-Cinta Pertamaku-
Sebut saja namaku Tarra..
Semenjak aku duduk dibangku sekolah menengah pertama, aku sudah terpesona dengan tatapan dan senyumnya, namanya Rezky dan sering disapa Eky. Hari demi hari berlalu, rasa itu menjadi semakin kuat, dari sekedar rasa suka bertambah menjadi rasa sayang dan cintaku padanya. Kata Mamaku sih itu cinta monyet maklum saat aku jatuh hati padanya itu saat aku kami sama-sama duduk di kelas tujuh, jadinya karena sering ketemu dikelas aku jadi semakin tak bisa melupakannya. Dia itu cinta pertamaku, tapi tak pernah aku mengatakannya kepada siapapun, sampai suatu hari rahasiaku yang selalu ku tulis di buku diaryku terbaca juga oleh beberapa sahabatku.
Kini kami sudah duduk di kelas delapan, walaupun aku sejak kelas tujuh aku sudah berpacaran dengan beberapa cowok disekolahku dan bahkan senior-seniorku juga tapi itu tak membunuh rasa sayangku pada cinta pertamaku itu. Mungkin ini yang sering dibilang orang kalau "Cinta pertama itu memang indah dan sulit untuk dilupakan."
Teng.. Teng.. Teng..
Bel tanda istirahat pun berbunyi .. Eky dan teman-temannya langsung saja berlari keluar lapangan basket dan seperti biasa mereka bermain basket sampai keringat-ringatan.
Saat itu hanya aku sendiri di ruangan kelas karena sahabat-sahabat dekatku dan teman-temanku hampir kebanyakan memilih berada diluar kelas dan bermain atau melakukan kesibukkan mereka masing-masing.
Kulihat hpku bergetar .. Ku lihat layarnya -Cris-
Ada pesan masuk darinya, aku buka dan baca. Kaget! Ya karena ternyata tri sedang berada disekolahku dan menyuruhku keluar kelas dan menemuinya. Segera saja aku bangkit dari dudukku, dan berlari mendapati Tri yang sedang berada di koridor dekat gedung kelasku. "Hei!" sapaku saat sudah berada tepat didepannya.
"Kalian lagi ngapain?" tanyanya
"Lagi gak ada guru yang ngajar, lagi rapat soalnya dan kebetulan lagi istirahat jadinya begini deh." kataku, "Nah loh.. ngapain kamu disini?" "Gak cuma mau liyat orang yang ultah saja" kata Cris sambil tertawa
Aku mengerti maksudnya itu melihatku karena bertepatan dengan hari itu adalah ulang tahunku.
"Masuk sana gih! Aku mau pulang dulu.." kata Cris
"Baru datang udah pulang.." Aku mencibirkan bibirku
"Yah mau gimana lagi.." Cris meraih tanganku
"Eh tunggu-tunggu ada sesuatu yang mau aku ceritain ke kamu." kataku sambil berlari kembali ke kelas untuk mengambil hpku yang tadi kutinggalkan dikelas.
Cris mengerti dan duduk di koridor sambil menungguku.
Aku berlari masuk ke kelas dan saat aku keluar kelas, Eky yang duduk di samping pintu kelas menghalangi jalanku.
"Mau kemana?" tanyanya sambil mengusap keringat yang meleleh disekujur tubuhnya dengan baju yang tadi dia gunakan untuk bermain basket. "Tuh temanku lagi datang kesini." sambil berjalan melewatinya
"Oh.." ucapnya sebelum akhirnya menghalangi lagi jalanku, "Siapa dia?"
"Temanku, namanya Cris." jelasku sambil berlari kearah Cris yang sedaritadi menungguku.
Lama aku mengobrol dengan Cris. Sesekali mataku menatap kecil kearah berdirinya Eky yang sejak tadi menatap kearah kami.
"Aku tak mengerti pertanda apa itu, mungkinkah dia juga punya perasaan yang sama sepertiku? Atau mungkinkah itu hanya perasaanku saja? Aaaaaargh! Entahlah tatapan matanya itu membuatku tak mengerti." gumamku dalam hati.
***
Untuk hari itu, aku berpikir mungkin saja aku yang terlalu kepedean hingga berpikir tatapan matanya itu seolah tatapan mata cemburu. Ah sudahlah ..
Hari demi hari terus berlangsung dengan cepatnya. Kami sudah naik ke kelas sembilan. Bahagia juga perasaan deg-degan di diri kami masing-masing. Saat itu kebetulan gedung sekolah kami sedang diperbaiki, jadinya kami sekolah siang sampai sore.
"Dia cantik, aku menyukainya." kata seorang cowok yang benar-benar membuat sekujur tubuhku menjadi kaku.
Suara itu sudah tak asing lagi bagiku. Siapa lagi kalau bukan Eky. Tubuhku seakan tak bisa aku gerakan dari berdiriku menaiki tangga saat itu dan dengan diam aku terus mendengar curhatannya kepada sekelompok cewek-cewek kelas lain, yang bukan sekelas dengan kami. Aku tahu dengan betul, bukan aku yang dimaksudkannya, karena beberapa waktu lalu aku mendengar sendiri sahabatku bercerita kalau Eky menyukai cewek lain, cewek yang sekelas dengan sekelompok cewek yang saat ini sedang berada dilantai dua dekat tangga naik ke kelas kami tepatnya bersama dengan Eky.
Tanpa sadar butiran bening jatuh dipipiku.
"Tarra.." panggil seorang sahabatku dari jauh, yang segera saja menyadarkanku dari lamunanku.
Kuhapus airmataku yang tadi sempat membasahi sedikit wajahku dan berbalik menuruni tangga. Ya, aku urungkan niatku untuk masuk ke kelas. Aku turun dan berjalan mengikuti sahabatku itu menuju dapur sekolah yang tepat berada didekat tangga dan tepat berada dibawah ruangan kelas kami.
Aku berusaha untuk tak terlalu memikirkan kata-kata itu. Aku lampiaskan saja emosiku kepada seorang cowok yang saat itu menjadi kekasihku.
***
Setelah hari itu, aku berusaha untuk tak memikirkannya lagi, tapi usahaku ternyata sia-sia saja. Semakin aku berusaha untuk melupakannya, semakin membuat otakku berkerja untuk memikirkannya dengan tak langsung membuat hatiku juga harus memikirkannya dan menangis karenanya.
Berbagai usaha aku lakukan dengan mencoba melakukan hal-hal yang kusenangi, misalnya dengan membaca novel atau komik. Beberapa waktu kemudian..
Tak bisa lagi ku tahan kegalauanku. Sahabat-sahabatku yang melihatnya mungkin saat itu sudah tak bisa lagi bila terus melihatku seperti itu, jadinya hari itu tepatnya sore itu mereka mengatakannya pada Eky dengan jujur tentang perasaanku yang selama ini ku rahasiakan dari siapapun termasuk dirinya, dan perasaan yang selama ini ku pendam walau selama ini aku berusaha melupakannya dengan berpacaran dengan sederetan cowok yang mendekatiku.
Aku sudah tahu suatu saat sahabatku akan mengatakannya juga kepada Eky. Malu mungkin kata itu yang pantas kukatakan saat itu kepada diriku sendiri. Aku mencoba agar tak memperhatikan perbincangan mereka dengan Eky yang pelan-pelan menatapku dari luar jendela kelas.
Beberapa detik berlangsung tiba-tiba sebuah lagu yang diputar begitu dekat sekali terdengar olehku. Lagu yang paling aku suka saat aku duduk dikelas sembilan saat itu. Lagu itu berjudul "Sebelum Cahaya" yang dinyanyikan oleh grup band Letto. Suara musik dari lagu yang paling kusukai itu membuatku tak lagi berpikir apa-apa tapi langsung menolehkan kepalaku ke kiri dan ke kanan untuk mencari-cari darimana asal suara lagu itu.
Tak bisa dihindarkan lagi mataku tepat bertemu dengan mata Eky yang tersenyum menatapku. Ternyata suara itu berasal dari hp miliknya yang sedang dia pegang. Aku mencoba menghindari tatapan matanya dan mencari-cari dikelas siapa yang sedang memutarnya, namun tak kutemui satupun yang memutarnya. Mataku memaksaku untuk lagi-lagi balik menatap Eky yang masih terus menatapku dan tersenyum kepadaku.
Dag.. dig.. dug..
Jantungku berdebar dengan kencang. Mata kami terus saling bertatap satu sama lain. Aku menelan liurku sendiri berkali-kali. Mataku berkedip berulang kali menatap matanya yang sama sekali tak berkedip dan terus tersenyum melihatku. Kebetulan saat itu kamu duduk sederetan kira-kira dua jajar yang memisahkan dari tempat duduk kami masing-masing.
"Bodoh! Bodoh!" gumamku pada diriku sendiri. Bodohnya aku, menganggap semua itu istimewa. Tatapan itu, entahlah.. sudah tak bisa ku hindari lagi mataku yang terus menatapnya begitupun matanya yang masih terus menatap mataku. Sampai akhirnya aku kaget dengan tepukan seorang sahabatku yang lain yang membawa titipan jajanku yang tadi dibelinya. "Makasih.." kataku.
Dalam hati aku sedikit legah bisa terhindar dari tatapan matanya. Bila aku terus menatapnya lama-lama bisa-bisa mataku mengeluarkan air yang takan mungkin aku hindari lagi.
***
Teng.. Teng.. Teng..
Bel istirahat berbunyi. Aku mengambil kursiku dan duduk dipojokkan kelas sambil membaca novel yang sejak tadi kubaca agar menutupi sedikit rasa maluku karena Eky sudah tahu tentang perasaanku.
"Hai." sapa Eky. Mataku terbelalak namun masih dalam keadaan tertunduk membaca buku. Ku coba tuk tak melihatnya yang sudah berada tepat dikursi didepanku. "Apaan sih ini?" tanyanya sambil merebut novel itu dari tanganku dan membuka-buka halamannya satu per satu.
"Eky!" seruku dengan kerasnya
Jari telunjuknya melekat dibibirnya, tanda menyuruhku untuk diam saja.
"Kembalikan.." pintaku pelan
Dia mengembalikan buku itu dan duduk menatapku sambil tersenyum.
"Apa?" tanyaku pura-pura tak tahu dengan senyumannya itu.
Dia menggelangkan kepala.
"Aku sudah tahu kok, kalo kamu menyukaiku." ucapnya sambil tersenyum setelah beberapa detik yang lalu kami berdua duduk terdiam.
Aku kaget mendengar kata-katanya. Mengapa dia senekat ini langsung mengatakannya kepadaku? Padahal dia menyukai cewek lain, bukan aku. Aku diam saja,
"Iya kan?" tanyanya memecah keheningan dipojokan kelas.
"Salah?" aku balik bertanya
Sambil tersenyum, "Gak salah kok. Aku malah senang kamu menyukaiku."
Aku menatapnya. Kenapa kata itu keluar dari mulutnya? Mungkinkah aku bermimpi ataukah aku.. ah sudahlah, aku tak ingin berharap lebih banyak. Aku takut untuk terjatuh, itu pasti akan sangat sakit.
Aku sudah kehabisan gaya saat itu, jadi kukeluarkan permen milkita tangkai dari sakuku dan memberikannya pada Eky. Maksudku agar cukup sampai disitu saja, aku sudah takut mendengar kelanjutannya.
***
Hari itu benar-benar membuatku hampir mati saja didepannya. Hari itu terus masuk keotakku dan membuatku bermimpi tapi aku terus berusaha untuk melupakannya karena aku tahu, Eky menyukai cewek lain.
Beberapa waktu kemudian..
Kami akhirnya pindah ke kelas baru kami yang baru saja selesai diperbaiki.
Saat itu juga tinggal beberapa bulan lagi, kami akan mengikuti ujian nasional. Jadinya guru-guru sedang gencar-gencarnya mempersiapkan kami untuk memasuki ujian nasional.
Keesokkan paginya..
Pagi-pagi kami semua sudah berkumpul di sekolah untuk melaksanakan jadwal ujian praktek penjaskes dari salah seorang guru. "Ra," panggil Eky saat menghampiriku yang sedang sibuk mengikat tali sepatuku. Aku menolehkan kepalaku keatas menatap Eky yang berdiri disampingku. Aku berdiri dan menatapnya. "Tolong simpan ini." katanya sambil meraih tanganku dan meletakkan sebuah mainan kalung yang berbentuk hati, berwarna coklat dan bertuliskan namanya "Eky" lalu mengatupkan jari-jariku dengan kedua tangannya.
Entah apa maksudnya saat itu, tapi aku berpikir yang baik-baik saja mungkin dia takut benda itu jatuh jadi dia menitipkan kepadaku.
"Baiklah.." kataku sambil menyimpannya disaku jaket putihku.
Setelah selesai kami melakukan pemanasan dan duduk dilapangan basket bersama melepas lelah dengan membentuk lingkaran, aku teringat akan mainan kalung yang dia titipkan kepadaku tadi.
"Eky.. Eky.." panggilku dengan sedikit kuat karena suasana disekitar kami benar-benar berisik.
Eky menolehkan kepalanya padaku yang memberikan mainan kalung miliknya itu kembali kepadanya.
"Buat kamu saja." katanya
"Ha? Aku?"
"Simpan buat kenang-kenangan" kata Eky sambil tersenyum kemudian melanjutkan perbincangannya dengan teman-temannya.
Ya Tuhan.. apa maksudnya ini? Aku sempat bingung dengan kata-katanya dan tatapan matanya juga sikapnya benar-benar aneh dan tak biasa bagiku. Aku tahu dia tak mempunyai perasaan apa-apa kepadaku karena dia menyukai cewek lain, tapi perhatiannya, tatapan matanya, senyumnya dan sikapnya yang belakangan ini benar-benar membuatku tak mengerti dengan perasaanya.
Aku menuruti saja kata-katanya itu. Kami pun melanjutkan dengan ujian praktek penjaskes saat itu. Setelah selesai giliranku untuk ujian praktek, aku duduk dan mengambil novel yang ikut ku bawa saat itu dan membacanya tanpa mempedulikan seseorang yang duduk disampingku.
"Serius amat.." katanya
Aku kaget mendengar suara itu, sambil menutup novel yang kubaca, ku tatap wajahnya sebentar.
"Eky, ngapain kamu disini? Giliranmu sebentar lagi kan?" tanyaku
"mm-Hmm.."
"Lalu? Kenapa masih disini?" tanyaku lagi
Eky hanya tertawa kecil sambil menatapku.
"Oh ya.. mana mainan kalungku tadi?"
"Oh.. ini.." kataku sambil menyodorkan benda itu. "Ambilah.."
"Gak. Kamu simpan saja." katanya
"Loh?" keningku terangkat
"Aku hanya ingin melihatnya sebentar kok." katanya lalu berlari kembali memasuki lapangan basket karena giliran untuknya berpraktek hampir tiba.
"Dasar aneh!" gumamku dalam hati, namun aku tersenyum melihat benda itu dan melihat dirinya yang sedang praktek.
***
Keesokkan paginya, aku datang kesekolah sambil terus mencari-cari benda itu. Ya benda itu entah bagaimana caranya tiba-tiba hilang dari dalam saku jaketku. Entah jatuh dimana, aku sendiri tak tahu. Aku terus berjalan menyusuri jalanan yang kemarin aku lalui hingga masuk ke kelas kami.
Setibanya aku dikursiku dan mendudukinya, Eky yang ternyata mengikutiku dari pintu kelas dan masuk kekelas hingga menatapku tanpa kata saat tiba didepan mejaku.
"Eky.. kamu marah?" tanyaku melihat tatapannya yang terasa asing bagiku. Aku sudah tahu pasti sahabatku atau temanku yang waktu itu pulang bersamaku sudah menceritakannya kepada dia.
"Kamu.. kalau kamu gak mau nyimpan benda itu dari aku, ya sudah tinggal bilan saja! Kenapa kamu harus menerimanya terus kamu menghilangkannya!" bentak Eky. Bisa kurasakan tekanan nada suaranya meninggi saat itu. Kemudian dia berjalan keluar kelas, entah kemana.
Aku duduk terdiam dikelas, tak ingin berbicara dengan sahabat-sahabatku ataupun teman-teman kelasku. Aku hanya mau saat itu tahu dimana benda itu bisa sampai terjatuh dari sakuku. Padahal sama sekali tak bocor ataupun tak mungkin jatuh dari sakuku karena kemarin aku hanya duduk dengan tenang membaca novel sampai akhirnya kami pulang dan baru kusadari benda itu sudah tak ada disakuku.
Beberapa jam berlalu, aku mencoba baik-baik saja tapi saat aku menatap mata Eky terasa dia bukan Eky yang kukenal, mungkin dia masih marah kepadaku.
"Tarra.." sapa seorang cowok yang tak lain adalah sahabatnya Eky dan tentu saja teman sekelas kami. "Sebentar datang ya.. diacara ulang tahunku." katanya
"Dimana?"
"Di rumah baruku. Tau kan?"
"Tau sih.. tapi jauh. Takutnya papa dan mamaku gak ngizinin aku buat kesana."
"Yah, gimana dong.."
"Ntar aku pikirin deh, kalau jadi aku pasti datang."
"Okeh sip aku tunggu ya" katanya
***
Bel pulang berbunyi, kami semua berbaris dilapangan. Aku dengan tenang dan diam berdiri dibelakang sahabat terdekatku. Eky datang dan berdiri disampingku dibarisan untuk cowok-cowok.
"Ra, kamu mau keacaranya Jandri kan?" tanya Eky yang kini bukan disampingku lagi tapi tepat didepanku dan menatapku.
"Aku gak bisa bilang, jadi atau gak jadi."
"Yah jangan gitu dong." kata Eky
"Nanti aku izin mama dan papaku dulu. Kalau jadi, aku pasti datang."
"Benar? Aku tunggu ya?" katanya, "mm-Hmm, atau kalau jadi datang, tinggal bilang saja ntar aku jemput dengan motor."
"Cie.. yang mau dijemput. Terima saja Ra." kata seorang temanku yang mendengarkan percakapan aku dan Eky sejak tadi.
Aku tertawa kecil mendengar kata-katanya.
"Memangnya kamu tau bawa motor? Jangan sampai ntar bukan ke rumahnya Jandri tapi malah masuk ke balik papan."
"Yee ngeledek.. Serius, aku bisa."
"Gak .. biar saja Ky, biar saja nanti papaku yang antar kalau aku jadi datang."
"oke! aku tunggu."
Malamnya aku gak bisa datang karena gak diizinkan kedua orang tuaku.
***
Besok harinya ..
Aku mendengar dari teman-temannya Eky kalau dia semalam menungguku datang. Namun aku tak kunjung datang ke acara itu.
"Eky.." panggilku dari kejauhan sambil berlari menghampiri duduknya
"Maaf, aku sudah deng.."
"Sudahlah gak apa-apa." potong Eky dengan ketus dan segera berdiri dan berjalan meninggalkanku begitu saja yang sedang menatap kepergiannya.
***
Hari demi hari berlalu, ujian nasional pun telah kami lewati dengan baik.
Kini tiba saatnya ulang tahunku. Seperti biasanya ulang tahunku selalu diadakan disekolah. Kedua orang tuaku selalu menyediakan makanan dos yang sering dikirim ke sekolahku untuk semua guru dan teman-temanku.
Hari itu untuk pertama kalinya aku tak melihat Eky disekolah. Aku sudah putus asa, benarkah dia marah kepadaku? Lantunan lagu selamat ulang tahun dinanyikan beberapa sahabat dekatku, teman-temanku dan beberapa adik tingkat yang termasuk anggota OSIS disekolah kami, kebetulan waktu itu aku merupakan sekretaris OSIS jadinya anggota OSIS pun ikut kuundang masuk ke ruangan yang dipersiapkan untuk acara ulang tahunku.
Setelah selesai berdoa, aku sangat senang melihat didepanku tak jauh dari berdiriku ternyata Eky sudah ada disitu. "Terima kasih kamu masih mengingat ulang tahunku." gumamku dalam hati.
Jabat tangan ucapan selamat pun berlangsung, Eky menghampiriku dan menjabat tanganku sambil mengucapkan kata-kata ucapan selamat dalam bahasa Inggris.
***
Hari yang kami tunggu pun tiba. Kami akan mendengar hasil kelulusan kami. Rasa bangga dan haru tampak pada wajah kami masing-masing. Kami semua lulus dengan hasil yang memuaskan.
Tapi satu hal yang menggangguku, aku mendengar kalau dia akan melanjutkan sekolahnya di luar daerah yang kami tinggal saat ini.
Yah.. Mungkin memang aku takan bisa memilikinya, karena dia bukan tercipta untukku. Tapi ini kenangan yang sampai detik ini masih teringat dibenakku.
"Terima kasih ya.. kamu sudah datang dihidupku. Walaupun aku gak tahu perasaanmu kepadaku seperti apa, tapi aku bahagia pernah melewati hari-hari yang takan aku lupakan seumur hidupku. Terima kasih sudah menjadi cinta pertamaku. Kamu punya kenangan tersendiri."
TAMAT

Tidak ada komentar:
Posting Komentar