welcome to my blog

welcome to my blog

Jumat, 23 Agustus 2013

Ini Saatnya Melepaskanmu dan Mencoba Bangkit Meski Aku Tahu Aku Rapuh


Dia berubah! Bisa kurasakan perubahan sikapnya itu beberapa minggu belakangan ini semenjak kepergiannya dalam mengikuti kegiatan mahasiswa. Aku bisa mengerti itu, hanya saja belakangan ini aku pun membutuhkannya tapi dia tak pernah ada waktu semenit untuk menghubungiku. Apa ini wajar? Diantara 24 jam yang Tuhan berikan untuk dia, tak ada semenit pun waktunya untuk menghubungiku. Pokoknya dia berbeda, saat kami berdekatan itulah hal yang membahagiakan tapi semuanya terasa berbeda semenjak kami berjauhan .. Entah itu karena aku atau karena dia dengan dunianya yang seolah-olah menempatkanku di nomor sekian dalam hidupnya.

Aku duduk menunggu ada dering sms di handphone pink milikku. Sesekali kulayangkan pandanganku menatap  ke layar HP yang tetap tak kunjung berdering sudah hampir seharian ini.
Sudah lebih dari 10 SMS yang ku kirimkan, namun tak ada satupun balasan dari pemilik nomor belakang 049 itu. Aku tahu pasti dia sedang sibuk dengan kegiatan mereka disana, namun apa sebegitu sibuknya dia sampai-sampai sama sekali tak sempat membalas SMSku sekali saja?

Sesekali aku menghela napasku bahkan sesekali aku mendengus kesal. Dimana kamu? Beberapa minggu ini kamu selalu begini! Aku selalu ditinggal tanpa kabarmu. Saat aku sudah mulai lelah menunggumu, aku mulai mengeluh padamu bahkan terkadang aku mengomel padamu. Awalnya kamu selalu jengkel tapi paling cepat tiga jam-an kamu mengirim pesan maaf padaku atau paling lambatnya sehari baru setelah itu kamu meminta maaf. Itu bisa ku mengerti mungkin kamu lelah bila mendengar aku mengeluh atau mengomel ketika kamu tak membalas atau menjawab panggilanku. Tapi sekarang .. dimana kamu? Akankah kamu melakukannya sekali lagi? Tak bisakah kamu mengerti aku ini pacar kamu dan butuh kamu! Lagi-lagi aku menghela napasku ..

Dimana kamu? Tahukah kamu aku rindu kita? dan aku butuh kamu. S'karang kamu benar-benar membuatku .. merasa kehilangan seseorang yang aku kenal dan aku cintai. "Kimmy"

Lamunanku sedaritadi pun buyar ketika Troy tiba-tiba muncul dan duduk disampingku. Belum sempat pula kumelanjutkan kalimatku "merasa kehilangan seseorang yang aku kenal dan aku cintai."

"Hey.." sapaku pelan sambil berusaha melupakan lamunan yang sejak tadi merajai isi otakku.

Troy menatapku dengan pandangan menyelidik. Aku sedikit gugup saat melihat dia terus menatapku dengan mata sedikit dikecilkan seolah dia adalah detektif dan aku adalah tersangkanya disini.

"Kenapa?" tanyaku, berusaha mengalihkan pembicaraan dengan mulai berdiri dari kursi dan merapikan kertas yang berhamburan yang menjadi sasaran pelampiasan emosiku.

"Kamu tuh yang kenapa?!" Troy sedikit mengeluh, "Sejak tadi aku ketuk pintu kamarmu, tak ada jawaban sama sekali. Akhirnya aku masuk dan .."

Kali ini aku yang menatap Troy dengan seksama. Ah.. iya bodohnya aku! Troy sudah di kamarku.. Mengapa pikiranku selambat ini baru menyadari sejak tadi aku dan Troy sedang berbincang.

"Kenapa?" Troy balik bertanya kepadaku sambil mengerutkan keningnya.

"Ah yaa.. sorry.." Aku menghembuskan napasku yang tadi sempat kutahan sejenak.
"Kamu sepertinya sedang galau lagi ya?" tanya Troy lagi.
"Galau?" Aku balik bertanya, "Ah gak..gak.. gak kok!" sangkalku, sambil terus berusaha tak memandang matanya Troy yang sedang menatapku lekat-lekat, dan tetap merapikan beberapa pakaianku yang sedikit berserakkan ditempat tidurku.
"Gak usah bohong sama aku Kimmy. Aku tahu kamu.. Sejak tadi pikiran kamu gak disini. Aku perhatikan semenjak beberapa hari belakangan ini kamu selalu begini."

Troy .. Dia adalah salah satu sahabat karibku semenjak kami kecil. Dia selalu mengerti keadaanku, seperti saat ini contohnya. Aku tak bisa menyembunyikan kegalauanku ini dihadapannya. Tentu saja karena kami bersahabat semenjak kecil jadinya apapun kegalauanku pasti dia akan segera menyadarinya.

"Aku .. huufht .." Aku menarik napasku dalam-dalam berusaha menenangkan pikiranku dulu. Lalu dengan perlahan kuceritakan kegalauanku padanya. Dia mendengarnya dengan seksama.

"Jadi begitu masalahnya?"
Aku mengangguk pelan.
"Mungkin dia lagi sibuk Kimmy .. Yah kamu juga jangan langsung negatif thinking dulu dong Kimm. Kami laki-laki walaupun sesibuk apapun, kami akan selalu mengingat wanita yang kami sayang. Itu sih faktanya. Percaya saja sama dia."
"Aku percaya sama dia. Tapi coba kamu pikir seharian dia hilang kabar gitu aja. Sudah kukirimkan SMSku berulang kali, aku menelponnya pun berulang kali tapi sama sekali tak ada respon satupun darinya."
"Coba kamu telpon lagi .."
Dengan senyumanku yang hampir tampak samar dibelahan bibirku, aku mengiyakan kata-kata Troy. Mungkin Toy benar, mungkin Alfred sedang sibuk dan belum bisa menghubungiku.

***

Malamnya ..

Masih sama seperti siang tadi, kukirimkan pesanku padanya berulang kali namun tak kunjung mendapat balasan. Karena pada dasarnya aku bukanlah orang yang sabaran, kucoba kuatkan hatiku untuk menelponnya.

"Halo" jawab Alfred
Hatiku langsung melonjak kegirangan. Akhirnya dia menjawab teleponku.

"Gak ada orang yang bicara?!" tanyanya ketus, langsung menutup telpon. Padahal aku baru mau membuka suaraku disaat yang bersamaan .. Tet .. Tet .. Tet .. -Bunyi telepon ditutup-
Telepon kedua tak diambil. Aku mengirim SMS lagi padanya, minta dia untuk menerima teleponku. Telepon ketiga, akhirnya dia menjawabnya.

"Halo .."
"Halo sayang.."
"Ya halo .. "
"Sayang kok ditutup telponnya tadi? Aku baru mau bicara sudah ditutup telponnya." kataku manja. 
"Makanya .. !!" serunya dari seberang telpon.
"Sayang, kok SMSku gak dibalas-balas hampir seharian ini?" tanyaku dengan pelan takut kata-kataku membuat dia menutup telpon tiba-tiba lagi seperti tadi misalnya, seperti beberapa hari lalu dan yang sering terjadi belakangan ini.

Dia tak menjawab pertanyaanku malah sibuk berbicara dengan seseorang atau bahkan beberapa orang. Di sela-sela itu aku mendengar suara bising seperti dijalanan. Entahlah .. pikiranku mulai kembali kacau, tapi ku usahakan tuk kuatkan hatiku sendiri dengan mengulang pertanyaanku lagi .. Masih sama tak ada jawaban atas pertanyaanku, padahal aku sangat ingin mendengar penjelasannya dan ingin dia tahu betapa aku merindukan dirinya, merindukan kita.

"Alfred.." panggilku

"Sayang.." aku terus memanggilnya tapi kuusahakan emosiku tak memuncak dengan sikapnya yang mengacuhkanku. "Alfred!" Teriakku. Habis sudah batas kesabaranku. Aku terlalu di acuhkan dan tak di anggap seperti ini.

"Yaa.." jawabnya, seolah-olah jawabannya tak merasa bersalah sama s'kali atas sikapnya padaku.
Aku menghela napasku dalam-dalam berusaha tenang lagi.

"Kok gak dibalas sms-smsku sayang? Kemarin juga gitu. Lalu tadi pagi sayang hanya membalas semua smsku dengan ucapan selamat pagi setelah itu gak ada lagi kabar apapun. Kenapa?" tanyaku masih dengan intonasi manja.

Lagi-lagi dia tak mempedulikanku .. Emosiku pun memuncak! Kesabaranku pun ada batasannya untuk semua ini.

"Alfred"
"Aku gak mau balas SMS kamu." jawabnya singkat.
Aku kaget mendengar kalimat itu. "Apa?" tanyaku, "Gak mau balas SMSku?" Aku mengulang kata-katanya, "Kenapa gak mau balas SMSku?" tanyaku lagi. Kata-kata itu seakan-akan sedang memporak-porandakkan kepalaku hingga aku menghujaninya dengan pertanyaan itu berulang kali karena dia sama sekali tak menjawabnya.

"Iya .. iya tutup telpon deh! Nanti aku balas SMSnya."
Tanpa mempedulikanku dia mematikan lagi telponnya.

Aku menunggu SMSnya belum juga masuk. Lalu aku mengirim lagi SMS padanya tuk kesekian kali. Tapi tak ada satupun yang dia balas. Karena bosan, kesal, sedih dan marah, kubuka situs sosial tempatku berbagi seperti twitter dan facebook.

Tiba-tiba ..

Chatt yang masuk begitu mengagetkanku! Dunia ini terasa berhenti sesaat. Kucoba mengatur napasku pelan-pelan yang sempat tercekat membaca setiap detik kalimat di chatting tersebut. "Dia sedang bersama dengan wanita."
Perlahan-lahan butiran bening mulai membasahi kedua belahan pipiku. Benarkah ini? Perasaanku benar-benar tak karuan!

Dengan cepat aku mengirim SMS padanya .. sungguh ini benar-benar tak seperti yang aku inginkan. Aku ingin mempercayainya tapi saat itu aku pun merasakan perubahan sikapnya juga mungkin karena ada wanita lain dan aku pelan-pelan mulai tersingkir dari hatinya atau bahkan tak pernah ada dihatinya.

***

Keesokkan paginya .. Ku pikir saat aku bangun, kutemukan SMS yang menjelaskan padaku setidaknya tentang seharian hilang tanpa kabar, dan kata-katanya yang bilang tak ingin membalas SMSku juga tentang bersama wanita yang tadi malam sudah kulupakan karena chatting selanjutnya itu dia sedang bersama dengan tiga orang wanita, kata seseorang kepadaku melalui chatting di situs sosial. Jadi kuanggap itu hal wajar kalau bersama dengan tiga wanita mungkin teman yang kebetulan bertemu saat itu.

Tapi ternyata harapanku sia-sia! Malah kudapati SMS berinti "Terserah apa yang ada diotakku!"
Benarkah? Sungguh tak inginkah kamu menjelaskannya padaku? Setalah apa yang telah kita lalui, seberapa besarnya kesetiaanku dan pengorbananku padanya, dia menjawab semua pertanyaanku dengan terserah apa yang ak pikirkan?

Aku terkekeh kesal. Ini sungguh tak bisa kupercaya!
Perdebatan singkat terjadi diantara kami dan berujung lagi dia tak membalas satupun SMS dariku. Sementara aku masih dengan bodohnya terus menatap layar HPku berharap dia memberi penjelasan untukku. Setidaknya semenit dari waktunya untukku. Tapi tak kunjung kutemui.

Aku benar-benar galau. Pikiranku kacau tak karuan. Seolah ada dua malaikat dikiri dan kananku, yang satu menyuruhku untuk melepaskannya, yang satu menyuruhku untuk mempertahankannya setidaknya mempertahankan apa yang telah aku bangun bersamanya selama hampir 3 tahun ini.

***

Semenjak hari itu, aku terus memikirkannya .. aku berharap dia akan mempertahankanku seperti biasanya dan menjelaskan padaku arti sikapnya kepadaku belakangan ini. Tapi tak kutemukan satupun itu. Aku mulai menyiksa diriku sendiri seolah tak menginginkan hidupku bertahan lebih lama lagi. Troy selalu memarahiku dengan sikapku yang seperti itu.

Sampai pada akhirnya ..

"Kamu terlalu di nina bobokan oleh cinta kamu sama dia!" Seru Troy dengan nada kesal.
Aku tak sanggup menatap matanya saat aku terbaring ditempat tidur dengan lemahnya.
 
"Sekarang kamu mikirin dia.. Nah kalau kamu sakit atau meninggal siapa yang rugi? DIA? Pasti dia ada yang lain lah .. atau pasti dia cari lain" katanya lagi. 
Kata-kata ini terasa seperti mengiris hatiku pelan-pelan.

"Hellow! Sadar! Kalau dia benar-benar mencintai kamu, dia pasti ngerti kamu, mempertahankan kalian, dan memperjuangkan kalian!" Intonasinya mulai meninggi.
Bisa kurasakan saat itu emosinya. Sementara aku hanya terdiam dan terus menitihkan airmataku.
 
"Kamu hanya menyiksa dirimu sendiri. Sadarkan dirimu sendiri kalau dia tak peduli padamu apalagi peduli pada kalian ya hubungan kamu dan dia. " Lanjutnya.

Kalimat-kalimatnya benar-benar menyakitiku.

"Kamu gak mengerti aku!" seruku dalam tangisku.

"Bagaimana aku mau mengerti kamu Kim, kalau kamu sendiri menyiksa diri kamu karena memikirkan seseorang yang jelas-jelas tak pernah memikirkan kamu?!"

Aku menangis. Diam-diam aku membenarkan kata-katanya.

"Itu benar Kimm .. Kalau dia sayang sama kamu, dia gak bakalan nyakitin kamu kayak gini entah itu dengan sikapnya atau apalah itu. Kalau dia benar-benar cinta sama kamu dia pasti ngabarin kamu sesibuk apapun dia entah dengan cara apapun itu. Dunia ini canggih, kalau dia terus-terusan kayak gitu .. aku pun gak yakin kalau cuma nama Kimmy Scarlet Ryder yang ada dihatinya saat ini." tutur Gabrina, sahabat dekatku yang lain.

Aku kembali terisak sekeras mungkin mendengar penuturan Gabrina. Aku menyadari semuanya ..

Mungkin sudah saatnya aku melepaskan dia, melepaskan apa yang telah aku perjuangkan selama hampir 3 tahun, meski terkadang aku memarahinya dan mengatakan ingin melepaskannya tapi itu semua tak pernah aku buktikan. S'karang dari semua ini, dia tetap tak menghubungiku bahkan untuk semenit menjelaskan arti sikapnya dan semuanya yang terjadi antara kami kepadaku beberapa minggu ini, itupun tak dia lakukan sama sekali.

"Jangan pernah kamu takut untuk melepaskan seseorang yang sering menyakitimu bahkan tak mempedulikan perasaanmu bahkan ketika kamu sakitpun dia mengabaikanmu, meski dia adalah orang yang sangat kamu cintai. Masih banyak orang diluar sana yang menyayangi dan mencintaimu. Kamu hanya butuh membuka hati dan dirimu." ungkap Gabrina sambil memeluk diriku yang masih terbaring.

Mereka benar! Aku yang terlalu bodoh hanya mengharapkan dia yang sering menyakitiku bahkan aku masih bodoh menunggu penjelasannya. Aku pun terlalu bodoh menjadikannya salah satu tujuan hidupku namun kenyataan dia sering menyakiti dan mengabaikanku. Mungkin memang aku harus melepaskan dia bersama dengan wanita yang benar-benar dia cintai dan menjadi pilihan menemani seumur hidupnya. Yah mungkin ..

Meski aku tak tahu bagaimana hidupku selanjutnya tanpa dia, ku pasrah .. Kuserahkan semuanya pada Sang Pencipta aku dan dirinya. Satu percakapan terakhirku dengan Tuhan-ku tentang kamu, "Terima kasih untuk semua yang terjadi antara kita selama hampir 3 tahun. Aku menyayangimu dan semoga kamu bahagia dengan hidupmu dan dia yang kau cintai dan benar-benar membuatmu bahagia tidak seperti aku yang sering memaksa kamu memberikan kabar untukku, sering cerewet, dan segala sikap burukku. Semoga kamu bahagia selalu."
"Meski aku tahu aku rapuh. Tapi kan kucoba bangkit kembali" gumamku dalam hati disela-sela doaku.  "Menata hidupku sendiri,meski itu harus kulakukan sendiri dan tanpa kamu"


"Ini saatnya melepaskanmu .."  

                                                                     THE END

                                                                   

Sabtu, 17 Agustus 2013

LDR edisi: Orang Ketiga part 2

 -Orang ketiga itu adalah setan yang tertunda, selalu datang saat kita jenuh, buat nyaman tapi ngeselin. Tapi cinta kita mengalahkannya-

2 bulan berlalu .. 

"Rindu" gumam Aqila dalam hatinya sementara pandangannya terus melayang lurus ke luar jendela yang tampak lembap oleh hujan yang baru saja mereda. "Aku merindukan kamu, Rafa. Aku merindukan saat-saat kita bersama."

"Non.." panggil seorang wanita berumuran 50-an menyadarkannya dari lamunan yang sedaritadi menghiasi pikirannya. "Itu ada tamu didepan non."
"Makasih ya mbok." 
Aqila menarik napasnya dalam-dalam sesaat sebelum dia melangkahkan kakinya keluar dari kamar melihat tamu yang dimaksud pembantu rumah tangga keluarganya.

Mata Aqila seakan tak percaya melihat sosok pria yang sedang memandang keluar jendela.
"Vando? Lo?"
"Hai Aqila.." sapa Vando sambil tersenyum lebar.
Aqila menghampiri Vando dan duduk di sofa tepat dihadapan pria berkemeja merah kotak-kotak, kancing kemejanya dibiarkan saja dengan baju putih sebagai dalamannya.
"Loh kok belum siap-siap?" tanya Vando sambil melihat penampilan Aqila dari atas sampai bawah.
"Oh maaf.." jawab Aqila, "Gue siap-siap dulu ya.."
Vando mengiyakan sambil tersenyum lebar.

Yah.. belakangan ini hubungan Rafa dan Aqila memang agak merenggang dikarenakan permasalahan yang selalu berujung dengan adu mulut. Tapi selama itu, Vando hadir. Sering menghibur Aqila saat dirinya sedang sedih atau sekedar menemani Aqila dan sederetan hal-hal yang Vando lakukan untuk Aqila. Meski Vando yang kenyataannya sudah memiliki Florence tapi entah mengapa bukan Florence yang ditemani Vando, tapi Vando justru menemani Aqila yang bukan siapa-siapa baginya. Teman.. itulah hubungan yang Aqila tahu batas antara dirinya dengan Vando.

***

"Kelihatannya lo lagi sedih lagi ya?" tanya Vando yang sedikit melirik wajah wanita yang duduk di bangku disampingnya ini sambil berusaha tetap fokus mengendarai mobil berwarna hitam yang adalah miliknya.
"Gue?" Aqila balik bertanya
Vando melayangkan senyum padanya, "Gue tau kok." kata Vando, "Kalau lo gak keberatan lo boleh cerita kok ke gue." lanjutnya
Aqila tak menjawab kata-katanya.
"Hmm.. Kalau lo lagi gini, ya mau gimana lagi.. Gue akan bawa lo ke tempat yang bakalan bikin lo lupa segala-galanya. Percaya deh sama gue! Gue bakalan bahagiaan lo." tutur Vando.
Aqila melayangkan pandangannya menatap Vando.
Vando tersenyum lagi, "Tenanglah.. gue tau kok apa isi pikiran lo sekarang. Tenang aja, Rafa gak bakalan tau kalau gue sering ngajak lo jalan kayak gini. Kan dia jauh." katanya, "Oh dan Florence.." Vando menghentikan kata-katanya untuk beberapa saat, "Dia gak bakalan tau kita sering jalan."
"Vando.."
"Hmm?"
"Lo sering ngajak gue kayak gini, apa hubungan lo dan Florence akan baik-baik saja? Kalau dia tau lo kayak gini dia bakalan pikir gue yang enggak-enggak"
"Tenanglah.. Lagian gue juga udah mulai bosan dengannya. Hampir setiap hari dia selalu manja, nyuruh nganterin kesinilah kesitulah, nyuruh beliin inilah, itulah. Gue bosan!"
Aqila terdiam.

"Lalu bagaimana dengan lo?" tanya Vando, "Rafa jauh.. apa lo gak nyari aja penggantinya. Ya setidaknya yang dekat lah supaya bisa terus nemenin lo dan gak bakalan nyia-nyiain waktu sama lo misalnya gue."
Aqila melayangkan pandangannya tepat menatap mata Vando yang sedang menatapnya juga.

"Ini gila! Benar-benar gila! Aku gak menginginkan yang seperti ini, aku gak ingin mendengar kata-kata ini keluar dari mulutnya. Bodohnya aku kalau gini!" gumam Aqila dalam hati, kesal pada dirinya sendiri.

"Ah sudahlah .. lo gak usah jawab pertanyaan gue. Gue tau kok apa yang bakalan lo jawab. Pasti lo bakalan pilih Rafa meski ada sejuta pria didepan mata lo yang lebih baik dari Rafa. Iya kan?" tanyanya, "Meski gue berharap lo milih gue.. Aqila." ucap Vando, membuat mata Aqila terus memandang lurus kedepan.

***

Malamnya..

"Ini gila! Aaaaaaarrghhhh!" Aqila memukul-mukul boneka Bear berukuran besar ditempat tidurnya sambil menghela nafasnya berulang kali. "Vando gila! Gila! Reseh! Ngapain dia bilang gitu? Arrrgh! Ngeselin!" gumam Aqila. 
Bonbon, sahabat dekatnya menatapnya tanpa sedikitpun berkedip matanya.

"Bon .. ini benar-benar diluar dugaan gue. Awalnya gue pikir dengan nerima ajakan Vando buat jalan bareng itu bisa ngatasi kegalauan gue dengan hubungan gue sama Rafa yang semakin renggang dengan permasalahan-permasalahan kami. Tapi... arghhhh!"

"Qila .. gue gak bisa ngomong yang lebih. Gue sebagai sahabat lo selalu nge-support lo apapun keputusan lo mau sama siapapun lo. Tapi gue saranin jangan sama Vando. Gue memang sahabatnya Vando juga karena sedari kecil kami bersama tapi karena gue sahabatnya Vando jadi gue bilang ke lo jangan. Lo juga harus mikir perasaan Florence kayak gimana. Kalian sama-sama wanita pasti mengerti sesama perasaan wanita. Gue memang tau kalau Vando suka sama lo udah dari lama banget tapi jangan deh Qila.." Bonbon menjelaskan panjang lebar, tak menyadari Aqila menatapnya sambil terus tersenyum mendengarkan kata-katanya, "Tapi .. ya terserah lo. Lo nyamannya sama yang mana. Rafa atau Vando. Gue dukung."

Aqila tertawa lebar mendengarkan kata-kata Bonbon yang seolah tak ada henti-hentinya keluar dari mulutnya.

"Yah kok malah ketawa sih?" tanya Bonbon. Wajahnya setengah cemberut melihat Aqila menatapnya dan terus tertawa.

"Lo lucu Bon." Aqila tertawa lagi, "Oke gini.. Bonbon sayang, gue Aqila Zuidith. Gue gak bakalan ngerebut pacar orang! Oke? dan lagi.. Bon, gue sama Rafa itu udah lama banget. Gue gak bakalan ngebiarin permasalahan-permasalahan yang sering timbul diantara kami yang membuat hubungan kami merenggang akhir-akhir ini jadi penghalang cinta yang kami bangun bertahun-tahun."

"Gue senang dengar jawaban lo ini. Puji Tuhan .. sahabat gue sudah dewasa. Hihi.." Bonbon tersenyum lebar lalu kemudian mereka berdua saling berpelukan.

***

                                                                                              
                                                                                                           date: August 17th, 2013

Dear diary,
 
Meski jarak memisahkan kita, bukankah jarak yang mengajari kita segalanya?
Arti bertahan, arti kesabaran, arti cinta disaat suka dan duka, juga arti kesetiaan? Aku berterima kasih untuk jarak atas pelajaran berharga bagi cinta kita ini.
Aku berterima kasih juga pada waktu yang selalu mengeratkan cinta kita meski sering terjadi permasalahan diantara kita.
Aku percaya pada cinta kita.

Love you ♥Rafa


"Orang ketiga memang datang saat kita sedang bertengkar dengan pacar, datang saat kita jenuh. Dia bisa membuat kita nyaman tapi juga ngeselin! Tapi orang ketiga takan pernah mampu merusak hubungan yang kita sudah bangun selama bertahun-tahun. Bagiku orang ketiga hanyalah setan yang tertunda dan kamu kekasihku, kesetiaanku ini milikmu seutuhnya meski kita jarang berkomunikasi tetapi kamu selalu jadi perbincanganku dengan Tuhanku. Terima kasih jarak dan waktu untuk cinta ini." gumam Aqila dalam hatinya, lalu kemudian terlelap dalam tidurnya.

to be a continued..