEPO .. mau tau urusan orang aja loh”
“Ye itu sih bukan KEPO tau ..” ledek Siska yang semakin membuat Marcel bertambah kesal tapi juga malu-malu. Sekilas hal itu dapat ditangkap oleh Siska. “Lo suka ya sama Cherry?”
“Yeee .. gak”
“Kalo suka bilang aja ..”
“nah lo sendiri suka juga kan sama Reza sejak awal lo datang kesini ?”
“Yeee jangan balik pertanyaan dong”
“Yaudah lah .. jangan bahas. Kenapa lo datang ke kamar gue?”
“Oh iya benar” kata Siska sambil mengusap dahinya, “tante suruh lo tolong cariin album foto kenangan sama oma, yah katanya tante cuma kangen saja sama oma dan suasana di Indonesia sewaktu tante masih kecil” jelasnya
Marcel lalu berdiri dari duduknya dan berjalan menuju ke gudang belakang yang disimpan sejumlah album foto yang sudah usang dan berdebu.
Saat sedang mencari-cari album foto yang dimaksud mamanya, tanpa sengaja dia menjatuhkan setumpuk album foto yang hampir sobek dan samar-samar wajah-wajah orang di kumpulan foto itu. Tapi dia meneruskan mencari album foto yang di maksud mamanya. Setelah ketemu dan hendak keluar gudang, dia lalu balik lagi ketempat jatuhnya album foto yang tadi dan mulai mengambil satu persatu foto-foto yang beramburan dilantai. Saking penasarannya dia, dia lalu berusaha menyingkirkan debu yang telah memenuhi hampir seleuruh dari kumpulan foto di album itu. Matanya terbelalak melihat sosok seorang wanita sedang menggendong dua bayi yang mungil di kedua lengannya dan tampak sosok pria berkumis dan berkacamata dibelakang wanita itu sedang memeluk mereka. Wanita itu tak lain adalah wajah mamanya sendiri. Dalam hati dia bertanya siapa bayi-bayi ini dan siapa pria dibelakang wanita itu. Kelihatan begitu mesra. Tanpa dia sadari mamanya sudah dibelakangnya dan merebut foto itu dari tangannya.
“Mama ..” ucap Marcel sambil berlari mengikuti mamanya menuju kamar mamanya. “Mama .. “ sambil mengusap-ngusap pundak ibunya dan memelukibuny saat ibunya menangis melihat foto itu mengingat kejadian 20 tahun lalu.
“Maafin mama Cel ..” tutur mamanya sambil memeluknya.
“Mama gak salah, ngapaian mama harus minta maaf ?”
“Kamu .. kamu gak tahu Cel, apa yang sudah mama lakuin.”
“Apa maksudnya mama ? Aku ..”
“Mama udah misahin kamu sama ..”
“Sama siapa ? maksud mama apa ?”
“Sodara kembarmu, kakakmu sendiri.”
Marcel langsung melepaskan pelukannya, baginya dunia seakan telah runtuh saat mendengar kata-kata mamanya. Ternyata selama ini dia mempunyai saudara yang tak lain adalah kembarannya, kakak kandungnya sendiri. Dia mendengar penjelasan cerita ibunya sambil ikut menangis merasakan kepedihan dihati ibu yang telah melahirkan dan membesarkannya ini.
“Ma, mama itu bidadari tanpa sayap yang Tuhan kasih ke aku. Aku gak pernah anggap mama jahat atau apa, karena sudah misahin kami berdua. Aku sayang mama, dan aku bangga miliki mama” tuturnya dengan lembut memberikan kekuatan pada mamanya, walau sebenarnya hatinya juga ikut hancur mengetahui kejadian sebenarnya.
Setelah malam itu, dia jadi tak bisa tidur mengingat cerita
ibunya tentang saudara kembarnya. Dia langsung saja mengingat saat pertama dia
bertemu dengan Cherry, cewek itu terus saja memanggilnya dengan nama Gino.
Mungkin saja yang Cherry maksud adalah saudara kembarnya.
Dipenuhi dengan rasa ingin tahunya, pada keesokan paginya Marcel menelpon ke rumahnya Cherry. Tapi yang menjawab telpon adalah kepala assisten rumah tangga keluarganya Cherry.
“Bonjour, quel est exactement son Aditia famille?” tanya Marcel
“Yes. Est-ce que je peux faire?” tanya balik kepala assisten rumah tangga
“Puis-je parler à Cherry Aditia?” tanya balik Marcel
“Eh bien, je vais connecter à la dame jeune chamber.” Kemudian mengalihkan telpon ke telpon milik Cherry di kamarnya
Kring kring kring .. Cherry yang baru sadar dari tidur nyenyaknya, langsung menekan tombol menjawab panggilan
“Ya , siapa ?” tanyanya dengan nada suara yang mengantuk.
“Cherry ini gue, Marcel”
“Marcel ?” tanyanya, “Ha, apa ?! Marcel .. ELO ?” tanyanya dengan mata terbelalak sambil bangun dari tidurnya
“Hehe kenapa ? gue ganggu ya ?”
“Oh gak! Nggak sama sekali kok”
“Gue boleh gak ngajakin elo keluar jalan?”
“Jalan ?”
“Iya seperti kemarin. Bagaimana ?”
“Okeh, jam berapa ?”
“ 1 jam lagi gue jemput elo di rumah lo”
“Eh jangan-jangan nanti gue aja yang nemuin lo dimana gitu” tolaknya dengan keras, karena dalam pikirannya bagaimana kalo Reza dan Marcel ketemu. Reza sedang ada di rumah, lagian Reza kurang begitu akrab dengan Marcel walaupun saling kenal. Karena katanya Reza, Marcel adalah tipe cowok yang playboy.
“Lo takut Reza ya?” kata Marcel seolah membaca pikiran Cherry.
Setelah beberapa lama Cherry berpikir, dia akhirnya mengiyakan permintaan Marcel untuk menjemputnya.
“Okeh .. kalo gitu deal gue jemput lo sejam lagi. Udah sana gih lo siap-siap, kan mau jalan sama cowok tampan sedunia” katanya sambil tertawa
“Yeee”
Kemudian telpon mereka sama-sama ditutup, dan bergegas menyiapkan diri mereka masing-masing. Cherry ternyata sudah mulai merasakan lebih dalam perasaannya pada sosok Marcel. Walaupun wajah keduanya sama, tapi bahagia yang didapatkannya ya sama Marcel. Kebahagian yang sama dengan kebahagian yang dulu sirna setelah Gino meninggal.
1 jam kemudian, sesuai janji Marcel datang menghampiri Cherry di rumahnya. Saat hendak turun dari mobilnya, Reza sudah mendahuluinya tepat disamping pintu mobilnya. Mereka berdua saling bertatapan dengan wajah sedikit garang, ya karena mereka saling memperebutkan hatinya Cherry. Walau tak pernah mengatakannya, tapi keduanya saling mengetahui bahwa mereka berdua sama-sama mencintai cewek yang sama.
