welcome to my blog

welcome to my blog

Jumat, 23 Agustus 2013

Ini Saatnya Melepaskanmu dan Mencoba Bangkit Meski Aku Tahu Aku Rapuh


Dia berubah! Bisa kurasakan perubahan sikapnya itu beberapa minggu belakangan ini semenjak kepergiannya dalam mengikuti kegiatan mahasiswa. Aku bisa mengerti itu, hanya saja belakangan ini aku pun membutuhkannya tapi dia tak pernah ada waktu semenit untuk menghubungiku. Apa ini wajar? Diantara 24 jam yang Tuhan berikan untuk dia, tak ada semenit pun waktunya untuk menghubungiku. Pokoknya dia berbeda, saat kami berdekatan itulah hal yang membahagiakan tapi semuanya terasa berbeda semenjak kami berjauhan .. Entah itu karena aku atau karena dia dengan dunianya yang seolah-olah menempatkanku di nomor sekian dalam hidupnya.

Aku duduk menunggu ada dering sms di handphone pink milikku. Sesekali kulayangkan pandanganku menatap  ke layar HP yang tetap tak kunjung berdering sudah hampir seharian ini.
Sudah lebih dari 10 SMS yang ku kirimkan, namun tak ada satupun balasan dari pemilik nomor belakang 049 itu. Aku tahu pasti dia sedang sibuk dengan kegiatan mereka disana, namun apa sebegitu sibuknya dia sampai-sampai sama sekali tak sempat membalas SMSku sekali saja?

Sesekali aku menghela napasku bahkan sesekali aku mendengus kesal. Dimana kamu? Beberapa minggu ini kamu selalu begini! Aku selalu ditinggal tanpa kabarmu. Saat aku sudah mulai lelah menunggumu, aku mulai mengeluh padamu bahkan terkadang aku mengomel padamu. Awalnya kamu selalu jengkel tapi paling cepat tiga jam-an kamu mengirim pesan maaf padaku atau paling lambatnya sehari baru setelah itu kamu meminta maaf. Itu bisa ku mengerti mungkin kamu lelah bila mendengar aku mengeluh atau mengomel ketika kamu tak membalas atau menjawab panggilanku. Tapi sekarang .. dimana kamu? Akankah kamu melakukannya sekali lagi? Tak bisakah kamu mengerti aku ini pacar kamu dan butuh kamu! Lagi-lagi aku menghela napasku ..

Dimana kamu? Tahukah kamu aku rindu kita? dan aku butuh kamu. S'karang kamu benar-benar membuatku .. merasa kehilangan seseorang yang aku kenal dan aku cintai. "Kimmy"

Lamunanku sedaritadi pun buyar ketika Troy tiba-tiba muncul dan duduk disampingku. Belum sempat pula kumelanjutkan kalimatku "merasa kehilangan seseorang yang aku kenal dan aku cintai."

"Hey.." sapaku pelan sambil berusaha melupakan lamunan yang sejak tadi merajai isi otakku.

Troy menatapku dengan pandangan menyelidik. Aku sedikit gugup saat melihat dia terus menatapku dengan mata sedikit dikecilkan seolah dia adalah detektif dan aku adalah tersangkanya disini.

"Kenapa?" tanyaku, berusaha mengalihkan pembicaraan dengan mulai berdiri dari kursi dan merapikan kertas yang berhamburan yang menjadi sasaran pelampiasan emosiku.

"Kamu tuh yang kenapa?!" Troy sedikit mengeluh, "Sejak tadi aku ketuk pintu kamarmu, tak ada jawaban sama sekali. Akhirnya aku masuk dan .."

Kali ini aku yang menatap Troy dengan seksama. Ah.. iya bodohnya aku! Troy sudah di kamarku.. Mengapa pikiranku selambat ini baru menyadari sejak tadi aku dan Troy sedang berbincang.

"Kenapa?" Troy balik bertanya kepadaku sambil mengerutkan keningnya.

"Ah yaa.. sorry.." Aku menghembuskan napasku yang tadi sempat kutahan sejenak.
"Kamu sepertinya sedang galau lagi ya?" tanya Troy lagi.
"Galau?" Aku balik bertanya, "Ah gak..gak.. gak kok!" sangkalku, sambil terus berusaha tak memandang matanya Troy yang sedang menatapku lekat-lekat, dan tetap merapikan beberapa pakaianku yang sedikit berserakkan ditempat tidurku.
"Gak usah bohong sama aku Kimmy. Aku tahu kamu.. Sejak tadi pikiran kamu gak disini. Aku perhatikan semenjak beberapa hari belakangan ini kamu selalu begini."

Troy .. Dia adalah salah satu sahabat karibku semenjak kami kecil. Dia selalu mengerti keadaanku, seperti saat ini contohnya. Aku tak bisa menyembunyikan kegalauanku ini dihadapannya. Tentu saja karena kami bersahabat semenjak kecil jadinya apapun kegalauanku pasti dia akan segera menyadarinya.

"Aku .. huufht .." Aku menarik napasku dalam-dalam berusaha menenangkan pikiranku dulu. Lalu dengan perlahan kuceritakan kegalauanku padanya. Dia mendengarnya dengan seksama.

"Jadi begitu masalahnya?"
Aku mengangguk pelan.
"Mungkin dia lagi sibuk Kimmy .. Yah kamu juga jangan langsung negatif thinking dulu dong Kimm. Kami laki-laki walaupun sesibuk apapun, kami akan selalu mengingat wanita yang kami sayang. Itu sih faktanya. Percaya saja sama dia."
"Aku percaya sama dia. Tapi coba kamu pikir seharian dia hilang kabar gitu aja. Sudah kukirimkan SMSku berulang kali, aku menelponnya pun berulang kali tapi sama sekali tak ada respon satupun darinya."
"Coba kamu telpon lagi .."
Dengan senyumanku yang hampir tampak samar dibelahan bibirku, aku mengiyakan kata-kata Troy. Mungkin Toy benar, mungkin Alfred sedang sibuk dan belum bisa menghubungiku.

***

Malamnya ..

Masih sama seperti siang tadi, kukirimkan pesanku padanya berulang kali namun tak kunjung mendapat balasan. Karena pada dasarnya aku bukanlah orang yang sabaran, kucoba kuatkan hatiku untuk menelponnya.

"Halo" jawab Alfred
Hatiku langsung melonjak kegirangan. Akhirnya dia menjawab teleponku.

"Gak ada orang yang bicara?!" tanyanya ketus, langsung menutup telpon. Padahal aku baru mau membuka suaraku disaat yang bersamaan .. Tet .. Tet .. Tet .. -Bunyi telepon ditutup-
Telepon kedua tak diambil. Aku mengirim SMS lagi padanya, minta dia untuk menerima teleponku. Telepon ketiga, akhirnya dia menjawabnya.

"Halo .."
"Halo sayang.."
"Ya halo .. "
"Sayang kok ditutup telponnya tadi? Aku baru mau bicara sudah ditutup telponnya." kataku manja. 
"Makanya .. !!" serunya dari seberang telpon.
"Sayang, kok SMSku gak dibalas-balas hampir seharian ini?" tanyaku dengan pelan takut kata-kataku membuat dia menutup telpon tiba-tiba lagi seperti tadi misalnya, seperti beberapa hari lalu dan yang sering terjadi belakangan ini.

Dia tak menjawab pertanyaanku malah sibuk berbicara dengan seseorang atau bahkan beberapa orang. Di sela-sela itu aku mendengar suara bising seperti dijalanan. Entahlah .. pikiranku mulai kembali kacau, tapi ku usahakan tuk kuatkan hatiku sendiri dengan mengulang pertanyaanku lagi .. Masih sama tak ada jawaban atas pertanyaanku, padahal aku sangat ingin mendengar penjelasannya dan ingin dia tahu betapa aku merindukan dirinya, merindukan kita.

"Alfred.." panggilku

"Sayang.." aku terus memanggilnya tapi kuusahakan emosiku tak memuncak dengan sikapnya yang mengacuhkanku. "Alfred!" Teriakku. Habis sudah batas kesabaranku. Aku terlalu di acuhkan dan tak di anggap seperti ini.

"Yaa.." jawabnya, seolah-olah jawabannya tak merasa bersalah sama s'kali atas sikapnya padaku.
Aku menghela napasku dalam-dalam berusaha tenang lagi.

"Kok gak dibalas sms-smsku sayang? Kemarin juga gitu. Lalu tadi pagi sayang hanya membalas semua smsku dengan ucapan selamat pagi setelah itu gak ada lagi kabar apapun. Kenapa?" tanyaku masih dengan intonasi manja.

Lagi-lagi dia tak mempedulikanku .. Emosiku pun memuncak! Kesabaranku pun ada batasannya untuk semua ini.

"Alfred"
"Aku gak mau balas SMS kamu." jawabnya singkat.
Aku kaget mendengar kalimat itu. "Apa?" tanyaku, "Gak mau balas SMSku?" Aku mengulang kata-katanya, "Kenapa gak mau balas SMSku?" tanyaku lagi. Kata-kata itu seakan-akan sedang memporak-porandakkan kepalaku hingga aku menghujaninya dengan pertanyaan itu berulang kali karena dia sama sekali tak menjawabnya.

"Iya .. iya tutup telpon deh! Nanti aku balas SMSnya."
Tanpa mempedulikanku dia mematikan lagi telponnya.

Aku menunggu SMSnya belum juga masuk. Lalu aku mengirim lagi SMS padanya tuk kesekian kali. Tapi tak ada satupun yang dia balas. Karena bosan, kesal, sedih dan marah, kubuka situs sosial tempatku berbagi seperti twitter dan facebook.

Tiba-tiba ..

Chatt yang masuk begitu mengagetkanku! Dunia ini terasa berhenti sesaat. Kucoba mengatur napasku pelan-pelan yang sempat tercekat membaca setiap detik kalimat di chatting tersebut. "Dia sedang bersama dengan wanita."
Perlahan-lahan butiran bening mulai membasahi kedua belahan pipiku. Benarkah ini? Perasaanku benar-benar tak karuan!

Dengan cepat aku mengirim SMS padanya .. sungguh ini benar-benar tak seperti yang aku inginkan. Aku ingin mempercayainya tapi saat itu aku pun merasakan perubahan sikapnya juga mungkin karena ada wanita lain dan aku pelan-pelan mulai tersingkir dari hatinya atau bahkan tak pernah ada dihatinya.

***

Keesokkan paginya .. Ku pikir saat aku bangun, kutemukan SMS yang menjelaskan padaku setidaknya tentang seharian hilang tanpa kabar, dan kata-katanya yang bilang tak ingin membalas SMSku juga tentang bersama wanita yang tadi malam sudah kulupakan karena chatting selanjutnya itu dia sedang bersama dengan tiga orang wanita, kata seseorang kepadaku melalui chatting di situs sosial. Jadi kuanggap itu hal wajar kalau bersama dengan tiga wanita mungkin teman yang kebetulan bertemu saat itu.

Tapi ternyata harapanku sia-sia! Malah kudapati SMS berinti "Terserah apa yang ada diotakku!"
Benarkah? Sungguh tak inginkah kamu menjelaskannya padaku? Setalah apa yang telah kita lalui, seberapa besarnya kesetiaanku dan pengorbananku padanya, dia menjawab semua pertanyaanku dengan terserah apa yang ak pikirkan?

Aku terkekeh kesal. Ini sungguh tak bisa kupercaya!
Perdebatan singkat terjadi diantara kami dan berujung lagi dia tak membalas satupun SMS dariku. Sementara aku masih dengan bodohnya terus menatap layar HPku berharap dia memberi penjelasan untukku. Setidaknya semenit dari waktunya untukku. Tapi tak kunjung kutemui.

Aku benar-benar galau. Pikiranku kacau tak karuan. Seolah ada dua malaikat dikiri dan kananku, yang satu menyuruhku untuk melepaskannya, yang satu menyuruhku untuk mempertahankannya setidaknya mempertahankan apa yang telah aku bangun bersamanya selama hampir 3 tahun ini.

***

Semenjak hari itu, aku terus memikirkannya .. aku berharap dia akan mempertahankanku seperti biasanya dan menjelaskan padaku arti sikapnya kepadaku belakangan ini. Tapi tak kutemukan satupun itu. Aku mulai menyiksa diriku sendiri seolah tak menginginkan hidupku bertahan lebih lama lagi. Troy selalu memarahiku dengan sikapku yang seperti itu.

Sampai pada akhirnya ..

"Kamu terlalu di nina bobokan oleh cinta kamu sama dia!" Seru Troy dengan nada kesal.
Aku tak sanggup menatap matanya saat aku terbaring ditempat tidur dengan lemahnya.
 
"Sekarang kamu mikirin dia.. Nah kalau kamu sakit atau meninggal siapa yang rugi? DIA? Pasti dia ada yang lain lah .. atau pasti dia cari lain" katanya lagi. 
Kata-kata ini terasa seperti mengiris hatiku pelan-pelan.

"Hellow! Sadar! Kalau dia benar-benar mencintai kamu, dia pasti ngerti kamu, mempertahankan kalian, dan memperjuangkan kalian!" Intonasinya mulai meninggi.
Bisa kurasakan saat itu emosinya. Sementara aku hanya terdiam dan terus menitihkan airmataku.
 
"Kamu hanya menyiksa dirimu sendiri. Sadarkan dirimu sendiri kalau dia tak peduli padamu apalagi peduli pada kalian ya hubungan kamu dan dia. " Lanjutnya.

Kalimat-kalimatnya benar-benar menyakitiku.

"Kamu gak mengerti aku!" seruku dalam tangisku.

"Bagaimana aku mau mengerti kamu Kim, kalau kamu sendiri menyiksa diri kamu karena memikirkan seseorang yang jelas-jelas tak pernah memikirkan kamu?!"

Aku menangis. Diam-diam aku membenarkan kata-katanya.

"Itu benar Kimm .. Kalau dia sayang sama kamu, dia gak bakalan nyakitin kamu kayak gini entah itu dengan sikapnya atau apalah itu. Kalau dia benar-benar cinta sama kamu dia pasti ngabarin kamu sesibuk apapun dia entah dengan cara apapun itu. Dunia ini canggih, kalau dia terus-terusan kayak gitu .. aku pun gak yakin kalau cuma nama Kimmy Scarlet Ryder yang ada dihatinya saat ini." tutur Gabrina, sahabat dekatku yang lain.

Aku kembali terisak sekeras mungkin mendengar penuturan Gabrina. Aku menyadari semuanya ..

Mungkin sudah saatnya aku melepaskan dia, melepaskan apa yang telah aku perjuangkan selama hampir 3 tahun, meski terkadang aku memarahinya dan mengatakan ingin melepaskannya tapi itu semua tak pernah aku buktikan. S'karang dari semua ini, dia tetap tak menghubungiku bahkan untuk semenit menjelaskan arti sikapnya dan semuanya yang terjadi antara kami kepadaku beberapa minggu ini, itupun tak dia lakukan sama sekali.

"Jangan pernah kamu takut untuk melepaskan seseorang yang sering menyakitimu bahkan tak mempedulikan perasaanmu bahkan ketika kamu sakitpun dia mengabaikanmu, meski dia adalah orang yang sangat kamu cintai. Masih banyak orang diluar sana yang menyayangi dan mencintaimu. Kamu hanya butuh membuka hati dan dirimu." ungkap Gabrina sambil memeluk diriku yang masih terbaring.

Mereka benar! Aku yang terlalu bodoh hanya mengharapkan dia yang sering menyakitiku bahkan aku masih bodoh menunggu penjelasannya. Aku pun terlalu bodoh menjadikannya salah satu tujuan hidupku namun kenyataan dia sering menyakiti dan mengabaikanku. Mungkin memang aku harus melepaskan dia bersama dengan wanita yang benar-benar dia cintai dan menjadi pilihan menemani seumur hidupnya. Yah mungkin ..

Meski aku tak tahu bagaimana hidupku selanjutnya tanpa dia, ku pasrah .. Kuserahkan semuanya pada Sang Pencipta aku dan dirinya. Satu percakapan terakhirku dengan Tuhan-ku tentang kamu, "Terima kasih untuk semua yang terjadi antara kita selama hampir 3 tahun. Aku menyayangimu dan semoga kamu bahagia dengan hidupmu dan dia yang kau cintai dan benar-benar membuatmu bahagia tidak seperti aku yang sering memaksa kamu memberikan kabar untukku, sering cerewet, dan segala sikap burukku. Semoga kamu bahagia selalu."
"Meski aku tahu aku rapuh. Tapi kan kucoba bangkit kembali" gumamku dalam hati disela-sela doaku.  "Menata hidupku sendiri,meski itu harus kulakukan sendiri dan tanpa kamu"


"Ini saatnya melepaskanmu .."  

                                                                     THE END

                                                                   

Sabtu, 17 Agustus 2013

LDR edisi: Orang Ketiga part 2

 -Orang ketiga itu adalah setan yang tertunda, selalu datang saat kita jenuh, buat nyaman tapi ngeselin. Tapi cinta kita mengalahkannya-

2 bulan berlalu .. 

"Rindu" gumam Aqila dalam hatinya sementara pandangannya terus melayang lurus ke luar jendela yang tampak lembap oleh hujan yang baru saja mereda. "Aku merindukan kamu, Rafa. Aku merindukan saat-saat kita bersama."

"Non.." panggil seorang wanita berumuran 50-an menyadarkannya dari lamunan yang sedaritadi menghiasi pikirannya. "Itu ada tamu didepan non."
"Makasih ya mbok." 
Aqila menarik napasnya dalam-dalam sesaat sebelum dia melangkahkan kakinya keluar dari kamar melihat tamu yang dimaksud pembantu rumah tangga keluarganya.

Mata Aqila seakan tak percaya melihat sosok pria yang sedang memandang keluar jendela.
"Vando? Lo?"
"Hai Aqila.." sapa Vando sambil tersenyum lebar.
Aqila menghampiri Vando dan duduk di sofa tepat dihadapan pria berkemeja merah kotak-kotak, kancing kemejanya dibiarkan saja dengan baju putih sebagai dalamannya.
"Loh kok belum siap-siap?" tanya Vando sambil melihat penampilan Aqila dari atas sampai bawah.
"Oh maaf.." jawab Aqila, "Gue siap-siap dulu ya.."
Vando mengiyakan sambil tersenyum lebar.

Yah.. belakangan ini hubungan Rafa dan Aqila memang agak merenggang dikarenakan permasalahan yang selalu berujung dengan adu mulut. Tapi selama itu, Vando hadir. Sering menghibur Aqila saat dirinya sedang sedih atau sekedar menemani Aqila dan sederetan hal-hal yang Vando lakukan untuk Aqila. Meski Vando yang kenyataannya sudah memiliki Florence tapi entah mengapa bukan Florence yang ditemani Vando, tapi Vando justru menemani Aqila yang bukan siapa-siapa baginya. Teman.. itulah hubungan yang Aqila tahu batas antara dirinya dengan Vando.

***

"Kelihatannya lo lagi sedih lagi ya?" tanya Vando yang sedikit melirik wajah wanita yang duduk di bangku disampingnya ini sambil berusaha tetap fokus mengendarai mobil berwarna hitam yang adalah miliknya.
"Gue?" Aqila balik bertanya
Vando melayangkan senyum padanya, "Gue tau kok." kata Vando, "Kalau lo gak keberatan lo boleh cerita kok ke gue." lanjutnya
Aqila tak menjawab kata-katanya.
"Hmm.. Kalau lo lagi gini, ya mau gimana lagi.. Gue akan bawa lo ke tempat yang bakalan bikin lo lupa segala-galanya. Percaya deh sama gue! Gue bakalan bahagiaan lo." tutur Vando.
Aqila melayangkan pandangannya menatap Vando.
Vando tersenyum lagi, "Tenanglah.. gue tau kok apa isi pikiran lo sekarang. Tenang aja, Rafa gak bakalan tau kalau gue sering ngajak lo jalan kayak gini. Kan dia jauh." katanya, "Oh dan Florence.." Vando menghentikan kata-katanya untuk beberapa saat, "Dia gak bakalan tau kita sering jalan."
"Vando.."
"Hmm?"
"Lo sering ngajak gue kayak gini, apa hubungan lo dan Florence akan baik-baik saja? Kalau dia tau lo kayak gini dia bakalan pikir gue yang enggak-enggak"
"Tenanglah.. Lagian gue juga udah mulai bosan dengannya. Hampir setiap hari dia selalu manja, nyuruh nganterin kesinilah kesitulah, nyuruh beliin inilah, itulah. Gue bosan!"
Aqila terdiam.

"Lalu bagaimana dengan lo?" tanya Vando, "Rafa jauh.. apa lo gak nyari aja penggantinya. Ya setidaknya yang dekat lah supaya bisa terus nemenin lo dan gak bakalan nyia-nyiain waktu sama lo misalnya gue."
Aqila melayangkan pandangannya tepat menatap mata Vando yang sedang menatapnya juga.

"Ini gila! Benar-benar gila! Aku gak menginginkan yang seperti ini, aku gak ingin mendengar kata-kata ini keluar dari mulutnya. Bodohnya aku kalau gini!" gumam Aqila dalam hati, kesal pada dirinya sendiri.

"Ah sudahlah .. lo gak usah jawab pertanyaan gue. Gue tau kok apa yang bakalan lo jawab. Pasti lo bakalan pilih Rafa meski ada sejuta pria didepan mata lo yang lebih baik dari Rafa. Iya kan?" tanyanya, "Meski gue berharap lo milih gue.. Aqila." ucap Vando, membuat mata Aqila terus memandang lurus kedepan.

***

Malamnya..

"Ini gila! Aaaaaaarrghhhh!" Aqila memukul-mukul boneka Bear berukuran besar ditempat tidurnya sambil menghela nafasnya berulang kali. "Vando gila! Gila! Reseh! Ngapain dia bilang gitu? Arrrgh! Ngeselin!" gumam Aqila. 
Bonbon, sahabat dekatnya menatapnya tanpa sedikitpun berkedip matanya.

"Bon .. ini benar-benar diluar dugaan gue. Awalnya gue pikir dengan nerima ajakan Vando buat jalan bareng itu bisa ngatasi kegalauan gue dengan hubungan gue sama Rafa yang semakin renggang dengan permasalahan-permasalahan kami. Tapi... arghhhh!"

"Qila .. gue gak bisa ngomong yang lebih. Gue sebagai sahabat lo selalu nge-support lo apapun keputusan lo mau sama siapapun lo. Tapi gue saranin jangan sama Vando. Gue memang sahabatnya Vando juga karena sedari kecil kami bersama tapi karena gue sahabatnya Vando jadi gue bilang ke lo jangan. Lo juga harus mikir perasaan Florence kayak gimana. Kalian sama-sama wanita pasti mengerti sesama perasaan wanita. Gue memang tau kalau Vando suka sama lo udah dari lama banget tapi jangan deh Qila.." Bonbon menjelaskan panjang lebar, tak menyadari Aqila menatapnya sambil terus tersenyum mendengarkan kata-katanya, "Tapi .. ya terserah lo. Lo nyamannya sama yang mana. Rafa atau Vando. Gue dukung."

Aqila tertawa lebar mendengarkan kata-kata Bonbon yang seolah tak ada henti-hentinya keluar dari mulutnya.

"Yah kok malah ketawa sih?" tanya Bonbon. Wajahnya setengah cemberut melihat Aqila menatapnya dan terus tertawa.

"Lo lucu Bon." Aqila tertawa lagi, "Oke gini.. Bonbon sayang, gue Aqila Zuidith. Gue gak bakalan ngerebut pacar orang! Oke? dan lagi.. Bon, gue sama Rafa itu udah lama banget. Gue gak bakalan ngebiarin permasalahan-permasalahan yang sering timbul diantara kami yang membuat hubungan kami merenggang akhir-akhir ini jadi penghalang cinta yang kami bangun bertahun-tahun."

"Gue senang dengar jawaban lo ini. Puji Tuhan .. sahabat gue sudah dewasa. Hihi.." Bonbon tersenyum lebar lalu kemudian mereka berdua saling berpelukan.

***

                                                                                              
                                                                                                           date: August 17th, 2013

Dear diary,
 
Meski jarak memisahkan kita, bukankah jarak yang mengajari kita segalanya?
Arti bertahan, arti kesabaran, arti cinta disaat suka dan duka, juga arti kesetiaan? Aku berterima kasih untuk jarak atas pelajaran berharga bagi cinta kita ini.
Aku berterima kasih juga pada waktu yang selalu mengeratkan cinta kita meski sering terjadi permasalahan diantara kita.
Aku percaya pada cinta kita.

Love you ♥Rafa


"Orang ketiga memang datang saat kita sedang bertengkar dengan pacar, datang saat kita jenuh. Dia bisa membuat kita nyaman tapi juga ngeselin! Tapi orang ketiga takan pernah mampu merusak hubungan yang kita sudah bangun selama bertahun-tahun. Bagiku orang ketiga hanyalah setan yang tertunda dan kamu kekasihku, kesetiaanku ini milikmu seutuhnya meski kita jarang berkomunikasi tetapi kamu selalu jadi perbincanganku dengan Tuhanku. Terima kasih jarak dan waktu untuk cinta ini." gumam Aqila dalam hatinya, lalu kemudian terlelap dalam tidurnya.

to be a continued..

Sabtu, 29 Juni 2013

LDR edisi: Orang Ketiga part 1

 -Orang ketiga sering muncul saat kita sedang jenuh sama pacar, saat kita sedang bertengkar-

Di kamar bercat dinding merah mudah ..

"Kenapa harus aku yang selalu tersudutkan? Pernahkah kamu merasa kalau aku begitu merindukanmu? Kamu perasa bukan?" tanya Aqila,
"Aku gak bermaksud membuat kamu merasa disudutkan. Aku tahu kamu merindukanku." jawab Rafa dari seberang telepon, "Tapi bukan dengan pertengkaran ini kita menyelesaikan masalah yang ada. Aku juga lelah kalau kamu selalu menghadapkan kita pada masalah yang itu dan itu saja."
"Lalu apakah kamu berpikir aku gak lelah? Aku lelah.. Tapi apakah kamu pernah ada saat aku merindukanmu? Kamu terlalu sibuk dengan teman-temanmu, dengan pekerjaan dikantormu, dan kuliahmu. Tapi kamu gak pernah bisa membagi waktu sebaik kamu yang dulu, untukku." kata Aqila, "Kesibukkanmulah yang membuat jarak kita semakin jauh dengan adanya masalah ini." sambungnya.
 
"Aqila .. dengar! Kesibukkanku ini bukan bermaksud untuk membuat jarak kita semakin jauh. Kalau kamu telalu kalut karena merindukanku hingga seperti ini, cari saja kesibukkan yang bisa kamu lakukan. Kalau kamu seperti ini terus, kamu terlalu kekanak-kanakkan!" jelas Rafa, "Kamu menggunakan senjata andalan kesibukkanku untuk menyerangku, tapi pernahkah kamu berpikir semua yang kulakukan ini demi kita?" tanya Rafa
"Kesibukkan bagimu demi menghindari keterpurukan kamu saat merindukanku. Kamu bisa begitu tapi aku gak bisa kayak kamu!" seru Aqila

Rafa terdiam ..

"Kenapa kamu diam? Apakah rasa rinduku itu menjadi beban bagimu? Aku ini kekasihmu, Rafa. Kalau kamu sibuk, setidaknya aku ingin mendengar kabarmu semenit bisakan kamu telpon aku dan ngabarin aku, itu sudah membuat aku tersenyum."
 
Rafa menghela napas panjang..

"Kenapa kamu masih diam?" tanya Aqila dengan nada suara sedikit meninggi.
"Lalu aku harus ngomong apa saat kamu gak dengar penjelasanku dan hanya bisa dikuasai oleh amarahmu. Lebih baik aku diam dan membiarkanmu menenangkan pikiranmu dulu baru kita ngomongin masalah kita pelan-pelan." kata Rafa
"Diam itu caramu menyelesaikan masalah?" tanya Aqila
"Bukan menyelesaikan masalah.. Tapi membiarkan kamu tenang dulu dengan pikiranmu." jawab Rafa
"Aku sudah tenang kok .. Aku juga sudah cukup sabar dan cukup mengerti kamu sibuk dengan kuliahmu, dan pekerjaanmu, hingga juga sibuk dengan teman-temanmu itu."
"Kamu mulai lagi.." kata Rafa, "Kamu selalu menjadikan itu alasan untuk membuat kita bertengkar."
"Ya .. karena memang semua itu merebut kamu dariku hingga semenit pun kamu sudah gak ada waktu untukku. Sadarkah kamu?"
"Bukankah disela-sela kesibukkanku aku selalu menyempatkan waktu untuk ngabarin kamu? Aku sadar aku sibuk. Karena kesibukkanku itu hingga aku gunakan saja kepercayaanku terhadap kamu, terhadap kita. Aku yakin kamu sudah cukup dewasa untuk bisa berpikir kalau egomu dan amarahmu hanya menghancurkan komitmen yang kita bangun sejak awal. Aku mengerti kamu merindukanku tapi gak gini juga caranya kamu merengek itu membuatmu tampak seperti anak-anak."

Aqila terdiam sejenak ..

"Halo .. Aqila .." panggil Rafa dari seberang telepon, "Aku sibuk itu bukan berarti aku gak peduliin kamu. Aku rasa kamu mengerti kalau kesibukkanku ini untuk masa depan kita juga nantinya. Aku diam pun bukan aku tak peduli terhadap kita. Tapi sadarkah kamu setiap waktu luang yang aku punya, aku ngabarin kamu malah kamu selalu menghadapkan kita pada masalah yang sama." kata Rafa, "Kamu gak pernah anggap aku begitu peduli padamu.. yang kamu ingin aku selalu ada untukmu, padahal waktuku terbatas."
"Kamu juga gak pernah tahu kan bagaimana susahnya aku buat tahan rasa rinduku padamu?"
"Karena itu mengertilah sayang .. waktu luang yang aku punya ini semestinya kita habiskan untuk melepaskan rindu kita, bukan dihabiskan dengan membahas masalah ini. Percuma!"
"Ya sudah .. kalau begitu biarkan saja aku sendiri dengan rinduku dan menenangkan diriku. Aku pun lelah."
"Sa ..." yang (Belum sempat Rafa meneruskan panggilannya, Aqila sudah dikuasai dengan amarahnya hingga telpon dia putuskan)

Tet .. tet .. tet -Telepon terputus-

"Baiklah .. tenangkan dulu pikiranmu, nanti baru kita bicarakan lagi. Aku sayang kamu Aqila, aku rasa kamu tahu .." -pesan singkat dari Rafa-

***

Keesokkan paginya ..

"Hey bengong aja!" seru seorang cowok tampan sambil duduk tepat berdampingan dengan Aqila.
"Eh .." Aqila tersenyum saat menyadari siapa cowok ddi samping duduknya ini. "Vando.."
Cowok tampan bernama Vando itu membalas senyuman Aqila.
"Wah!" Vando melihat sebuah buku diary terletak dimeja tepat didepan Aqila."Masih Aqila yang gue kenal dulu ya?" tanyanya sesaat sebelum dia tersenyum lebar menatap cewek cantik yang juga sedang menatapnya.
Beberapa detik berlalu mereka berdua sama-sama saling menatap, dan kemudian terkekeh.

"Gimana kabar Rafa?" tanya Vando
"Oh ... Kabarnya baik kok. Kalo Florence gimana?" Aqila balik bertanya
"Baik." jawab Vando

Lama keduanya terdiam. Saat ingin berbicara keduanya serentak memulai.

"Lo duluan.."
Aqila terkekeh, "Gak, lo duluan aja."
"Ladies first, please.."
"Gue udah lupa apa yang mau gue omongin. Lo aja."
"Gue juga lupa .. emm.. Lo ada masalah ya sama Rafa?"
"Gak kok.."
"Jangan bohong.. gue tau kok kalo lo lagi gini, pasti lagi ada masalah. Apalagi kalo bukan masalah sama Rafa?"
Aqila terdiam.
"Cerita aja kok .. gue akan jadi pendengar yang baik buat lo atau kalo lo mau, kita ke kafe tempat kita dulu.." Belum sempat Vando melanjutkan kata-katanya, tiba-tiba suara seorang cewek mengejutkannya.
"Hei .." sapa seorang cewek dari belakang
Aqila dan Vando sama-sama  berbalik.
"Sayang.." Vando tampak sedikit kaget melihat siapa yang ada dibelakangnya dan Aqila
"Hai sayang .." Florence mencium Vando.  
Cewek cantik berdarah Inggris ini memang tak segan-segan mencium kekasihnya walaupun didepan umum.
"Hai Aqila.." sapa Florence
"Hai Flo.." Aqila balik menyapa
"Hai.." sapa seorang cewek yang sudah berdiri disamping Florence. Tampak dia agak kesulitan dengan beberapa snack ringan di dalam dekapan kedua tangannya.
Mereka bertiga yang melihatnya terkekeh melihatnya.
"Banyak amat bawaan lo?" tanya Vando
"Yah abis kebutuhan ini.." tutur Bonbon, seorang cewek dengan tubuh yang gemuk dan berkacamata. Dia ini adalah sahabat dekatnya Aqila dan juga sahabat dekat Vando.
Mereka berempat tertawa bersama-sama.

"Eh kami duluan ya.." Florence menarik tangan Vando untuk mengikutinya setelah berpamitan pada Aqila dan Bonbon.

Masih ditempat yang sama, Aqila melanjutkan menulis kata-kata didalam diarynya dan sesekali melayangkan pandangannya ke Bonbon yang sedang asyiknya memakan snack bawaannya tadi.


                                     date: June 30th, 2013

dear diary ..

Kamu membuat aku tersiksa dengan rindu ..
Kamu juga yang membuat aku harus menangis.
Pertengkaran semalam diantara kita,
aku hanya ingin kamu tahu aku kalut dengan kerinduanku padamu.
Semenit saja aku ingin mendengar kabarmu,
Itu membuatku tersenyum bahagia.
Tapi kamu tak bisa membagi waktumu sebaik kamu yang dulu
dan aku mulai merindukan kamu yang dulu .. Aku mulai lelah dengan rindu yang tak terbalas. Mengertilah aku ingin waktumu sedikit untukku.
                                        ***


to be continued..

Senin, 17 Juni 2013

Long Distance Relationship - edisi : Pengertianmu

edisi : -Pengertianmu "kamu ngerti aku dan aku ngerti kamu"-

"Aku ingin seperti ini selalu denganmu Rafa." ungkap Aqila sesaat sebelum dia melabuhkan kepalanya dibahu Rafa.
Rafa hanya terdiam dan mendekap kekasihnya dengan lembut. 

Ditemani cahaya indah sang raja dan ratu langit malam, keduanya saling mendekap melepaskan kerinduan mereka.

"Sayang.." Bisik Rafa pelan ditelinga Aqila
"Hmm.."
"Ada yang ingin aku katakan padamu.."
Aqila mengadahkan kepalanya menatap Rafa lekat-lekat. "Apa?"
"Lusa papa dan mamaku akan pindah ke Singapura."
"Singapura? Lalu?" Aqila menatap Rafa, berharap kalimat selanjutnya bukanlah kalimat yang dia bayangkan.
"Aku juga akan ikut pindah." tutur Rafa pelan. Seakan kalimat itu tak ingin keluar dari mulutnya. Aqila terdiam sejenak. Kristal bening mulai mengalir pelan dari mata indahnya.

Bukan kalimat itu yang ingin didengarnya. Bukan kalimat yang diharapkannya. Dia terdiam dan menatap lurus kedepan. Dia tak ingin Rafa melihatnya menangis.

"Maafkan aku kalau ini harus aku katakan, sayang." Rafa berlutut dihadapan Aqila sambil meraih tangan mungil Aqila.
"Aku tahu.. Aku mengerti kamu harus sama-sama dengan papa dan mama. Aku ikhlas meski aku gak tahu apa arti ikhlas saat melihatmu pergi."
"Aku cinta kamu, Aqila. Selamanya aku akan mencintai kamu, meski untuk beberapa lama kita gak bakalan ketemu."
"Kamu yakin akan tetap mencintaiku meski kita nanti berjauhan?" tanya Aqila
"Aku yakin. Entah kamu percaya atau tidak, aku yakin dengan perasaanku padamu. Kita akan selamanya bersama. Kepergianku kesana pun untuk masa depan kita, untuk kamu."
Aqila tersenyum dan keduanya saling berpelukan. Entah senyuman itu senyuman ikhlas merelakan kepergian Rafa, kekasihnya ataukah senyuman terpaksa agar Rafa tenang dan pergi melanjutkan kuliahnya disana.

***

Hari itu hujan deras.. Tibalah saatnya Rafa bersama kedua orang tuanya berangkat ke Singapura.

"Nomor yang anda tuju sedang berada diluar jangkauan. Cobalah beberapa saat lagi."
Suara operator terdengar ditelinga Rafa.
Rafa sudah putus asa. Sedaritadi dia menunggu Aqila namun dia tak kunjung datang.

"Rafa.. ayo nak. Sudah saatnya kita naik ke pesawat." Ajak mamanya
"Iya ma." Rafa dengan langkah kaki lesuh mengikuti langkah kaki kedua orang tuanya.

"RAFA !!!" Teriak seorang cewek berbaju merah. Suara yang sangat dikenal Rafa. Rafa tersenyum senang dan berbalik menatap cewek cantik yang sedang berlari menujunya.
"Kamu datang sayang.." kata Rafa sambil memeluk erat Aqila, kekasihnya itu.
"Maaf aku telat. Hujan dan macet. Aku sempat singgah dirumahmu, tapi kata bibik kamu dan papa, mama sudah ke bandara. Maaf aku telat."
"Nggak apa-apa. Asalkan kamu ada disini."

Dari jauh, kedua orang tua Rafa saling menatap dan tersenyum melihat mereka.

Tak lama kemudian, panggilan operator di bandara sudah memanggil nama mereka untuk segera naik ke pesawat.
Rafa dengan langkah kaki yang berat berjalan meninggalkan Aqila.

***

Seminggu sudah keduanya dipisahkan oleh jarak. Tapi cinta mereka malah semakin kuat tak lekang oleh jarak dan waktu.
Walaupun Rafa sibuk dengan aktivitas kuliahnya, dia selalu menyempatkan waktunya untuk menghubungi Aqila. Begitupun sebaliknya.

Awalnya semuanya baik-baik saja.. Sampai suatu hari, segalanya berubah. Kecelakaan maut merenggut nyawa kedua orang tua Rafa dalam sebuah pesawat. Semuanya itu membuat Rafa tidak bisa menolak untuk menggantikan posisi papanya yang tak lain adalah seorang presiden direktur di sebuah perusahan industri terkenal dan terbesar. Posisi itu membuat Rafa harus bekerja sambil melanjutkan kuliahnya. Tentu saja waktunya sering dihabiskan dipekerjaannya dan kuliahnya. Hal itu berdampak pada hubungan komunikasinya dengan Aqila, yang semakin hari semakin renggang dengan perdebatan kecil diantara keduanya.

"Tinggalkan pesan anda setelah bunyi berikut. Tet." -suara operator-

"Lagi-lagi seperti ini." gumam Aqila dengan kesalnya, sampai-sampai boneka pemberian Rafa dihari jadi setahun mereka jadi pelampiasaan kekesalannya.

Beberapa pesan singkat dia kirimkan ke handphone Rafa. Menunggu dan tak ada balasan. Hingga malam tiba, Aqila masih menunggu.

"Kok smsku gak dibalas sayang? Kamu dimana?"
"Kalo kamu lagi sibuk ngabarin aku .. agar aku tahu kamu sibuk. Jangan diemin aku kayak gini."
"Rafa"
"Aku merindukanmu Rafa."

Sederetan pesan dia kirimkan dan berharap Rafa menghubunginya. Dia terus menunggu dan akhirnya terlelap.

Pagi harinya..
Handphonenya berdering. -Sayang-

"Halo, sayang.. selamat pagi, masih tidur ya? Bangun gih! Mandi sana." kata Rafa dari seberang telpon.
"Semalaman kamu kemana? Telpon gak dijawab. Ditelpon lagi malah suara operator suruh ninggalin pesan. Di sms juga kagak dibalas. Ada apa lagi?!" tekanan suara Aqila terdengar setengah berteriak. Ya jelas saja dia masih marah atas sikap Rafa yang seolah tak memperhatikannya.

"Sudah?" tanya Rafa setelah selesai mendengar omelan Aqila. "Sudah ngomel-ngomelnya?" tanya Rafa lagi. Tapi kali ini tekanan suaranya ikut meninggi.
"Iya sudah!" jawab Aqila masih dengan kekesalannya.
"Oke aku minta maaf kalau aku gak ngabarin kamu. Tapi aku semalaman lembur dengan tugas kantor. Banyak pekerjaan almarhum papa yang harus aku selesein. Kamu bisa gak sih ngertiin aku? Dulu kamu itu gak gini. Lama-lama aku juga jenuh dengan sikap kamu yang mulai gak ngerti keadaan dan posisi aku skarang ini!"
"Jenuh? Terserah deh kamu udah mulai jenuh dengan sikap aku! Aku gak minta lebih kok. Aku hanya minta kabar kamu. Masa iya 24 jam kamu sibuk terus?! Masa iya semenit aja buat ngabarin aku kamu gak punya waktu untuk itu?! Kamu berubah Rafa!"

"Aku berubah apanya? Aku gak berubah.. Malahan kamulah yang memaksaku untuk berubah! Sikap kamu kekanak-kanakan banget Aqila."
"Iya sikapku kekenak-kanankan karena aku merindukan kamu. Aku merindukanmu tapi kamu hanya diam. Kamu terlalu ditenggelamkan oleh kesibukanmu itu. Sedikit waktu untukku apakah kamu gak punya sama sekali?"
"Iya iya.. aku tahu aku salah gak ngasih kabar untukmu, gak ada saat kamu merindukanku. Tapi itu bukan sebuah alasan aku tidak memperdulikan kamu lagi. Kamu salah kalau berpikir aku gak mempedulikanmu. Aku peduli sama kamu, makanya aku ambil alih pekerjaan almarhumah papa karena aku sayang sama kamu, ini untuk masa depan kita. Seharusnya kamu mengerti itu."

Lama keduanya terdiam..

"Apa salahnya kamu menenangkan dirimu sejenak untuk mengerti kalau ini semua juga aku lakukan untuk masa depan kita bersama." kata Rafa, "Sayang.."
"Baiklah, aku mengerti. Aku yang salah sudah marah-marah padamu tanpa mendengar penjelasanmu. Tapi aku ingin kamu mendengarku kali ini. Aku merindukanmu.. Aku rindu saat-saat kita dulu. Dulu kamu bisa membagi waktumu dengan baik. Skarang, semenit untuk ngabarin aku lewat satu pesan singkat pun kamu gak ada waktu. Bisahkan kamu berkaca dari semua yang terjadi dulu? Aku merindukannya." ungkap Aqila pelan.

Perdebatan kecil mereka itu akhirnya terselesaikan. Masalah yang dihadapi pun terselesaikan dengan baik walaupun awalnya keduanya sama-sama saling keras kepala mempertahankan argumen masing-masing.

                                                 to be continued..

Kamis, 23 Mei 2013

Wanita Hebat (part 1)

 -Edisi Wanita Hebat- "Aku wanita bodoh yang mencintaimu dalam kehebatan cinta dan kesetiaanku"

"Banci lo!" kata Roby ke Kevin
"Tapi gue gak mau nyelingkuhin dia." kata Kevin ke kedua cowok dihadapannya ini
"Jadi.. lo mau setia?" tanya Raka
Kevin dan Raka sama-sama terkekeh kecil.

"Zaman skarang lo mau setia? Haha bisa-bisa lo diketawain sama ayam!" kata Roby sambil meletakan tangannya di pundak Kevin yang terlihat bingung, entah harus menuruti kata-kata teman-temannya itu ataukah tetap menjaga kesetiannya ke Pevita, kekasihnya yang sangat dia cintai itu.
"Yapz betul!" timpal Raka, "Zaman skarang lo itu gak dianggap keren kalo gak punya pacar lebih dari satu."
"Setuju gue bro!" kata Roby
"Gimana?" tanya Raka
"Entahlah.." jawab Kevin datar
"Vin.. gini aja deh. Kalo lo bisa jadiin Saskia itu pacar lo, ya kita berdua rela deh jadi babu lo selama sebulan, terserah deh lo mau lakuin apa ke kita berdua, oke oke!" kata Raka
"Gue setuju banget bro." kata Roby, "Kita berdua kasi waktu ke lo selama seminggu, dekatin Saskia si anak Biologi itu. Kalo perlu noh mobil gue, kuncinya gue kasi deh ke lo bebas lo pake selama sebulan asal lo bisa jadiin Saskia itu pacar lo. Gimana?"

Kevin tak menjawab .. pikirannya kacau saat itu, mana yang harus dia pilih.
"Tenang aja deh Vin.. kalo lo lagi dekat sama Saskia, ya pacar lo siapa itu namanya?"
"Pevita.." jawab Kevin dan Roby secara serentak, yang kemudian keduanya saling pandang.
"Haa.. Iya, iya.. Pevita." ucap Raka, "Tenang aja deh, rahasia lo bakalan aman sama kita-kita. Pevita gak bakalan tau kok."

"Hmm.. Roby dan Raka mungkin ada benarnya. Tawarannya juga kayaknya asyik nih. Lagian.. cuma seminggu kan gue deket sama Saskia? Gak lebih. Kalo Pevita tau gimana ya? Ah kan cuma seminggu.. Boleh juga, babu dan mobil sport, wow!" gumamnya dalam hati

"Gimana Vin?" tanya Roby lagi
"Ok.. gue mau." kata Kevin
"Sip! Gitu dong.. tapi ingat ya waktunya cuma seminggu. Kalo lo gak bisa buat Saskia jadi pacar lo dalam waktu seminggu, lo kalah dan itu berarti lo yang jadi babu kita selama sebulan." kata Roby
Kevin mengangguk.
Tak lama kemudian, Kevin kembali ke rumahnya dengan motor king hijau miliknya.

"Haha rasain tu anak.. abis kita kerjain! Haha dia kira gampang apa deketin Saskia?! Lo tau sendiri kan Ka, tu Saskia jutek banget." kata Roby diselingi dengan tawanya.
Raka ikut tertawa
"Eh.. tapi Rob itu Saskia kalo gak salah kan masih sepupu lo sendiri?"
"Haha iya sih .. Haha tapi biarlah, haha gue jamin dia gak bakalan bisa deh jadiin Saskia itu cewenya apalagi tantangan yang kita kasi itu kan cuma seminggu." kata Roby, "Haha nah lo deketin si Saskia waktu kita SMA dulu aja malah di bully kan sama dia?" lanjutnya
Raka mengiyakan. Keduanya kembali tertawa bersama-sama.

*** 

Keesokkan harinya.. 
-"Kevin kamu dimana sayang? Kok aku telpon nomor kamu gak aktif sayang?"- sms terkirim

Pevita merasa gelisah hari itu. Entah karena apa, belakangan ini dia merasakan kalo Kevin sudah mulai berubah. Sekarang dia lebih sering meluangkan waktunya bersama kedua teman sekelasnya itu, Roby dan Raka.

Tak lama kemudian..
Piip.. Piip.. Piip..
Bunyi klakson motor yang sangat dikenalnya. Siapa lagi kalau bukan Kevin.

"Sayang.." Pevita tersenyum senang melihat kekasihnya datang tepat disampingnya dengan motor king hijau milik cowok tampan dan berlesung pipi ini.
"Hai sayang." Kevin balas tersenyum, "Pulang yuk.. Aku antar."
"Hmmm" Pevita langsung saja menaiki motor kekasihnya itu.

"Sayang aku tadi telpon kamu tapi nomor kamu gak aktif." kata Pevita
"Iya sayang, aku minta maaf ya.. tadi batreiku lowbet. Gak sempat ngejawab telpon kamu. Maaf ya sayang.."
"Iya deh.. Gak apa sayang. Love you." bisik Pevita ditelinga Kevin dan semakin mempererat pelukannya.

Ketika tiba dirumah Pevita, cewek cantik berdarah Jerman-Indonesia itu langsung turun dari motor kekasihnya.
"Sayang, gak mampir dulu?" tanya Pevita
"Lain kali aja ya sayang? Aku masih ada tugas yang harus aku selesein."
"Baiklah.."

Setelah mencium kening Pevita seperti biasa, Kevin dan motornya langsung melaju hingga lenyap dari pandangan Pevita.

"Bik aku pulang!" seru Pevita saat masuk kerumahnya

"Lo?" tanya Pevita begitu bola matanya yang kecoklatan itu menatap sosok cowok tampan berbaju merah yang sedang duduk dikursi ruang tamu.
"Hai Vit.." sapa cowok tampan berbaju merah itu.
"Lo ngapain disini?" tanya Pevita dengan nada sedikit ketus
"Haha ya gue cuma datang untuk liyat wajah calon istri gue ajah kok." jawab cowok tampan itu
"Jangan mimpi lo Roby!" kata Pevita sambil berjalan hendak memasuki kamarnya
"Terserah lo deh Vit.. yang jelas gue sayang banget sama lo dan lo bakalan jadi istri gue. Bokap nyokap lo masih di Jerman kan? Asal lo tau aja, yang jadi penolong perusahan bokap nyokap lo itu bokap gue."
"Nah truuusss? Apa? Gue musti bilang makasih gitu? Ya udah makasih, tapi bukan sama lo. Makasihnya sama bokap lo." Pevita langsung masuk kedalam kamarnya

***

"Hai Saskia.." sapa Kevin
Saskia tak menghiraukan sapaan Kevin malah melanjutkan membaca buku ditangannya.

"Yaampun ini cewek budek kali ya?" gumam Kevin dalam hatinya.

"Hai Sas.. Lo lagi baca apaan sih?" tanya Kevin yang langsung membolak-balikaan buku yang sedang dibaca Saskia.
"Lo apa-apaan sih?!!" bentak Saskia. Lalu kemudian beranjak dari duduknya dan pindah ke tempat duduk yang lain ditaman dekat dengan ruangan program studinya.

Kevin tak mau menyerah begitu saja meski dalam hatinya, dia kesal dengan sikap Saskia yang menurutnya sok kecakepan banget dan sok jual mahal banget. Padahal jelas-jelas didekatin sama cowok setampan Kevin.

"Huh ini kalo bukan demi tantangan itu, deeeeeh malas banget dah gue deket sama cewek kayak gini! Masih mendingan skarang gue nemenin Pevita aja. Aaaaaaarghh!" Kevin mengomel dalam hatinya sendiri.

"Sas.. lo cantik banget deh hari ini." Lidah Kevin terasa ingin muntah saat dia mengatakan kalimat itu dari mulutnya sendiri.
"Oh makasih." jawab Saskia singkat sambil terus membaca bukunya.
"Sas bentar lo ada waktu gak?"
"Ngapain nanya-nanya?" Saskia balik bertanya
"Gue mau ngajak lo dinner, di tempat yag istimewa buat cewek secantik lo."
"Basi!" kata Saskia dengan ketus

"Huh sialan ni cewek, jual mahal banget! Apa karna sikapnya gini jadinya gak punya pacar juga ya sampe hari gini. Sikapnya gini, gue jamin jomblo seumur hidup lo. Puuuf.. Kalo bukan demi taruhan itu gue gak bakalan deket-deket sama lo." gumam Kevin dengan kesal dalam hatinya.

"Suer Sas. Gue pengen dinner sama lo." kata Kevin
"Gak ada waktu!" jawab Saskia datar

Saskia langsung beranjak dari duduknya dan berlalu dari pandangan Kevin begitu saja..

***

"Hei!" seru Raka dan Roby saat melihat Kevin berjalan mendekati mereka.
"Hei.." balas Kevin
"Gimana bro dengan Saskia?" tanya Raka saat Kevin duduk ditengah-tengah keduanya.
"Susah bro.."
"Haha jadi lo nyerah gitu?" tanya Roby
"Berarti lo kalah taruhan ni.. jadi siap-siap deh jadi babunya kita berdua."
"Eh tunggu-tunggu! Lo gak bisa gitu aja dog Vin.." timpal Roby.
Raka menatap Kevin dengan heran.
"Ya maksud gue, lo gak harus nyerah gitu juga kan? Kan masih ada 5 hari lagi. Siapa tau lo bisa jadi pacarnya Saskia." kata Roby, "Ini kan belum sampai tanggal batas tantangan yang kita kasi ke lo. Kalo lo kalah sama aja dengan pecundang kan?" lanjut Roby meyakinkan Kevin untuk tidak mundur dari tantangan yang mereka berikan.
"Baiklah.." jawab Kevin datar

***

Hari ke-4 ..

"Belakangan ini dia jarang ngunjungi gue Ndo. Telponnya juga kadang di non-aktifkan. Gue tanya dia bilang, lagi kerja tugas." ungkap Pevita ditelpon kepada Rolando, sahabat sejak kecilnya Kevin.
"Gue ngerti perasaan lo Vita. Tapi ya lo kan tau dia itu sayang banget sama lo. Buktinya aja dia gak pernah selingkuh kan dari lo selama kalian jadian udah 4 tahunan ini?"
"Iya sih.."
"Nah gitu dong. Itu baru namanya Pevita Cleo Eileen Pearce yang gue kenal. Lo harus percaya sama dia Vit." Rolando menasihati Pevita yang juga adalah sahabat dekatnya.

Siangnya dikampus..

"Hei lo Pevita pacaranya Kevin Hendry Anggara kan? -iya- Dia lagi pacaran sama Saskia Sigar Sastrowijoyo, anak Biologi itu!"
Semenjak tadi hanya kalimat itu yang selalu mengusik pikirannya. Bagaimana tidak? Hari ini, tepatnya siang ini saat dia baru memasuki ruangan kelas, seorang cewek berkulit hitam manis datang menghampirinya dan mengatakan kata-kata itu.. Tentang Kevin, tentang kekasihnya yang katanya sedang..
"Aaaaaaaaargggh!!" Teriak kecil Pevita, "Apa yang gue pikirin sih? Gak! Kevin gak mungkin gitu! Gue percaya sama dia. Ya.. gue gak apa-apa. Harus percaya sama Kevin. Apapun yang cewek itu bilang." gumamnya pelan pada dirinya sendiri

"Cie yang lagi galau.."
"Lo? Lo lagi.. lo lagi.. Ngapain sih ngikutin gue melulu?" tanya Pevita ke Roby
"Hai jodoh gue, yang lagi terdampar di jodohnya orang lain.." ucap Roby yang sengaja tidak ingin menjawab pertanyaan Pevita padanya
"Apa-apaan sih? Mimpi lo.. sampe gue mati pun, jangan mimpi buat dapetin cinta gue."
Pevita berdiri dari duduknya tapi saat dia hendak melangkahkan kaki pergi, Roby malah mencengkram pergelangan tangan kanannya.
"Roby! Lepasin, sakit.." Pevita mencoba melepaskan cengkraman tangan Roby dari pergelangannya tapi tampak usahanya sia-sia saja.

"Kenapa sih, lo gak bisa terima gue? Hoo.. apa karna Kevin?" Roby tertawa sinis
"Iya .. gue gak bisa terima lo karena hati dan cinta gue udah jadi miliknya Kevin sejak 4 tahun yang lalu, sejak lo ninggalin gue gitu aja dengan memberi gue harapan palsu dan sekarang lo datang ngemis-ngemis minta cinta gue balik sama lo? Gak! Gak bakalan! Lo mau tau kenapa karena gue sangat bahagia dari 4 tahun lalu sampai sekarang karna gue miliki seseorang di hidup gue, dan itu bukan lo tapi Kevin Hendry Anggara. Jelas?"
"Kevin? Haha.. Kevin.." Roby yang saat itu sudah berdiri juga, lagi-lagi tampak senyuman sinis dibelahan bibirnya.

"Vita .. lo sadar gak sih? Kevin itu gak ada apa-apanya dibandingkan gue. Ayahnya itu pegawai bokap gue. Apa sih yang Kevin punya? Kevin gak bisa buat lo bahagia, yang pantas buat lo bahagia itu gue karna gue punya segalanya yang Kevin gak punya! Jelas?" bentak Roby, "Sadar dong Vit.. Kevin itu gak bisa ngasih lo apa-apa, dibanding gue. Apa yang lo mau? Uang? Harta? Apa?! Tinggal sebut saja gue bakalan penuhi itu semua dalam sekejap yang sama skali gak bisa dilakuin Kevin."

"Lo salah!" seru Vita sambil menatap Roby dengan tegas, "Lo salah besar kalo bilang Kevin gak punya apa-apa dibandingkan lo. Kevin punya cinta yang buat gue bahagia dan bersyukur gue memiliki seseorang disamping gue seperti dia. Itu sesuatu yang gak lo punya sama sekali." kata Pevita, "Uang dan harta kekayaan yang lo miliki gak bakalan bisa membeli cinta gue. Lo salah besar kalo berpikir gue bisa bahagia dengan kekayaan. Lo harusnya nyadar Rob, apapun yang lo mau gak bisa seenaknya lo beli gitu aja, gak semuanya lo bisa milikin. Ada hal-hal yang harus lo relakan dan lepaskan."

Pelan-pelan Roby melepaskan cengkraman dipergelangan tangan Pevita, yang kemudian terduduk dan terdiam di kursi. Pevita pun beranjak dari tempat itu dan beralih ke perpustakaan tempat dia menghabiskan waktunya selain ditaman dekat gedung fakultasnya.
Sedangkan dari balik pohon tak jauh dari taman yang tadi Pevita dan Roby sedang berbincang, Raka sedang mendengar pembicaraan mereka.

"Eh ketemu lagi mbak.." suara cewek yang sama, yang beberapa hari lalu sempat bertemu denganya juga di perpustakaan ini.
"Eh iya ni mbak.."
Pevita melirik sekuntum bunga yang sejak tadi dipeluk oleh cewek disamping mejanya ini.
"Pasti baru dikasih bunga sama pacar ya?" tanya Pevita
"Eh si mbak ini masih ingat aja.." ucapnya dengan malu-malu
Pevita tersenyum
"Aku jadi malu ni.." Saskia meraba-raba pipinya yang panas-panas tak menentu mungkin saat itu kalau ada kaca, pasti dia sudah bisa melihat wajahnya sendiri yang merah merona.
"Setiap kita ketemuan, mbak kan selalu cerita tentang si cowok misterius itu."
"Ah iya ya.." Saskia terkekeh, "Mbak tau gak hari ini dia romantisnya pake banget. Dia ngasih aku bunga dan coklat, aah juga tiket nonton konser musik ini." Saskia memperlihatkan tiket itu ke Pevita. "Aku sih masih belaga bodoh aja, padahal aslinya aku suka banget sama dia, mbak. Diam-diam aku menaruh rasa sama dia. Tapi aku takut dia cuma pura-pura sama aku."
"Ngapain takut? Percaya saja sama dia. Siapa tahu dia beneran cinta sama mbak bukan pura-pura seperti apa yang mbak pikirkan."
"Iya juga ya mbak.." Saskia mengiyakan, "Eh sampe lupa, mbak kita kan belum kenalan? Namaku Saskia Sigar Sastrowijoyo."

"Saskia Sigar Satrowijoyo? Saskia Sigar Sastrowijoyo? Saskia Sigar Sastro.."

"Mbak.. mbak.." panggil Saskia
Lamunan Pevita buyar dari pikirannya pelan-pelan
"Eh iya, maaf.. namaku.. namaku Pevita Cleo Eileen Pearce." suara Pevita terdengar sedikit terbata-bata, wajahnya seakan pucat pasi, denyut nadinya berdetak lemah, bunyi jantungnya seolah-olah sudah tidak dag dig dug

"Mbak, mbak baik-baik aja kan?" tanya Saskia yang menyadari wajah Pevita yang tampak tak sebaik tadi.
"Iya.. aku baik-baik kok. Memangnya siapa nama cowok itu? Pasti dia tampan setampan hatinya sama mbak."
Saskia terkekeh pelan, "Kevin Hendry Anggara, mbak. Anak jurusan TI."


"Mbak, maaf aku ada kelas.. aku pamit duluan ya.." kata Pevita yang langsung berjalan keluar perpustakaan.

Pevita berlari sekencang-kencangnya yang dia bisa dari kampus. Airmata dibelahan mata bawahnya langsung menetes dipipinya.

***

Sesampainya dirumah, dia masuk kekamarnya dan menangis memeluk hadiah boneka big bear yang diberikan Kevin, kekasihnya pada anniv mereka yang ke 4 tahun lalu.

Sorenya..

"Sayang..sayang.." panggil Kevin yang membangunkannya dari tidurnya.
Pevita membuka matanya pelan-pelan, menatap kekasihnya yang duduk disamping tidurnya ini.
"Kamu sakit sayang?" tanya Kevin, "Aku dengar dari bibik tadi kamu pulang wajahmu pucat skali tapi gak mau makan, minum, ataupun dokter mau priksa kamu aja kamu gak mau. Kenapa sih sayang? Cerita sama aku."
Pevita tak menjawab tapi bangun dari tidurnya dan memeluk kekasihnya itu. Erat, erat sekali. Kevin balik memeluk kekasihnya yang sangat dicintainya itu, sama eratnya.

Untuk beberapa saat, keduanya tak berbicara hanya saling memeluk.

"Vin.. jangan pergi."
"Kok ngomong gitu?" Kevin melepaskan pelukannya.
Pevita kembali menarik tubuh Kevin dan dipeluknya lagi. Kevin balas memeluknya.

"Jangan tinggalin aku sayang. Aku gak ingin kamu pergi, pergi dari hatiku, dari hidupku."
Kevin mengeratkan pelukannya.
"Iya aku janji sama kamu, aku gak bakalan pergi. Aku gak bakalan tinggalin kamu. Kamu itu istriku Pevita. Aku jamin itu!"
"Janji?"
"Hmm.." Kevin melepaskan pelukannya dan menatap Pevita lekat-lekat. "Kamu itu wanita pertama dan terakhir untuk hidupku." Kevin memeluknya lagi.

***

Malamnya..

"Wah.. indahnya ini.." kata Saskia, matanya berbinar-binar menatap semua yang ada didepannya. "Kevin, kamu yang nyiapin semua ini?"
"Ehem" Kevin berdehem, "Kasih tau gak ya? Kasih tau gak ya? Mau tau, apa mau tau banget?"
"Ih kamu.." Saskia mencubit perut Kevin dengan mesra, "Apa-apaansih? ledek.."
"Hehe .. gak kok."

Ditaman tempat biasanya anak-anak muda sering berduaan dengan kekasihnya, dibawah sinar rembulan yang indah, Kevin dan Saskia menikmati makan malam mereka.

"Ini.." Mata Saskia mengangkat sebuah cincin yang muncul dipotongan puding coklat dipiringnya.
Kevin tersenyum dan berjalan mendekati Saskia lalu berlutut disamping kursinya.

"Sas.. aku suka sama kamu dan aku ingin rasa ini terwujud. Aku ingin kamu jadi kekasihku. Aku juga bingung dengan semua ini, tapi sikap kamu yang mungkin bagi  cowok lain itu jutek banget dan gak banget, tapi bagiku gak gitu. Sikap kamu malah membuat aku jadi suka sama kamu."
Saskia langsung memeluk Kevin
"Aku juga suka kamu."
"Jadi kita jadian?"
Saskia mengangguk pelan.

Kevin tersenyum kemenangan. Ya.. dengan semua ini dia bisa buktikan kalo dia itu bukan pecundang dan bisa taklukin cewek sejutek Saskia dan itu artinya juga Roby dan Raka akan menjadi babunya selama sebulan dan mobil sport milik Roby bisa dia miliki untuk sebulan juga.

Brem.. breem.. breeem..
Motor Kevin tiba didepan rumahnya Saskia yang juga langsung turun dari boncengan Kevin.

"Aku masuk dulu ya.."
"Hmm masuklah.."
"Eh.." Saskia langsung mendaratkan ciumanya dipipi Kevin. "Good night sayang, makasih buat segalanya khusunya malam ini. Aku sayang kamu." Setelah mengatakan itu Saskia langsung masuk ke rumahnya.

"Ih..ih..ih amit-amit jabang bayi. Ih..ih..ih.. dicium sama dia, ih..ih..ih amit-amit dah! Mendingan dicium sama Pevita. Ih..ih..ih.." gumam Kevin sambil berusaha menghapuskan ciuman dipipinya tadi.

***

Keesokkan harinya..

"Hai sayang.." Kevin menghampiri Pevita dan seperti biasa mencium kening cewek cantik ini.
Namun ekspresi wajah Pevita datar. Tak ada sapaan balik untuk kekasihnya layaknya dia yang biasanya.
"Loh kamu kenapa sayang? Kamu sakit lagi?" tanya Kevin sambil meraba-raba dahi dan leher juga tangan-tangan kekasihnya ini. "Gak panas kok.."
"Aku sakit. Tapi bukan badan aku yang sakit..yang sakit itu hati aku."
"Sayang, sayang.. hei kamu kenapa sayang? Cerita sama aku.."
"Aku gak perlu cerita kok, kamu kan sudah tau sendiri ceritanya kayak gimana."
Disaat yang sama dari matanya keluarlah sudah butiran bening itu..

Kevin menghapus airmata kekasihnya itu dan memeluknya.
"Aku gak ngerti maksud kamu apa? Aku gak ngerti.. tapi tolong jangan katakan hal-hal yang gak aku ingini keluar dari mulutmu sendiri." kata kevin dengan setengah berbisik.

Pevita melepaskan pelukannya Kevin dan menyodorkan kepadanya beberapa fax foto yang baru diterimanya tadi pagi. Kevin mengambil foto-foto tersebut dan melihatnya satu per satu. Semuanya itu adalah fotonya semalam bersama Saskia..
Pevita menahan airmatanya kembali jatuh, dia menunjukkan rekaman vidio yang baru tadi pagi diterimanya via BBM.
Mata Kevin seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Foto-foto yang dipegangnya tadi jatuh berserakan dilantai rumah Pevita.

"Sayang.. sayang.. aku bisa jelasin semua ini. Tolong.. tolong kamu percaya sama aku." Kevin memegang kedua lengan cewek cantik dihadapannya ini. "Ini semua tipuan.. tolong Vita.. jangan percaya sama ini. Kamu dengar aku kan sayang? plis.."
Airmata dari matanya kembali menetes.
"Aku percaya sama kamu Vin. Bahkan saat aku sudah mendengar sendiri dari mulut Saskia yang gak sengaja curhat tentang kamu ke aku.." suara Pevita terdengar lemah. "Tapi kamu tau apa, aku tetap percaya sama kamu bahkan setelah itu semua, aku.. aku tetap kuatin hati aku sendiri untuk tetap nahan semuanya dan percaya sama kamu."

Suara Pevita makin lama makin terdengar lemah dan pelan..
Sementara Kevin pun sudah tak bisa membendung tangisnya lagi. Dia menangis untuk pertama kali untuk, demi, dan oleh seorang cewek yang sangat dia cintai.

"Hari ini aku terima fax dan BBM ini semuanya tentang kamu. Kamu tau Vin, sakit banget.. sakit banget ngeliyat cowok yang sangat dicintai malah menghabiskan waktu bersama cewek lain. Kamu tau, hati ini cemburu dan marah juga sakit skali." lanjut Pevita

"Vita.." suara Kevin pun terdengar lemah dan pelan.

"Ini semua seperti berdiri dibatu karang.. awalnya mungkin baik, melihat ombak yang datang dan bisa dikalahkan oleh batu karang. Tapi lama kelamaan batu karang itu pun bisa terkikis oleh kuatnya ombak." ungkap Pevita sambil menghapus airmatanya sendiri.

"Sekarang.. pergilah.. bersama dia yang jauh lebih baik dariku."
Lalu Pevita membalikkan badannya dan berjalan pelan menuju kamarnya.
Kevin mengejarnya dan memeluknya.
"Kamu kemarin minta aku untuk jangan tinggalin kamu, tapi kenapa skarang malah kamu yang tinggalin aku?" tanya Kevin disela-sela isak tangisnya.
"Sudahlah Kevin.."
"Jangan! Tolong jangan lakuin ini ke aku Vit.."
Pevita melepaskan dekapan Kevin dari belakang badannya dan berlari masuk kekamarnya.

"Pevita!" teriak Kevin dari balik pintu kamarnya Vita. "Pevita buka pintunya, tolong.. aku mau jelasin semuanya. Kamu harus dengar penjelasanku dulu."

Lama Kevin menangis didepan pintu kamar Pevita sambil memanggil-manggil nama cewek yang dicintainya itu. Namun tak ada hasil apapun.. Pevita meninggalkannya dan itu semua karena kebodohannya sendiri.

***

"Hei bro.. gimana sama Saskia? Gue dengar lo sama dia udah jadian ya?" tanya Roby.
Raka hanya terdiam menatap Kevin yang tertunduk lemas.
"Wah kayaknya gue sama Raka siap-siap jadi babu lo sebulan ni.. juga nih kunci mobil gue." Roby menyodorkan kunci mobil miliknya kepada Kevin

Tapi Kevin malah menyodorkan kembali kunci mobil itu ketangan si pemilik mobil.
"Loh? Bukannya ini perjanjian dari tantangan  kita? Ngapain lo tolak?" tanya Roby
Kevin berjalan kebelakang mereka berdua dan merangkul mereka berdua.
"Perjanjian kita batal. Gue gak butuh semua itu. Jadi lo berdua bebas. Gak ada babu-babuan dan gak ada mobil sport atau mobil semewah apapun itu, gue gak butuh lagi."

Kemudian dia berjalan meninggalkan keduanya..

"Rob.. lo udah keterlaluan banget!" sungut Raka
"Loh santai bro.. bukannya ini bagian dari permainan kita. Just enjoy lai.. ini juga ide lo buat ngerjain dia kan?"
"Iya tapi ini udah lewat batas. Gue kira ini cuma buat ngerjain dia doang, tapi nyatanya semua ini untuk tujuan terselubung lo semata! Gak nyangka gue sama lo.."
"Hei Raka.. Raka.." Roby memanggil-manggil Raka yang berjalan minggalkannya.

***

Keesokkan sorenya..

Pevita duduk di depan danau kecil tepatnya danau buatan di dekat tempat tinggalnya, tempat yang menjadi tempat pertemuan dan awal kisah cintanya bersama Kevin.
Dari balik pohon, Kevin sedang memperhatikan Pevita. Tapi dia masih takut untuk mendekati kekasihnya ini.

"Aku tau kok kamu disitu Kevin.." Pevita membalikkan badan dan menatap kearah pohon tempat Kevin bersembunyi.
Kevin berjalan pelan mendekati Pevita.
"Hai..sa.." sayang .. bahkan kata itupun sudah tak mampu dia ucapkan mengingat semua kesalahan dan kebodohannya menyakiti cewek yang sangat dicintainya ini.

Lama mereka berdua terdiam..

"Vita.." panggil Kevin pelan
Pevita balik menatap Kevin lekat-lekat
"Aku minta maaf." ucap Kevin pelan, "Aku.."
Pevita tersenyum, "Aku sudah maafin kamu kok.. dan aku juga sudah dengar semuanya." potong Pevita
"Mak-sud-ka-mu?" tanya Kevin terbata-bata
"Maksud aku, aku udah dengar semua penjelasan dari Raka." Pevita tersenyum, "Kemarin Raka datang kerumahku, diantar sama Rolando. Raka nyeritain semuanya ke aku. Semuanya tentang tantangan yang mereka kasi ke kamu yang semula hanya untuk ngerjain kamu, ternyata malah digunakan sebagai kesempatan bagi Roby untuk hancurin cinta kita, sayang.."
"Apa?"

Sebenarnya Kevin bertanya "apa?" bukanlah karena dia kaget denga pernyataan Pevita tentang Raka dan Roby karena sebelum Raka menemui Pevita, Raka sudah terlebih dahulu menemui dan mejelaskan semuanya ke Kevin. Kata "sayang.." yang keluar dari mulut Pevita lah yang membuatnya kaget.
Dia berpikir bahwa dengan kesalahan dan kebodohannya mengkhianati cinta mereka yang telah dibangun selama 4 tahun, tak akan mungkin dimaafkan Pevita bahkan kalaupun itu hanya sebuah permainan antara dia dan Saskia, Pevita mana mungkin memaafkan cowok sebrengsek dirinya. Tapi ini..

"Kenapa?" Pevita balik bertanya, "Kamu gak mau aku panggil sayang lagi?"
Kevin tertawa dan tersenyum lalu memeluk Pevita kegirangan.
"Aku senang kok.. Senang banget." kata Kevin, "Aku cinta kamu Pevita. Sumpah demi Tuhan!"
"Iya, aku juga cinta kamu.."
Keduanya berpelukan kembali.

***

Ting.. Tong.. Ting..Tong..
Bel rumah Saskia berbunyi..

"Iya tunggu.. tunggu sebentar" Suara Saskia dari dalam rumahnya.

"Lo?! Ngapain lo disini? Pulang sana! Gue benci sama lo!" bentak Saskia yang kemudian menutup pintu rumahnya namun dihalangi oleh Pevita.
"Saskia.."
"Pevita.."

"Aku mau ngomong sama kamu.. tepatnya aku datang kemari bersama Kevin buat minta maaf sama kamu atas apa yang sudah dilakuin sama Raka dan Roby ke Kevin yang juga telah melukai kamu."

"Iya Saskia.. Gue minta maaf.."
"Sudahlah lupain aja.. Gue sudah maafin lo kok. Raka udah ngejelasin semua ke gue juga. Sorry tadi gue kasar gitu soalnya kalo gak gitu ya nantinya Pevita cemburu loh." Saskia tertawa lebar.
"Yaa ampun.. Saskia.. Lo ya.." Pevita memeluk Saskia yang juga membalas pelukannya

"Eh.. ayo masuk. Gue punya suprise untuk kalian dan tentunya ini berita bahagia yang sangat membahagiakan bagi gue khusunya."
Kevin dan Pevita turut masuk dalam rumahnya Saskia.

"Hei"
"Hai.."
"Raka? Rolando? Kalian?" tanya Kevin
"Kalian disini juga?"
"Vin .. sini Vin, ayo makan" ajak Rolando sambil terus melahap makanan diatas meja.
Kevin menghampiri kedua cowok dimeja makan milik Saskia itu.

"Ini.."
"Ini semua berkah Vit. Aku dulunya gak ada teman, sahabat bahkan aku gak punya. Tapi kini aku punya sahabat yaitu kamu, Kevin, Rolando, dan Raka, kekasihku."
Pevita terkejut mendengar kata terakhir yang keluar dari mulut Saskia
"Raka?"
"Iya kami baru jadian tadi.."
"Yaampun, senang banget dengarnya.. Selamat ya Sas.."
"Makasih Vita."

Ditaman belakang rumah Saskia..

Kevin dan Pevita memilih duduk ditaman belakang rumah Saskia agar terhindar dari ributnya Saskia, Raka dan Rolando.

"Sayang,"
"Hmmm.."
"Kamu kenapa masih milih aku, padahal aku udah nyakitin kamu?"
"Karena aku cinta kamu jadi aku juga harus siap untuk sewaktu-waktu disakitin kamu."
"Cuma itu?"
Pevita terkekeh, "Mungkin karena aku ini cewek bodoh."
"Kok bodoh sih sayang?"
Pevita tersenyum, "Cewek bodoh yang mencintaimu.."

Kata-katanya terpotong sesaat, saat dia menatap bola mata Kevin yang menatapnya dengan serius seolah tidak sabaran menunggu kalimat-kalimat selanjutnya.

"Yang mencintaimu dalam kehebatan cinta dan kesetiaanku."

Kevin tersenyum bahagia mendengar kata-kata Pevita dan memeluknya, memeluk tubuh cewek yang sangat dicintainya itu.

"dan aku cewek bodoh yang diam-diam mencintaimu." gumam Saskia dalam hatinya saat menatap dari balik jendela tepat ke ayunan tempat duduk Kevin dan Pevita ditaman itu.

TAMAT

Kamis, 09 Mei 2013

Malaikat tanpa Sayap

                        -Malaikat tanpa Sayap-

Namaku Karina Putri Adi Hermana, sering disapa Karin.. 
Aku seorang cewek yang terhitung cewek tomboy. Aku gak bisa dandan, aku gak bisa masak, dan bla.. bla.. bla.. aku gak bisa ngelakuin sederetan pekerjaan yang biasa dilakukan cewek-cewek yang feminim itu. Haha.. entah apalah namanya itu, yang aku bisa ya cuma main basket sama ini nih sahabatku sejak kecil, namanya Glen. 
Banyak cewek-cewek disekolah kami tergila-gila padanya. Ya ya ya, harus ku akui dia tampan, mempunyai bentuk wajah yang oval, kulitnya yang putih bersih, senyumnya yang manis, juga soal pelajaran dia itu jagoannya, tentu saja membuat cewek-cewek itu jatuh hati padanya. Meskipun dia mempunyai banyak penggemar seperti itu disekolah kami, tak membuatnya memilih salah satu dari mereka. Setiap kali kutanya, dia selalu bilang "Gak mau" atau "Gak suka" dan sederetan hal-hal yang lainnya. Aku sih tahu alasannya yang sebenarnya adalah karena cewek-cewek itu bukan tipenya. Nah aku? Haha.. Aku sih juga bukan tipenya. 
Jangan tanya tentang perasaanku padanya, aku tak tahu dan aku tak mengerti dan aku tak peduli. Yah untuk saat ini memang aku tak peduli dengan perasaanku padanya. Tapi entah sejak kapan dan darimana rasa itu datang, semuanya terasa berubah saat kedatangan seorang siswi baru di sekolah kami, tepatnya dia sekelas dengan kami berdua. Semenjak itu Glen sudah jarang bermain basket denganku, ataupun melupakan sederetan hal yang sering kami lakukan bersama. Glen benar-benar melupakanku, dia sekarang lebih terlihat berjalan bersama dengan Tania, siswi baru itu. Sering ku melihat mereka berdua bersama, sering pula aku merasa seperti ada yang hilang dariku.


Teng.. Teng.. Teng..
Bel istirahat menyadarkanku dari lamunanku sedaritadi saat melihat Glen dan Tania dari kejauhan tampak sedang berjalan bersama. Malahan kadang terlihat tertawa dan saling menyikut bahkan mencubit sesekali dilakukan keduanya.

"Mereka berdua serasi ya?" desis seorang cowok perlahan ditelingaku.
Aku kenal baik dengan suara ini, yah siapa lagi kalau bukan Eza. Nah ini dia ni, cowok yang paling sering gangguin aku. Padahal kalau mau dibilang, banyak cowok di sekolah yang takut dekat denganku apalagi gangguin aku, selain Glen yang jelas-jelas adalah sahabatku semejak kecil dan cowok yang satu ini, Eza. Wajahnya termasuk tampan, gak beda jauh kok dari wajah Glen. Tapi..

"Apaan sih?" tanyaku dengan intonasi kesal dan memutar kedua bola mataku.
"Hehe.. Gak kok, cuma bilang aja kalau mereka berdua itu serasi banget ya.." katanya sambil menunjuk kearah Glen dan Tania.
Aku mulai bertambah kesal dengan kata-katanya itu. Langsung saja ku berjalan menjauhi Eza, tapi justru dia mengikutiku sampai di meja kantin.

"Ngapain sih ngikutin gue terus?!!!" Aku membentaknya, berharap dia gak ngikutin ku lagi.
Bentakanku gak membuat dia berdiri dari kursi yang tepat berada didepanku. Eza tertawa lebar sebelum akhirnya dia menatapku lekat-lekat.

Keningku berkerut. "Apaan sih ini anak? Gak ada bosannya, gangguin gue melulu.. Gak ada takut-takutnya, padahal gue sering banget membentaknya. Terbuat dari apa ini anak?" pikirku

"Lo suka kan sama Glen?" tanya Eza dengan nada suara seolah meledekku.
"Apa-apaan sih?! KEPO banget lo!" kataku dengan ketus. "Glen itu sahabatku, mana mungkin aku suka sama dia!" lanjutku
"Nah kalo lo gak suka sama Glen, ngapaian tadi lo ngelamun?" tanya Eza
"Bukan urusan lo kan?" aku balik bertanya dengan nada sinis
"Kalo begitu lo sukanya sama siapa? sama gue?" pertanyaan Eza membuat kedua mata gue hampir saja keluar. Apaan lagi sih ini anak? Tambah aneh

Sesaat kemudian Eza malah tertawa lagi. Aku menjadi semakin bingung.
"Wajah lo.. wajah lo itu lucu banget.. wuahaha.." tawa Eza membuat beberapa pasang mata cewek-cewek mengarah tepat ke meja kami, bahkan terdengar sedikit cibiran mereka membuatku hampir muak dengan keadaan ini. Benar-benar mengusikku.

"EZA!!!" teriakku dengan keras sambil menutup mulutnya dengan kedua tanganku. "Bisa diam gak lo?!" Lagi-lagi aku membentaknya. Untuk sesaat dia terdiam, tapi sesaat kemudian dia tertawa kecil dan kemudian terdiam lagi.

"Sorry.. sorry deh.. habisnya wajah lo lucu banget. Jadinya perutku mules. Gak baik kan kalo nahan ketawa." katanya dengan masih sedikit meledekku.
Aku memutar kedua bola mataku.
"Sudahlah! Aku jadi gak mood makan disini lagi. Gara-gara wajah lo!" kataku dan langsung beranjak dari kursiku.

Tepat saat aku didepan pintu masuk kantin, aku berpapasan dengan Glen dan Tania.
"Hei.. Rin!" seru Glen sambil kemudian merangkulku. Kulihat Tania tersenyum menatap kami berdua.
"Tania, ini sahabat gue yang sering gue ceritakan itu." tutur Glen memperkenalkanku.
"Gue tau kok.. Kita kan sekelas." jawab Tania
"Aaaah! Iya ya.. kita kan sekelas."

Yaampun.. Glen benar-benar tak mengingat kita sekelas, semudah itu? Setahuku dia bukan tipe orang yang mempunyai daya ingat yang lemah sampai-sampai gak ingat kalau aku dan dia sekelas.

Aku tersenyum dalam kekecewaan dihatiku. Baru sebentar saja mengenal Tania, dia sudah melupanku dan entah kenapa dihatiku terasa ada sesuatu yang hilang.

"Rin, kami berdua ke kantin dulu ya.. Laper" kata Glen sambil melepaskan rangkulannya dariku
mm-Hmm.. baru saja mulutku membuka, kulihat Glen meraih tangan Tania.
"Yuk.." kata Glen sambil berjalan masuk ke pintu kantin.
"Eh ajak Karin lagi ya.." pinta Tania.
"Gak.. gak usah. Dia pasti sudah makan. Noh dia saja baru keluar dari kantin, sekarang giliran kita. Yuk.." kata Glen, "Duluan ya Rin. Bye.." lanjutnya.

Aku berdiri mematung ditempat itu melihat mereka berdua yang perlahan-lahan berjalan menjauhiku.

***

Beberapa hari berlalu.. Semakin dekat saja Glen dan Tania, sementara aku semakin kacau dengan perasaanku. Aku pun bingung dengan perasaan ini.

"Karin.. Karin.. hei.. hei bangun.. bangun.." Glen membangunkanku dari tidur siangku.
"Apa?" suaraku terdengar sedikit berat diakibatkan rasa ngantukku.
"Ayo.. ayo.. bangun. Bantuin gue nyari baju yang cocok buat gue." katanya
"Buat apaan sih?"
"Ah udah ntar baru gue jelasin. Skarang bantu gue nyari baju yang cocok dulu, yang keren deh pokoknya." katanya sambil menyodorkan kepadaku beberapa pasang baju yang dibawanya dari rumahnya. Rumah kami bersebelahan, jadinya ya gini..

"Nah ini nih.. cocok!" kataku
Glen cepat-cepat memakainya dengan tersenyum dan memelukku.
"Gue senang banget Rin.. lo tau gak, gue hari ini akan nembak Tania buat jadi pacar gue." ucap Glen

"APA?!!!" teriak hatiku. Seakan ingin meledak emosiku saat itu juga. Bisa kurasakan airmataku mulai tergenang dikedua bola mataku, tapi ku mencoba menahannya dengan tersenyum kecil pada Glen.

"Nah jadi gini nih ceritanya.. gue udah nyiapin tempat yang paling romantis di villa keluarga gue di puncak. Si Tania kan paling suka sama yang gituan. Nah gue akan ngasih dia hati ini. Kalau dia nerima gue, dia ambil tapi.." Glen tertunduk sejenak, "Tapi kalau gak.. yah dia matahin aja hati ini biar sama dengan hati gue yang patah kalo dia gak nerima gue." tutur Glen.

Penuturan Glen semakin terasa sakit saja dihatiku. Lidahku terasa kaku, tenggorokkanku seolah ada yang menahannya, kuusahakan mengatur kembali nafasku yang sedikit tercekat dibuatnya.

"Nah ya gitu deh.. Menurut lo gimana?" tanya Glen
"Ha? Apa?" Aku bali bertanya, sungguh sebenarnya aku tak ingin dia mengatakan itu lagi, aku berharap yang tadi ku dengar itu salah, bukan seperti itu. Tapi ternyata aku terlalu banyak berharap.
"Gue mau nembak Tania. Lo setuju kan?" tanya Glen, "Menurut lo gimana?" sambungnya lagi.
"Gue.. eeh, menurut gue itu sudah bagus. Semoga sukses." Lidahku terasa pahit mengeluarkan kata-kata itu dari mulutku sendiri. 

Ya ampun apa yang telah kulakukan? Bisakah aku melihatnya dengan cewek lain? Kalaupun aku gak menyukainya, kenapa hatiku harus sesakit ini?

Tak berapa lama kemudian, Glen pergi meninggalkanku sendiri dikamarku.
Aku menatap kepergiannya dari balik jendela kamarku yang terletak dilantai dua rumahku. Airmata yang sejak tadi kutahan, kini menetes begitu saja.

***

Keesokkan harinya..
Berita telah tersebar di sekolahku tentang hubungan Glen dan Tania. Yah karena Glen sudah seperti artis di sekolah jadinya apapun mengenainya pasti menjadi salah satu trending topik di sekolah, apalagi dikalangan cewek-cewek yang sering sekali terdengar olehku kemarahan mereka atau kadang terlihat histeris saat melihat Glen menggenggam tangan Tania di sekolah. Bisa kupahami apa yang cewek-cewek itu rasakan. Karena akupun merasakan hal yang sama..

"Yah ternyata bukan cuma cewek-cewek itu yah yang galau, tapi yang lagi duduk taman saat ini juga lagi galau sepertinya nih."
Suara seseorang dibelakang kursi ditaman sekolah yang sedang kududuki saat itu.
"Bukan urusan lo!" kataku
Perlahan-lahan Eza duduk disampingku.
"Galau itu nyesek ya? Buktinya bisa buat cewek sekuat kamu jadi rapuh juga."

Eza terdiam sesaat sebelum akhirnya mengarahkan pandangannya kearahku dan dengan tangannya dia meraih daguku agar aku menatapnya.

"Lo habis nangis ya?" tanyanya lagi.
Tapi kali ini raut wajahnya bukan seperti raut wajah seorang Eza yang sering sekali menggangguku.

"Bidadariku yang cantik.. kamu gak boleh nangis lagi ya.." katanya sambil memberi kutikkan kecil didahiku.
Sesaat dia membuatku terperangah dengan sikapnya yang lain dari sebelumnya.

"Lo apa-apaan sih?" kataku sambil menyingkirkan tangannya dari dahiku.
Eza hanya tersenyum kepadaku.
Bahkan senyumannya pun terasa lain bagiku. Bukan seperti Eza.

"Maaf.." samar-samar desisannya terdengar ditelingaku.
Kata maafnya pun ini terasa lain bagiku, benar-benar bukan seperti Eza yang kukenal.

Lama kami berdua terdiam. Sesekali kami berdua saling bertatapan. Bisa kulihat dengan jelas tampak dikedua bola matanya, sorot mata yang memang beda dari sebelumnya.

"Karin.." panggil Eza pelan
Pelan-pelan juga aku mengarahkan mataku kearahnya.

"Gue suka sama lo." ujar Eza

Mataku benar-benar tak bisa berkedip. Aku menatap matanya yang terus menatapku.
Tak bisa aku mempercayai ini, Eza.. Eza yang kukenal sering menggangguku, sering iseng terhadapku walaupun aku sering dijauhi cowok-cowok disekolah karena saking galaknya aku hingga gak ada satupun cowok yang ingin menjadikan aku kekasihnya. Tapi apa ini.. sekarang Eza ngomong kalau dia menyukaiku. Gak salah?

"Gue tau lo pasti terkejut mendengarnya. Tapi udah lama gue suka sama lo. Alasan gue sering gangguin lo disaat semua cowok disekolah ini menjauhi lo karena lo galak banget, adalah karena gue sayang banget sama lo. Liyat lo seperti ini membuat hati gue seperti diiris-iris. Gue khawatir banget sama lo. Gue peduli banget sama lo. Gue sayang sama lo, Rin.."

Penjelasan Eza tentang perasaanya membuat mulutku tak bisa mengeluarkan satu katapun. Mataku pun tak mau berkedip. Jantungku berdebar dengan kencang.

"Emang sih.. lo beda dari cewek-cewek yang lain. Tapi justru dibalik itu, itulah yang ngebuat gue jadi suka sama lo."

Aku tak bisa lagi mengerti semua. Aku tak mampu bersuara seolah ada yang menahan tenggorokkanku.

"Kenapa? Aneh ya? Tiba-tiba gue ngomong kayak gini?" tanya Eza, "Hehe.. gue juga ngerasa aneh sih, tapi entah kenapa semakin gue berusaha untuk gak larut dengan perasaan ini, justru rasa sayang ini semakin besar ke lo. Gue juga tau kok kalo lo sukanya sama Glen, tapi.." lanjutnya

"Za.." kataku perlahan memotong pembicaraannya
"Gak, lo gak perlu jawab apa-apa ke gue. Gue takut jawaban itu bukan jawaban yang ingin banget gue dengar tapi malah.."
"Za.." Aku mengarahkan pandanganku lagi kearahnya setelah airmataku menetes lagi dipipiku.
Entah mengapa aku jadi serapuh ini. Yah mau gimana lagi, sekuat-kuatnya besi suatu saat akan berkarat juga.

"Jangan.. jangan lo katakan apapun ke gue. Gue sudah bilang kan tadi, gue takut." kata Eza sambil tertunduk sesaat kemudian menatapku lagi sambilm tersenyum. "Tapi gue sudah lega kok.. Gue udah bisa ngungkapin perasaan yang selama ini gue pendam. Gue akan tunjukin betapa besarnya rasa cinta ini ke lo. Gue akan buktikan itu!" kata-katanya sungguh tegas terdengar olehku.
"Eza.."
Namun Eza tak membiarkanku melanjutkan kalimatku yang belum sempat kukeluarkan.
"Walaupun gue tau lo pada akhirnya gak bakalan milih gue, yang penting gue udah ungkapin dan gue akan tetap buktikan rasa cinta gue ini ke lo." katanya pelan sambil memandangku lekat-lekat.

"Gue pergi dulu.." kata Eza sambil beranjak dari kursi ditaman sekolah yang kami duduki bersama tadi.
Dalam hitungan detik, aku berlari dan memeluknya dari belakang. Entah apa yang ada diotakku saat itu, hingga hal yang tak pernah kupikirkan akan kulakukan akhirnya kulakukan juga. Aku memeluk Eza dari belakang.

"Jangan pergi.." kataku lirih
Hanya itu yang mampu kukatakan untuk menahannya.
Tak berapa lama kemudian, Eza membalikkan badannya dan langsung saja memelukku.
"Bodoh!" katanya sambil terus memelukku. "Memangnya siapa yang mau pergi?"
"Lo kan tadi mau pergi?" kataku pelan masih berada dalam pelukkan cowok tampan dengan dada bidangnya ini.
"Kan cuma pergi ke kelas.. ntar ketemu lagi."
Dia melepaskan sedikit pelukkannya dan menatap kedua mataku kemudian balik lagi memelukku bahkan lebih erat pelukkannya kali ini.

"Gue gak mungkin bisa pergi dari bidadari gue." ucapnya lembut
Aku tersenyum bahagia dalam pelukkannya.

Yah ternyata Tuhan itu memang baik dan adil. Dia sudah menyiapkan masing-masing orang dengan jodohnya masing-masing. Mungkin Tania adalah jodohnya Glen dan aku harus mengikhlaskan itu. Toh cinta itu akan datang dengan sendirinya, seperti sekarang ini.. aku dan Eza yang sering menggangguku ternyata menyukaiku. Eza menjadi malaikat tanpa sayap yang datang tuk menghapus sedihku dan menggantinya dengan kebahagiaan. Aku harus bersyukur untuk itu.

TAMAT

Rabu, 08 Mei 2013

Kesempatan Kedua (part 1)

-Kesempatan Kedua-

"Hari ini bertepatan dengan kejadian setahun lalu.. dimana aku harus kehilangan orang yang menyayangiku setulus hatinya dan malah memilih orang yang aku cintai tapi pada akhirnya malah orang yang aku cinta meninggalkan diriku demi orang yang dia cintai.
Andai waktu bisa kuputar kembali, aku akan memilih dia yang menyayangiku itu ketimbang memilih orang yang aku cintai tapi malah meningggalkanku. Andai saja waktu itu aku memilih Rei bukan Gino, pasti hidupku tak diliputi rasa penyesalan seperti ini. Andai saja waktu itu datang kembali, mungkinkah aku bisa bersama dengan Rei lagi?"
jemari Pitty terus saja mengetik keyboard laptop miliknya.

Tet.. Tet.. Tet.. 
Hp miliknya bergetar. Untuk sesaat dia menghentikan aktifitasnya didepan laptop dan mengalihkan perhatiannya tertuju ke layar hp miliknya -TELKOMSEL- ternyata pesan masuk dari operator.

"Mungkinkah aku bisa miliki Rei lagi seperti dulu? Aku ingin berlari dan mengatakan padanya kalau ternyata hidupku takan ada arti tanpa dirinya. Namun apakah itu mungkin? Mungkinkah kami bisa bersama lagi? Kini hanya tinggal keping-keping penyesalanku. Aku telah melukai hati Rei yang mencintaiku dengan memilih orang yang jelas-jelas tak memilihku. Andai saja aku punya kesempatan kedua, akan ku coba semampuku untuk membahagiakannya dan menyayanginya setulus hatiku.. " Pitty terus mengetik kata-katanya di blog miliknya, tanpa menyadari seseorang tengah membaca kata-katanya di monitor laptopnya.

"Serius?"
Suara seorang cowok dibelakangnya langsung saja membuat jemari Pitty berhenti mengetik. Suara yang masih tak asing baginya, suara yang sampai detik ini masih terus menghantuinya dengan rasa penyesalan terdalam.

Pitty tak berani menatap sosok cowok dibelakangnya ini, sampai akhirnya cowok itu duduk tepat didepannya. Dengan perlahan Pitty menatap cowok didepan duduknya ini. Ternyata benar, suara yang masih sangat dikenalnya itu tak lain adalah milik Rei.

Pitty berusaha mengatur nafasnya yang sedikit tercekat melihat cowok dihadapannya ini adalah Rei, mantan kekasihnya setahun yang lalu, yang dengan mudah saja dia tinggalkan dan memilih orang yang dicintainya.

Rei tersenyum lebar menatapnya.
"Hai Ty.. sudah lama ya, kita gak ketemuan? kira-kira udah setahun. Iya kan?" tanya Rei sambil terus tersenyum menatap Pitty, namun Pitty tak berani menatapnya.

"Ataukah aku harus move on dan melupakannya saja? entahlah! aku sendiri tak tahu aku harusnya gimana. Ingin rasanya aku untuk berlari ke dunia lain untuk melupakan segalanya, setidaknya sejenak saja aku ingin berhenti hidup dalam rasa penyesalanku padanya, pada Rei." Pitty melanjutkan tulisan di blognya yang belum usai.

"Pitty.." panggil Rei pelan. 
Jemari Pitty mulai berhenti untuk mengetik lagi, tapi dia hanya terdiam. Mulutnya seakan penuh, lidahnya seolah kaku, untuk berbicara. Karena sebenarnya dia pun tak tahu apa yang harus dia katakan pada Rei setelah setahun belakangan ini mereka tak pernah saling bertemu dan kini Rei muncul di hadapannya.

"Lo masih gak mau natap wajah gue?" tanya Rei.
Perlahan-lahan Pitty mengarahkan pandangannya ke cowok di hadapannya ini.

"Gue kangen masa-masa kita yang dulu. Masa-masa dimana gue bisa terus melihat senyum dan tawa lo yang ceria. Bukan lo yang sekarang! Bukan Pitty Aditia Sungkar yang berubah 180 derajat menjadi Pitty yang pemurung." tutur Rei
"Apa peduli lo sama gue? Bukan urusan lo kan, kalau gue kayak gini? Toh lo bukan siapa-siapa gue lagi!" kata Pitty dengan tekanan suara yang sedikit meninggi.
"Iya, iya, iya.. Memang gue bukan siapa-siapa lo lagi. Tapi asal lo tau.. gue masih sayang banget sama lo. Jelas?!!" bentak Rei

Bentakan Rei membuat hampir seluruh mata di kafe mengarah pada mereka berdua.
Airmata Pitty menetes dikedua pipinya. "Bagaimana mungkin orang yang telah ku sakiti masih mencintaiku hingga detik ini?" tanya Pitty dalam hatinya. Kata-kata Rei itu seolah terus terdengar dikedua telinganya, membuatnya semakin sakit. 

"Idiot!" kata Pitty dengan ketus, lalu berjalan secepat mungkin keluar dari kafe. Rei mengikutinya dari belakang.

"Aku memang idiot, tapi kamu sangat bodoh dan cukup idiot kalo kamu terus-terusan hidup dalam rasa penyesalan kamu!" teriak Rei saat sudah berada di depan kafe.
Mendengar itu Pitty menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Rei.
"Kamu gak tahu apa yang aku rasakan selama ini. Aku.."
"Zzzzzttt...." jari telunjuk Rei melekat dibibir Pitty. "Aku sudah gak peduli tentang apa yang terjadi dimasa lalu. Aku hanya mau satu.. kamu dan aku menjadi kita lagi. Kita mulai semuanya dari awal lagi." tutur Rei lembut

"Ta-ta..pi.." tapi aku takut membuatmu menangis lagi seperti setahun yang lalu..

Belum sempat kalimat itu dia teruskan, tiba-tiba Rei menciumnya..

Beberapa detik berlangsung. Dunia seolah berputar, seolah isinya kosong dan hanya mereka berdua saja. Helaan nafas Rei yang begitu hangat membelai kulit wajah Pitty, membuatnya harus menahan nafas untuk beberapa detik dan berusaha mengatur debaran jantungnya yang semakin kencang.



"Kamu mau kan?" tanya Rei perlahan ketika kedua pasang mata mereka saling bertemu. Pitty mengangguk pelan. Pitty tersenyum di dalam tangisnya. Rei ikut tersenyum lebar menatapnya.

Tindakan Rei yang dengan berani mencium Pitty didepan umum, ternyata membuat beberapa pasang mata yang mengarah ke tepat ke keduanya kadang terlihat sedang berbisik-bisik. Namun apa pedulinya.. Keduanya benar-benar dimabuk asmara.

                                                                                     to be continued..