Namaku Amel Cantika Brawijoyo, usiaku baru menginjak 15 tahun. .
Tak terasa aku sudah memakai pakaian putih abu-abu. Ini hari pertamaku sekolah. Aku berjalan menyusuri koridor sekolah mencari-cari kelasku.
"Hei kamu!" teriak seorang cowok dari lapangan basket. Aku menatap kearahnya. "Ambilin tuh bola dong!"
Bola basket yang hanya berjarak beberapa langkah dari tempatku berdiri. Aku menuruti perintahnya, tapi belum sempat kuambil bola itu seorang cowok telah mendahuluiku. Sebelum dia melempar bola basket kearah cowok bernomor punggung 15, dia sempat menatapku dan tersenyum lalu pergi meninggalkanku yang masih berdiri mematung melihat senyum manis yang tampak pada wajahnya. Dia memiliki lesung pipi yang semakin membuat jantungku berdebar 'gak karuan.
"Amel" terdengar suara seorang cewek memanggilku. Aku mengalihkan pandanganku kearah datangnya suara itu. "Amel .. kamu amel kan?"
"Bella?" aku balik bertanya. Cewek didepanku ini tertawa lebar. "Iya benar, ini gue Bella." katanya
Kami berdua berpelukkan kegirangan. "Wah ternyata kita sama-sama sekolah disini ya." kataku
Bella tersenyum, "Hmm.. Puji Tuhan aku lulus dengan peringkat beasiswa jadi bisa masuk disini."
Tak sepertiku yang masih punya orang tua yang sangat mampu membiyai sekolahku, Bella adalah salah satu siswa teladan di SMP kami dulu sehingga dia sering mendapat beasiswa dari sponsor dan akhirnya sekarang juga seperti itu. Semakin membahagiakan bagiku adalah karena kami berada dikelas yang sama saat ini.
Teng.. teng.. teng..
Bel tanda pelajaran telah dimulai. Tampak seorang guru wanita setengah baya, dan berparas cantik memasuki kelas kami. Beberapa siswa bergegas duduk ditempat mereka masing-masing, sama halnya dengan aku dan Bella. Meja kami berdekatan, tepatnya meja milik Bella terletak dibelakang mejaku. Meja kami berdekatan dengan jendela besar yang terbuka dan bersebelahan dengan koridor.
Hari itu angin yang sepoi-sepoi membuat rambut yang kuurai menjadi sedikit tertiup. Saat sedang kucoba menata kembali rambutku, tampak seorang cowok yang kukenal wajahnya. Cowok yang mempunyai lesung pipi itu. Aku menatapnya lewat depan kelas kami dan ya .. tatapannya sesaat juga kearah kelas kami saat sedang berjalan sambil berbincang dengan seorang guru berkaca mata. Ah dia tersenyum, kataku dalam hati. Aku menyukainya.
Beberapa jam terlewati dikelas dengan pelajaran kimia. Tiba saatnya istirahat. Aku dan Bella berjalan menuju kantin mencari makanan yang bisa kami beli.
"Wah.. kelihatannya padat ya." kata Bella dengan tekanan sedikit mengeluh melihat hampir tidak ada tempat kosong yang cukup untuk kami. Sementara mataku masih mencari-cari cowok berlesung pipi itu.
"Bella." sapa seorang cowok dari belakang kami.
Jantungku kembali berdebar 'gak karuan. Kali ini aku benar-benar berada didepan cowok berlesung pipi itu.
"Kak Rein." Bella balik menyapa.
Ternyata namanya Rein. Dari kemeja bajunya, bisa jelas kulihat papan nama miliknya. Reinhard Widjasakti.
Tatapanku membuat cowok berlesung pipi ini menatapku sebelum tersenyum. Ah lagi-lagi dia tersenyum, jantungku..
"Amel, kenalin ini kak Rein." kata Bella memperkenalkan cowok dihadapan kami ini. "Kak Rein kenalin ini Amel, temanku."
"Halo Amel" sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat. Aku sempat gugup dan masih malu untuk membalas jabat tangannya sebelum Bella mengangkat tanganku dan berjabatan tangan dengannya. Rein tersenyum lagi.
"Halo Amel" sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat. Aku sempat gugup dan masih malu untuk membalas jabat tangannya sebelum Bella mengangkat tanganku dan berjabatan tangan dengannya. Rein tersenyum lagi.
"Halo" tuturku lembut. Sudah sangat kuusahakan agar terdengar lebih lembut. Rein tersenyum.
"Kenapa Bella? Kalian berdua belum ada tempat duduk?" tanya Rein
"Iya kak."
Rein tersenyum lebar, "Ayo duduk dengan kakak." ajaknya
Hatiku bergirangan. Bella menatapku seolah bertanya meminta pendapatku. Tanpa tunggu lama, aku menganggukkan kepala tanda setuju. "Oke" kata Bella
Rein tersenyum lebar, "Ayo duduk dengan kakak." ajaknya
Hatiku bergirangan. Bella menatapku seolah bertanya meminta pendapatku. Tanpa tunggu lama, aku menganggukkan kepala tanda setuju. "Oke" kata Bella
Dewi keberuntungan berada dipihakku. Rein mengajak kami duduk bersama dia dan teman-temannya. Aku duduk bersebelahan dengan Rein, karena beberapa cowok teman Rein menarik tangan Bella untuk duduk ditengah-tengah mereka. Bella sepertinya sudah sangat akrab dengan mereka, pikirku.
Dikelas sebelum bel pelajaran dibunyikan ..
"Bella," bisikku pelan
"Kenapa mel?"
Aku tak langsung menjawab pertanyaan Bella. Antara masih malu untuk menanyakannya dan ragu untuk bertanya. Tapi ah .. demi cowok berlesung pipi kuberanikan saja diriku. "Bella, kak Rein kelas berapa?" tanyaku. Belum sempat dijawab cewek cantik berdarah jawa-batak ini, kualihkan pembicaraan kami, "Wah ini PR kimia tadi kan? Hebat sudah dikerjakan semua."
Bella tersenyum. Sepertinya dia tahu kalau aku salah tingkah saat bertanya mengenai cowok berlesung pipi itu. "Kelas XI IPA" katanya.
Aku yang tertunduk dengan raut wajah yag memerah seperti tomat, menatap Bella sambil tersipu malu. "Ah.." desahku pelan.
"Kak Rein kelas XI IPA. Dia adalah sahabat almarhum kakakku, Hendry."
"Oh begitu rupanya." kataku. Pantas saja cowok berlesung pipi dan teman-temannya tampak akrab dengan Bella, pikirku.
"Kenapa Mel? Kamu suka sama kak Rein?"
Mendengar pertanyaan Bella, jantungku berdebar, wajahku memerah dan aku hanya bisa tersenyum tanpa menjawab pertanyaan Bella, pelan-pelan kuanggukkan kepala.
"Wajar kok kalau kamu suka sama dia. Cewek-cewek disekolah ini kebanyakkan sangat mengaguminya karena kepintarannya. Selain pintar, dia baik, lembut, sopan dan kaya. Dia juga sering menjuarai olimpiade nasional dan mendapat beasiswa tapi uang beasiswa yang dia dapatkan sering disumbangkan ke panti asuhan." ujar Bella.
"Hmm.. Kamu Bell, kamu juga suka sama dia?" tanyaku
Bella menatapku. Hampir semenit dia tak menjawab pertanyaanku. "Ah, gak Mel. Kak Rein sudah seperti kakak-ku sendiri."
Aku tersenyum lega mendengarnya.
Semenjak saat itu, Bella menjadi jembatan kedekatanku dengan Rein. Kami sering makan bersama dikantin, sering ngobrol tentang banyak hal, bahkan kedekatanku dengan cowok berlesung pipi ini menjadikan satu alasan aku termotivasi belajar karena dia menjadi guru privatku dirumah.
to be a continue..
Dikelas sebelum bel pelajaran dibunyikan ..
"Bella," bisikku pelan
"Kenapa mel?"
Aku tak langsung menjawab pertanyaan Bella. Antara masih malu untuk menanyakannya dan ragu untuk bertanya. Tapi ah .. demi cowok berlesung pipi kuberanikan saja diriku. "Bella, kak Rein kelas berapa?" tanyaku. Belum sempat dijawab cewek cantik berdarah jawa-batak ini, kualihkan pembicaraan kami, "Wah ini PR kimia tadi kan? Hebat sudah dikerjakan semua."
Bella tersenyum. Sepertinya dia tahu kalau aku salah tingkah saat bertanya mengenai cowok berlesung pipi itu. "Kelas XI IPA" katanya.
Aku yang tertunduk dengan raut wajah yag memerah seperti tomat, menatap Bella sambil tersipu malu. "Ah.." desahku pelan.
"Kak Rein kelas XI IPA. Dia adalah sahabat almarhum kakakku, Hendry."
"Oh begitu rupanya." kataku. Pantas saja cowok berlesung pipi dan teman-temannya tampak akrab dengan Bella, pikirku.
"Kenapa Mel? Kamu suka sama kak Rein?"
Mendengar pertanyaan Bella, jantungku berdebar, wajahku memerah dan aku hanya bisa tersenyum tanpa menjawab pertanyaan Bella, pelan-pelan kuanggukkan kepala.
"Wajar kok kalau kamu suka sama dia. Cewek-cewek disekolah ini kebanyakkan sangat mengaguminya karena kepintarannya. Selain pintar, dia baik, lembut, sopan dan kaya. Dia juga sering menjuarai olimpiade nasional dan mendapat beasiswa tapi uang beasiswa yang dia dapatkan sering disumbangkan ke panti asuhan." ujar Bella.
"Hmm.. Kamu Bell, kamu juga suka sama dia?" tanyaku
Bella menatapku. Hampir semenit dia tak menjawab pertanyaanku. "Ah, gak Mel. Kak Rein sudah seperti kakak-ku sendiri."
Aku tersenyum lega mendengarnya.
Semenjak saat itu, Bella menjadi jembatan kedekatanku dengan Rein. Kami sering makan bersama dikantin, sering ngobrol tentang banyak hal, bahkan kedekatanku dengan cowok berlesung pipi ini menjadikan satu alasan aku termotivasi belajar karena dia menjadi guru privatku dirumah.
to be a continue..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar