"Kamu masih cinta kan sama dia?" kata Jems sambil menyuduhkan teh digelas untuk sahabatnya yang sejak tadi terdiam kaku terbungkus selimut hangat. Rasanya mulutnya berbusa tak mampu untuk berucap hanya mengingat kejadian yang baru saja dialaminya.
"Sean," panggil Jems sekali lagi yang sontak membangunkan wanita ini dari lamunannnya. "Kamu tadi dengar apa yang kubilang?"
"Nggak." jawab Sean dengan wajah sedih namun tampak kaku. Pikiran dan hatinya benar-benar kacau.
Dengan wajah sedikit kecewa, Jems mengulang pertanyaannya, pertanyaan yang sama. Namun mulut Sean terasa seperti berbusa. Tak mampu dia mengatakannya. Cinta, ya dia memang sangat mencintai pria itu. Tapi benci, ya dia juga membenci pria itu. Pria yang mencium pipi wanita lain dihadapannya yang membuat seketika dunianya benar-benar hancur.
"Aku akan melupakannya.." kata Sean yang tanpa disadari butiran bening pun jatuh dari mata indahnya.
"Sean .." Jems langsung memeluk sahabatnya itu. "Aku tahu, aku tahu. Aku ada disini, aku ada disini. Aku menemanimu. Tenanglah. Aku akan membantu. Tenanglah aku ada disini." katanya seolah mengerti perasaan dan apa yang akan dikatakan Sean. Memang mereka berdua ini sudah berteman sejak kecil. Mereka saling tahu apa yang dirasakan atau yang dipikirkan. Mereka seperti dua jiwa yang punya satu hati dan satu pikiran.Sean membalas pelukan sahabatnya itu dan langsung saja airmatanya semakin mengalir deras keluar dari kedua bola matanya.
"Sean," panggil Jems sekali lagi yang sontak membangunkan wanita ini dari lamunannnya. "Kamu tadi dengar apa yang kubilang?"
"Nggak." jawab Sean dengan wajah sedih namun tampak kaku. Pikiran dan hatinya benar-benar kacau.
Dengan wajah sedikit kecewa, Jems mengulang pertanyaannya, pertanyaan yang sama. Namun mulut Sean terasa seperti berbusa. Tak mampu dia mengatakannya. Cinta, ya dia memang sangat mencintai pria itu. Tapi benci, ya dia juga membenci pria itu. Pria yang mencium pipi wanita lain dihadapannya yang membuat seketika dunianya benar-benar hancur.
"Aku akan melupakannya.." kata Sean yang tanpa disadari butiran bening pun jatuh dari mata indahnya.
"Sean .." Jems langsung memeluk sahabatnya itu. "Aku tahu, aku tahu. Aku ada disini, aku ada disini. Aku menemanimu. Tenanglah. Aku akan membantu. Tenanglah aku ada disini." katanya seolah mengerti perasaan dan apa yang akan dikatakan Sean. Memang mereka berdua ini sudah berteman sejak kecil. Mereka saling tahu apa yang dirasakan atau yang dipikirkan. Mereka seperti dua jiwa yang punya satu hati dan satu pikiran.Sean membalas pelukan sahabatnya itu dan langsung saja airmatanya semakin mengalir deras keluar dari kedua bola matanya.
Hujan yang turun diluar pun dengan derasnya turun membasahi bumi seolah mengerti perasaan yang dirasakan Sean.
Keesokan paginya, Sean bangun dari tempat tidurnya menyadari sahabatnya telah pulang kembali ke rumahnya. Dengan mata yang masih membengkak akibat tangisannya semalam, dia mencoba bangun mendapati handphone yang dibiarkan saja terletak dimeja riasnya.
Wajah sedih kembali menghiasi wajahnya dengan mata berkaca-kaca dengan perasaan yang berkecamuk dihatinya mendapati berpuluh sms dan telpon yang berasal dari pria itu. Kesal, kecewa, ingin marah, ingin rasanya memukul pria ini, lalu melupakannya namun dia tak sanggup. Hatinya masih sepenuhnya milik pria itu.
Tak lama setelah membaca beberapa sms yang berasal dari pria itu, bunyi telpon masuk dari pria itu lagi untuk kesekian kalinya.
"Halo Sean. Sayang, aku .. aku minta maaf. Maafkan aku. Aku khilaf. Aku bodoh. Maafkan aku. Tolong sayang, aku mencintaimu. Aku minta maaf sayang. Aku bodoh" kata pria itu dengan nada suara yang lembut menunjukan penyesalannya. Dalam hati Sean ingin sekali memaafkan pria ini, pria yang dicintainya, namun luka dihatinya begitu dalam. "Sean .. Aku tahu kamu marah, aku tahu kamu kecewa. Pukuli aku saja. Aku tahu aku salah! Aku begitu bodoh menyia-nyiakan wanita yang mencintaiku dan aku sadari aku sangat mencintainya. Aku khilaf, maafkan aku."
"Sudahlah Ramon. Aku nggak apa-apa. Hanya saja, tolong pergilah. Pergi jauh dari hidupku! Aku tak mau lagi melihatmu. Aku tak mau lagi harus mengulang semua yang dulu. Aku sakit. Aku ingin melupakanmu. Sebaiknya kita berteman saja dan melupakan semua yang dulu pernah kita lewati bersama" kata Sean berpura-pura bersikap tidak ada masalah dengan situasi ini. Berpura-pura bersikap menerima padahal kenyataannya hatinya begitu terluka. "Pergi jauhlah dari hidupku dan bersama dia aku rasa kalian cocok. Sama-sama munafik!" dengan nada yang sedikit ditinggakan.
"Apa? Tuhan .. Sean! Benarkah? Kamu ingin melupakanku? Kamu ingin menyudahi semua kenangan kita ini?" tanya Ramon dengan nada suara yang semakin redup. Diseberang sanapun pria ini menangis. Melepaskan? Apa dia harus melepaskan wanita yang dia cintai ini? Tidak, hatinya tak ingin melepaskannya. "Sean, demi Tuhan! Jangan katakan itu. Aku mencintaimu. Tolong jangan seperti ini. Tolong jangan sudahi kisah ini. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Tak mau! Aku benar-benar tak ingin kita berpisah. Jangan katakan itu karena aku tetap tak bisa, aku tak mau!" suara itu mulai terdengar jelas malahan lebih jelas dari sebelumnya.
