2 bulan berlalu ..
"Rindu" gumam Aqila dalam hatinya sementara pandangannya terus melayang lurus ke luar jendela yang tampak lembap oleh hujan yang baru saja mereda. "Aku merindukan kamu, Rafa. Aku merindukan saat-saat kita bersama."
"Non.." panggil seorang wanita berumuran 50-an menyadarkannya dari lamunan yang sedaritadi menghiasi pikirannya. "Itu ada tamu didepan non."
"Makasih ya mbok."
"Non.." panggil seorang wanita berumuran 50-an menyadarkannya dari lamunan yang sedaritadi menghiasi pikirannya. "Itu ada tamu didepan non."
"Makasih ya mbok."
Aqila menarik napasnya dalam-dalam sesaat sebelum dia melangkahkan kakinya keluar dari kamar melihat tamu yang dimaksud pembantu rumah tangga keluarganya.
Mata Aqila seakan tak percaya melihat sosok pria yang sedang memandang keluar jendela.
"Vando? Lo?"
"Hai Aqila.." sapa Vando sambil tersenyum lebar.
Aqila menghampiri Vando dan duduk di sofa tepat dihadapan pria berkemeja merah kotak-kotak, kancing kemejanya dibiarkan saja dengan baju putih sebagai dalamannya.
"Loh kok belum siap-siap?" tanya Vando sambil melihat penampilan Aqila dari atas sampai bawah.
"Oh maaf.." jawab Aqila, "Gue siap-siap dulu ya.."
Vando mengiyakan sambil tersenyum lebar.
Yah.. belakangan ini hubungan Rafa dan Aqila memang agak merenggang dikarenakan permasalahan yang selalu berujung dengan adu mulut. Tapi selama itu, Vando hadir. Sering menghibur Aqila saat dirinya sedang sedih atau sekedar menemani Aqila dan sederetan hal-hal yang Vando lakukan untuk Aqila. Meski Vando yang kenyataannya sudah memiliki Florence tapi entah mengapa bukan Florence yang ditemani Vando, tapi Vando justru menemani Aqila yang bukan siapa-siapa baginya. Teman.. itulah hubungan yang Aqila tahu batas antara dirinya dengan Vando.
***
"Kelihatannya lo lagi sedih lagi ya?" tanya Vando yang sedikit melirik wajah wanita yang duduk di bangku disampingnya ini sambil berusaha tetap fokus mengendarai mobil berwarna hitam yang adalah miliknya.
"Gue?" Aqila balik bertanya
Vando melayangkan senyum padanya, "Gue tau kok." kata Vando, "Kalau lo gak keberatan lo boleh cerita kok ke gue." lanjutnya
Aqila tak menjawab kata-katanya.
"Hmm.. Kalau lo lagi gini, ya mau gimana lagi.. Gue akan bawa lo ke tempat yang bakalan bikin lo lupa segala-galanya. Percaya deh sama gue! Gue bakalan bahagiaan lo." tutur Vando.
Aqila melayangkan pandangannya menatap Vando.
Vando tersenyum lagi, "Tenanglah.. gue tau kok apa isi pikiran lo sekarang. Tenang aja, Rafa gak bakalan tau kalau gue sering ngajak lo jalan kayak gini. Kan dia jauh." katanya, "Oh dan Florence.." Vando menghentikan kata-katanya untuk beberapa saat, "Dia gak bakalan tau kita sering jalan."
"Vando.."
"Hmm?"
"Lo sering ngajak gue kayak gini, apa hubungan lo dan Florence akan baik-baik saja? Kalau dia tau lo kayak gini dia bakalan pikir gue yang enggak-enggak"
"Tenanglah.. Lagian gue juga udah mulai bosan dengannya. Hampir setiap hari dia selalu manja, nyuruh nganterin kesinilah kesitulah, nyuruh beliin inilah, itulah. Gue bosan!"
Aqila terdiam.
"Lalu bagaimana dengan lo?" tanya Vando, "Rafa jauh.. apa lo gak nyari aja penggantinya. Ya setidaknya yang dekat lah supaya bisa terus nemenin lo dan gak bakalan nyia-nyiain waktu sama lo misalnya gue."
Aqila melayangkan pandangannya tepat menatap mata Vando yang sedang menatapnya juga.
"Ini gila! Benar-benar gila! Aku gak menginginkan yang seperti ini, aku gak ingin mendengar kata-kata ini keluar dari mulutnya. Bodohnya aku kalau gini!" gumam Aqila dalam hati, kesal pada dirinya sendiri.
"Ah sudahlah .. lo gak usah jawab pertanyaan gue. Gue tau kok apa yang bakalan lo jawab. Pasti lo bakalan pilih Rafa meski ada sejuta pria didepan mata lo yang lebih baik dari Rafa. Iya kan?" tanyanya, "Meski gue berharap lo milih gue.. Aqila." ucap Vando, membuat mata Aqila terus memandang lurus kedepan.
***
Malamnya..
"Ini gila! Aaaaaaarrghhhh!" Aqila memukul-mukul boneka Bear berukuran besar ditempat tidurnya sambil menghela nafasnya berulang kali. "Vando gila! Gila! Reseh! Ngapain dia bilang gitu? Arrrgh! Ngeselin!" gumam Aqila.
Bonbon, sahabat dekatnya menatapnya tanpa sedikitpun berkedip matanya. Mata Aqila seakan tak percaya melihat sosok pria yang sedang memandang keluar jendela.
"Vando? Lo?"
"Hai Aqila.." sapa Vando sambil tersenyum lebar.
Aqila menghampiri Vando dan duduk di sofa tepat dihadapan pria berkemeja merah kotak-kotak, kancing kemejanya dibiarkan saja dengan baju putih sebagai dalamannya.
"Loh kok belum siap-siap?" tanya Vando sambil melihat penampilan Aqila dari atas sampai bawah.
"Oh maaf.." jawab Aqila, "Gue siap-siap dulu ya.."
Vando mengiyakan sambil tersenyum lebar.
Yah.. belakangan ini hubungan Rafa dan Aqila memang agak merenggang dikarenakan permasalahan yang selalu berujung dengan adu mulut. Tapi selama itu, Vando hadir. Sering menghibur Aqila saat dirinya sedang sedih atau sekedar menemani Aqila dan sederetan hal-hal yang Vando lakukan untuk Aqila. Meski Vando yang kenyataannya sudah memiliki Florence tapi entah mengapa bukan Florence yang ditemani Vando, tapi Vando justru menemani Aqila yang bukan siapa-siapa baginya. Teman.. itulah hubungan yang Aqila tahu batas antara dirinya dengan Vando.
***
"Kelihatannya lo lagi sedih lagi ya?" tanya Vando yang sedikit melirik wajah wanita yang duduk di bangku disampingnya ini sambil berusaha tetap fokus mengendarai mobil berwarna hitam yang adalah miliknya.
"Gue?" Aqila balik bertanya
Vando melayangkan senyum padanya, "Gue tau kok." kata Vando, "Kalau lo gak keberatan lo boleh cerita kok ke gue." lanjutnya
Aqila tak menjawab kata-katanya.
"Hmm.. Kalau lo lagi gini, ya mau gimana lagi.. Gue akan bawa lo ke tempat yang bakalan bikin lo lupa segala-galanya. Percaya deh sama gue! Gue bakalan bahagiaan lo." tutur Vando.
Aqila melayangkan pandangannya menatap Vando.
Vando tersenyum lagi, "Tenanglah.. gue tau kok apa isi pikiran lo sekarang. Tenang aja, Rafa gak bakalan tau kalau gue sering ngajak lo jalan kayak gini. Kan dia jauh." katanya, "Oh dan Florence.." Vando menghentikan kata-katanya untuk beberapa saat, "Dia gak bakalan tau kita sering jalan."
"Vando.."
"Hmm?"
"Lo sering ngajak gue kayak gini, apa hubungan lo dan Florence akan baik-baik saja? Kalau dia tau lo kayak gini dia bakalan pikir gue yang enggak-enggak"
"Tenanglah.. Lagian gue juga udah mulai bosan dengannya. Hampir setiap hari dia selalu manja, nyuruh nganterin kesinilah kesitulah, nyuruh beliin inilah, itulah. Gue bosan!"
Aqila terdiam.
"Lalu bagaimana dengan lo?" tanya Vando, "Rafa jauh.. apa lo gak nyari aja penggantinya. Ya setidaknya yang dekat lah supaya bisa terus nemenin lo dan gak bakalan nyia-nyiain waktu sama lo misalnya gue."
Aqila melayangkan pandangannya tepat menatap mata Vando yang sedang menatapnya juga.
"Ini gila! Benar-benar gila! Aku gak menginginkan yang seperti ini, aku gak ingin mendengar kata-kata ini keluar dari mulutnya. Bodohnya aku kalau gini!" gumam Aqila dalam hati, kesal pada dirinya sendiri.
"Ah sudahlah .. lo gak usah jawab pertanyaan gue. Gue tau kok apa yang bakalan lo jawab. Pasti lo bakalan pilih Rafa meski ada sejuta pria didepan mata lo yang lebih baik dari Rafa. Iya kan?" tanyanya, "Meski gue berharap lo milih gue.. Aqila." ucap Vando, membuat mata Aqila terus memandang lurus kedepan.
***
Malamnya..
"Ini gila! Aaaaaaarrghhhh!" Aqila memukul-mukul boneka Bear berukuran besar ditempat tidurnya sambil menghela nafasnya berulang kali. "Vando gila! Gila! Reseh! Ngapain dia bilang gitu? Arrrgh! Ngeselin!" gumam Aqila.
"Bon .. ini benar-benar diluar dugaan gue. Awalnya gue pikir dengan nerima ajakan Vando buat jalan bareng itu bisa ngatasi kegalauan gue dengan hubungan gue sama Rafa yang semakin renggang dengan permasalahan-permasalahan kami. Tapi... arghhhh!"
"Qila .. gue gak bisa ngomong yang lebih. Gue sebagai sahabat lo selalu nge-support lo apapun keputusan lo mau sama siapapun lo. Tapi gue saranin jangan sama Vando. Gue memang sahabatnya Vando juga karena sedari kecil kami bersama tapi karena gue sahabatnya Vando jadi gue bilang ke lo jangan. Lo juga harus mikir perasaan Florence kayak gimana. Kalian sama-sama wanita pasti mengerti sesama perasaan wanita. Gue memang tau kalau Vando suka sama lo udah dari lama banget tapi jangan deh Qila.." Bonbon menjelaskan panjang lebar, tak menyadari Aqila menatapnya sambil terus tersenyum mendengarkan kata-katanya, "Tapi .. ya terserah lo. Lo nyamannya sama yang mana. Rafa atau Vando. Gue dukung."
Aqila tertawa lebar mendengarkan kata-kata Bonbon yang seolah tak ada henti-hentinya keluar dari mulutnya.
"Yah kok malah ketawa sih?" tanya Bonbon. Wajahnya setengah cemberut melihat Aqila menatapnya dan terus tertawa.
"Lo lucu Bon." Aqila tertawa lagi, "Oke gini.. Bonbon sayang, gue Aqila Zuidith. Gue gak bakalan ngerebut pacar orang! Oke? dan lagi.. Bon, gue sama Rafa itu udah lama banget. Gue gak bakalan ngebiarin permasalahan-permasalahan yang sering timbul diantara kami yang membuat hubungan kami merenggang akhir-akhir ini jadi penghalang cinta yang kami bangun bertahun-tahun."
"Gue senang dengar jawaban lo ini. Puji Tuhan .. sahabat gue sudah dewasa. Hihi.." Bonbon tersenyum lebar lalu kemudian mereka berdua saling berpelukan.
***
date: August 17th, 2013
Meski jarak memisahkan kita, bukankah jarak yang mengajari kita segalanya?
Arti bertahan, arti kesabaran, arti cinta disaat suka dan duka, juga arti kesetiaan? Aku berterima kasih untuk jarak atas pelajaran berharga bagi cinta kita ini.
Aku berterima kasih juga pada waktu yang selalu mengeratkan cinta kita meski sering terjadi permasalahan diantara kita.
Aku percaya pada cinta kita.
Love you ♥Rafa
"Orang ketiga memang datang saat kita sedang bertengkar dengan pacar, datang saat kita jenuh. Dia bisa membuat kita nyaman tapi juga ngeselin! Tapi orang ketiga takan pernah mampu merusak hubungan yang kita sudah bangun selama bertahun-tahun. Bagiku orang ketiga hanyalah setan yang tertunda dan kamu kekasihku, kesetiaanku ini milikmu seutuhnya meski kita jarang berkomunikasi tetapi kamu selalu jadi perbincanganku dengan Tuhanku. Terima kasih jarak dan waktu untuk cinta ini." gumam Aqila dalam hatinya, lalu kemudian terlelap dalam tidurnya.
to be a continued..

kerennn...
BalasHapuslanjutannya mana??
nanti lanjutannya kaka, skrg b masih sibuk belajar
BalasHapus