“Elo” kata Reza dengan sinis, “Mau ngapain elo disini?” tanyanya dengan ketus
“Nah elo, ngapain disini ?” tanya balik Marcel dengan ketus
“Gue ditugasin papanya Cherry buat ngejagain dia.”
“Marcel, Reza” panggil Cherry dari kejauhan yang sudah berdiri di teras rumahnya
“Hei Cherr ..” sapa Marcel sambil menatap Reza dan tersenyum sinis lagi, “Sorry bro, dia milik gue!” bisiknya pada Reza, lalu berjalan ke tempat Cherry berdiri dan menjemputnya untuk memasuki mobilnya.
“Za .. Gue, mau pamit pergi sama Marcel.” Pinta Cherry, tanpa menunggu jawaban “Lo tenang aja kok, gue pasti baik-baik saja. Gue janji gak telat pulangnya. Papa hari ini pulang kan? Gue udah kasih tau papa kok kalo gue mau pergi.” tuturnya dengan lembut lalu mencium pipi Reza, “Makasih ya Za, lo kakak terbaik dalam hidup gue” dan kemudian beranjak menaiki mobil Marcel.
Reza hanya terdiam menatapi laju mobil yang meninggalkan pelataran rumah mewah itu. Dalam hatinya seaakn hancur, yak arena penantiannya selama ini bagi Cherry dia hanya adalah seorang kakak. Kakak ? Benarkah ? Oh dia tak tau lagi harus bagaimana. Cherry, sosok cewek yang selama ini dinantikan, didambakan, ternyata menganggapnya sebagai kakanya, tidak lebih seperti yang diimpikannya. Perasaannya benar-benar hancur.
Ketika tiba ditaman, tepatnya di Menara Eiffel Marcel dan Cherry menghabiskan waktu bersama, bercanda, tertawa dan bersenang-senang layaknya sepasang kekasih. Marcel begitu menunjukkan perhatiaanya pada Cherry. Benih cinta terasa makin kuat diantara keduanya, walau keduanya masih belum mengungkapkannya. Disatu sisi, Cherry belum terlalu yakin dengan perasaanya karena sosok Gino dan selalu dia yang membayangi Cherry. Hari yang indah bagi keduanya, menghabiskan waktu ditempat itu tidak terasa bagi keduanya. Saat keduanya lelah berjalan, mereka mengambil keputusan untuk beristirahat sejenak di sungai Seine, sekalian untuk menikmati matahari terbenam.
“Gue senang banget liat lo senyum Cherry. Gue suka banget. Suka dari seorang cowok ke cewek” ucap Marcel dengan jujur membuat mata Cherry nampak terbelalak mendengarnya. “Haha .. gue Cuma becanda kale” tawa Marcel
“Ih lo ya ..” sungut Cherry sambil mencubit lengannya Marcel.
“Kamu bahagia Cherry?” tanya Marcel
“Yah.”
“Cher, gue boleh tanya soal .. ?” tanya Marcel masih dipikirkan lagi
“Tanya soal apa?”
“Soal Gino” tuturnya lembut takut membuat Cherry merasa dirinya ikut campur urusan orang lain, “Maaf gue gak bermaksud apa-apa, hanya saja”
“Hanya saja lo penasaran kenapa gue terus manggil elo awal kita ketemu dengan nama Gino?” tanya Cherry seolah mengetahui apa yang Marcel pikirkan, dan dia hanya mengangguk. “Wajahnya mirip banget sama lo. Dia , maksud gue Gino .. Dia adalah cinta pertama gue” katanya menjelaskan pada Marcel. Lalu melanjutkan ceritanya tentang Gino.
“Ayo, lo mau gak ikut gue ke rumah gue?” tanya Marcel setelah mendengar ceritanya Cherry. Tanpa basa-basi menunggu jawabannya Cherry, Marcel langsung menggenggam tangannya Cherry dan membawanya masuk mobilnya dan menuju ke rumahnya untuk bertemu ibunya.
Setelah sampai di rumahnya, Marcel menjelaskan semua pada ibunya. Betapa kaget mendengar penuturan Cherry, kalau anaknya Gino sudah meninggal. Karena mantan suaminya yang tak lain adalah ayah kandung dari Gino dan Marcel. Bukan hanya ibunya yang kaget tapi cewek cantik yang baru mengetahui kalo Gino mempunyai saudara kembar juga ikut kaget mendengar cerita ibunya Gino dan Marcel. Setelah selesai mengobrol, seperti biasa Marcel mengantar Cherry untuk pulang dengan mobilnya saat itu hujan deras. Tapi karena ingin menepati janjinya pada Reza untuk tidak pulang malam, dia memaksakan dirinya untuk pulang, akhirnya Marcel setuju saja untuk mengantarnya padahal ibunya dan dia sudah menyuruh Cherry untuk tetap tinggal di rumah mereka dan pulang besok tapi Cherry memaksa dan Marcel menurut saja.
Sesampainya dirumah, dia disambut papanya dan seorang pembantu yang membawakan kain panas untuknya karena cuaca yang sedang hujan dan dingin.
“Hei sayang” sapa papanya
“Papa .. papa udah pulang ?”
“Iya papa baru saja sampe. Oh ya mana Reza?” tanya papanya yng mengira dia pergi dengan Reza
Cherry yang kebingungan tak tahu harus menjawab apa pada papanya, karena dia pun tak tahu kemana perginya Reza. Seharusnya dia ada dirumah ini menunggu Cherry seperti biasa.
“Cherry .. Cherry .. gak tahu pa.” tuturnya lembut
“Oh ya sudahlah, istirahatlah. Jangan lupa ganti pakaianmu dan jangan lupa ngabarin mama sama papamu di Jakarta”
“Iya pa” jawabnya sambil masuk kekamarnya diikuti pembantunya.
Malam itu hujan begitu deras diluar. Cherry masih belum bisa tidur. Bukan karena dia memikirkan hal yang baru dia tahu tentang Gino dan Marcel adalah kembaran. Tapi karena sejak tadi dia selalu memikirkan Reza. Sudah berulang kali dia menelpon Reza tapi tak ada satupun panggilan yang dijawab.
“Ya ampun .. Za kemana sih lo? Gue kangen .. Gue mau curhat. Ih mas ague dibuat galau sih sama lo. Dasar cowok ! Dasar Reza nyebelin. Reza nyebelin !” katanya berbicara sendiri sambil ngegemesin boneka bantal yang dihadiain Reza waktu mereka sempat jalan bersama.
Sementara dilain tempat diluar, tepatnya di jalanan. Reza yang tak peduli malam itu hujan deras, terus saja berjalan menyisir pejalanan di kota itu tanpa menggunakan jaket dibadannya ataupun payung. Dia berjalan seperti seorang yang putus asa. Yah tepatnya dia sedang putus cinta, berjalan tanpa arah. Pikirannya kacau, entah apa yang terus berputar diotaknya. Bahkan hatinya kacau. Tak tahu lagi harus bagaimana.
“Gue sayang banget sama lo Cherr. Gue tau gue gak punya apa-apa. Tapi gue sayang banget sama elo, sayang banget. Tapi apa elo tau perasaan gue? Sakit banget Cherr. Sakit banget gue gak bisa miliki lo. Sakit banget liat elo sama dia.” Katanya dalam hati sambil terus berjalan tanpa arah. “Sampai kapanpun gue akan berhenti cinta sama elo. Walau kenyataan yang gue terima ini sakit banget rasanya. Gue akan simpan perasaan ini sama elo” katanya lagi, dan ..
Dipenuhi dengan rasa ingin tahunya, pada keesokan paginya Marcel menelpon ke rumahnya Cherry. Tapi yang menjawab telpon adalah kepala assisten rumah tangga keluarganya Cherry.
“Bonjour, quel est exactement son Aditia famille?” tanya Marcel
“Yes. Est-ce que je peux faire?” tanya balik kepala assisten rumah tangga
“Puis-je parler à Cherry Aditia?” tanya balik Marcel
“Eh bien, je vais connecter à la dame jeune chamber.” Kemudian mengalihkan telpon ke telpon milik Cherry di kamarnya
Kring kring kring .. Cherry yang baru sadar dari tidur nyenyaknya, langsung menekan tombol menjawab panggilan
“Ya , siapa ?” tanyanya dengan nada suara yang mengantuk.
“Cherry ini gue, Marcel”
“Marcel ?” tanyanya, “Ha, apa ?! Marcel .. ELO ?” tanyanya dengan mata terbelalak sambil bangun dari tidurnya
“Hehe kenapa ? gue ganggu ya ?”
“Oh gak! Nggak sama sekali kok”
“Gue boleh gak ngajakin elo keluar jalan?”
“Jalan ?”
“Iya seperti kemarin. Bagaimana ?”
“Okeh, jam berapa ?”
“ 1 jam lagi gue jemput elo di rumah lo”
“Eh jangan-jangan nanti gue aja yang nemuin lo dimana gitu” tolaknya dengan keras, karena dalam pikirannya bagaimana kalo Reza dan Marcel ketemu. Reza sedang ada di rumah, lagian Reza kurang begitu akrab dengan Marcel walaupun saling kenal. Karena katanya Reza, Marcel adalah tipe cowok yang playboy.
“Lo takut Reza ya?” kata Marcel seolah membaca pikiran Cherry.
Setelah beberapa lama Cherry berpikir, dia akhirnya mengiyakan permintaan Marcel untuk menjemputnya.
“Okeh .. kalo gitu deal gue jemput lo sejam lagi. Udah sana gih lo siap-siap, kan mau jalan sama cowok tampan sedunia” katanya sambil tertawa
“Yeee”
Kemudian telpon mereka sama-sama ditutup, dan bergegas menyiapkan diri mereka masing-masing. Cherry ternyata sudah mulai merasakan lebih dalam perasaannya pada sosok Marcel. Walaupun wajah keduanya sama, tapi bahagia yang didapatkannya ya sama Marcel. Kebahagian yang sama dengan kebahagian yang dulu sirna setelah Gino meninggal.
1 jam kemudian, sesuai janji Marcel datang menghampiri Cherry di rumahnya. Saat hendak turun dari mobilnya, Reza sudah mendahuluinya tepat disamping pintu mobilnya. Mereka berdua saling bertatapan dengan wajah sedikit garang, ya karena mereka saling memperebutkan hatinya Cherry. Walau tak pernah mengatakannya, tapi keduanya saling mengetahui bahwa mereka berdua sama-sama mencintai cewek yang sama.
“Elo” kata Reza dengan sinis, “Mau ngapain elo disini?” tanyanya dengan ketus
“Nah elo, ngapain disini ?” tanya balik Marcel dengan ketus
“Gue ditugasin papanya Cherry buat ngejagain dia.”
“Marcel, Reza” panggil Cherry dari kejauhan yang sudah berdiri di teras rumahnya
“Hei Cherr ..” sapa Marcel sambil menatap Reza dan tersenyum sinis lagi, “Sorry bro, dia milik gue!” bisiknya pada Reza, lalu berjalan ke tempat Cherry berdiri dan menjemputnya untuk memasuki mobilnya.
“Za .. Gue, mau pamit pergi sama Marcel.” Pinta Cherry, tanpa menunggu jawaban “Lo tenang aja kok, gue pasti baik-baik saja. Gue janji gak telat pulangnya. Papa hari ini pulang kan? Gue udah kasih tau papa kok kalo gue mau pergi.” tuturnya dengan lembut lalu mencium pipi Reza, “Makasih ya Za, lo kakak terbaik dalam hidup gue” dan kemudian beranjak menaiki mobil Marcel.
Reza hanya terdiam menatapi laju mobil yang meninggalkan pelataran rumah mewah itu. Dalam hatinya seaakn hancur, yak arena penantiannya selama ini bagi Cherry dia hanya adalah seorang kakak. Kakak ? Benarkah ? Oh dia tak tau lagi harus bagaimana. Cherry, sosok cewek yang selama ini dinantikan, didambakan, ternyata menganggapnya sebagai kakanya, tidak lebih seperti yang diimpikannya. Perasaannya benar-benar hancur.
Ketika tiba ditaman, tepatnya di Menara Eiffel Marcel dan Cherry menghabiskan waktu bersama, bercanda, tertawa dan bersenang-senang layaknya sepasang kekasih. Marcel begitu menunjukkan perhatiaanya pada Cherry. Benih cinta terasa makin kuat diantara keduanya, walau keduanya masih belum mengungkapkannya. Disatu sisi, Cherry belum terlalu yakin dengan perasaanya karena sosok Gino dan selalu dia yang membayangi Cherry. Hari yang indah bagi keduanya, menghabiskan waktu ditempat itu tidak terasa bagi keduanya. Saat keduanya lelah berjalan, mereka mengambil keputusan untuk beristirahat sejenak di sungai Seine, sekalian untuk menikmati matahari terbenam.
“Gue senang banget liat lo senyum Cherry. Gue suka banget. Suka dari seorang cowok ke cewek” ucap Marcel dengan jujur membuat mata Cherry nampak terbelalak mendengarnya. “Haha .. gue Cuma becanda kale” tawa Marcel
“Ih lo ya ..” sungut Cherry sambil mencubit lengannya Marcel.
“Kamu bahagia Cherry?” tanya Marcel
“Yah.”
“Cher, gue boleh tanya soal .. ?” tanya Marcel masih dipikirkan lagi
“Tanya soal apa?”
“Soal Gino” tuturnya lembut takut membuat Cherry merasa dirinya ikut campur urusan orang lain, “Maaf gue gak bermaksud apa-apa, hanya saja”
“Hanya saja lo penasaran kenapa gue terus manggil elo awal kita ketemu dengan nama Gino?” tanya Cherry seolah mengetahui apa yang Marcel pikirkan, dan dia hanya mengangguk. “Wajahnya mirip banget sama lo. Dia , maksud gue Gino .. Dia adalah cinta pertama gue” katanya menjelaskan pada Marcel. Lalu melanjutkan ceritanya tentang Gino.
“Ayo, lo mau gak ikut gue ke rumah gue?” tanya Marcel setelah mendengar ceritanya Cherry. Tanpa basa-basi menunggu jawabannya Cherry, Marcel langsung menggenggam tangannya Cherry dan membawanya masuk mobilnya dan menuju ke rumahnya untuk bertemu ibunya.
Setelah sampai di rumahnya, Marcel menjelaskan semua pada ibunya. Betapa kaget mendengar penuturan Cherry, kalau anaknya Gino sudah meninggal. Karena mantan suaminya yang tak lain adalah ayah kandung dari Gino dan Marcel. Bukan hanya ibunya yang kaget tapi cewek cantik yang baru mengetahui kalo Gino mempunyai saudara kembar juga ikut kaget mendengar cerita ibunya Gino dan Marcel. Setelah selesai mengobrol, seperti biasa Marcel mengantar Cherry untuk pulang dengan mobilnya saat itu hujan deras. Tapi karena ingin menepati janjinya pada Reza untuk tidak pulang malam, dia memaksakan dirinya untuk pulang, akhirnya Marcel setuju saja untuk mengantarnya padahal ibunya dan dia sudah menyuruh Cherry untuk tetap tinggal di rumah mereka dan pulang besok tapi Cherry memaksa dan Marcel menurut saja.
Sesampainya dirumah, dia disambut papanya dan seorang pembantu yang membawakan kain panas untuknya karena cuaca yang sedang hujan dan dingin.
“Hei sayang” sapa papanya
“Papa .. papa udah pulang ?”
“Iya papa baru saja sampe. Oh ya mana Reza?” tanya papanya yng mengira dia pergi dengan Reza
Cherry yang kebingungan tak tahu harus menjawab apa pada papanya, karena dia pun tak tahu kemana perginya Reza. Seharusnya dia ada dirumah ini menunggu Cherry seperti biasa.
“Cherry .. Cherry .. gak tahu pa.” tuturnya lembut
“Oh ya sudahlah, istirahatlah. Jangan lupa ganti pakaianmu dan jangan lupa ngabarin mama sama papamu di Jakarta”
“Iya pa” jawabnya sambil masuk kekamarnya diikuti pembantunya.
Malam itu hujan begitu deras diluar. Cherry masih belum bisa tidur. Bukan karena dia memikirkan hal yang baru dia tahu tentang Gino dan Marcel adalah kembaran. Tapi karena sejak tadi dia selalu memikirkan Reza. Sudah berulang kali dia menelpon Reza tapi tak ada satupun panggilan yang dijawab.
“Ya ampun .. Za kemana sih lo? Gue kangen .. Gue mau curhat. Ih mas ague dibuat galau sih sama lo. Dasar cowok ! Dasar Reza nyebelin. Reza nyebelin !” katanya berbicara sendiri sambil ngegemesin boneka bantal yang dihadiain Reza waktu mereka sempat jalan bersama.
Sementara dilain tempat diluar, tepatnya di jalanan. Reza yang tak peduli malam itu hujan deras, terus saja berjalan menyisir pejalanan di kota itu tanpa menggunakan jaket dibadannya ataupun payung. Dia berjalan seperti seorang yang putus asa. Yah tepatnya dia sedang putus cinta, berjalan tanpa arah. Pikirannya kacau, entah apa yang terus berputar diotaknya. Bahkan hatinya kacau. Tak tahu lagi harus bagaimana.
“Gue sayang banget sama lo Cherr. Gue tau gue gak punya apa-apa. Tapi gue sayang banget sama elo, sayang banget. Tapi apa elo tau perasaan gue? Sakit banget Cherr. Sakit banget gue gak bisa miliki lo. Sakit banget liat elo sama dia.” Katanya dalam hati sambil terus berjalan tanpa arah. “Sampai kapanpun gue akan berhenti cinta sama elo. Walau kenyataan yang gue terima ini sakit banget rasanya. Gue akan simpan perasaan ini sama elo” katanya lagi, dan ..
BRUUUUUUUKKK! Suara
tabrakan terjadi. Dia tertabrak dengan sebuah mobil merah, pengemudi mobil itu
langsung bergegas turun dari mobil melihat orang yang ditabraknya. Betapa
kagetnya pengemudi itu melihat yang ditabraknya adalah Reza.
“Reza .. Reza bangun Reza, aaaah” teriak Siska yang kaget melihat darah yang mengalir dari kepalanya Reza, karena hujan deras jadi jalanan pun agak sepi dan tak dapat meminta tolong pada siapa-siapa. Akhirnya dia berusaha dengan sekuat tenaganya mengambil Reza dari jatuhnya dijalan dan membawanya masuk ke mobil milik cewek cantik bergaya modis ala Perancis itu, dan segera melajukan mobilnya ke apertemen pribadinya yang memang dekat dengan dearah tempat tadi Reza tertabrak mobilnya. Begitu sampai di apartemennya, dia langsung membersihkan luka dikepala Reza memberikan pertolongan pertama dan menelepon dokter untuk datang memeriksa kondisi Reza.
Keesokan harinya, begitu tersadar Reza langsung kaget mengapa dia ada di apertemen milik Siska ini.
“Bonjour Za, lo sudah bangun ya .. Syukur deh lo gak apa-apa hanya lecet sedikit kata dokter. Kemarin gue takut banget elo kenapa-napa.”
“Sudahlah mana baju gue, gue mau pergi” ucapnya dengan ketus membuat Siska heran baru pertama dia mendengar Reza sekasar ini. Tapi walaupun begitu dia menurut saja memberikan baju ganti untuk Reza
“Za lo mau kemana?” Tanya Siska sambil meraih tangan Reza yang hendak membuka pintu depan apertemen Siska. Tanpa menjawab pertanyaan Siska, Reza melepaskan tangan Siska dan langsung berjalan keluar. “Reza .. walaupun dokter bilang lo gak apa-apa tapi lo harus istirahat. Reza .. !!” teriak Siska didepan pintu apertemennya melihat kepergian Reza
Malamnya Siska menerima telpon dari temannya kalau dia melihat Reza sedang mabuk-mabukkan di sebuah bar. Tak ditunggu lagi Siska langsung menelpon Marcel untuk mengabari Cherry. Setelah menelpon langsung saja Siska menaiki mobilnya menuju ke alamat bar yang di maksud temannya. Sesampainya disana, hatinya begitu tertusuk melihat keadaan Reza yang sedang mabuk dan membentak-bentak pelayan bar.
“Reza ..” panggil Siksa setelah berada di sampingnya Reza, tapi tetap saja Reza tidak mempedulikan kedatangan dia. “Reza !” Teriaknya dengan nada yang masih dikontrol
“Eh Siska .. hehe ngapain eh ngapain lo disini .. hehe eh lo mau minum juga, sini minum sama gue” kata Reza yang sudah kacau dengan alkohol yang diminumnya sambil menyodorkan gelasnya pada Siska
“Za lo gak boleh gini .. Lo itu butuh MOVE ON” kata Siska sambil meletakkan gelas yang disodorkan Reza di meja.
“Heh memangnya lo tau apa? Lo itu gak tau apa-apa soal gue. Sudahlah kalo gak mau minum lo pulang saja”
“Gue tau .. Gue tau. Bahkan sampai dimana perasaan elo ke Cherry juga gue tau ! Ayo kita pulang” katanya sambil menarik tangan Reza keluar dari bar itu.
“Gue gak mau! Lo itu gak tau gue sayang banget sama Cherry. Gue sakit banget liat dia jalan sama marcel, sepupu lo yang brengsek playboy itu!” kata Reza
Tetapi Siska bersikeras menarik tangan Reza untuk keluar dari bar itu. Ketika membalikkan badannya, mereka berpas-pasan dengan Cherry dan Marcel yang juga datang melihat keadaan Reza sekaligus Cherry mau mengajak Reza untuk pulang. Dalam hati Cherry juga sedih melihat keadaan Reza, tapi dia juga kaget mendengar kata-kata Reza tadi. Yah kata-kata tentang perasaanya.
Cherry tak mau lagi berkata langsung mengambil tangan Reza dari pelukan Siska.
“Ayo kita pulang!” kata Cherry sambil sedikit menghapus airmata yang sempat mengalir dipipinya.
“Eh Cherry ..” kata Reza yang sudah mabuk “Lo datang juga .. gue sayang lo, Cherr” Lanjutnya. Tapi penuturannya ini membuat Marcel dan Siska sama-sama merasakan sakit dihatinya.
“Iya gue juga sayang sama elo jadi ayo kita pulang” jawab Cherry sambil meraih tanggan Reza yang juga ikut meraih tangannya Cherry dan mereka keluar dari bar itu dan pulang ke rumahnya Cherry, tempat dimana Reza juga tinggal sesuai permintaan papanya Cherry. Sementara Marcel dan Siksa menatap kepergian mereka berdua dan merasakan sakit dihatinya mendengar kedua insan itu saling berkata mereka saling sayang. Rasanya hancur sudah apa yang hendak diungkapkan Marcel kepada Cherry 3 hari lagi tepatnya tanggal 14 Februari ini. Yah mengungkapkan tentang perasaannya pada Cherry. Perasaan yang sudah dia pendam saat awal berjumpa dengan Cherry, hancur dalam sekejap. Ah perasaan sesakit ini tak pernah ia rasakan. Biasanya cewek-cewek yang mendekatinya yang merasakan perasaan seperti sekarang yang dia rasakan.
Keesokkan harinya, begitu Reza tersadar dari pengaruh alkohol yang dminumnya, dan mulai berusaha mengingat kejadian kemarin malam. Ada rasa senang di wajahnya saat mengingat Cherry mengatakan dia juga menyayanginya. Tapi benarkah ? Pikirnya sendiri. Bukankah dia hanya menganggapnya kakak ? Ah entahlah .. tapi baginya kata-kata Cherry itu membuat dia bahagia. Ketika keluar dari kamarnya ingin menghampiri Cherry, dia hanya terdiam melihat Cherry yang berdiri mematung menatap keluar jendela kamarnya. Di tangannya ada sepucuk surat yang digenggamnya erat.
“Cherr ..” panggil Reza
“Za .. elo, udah sadar, elo .. “
“Reza .. Reza bangun Reza, aaaah” teriak Siska yang kaget melihat darah yang mengalir dari kepalanya Reza, karena hujan deras jadi jalanan pun agak sepi dan tak dapat meminta tolong pada siapa-siapa. Akhirnya dia berusaha dengan sekuat tenaganya mengambil Reza dari jatuhnya dijalan dan membawanya masuk ke mobil milik cewek cantik bergaya modis ala Perancis itu, dan segera melajukan mobilnya ke apertemen pribadinya yang memang dekat dengan dearah tempat tadi Reza tertabrak mobilnya. Begitu sampai di apartemennya, dia langsung membersihkan luka dikepala Reza memberikan pertolongan pertama dan menelepon dokter untuk datang memeriksa kondisi Reza.
Keesokan harinya, begitu tersadar Reza langsung kaget mengapa dia ada di apertemen milik Siska ini.
“Bonjour Za, lo sudah bangun ya .. Syukur deh lo gak apa-apa hanya lecet sedikit kata dokter. Kemarin gue takut banget elo kenapa-napa.”
“Sudahlah mana baju gue, gue mau pergi” ucapnya dengan ketus membuat Siska heran baru pertama dia mendengar Reza sekasar ini. Tapi walaupun begitu dia menurut saja memberikan baju ganti untuk Reza
“Za lo mau kemana?” Tanya Siska sambil meraih tangan Reza yang hendak membuka pintu depan apertemen Siska. Tanpa menjawab pertanyaan Siska, Reza melepaskan tangan Siska dan langsung berjalan keluar. “Reza .. walaupun dokter bilang lo gak apa-apa tapi lo harus istirahat. Reza .. !!” teriak Siska didepan pintu apertemennya melihat kepergian Reza
Malamnya Siska menerima telpon dari temannya kalau dia melihat Reza sedang mabuk-mabukkan di sebuah bar. Tak ditunggu lagi Siska langsung menelpon Marcel untuk mengabari Cherry. Setelah menelpon langsung saja Siska menaiki mobilnya menuju ke alamat bar yang di maksud temannya. Sesampainya disana, hatinya begitu tertusuk melihat keadaan Reza yang sedang mabuk dan membentak-bentak pelayan bar.
“Reza ..” panggil Siksa setelah berada di sampingnya Reza, tapi tetap saja Reza tidak mempedulikan kedatangan dia. “Reza !” Teriaknya dengan nada yang masih dikontrol
“Eh Siska .. hehe ngapain eh ngapain lo disini .. hehe eh lo mau minum juga, sini minum sama gue” kata Reza yang sudah kacau dengan alkohol yang diminumnya sambil menyodorkan gelasnya pada Siska
“Za lo gak boleh gini .. Lo itu butuh MOVE ON” kata Siska sambil meletakkan gelas yang disodorkan Reza di meja.
“Heh memangnya lo tau apa? Lo itu gak tau apa-apa soal gue. Sudahlah kalo gak mau minum lo pulang saja”
“Gue tau .. Gue tau. Bahkan sampai dimana perasaan elo ke Cherry juga gue tau ! Ayo kita pulang” katanya sambil menarik tangan Reza keluar dari bar itu.
“Gue gak mau! Lo itu gak tau gue sayang banget sama Cherry. Gue sakit banget liat dia jalan sama marcel, sepupu lo yang brengsek playboy itu!” kata Reza
Tetapi Siska bersikeras menarik tangan Reza untuk keluar dari bar itu. Ketika membalikkan badannya, mereka berpas-pasan dengan Cherry dan Marcel yang juga datang melihat keadaan Reza sekaligus Cherry mau mengajak Reza untuk pulang. Dalam hati Cherry juga sedih melihat keadaan Reza, tapi dia juga kaget mendengar kata-kata Reza tadi. Yah kata-kata tentang perasaanya.
Cherry tak mau lagi berkata langsung mengambil tangan Reza dari pelukan Siska.
“Ayo kita pulang!” kata Cherry sambil sedikit menghapus airmata yang sempat mengalir dipipinya.
“Eh Cherry ..” kata Reza yang sudah mabuk “Lo datang juga .. gue sayang lo, Cherr” Lanjutnya. Tapi penuturannya ini membuat Marcel dan Siska sama-sama merasakan sakit dihatinya.
“Iya gue juga sayang sama elo jadi ayo kita pulang” jawab Cherry sambil meraih tanggan Reza yang juga ikut meraih tangannya Cherry dan mereka keluar dari bar itu dan pulang ke rumahnya Cherry, tempat dimana Reza juga tinggal sesuai permintaan papanya Cherry. Sementara Marcel dan Siksa menatap kepergian mereka berdua dan merasakan sakit dihatinya mendengar kedua insan itu saling berkata mereka saling sayang. Rasanya hancur sudah apa yang hendak diungkapkan Marcel kepada Cherry 3 hari lagi tepatnya tanggal 14 Februari ini. Yah mengungkapkan tentang perasaannya pada Cherry. Perasaan yang sudah dia pendam saat awal berjumpa dengan Cherry, hancur dalam sekejap. Ah perasaan sesakit ini tak pernah ia rasakan. Biasanya cewek-cewek yang mendekatinya yang merasakan perasaan seperti sekarang yang dia rasakan.
Keesokkan harinya, begitu Reza tersadar dari pengaruh alkohol yang dminumnya, dan mulai berusaha mengingat kejadian kemarin malam. Ada rasa senang di wajahnya saat mengingat Cherry mengatakan dia juga menyayanginya. Tapi benarkah ? Pikirnya sendiri. Bukankah dia hanya menganggapnya kakak ? Ah entahlah .. tapi baginya kata-kata Cherry itu membuat dia bahagia. Ketika keluar dari kamarnya ingin menghampiri Cherry, dia hanya terdiam melihat Cherry yang berdiri mematung menatap keluar jendela kamarnya. Di tangannya ada sepucuk surat yang digenggamnya erat.
“Cherr ..” panggil Reza
“Za .. elo, udah sadar, elo .. “
Tersadar airmatanya sempat menitih, dia berusaha
menyembunyikan airmatanya dan matanya yang agak sembab. “Lo .. eh sorry gue
belum nyiapin bubur buat lo. Tunggu sebentar gue suruh bibi nyiapinnya dulu”
katanya sambil berjalan keluar. Tapi belum sempat dia keluar, Reza sudah
menarik tangannya, dan memeluknya.
“Maafin gue” ucap Reza sambil memeluk Cherry yang berusaha melepaskan pelukannya tapi malahan dipeluk semakin erat saja, “Maafin gua, Cher.” Ucapnya lagi
Untuk beberapa saat mereka saling berpelukan. Cherry akhirnya mulai pasrah dalam pelukan Reza yang semakin erat. Reza memeluk semakin erat.
“Za .. gue gak bisa .. bernafas” ucap Cherry pelan dan seperti orang sesak napas. Yah karena pelukan Reza yang semakin erat
“Oh maaf Cherr” kata Reza sambil melepaskan pelukannya.
“Gue bilang bibi dulu biar siapin bubur buat elo. Kan lo masih sakit” kata Cherry. Lalu berjalan meninggalkan ruangan itu, sambil meletakan surat yang dipegangnya.
Reza yang sedaritadi penasaran dengan surat itu langsung mengambil surat itu dan membaca isinya. Surat itu ternyata dari Marcel. Dari surat itu Reza tahu kalau Marcel dan ibunya akan berangkat ke Indonesia, menengok neneknya disana dan bermaksud juga mengunjungi makam alamarhum kakaknya yaitu Gino 2 hari lagi.
“Za .. ini bubur lo udah siap” panggil Cherry dari kejauhan
Dengan cepat-cepat Reza segera meletakkan surat itu kembali pada tempatnya, dan bergegas menemui Cherry untuk makan.
“Cher, lo sayang gue?”
Dengan sedikit ragu, cherry menjawab “Iya”
Tapi Reza tahu dan dia menyadari akan hal itu kalau Cherry hanya kasihan padanya. Dia tahu betul Cherry. Karena selama ini dia menjadi tempat curhat bagi cewek cantik ini.
2 hari kemudian ..
Reza dengan diam-diam menyusun sebuah rencana bersama Siska, mamanya Marcel dan papanya Cherry untuk menyatukan Marcel dan Cherry. Mereka setuju dan saat tiba saatnya Marcel dan mamanya berangkat ke Indonesia, mamanya berpura-pura kalau tiket pesawat sudah tidak tahu dimana meletakkannya. Malahan ibunya mengajaknya jalan-jalan ke dekat Sungai Seine dengan alasan ingin melihat bisnis keluarga mereka di daerah sekitaran situ. Akhirnya marcel menyetujui saja permintaan ibunya.
Ketika tiba di daerah sekitaran sungai Seine, ibunya lalu menyuruhnya untuk duduk menunggunya saja. Marcel mengikuti saja dan duduk di dekat sungai Seine sambil mengingat Cherry. Yah ditempat ini mereka juga sering menghabiskan waktu disini selain di dekat menara Eiffel.
“Hei ..” sapa seseorang yang mengagetkan Marcel dari lamunannya tentang Cherry. Betapa kagetnya dia, melihat sosok cewek dihadapannya.
“Cher .. Cher..ry. Elo ?”
“Iya gue ..”
“Kok?”
Sambil tertawa Cherry mengambil posisi duduk di samping Marcel.
“Gak usah heran begitu. Gue udah tau kok” ujarnya sambil tertawa kecil melihat wajah Marcel yang kebingungan melihatnya
“Udah tau? Maksud lo apa Cher?”
“Haha .. kalo lo suka sama gue. Yah lo sayang sama gue”
Marcel hanya terdiam. Dalam hatinya “ya ampun. Kok dia bisa tau sih? Gue kan..”
“Gue tau dari Siska.” Kata Cherry yang menyadarkan Marcel, “Siska udah ceritain semuanya tentang perasaan lo ke gue”
“Gue ..”
“Lo kok tega Cel .. mau ninggalin Paris dan pergi ke Indonesia. Padahal .. Gue mau ngomong loh sama lo” kata Cherry sambil berdiri ditepi sungai Seine
“Ngomong apaan ?” tanya Marcel sambil berdiri tepat disamping Cherry
“Gue juga suka sama lo” tutur Cherry sambil tersenyum dan tawa kecilnya.
Marcel langsung membalikkan badan mungil Cherry berhadapan dengannya. “Lo serius Cherr? Tapi bagaimana dengan Reza?”
“Bro ..” Panggil Reza dari belakang mereka dan Marcel membalikkan kepalanya keraha suara itu. Dia sangat kaget melihat mamanya, Siska dan juga papanya Cherry sudah berada bersama dengan Reza.
“Reza ? Mama ? Siska ? Oom ?“
“Elo itu kalo cinta sama dia jangan ninggalin dia gitu aja dong ! Mau lo gue hajar ?” kata Reza sambil tertawa
Marcel juga ikut tertawa begitu pula, mamanya, Cherry, papanya Cherry dan Siska. Mereka datang menghampiri kedua insan ini.
“Gue sama Cherry gak ada apa-apa kok.” Tutur Reza, “Memang gue suka sama dia, yah gue kagum saja melihat dia habis wajahnya unyu banget gini” lanjutnya sambil mencubit pipi Cherry dan buat Cherry menjerit kecil, “Tapi gue sadar kok, kalo rasa sayang gue sama dia itu sebagai kakak ke adik. Ini berkat ..” katanya terputus sebentar saat memeluk Siska di sampingnya “Siska, pacar gue dan gue sadar ternyata orang yang mencintai kita itulah yang pantas kita cintai”
“Ha ? Serius lo sama Siska?” tanya Marcel lagi dengan kaget lagi. Entah sudah berapa kali dia kibuat kaget hari ini dengan penuturan orang-orang dihadapannya ini
“Iya .. kenapa lo?” tanya Siska dengan mencibirkan bibirnya “Ayo sana .. ceweknya udah dihadapan lo masih aja diem” ledek Siska , membuat Marcel berdesis meledek balik Siska dan Reza
“Maafin gue” ucap Reza sambil memeluk Cherry yang berusaha melepaskan pelukannya tapi malahan dipeluk semakin erat saja, “Maafin gua, Cher.” Ucapnya lagi
Untuk beberapa saat mereka saling berpelukan. Cherry akhirnya mulai pasrah dalam pelukan Reza yang semakin erat. Reza memeluk semakin erat.
“Za .. gue gak bisa .. bernafas” ucap Cherry pelan dan seperti orang sesak napas. Yah karena pelukan Reza yang semakin erat
“Oh maaf Cherr” kata Reza sambil melepaskan pelukannya.
“Gue bilang bibi dulu biar siapin bubur buat elo. Kan lo masih sakit” kata Cherry. Lalu berjalan meninggalkan ruangan itu, sambil meletakan surat yang dipegangnya.
Reza yang sedaritadi penasaran dengan surat itu langsung mengambil surat itu dan membaca isinya. Surat itu ternyata dari Marcel. Dari surat itu Reza tahu kalau Marcel dan ibunya akan berangkat ke Indonesia, menengok neneknya disana dan bermaksud juga mengunjungi makam alamarhum kakaknya yaitu Gino 2 hari lagi.
“Za .. ini bubur lo udah siap” panggil Cherry dari kejauhan
Dengan cepat-cepat Reza segera meletakkan surat itu kembali pada tempatnya, dan bergegas menemui Cherry untuk makan.
“Cher, lo sayang gue?”
Dengan sedikit ragu, cherry menjawab “Iya”
Tapi Reza tahu dan dia menyadari akan hal itu kalau Cherry hanya kasihan padanya. Dia tahu betul Cherry. Karena selama ini dia menjadi tempat curhat bagi cewek cantik ini.
2 hari kemudian ..
Reza dengan diam-diam menyusun sebuah rencana bersama Siska, mamanya Marcel dan papanya Cherry untuk menyatukan Marcel dan Cherry. Mereka setuju dan saat tiba saatnya Marcel dan mamanya berangkat ke Indonesia, mamanya berpura-pura kalau tiket pesawat sudah tidak tahu dimana meletakkannya. Malahan ibunya mengajaknya jalan-jalan ke dekat Sungai Seine dengan alasan ingin melihat bisnis keluarga mereka di daerah sekitaran situ. Akhirnya marcel menyetujui saja permintaan ibunya.
Ketika tiba di daerah sekitaran sungai Seine, ibunya lalu menyuruhnya untuk duduk menunggunya saja. Marcel mengikuti saja dan duduk di dekat sungai Seine sambil mengingat Cherry. Yah ditempat ini mereka juga sering menghabiskan waktu disini selain di dekat menara Eiffel.
“Hei ..” sapa seseorang yang mengagetkan Marcel dari lamunannya tentang Cherry. Betapa kagetnya dia, melihat sosok cewek dihadapannya.
“Cher .. Cher..ry. Elo ?”
“Iya gue ..”
“Kok?”
Sambil tertawa Cherry mengambil posisi duduk di samping Marcel.
“Gak usah heran begitu. Gue udah tau kok” ujarnya sambil tertawa kecil melihat wajah Marcel yang kebingungan melihatnya
“Udah tau? Maksud lo apa Cher?”
“Haha .. kalo lo suka sama gue. Yah lo sayang sama gue”
Marcel hanya terdiam. Dalam hatinya “ya ampun. Kok dia bisa tau sih? Gue kan..”
“Gue tau dari Siska.” Kata Cherry yang menyadarkan Marcel, “Siska udah ceritain semuanya tentang perasaan lo ke gue”
“Gue ..”
“Lo kok tega Cel .. mau ninggalin Paris dan pergi ke Indonesia. Padahal .. Gue mau ngomong loh sama lo” kata Cherry sambil berdiri ditepi sungai Seine
“Ngomong apaan ?” tanya Marcel sambil berdiri tepat disamping Cherry
“Gue juga suka sama lo” tutur Cherry sambil tersenyum dan tawa kecilnya.
Marcel langsung membalikkan badan mungil Cherry berhadapan dengannya. “Lo serius Cherr? Tapi bagaimana dengan Reza?”
“Bro ..” Panggil Reza dari belakang mereka dan Marcel membalikkan kepalanya keraha suara itu. Dia sangat kaget melihat mamanya, Siska dan juga papanya Cherry sudah berada bersama dengan Reza.
“Reza ? Mama ? Siska ? Oom ?“
“Elo itu kalo cinta sama dia jangan ninggalin dia gitu aja dong ! Mau lo gue hajar ?” kata Reza sambil tertawa
Marcel juga ikut tertawa begitu pula, mamanya, Cherry, papanya Cherry dan Siska. Mereka datang menghampiri kedua insan ini.
“Gue sama Cherry gak ada apa-apa kok.” Tutur Reza, “Memang gue suka sama dia, yah gue kagum saja melihat dia habis wajahnya unyu banget gini” lanjutnya sambil mencubit pipi Cherry dan buat Cherry menjerit kecil, “Tapi gue sadar kok, kalo rasa sayang gue sama dia itu sebagai kakak ke adik. Ini berkat ..” katanya terputus sebentar saat memeluk Siska di sampingnya “Siska, pacar gue dan gue sadar ternyata orang yang mencintai kita itulah yang pantas kita cintai”
“Ha ? Serius lo sama Siska?” tanya Marcel lagi dengan kaget lagi. Entah sudah berapa kali dia kibuat kaget hari ini dengan penuturan orang-orang dihadapannya ini
“Iya .. kenapa lo?” tanya Siska dengan mencibirkan bibirnya “Ayo sana .. ceweknya udah dihadapan lo masih aja diem” ledek Siska , membuat Marcel berdesis meledek balik Siska dan Reza
“Eh oom, tante, kita kayaknya gak harus disini deh .. nanti
malah ini orang gak ngomong-ngomong!” seru Siska sambil berpelukan dengan Reza
“Iya .. ayo kita minum teh saja diatas” ajak mamanya Marcel
“Baiklah” kata mereka semua serentak
“Marcel, jaga anak kesayangan oom ini baik-baik” kata papanya Cherry memperingatkan
“Baik oom”
Setelah mereka pergi tinggal Cherry dan Marcel. Marcel lalu meraih kedua tangannya Cherry.
“Cherr lo serius sayang sama gue?”
“Lo gak percaya?”
“Gak gue percaya. Cuma nanya doing. Karna yang gue tau .. lo itu sayang banget sama kakak gue”
“Yah dia cinta pertama gue. Gue gak bisa bohong sama perasaan gue kalau gue sayang banget sama dia. Dia bawa cinta kami pergi bersamanya. “ kata Cherry sambil menatap kea rah sungai Seine saat yang sama penuturan itu membuat Marcel lagi-lagi sakit mendengarya, “tapi ..” katanya terputus sambil menatap Marcel, “Dia itu masa lalu gue, dan elo .. elo yang akan jadi masa depan gue! Kedengaranya aneh, kalo gue sayang sama dua orang yang wajahnya mirip banget dan mereka adalah kakak beradik. Tapi” belum semat dia melanjutkan kata-katanya, Marcel sudah memeluknya.
“Gue sayang banget sama elo, cher”
“Je t’aime” kata Cherry sambil membalas pelukan Marcel
“Udah pintar bahasa Perancis yah?”
“yee ngeledek lagi” kata Cherry sambil terus berpelukan dengan Marcel menikmati suasana didekat sungai Seine, menikmati senja yang indah pada hari itu.
Yah itulah cerita Cherry dimana menemukan cintanya di Paris. Tak disangka dia jatuh cinta lagi pada sosok cowok yang tak lain adalah kembaran Gino, cowok yang pernah menjadi bagian dalam hidupnya. Sementara Reza dan Siska juga sedang dalam bahagianya, meresmikan hubungan mereka yang baru. Tak disangka juga, penantian Siska yang begitu lama pada Reza akhirnya terbalas.
Akhirnya cerita ini selesai, berakhir dengan bahagia. Mereka menemukan cintanya masing-masing.
TAMAT
Terima kasih kepada mama, papa, ade Jo, Loy, tante Nes, tante Ima, sahabatku Fanny yang sudah memberikan semangat hingga cerita ini boleh terselesaikan.
Terutama, Puji Tuhan dan terima kasih pada-Nya sehingga aku boleh menyelesaikan cerita ini.
Mohon maaf bila ada kata-kata yang salah, atau kurang berkenan. Maklum baru pemula. Hehe :)
“Iya .. ayo kita minum teh saja diatas” ajak mamanya Marcel
“Baiklah” kata mereka semua serentak
“Marcel, jaga anak kesayangan oom ini baik-baik” kata papanya Cherry memperingatkan
“Baik oom”
Setelah mereka pergi tinggal Cherry dan Marcel. Marcel lalu meraih kedua tangannya Cherry.
“Cherr lo serius sayang sama gue?”
“Lo gak percaya?”
“Gak gue percaya. Cuma nanya doing. Karna yang gue tau .. lo itu sayang banget sama kakak gue”
“Yah dia cinta pertama gue. Gue gak bisa bohong sama perasaan gue kalau gue sayang banget sama dia. Dia bawa cinta kami pergi bersamanya. “ kata Cherry sambil menatap kea rah sungai Seine saat yang sama penuturan itu membuat Marcel lagi-lagi sakit mendengarya, “tapi ..” katanya terputus sambil menatap Marcel, “Dia itu masa lalu gue, dan elo .. elo yang akan jadi masa depan gue! Kedengaranya aneh, kalo gue sayang sama dua orang yang wajahnya mirip banget dan mereka adalah kakak beradik. Tapi” belum semat dia melanjutkan kata-katanya, Marcel sudah memeluknya.
“Gue sayang banget sama elo, cher”
“Je t’aime” kata Cherry sambil membalas pelukan Marcel
“Udah pintar bahasa Perancis yah?”
“yee ngeledek lagi” kata Cherry sambil terus berpelukan dengan Marcel menikmati suasana didekat sungai Seine, menikmati senja yang indah pada hari itu.
Yah itulah cerita Cherry dimana menemukan cintanya di Paris. Tak disangka dia jatuh cinta lagi pada sosok cowok yang tak lain adalah kembaran Gino, cowok yang pernah menjadi bagian dalam hidupnya. Sementara Reza dan Siska juga sedang dalam bahagianya, meresmikan hubungan mereka yang baru. Tak disangka juga, penantian Siska yang begitu lama pada Reza akhirnya terbalas.
Akhirnya cerita ini selesai, berakhir dengan bahagia. Mereka menemukan cintanya masing-masing.
TAMAT
Terima kasih kepada mama, papa, ade Jo, Loy, tante Nes, tante Ima, sahabatku Fanny yang sudah memberikan semangat hingga cerita ini boleh terselesaikan.
Terutama, Puji Tuhan dan terima kasih pada-Nya sehingga aku boleh menyelesaikan cerita ini.
Mohon maaf bila ada kata-kata yang salah, atau kurang berkenan. Maklum baru pemula. Hehe :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar