welcome to my blog

welcome to my blog

Kamis, 23 Mei 2013

Wanita Hebat (part 1)

 -Edisi Wanita Hebat- "Aku wanita bodoh yang mencintaimu dalam kehebatan cinta dan kesetiaanku"

"Banci lo!" kata Roby ke Kevin
"Tapi gue gak mau nyelingkuhin dia." kata Kevin ke kedua cowok dihadapannya ini
"Jadi.. lo mau setia?" tanya Raka
Kevin dan Raka sama-sama terkekeh kecil.

"Zaman skarang lo mau setia? Haha bisa-bisa lo diketawain sama ayam!" kata Roby sambil meletakan tangannya di pundak Kevin yang terlihat bingung, entah harus menuruti kata-kata teman-temannya itu ataukah tetap menjaga kesetiannya ke Pevita, kekasihnya yang sangat dia cintai itu.
"Yapz betul!" timpal Raka, "Zaman skarang lo itu gak dianggap keren kalo gak punya pacar lebih dari satu."
"Setuju gue bro!" kata Roby
"Gimana?" tanya Raka
"Entahlah.." jawab Kevin datar
"Vin.. gini aja deh. Kalo lo bisa jadiin Saskia itu pacar lo, ya kita berdua rela deh jadi babu lo selama sebulan, terserah deh lo mau lakuin apa ke kita berdua, oke oke!" kata Raka
"Gue setuju banget bro." kata Roby, "Kita berdua kasi waktu ke lo selama seminggu, dekatin Saskia si anak Biologi itu. Kalo perlu noh mobil gue, kuncinya gue kasi deh ke lo bebas lo pake selama sebulan asal lo bisa jadiin Saskia itu pacar lo. Gimana?"

Kevin tak menjawab .. pikirannya kacau saat itu, mana yang harus dia pilih.
"Tenang aja deh Vin.. kalo lo lagi dekat sama Saskia, ya pacar lo siapa itu namanya?"
"Pevita.." jawab Kevin dan Roby secara serentak, yang kemudian keduanya saling pandang.
"Haa.. Iya, iya.. Pevita." ucap Raka, "Tenang aja deh, rahasia lo bakalan aman sama kita-kita. Pevita gak bakalan tau kok."

"Hmm.. Roby dan Raka mungkin ada benarnya. Tawarannya juga kayaknya asyik nih. Lagian.. cuma seminggu kan gue deket sama Saskia? Gak lebih. Kalo Pevita tau gimana ya? Ah kan cuma seminggu.. Boleh juga, babu dan mobil sport, wow!" gumamnya dalam hati

"Gimana Vin?" tanya Roby lagi
"Ok.. gue mau." kata Kevin
"Sip! Gitu dong.. tapi ingat ya waktunya cuma seminggu. Kalo lo gak bisa buat Saskia jadi pacar lo dalam waktu seminggu, lo kalah dan itu berarti lo yang jadi babu kita selama sebulan." kata Roby
Kevin mengangguk.
Tak lama kemudian, Kevin kembali ke rumahnya dengan motor king hijau miliknya.

"Haha rasain tu anak.. abis kita kerjain! Haha dia kira gampang apa deketin Saskia?! Lo tau sendiri kan Ka, tu Saskia jutek banget." kata Roby diselingi dengan tawanya.
Raka ikut tertawa
"Eh.. tapi Rob itu Saskia kalo gak salah kan masih sepupu lo sendiri?"
"Haha iya sih .. Haha tapi biarlah, haha gue jamin dia gak bakalan bisa deh jadiin Saskia itu cewenya apalagi tantangan yang kita kasi itu kan cuma seminggu." kata Roby, "Haha nah lo deketin si Saskia waktu kita SMA dulu aja malah di bully kan sama dia?" lanjutnya
Raka mengiyakan. Keduanya kembali tertawa bersama-sama.

*** 

Keesokkan harinya.. 
-"Kevin kamu dimana sayang? Kok aku telpon nomor kamu gak aktif sayang?"- sms terkirim

Pevita merasa gelisah hari itu. Entah karena apa, belakangan ini dia merasakan kalo Kevin sudah mulai berubah. Sekarang dia lebih sering meluangkan waktunya bersama kedua teman sekelasnya itu, Roby dan Raka.

Tak lama kemudian..
Piip.. Piip.. Piip..
Bunyi klakson motor yang sangat dikenalnya. Siapa lagi kalau bukan Kevin.

"Sayang.." Pevita tersenyum senang melihat kekasihnya datang tepat disampingnya dengan motor king hijau milik cowok tampan dan berlesung pipi ini.
"Hai sayang." Kevin balas tersenyum, "Pulang yuk.. Aku antar."
"Hmmm" Pevita langsung saja menaiki motor kekasihnya itu.

"Sayang aku tadi telpon kamu tapi nomor kamu gak aktif." kata Pevita
"Iya sayang, aku minta maaf ya.. tadi batreiku lowbet. Gak sempat ngejawab telpon kamu. Maaf ya sayang.."
"Iya deh.. Gak apa sayang. Love you." bisik Pevita ditelinga Kevin dan semakin mempererat pelukannya.

Ketika tiba dirumah Pevita, cewek cantik berdarah Jerman-Indonesia itu langsung turun dari motor kekasihnya.
"Sayang, gak mampir dulu?" tanya Pevita
"Lain kali aja ya sayang? Aku masih ada tugas yang harus aku selesein."
"Baiklah.."

Setelah mencium kening Pevita seperti biasa, Kevin dan motornya langsung melaju hingga lenyap dari pandangan Pevita.

"Bik aku pulang!" seru Pevita saat masuk kerumahnya

"Lo?" tanya Pevita begitu bola matanya yang kecoklatan itu menatap sosok cowok tampan berbaju merah yang sedang duduk dikursi ruang tamu.
"Hai Vit.." sapa cowok tampan berbaju merah itu.
"Lo ngapain disini?" tanya Pevita dengan nada sedikit ketus
"Haha ya gue cuma datang untuk liyat wajah calon istri gue ajah kok." jawab cowok tampan itu
"Jangan mimpi lo Roby!" kata Pevita sambil berjalan hendak memasuki kamarnya
"Terserah lo deh Vit.. yang jelas gue sayang banget sama lo dan lo bakalan jadi istri gue. Bokap nyokap lo masih di Jerman kan? Asal lo tau aja, yang jadi penolong perusahan bokap nyokap lo itu bokap gue."
"Nah truuusss? Apa? Gue musti bilang makasih gitu? Ya udah makasih, tapi bukan sama lo. Makasihnya sama bokap lo." Pevita langsung masuk kedalam kamarnya

***

"Hai Saskia.." sapa Kevin
Saskia tak menghiraukan sapaan Kevin malah melanjutkan membaca buku ditangannya.

"Yaampun ini cewek budek kali ya?" gumam Kevin dalam hatinya.

"Hai Sas.. Lo lagi baca apaan sih?" tanya Kevin yang langsung membolak-balikaan buku yang sedang dibaca Saskia.
"Lo apa-apaan sih?!!" bentak Saskia. Lalu kemudian beranjak dari duduknya dan pindah ke tempat duduk yang lain ditaman dekat dengan ruangan program studinya.

Kevin tak mau menyerah begitu saja meski dalam hatinya, dia kesal dengan sikap Saskia yang menurutnya sok kecakepan banget dan sok jual mahal banget. Padahal jelas-jelas didekatin sama cowok setampan Kevin.

"Huh ini kalo bukan demi tantangan itu, deeeeeh malas banget dah gue deket sama cewek kayak gini! Masih mendingan skarang gue nemenin Pevita aja. Aaaaaaarghh!" Kevin mengomel dalam hatinya sendiri.

"Sas.. lo cantik banget deh hari ini." Lidah Kevin terasa ingin muntah saat dia mengatakan kalimat itu dari mulutnya sendiri.
"Oh makasih." jawab Saskia singkat sambil terus membaca bukunya.
"Sas bentar lo ada waktu gak?"
"Ngapain nanya-nanya?" Saskia balik bertanya
"Gue mau ngajak lo dinner, di tempat yag istimewa buat cewek secantik lo."
"Basi!" kata Saskia dengan ketus

"Huh sialan ni cewek, jual mahal banget! Apa karna sikapnya gini jadinya gak punya pacar juga ya sampe hari gini. Sikapnya gini, gue jamin jomblo seumur hidup lo. Puuuf.. Kalo bukan demi taruhan itu gue gak bakalan deket-deket sama lo." gumam Kevin dengan kesal dalam hatinya.

"Suer Sas. Gue pengen dinner sama lo." kata Kevin
"Gak ada waktu!" jawab Saskia datar

Saskia langsung beranjak dari duduknya dan berlalu dari pandangan Kevin begitu saja..

***

"Hei!" seru Raka dan Roby saat melihat Kevin berjalan mendekati mereka.
"Hei.." balas Kevin
"Gimana bro dengan Saskia?" tanya Raka saat Kevin duduk ditengah-tengah keduanya.
"Susah bro.."
"Haha jadi lo nyerah gitu?" tanya Roby
"Berarti lo kalah taruhan ni.. jadi siap-siap deh jadi babunya kita berdua."
"Eh tunggu-tunggu! Lo gak bisa gitu aja dog Vin.." timpal Roby.
Raka menatap Kevin dengan heran.
"Ya maksud gue, lo gak harus nyerah gitu juga kan? Kan masih ada 5 hari lagi. Siapa tau lo bisa jadi pacarnya Saskia." kata Roby, "Ini kan belum sampai tanggal batas tantangan yang kita kasi ke lo. Kalo lo kalah sama aja dengan pecundang kan?" lanjut Roby meyakinkan Kevin untuk tidak mundur dari tantangan yang mereka berikan.
"Baiklah.." jawab Kevin datar

***

Hari ke-4 ..

"Belakangan ini dia jarang ngunjungi gue Ndo. Telponnya juga kadang di non-aktifkan. Gue tanya dia bilang, lagi kerja tugas." ungkap Pevita ditelpon kepada Rolando, sahabat sejak kecilnya Kevin.
"Gue ngerti perasaan lo Vita. Tapi ya lo kan tau dia itu sayang banget sama lo. Buktinya aja dia gak pernah selingkuh kan dari lo selama kalian jadian udah 4 tahunan ini?"
"Iya sih.."
"Nah gitu dong. Itu baru namanya Pevita Cleo Eileen Pearce yang gue kenal. Lo harus percaya sama dia Vit." Rolando menasihati Pevita yang juga adalah sahabat dekatnya.

Siangnya dikampus..

"Hei lo Pevita pacaranya Kevin Hendry Anggara kan? -iya- Dia lagi pacaran sama Saskia Sigar Sastrowijoyo, anak Biologi itu!"
Semenjak tadi hanya kalimat itu yang selalu mengusik pikirannya. Bagaimana tidak? Hari ini, tepatnya siang ini saat dia baru memasuki ruangan kelas, seorang cewek berkulit hitam manis datang menghampirinya dan mengatakan kata-kata itu.. Tentang Kevin, tentang kekasihnya yang katanya sedang..
"Aaaaaaaaargggh!!" Teriak kecil Pevita, "Apa yang gue pikirin sih? Gak! Kevin gak mungkin gitu! Gue percaya sama dia. Ya.. gue gak apa-apa. Harus percaya sama Kevin. Apapun yang cewek itu bilang." gumamnya pelan pada dirinya sendiri

"Cie yang lagi galau.."
"Lo? Lo lagi.. lo lagi.. Ngapain sih ngikutin gue melulu?" tanya Pevita ke Roby
"Hai jodoh gue, yang lagi terdampar di jodohnya orang lain.." ucap Roby yang sengaja tidak ingin menjawab pertanyaan Pevita padanya
"Apa-apaan sih? Mimpi lo.. sampe gue mati pun, jangan mimpi buat dapetin cinta gue."
Pevita berdiri dari duduknya tapi saat dia hendak melangkahkan kaki pergi, Roby malah mencengkram pergelangan tangan kanannya.
"Roby! Lepasin, sakit.." Pevita mencoba melepaskan cengkraman tangan Roby dari pergelangannya tapi tampak usahanya sia-sia saja.

"Kenapa sih, lo gak bisa terima gue? Hoo.. apa karna Kevin?" Roby tertawa sinis
"Iya .. gue gak bisa terima lo karena hati dan cinta gue udah jadi miliknya Kevin sejak 4 tahun yang lalu, sejak lo ninggalin gue gitu aja dengan memberi gue harapan palsu dan sekarang lo datang ngemis-ngemis minta cinta gue balik sama lo? Gak! Gak bakalan! Lo mau tau kenapa karena gue sangat bahagia dari 4 tahun lalu sampai sekarang karna gue miliki seseorang di hidup gue, dan itu bukan lo tapi Kevin Hendry Anggara. Jelas?"
"Kevin? Haha.. Kevin.." Roby yang saat itu sudah berdiri juga, lagi-lagi tampak senyuman sinis dibelahan bibirnya.

"Vita .. lo sadar gak sih? Kevin itu gak ada apa-apanya dibandingkan gue. Ayahnya itu pegawai bokap gue. Apa sih yang Kevin punya? Kevin gak bisa buat lo bahagia, yang pantas buat lo bahagia itu gue karna gue punya segalanya yang Kevin gak punya! Jelas?" bentak Roby, "Sadar dong Vit.. Kevin itu gak bisa ngasih lo apa-apa, dibanding gue. Apa yang lo mau? Uang? Harta? Apa?! Tinggal sebut saja gue bakalan penuhi itu semua dalam sekejap yang sama skali gak bisa dilakuin Kevin."

"Lo salah!" seru Vita sambil menatap Roby dengan tegas, "Lo salah besar kalo bilang Kevin gak punya apa-apa dibandingkan lo. Kevin punya cinta yang buat gue bahagia dan bersyukur gue memiliki seseorang disamping gue seperti dia. Itu sesuatu yang gak lo punya sama sekali." kata Pevita, "Uang dan harta kekayaan yang lo miliki gak bakalan bisa membeli cinta gue. Lo salah besar kalo berpikir gue bisa bahagia dengan kekayaan. Lo harusnya nyadar Rob, apapun yang lo mau gak bisa seenaknya lo beli gitu aja, gak semuanya lo bisa milikin. Ada hal-hal yang harus lo relakan dan lepaskan."

Pelan-pelan Roby melepaskan cengkraman dipergelangan tangan Pevita, yang kemudian terduduk dan terdiam di kursi. Pevita pun beranjak dari tempat itu dan beralih ke perpustakaan tempat dia menghabiskan waktunya selain ditaman dekat gedung fakultasnya.
Sedangkan dari balik pohon tak jauh dari taman yang tadi Pevita dan Roby sedang berbincang, Raka sedang mendengar pembicaraan mereka.

"Eh ketemu lagi mbak.." suara cewek yang sama, yang beberapa hari lalu sempat bertemu denganya juga di perpustakaan ini.
"Eh iya ni mbak.."
Pevita melirik sekuntum bunga yang sejak tadi dipeluk oleh cewek disamping mejanya ini.
"Pasti baru dikasih bunga sama pacar ya?" tanya Pevita
"Eh si mbak ini masih ingat aja.." ucapnya dengan malu-malu
Pevita tersenyum
"Aku jadi malu ni.." Saskia meraba-raba pipinya yang panas-panas tak menentu mungkin saat itu kalau ada kaca, pasti dia sudah bisa melihat wajahnya sendiri yang merah merona.
"Setiap kita ketemuan, mbak kan selalu cerita tentang si cowok misterius itu."
"Ah iya ya.." Saskia terkekeh, "Mbak tau gak hari ini dia romantisnya pake banget. Dia ngasih aku bunga dan coklat, aah juga tiket nonton konser musik ini." Saskia memperlihatkan tiket itu ke Pevita. "Aku sih masih belaga bodoh aja, padahal aslinya aku suka banget sama dia, mbak. Diam-diam aku menaruh rasa sama dia. Tapi aku takut dia cuma pura-pura sama aku."
"Ngapain takut? Percaya saja sama dia. Siapa tahu dia beneran cinta sama mbak bukan pura-pura seperti apa yang mbak pikirkan."
"Iya juga ya mbak.." Saskia mengiyakan, "Eh sampe lupa, mbak kita kan belum kenalan? Namaku Saskia Sigar Sastrowijoyo."

"Saskia Sigar Satrowijoyo? Saskia Sigar Sastrowijoyo? Saskia Sigar Sastro.."

"Mbak.. mbak.." panggil Saskia
Lamunan Pevita buyar dari pikirannya pelan-pelan
"Eh iya, maaf.. namaku.. namaku Pevita Cleo Eileen Pearce." suara Pevita terdengar sedikit terbata-bata, wajahnya seakan pucat pasi, denyut nadinya berdetak lemah, bunyi jantungnya seolah-olah sudah tidak dag dig dug

"Mbak, mbak baik-baik aja kan?" tanya Saskia yang menyadari wajah Pevita yang tampak tak sebaik tadi.
"Iya.. aku baik-baik kok. Memangnya siapa nama cowok itu? Pasti dia tampan setampan hatinya sama mbak."
Saskia terkekeh pelan, "Kevin Hendry Anggara, mbak. Anak jurusan TI."


"Mbak, maaf aku ada kelas.. aku pamit duluan ya.." kata Pevita yang langsung berjalan keluar perpustakaan.

Pevita berlari sekencang-kencangnya yang dia bisa dari kampus. Airmata dibelahan mata bawahnya langsung menetes dipipinya.

***

Sesampainya dirumah, dia masuk kekamarnya dan menangis memeluk hadiah boneka big bear yang diberikan Kevin, kekasihnya pada anniv mereka yang ke 4 tahun lalu.

Sorenya..

"Sayang..sayang.." panggil Kevin yang membangunkannya dari tidurnya.
Pevita membuka matanya pelan-pelan, menatap kekasihnya yang duduk disamping tidurnya ini.
"Kamu sakit sayang?" tanya Kevin, "Aku dengar dari bibik tadi kamu pulang wajahmu pucat skali tapi gak mau makan, minum, ataupun dokter mau priksa kamu aja kamu gak mau. Kenapa sih sayang? Cerita sama aku."
Pevita tak menjawab tapi bangun dari tidurnya dan memeluk kekasihnya itu. Erat, erat sekali. Kevin balik memeluk kekasihnya yang sangat dicintainya itu, sama eratnya.

Untuk beberapa saat, keduanya tak berbicara hanya saling memeluk.

"Vin.. jangan pergi."
"Kok ngomong gitu?" Kevin melepaskan pelukannya.
Pevita kembali menarik tubuh Kevin dan dipeluknya lagi. Kevin balas memeluknya.

"Jangan tinggalin aku sayang. Aku gak ingin kamu pergi, pergi dari hatiku, dari hidupku."
Kevin mengeratkan pelukannya.
"Iya aku janji sama kamu, aku gak bakalan pergi. Aku gak bakalan tinggalin kamu. Kamu itu istriku Pevita. Aku jamin itu!"
"Janji?"
"Hmm.." Kevin melepaskan pelukannya dan menatap Pevita lekat-lekat. "Kamu itu wanita pertama dan terakhir untuk hidupku." Kevin memeluknya lagi.

***

Malamnya..

"Wah.. indahnya ini.." kata Saskia, matanya berbinar-binar menatap semua yang ada didepannya. "Kevin, kamu yang nyiapin semua ini?"
"Ehem" Kevin berdehem, "Kasih tau gak ya? Kasih tau gak ya? Mau tau, apa mau tau banget?"
"Ih kamu.." Saskia mencubit perut Kevin dengan mesra, "Apa-apaansih? ledek.."
"Hehe .. gak kok."

Ditaman tempat biasanya anak-anak muda sering berduaan dengan kekasihnya, dibawah sinar rembulan yang indah, Kevin dan Saskia menikmati makan malam mereka.

"Ini.." Mata Saskia mengangkat sebuah cincin yang muncul dipotongan puding coklat dipiringnya.
Kevin tersenyum dan berjalan mendekati Saskia lalu berlutut disamping kursinya.

"Sas.. aku suka sama kamu dan aku ingin rasa ini terwujud. Aku ingin kamu jadi kekasihku. Aku juga bingung dengan semua ini, tapi sikap kamu yang mungkin bagi  cowok lain itu jutek banget dan gak banget, tapi bagiku gak gitu. Sikap kamu malah membuat aku jadi suka sama kamu."
Saskia langsung memeluk Kevin
"Aku juga suka kamu."
"Jadi kita jadian?"
Saskia mengangguk pelan.

Kevin tersenyum kemenangan. Ya.. dengan semua ini dia bisa buktikan kalo dia itu bukan pecundang dan bisa taklukin cewek sejutek Saskia dan itu artinya juga Roby dan Raka akan menjadi babunya selama sebulan dan mobil sport milik Roby bisa dia miliki untuk sebulan juga.

Brem.. breem.. breeem..
Motor Kevin tiba didepan rumahnya Saskia yang juga langsung turun dari boncengan Kevin.

"Aku masuk dulu ya.."
"Hmm masuklah.."
"Eh.." Saskia langsung mendaratkan ciumanya dipipi Kevin. "Good night sayang, makasih buat segalanya khusunya malam ini. Aku sayang kamu." Setelah mengatakan itu Saskia langsung masuk ke rumahnya.

"Ih..ih..ih amit-amit jabang bayi. Ih..ih..ih.. dicium sama dia, ih..ih..ih amit-amit dah! Mendingan dicium sama Pevita. Ih..ih..ih.." gumam Kevin sambil berusaha menghapuskan ciuman dipipinya tadi.

***

Keesokkan harinya..

"Hai sayang.." Kevin menghampiri Pevita dan seperti biasa mencium kening cewek cantik ini.
Namun ekspresi wajah Pevita datar. Tak ada sapaan balik untuk kekasihnya layaknya dia yang biasanya.
"Loh kamu kenapa sayang? Kamu sakit lagi?" tanya Kevin sambil meraba-raba dahi dan leher juga tangan-tangan kekasihnya ini. "Gak panas kok.."
"Aku sakit. Tapi bukan badan aku yang sakit..yang sakit itu hati aku."
"Sayang, sayang.. hei kamu kenapa sayang? Cerita sama aku.."
"Aku gak perlu cerita kok, kamu kan sudah tau sendiri ceritanya kayak gimana."
Disaat yang sama dari matanya keluarlah sudah butiran bening itu..

Kevin menghapus airmata kekasihnya itu dan memeluknya.
"Aku gak ngerti maksud kamu apa? Aku gak ngerti.. tapi tolong jangan katakan hal-hal yang gak aku ingini keluar dari mulutmu sendiri." kata kevin dengan setengah berbisik.

Pevita melepaskan pelukannya Kevin dan menyodorkan kepadanya beberapa fax foto yang baru diterimanya tadi pagi. Kevin mengambil foto-foto tersebut dan melihatnya satu per satu. Semuanya itu adalah fotonya semalam bersama Saskia..
Pevita menahan airmatanya kembali jatuh, dia menunjukkan rekaman vidio yang baru tadi pagi diterimanya via BBM.
Mata Kevin seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Foto-foto yang dipegangnya tadi jatuh berserakan dilantai rumah Pevita.

"Sayang.. sayang.. aku bisa jelasin semua ini. Tolong.. tolong kamu percaya sama aku." Kevin memegang kedua lengan cewek cantik dihadapannya ini. "Ini semua tipuan.. tolong Vita.. jangan percaya sama ini. Kamu dengar aku kan sayang? plis.."
Airmata dari matanya kembali menetes.
"Aku percaya sama kamu Vin. Bahkan saat aku sudah mendengar sendiri dari mulut Saskia yang gak sengaja curhat tentang kamu ke aku.." suara Pevita terdengar lemah. "Tapi kamu tau apa, aku tetap percaya sama kamu bahkan setelah itu semua, aku.. aku tetap kuatin hati aku sendiri untuk tetap nahan semuanya dan percaya sama kamu."

Suara Pevita makin lama makin terdengar lemah dan pelan..
Sementara Kevin pun sudah tak bisa membendung tangisnya lagi. Dia menangis untuk pertama kali untuk, demi, dan oleh seorang cewek yang sangat dia cintai.

"Hari ini aku terima fax dan BBM ini semuanya tentang kamu. Kamu tau Vin, sakit banget.. sakit banget ngeliyat cowok yang sangat dicintai malah menghabiskan waktu bersama cewek lain. Kamu tau, hati ini cemburu dan marah juga sakit skali." lanjut Pevita

"Vita.." suara Kevin pun terdengar lemah dan pelan.

"Ini semua seperti berdiri dibatu karang.. awalnya mungkin baik, melihat ombak yang datang dan bisa dikalahkan oleh batu karang. Tapi lama kelamaan batu karang itu pun bisa terkikis oleh kuatnya ombak." ungkap Pevita sambil menghapus airmatanya sendiri.

"Sekarang.. pergilah.. bersama dia yang jauh lebih baik dariku."
Lalu Pevita membalikkan badannya dan berjalan pelan menuju kamarnya.
Kevin mengejarnya dan memeluknya.
"Kamu kemarin minta aku untuk jangan tinggalin kamu, tapi kenapa skarang malah kamu yang tinggalin aku?" tanya Kevin disela-sela isak tangisnya.
"Sudahlah Kevin.."
"Jangan! Tolong jangan lakuin ini ke aku Vit.."
Pevita melepaskan dekapan Kevin dari belakang badannya dan berlari masuk kekamarnya.

"Pevita!" teriak Kevin dari balik pintu kamarnya Vita. "Pevita buka pintunya, tolong.. aku mau jelasin semuanya. Kamu harus dengar penjelasanku dulu."

Lama Kevin menangis didepan pintu kamar Pevita sambil memanggil-manggil nama cewek yang dicintainya itu. Namun tak ada hasil apapun.. Pevita meninggalkannya dan itu semua karena kebodohannya sendiri.

***

"Hei bro.. gimana sama Saskia? Gue dengar lo sama dia udah jadian ya?" tanya Roby.
Raka hanya terdiam menatap Kevin yang tertunduk lemas.
"Wah kayaknya gue sama Raka siap-siap jadi babu lo sebulan ni.. juga nih kunci mobil gue." Roby menyodorkan kunci mobil miliknya kepada Kevin

Tapi Kevin malah menyodorkan kembali kunci mobil itu ketangan si pemilik mobil.
"Loh? Bukannya ini perjanjian dari tantangan  kita? Ngapain lo tolak?" tanya Roby
Kevin berjalan kebelakang mereka berdua dan merangkul mereka berdua.
"Perjanjian kita batal. Gue gak butuh semua itu. Jadi lo berdua bebas. Gak ada babu-babuan dan gak ada mobil sport atau mobil semewah apapun itu, gue gak butuh lagi."

Kemudian dia berjalan meninggalkan keduanya..

"Rob.. lo udah keterlaluan banget!" sungut Raka
"Loh santai bro.. bukannya ini bagian dari permainan kita. Just enjoy lai.. ini juga ide lo buat ngerjain dia kan?"
"Iya tapi ini udah lewat batas. Gue kira ini cuma buat ngerjain dia doang, tapi nyatanya semua ini untuk tujuan terselubung lo semata! Gak nyangka gue sama lo.."
"Hei Raka.. Raka.." Roby memanggil-manggil Raka yang berjalan minggalkannya.

***

Keesokkan sorenya..

Pevita duduk di depan danau kecil tepatnya danau buatan di dekat tempat tinggalnya, tempat yang menjadi tempat pertemuan dan awal kisah cintanya bersama Kevin.
Dari balik pohon, Kevin sedang memperhatikan Pevita. Tapi dia masih takut untuk mendekati kekasihnya ini.

"Aku tau kok kamu disitu Kevin.." Pevita membalikkan badan dan menatap kearah pohon tempat Kevin bersembunyi.
Kevin berjalan pelan mendekati Pevita.
"Hai..sa.." sayang .. bahkan kata itupun sudah tak mampu dia ucapkan mengingat semua kesalahan dan kebodohannya menyakiti cewek yang sangat dicintainya ini.

Lama mereka berdua terdiam..

"Vita.." panggil Kevin pelan
Pevita balik menatap Kevin lekat-lekat
"Aku minta maaf." ucap Kevin pelan, "Aku.."
Pevita tersenyum, "Aku sudah maafin kamu kok.. dan aku juga sudah dengar semuanya." potong Pevita
"Mak-sud-ka-mu?" tanya Kevin terbata-bata
"Maksud aku, aku udah dengar semua penjelasan dari Raka." Pevita tersenyum, "Kemarin Raka datang kerumahku, diantar sama Rolando. Raka nyeritain semuanya ke aku. Semuanya tentang tantangan yang mereka kasi ke kamu yang semula hanya untuk ngerjain kamu, ternyata malah digunakan sebagai kesempatan bagi Roby untuk hancurin cinta kita, sayang.."
"Apa?"

Sebenarnya Kevin bertanya "apa?" bukanlah karena dia kaget denga pernyataan Pevita tentang Raka dan Roby karena sebelum Raka menemui Pevita, Raka sudah terlebih dahulu menemui dan mejelaskan semuanya ke Kevin. Kata "sayang.." yang keluar dari mulut Pevita lah yang membuatnya kaget.
Dia berpikir bahwa dengan kesalahan dan kebodohannya mengkhianati cinta mereka yang telah dibangun selama 4 tahun, tak akan mungkin dimaafkan Pevita bahkan kalaupun itu hanya sebuah permainan antara dia dan Saskia, Pevita mana mungkin memaafkan cowok sebrengsek dirinya. Tapi ini..

"Kenapa?" Pevita balik bertanya, "Kamu gak mau aku panggil sayang lagi?"
Kevin tertawa dan tersenyum lalu memeluk Pevita kegirangan.
"Aku senang kok.. Senang banget." kata Kevin, "Aku cinta kamu Pevita. Sumpah demi Tuhan!"
"Iya, aku juga cinta kamu.."
Keduanya berpelukan kembali.

***

Ting.. Tong.. Ting..Tong..
Bel rumah Saskia berbunyi..

"Iya tunggu.. tunggu sebentar" Suara Saskia dari dalam rumahnya.

"Lo?! Ngapain lo disini? Pulang sana! Gue benci sama lo!" bentak Saskia yang kemudian menutup pintu rumahnya namun dihalangi oleh Pevita.
"Saskia.."
"Pevita.."

"Aku mau ngomong sama kamu.. tepatnya aku datang kemari bersama Kevin buat minta maaf sama kamu atas apa yang sudah dilakuin sama Raka dan Roby ke Kevin yang juga telah melukai kamu."

"Iya Saskia.. Gue minta maaf.."
"Sudahlah lupain aja.. Gue sudah maafin lo kok. Raka udah ngejelasin semua ke gue juga. Sorry tadi gue kasar gitu soalnya kalo gak gitu ya nantinya Pevita cemburu loh." Saskia tertawa lebar.
"Yaa ampun.. Saskia.. Lo ya.." Pevita memeluk Saskia yang juga membalas pelukannya

"Eh.. ayo masuk. Gue punya suprise untuk kalian dan tentunya ini berita bahagia yang sangat membahagiakan bagi gue khusunya."
Kevin dan Pevita turut masuk dalam rumahnya Saskia.

"Hei"
"Hai.."
"Raka? Rolando? Kalian?" tanya Kevin
"Kalian disini juga?"
"Vin .. sini Vin, ayo makan" ajak Rolando sambil terus melahap makanan diatas meja.
Kevin menghampiri kedua cowok dimeja makan milik Saskia itu.

"Ini.."
"Ini semua berkah Vit. Aku dulunya gak ada teman, sahabat bahkan aku gak punya. Tapi kini aku punya sahabat yaitu kamu, Kevin, Rolando, dan Raka, kekasihku."
Pevita terkejut mendengar kata terakhir yang keluar dari mulut Saskia
"Raka?"
"Iya kami baru jadian tadi.."
"Yaampun, senang banget dengarnya.. Selamat ya Sas.."
"Makasih Vita."

Ditaman belakang rumah Saskia..

Kevin dan Pevita memilih duduk ditaman belakang rumah Saskia agar terhindar dari ributnya Saskia, Raka dan Rolando.

"Sayang,"
"Hmmm.."
"Kamu kenapa masih milih aku, padahal aku udah nyakitin kamu?"
"Karena aku cinta kamu jadi aku juga harus siap untuk sewaktu-waktu disakitin kamu."
"Cuma itu?"
Pevita terkekeh, "Mungkin karena aku ini cewek bodoh."
"Kok bodoh sih sayang?"
Pevita tersenyum, "Cewek bodoh yang mencintaimu.."

Kata-katanya terpotong sesaat, saat dia menatap bola mata Kevin yang menatapnya dengan serius seolah tidak sabaran menunggu kalimat-kalimat selanjutnya.

"Yang mencintaimu dalam kehebatan cinta dan kesetiaanku."

Kevin tersenyum bahagia mendengar kata-kata Pevita dan memeluknya, memeluk tubuh cewek yang sangat dicintainya itu.

"dan aku cewek bodoh yang diam-diam mencintaimu." gumam Saskia dalam hatinya saat menatap dari balik jendela tepat ke ayunan tempat duduk Kevin dan Pevita ditaman itu.

TAMAT

Kamis, 09 Mei 2013

Malaikat tanpa Sayap

                        -Malaikat tanpa Sayap-

Namaku Karina Putri Adi Hermana, sering disapa Karin.. 
Aku seorang cewek yang terhitung cewek tomboy. Aku gak bisa dandan, aku gak bisa masak, dan bla.. bla.. bla.. aku gak bisa ngelakuin sederetan pekerjaan yang biasa dilakukan cewek-cewek yang feminim itu. Haha.. entah apalah namanya itu, yang aku bisa ya cuma main basket sama ini nih sahabatku sejak kecil, namanya Glen. 
Banyak cewek-cewek disekolah kami tergila-gila padanya. Ya ya ya, harus ku akui dia tampan, mempunyai bentuk wajah yang oval, kulitnya yang putih bersih, senyumnya yang manis, juga soal pelajaran dia itu jagoannya, tentu saja membuat cewek-cewek itu jatuh hati padanya. Meskipun dia mempunyai banyak penggemar seperti itu disekolah kami, tak membuatnya memilih salah satu dari mereka. Setiap kali kutanya, dia selalu bilang "Gak mau" atau "Gak suka" dan sederetan hal-hal yang lainnya. Aku sih tahu alasannya yang sebenarnya adalah karena cewek-cewek itu bukan tipenya. Nah aku? Haha.. Aku sih juga bukan tipenya. 
Jangan tanya tentang perasaanku padanya, aku tak tahu dan aku tak mengerti dan aku tak peduli. Yah untuk saat ini memang aku tak peduli dengan perasaanku padanya. Tapi entah sejak kapan dan darimana rasa itu datang, semuanya terasa berubah saat kedatangan seorang siswi baru di sekolah kami, tepatnya dia sekelas dengan kami berdua. Semenjak itu Glen sudah jarang bermain basket denganku, ataupun melupakan sederetan hal yang sering kami lakukan bersama. Glen benar-benar melupakanku, dia sekarang lebih terlihat berjalan bersama dengan Tania, siswi baru itu. Sering ku melihat mereka berdua bersama, sering pula aku merasa seperti ada yang hilang dariku.


Teng.. Teng.. Teng..
Bel istirahat menyadarkanku dari lamunanku sedaritadi saat melihat Glen dan Tania dari kejauhan tampak sedang berjalan bersama. Malahan kadang terlihat tertawa dan saling menyikut bahkan mencubit sesekali dilakukan keduanya.

"Mereka berdua serasi ya?" desis seorang cowok perlahan ditelingaku.
Aku kenal baik dengan suara ini, yah siapa lagi kalau bukan Eza. Nah ini dia ni, cowok yang paling sering gangguin aku. Padahal kalau mau dibilang, banyak cowok di sekolah yang takut dekat denganku apalagi gangguin aku, selain Glen yang jelas-jelas adalah sahabatku semejak kecil dan cowok yang satu ini, Eza. Wajahnya termasuk tampan, gak beda jauh kok dari wajah Glen. Tapi..

"Apaan sih?" tanyaku dengan intonasi kesal dan memutar kedua bola mataku.
"Hehe.. Gak kok, cuma bilang aja kalau mereka berdua itu serasi banget ya.." katanya sambil menunjuk kearah Glen dan Tania.
Aku mulai bertambah kesal dengan kata-katanya itu. Langsung saja ku berjalan menjauhi Eza, tapi justru dia mengikutiku sampai di meja kantin.

"Ngapain sih ngikutin gue terus?!!!" Aku membentaknya, berharap dia gak ngikutin ku lagi.
Bentakanku gak membuat dia berdiri dari kursi yang tepat berada didepanku. Eza tertawa lebar sebelum akhirnya dia menatapku lekat-lekat.

Keningku berkerut. "Apaan sih ini anak? Gak ada bosannya, gangguin gue melulu.. Gak ada takut-takutnya, padahal gue sering banget membentaknya. Terbuat dari apa ini anak?" pikirku

"Lo suka kan sama Glen?" tanya Eza dengan nada suara seolah meledekku.
"Apa-apaan sih?! KEPO banget lo!" kataku dengan ketus. "Glen itu sahabatku, mana mungkin aku suka sama dia!" lanjutku
"Nah kalo lo gak suka sama Glen, ngapaian tadi lo ngelamun?" tanya Eza
"Bukan urusan lo kan?" aku balik bertanya dengan nada sinis
"Kalo begitu lo sukanya sama siapa? sama gue?" pertanyaan Eza membuat kedua mata gue hampir saja keluar. Apaan lagi sih ini anak? Tambah aneh

Sesaat kemudian Eza malah tertawa lagi. Aku menjadi semakin bingung.
"Wajah lo.. wajah lo itu lucu banget.. wuahaha.." tawa Eza membuat beberapa pasang mata cewek-cewek mengarah tepat ke meja kami, bahkan terdengar sedikit cibiran mereka membuatku hampir muak dengan keadaan ini. Benar-benar mengusikku.

"EZA!!!" teriakku dengan keras sambil menutup mulutnya dengan kedua tanganku. "Bisa diam gak lo?!" Lagi-lagi aku membentaknya. Untuk sesaat dia terdiam, tapi sesaat kemudian dia tertawa kecil dan kemudian terdiam lagi.

"Sorry.. sorry deh.. habisnya wajah lo lucu banget. Jadinya perutku mules. Gak baik kan kalo nahan ketawa." katanya dengan masih sedikit meledekku.
Aku memutar kedua bola mataku.
"Sudahlah! Aku jadi gak mood makan disini lagi. Gara-gara wajah lo!" kataku dan langsung beranjak dari kursiku.

Tepat saat aku didepan pintu masuk kantin, aku berpapasan dengan Glen dan Tania.
"Hei.. Rin!" seru Glen sambil kemudian merangkulku. Kulihat Tania tersenyum menatap kami berdua.
"Tania, ini sahabat gue yang sering gue ceritakan itu." tutur Glen memperkenalkanku.
"Gue tau kok.. Kita kan sekelas." jawab Tania
"Aaaah! Iya ya.. kita kan sekelas."

Yaampun.. Glen benar-benar tak mengingat kita sekelas, semudah itu? Setahuku dia bukan tipe orang yang mempunyai daya ingat yang lemah sampai-sampai gak ingat kalau aku dan dia sekelas.

Aku tersenyum dalam kekecewaan dihatiku. Baru sebentar saja mengenal Tania, dia sudah melupanku dan entah kenapa dihatiku terasa ada sesuatu yang hilang.

"Rin, kami berdua ke kantin dulu ya.. Laper" kata Glen sambil melepaskan rangkulannya dariku
mm-Hmm.. baru saja mulutku membuka, kulihat Glen meraih tangan Tania.
"Yuk.." kata Glen sambil berjalan masuk ke pintu kantin.
"Eh ajak Karin lagi ya.." pinta Tania.
"Gak.. gak usah. Dia pasti sudah makan. Noh dia saja baru keluar dari kantin, sekarang giliran kita. Yuk.." kata Glen, "Duluan ya Rin. Bye.." lanjutnya.

Aku berdiri mematung ditempat itu melihat mereka berdua yang perlahan-lahan berjalan menjauhiku.

***

Beberapa hari berlalu.. Semakin dekat saja Glen dan Tania, sementara aku semakin kacau dengan perasaanku. Aku pun bingung dengan perasaan ini.

"Karin.. Karin.. hei.. hei bangun.. bangun.." Glen membangunkanku dari tidur siangku.
"Apa?" suaraku terdengar sedikit berat diakibatkan rasa ngantukku.
"Ayo.. ayo.. bangun. Bantuin gue nyari baju yang cocok buat gue." katanya
"Buat apaan sih?"
"Ah udah ntar baru gue jelasin. Skarang bantu gue nyari baju yang cocok dulu, yang keren deh pokoknya." katanya sambil menyodorkan kepadaku beberapa pasang baju yang dibawanya dari rumahnya. Rumah kami bersebelahan, jadinya ya gini..

"Nah ini nih.. cocok!" kataku
Glen cepat-cepat memakainya dengan tersenyum dan memelukku.
"Gue senang banget Rin.. lo tau gak, gue hari ini akan nembak Tania buat jadi pacar gue." ucap Glen

"APA?!!!" teriak hatiku. Seakan ingin meledak emosiku saat itu juga. Bisa kurasakan airmataku mulai tergenang dikedua bola mataku, tapi ku mencoba menahannya dengan tersenyum kecil pada Glen.

"Nah jadi gini nih ceritanya.. gue udah nyiapin tempat yang paling romantis di villa keluarga gue di puncak. Si Tania kan paling suka sama yang gituan. Nah gue akan ngasih dia hati ini. Kalau dia nerima gue, dia ambil tapi.." Glen tertunduk sejenak, "Tapi kalau gak.. yah dia matahin aja hati ini biar sama dengan hati gue yang patah kalo dia gak nerima gue." tutur Glen.

Penuturan Glen semakin terasa sakit saja dihatiku. Lidahku terasa kaku, tenggorokkanku seolah ada yang menahannya, kuusahakan mengatur kembali nafasku yang sedikit tercekat dibuatnya.

"Nah ya gitu deh.. Menurut lo gimana?" tanya Glen
"Ha? Apa?" Aku bali bertanya, sungguh sebenarnya aku tak ingin dia mengatakan itu lagi, aku berharap yang tadi ku dengar itu salah, bukan seperti itu. Tapi ternyata aku terlalu banyak berharap.
"Gue mau nembak Tania. Lo setuju kan?" tanya Glen, "Menurut lo gimana?" sambungnya lagi.
"Gue.. eeh, menurut gue itu sudah bagus. Semoga sukses." Lidahku terasa pahit mengeluarkan kata-kata itu dari mulutku sendiri. 

Ya ampun apa yang telah kulakukan? Bisakah aku melihatnya dengan cewek lain? Kalaupun aku gak menyukainya, kenapa hatiku harus sesakit ini?

Tak berapa lama kemudian, Glen pergi meninggalkanku sendiri dikamarku.
Aku menatap kepergiannya dari balik jendela kamarku yang terletak dilantai dua rumahku. Airmata yang sejak tadi kutahan, kini menetes begitu saja.

***

Keesokkan harinya..
Berita telah tersebar di sekolahku tentang hubungan Glen dan Tania. Yah karena Glen sudah seperti artis di sekolah jadinya apapun mengenainya pasti menjadi salah satu trending topik di sekolah, apalagi dikalangan cewek-cewek yang sering sekali terdengar olehku kemarahan mereka atau kadang terlihat histeris saat melihat Glen menggenggam tangan Tania di sekolah. Bisa kupahami apa yang cewek-cewek itu rasakan. Karena akupun merasakan hal yang sama..

"Yah ternyata bukan cuma cewek-cewek itu yah yang galau, tapi yang lagi duduk taman saat ini juga lagi galau sepertinya nih."
Suara seseorang dibelakang kursi ditaman sekolah yang sedang kududuki saat itu.
"Bukan urusan lo!" kataku
Perlahan-lahan Eza duduk disampingku.
"Galau itu nyesek ya? Buktinya bisa buat cewek sekuat kamu jadi rapuh juga."

Eza terdiam sesaat sebelum akhirnya mengarahkan pandangannya kearahku dan dengan tangannya dia meraih daguku agar aku menatapnya.

"Lo habis nangis ya?" tanyanya lagi.
Tapi kali ini raut wajahnya bukan seperti raut wajah seorang Eza yang sering sekali menggangguku.

"Bidadariku yang cantik.. kamu gak boleh nangis lagi ya.." katanya sambil memberi kutikkan kecil didahiku.
Sesaat dia membuatku terperangah dengan sikapnya yang lain dari sebelumnya.

"Lo apa-apaan sih?" kataku sambil menyingkirkan tangannya dari dahiku.
Eza hanya tersenyum kepadaku.
Bahkan senyumannya pun terasa lain bagiku. Bukan seperti Eza.

"Maaf.." samar-samar desisannya terdengar ditelingaku.
Kata maafnya pun ini terasa lain bagiku, benar-benar bukan seperti Eza yang kukenal.

Lama kami berdua terdiam. Sesekali kami berdua saling bertatapan. Bisa kulihat dengan jelas tampak dikedua bola matanya, sorot mata yang memang beda dari sebelumnya.

"Karin.." panggil Eza pelan
Pelan-pelan juga aku mengarahkan mataku kearahnya.

"Gue suka sama lo." ujar Eza

Mataku benar-benar tak bisa berkedip. Aku menatap matanya yang terus menatapku.
Tak bisa aku mempercayai ini, Eza.. Eza yang kukenal sering menggangguku, sering iseng terhadapku walaupun aku sering dijauhi cowok-cowok disekolah karena saking galaknya aku hingga gak ada satupun cowok yang ingin menjadikan aku kekasihnya. Tapi apa ini.. sekarang Eza ngomong kalau dia menyukaiku. Gak salah?

"Gue tau lo pasti terkejut mendengarnya. Tapi udah lama gue suka sama lo. Alasan gue sering gangguin lo disaat semua cowok disekolah ini menjauhi lo karena lo galak banget, adalah karena gue sayang banget sama lo. Liyat lo seperti ini membuat hati gue seperti diiris-iris. Gue khawatir banget sama lo. Gue peduli banget sama lo. Gue sayang sama lo, Rin.."

Penjelasan Eza tentang perasaanya membuat mulutku tak bisa mengeluarkan satu katapun. Mataku pun tak mau berkedip. Jantungku berdebar dengan kencang.

"Emang sih.. lo beda dari cewek-cewek yang lain. Tapi justru dibalik itu, itulah yang ngebuat gue jadi suka sama lo."

Aku tak bisa lagi mengerti semua. Aku tak mampu bersuara seolah ada yang menahan tenggorokkanku.

"Kenapa? Aneh ya? Tiba-tiba gue ngomong kayak gini?" tanya Eza, "Hehe.. gue juga ngerasa aneh sih, tapi entah kenapa semakin gue berusaha untuk gak larut dengan perasaan ini, justru rasa sayang ini semakin besar ke lo. Gue juga tau kok kalo lo sukanya sama Glen, tapi.." lanjutnya

"Za.." kataku perlahan memotong pembicaraannya
"Gak, lo gak perlu jawab apa-apa ke gue. Gue takut jawaban itu bukan jawaban yang ingin banget gue dengar tapi malah.."
"Za.." Aku mengarahkan pandanganku lagi kearahnya setelah airmataku menetes lagi dipipiku.
Entah mengapa aku jadi serapuh ini. Yah mau gimana lagi, sekuat-kuatnya besi suatu saat akan berkarat juga.

"Jangan.. jangan lo katakan apapun ke gue. Gue sudah bilang kan tadi, gue takut." kata Eza sambil tertunduk sesaat kemudian menatapku lagi sambilm tersenyum. "Tapi gue sudah lega kok.. Gue udah bisa ngungkapin perasaan yang selama ini gue pendam. Gue akan tunjukin betapa besarnya rasa cinta ini ke lo. Gue akan buktikan itu!" kata-katanya sungguh tegas terdengar olehku.
"Eza.."
Namun Eza tak membiarkanku melanjutkan kalimatku yang belum sempat kukeluarkan.
"Walaupun gue tau lo pada akhirnya gak bakalan milih gue, yang penting gue udah ungkapin dan gue akan tetap buktikan rasa cinta gue ini ke lo." katanya pelan sambil memandangku lekat-lekat.

"Gue pergi dulu.." kata Eza sambil beranjak dari kursi ditaman sekolah yang kami duduki bersama tadi.
Dalam hitungan detik, aku berlari dan memeluknya dari belakang. Entah apa yang ada diotakku saat itu, hingga hal yang tak pernah kupikirkan akan kulakukan akhirnya kulakukan juga. Aku memeluk Eza dari belakang.

"Jangan pergi.." kataku lirih
Hanya itu yang mampu kukatakan untuk menahannya.
Tak berapa lama kemudian, Eza membalikkan badannya dan langsung saja memelukku.
"Bodoh!" katanya sambil terus memelukku. "Memangnya siapa yang mau pergi?"
"Lo kan tadi mau pergi?" kataku pelan masih berada dalam pelukkan cowok tampan dengan dada bidangnya ini.
"Kan cuma pergi ke kelas.. ntar ketemu lagi."
Dia melepaskan sedikit pelukkannya dan menatap kedua mataku kemudian balik lagi memelukku bahkan lebih erat pelukkannya kali ini.

"Gue gak mungkin bisa pergi dari bidadari gue." ucapnya lembut
Aku tersenyum bahagia dalam pelukkannya.

Yah ternyata Tuhan itu memang baik dan adil. Dia sudah menyiapkan masing-masing orang dengan jodohnya masing-masing. Mungkin Tania adalah jodohnya Glen dan aku harus mengikhlaskan itu. Toh cinta itu akan datang dengan sendirinya, seperti sekarang ini.. aku dan Eza yang sering menggangguku ternyata menyukaiku. Eza menjadi malaikat tanpa sayap yang datang tuk menghapus sedihku dan menggantinya dengan kebahagiaan. Aku harus bersyukur untuk itu.

TAMAT

Rabu, 08 Mei 2013

Kesempatan Kedua (part 1)

-Kesempatan Kedua-

"Hari ini bertepatan dengan kejadian setahun lalu.. dimana aku harus kehilangan orang yang menyayangiku setulus hatinya dan malah memilih orang yang aku cintai tapi pada akhirnya malah orang yang aku cinta meninggalkan diriku demi orang yang dia cintai.
Andai waktu bisa kuputar kembali, aku akan memilih dia yang menyayangiku itu ketimbang memilih orang yang aku cintai tapi malah meningggalkanku. Andai saja waktu itu aku memilih Rei bukan Gino, pasti hidupku tak diliputi rasa penyesalan seperti ini. Andai saja waktu itu datang kembali, mungkinkah aku bisa bersama dengan Rei lagi?"
jemari Pitty terus saja mengetik keyboard laptop miliknya.

Tet.. Tet.. Tet.. 
Hp miliknya bergetar. Untuk sesaat dia menghentikan aktifitasnya didepan laptop dan mengalihkan perhatiannya tertuju ke layar hp miliknya -TELKOMSEL- ternyata pesan masuk dari operator.

"Mungkinkah aku bisa miliki Rei lagi seperti dulu? Aku ingin berlari dan mengatakan padanya kalau ternyata hidupku takan ada arti tanpa dirinya. Namun apakah itu mungkin? Mungkinkah kami bisa bersama lagi? Kini hanya tinggal keping-keping penyesalanku. Aku telah melukai hati Rei yang mencintaiku dengan memilih orang yang jelas-jelas tak memilihku. Andai saja aku punya kesempatan kedua, akan ku coba semampuku untuk membahagiakannya dan menyayanginya setulus hatiku.. " Pitty terus mengetik kata-katanya di blog miliknya, tanpa menyadari seseorang tengah membaca kata-katanya di monitor laptopnya.

"Serius?"
Suara seorang cowok dibelakangnya langsung saja membuat jemari Pitty berhenti mengetik. Suara yang masih tak asing baginya, suara yang sampai detik ini masih terus menghantuinya dengan rasa penyesalan terdalam.

Pitty tak berani menatap sosok cowok dibelakangnya ini, sampai akhirnya cowok itu duduk tepat didepannya. Dengan perlahan Pitty menatap cowok didepan duduknya ini. Ternyata benar, suara yang masih sangat dikenalnya itu tak lain adalah milik Rei.

Pitty berusaha mengatur nafasnya yang sedikit tercekat melihat cowok dihadapannya ini adalah Rei, mantan kekasihnya setahun yang lalu, yang dengan mudah saja dia tinggalkan dan memilih orang yang dicintainya.

Rei tersenyum lebar menatapnya.
"Hai Ty.. sudah lama ya, kita gak ketemuan? kira-kira udah setahun. Iya kan?" tanya Rei sambil terus tersenyum menatap Pitty, namun Pitty tak berani menatapnya.

"Ataukah aku harus move on dan melupakannya saja? entahlah! aku sendiri tak tahu aku harusnya gimana. Ingin rasanya aku untuk berlari ke dunia lain untuk melupakan segalanya, setidaknya sejenak saja aku ingin berhenti hidup dalam rasa penyesalanku padanya, pada Rei." Pitty melanjutkan tulisan di blognya yang belum usai.

"Pitty.." panggil Rei pelan. 
Jemari Pitty mulai berhenti untuk mengetik lagi, tapi dia hanya terdiam. Mulutnya seakan penuh, lidahnya seolah kaku, untuk berbicara. Karena sebenarnya dia pun tak tahu apa yang harus dia katakan pada Rei setelah setahun belakangan ini mereka tak pernah saling bertemu dan kini Rei muncul di hadapannya.

"Lo masih gak mau natap wajah gue?" tanya Rei.
Perlahan-lahan Pitty mengarahkan pandangannya ke cowok di hadapannya ini.

"Gue kangen masa-masa kita yang dulu. Masa-masa dimana gue bisa terus melihat senyum dan tawa lo yang ceria. Bukan lo yang sekarang! Bukan Pitty Aditia Sungkar yang berubah 180 derajat menjadi Pitty yang pemurung." tutur Rei
"Apa peduli lo sama gue? Bukan urusan lo kan, kalau gue kayak gini? Toh lo bukan siapa-siapa gue lagi!" kata Pitty dengan tekanan suara yang sedikit meninggi.
"Iya, iya, iya.. Memang gue bukan siapa-siapa lo lagi. Tapi asal lo tau.. gue masih sayang banget sama lo. Jelas?!!" bentak Rei

Bentakan Rei membuat hampir seluruh mata di kafe mengarah pada mereka berdua.
Airmata Pitty menetes dikedua pipinya. "Bagaimana mungkin orang yang telah ku sakiti masih mencintaiku hingga detik ini?" tanya Pitty dalam hatinya. Kata-kata Rei itu seolah terus terdengar dikedua telinganya, membuatnya semakin sakit. 

"Idiot!" kata Pitty dengan ketus, lalu berjalan secepat mungkin keluar dari kafe. Rei mengikutinya dari belakang.

"Aku memang idiot, tapi kamu sangat bodoh dan cukup idiot kalo kamu terus-terusan hidup dalam rasa penyesalan kamu!" teriak Rei saat sudah berada di depan kafe.
Mendengar itu Pitty menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Rei.
"Kamu gak tahu apa yang aku rasakan selama ini. Aku.."
"Zzzzzttt...." jari telunjuk Rei melekat dibibir Pitty. "Aku sudah gak peduli tentang apa yang terjadi dimasa lalu. Aku hanya mau satu.. kamu dan aku menjadi kita lagi. Kita mulai semuanya dari awal lagi." tutur Rei lembut

"Ta-ta..pi.." tapi aku takut membuatmu menangis lagi seperti setahun yang lalu..

Belum sempat kalimat itu dia teruskan, tiba-tiba Rei menciumnya..

Beberapa detik berlangsung. Dunia seolah berputar, seolah isinya kosong dan hanya mereka berdua saja. Helaan nafas Rei yang begitu hangat membelai kulit wajah Pitty, membuatnya harus menahan nafas untuk beberapa detik dan berusaha mengatur debaran jantungnya yang semakin kencang.



"Kamu mau kan?" tanya Rei perlahan ketika kedua pasang mata mereka saling bertemu. Pitty mengangguk pelan. Pitty tersenyum di dalam tangisnya. Rei ikut tersenyum lebar menatapnya.

Tindakan Rei yang dengan berani mencium Pitty didepan umum, ternyata membuat beberapa pasang mata yang mengarah ke tepat ke keduanya kadang terlihat sedang berbisik-bisik. Namun apa pedulinya.. Keduanya benar-benar dimabuk asmara.

                                                                                     to be continued..

Cinta Pertamaku

 -Cinta Pertamaku-

Sebut saja namaku Tarra.. 
Semenjak aku duduk dibangku sekolah menengah pertama, aku sudah terpesona dengan tatapan dan senyumnya, namanya Rezky dan sering disapa Eky. Hari demi hari berlalu, rasa itu menjadi semakin kuat, dari sekedar rasa suka bertambah menjadi rasa sayang dan cintaku padanya. Kata Mamaku sih itu cinta monyet maklum saat aku jatuh hati padanya itu saat aku kami sama-sama duduk di kelas tujuh, jadinya karena sering ketemu dikelas aku jadi semakin tak bisa melupakannya. Dia itu cinta pertamaku, tapi tak pernah aku mengatakannya kepada siapapun, sampai suatu hari rahasiaku yang selalu ku tulis di buku diaryku terbaca juga oleh beberapa sahabatku. 
Kini kami sudah duduk di kelas delapan, walaupun aku sejak kelas tujuh aku sudah berpacaran dengan beberapa cowok disekolahku dan bahkan senior-seniorku juga tapi itu tak membunuh rasa sayangku pada cinta pertamaku itu. Mungkin ini yang sering dibilang orang kalau "Cinta pertama itu memang indah dan sulit untuk dilupakan." 

Teng.. Teng.. Teng..
Bel tanda istirahat pun berbunyi .. Eky dan teman-temannya langsung saja berlari keluar lapangan basket dan seperti biasa mereka bermain basket sampai keringat-ringatan.
Saat itu hanya aku sendiri di ruangan kelas karena sahabat-sahabat dekatku dan teman-temanku hampir kebanyakan memilih berada diluar kelas dan bermain atau melakukan kesibukkan mereka masing-masing. 

Kulihat hpku bergetar .. Ku lihat layarnya -Cris-
Ada pesan masuk darinya, aku buka dan baca. Kaget! Ya karena ternyata tri sedang berada disekolahku dan menyuruhku keluar kelas dan menemuinya. Segera saja aku bangkit dari dudukku, dan berlari mendapati Tri yang sedang berada di koridor dekat gedung kelasku.

"Hei!" sapaku saat sudah berada tepat didepannya.
"Kalian lagi ngapain?" tanyanya
"Lagi gak ada guru yang ngajar, lagi rapat soalnya dan kebetulan lagi istirahat jadinya begini deh." kataku, "Nah loh.. ngapain kamu disini?"
"Gak cuma mau liyat orang yang ultah saja" kata Cris sambil tertawa
Aku mengerti maksudnya itu melihatku karena bertepatan dengan hari itu adalah ulang tahunku.
"Masuk sana gih! Aku mau pulang dulu.." kata Cris
"Baru datang udah pulang.." Aku mencibirkan bibirku
"Yah mau gimana lagi.." Cris meraih tanganku
"Eh tunggu-tunggu ada sesuatu yang mau aku ceritain ke kamu." kataku sambil berlari kembali ke kelas untuk mengambil hpku yang tadi kutinggalkan dikelas.
Cris mengerti dan duduk di koridor sambil menungguku.

Aku berlari masuk ke kelas dan saat aku keluar kelas, Eky yang duduk di samping pintu kelas menghalangi jalanku.
"Mau kemana?" tanyanya sambil mengusap keringat yang meleleh disekujur tubuhnya dengan baju yang tadi dia gunakan untuk bermain basket.
"Tuh temanku lagi datang kesini." sambil berjalan melewatinya
"Oh.." ucapnya sebelum akhirnya menghalangi lagi jalanku, "Siapa dia?"
"Temanku, namanya Cris." jelasku sambil berlari kearah Cris yang sedaritadi menungguku.

Lama aku mengobrol dengan Cris. Sesekali mataku menatap kecil kearah berdirinya Eky yang sejak tadi menatap kearah kami.
"Aku tak mengerti pertanda apa itu, mungkinkah dia juga punya perasaan yang sama sepertiku? Atau mungkinkah itu hanya perasaanku saja? Aaaaaargh! Entahlah tatapan matanya itu membuatku tak mengerti." gumamku dalam hati.

*** 

Untuk hari itu, aku berpikir mungkin saja aku yang terlalu kepedean hingga berpikir tatapan  matanya itu seolah tatapan mata cemburu. Ah sudahlah ..
Hari demi hari terus berlangsung dengan cepatnya. Kami sudah naik ke kelas sembilan. Bahagia juga perasaan deg-degan di diri kami masing-masing.
Saat itu kebetulan gedung sekolah kami sedang diperbaiki, jadinya kami sekolah siang sampai sore.

"Dia cantik, aku menyukainya." kata seorang cowok yang benar-benar membuat sekujur tubuhku menjadi kaku. 
Suara itu sudah tak asing lagi bagiku. Siapa lagi kalau bukan Eky. Tubuhku seakan tak bisa aku gerakan dari berdiriku menaiki tangga saat itu dan dengan diam aku terus mendengar curhatannya kepada sekelompok cewek-cewek kelas lain, yang bukan sekelas dengan kami.  Aku tahu dengan betul, bukan aku yang dimaksudkannya, karena beberapa waktu lalu aku mendengar sendiri sahabatku bercerita kalau Eky menyukai cewek lain, cewek yang sekelas dengan sekelompok cewek yang saat ini sedang berada dilantai dua dekat tangga naik ke kelas kami tepatnya bersama dengan Eky.

Tanpa sadar butiran bening jatuh dipipiku.
"Tarra.." panggil seorang sahabatku dari jauh, yang segera saja menyadarkanku dari lamunanku.
Kuhapus airmataku yang tadi sempat membasahi sedikit wajahku dan berbalik menuruni tangga. Ya, aku urungkan niatku untuk masuk ke kelas. Aku turun dan berjalan mengikuti sahabatku itu menuju dapur sekolah yang tepat berada didekat tangga dan tepat berada dibawah ruangan kelas kami.   
Aku berusaha untuk tak terlalu memikirkan kata-kata itu. Aku lampiaskan saja emosiku kepada seorang cowok yang saat itu menjadi kekasihku. 

*** 

Setelah hari itu, aku berusaha untuk tak memikirkannya lagi, tapi usahaku ternyata sia-sia saja. Semakin aku berusaha untuk melupakannya, semakin membuat otakku berkerja untuk memikirkannya dengan tak langsung membuat hatiku juga harus memikirkannya dan menangis karenanya.
Berbagai usaha aku lakukan dengan mencoba melakukan hal-hal yang kusenangi, misalnya dengan membaca novel atau komik.

Beberapa waktu kemudian..
Tak bisa lagi ku tahan kegalauanku. Sahabat-sahabatku yang melihatnya mungkin saat itu sudah tak bisa lagi bila terus melihatku seperti itu, jadinya hari itu tepatnya sore itu mereka mengatakannya pada Eky dengan jujur tentang perasaanku yang selama ini ku rahasiakan dari siapapun termasuk dirinya, dan perasaan yang selama ini ku pendam walau selama ini aku berusaha melupakannya dengan berpacaran dengan sederetan cowok yang mendekatiku.

Aku sudah tahu suatu saat sahabatku akan mengatakannya juga kepada Eky. Malu mungkin kata itu yang pantas kukatakan saat itu kepada diriku sendiri. Aku mencoba agar tak memperhatikan perbincangan mereka dengan Eky yang pelan-pelan menatapku dari luar jendela kelas.

Saat Eky masuk ke kelas, dia terus menatapku. Aku sadar tatapannya itu jadi aku berpura-pura saja membaca novel yang tepat berada diatas mejaku agar tak balik menatapnya.
Beberapa detik berlangsung tiba-tiba sebuah lagu yang diputar begitu dekat sekali terdengar olehku. Lagu yang paling aku suka saat aku duduk dikelas sembilan saat itu. Lagu itu berjudul "Sebelum Cahaya" yang dinyanyikan oleh grup band Letto. Suara musik dari lagu yang paling kusukai itu membuatku tak lagi berpikir apa-apa tapi langsung menolehkan kepalaku ke kiri dan ke kanan untuk mencari-cari darimana asal suara lagu itu.

Tak bisa dihindarkan lagi mataku tepat bertemu dengan mata Eky yang tersenyum menatapku. Ternyata suara itu berasal dari hp miliknya yang sedang dia pegang. Aku mencoba menghindari tatapan matanya dan mencari-cari dikelas siapa yang sedang memutarnya, namun tak kutemui satupun yang memutarnya. Mataku memaksaku untuk lagi-lagi balik menatap Eky yang masih terus menatapku dan tersenyum kepadaku.

Dag.. dig.. dug..
Jantungku berdebar dengan kencang. Mata kami terus saling bertatap satu sama lain. Aku menelan liurku sendiri berkali-kali. Mataku berkedip berulang kali menatap matanya yang sama sekali tak berkedip dan terus tersenyum melihatku. Kebetulan saat itu kamu duduk sederetan kira-kira dua jajar yang memisahkan dari tempat duduk kami masing-masing.
"Bodoh! Bodoh!" gumamku pada diriku sendiri. Bodohnya aku, menganggap semua itu istimewa. Tatapan itu, entahlah.. sudah tak bisa ku hindari lagi mataku yang terus menatapnya begitupun matanya yang masih terus menatap mataku. Sampai akhirnya aku kaget dengan tepukan seorang sahabatku yang lain yang membawa titipan jajanku yang tadi dibelinya.

"Makasih.." kataku.
Dalam hati aku sedikit legah bisa terhindar dari tatapan matanya. Bila aku terus menatapnya lama-lama bisa-bisa mataku mengeluarkan air yang takan mungkin aku hindari lagi.

***

Teng.. Teng.. Teng..
Bel istirahat berbunyi. Aku mengambil kursiku dan duduk dipojokkan kelas sambil membaca novel yang sejak tadi kubaca agar menutupi sedikit rasa maluku karena Eky sudah tahu tentang perasaanku.

"Hai." sapa Eky. Mataku terbelalak namun masih dalam keadaan tertunduk membaca buku. Ku coba tuk tak melihatnya yang sudah berada tepat dikursi didepanku. "Apaan sih ini?" tanyanya sambil merebut novel itu dari tanganku dan membuka-buka halamannya satu per satu.
"Eky!" seruku dengan kerasnya
Jari telunjuknya melekat dibibirnya, tanda menyuruhku untuk diam saja.
"Kembalikan.." pintaku pelan
Dia mengembalikan buku itu dan duduk menatapku sambil tersenyum.
"Apa?" tanyaku pura-pura tak tahu dengan senyumannya itu.
Dia menggelangkan kepala.

"Aku sudah tahu kok, kalo kamu menyukaiku." ucapnya sambil tersenyum setelah beberapa detik yang lalu kami berdua duduk terdiam.
Aku kaget mendengar kata-katanya. Mengapa dia senekat ini langsung mengatakannya kepadaku? Padahal dia menyukai cewek lain, bukan aku. Aku diam saja,
"Iya kan?" tanyanya memecah keheningan dipojokan kelas.
"Salah?" aku balik bertanya
Sambil tersenyum, "Gak salah kok. Aku malah senang kamu menyukaiku."
Aku menatapnya. Kenapa kata itu keluar dari mulutnya? Mungkinkah aku bermimpi ataukah aku.. ah sudahlah, aku tak ingin berharap lebih banyak. Aku takut untuk terjatuh, itu pasti akan sangat sakit.
Aku sudah kehabisan gaya saat itu, jadi kukeluarkan permen milkita tangkai dari sakuku dan memberikannya pada Eky. Maksudku agar cukup sampai disitu saja, aku sudah takut mendengar kelanjutannya.

***

Hari itu benar-benar membuatku hampir mati saja didepannya. Hari itu terus masuk keotakku dan membuatku bermimpi tapi aku terus berusaha untuk melupakannya karena aku tahu, Eky menyukai cewek lain.

Beberapa waktu kemudian..
Kami akhirnya pindah ke kelas baru kami yang baru saja selesai diperbaiki.
Saat itu juga tinggal beberapa bulan lagi, kami akan mengikuti ujian nasional. Jadinya guru-guru sedang gencar-gencarnya mempersiapkan kami untuk memasuki ujian nasional.
Keesokkan paginya..
Pagi-pagi kami semua sudah berkumpul di sekolah untuk melaksanakan jadwal ujian praktek penjaskes dari salah seorang guru.

"Ra," panggil Eky saat menghampiriku yang sedang sibuk mengikat tali sepatuku. Aku menolehkan kepalaku keatas menatap Eky yang berdiri disampingku. Aku berdiri dan menatapnya. "Tolong simpan ini." katanya sambil meraih tanganku dan meletakkan sebuah mainan kalung yang berbentuk hati, berwarna coklat dan bertuliskan namanya "Eky" lalu mengatupkan jari-jariku dengan kedua tangannya.
Entah apa maksudnya saat itu, tapi aku berpikir yang baik-baik saja mungkin dia takut benda itu jatuh jadi dia menitipkan kepadaku.
"Baiklah.." kataku sambil menyimpannya disaku jaket putihku.

Setelah selesai kami melakukan pemanasan dan duduk dilapangan basket bersama melepas lelah dengan membentuk lingkaran, aku teringat akan mainan kalung yang dia titipkan kepadaku tadi.
"Eky.. Eky.." panggilku dengan sedikit kuat karena suasana disekitar kami benar-benar berisik.
Eky menolehkan kepalanya padaku yang memberikan mainan kalung miliknya itu kembali kepadanya.
"Buat kamu saja." katanya
"Ha? Aku?"
"Simpan buat kenang-kenangan" kata Eky sambil tersenyum kemudian melanjutkan perbincangannya dengan teman-temannya.
Ya Tuhan.. apa maksudnya ini? Aku sempat bingung dengan kata-katanya dan tatapan matanya juga sikapnya benar-benar aneh dan tak biasa bagiku. Aku tahu dia tak mempunyai perasaan apa-apa kepadaku karena dia menyukai cewek lain, tapi perhatiannya, tatapan matanya, senyumnya dan sikapnya yang belakangan ini benar-benar membuatku tak mengerti dengan perasaanya.

Aku menuruti saja kata-katanya itu. Kami pun melanjutkan dengan ujian praktek penjaskes saat itu. Setelah selesai giliranku untuk ujian praktek, aku duduk dan mengambil novel yang ikut ku bawa saat itu dan membacanya tanpa mempedulikan seseorang yang duduk disampingku.
"Serius amat.." katanya
Aku kaget mendengar suara itu, sambil menutup novel yang kubaca, ku tatap wajahnya sebentar.
"Eky, ngapain kamu disini? Giliranmu sebentar lagi kan?" tanyaku
"mm-Hmm.."
"Lalu? Kenapa masih disini?" tanyaku lagi
Eky hanya tertawa kecil sambil menatapku.
"Oh ya.. mana mainan kalungku tadi?"
"Oh.. ini.." kataku sambil menyodorkan benda itu. "Ambilah.."
"Gak. Kamu simpan saja." katanya
"Loh?" keningku terangkat
"Aku hanya ingin melihatnya sebentar kok." katanya lalu berlari kembali memasuki lapangan basket karena giliran untuknya berpraktek hampir tiba.
"Dasar aneh!" gumamku dalam hati, namun aku tersenyum melihat benda itu dan melihat dirinya yang sedang praktek.

***

Keesokkan paginya, aku datang kesekolah sambil terus mencari-cari benda itu. Ya benda itu entah bagaimana caranya tiba-tiba hilang dari dalam saku jaketku. Entah jatuh dimana, aku sendiri tak tahu. Aku terus berjalan menyusuri jalanan yang kemarin aku lalui hingga masuk ke kelas kami.

Setibanya aku dikursiku dan mendudukinya, Eky yang ternyata mengikutiku dari pintu kelas dan masuk kekelas hingga menatapku tanpa kata saat tiba didepan mejaku.
"Eky.. kamu marah?" tanyaku melihat tatapannya yang terasa asing bagiku. Aku sudah tahu pasti sahabatku atau temanku yang waktu itu pulang bersamaku sudah menceritakannya kepada dia.
"Kamu.. kalau kamu gak mau nyimpan benda itu dari aku, ya sudah tinggal bilan saja! Kenapa kamu harus menerimanya terus kamu menghilangkannya!" bentak Eky. Bisa kurasakan tekanan nada suaranya meninggi saat itu. Kemudian dia berjalan keluar kelas, entah kemana.

Aku duduk terdiam dikelas, tak ingin berbicara dengan sahabat-sahabatku ataupun teman-teman kelasku. Aku hanya mau saat itu tahu dimana benda itu bisa sampai terjatuh dari sakuku. Padahal sama sekali tak bocor ataupun tak mungkin jatuh dari sakuku karena kemarin aku hanya duduk dengan tenang membaca novel sampai akhirnya kami pulang dan baru kusadari benda itu sudah tak ada disakuku.

Beberapa jam berlalu, aku mencoba baik-baik saja tapi saat aku menatap mata Eky terasa dia bukan Eky yang kukenal, mungkin dia masih marah kepadaku.

"Tarra.." sapa seorang cowok yang tak lain adalah sahabatnya Eky dan tentu saja teman sekelas kami. "Sebentar datang ya.. diacara ulang tahunku." katanya
"Dimana?"
"Di rumah baruku. Tau kan?"
"Tau sih.. tapi jauh. Takutnya papa dan mamaku gak ngizinin aku buat kesana."
"Yah, gimana dong.."
"Ntar aku pikirin deh, kalau jadi aku pasti datang."
"Okeh sip aku tunggu ya" katanya

***

Bel pulang berbunyi, kami semua berbaris dilapangan. Aku dengan tenang dan diam berdiri dibelakang sahabat terdekatku. Eky datang dan berdiri disampingku dibarisan untuk cowok-cowok.
"Ra, kamu mau keacaranya Jandri kan?" tanya Eky yang kini bukan disampingku lagi tapi tepat didepanku dan menatapku.
"Aku gak bisa bilang, jadi atau gak jadi."
"Yah jangan gitu dong." kata Eky
"Nanti aku izin mama dan papaku dulu. Kalau jadi, aku pasti datang."
"Benar? Aku tunggu ya?" katanya, "mm-Hmm, atau kalau jadi datang, tinggal bilang saja ntar aku jemput dengan motor."
"Cie.. yang mau dijemput. Terima saja Ra." kata seorang temanku yang mendengarkan percakapan aku dan Eky sejak tadi.
Aku tertawa kecil mendengar kata-katanya.
"Memangnya kamu tau bawa motor? Jangan sampai ntar bukan ke rumahnya Jandri tapi malah masuk ke balik papan."
"Yee ngeledek.. Serius, aku bisa."
"Gak .. biar saja Ky, biar saja nanti papaku yang antar kalau aku jadi datang."
"oke! aku tunggu."
Malamnya aku gak bisa datang karena gak diizinkan kedua orang tuaku.

***

Besok harinya ..
Aku mendengar dari teman-temannya Eky kalau dia semalam menungguku datang. Namun aku tak kunjung datang ke acara itu.

"Eky.." panggilku dari kejauhan sambil berlari menghampiri duduknya
"Maaf, aku sudah deng.."
"Sudahlah gak apa-apa." potong Eky dengan ketus dan segera berdiri dan berjalan meninggalkanku begitu saja yang sedang menatap kepergiannya.

***

Hari demi hari berlalu, ujian nasional pun telah kami lewati dengan baik. 
Kini tiba saatnya ulang tahunku. Seperti biasanya ulang tahunku selalu diadakan disekolah. Kedua orang tuaku selalu menyediakan makanan dos yang sering dikirim ke sekolahku untuk semua guru dan teman-temanku.
Hari itu untuk pertama kalinya aku tak melihat Eky disekolah. Aku sudah putus asa, benarkah dia marah kepadaku?
Lantunan lagu selamat ulang tahun dinanyikan beberapa sahabat dekatku, teman-temanku dan beberapa adik tingkat yang termasuk anggota OSIS disekolah kami, kebetulan waktu itu aku merupakan sekretaris OSIS jadinya anggota OSIS pun ikut kuundang masuk ke ruangan yang dipersiapkan untuk acara ulang tahunku.

Setelah selesai berdoa, aku sangat senang melihat didepanku tak jauh dari berdiriku ternyata Eky sudah ada disitu. "Terima kasih kamu masih mengingat ulang tahunku." gumamku dalam hati.
Jabat tangan ucapan selamat pun berlangsung, Eky menghampiriku dan menjabat tanganku sambil mengucapkan kata-kata ucapan selamat dalam bahasa Inggris.

***

Hari yang kami tunggu pun tiba. Kami akan mendengar hasil kelulusan kami. Rasa bangga dan haru tampak pada wajah kami masing-masing. Kami semua lulus dengan hasil yang memuaskan.
Tapi satu hal yang menggangguku, aku mendengar kalau dia akan melanjutkan sekolahnya di luar daerah yang kami tinggal saat ini.

Yah.. Mungkin memang aku takan bisa memilikinya, karena dia bukan tercipta untukku. Tapi ini kenangan yang sampai detik ini masih teringat dibenakku.

"Terima kasih ya.. kamu sudah datang dihidupku. Walaupun aku gak tahu perasaanmu kepadaku seperti apa, tapi aku bahagia pernah melewati hari-hari yang takan aku lupakan seumur hidupku. Terima kasih sudah menjadi cinta pertamaku. Kamu punya kenangan tersendiri."

TAMAT

Selasa, 07 Mei 2013

SOULMATE


-SOULMATE-

Hari yang cerah, langit tampak biru bersih tanpa setitik mendung pun yang menodainya. Angin yang berhembus pun terasa sejuk saat membelai kulit. Hari itu adalah hari pertama bagi siswa-siswi lulusan sekolah menengah pertama untuk mendaftarkan diri mereka ke sekolah menengah atas yang menjadi pilihan mereka masing-masing. Di daerah itu ada sebuah sekolah yang menjadi pilihan terfavorit.
Berbondong-bondong siswa-siswi berseragam putih biru datang untuk mendaftarkan diri mereka. Tak ketinggalan juga El Saskia Wijaya berjalan menyusuri pelataran halaman depan sekolah yang merupakan sekolah yang masih ada dibawah yayasan yang sama dengan sekolahnya yang sebelumnya.

"El.." teriak seorang cowok dari jauh. El tahu dengan jelas suara siapa itu.. "El tunggu..!" lagi-lagi suara itu memanggilnya dari jauh, sebelum akhirnya El membalikkan badannya menatap sosok cowok yang sedang berjalan mendekatinya bersama kedua temannya yang lain.
"Kalian.." El tersenyum melihat ketiga cowok yang tak asing lagi baginya. 
Apalagi si Anto Hendra Kusuma, dia adalah sahabat tempatnya sering berbagi suka dan duka, ya karena mereka sama-sama berasal dari lulusan sekolah menengah pertama yang sama.
"Yuk masuk." ajak Felix, salah satu sahabatnya Anto.
Mereka berempat masuk bersamaan untuk mendaftarkan dirinya masing-masing kesekolah itu.

Singkatnya, mereka berempat diterima disekolah itu. Disana mereka juga bertemu dengan kedua sahabat mereka yang lain. Mereka berenam, tepatnya El, Anto, Felix, Opiq, Itha dan Fenska, membuat sebuah geng yang diberi nama Felita Mars yang merupakan gabungan nama mereka untuk lebih mengikatkan tali persahabatan mereka berenam. Seiring berjalannya waktu persahabatan mereka bukan hanya persahabatan tapi  sudah seperti sebuah keluarga kecil. Tali persahabatan mereka begitu erat hingga apapun mereka lakukan bersama, sehati dan sejalan pikiran. Persahabatan mereka juga diketahui oleh orang tua mereka masing-masing. Hubungan persahabatan yang begitu erat diantara mereka  kadang juga membuat teman-teman mereka yang lain merasa iri,  sehingga kadang mereka sering dipikir berpasangan. 

***

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Kini mereka sudah naik ke kelas 3 SMA.Persahabatan yang awalnya berjalan dengan mulus, kini harus tiba pada tahap-tahap ujian dimana harus membuat mereka menangis bersama.
Awalnya semuanya baik-baik saja tapi entah darimana datangnya perasaan itu datang, Anton dan El sama-sama saling menyukai satu sama lain.

Hari itu tanggal 2 April 2011 , ya seminggu sebelum memasuki ujian nasional..
Mereka berenam beramai-ramai merayakan hari ulang tahun Ave, adiknya El. Mereka duduk bersama, bercanda gurau, menikmati sunset ditepi pantai.
Beberapa saat terlah berlalu. Matahari telah berpulang berganti bulan yang menyinari mereka yang masih asyik bermain ditepi pantai.

"El.." panggil Anto yang kemudian duduk disamping El yang sedang melihat sahabatnya yang lain berlari-larian saling mengejar satu sama lain ditepi pantai.
"mm-Hmm." El balik menatap Anto yang sedang menatap wajahnya lekat-lekat. Mata mereka saling bertatap satu sama lain.
"Aku suka kamu," kata Anto sambil tersenyum dan terus menatap mata El, "Lebih tepatnya, aku sayang kamu. Aku ingin hubungan kita, bukan cuma sekedar sahabat. Tapi.." Anto lebih serius menatap jauh kedalam bola mata cewek disampingnya ini, "Tapi lebih dari sahabat. Aku ingin kamu jadi kekasihku, cewek terakhir dihidupku." tutur Anto pelan

Penuturan Anto benar-benar membuat hati El melonjak kegirangan karena dia juga merasakan hal yang sama terhadap cowok disamping duduknya ini, hanya saja apa arti persahabatan mereka selama ini? bagaimana perasaan sahabat-sahabatnya? apa yang akan mereka katakan kalau tahu hal ini?
Persahabatan dengan Anto bukan hanya dari masuk SMA, tapi semenjak SMP mereka berdua telah bersahabat, lalu apa yang akan terjadi dengan persahabatan mereka dengan yang lainnya? Aaaaaaarrrrgh! El benar-benar ditempatkan didalam pilihan yang sulit. Manakah yang harus dipilihnya, persahabatan ataukah cinta?
Tanpa tersadar airmatanya berguguran membasahi pipinya mendengar penuturan Anto. Dia tak ingin membohongi perasaanya sendiri, tapi dia juga tak tahu harus memilih yang mana diantara sahabat dan cinta. Beberapa detik berlangsung, dia memutuskan untuk memilih keduanya, sahabat dan cinta. Namun karena persahabatan keduanya dengan yang lain, hingga mereka berdua dengan diam-diam menyembunyikan status hubungan mereka yang kenyataannya bukan hanya sekedar sahabat tapi sudah lebih dari sekedar sahabat, kekasih.. ya itu tepatnya!

***

Tak lama kemudian, akhirnya satu per satu dari mereka mulai mengetahui hubungan keduanya, tapi karena memikirkan persahabatan mereka, mereka memutuskan untuk diam dan menunggu Anto dan El untuk berbicara.

Suatu malam.. 
Mereka berenam mengadakan malam renungan bertempat di rumahnya Itha. Suasana malam mulai hening, tak satupun mereka berbicara. Hanya duduk dan saling menatap satu sama lain. Selang beberapa detik kemudian..

"Itha, Fenska, Felix, Opiq.." sapa El, membuka pembicaraan. "Aku ingin bilang hal yang mungkin saja akan membuat kalian shock atau marah. Selama ini aku.."
"El.." potong Anto sambil menatap El lekat-lekat dan menggenggam tangannya El yang saat itu duduk disampingnya.
Mata keempat sahabat mereka yang lain masih menatap mereka penuh tanya dan menunggu kejujuran mereka berdua.
"Teman-teman, hubungan aku dan El bukan seperti yang kalian duga selama ini bahwa kami hanya sebatas sahabat!" tegas Anto dan beberapa detik berlangsung Anto dan El menjelaskan tentang hubungan keduanya, sebelum akhirnya Anto mengatakan, "Kami berdua saling mencintai dan sudah menjalani hubungan beberapa waktu belakangan ini. Maaf kami gak ingin memberitahu kalau.."
Belum sempat Anto melanjutkan kata-katanya, Felix yang saat itu sudah menangis mendengar penuturan mereka, tiba-tiba jatuh tergeletak dilantai.

Malam itu akhirnya semuanya mereka harus ungkapkan kepada sahabat-sahabatnya dengan jujur dan lambat laun mereka mulai menerima hubungan yang terjadi antara kedua sahabat mereka itu.

***

Beberapa hari berlalu dengan cepat..
"El .." panggil Itha dan Fenska yang menyadari El sedang duduk sendiri dibawah tangga gedung sekolah mereka, "Kenapa kamu?"
"Gak, gak kenapa-kenapa.." sambil mengusap wajahnya yang kelihatan agak sembab.
"Kamu nangis? Anto ngelakuin apa ke kamu? Kok wajahmu jadi gini?"
"Gak .. gak kenapa-kenapa kok.."
"Bohong!" seru Itha yang langsung berlari mendapati Felix dan Opiq yang baru saja datang, disusul Fenska.
"Fens.. Fens.. Itha!" teriak El ketika sahabat-sahabatnya itu sudah pergi meninggalkan duduknya tanpa mendengar penjelasannya kenapa wajahnya kelihatan begitu sembab.


"Anto!" teriak Opiq dan Felix
Anto segera berhenti bermain basket, sambil tersenyum dia berlari mendapati keempat sahabatnya yang berdiri diluar lapangan.
"Hei.. main yuk!" ajak Anto
"El kenapa? Apa yang kamu lakuin ke dia?!" tanya Itha dengan ketus
Anto mengerutkan keningnya. Ya dia memang tak mengerti dengan apa yang dimaksudkan sahabatnya itu.
"Maksudnya?" Anto balik bertanya
"Kenapa wajahnya seperti orang yang baru habis nangis?" tanya Itha lagi

Beberapa detik berlangsung terjadi sedikit adu mulut antara mereka berlima. Tapi Anto dengan sabar menjelaskan kepada sahabat-sahabatnya dan juga dengan tenang berusaha menghadapi kemarahan sahabat-sahabatnya itu kalau-kalau ada yang terjadi diantara hubungan Anto dan El.

***

Waktu terus berlalu, ujian nasional pun berakhir dengan baik. Hasil kelulusan mereka terima dengan rasa bangga dan bahagia. 
Sementara hubungan keduanya berjalan dengan baik walaupun terkadang keduanya menghadapi banyak masalah dalam hubungan mereka tapi mereka mencoba untuk terus bertahan sampai akhirnya keduanya memutuskan untuk melanjutkan hubungan mereka ke tahap yang lebih serius. Perasaan senang dan terharu dari keduanya, hubungan mereka sudah berada ditahap yang lebih serius dan bukan hanya itu, tapi hubungan keduanya pun direstui oleh sahabat-sahabat dan keluarganya masing-masing.
Walaupun sekarang mereka berdua terpisahkan oleh waktu dan jarak, tapi tidak dengan cinta mereka yang terus bertahan walau kenyataannya banyak rintangan yang sering mereka hadapi.

***

Setahun berlalu .. tepat sebelum tanggal 2 April 2012 El jauh-jauh datang dari Jakarta, tempat dimana dia kuliah, untuk mengunjungi kekasih hatinya itu yang memang saat itu melanjutkan kuliahnya di Jogjakarta.

"Happy Anniversarry sayangku.." kata Anto sambil mencium kening El dan menyerahkan sebuah boneka padanya.
Perasaan haru dan bahagia tampak pada kedua pasang mata ini.

Singkatnya hubungan itu terus berlanjut dengan baik, hingga memasuki tahun 2013 tahun yang sangat dinantikan keduanya untuk kembali merayakan hari jadi mereka yang kedua.

Namun siapa yang menyangka ..
Bila pada akhirnya hubungan yang mereka bangun bersama harus kandas ditengah jalan.
Entah mengapa hubungan yang terjalin pada awalnya indah, dan dilandasi doa dan ketulusan harus berakhir begitu saja.. Sabtu, 4 Mei 2013 menjadi akhir dari segalanya. Mereka memutuskan untuk berpisah.

"Terkadang suatu keputusan itu sangat sulit untuk diambil. Tapi akan lebih baik mengambil suatu keputusan daripada tidak sama sekali. Intinya, kesempatan itu hanya akan datang sekali dan bahagia di hidup kita itu kita yang menentukannya sendiri."

TAMAT