"Ramon, aku .."
"Tidak! Jangan katakan apapun. Jangan katakan kamu ingin melupakanku atau menyudahi hubungan ini. Sean aku benar-benar mencintaimu. Sungguh aku tak ingin bila kita harus berpisah. Aku dan Bebi adalah suatu kesalahan. Aku khilaf hingga aku menciumnya."
"Ya .. aku mengerti. Tolong berikan aku waktu untuk berpikir, setidaknya untuk melupakan kesalahanmu hari ini."
Lama sekali Ramon terdiam dan beberapa saat kemudian barulah dia menjawab dengan sedikit nada suara yang lagi-lagi redup "Baiklah , aku mengerti. Tapi akan ku buktikan padamu, aku akan memperbaiki semuanya. Semua kesalahanku akan kuperbaiki dan aku akan tunjukan itu padamu."
Tanpa menjawab kata-kata pria itu, dia menutup telponnya karena takut Ramon mendengar dia menangisi semua kenangan mereka dan kata-kata yang baru saja didengarnya dari mulut Ramon. Mungkinkah itu? Mungkinkah hatinya bisa memaafkan pria yang telah menyakiti hatinya itu?
Ting .. Tong ! Ting .. Tong !
Bel apartemen miliknya pun berbunyi. Sambil menghapus airmatanya dia langsung saja membuka pintu bagi tamu yang sejak tadi membunyikan bel apartemen miliknya ini.
"Ta-Da!" kata sosok pria yang datang ini sambil memberikan seikat bunga mawar merah, putih, kuning sambil menghalangi wajahnya dari pandangan Sean.
"Jems?" tebak Sean yang memang sudah tahu bahwa sosok ini adalah Jems, sahabatnya dari nada suaranya memang adalah Jems.
Jems yang sudah ketahuan menyapa Sean lagi sambil tertawa kecil "wah-wah ternyata kamu ngenalin aku ya.. sia-sia dong aku dandan badut begini sambil membawa bunga" Kata-kata ini membuat Sean menyadari bahwa sahabatnya ini memang memakai baju seorang badut dengan make-up badutnya.
Sean lalu mulai tertawa kecil melihat tingkah sahabatnya ini.
"Aku nggak nyangka Jems kamu punya bakat jadi badut." katanya sambil berjalan memasuki ruang tamu apartemennya dan diikuti Jems dari belakang.
"Huh! Aku make ginian buat kamu tahu!" Sungut Jems
Sean hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil duduk di meja makannya yang terletak bersebelahan dengan ruang tamu lalu menuangkan jus yang baru diambilnya dari dalam kulkas.
"Aku cantik kan?" Tanya Jems sambil menyodorkan seikat bunga mawar yang sedaritadi belum diambil dari tangannya.
"Iya deh, kamu cantik." jawab Sean mengiyakan dan mengambil seikat bunga dari tangan sahabatnya itu, sambil mencicipi jus dan roti diatas meja.
Jems dengan sifatnya yang sangat suka mengganggu Sean, menaruh pikiran iseng dalam otaknya untuk merebut roti yang hendak dimakan Sean dan hap!
"JEMS !" teriak Sean saking jengkel dengan sikap iseng Jems, "Balikin itu punya ku!" Sungut Sean sambil berusaha merebut roti itu. Jems berlari memutari meja makan membuat Sean juga harus berlari mendapatkannnya. Sebenarnya dia bisa saja mengambil roti yang lain dan memakannya tapi hanya satu-satunya roti yang di pegang Jems yang dia sukai karena lezat rasanya dibandingkan roti yang lain.
Tiba-tiba tanpa sengaja kaki Jems terpeleset kaki kursi meja makan dan sontak membuat kursi bergeser dari tempatnya dan Sean pun ikut jatuh tertubruk dengan tubuh kekar Jems yang saat itu sudah berbalik berhadapan dengan arah datangnya Sean. "aaaargh!" keduanya sama-sama bersuara dan jatuh terlentang dilantai dengan posisi Sean menindih tubuh Jems. Lama sekali mereka saling menatap dalam posisi tetap masih seperti tadi saat jatuh. Tanpa ada kata terucap, tanpa ada kedipan mata dari dua insan manusia ini. Sean yang baru tersadar segera merebut kembali roti ditangan Jems yang terlentang kaku di lantai.
"Nah! Dapat!" Sean lalu bangkit dari jatuhnya dan kembali mengambil posisi duduk di kursi yang tadi didudukinya dan diikuti dengan bangkitnya Jems yang tadi setelah Sean mengambil rotinya di tangan pria ini masih kaku tanpa ada satupun kata terucap dari bibirnya. Yah setidaknya perasaan itu perasaan itu berbeda dengan sebelumnya. Perasaan apa ini ? Tanyanya dalam hati.
"Hei !"sapa Sean sambil tersenyum kecil dibelahan bibirnya. "Ambil ini, makanlah." sambungnya sambil menyodorkan sepiring roti berbagai macam rasa. Jems yang tersadar dia sedang memikirkan hal yang bukan-bukan akhirnya hanya mampu manggut-manggut tanda mengiyakan kata-kata Sean dengan mengambil salah satu roti tersebut. Sean yang tidak menyadari sedaritadi kedua bola mata pria yang duduk bersebelahan dengannya sedang mengamati wajahnya dalam-dalam walau hanya sebatas lirikan-lirikan kecil, terus saja memakan roti kesukaannya lalu mengambil gelas yang lain dan menuangkan jus yang sama kepada Jems. Dalam hati Jems merasakan debaran yang semakin cepat dan cepatnya sehingga dia kesulitan untuk bernafas bahkan berbicara seperti biasanya dia selalu berbicara banyak hal dengan Sean, tapi kali ini mulutnya terasa kaku. Oh entahlah, Jems hanya bisa melenguh pelan. "Kenapa?" tanya Sean yang baru menyadari wajahnya dipandangi, "Kok kamu lihatin aku gitu?" tanyanya lagi dengan kening sebelah terangkat tanda dia tak mengerti dengan raut wajah yang Jems tunjukan.
"Nggak .. gue nggak apa-apa kok!" kata Jems menyangkalnya, "Aku .." Baru saja dia akan melanjutkan kata-katanya tiba-tiba bunyi bel pintu apartemen milik Sean berbunyi.
"Siapa lagi sih? Masih pagi juga .." sungut Seaan sambil berjalan meninggalkan meja makan dan rotinya yang tinggal beberapa gigitan lagi habis dimakan dan membukakan pintu apartemennya. "Siapa?" Tanyanya sambil membuka pintu, "Aku .." Belum sempat dia melanjutkan, kata-katanya terasa berhenti melihat siapa yang datang ini. Ramon ! ya Ramon .. pria yang dicintainya, namun sekarang ingin dilupakannya. "Kamu?"
"Ya aku," jawab Ramon sambil memasuki apartemen milik Sean, yang berdiri kaku tak mampu mencegah atau bahkan menyuruhnya keluar dari apartemennya ini.
Ramon tiba-tiba berhenti saat memasuki ruang tamu melihat Jems yang sudah melepaskan rambut badut yang sejak tadi dipakainya. Ramon hanya tersenyum sinis melihat Jems. Tanpa berbicara dia terus saja memasuki ruang tamu Sean dan menduduki kursi tamu yang terletak diruangan itu.
"Sedang apa kamu disini?" tanya Jems dengan agak marah
"Kursinya sudah diganti baru ya?" Ramon mengajukan pertanyaan lain pada Jems
"Aku tanya sedang apa kamu disini?" tanya Jems dengan ketus!
"Jems .." panggil Sean, "Aku ingin berbicara dengan Ramon"sambungnya
"Apa?!" tanya Jems seolah tak percaya apa yang baru saja didengarnya ini. "Apa? bicara? dengan dia? kamu dan dia?" tanya sekali lagi dengan nada suara yang semakin tinggi. Sean hanya manggut-manggut. "Baiklah. Aku mengerti, aku mengerti. Baiklah .. Silahkan" sambungnya lagi dengan kekesalan yang dirasakannya sambil menuju kamar kecil untuk membersihkan wajahnya dan melepas asesoris badut yang dipakainya.
Sementara Ramon dan Sean hanya duduk terdiam lama. Ramon terus saja memandangi wajah Sean yang saat itu menyembunyikan wajahnya dengan uraian rambutnya. Sebenarnya menyembunyikan matanya yang saat itu berkaca-kaca tak mampu harus berkata apa.
Beberapa saat kemudian, Jems keluar dari kamar kecil sambil mengambil jaket miliknya dan berjalan keluar. "Aku ingin membeli minuman dingin sebentar diluar. Rasanya ruangan ini panas banget!" kata Jems masih kesal-kesalnya.
"Baiklah" kata Sean
Setelah Jems keluar dari apartemen Sean. Ramon dan Sean mulai bebicara menyelesaikan masalah mereka. Ramon dengan sikap yang sama dengan yang beberapa jam lalu di telpon tetap melakukan hal yang sama mempertahankan Sean. Namun Sean bersikukuh hatinya sudah tak sanggup harus disakiti terus dan menerus oleh pria yang sama.
"Sudahlah Ramon, kita sudah berakhir. Aku ingin kita berakhir. Kamu lebih pantas bersama dengan Bebi. Kalian dua cocok. Dia lebih pantas mendampingimu" kata Sean yang sudah berdiri dari duduknya dan berjalan kearah jendela besar yang dari jendela itu bisa melihat seluruh pemandangan kota Paris karena apartemen miliknya tepat berada di tengah kota dan dekat dengan Menara Eiffel yang menjadi tujuh keajaiban dunia itu. dan diikuti oleh Ramon.
"Aku tak mau! Aku tak mau! Kita mulai semuanya dari awal lagi Sean, please. Aku sangat mencintaimu. Apapun yang kamu mau, akan aku turuti asalkan kamu kembali padaku. Kita jadian lagi" pinta Ramon sambil memeluk Sean dari belakang. Perdebatan kecil terus berlangsung antara kedua insan ini.
"Ramon!" panggil suara seorang wanita dengan kasarnya. Saat mereka berdua berbalik, betapa kagetnya Ramon melihat sosok wanita yang sudah berada didalam apartemen Sean.
"Bebi .. Bebi?" Tanya Ramon dengan terbata-bata pada sosok wanita yang ternyata adalah Bebi. Yah wanita inilah yang dicium Ramon didepan rumahnya Ramon, didepan mata Sean dan wanita ini juga adalah sahabat terdekat dari Sean.
"Iya aku. Kenapa? Kamu takut?" tanya Bebi dengan garangnya! "Sean aku mau bicara denganmu" kata Bebi pada Sean yang sudah menghampiri mereka berdua sambil menarik tangan Sean dengan paksa dan kasar keluar dari apartemennya dan melepaskan tangannya di koridor depan kamar 156 itu. Tak disangka dikoridor itu ada beberapa teman Bebi yang juga ikut datang.
"Heh ! Kalau kamu masih punya otak, jauhi Ramon. Jangan pernah sekali-kali mengundang Ramon datang di apartemenmu ini." kata Bebi karena merasa kata-katanya tak digubris Sean, Bebi yang sudah terbakar api cemburu langsung hendak mengayunkan telapak tangannya utuk menampar pipi Sean
"Bebi, jangan keterlaluan kamu!" bentak Ramon sambil menahan ayunan tangan Bebi
"Apa? Aku? Kalian memang dasar" sungut Bebi, "aiiiiish! Dasar wanita jalang!"
"Oh jadi seperti ini nih wanita jalang yang kamu maksud Beb?" tanya salah seorang temannya Bebi, dengan sinisnya mereka, mereka berlima mengambil masing-masing telur busuk diwajah Sean. BERUNTUNG! Telur-telur itu belum sempat mengenai wajah Sean, Jems yang sedaritadi memperhatikan mereka saat kembali membeli minuman dingin, langsung saja berlari secepat mungkin, memeluk Sean dalam dekapan dada bidangnya yang kekar sehingga membuat Sean yang agak pendekkan dari dia terhalang oleh amukan telur busuk yang hampir saja mengotori wajah Sean atau bahkan seluruh tubuh Sean dan hal itu disaksikan oleh penghuni apartemen lain yang bersebelahan dengan 156 milik Sean.
"Bebi !!" teriak Ramon.
"Upz, maafkan aku." Sambil tertawa Bebi dan teman-temannya berjalan meninggalkan mereka bertiga.
"Kamu ngak apa-apa?" Tanya Jems sambil tampak senyuman hangat kecil dibelahan bibirnya. Sean hanya mampu mengangguk karena butiran bening itu lagi-lagi menghiasi dua bola matanya, tetap dalam dekapan Jems.
"Sean," panggil Ramon "Kamu baik-baik sajakah?" tanya Ramon mengulang pertanyaan Jems.
Sean lalu melepaskan dekapan dari Jems, dan memandang Ramon dengan mata yang berkaca-kaca akibat airmata yang baru saja mengaliri pipinya. Ramon yang merasakan hal itu, terdiam sebentar melihat airmata Sean. Jantungnya saat itu terasa berhenti melihat tatapan duka dikedua bola mata wanita yang dicintainya ini. "Sean, aku .." kata Ramon terhenti saat tangan yang coba meraih bahu Sean ini dicegah oleh Jems.
Kedua laki-laki ini saling bertatap. Masing-masing menyimpan rasa pada wanita yang sama. Masing-masing saling menatap seolah ingin bertengkar. Bara api seperti tampak pada dua pasang mata pria-pria itu.
"Aku takan biarkan kamu menyakiti Sean lagi." kata Jems menegaskan ucapan dibibirnya sambil melepaskan tangan Ramon.
"Maksudmu?" tanya Ramon, "Aku menyakiti Sean?" sambil tertawa sinis pada Jems, "Aku mencintai dia, mana mungkin aku menyakitinya? Oh aku tahu aku pernah khilaf tapi aku mencintai dia dan akan memperbaiki semuanya. Sean juga masih mencintaiku" sambung Ramon meyakinkan dirinya sendiri bahwa Sean masih mencintainya.
Perdebatan antara Ramon dan Jems semakin memanas. Saking memanasnya, mereka tidak menyadari bahwa Sean sudah menitihkan airmata dengan berdiri mematung tanpa mengucapkan satu katapun dari bibirnya.
"CUKUP!" teriak Sean menghentikan perdebatan dua pria ini dan mereka berdua baru menyadari bahwa Sean sudah menitihkan airmata sejak tadi. Keduanya sama-sama merasakan hal yang sama yaitu gelisah melihat wanita yang sama-sama dicintainya menangis. "Tolong pergi .. Aku sudah tak ingin lagi .. Aku sudah lelah .. Tolong pergi .. " kata-kata ini diucapkan Sean berulang-ulang dengan nada suara bergemetaran. Karena dia sudah tidak tahu lagi apa yang harus dikatakannya. Hatinya benar-benar terluka.
"Sean aku minta maaf" kata Ramon pelan sambil meraih kedua bahu milik wanita ini, yang langsung dihindari wanita ini dengan mundur beberapa langkah kebelakang
"Cukup! Aku capek Ramon .. Tolong pergi. Aku sudah tak bisa lagi bersamamu" kata itu diucapkan lagi oleh Sean, hatinya terasa benar-benar sakit saat mengatakan hal itu. Kata-kata yag berat baginya. Yah berat untuk melepaskan satu-satunya pria yang sejak dulu dicintainya. "Jems, bawa aku kedalam. Tolong, aku ingin istirahat" pintanya pada Jems dan Jems meraih bahunya, mendekapnya dan membawanya masuk kedalam apartemen miliknya itu meninggalkan Ramon yang masih berdiri mematung melihat kepergian wanita yang dicintainya itu bersama dengan pria lain. Pintu apartemen pula seakan-akan itu adalah pintu hatinya Sean yang lama-lama semakin menutup menghalanginya untuk bisa masuk kedalam mendapatkan wanita yang dulu mencintainya dan dicintainya itu.
Malam itu hujan deras, Ramon terus berjalan menyisiri jalanan kota Paris sejak pagi saat dia pulang dari apartemen milik Sean.
"Sekarang aku tahu, kalau melihat dia yang kita cintai menangis itu rasanya sakit. Apalagi saat airmatanya bukan kita yang menghapusnya, tapi pria lain. Rasanya lebih sakit. Jantung juga ikut berhenti tak lagi ingin rasanya untuk bernafas kalau dia sudah tak lagi bersama kita" katanya dalam hati, menyesali tingkah lakunya, keikhlafannya dia menyakiti hati wanita yang benar-benar dicintainya dan wanita itu sudah tak ingin lagi bersamanya.
Dia terus berjalan tak tahu lagi harus kemana. Dia benar-benar sendiri sekarang. Kehilangan wanita yang adalah segalanya bagi dirinya. Ini kesalahannya dan dia menyadari hal itu. Namun yang lebih menyakitkan melihat wanita itu bersama dengan pria lain saat itu dia ingin mengakhiri saja hidupnya. Karena hidupnya sudah benar-benar mati tanpa Sean.
Beberapa tahun kemudian ..
Di pelataran Menara Eiffel, Sean duduk sendiri menatap orang-orang disekelilingnya yang sedang asyik dengan kesibukannya sendiri. Dia duduk sendiri melihat sekelilingnya mencari-cari seseorang. "sss" desis Sean saat kedua matanya ditutup dengan sebuah tangan besar. Yah tangan seorang pria. Sambil tersenyum, "Jems," panggil Sean pada sosok pria yang menutupi matanya itu
Jems lalu melepaskan tangannya dari kedua mata Sean dan memberinya seikat mawar putih dan beberapa balon warna-warni berbentuk hati digenggamannya, lalu mengecup dahi Sean saat dia menerima mawar dan balon itu dari Jems.
"Aku mencintaimu" kata Jems sambil membelai rambut panjang wanita dihadapannya ini.
"Aku juga mencintaimu" kata Sean
"Kamu suka?" tanya Jems sambil duduk disamping Sean. Sean hanya manggut-manggut sambil tersenyum membalas tatapan Jems padanya.
"Aku mencintaimu" kata Sean sekali lagi, membuat Jems memeluknya begitu hangat pelukan itu. Pelukan yang didambakan Jems sejak dulu, dan ini terasa seperti mimpi wanita ini sudah menjadi istrinya.
"Terima kasih" kata Jems sambil mengecup kepala Sean yang ditutupi rambut ini.
Sean membalasnya dekan mendekap Jems semakin erat, semakin larut dalam kebahagiaan, semakin terhanyut dalam perasaan membuat kedua bibir ini saling bertemu, saling memberikan kecupan-kecupan lembut membuat balon yang tadi genggam tangan Sean terlepas ke langit, terbawa oleh angin, menerbangkan cinta mereka setinggi-tingginya, cinta yang Jems berikan padanya yang sanggup mengobati luka dihatinya sejak saat itu ..
Terima kasih sudah hadir dihidupku, memberikan sejuta kasih sayang padaku, kasih yang selalu mengobati luka dihatiku, kasih yang selalu mencintaiku tanpa memberikan sekeping luka dihatiku, gumam Sean dalam hatinya. Yah dan menara ini menjadi saksi cinta mereka.
TAMAT
Wajah sedih kembali menghiasi wajahnya dengan mata berkaca-kaca dengan perasaan yang berkecamuk dihatinya mendapati berpuluh sms dan telpon yang berasal dari pria itu. Kesal, kecewa, ingin marah, ingin rasanya memukul pria ini, lalu melupakannya namun dia tak sanggup. Hatinya masih sepenuhnya milik pria itu.
Tak lama setelah membaca beberapa sms yang berasal dari pria itu, bunyi telpon masuk dari pria itu lagi untuk kesekian kalinya.
"Halo Sean. Sayang, aku .. aku minta maaf. Maafkan aku. Aku khilaf. Aku bodoh. Maafkan aku. Tolong sayang, aku mencintaimu. Aku minta maaf sayang. Aku bodoh" kata pria itu dengan nada suara yang lembut menunjukan penyesalannya. Dalam hati Sean ingin sekali memaafkan pria ini, pria yang dicintainya, namun luka dihatinya begitu dalam. "Sean .. Aku tahu kamu marah, aku tahu kamu kecewa. Pukuli aku saja. Aku tahu aku salah! Aku begitu bodoh menyia-nyiakan wanita yang mencintaiku dan aku sadari aku sangat mencintainya. Aku khilaf, maafkan aku."
"Sudahlah Ramon. Aku nggak apa-apa. Hanya saja, tolong pergilah. Pergi jauh dari hidupku! Aku tak mau lagi melihatmu. Aku tak mau lagi harus mengulang semua yang dulu. Aku sakit. Aku ingin melupakanmu. Sebaiknya kita berteman saja dan melupakan semua yang dulu pernah kita lewati bersama" kata Sean berpura-pura bersikap tidak ada masalah dengan situasi ini. Berpura-pura bersikap menerima padahal kenyataannya hatinya begitu terluka. "Pergi jauhlah dari hidupku dan bersama dia aku rasa kalian cocok. Sama-sama munafik!" dengan nada yang sedikit ditinggakan.
"Apa? Tuhan .. Sean! Benarkah? Kamu ingin melupakanku? Kamu ingin menyudahi semua kenangan kita ini?" tanya Ramon dengan nada suara yang semakin redup. Diseberang sanapun pria ini menangis. Melepaskan? Apa dia harus melepaskan wanita yang dia cintai ini? Tidak, hatinya tak ingin melepaskannya. "Sean, demi Tuhan! Jangan katakan itu. Aku mencintaimu. Tolong jangan seperti ini. Tolong jangan sudahi kisah ini. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Tak mau! Aku benar-benar tak ingin kita berpisah. Jangan katakan itu karena aku tetap tak bisa, aku tak mau!" suara itu mulai terdengar jelas malahan lebih jelas dari sebelumnya.
"Ramon, aku .."
"Tidak! Jangan katakan apapun. Jangan katakan kamu ingin melupakanku atau menyudahi hubungan ini. Sean aku benar-benar mencintaimu. Sungguh aku tak ingin bila kita harus berpisah. Aku dan Bebi adalah suatu kesalahan. Aku khilaf hingga aku menciumnya."
"Ya .. aku mengerti. Tolong berikan aku waktu untuk berpikir, setidaknya untuk melupakan kesalahanmu hari ini."
Lama sekali Ramon terdiam dan beberapa saat kemudian barulah dia menjawab dengan sedikit nada suara yang lagi-lagi redup "Baiklah , aku mengerti. Tapi akan ku buktikan padamu, aku akan memperbaiki semuanya. Semua kesalahanku akan kuperbaiki dan aku akan tunjukan itu padamu."
Tanpa menjawab kata-kata pria itu, dia menutup telponnya karena takut Ramon mendengar dia menangisi semua kenangan mereka dan kata-kata yang baru saja didengarnya dari mulut Ramon. Mungkinkah itu? Mungkinkah hatinya bisa memaafkan pria yang telah menyakiti hatinya itu?
Ting .. Tong ! Ting .. Tong !
Bel apartemen miliknya pun berbunyi. Sambil menghapus airmatanya dia langsung saja membuka pintu bagi tamu yang sejak tadi membunyikan bel apartemen miliknya ini.
"Ta-Da!" kata sosok pria yang datang ini sambil memberikan seikat bunga mawar merah, putih, kuning sambil menghalangi wajahnya dari pandangan Sean.
"Jems?" tebak Sean yang memang sudah tahu bahwa sosok ini adalah Jems, sahabatnya dari nada suaranya memang adalah Jems.
Jems yang sudah ketahuan menyapa Sean lagi sambil tertawa kecil "wah-wah ternyata kamu ngenalin aku ya.. sia-sia dong aku dandan badut begini sambil membawa bunga" Kata-kata ini membuat Sean menyadari bahwa sahabatnya ini memang memakai baju seorang badut dengan make-up badutnya.
Sean lalu mulai tertawa kecil melihat tingkah sahabatnya ini.
"Aku nggak nyangka Jems kamu punya bakat jadi badut." katanya sambil berjalan memasuki ruang tamu apartemennya dan diikuti Jems dari belakang.
"Huh! Aku make ginian buat kamu tahu!" Sungut Jems
Sean hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil duduk di meja makannya yang terletak bersebelahan dengan ruang tamu lalu menuangkan jus yang baru diambilnya dari dalam kulkas.
"Aku cantik kan?" Tanya Jems sambil menyodorkan seikat bunga mawar yang sedaritadi belum diambil dari tangannya.
"Iya deh, kamu cantik." jawab Sean mengiyakan dan mengambil seikat bunga dari tangan sahabatnya itu, sambil mencicipi jus dan roti diatas meja.
Jems dengan sifatnya yang sangat suka mengganggu Sean, menaruh pikiran iseng dalam otaknya untuk merebut roti yang hendak dimakan Sean dan hap!
"JEMS !" teriak Sean saking jengkel dengan sikap iseng Jems, "Balikin itu punya ku!" Sungut Sean sambil berusaha merebut roti itu. Jems berlari memutari meja makan membuat Sean juga harus berlari mendapatkannnya. Sebenarnya dia bisa saja mengambil roti yang lain dan memakannya tapi hanya satu-satunya roti yang di pegang Jems yang dia sukai karena lezat rasanya dibandingkan roti yang lain.
Tiba-tiba tanpa sengaja kaki Jems terpeleset kaki kursi meja makan dan sontak membuat kursi bergeser dari tempatnya dan Sean pun ikut jatuh tertubruk dengan tubuh kekar Jems yang saat itu sudah berbalik berhadapan dengan arah datangnya Sean. "aaaargh!" keduanya sama-sama bersuara dan jatuh terlentang dilantai dengan posisi Sean menindih tubuh Jems. Lama sekali mereka saling menatap dalam posisi tetap masih seperti tadi saat jatuh. Tanpa ada kata terucap, tanpa ada kedipan mata dari dua insan manusia ini. Sean yang baru tersadar segera merebut kembali roti ditangan Jems yang terlentang kaku di lantai.
"Nah! Dapat!" Sean lalu bangkit dari jatuhnya dan kembali mengambil posisi duduk di kursi yang tadi didudukinya dan diikuti dengan bangkitnya Jems yang tadi setelah Sean mengambil rotinya di tangan pria ini masih kaku tanpa ada satupun kata terucap dari bibirnya. Yah setidaknya perasaan itu perasaan itu berbeda dengan sebelumnya. Perasaan apa ini ? Tanyanya dalam hati.
"Hei !"sapa Sean sambil tersenyum kecil dibelahan bibirnya. "Ambil ini, makanlah." sambungnya sambil menyodorkan sepiring roti berbagai macam rasa. Jems yang tersadar dia sedang memikirkan hal yang bukan-bukan akhirnya hanya mampu manggut-manggut tanda mengiyakan kata-kata Sean dengan mengambil salah satu roti tersebut. Sean yang tidak menyadari sedaritadi kedua bola mata pria yang duduk bersebelahan dengannya sedang mengamati wajahnya dalam-dalam walau hanya sebatas lirikan-lirikan kecil, terus saja memakan roti kesukaannya lalu mengambil gelas yang lain dan menuangkan jus yang sama kepada Jems. Dalam hati Jems merasakan debaran yang semakin cepat dan cepatnya sehingga dia kesulitan untuk bernafas bahkan berbicara seperti biasanya dia selalu berbicara banyak hal dengan Sean, tapi kali ini mulutnya terasa kaku. Oh entahlah, Jems hanya bisa melenguh pelan. "Kenapa?" tanya Sean yang baru menyadari wajahnya dipandangi, "Kok kamu lihatin aku gitu?" tanyanya lagi dengan kening sebelah terangkat tanda dia tak mengerti dengan raut wajah yang Jems tunjukan.
"Nggak .. gue nggak apa-apa kok!" kata Jems menyangkalnya, "Aku .." Baru saja dia akan melanjutkan kata-katanya tiba-tiba bunyi bel pintu apartemen milik Sean berbunyi.
"Siapa lagi sih? Masih pagi juga .." sungut Seaan sambil berjalan meninggalkan meja makan dan rotinya yang tinggal beberapa gigitan lagi habis dimakan dan membukakan pintu apartemennya. "Siapa?" Tanyanya sambil membuka pintu, "Aku .." Belum sempat dia melanjutkan, kata-katanya terasa berhenti melihat siapa yang datang ini. Ramon ! ya Ramon .. pria yang dicintainya, namun sekarang ingin dilupakannya. "Kamu?"
"Ya aku," jawab Ramon sambil memasuki apartemen milik Sean, yang berdiri kaku tak mampu mencegah atau bahkan menyuruhnya keluar dari apartemennya ini.
Ramon tiba-tiba berhenti saat memasuki ruang tamu melihat Jems yang sudah melepaskan rambut badut yang sejak tadi dipakainya. Ramon hanya tersenyum sinis melihat Jems. Tanpa berbicara dia terus saja memasuki ruang tamu Sean dan menduduki kursi tamu yang terletak diruangan itu.
"Sedang apa kamu disini?" tanya Jems dengan agak marah
"Kursinya sudah diganti baru ya?" Ramon mengajukan pertanyaan lain pada Jems
"Aku tanya sedang apa kamu disini?" tanya Jems dengan ketus!
"Jems .." panggil Sean, "Aku ingin berbicara dengan Ramon"sambungnya
"Apa?!" tanya Jems seolah tak percaya apa yang baru saja didengarnya ini. "Apa? bicara? dengan dia? kamu dan dia?" tanya sekali lagi dengan nada suara yang semakin tinggi. Sean hanya manggut-manggut. "Baiklah. Aku mengerti, aku mengerti. Baiklah .. Silahkan" sambungnya lagi dengan kekesalan yang dirasakannya sambil menuju kamar kecil untuk membersihkan wajahnya dan melepas asesoris badut yang dipakainya.
Sementara Ramon dan Sean hanya duduk terdiam lama. Ramon terus saja memandangi wajah Sean yang saat itu menyembunyikan wajahnya dengan uraian rambutnya. Sebenarnya menyembunyikan matanya yang saat itu berkaca-kaca tak mampu harus berkata apa.
Beberapa saat kemudian, Jems keluar dari kamar kecil sambil mengambil jaket miliknya dan berjalan keluar. "Aku ingin membeli minuman dingin sebentar diluar. Rasanya ruangan ini panas banget!" kata Jems masih kesal-kesalnya.
"Baiklah" kata Sean
Setelah Jems keluar dari apartemen Sean. Ramon dan Sean mulai bebicara menyelesaikan masalah mereka. Ramon dengan sikap yang sama dengan yang beberapa jam lalu di telpon tetap melakukan hal yang sama mempertahankan Sean. Namun Sean bersikukuh hatinya sudah tak sanggup harus disakiti terus dan menerus oleh pria yang sama.
"Sudahlah Ramon, kita sudah berakhir. Aku ingin kita berakhir. Kamu lebih pantas bersama dengan Bebi. Kalian dua cocok. Dia lebih pantas mendampingimu" kata Sean yang sudah berdiri dari duduknya dan berjalan kearah jendela besar yang dari jendela itu bisa melihat seluruh pemandangan kota Paris karena apartemen miliknya tepat berada di tengah kota dan dekat dengan Menara Eiffel yang menjadi tujuh keajaiban dunia itu. dan diikuti oleh Ramon.
"Aku tak mau! Aku tak mau! Kita mulai semuanya dari awal lagi Sean, please. Aku sangat mencintaimu. Apapun yang kamu mau, akan aku turuti asalkan kamu kembali padaku. Kita jadian lagi" pinta Ramon sambil memeluk Sean dari belakang. Perdebatan kecil terus berlangsung antara kedua insan ini.
"Ramon!" panggil suara seorang wanita dengan kasarnya. Saat mereka berdua berbalik, betapa kagetnya Ramon melihat sosok wanita yang sudah berada didalam apartemen Sean.
"Bebi .. Bebi?" Tanya Ramon dengan terbata-bata pada sosok wanita yang ternyata adalah Bebi. Yah wanita inilah yang dicium Ramon didepan rumahnya Ramon, didepan mata Sean dan wanita ini juga adalah sahabat terdekat dari Sean.
"Iya aku. Kenapa? Kamu takut?" tanya Bebi dengan garangnya! "Sean aku mau bicara denganmu" kata Bebi pada Sean yang sudah menghampiri mereka berdua sambil menarik tangan Sean dengan paksa dan kasar keluar dari apartemennya dan melepaskan tangannya di koridor depan kamar 156 itu. Tak disangka dikoridor itu ada beberapa teman Bebi yang juga ikut datang.
"Heh ! Kalau kamu masih punya otak, jauhi Ramon. Jangan pernah sekali-kali mengundang Ramon datang di apartemenmu ini." kata Bebi karena merasa kata-katanya tak digubris Sean, Bebi yang sudah terbakar api cemburu langsung hendak mengayunkan telapak tangannya utuk menampar pipi Sean
"Bebi, jangan keterlaluan kamu!" bentak Ramon sambil menahan ayunan tangan Bebi
"Apa? Aku? Kalian memang dasar" sungut Bebi, "aiiiiish! Dasar wanita jalang!"
"Oh jadi seperti ini nih wanita jalang yang kamu maksud Beb?" tanya salah seorang temannya Bebi, dengan sinisnya mereka, mereka berlima mengambil masing-masing telur busuk diwajah Sean. BERUNTUNG! Telur-telur itu belum sempat mengenai wajah Sean, Jems yang sedaritadi memperhatikan mereka saat kembali membeli minuman dingin, langsung saja berlari secepat mungkin, memeluk Sean dalam dekapan dada bidangnya yang kekar sehingga membuat Sean yang agak pendekkan dari dia terhalang oleh amukan telur busuk yang hampir saja mengotori wajah Sean atau bahkan seluruh tubuh Sean dan hal itu disaksikan oleh penghuni apartemen lain yang bersebelahan dengan 156 milik Sean.
"Bebi !!" teriak Ramon.
"Upz, maafkan aku." Sambil tertawa Bebi dan teman-temannya berjalan meninggalkan mereka bertiga.
"Kamu ngak apa-apa?" Tanya Jems sambil tampak senyuman hangat kecil dibelahan bibirnya. Sean hanya mampu mengangguk karena butiran bening itu lagi-lagi menghiasi dua bola matanya, tetap dalam dekapan Jems.
"Sean," panggil Ramon "Kamu baik-baik sajakah?" tanya Ramon mengulang pertanyaan Jems.
Sean lalu melepaskan dekapan dari Jems, dan memandang Ramon dengan mata yang berkaca-kaca akibat airmata yang baru saja mengaliri pipinya. Ramon yang merasakan hal itu, terdiam sebentar melihat airmata Sean. Jantungnya saat itu terasa berhenti melihat tatapan duka dikedua bola mata wanita yang dicintainya ini. "Sean, aku .." kata Ramon terhenti saat tangan yang coba meraih bahu Sean ini dicegah oleh Jems.
Kedua laki-laki ini saling bertatap. Masing-masing menyimpan rasa pada wanita yang sama. Masing-masing saling menatap seolah ingin bertengkar. Bara api seperti tampak pada dua pasang mata pria-pria itu.
"Aku takan biarkan kamu menyakiti Sean lagi." kata Jems menegaskan ucapan dibibirnya sambil melepaskan tangan Ramon.
"Maksudmu?" tanya Ramon, "Aku menyakiti Sean?" sambil tertawa sinis pada Jems, "Aku mencintai dia, mana mungkin aku menyakitinya? Oh aku tahu aku pernah khilaf tapi aku mencintai dia dan akan memperbaiki semuanya. Sean juga masih mencintaiku" sambung Ramon meyakinkan dirinya sendiri bahwa Sean masih mencintainya.
Perdebatan antara Ramon dan Jems semakin memanas. Saking memanasnya, mereka tidak menyadari bahwa Sean sudah menitihkan airmata dengan berdiri mematung tanpa mengucapkan satu katapun dari bibirnya.
"CUKUP!" teriak Sean menghentikan perdebatan dua pria ini dan mereka berdua baru menyadari bahwa Sean sudah menitihkan airmata sejak tadi. Keduanya sama-sama merasakan hal yang sama yaitu gelisah melihat wanita yang sama-sama dicintainya menangis. "Tolong pergi .. Aku sudah tak ingin lagi .. Aku sudah lelah .. Tolong pergi .. " kata-kata ini diucapkan Sean berulang-ulang dengan nada suara bergemetaran. Karena dia sudah tidak tahu lagi apa yang harus dikatakannya. Hatinya benar-benar terluka.
"Sean aku minta maaf" kata Ramon pelan sambil meraih kedua bahu milik wanita ini, yang langsung dihindari wanita ini dengan mundur beberapa langkah kebelakang
"Cukup! Aku capek Ramon .. Tolong pergi. Aku sudah tak bisa lagi bersamamu" kata itu diucapkan lagi oleh Sean, hatinya terasa benar-benar sakit saat mengatakan hal itu. Kata-kata yag berat baginya. Yah berat untuk melepaskan satu-satunya pria yang sejak dulu dicintainya. "Jems, bawa aku kedalam. Tolong, aku ingin istirahat" pintanya pada Jems dan Jems meraih bahunya, mendekapnya dan membawanya masuk kedalam apartemen miliknya itu meninggalkan Ramon yang masih berdiri mematung melihat kepergian wanita yang dicintainya itu bersama dengan pria lain. Pintu apartemen pula seakan-akan itu adalah pintu hatinya Sean yang lama-lama semakin menutup menghalanginya untuk bisa masuk kedalam mendapatkan wanita yang dulu mencintainya dan dicintainya itu.
Malam itu hujan deras, Ramon terus berjalan menyisiri jalanan kota Paris sejak pagi saat dia pulang dari apartemen milik Sean.
"Sekarang aku tahu, kalau melihat dia yang kita cintai menangis itu rasanya sakit. Apalagi saat airmatanya bukan kita yang menghapusnya, tapi pria lain. Rasanya lebih sakit. Jantung juga ikut berhenti tak lagi ingin rasanya untuk bernafas kalau dia sudah tak lagi bersama kita" katanya dalam hati, menyesali tingkah lakunya, keikhlafannya dia menyakiti hati wanita yang benar-benar dicintainya dan wanita itu sudah tak ingin lagi bersamanya.
Dia terus berjalan tak tahu lagi harus kemana. Dia benar-benar sendiri sekarang. Kehilangan wanita yang adalah segalanya bagi dirinya. Ini kesalahannya dan dia menyadari hal itu. Namun yang lebih menyakitkan melihat wanita itu bersama dengan pria lain saat itu dia ingin mengakhiri saja hidupnya. Karena hidupnya sudah benar-benar mati tanpa Sean.
Beberapa tahun kemudian ..
Di pelataran Menara Eiffel, Sean duduk sendiri menatap orang-orang disekelilingnya yang sedang asyik dengan kesibukannya sendiri. Dia duduk sendiri melihat sekelilingnya mencari-cari seseorang. "sss" desis Sean saat kedua matanya ditutup dengan sebuah tangan besar. Yah tangan seorang pria. Sambil tersenyum, "Jems," panggil Sean pada sosok pria yang menutupi matanya itu
Jems lalu melepaskan tangannya dari kedua mata Sean dan memberinya seikat mawar putih dan beberapa balon warna-warni berbentuk hati digenggamannya, lalu mengecup dahi Sean saat dia menerima mawar dan balon itu dari Jems.
"Aku mencintaimu" kata Jems sambil membelai rambut panjang wanita dihadapannya ini.
"Aku juga mencintaimu" kata Sean
"Kamu suka?" tanya Jems sambil duduk disamping Sean. Sean hanya manggut-manggut sambil tersenyum membalas tatapan Jems padanya.
"Aku mencintaimu" kata Sean sekali lagi, membuat Jems memeluknya begitu hangat pelukan itu. Pelukan yang didambakan Jems sejak dulu, dan ini terasa seperti mimpi wanita ini sudah menjadi istrinya.
"Terima kasih" kata Jems sambil mengecup kepala Sean yang ditutupi rambut ini.
Sean membalasnya dekan mendekap Jems semakin erat, semakin larut dalam kebahagiaan, semakin terhanyut dalam perasaan membuat kedua bibir ini saling bertemu, saling memberikan kecupan-kecupan lembut membuat balon yang tadi genggam tangan Sean terlepas ke langit, terbawa oleh angin, menerbangkan cinta mereka setinggi-tingginya, cinta yang Jems berikan padanya yang sanggup mengobati luka dihatinya sejak saat itu ..
Terima kasih sudah hadir dihidupku, memberikan sejuta kasih sayang padaku, kasih yang selalu mengobati luka dihatiku, kasih yang selalu mencintaiku tanpa memberikan sekeping luka dihatiku, gumam Sean dalam hatinya. Yah dan menara ini menjadi saksi cinta mereka.
TAMAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar