Di kamar bercat dinding merah mudah ..
"Kenapa harus aku yang selalu tersudutkan? Pernahkah kamu merasa kalau aku begitu merindukanmu? Kamu perasa bukan?" tanya Aqila,
"Aku gak bermaksud membuat kamu merasa disudutkan. Aku tahu kamu merindukanku." jawab Rafa dari seberang telepon, "Tapi bukan dengan pertengkaran ini kita menyelesaikan masalah yang ada. Aku juga lelah kalau kamu selalu menghadapkan kita pada masalah yang itu dan itu saja."
"Lalu apakah kamu berpikir aku gak lelah? Aku lelah.. Tapi apakah kamu pernah ada saat aku merindukanmu? Kamu terlalu sibuk dengan teman-temanmu, dengan pekerjaan dikantormu, dan kuliahmu. Tapi kamu gak pernah bisa membagi waktu sebaik kamu yang dulu, untukku." kata Aqila, "Kesibukkanmulah yang membuat jarak kita semakin jauh dengan adanya masalah ini." sambungnya.
"Aku gak bermaksud membuat kamu merasa disudutkan. Aku tahu kamu merindukanku." jawab Rafa dari seberang telepon, "Tapi bukan dengan pertengkaran ini kita menyelesaikan masalah yang ada. Aku juga lelah kalau kamu selalu menghadapkan kita pada masalah yang itu dan itu saja."
"Lalu apakah kamu berpikir aku gak lelah? Aku lelah.. Tapi apakah kamu pernah ada saat aku merindukanmu? Kamu terlalu sibuk dengan teman-temanmu, dengan pekerjaan dikantormu, dan kuliahmu. Tapi kamu gak pernah bisa membagi waktu sebaik kamu yang dulu, untukku." kata Aqila, "Kesibukkanmulah yang membuat jarak kita semakin jauh dengan adanya masalah ini." sambungnya.
"Aqila .. dengar! Kesibukkanku ini bukan bermaksud untuk membuat jarak kita semakin jauh. Kalau kamu telalu kalut karena merindukanku hingga seperti ini, cari saja kesibukkan yang bisa kamu lakukan. Kalau kamu seperti ini terus, kamu terlalu kekanak-kanakkan!" jelas Rafa, "Kamu menggunakan senjata andalan kesibukkanku untuk menyerangku, tapi pernahkah kamu berpikir semua yang kulakukan ini demi kita?" tanya Rafa
"Kesibukkan bagimu demi menghindari keterpurukan kamu saat merindukanku. Kamu bisa begitu tapi aku gak bisa kayak kamu!" seru Aqila
Rafa terdiam ..
"Kenapa kamu diam? Apakah rasa rinduku itu menjadi beban bagimu? Aku ini kekasihmu, Rafa. Kalau kamu sibuk, setidaknya aku ingin mendengar kabarmu semenit bisakan kamu telpon aku dan ngabarin aku, itu sudah membuat aku tersenyum."
"Kesibukkan bagimu demi menghindari keterpurukan kamu saat merindukanku. Kamu bisa begitu tapi aku gak bisa kayak kamu!" seru Aqila
Rafa terdiam ..
"Kenapa kamu diam? Apakah rasa rinduku itu menjadi beban bagimu? Aku ini kekasihmu, Rafa. Kalau kamu sibuk, setidaknya aku ingin mendengar kabarmu semenit bisakan kamu telpon aku dan ngabarin aku, itu sudah membuat aku tersenyum."
Rafa menghela napas panjang..
"Kenapa kamu masih diam?" tanya Aqila dengan nada suara sedikit meninggi.
"Lalu aku harus ngomong apa saat kamu gak dengar penjelasanku dan hanya bisa dikuasai oleh amarahmu. Lebih baik aku diam dan membiarkanmu menenangkan pikiranmu dulu baru kita ngomongin masalah kita pelan-pelan." kata Rafa
"Diam itu caramu menyelesaikan masalah?" tanya Aqila
"Bukan menyelesaikan masalah.. Tapi membiarkan kamu tenang dulu dengan pikiranmu." jawab Rafa
"Aku sudah tenang kok .. Aku juga sudah cukup sabar dan cukup mengerti kamu sibuk dengan kuliahmu, dan pekerjaanmu, hingga juga sibuk dengan teman-temanmu itu."
"Kamu mulai lagi.." kata Rafa, "Kamu selalu menjadikan itu alasan untuk membuat kita bertengkar."
"Ya .. karena memang semua itu merebut kamu dariku hingga semenit pun kamu sudah gak ada waktu untukku. Sadarkah kamu?"
"Bukankah disela-sela kesibukkanku aku selalu menyempatkan waktu untuk ngabarin kamu? Aku sadar aku sibuk. Karena kesibukkanku itu hingga aku gunakan saja kepercayaanku terhadap kamu, terhadap kita. Aku yakin kamu sudah cukup dewasa untuk bisa berpikir kalau egomu dan amarahmu hanya menghancurkan komitmen yang kita bangun sejak awal. Aku mengerti kamu merindukanku tapi gak gini juga caranya kamu merengek itu membuatmu tampak seperti anak-anak."
Aqila terdiam sejenak ..
"Halo .. Aqila .." panggil Rafa dari seberang telepon, "Aku sibuk itu bukan berarti aku gak peduliin kamu. Aku rasa kamu mengerti kalau kesibukkanku ini untuk masa depan kita juga nantinya. Aku diam pun bukan aku tak peduli terhadap kita. Tapi sadarkah kamu setiap waktu luang yang aku punya, aku ngabarin kamu malah kamu selalu menghadapkan kita pada masalah yang sama." kata Rafa, "Kamu gak pernah anggap aku begitu peduli padamu.. yang kamu ingin aku selalu ada untukmu, padahal waktuku terbatas."
"Kamu juga gak pernah tahu kan bagaimana susahnya aku buat tahan rasa rinduku padamu?"
"Karena itu mengertilah sayang .. waktu luang yang aku punya ini semestinya kita habiskan untuk melepaskan rindu kita, bukan dihabiskan dengan membahas masalah ini. Percuma!"
"Ya sudah .. kalau begitu biarkan saja aku sendiri dengan rinduku dan menenangkan diriku. Aku pun lelah."
"Sa ..." yang (Belum sempat Rafa meneruskan panggilannya, Aqila sudah dikuasai dengan amarahnya hingga telpon dia putuskan)
Tet .. tet .. tet -Telepon terputus-
"Baiklah .. tenangkan dulu pikiranmu, nanti baru kita bicarakan lagi. Aku sayang kamu Aqila, aku rasa kamu tahu .." -pesan singkat dari Rafa-
***
Keesokkan paginya ..
"Hey bengong aja!" seru seorang cowok tampan sambil duduk tepat berdampingan dengan Aqila.
"Eh .." Aqila tersenyum saat menyadari siapa cowok ddi samping duduknya ini. "Vando.."
Cowok tampan bernama Vando itu membalas senyuman Aqila.
"Wah!" Vando melihat sebuah buku diary terletak dimeja tepat didepan Aqila."Masih Aqila yang gue kenal dulu ya?" tanyanya sesaat sebelum dia tersenyum lebar menatap cewek cantik yang juga sedang menatapnya.
Beberapa detik berlalu mereka berdua sama-sama saling menatap, dan kemudian terkekeh.
"Gimana kabar Rafa?" tanya Vando
"Oh ... Kabarnya baik kok. Kalo Florence gimana?" Aqila balik bertanya
"Baik." jawab Vando
Lama keduanya terdiam. Saat ingin berbicara keduanya serentak memulai.
"Lo duluan.."
Aqila terkekeh, "Gak, lo duluan aja."
"Ladies first, please.."
"Gue udah lupa apa yang mau gue omongin. Lo aja."
"Gue juga lupa .. emm.. Lo ada masalah ya sama Rafa?"
"Gak kok.."
"Jangan bohong.. gue tau kok kalo lo lagi gini, pasti lagi ada masalah. Apalagi kalo bukan masalah sama Rafa?"
Aqila terdiam.
"Cerita aja kok .. gue akan jadi pendengar yang baik buat lo atau kalo lo mau, kita ke kafe tempat kita dulu.." Belum sempat Vando melanjutkan kata-katanya, tiba-tiba suara seorang cewek mengejutkannya.
"Kenapa kamu masih diam?" tanya Aqila dengan nada suara sedikit meninggi.
"Lalu aku harus ngomong apa saat kamu gak dengar penjelasanku dan hanya bisa dikuasai oleh amarahmu. Lebih baik aku diam dan membiarkanmu menenangkan pikiranmu dulu baru kita ngomongin masalah kita pelan-pelan." kata Rafa
"Diam itu caramu menyelesaikan masalah?" tanya Aqila
"Bukan menyelesaikan masalah.. Tapi membiarkan kamu tenang dulu dengan pikiranmu." jawab Rafa
"Aku sudah tenang kok .. Aku juga sudah cukup sabar dan cukup mengerti kamu sibuk dengan kuliahmu, dan pekerjaanmu, hingga juga sibuk dengan teman-temanmu itu."
"Kamu mulai lagi.." kata Rafa, "Kamu selalu menjadikan itu alasan untuk membuat kita bertengkar."
"Ya .. karena memang semua itu merebut kamu dariku hingga semenit pun kamu sudah gak ada waktu untukku. Sadarkah kamu?"
"Bukankah disela-sela kesibukkanku aku selalu menyempatkan waktu untuk ngabarin kamu? Aku sadar aku sibuk. Karena kesibukkanku itu hingga aku gunakan saja kepercayaanku terhadap kamu, terhadap kita. Aku yakin kamu sudah cukup dewasa untuk bisa berpikir kalau egomu dan amarahmu hanya menghancurkan komitmen yang kita bangun sejak awal. Aku mengerti kamu merindukanku tapi gak gini juga caranya kamu merengek itu membuatmu tampak seperti anak-anak."
Aqila terdiam sejenak ..
"Halo .. Aqila .." panggil Rafa dari seberang telepon, "Aku sibuk itu bukan berarti aku gak peduliin kamu. Aku rasa kamu mengerti kalau kesibukkanku ini untuk masa depan kita juga nantinya. Aku diam pun bukan aku tak peduli terhadap kita. Tapi sadarkah kamu setiap waktu luang yang aku punya, aku ngabarin kamu malah kamu selalu menghadapkan kita pada masalah yang sama." kata Rafa, "Kamu gak pernah anggap aku begitu peduli padamu.. yang kamu ingin aku selalu ada untukmu, padahal waktuku terbatas."
"Kamu juga gak pernah tahu kan bagaimana susahnya aku buat tahan rasa rinduku padamu?"
"Karena itu mengertilah sayang .. waktu luang yang aku punya ini semestinya kita habiskan untuk melepaskan rindu kita, bukan dihabiskan dengan membahas masalah ini. Percuma!"
"Ya sudah .. kalau begitu biarkan saja aku sendiri dengan rinduku dan menenangkan diriku. Aku pun lelah."
"Sa ..." yang (Belum sempat Rafa meneruskan panggilannya, Aqila sudah dikuasai dengan amarahnya hingga telpon dia putuskan)
Tet .. tet .. tet -Telepon terputus-
"Baiklah .. tenangkan dulu pikiranmu, nanti baru kita bicarakan lagi. Aku sayang kamu Aqila, aku rasa kamu tahu .." -pesan singkat dari Rafa-
***
Keesokkan paginya ..
"Hey bengong aja!" seru seorang cowok tampan sambil duduk tepat berdampingan dengan Aqila.
"Eh .." Aqila tersenyum saat menyadari siapa cowok ddi samping duduknya ini. "Vando.."
Cowok tampan bernama Vando itu membalas senyuman Aqila.
"Wah!" Vando melihat sebuah buku diary terletak dimeja tepat didepan Aqila."Masih Aqila yang gue kenal dulu ya?" tanyanya sesaat sebelum dia tersenyum lebar menatap cewek cantik yang juga sedang menatapnya.
Beberapa detik berlalu mereka berdua sama-sama saling menatap, dan kemudian terkekeh.
"Gimana kabar Rafa?" tanya Vando
"Oh ... Kabarnya baik kok. Kalo Florence gimana?" Aqila balik bertanya
"Baik." jawab Vando
Lama keduanya terdiam. Saat ingin berbicara keduanya serentak memulai.
"Lo duluan.."
Aqila terkekeh, "Gak, lo duluan aja."
"Ladies first, please.."
"Gue udah lupa apa yang mau gue omongin. Lo aja."
"Gue juga lupa .. emm.. Lo ada masalah ya sama Rafa?"
"Gak kok.."
"Jangan bohong.. gue tau kok kalo lo lagi gini, pasti lagi ada masalah. Apalagi kalo bukan masalah sama Rafa?"
Aqila terdiam.
"Cerita aja kok .. gue akan jadi pendengar yang baik buat lo atau kalo lo mau, kita ke kafe tempat kita dulu.." Belum sempat Vando melanjutkan kata-katanya, tiba-tiba suara seorang cewek mengejutkannya.
"Hei .." sapa seorang cewek dari belakang
Aqila dan Vando sama-sama berbalik.
"Sayang.." Vando tampak sedikit kaget melihat siapa yang ada dibelakangnya dan Aqila
"Hai sayang .." Florence mencium Vando.
Aqila dan Vando sama-sama berbalik.
"Sayang.." Vando tampak sedikit kaget melihat siapa yang ada dibelakangnya dan Aqila
"Hai sayang .." Florence mencium Vando.
"Hai Aqila.." sapa Florence
"Hai Flo.." Aqila balik menyapa
"Hai.." sapa seorang cewek yang sudah berdiri disamping Florence. Tampak dia agak kesulitan dengan beberapa snack ringan di dalam dekapan kedua tangannya.
Mereka bertiga yang melihatnya terkekeh melihatnya.
"Banyak amat bawaan lo?" tanya Vando
"Yah abis kebutuhan ini.." tutur Bonbon, seorang cewek dengan tubuh yang gemuk dan berkacamata. Dia ini adalah sahabat dekatnya Aqila dan juga sahabat dekat Vando.
Mereka berempat tertawa bersama-sama.
"Eh kami duluan ya.." Florence menarik tangan Vando untuk mengikutinya setelah berpamitan pada Aqila dan Bonbon.
Masih ditempat yang sama, Aqila melanjutkan menulis kata-kata didalam diarynya dan sesekali melayangkan pandangannya ke Bonbon yang sedang asyiknya memakan snack bawaannya tadi.
date: June 30th, 2013
dear diary ..
Kamu membuat aku tersiksa dengan rindu ..
Kamu juga yang membuat aku harus menangis.
Pertengkaran semalam diantara kita,
aku hanya ingin kamu tahu aku kalut dengan kerinduanku padamu.
Semenit saja aku ingin mendengar kabarmu,
Itu membuatku tersenyum bahagia.
Tapi kamu tak bisa membagi waktumu sebaik kamu yang dulu
dan aku mulai merindukan kamu yang dulu .. Aku mulai lelah dengan rindu yang tak terbalas. Mengertilah aku ingin waktumu sedikit untukku.
***
to be continued..

