welcome to my blog

welcome to my blog

Sabtu, 29 Juni 2013

LDR edisi: Orang Ketiga part 1

 -Orang ketiga sering muncul saat kita sedang jenuh sama pacar, saat kita sedang bertengkar-

Di kamar bercat dinding merah mudah ..

"Kenapa harus aku yang selalu tersudutkan? Pernahkah kamu merasa kalau aku begitu merindukanmu? Kamu perasa bukan?" tanya Aqila,
"Aku gak bermaksud membuat kamu merasa disudutkan. Aku tahu kamu merindukanku." jawab Rafa dari seberang telepon, "Tapi bukan dengan pertengkaran ini kita menyelesaikan masalah yang ada. Aku juga lelah kalau kamu selalu menghadapkan kita pada masalah yang itu dan itu saja."
"Lalu apakah kamu berpikir aku gak lelah? Aku lelah.. Tapi apakah kamu pernah ada saat aku merindukanmu? Kamu terlalu sibuk dengan teman-temanmu, dengan pekerjaan dikantormu, dan kuliahmu. Tapi kamu gak pernah bisa membagi waktu sebaik kamu yang dulu, untukku." kata Aqila, "Kesibukkanmulah yang membuat jarak kita semakin jauh dengan adanya masalah ini." sambungnya.
 
"Aqila .. dengar! Kesibukkanku ini bukan bermaksud untuk membuat jarak kita semakin jauh. Kalau kamu telalu kalut karena merindukanku hingga seperti ini, cari saja kesibukkan yang bisa kamu lakukan. Kalau kamu seperti ini terus, kamu terlalu kekanak-kanakkan!" jelas Rafa, "Kamu menggunakan senjata andalan kesibukkanku untuk menyerangku, tapi pernahkah kamu berpikir semua yang kulakukan ini demi kita?" tanya Rafa
"Kesibukkan bagimu demi menghindari keterpurukan kamu saat merindukanku. Kamu bisa begitu tapi aku gak bisa kayak kamu!" seru Aqila

Rafa terdiam ..

"Kenapa kamu diam? Apakah rasa rinduku itu menjadi beban bagimu? Aku ini kekasihmu, Rafa. Kalau kamu sibuk, setidaknya aku ingin mendengar kabarmu semenit bisakan kamu telpon aku dan ngabarin aku, itu sudah membuat aku tersenyum."
 
Rafa menghela napas panjang..

"Kenapa kamu masih diam?" tanya Aqila dengan nada suara sedikit meninggi.
"Lalu aku harus ngomong apa saat kamu gak dengar penjelasanku dan hanya bisa dikuasai oleh amarahmu. Lebih baik aku diam dan membiarkanmu menenangkan pikiranmu dulu baru kita ngomongin masalah kita pelan-pelan." kata Rafa
"Diam itu caramu menyelesaikan masalah?" tanya Aqila
"Bukan menyelesaikan masalah.. Tapi membiarkan kamu tenang dulu dengan pikiranmu." jawab Rafa
"Aku sudah tenang kok .. Aku juga sudah cukup sabar dan cukup mengerti kamu sibuk dengan kuliahmu, dan pekerjaanmu, hingga juga sibuk dengan teman-temanmu itu."
"Kamu mulai lagi.." kata Rafa, "Kamu selalu menjadikan itu alasan untuk membuat kita bertengkar."
"Ya .. karena memang semua itu merebut kamu dariku hingga semenit pun kamu sudah gak ada waktu untukku. Sadarkah kamu?"
"Bukankah disela-sela kesibukkanku aku selalu menyempatkan waktu untuk ngabarin kamu? Aku sadar aku sibuk. Karena kesibukkanku itu hingga aku gunakan saja kepercayaanku terhadap kamu, terhadap kita. Aku yakin kamu sudah cukup dewasa untuk bisa berpikir kalau egomu dan amarahmu hanya menghancurkan komitmen yang kita bangun sejak awal. Aku mengerti kamu merindukanku tapi gak gini juga caranya kamu merengek itu membuatmu tampak seperti anak-anak."

Aqila terdiam sejenak ..

"Halo .. Aqila .." panggil Rafa dari seberang telepon, "Aku sibuk itu bukan berarti aku gak peduliin kamu. Aku rasa kamu mengerti kalau kesibukkanku ini untuk masa depan kita juga nantinya. Aku diam pun bukan aku tak peduli terhadap kita. Tapi sadarkah kamu setiap waktu luang yang aku punya, aku ngabarin kamu malah kamu selalu menghadapkan kita pada masalah yang sama." kata Rafa, "Kamu gak pernah anggap aku begitu peduli padamu.. yang kamu ingin aku selalu ada untukmu, padahal waktuku terbatas."
"Kamu juga gak pernah tahu kan bagaimana susahnya aku buat tahan rasa rinduku padamu?"
"Karena itu mengertilah sayang .. waktu luang yang aku punya ini semestinya kita habiskan untuk melepaskan rindu kita, bukan dihabiskan dengan membahas masalah ini. Percuma!"
"Ya sudah .. kalau begitu biarkan saja aku sendiri dengan rinduku dan menenangkan diriku. Aku pun lelah."
"Sa ..." yang (Belum sempat Rafa meneruskan panggilannya, Aqila sudah dikuasai dengan amarahnya hingga telpon dia putuskan)

Tet .. tet .. tet -Telepon terputus-

"Baiklah .. tenangkan dulu pikiranmu, nanti baru kita bicarakan lagi. Aku sayang kamu Aqila, aku rasa kamu tahu .." -pesan singkat dari Rafa-

***

Keesokkan paginya ..

"Hey bengong aja!" seru seorang cowok tampan sambil duduk tepat berdampingan dengan Aqila.
"Eh .." Aqila tersenyum saat menyadari siapa cowok ddi samping duduknya ini. "Vando.."
Cowok tampan bernama Vando itu membalas senyuman Aqila.
"Wah!" Vando melihat sebuah buku diary terletak dimeja tepat didepan Aqila."Masih Aqila yang gue kenal dulu ya?" tanyanya sesaat sebelum dia tersenyum lebar menatap cewek cantik yang juga sedang menatapnya.
Beberapa detik berlalu mereka berdua sama-sama saling menatap, dan kemudian terkekeh.

"Gimana kabar Rafa?" tanya Vando
"Oh ... Kabarnya baik kok. Kalo Florence gimana?" Aqila balik bertanya
"Baik." jawab Vando

Lama keduanya terdiam. Saat ingin berbicara keduanya serentak memulai.

"Lo duluan.."
Aqila terkekeh, "Gak, lo duluan aja."
"Ladies first, please.."
"Gue udah lupa apa yang mau gue omongin. Lo aja."
"Gue juga lupa .. emm.. Lo ada masalah ya sama Rafa?"
"Gak kok.."
"Jangan bohong.. gue tau kok kalo lo lagi gini, pasti lagi ada masalah. Apalagi kalo bukan masalah sama Rafa?"
Aqila terdiam.
"Cerita aja kok .. gue akan jadi pendengar yang baik buat lo atau kalo lo mau, kita ke kafe tempat kita dulu.." Belum sempat Vando melanjutkan kata-katanya, tiba-tiba suara seorang cewek mengejutkannya.
"Hei .." sapa seorang cewek dari belakang
Aqila dan Vando sama-sama  berbalik.
"Sayang.." Vando tampak sedikit kaget melihat siapa yang ada dibelakangnya dan Aqila
"Hai sayang .." Florence mencium Vando.  
Cewek cantik berdarah Inggris ini memang tak segan-segan mencium kekasihnya walaupun didepan umum.
"Hai Aqila.." sapa Florence
"Hai Flo.." Aqila balik menyapa
"Hai.." sapa seorang cewek yang sudah berdiri disamping Florence. Tampak dia agak kesulitan dengan beberapa snack ringan di dalam dekapan kedua tangannya.
Mereka bertiga yang melihatnya terkekeh melihatnya.
"Banyak amat bawaan lo?" tanya Vando
"Yah abis kebutuhan ini.." tutur Bonbon, seorang cewek dengan tubuh yang gemuk dan berkacamata. Dia ini adalah sahabat dekatnya Aqila dan juga sahabat dekat Vando.
Mereka berempat tertawa bersama-sama.

"Eh kami duluan ya.." Florence menarik tangan Vando untuk mengikutinya setelah berpamitan pada Aqila dan Bonbon.

Masih ditempat yang sama, Aqila melanjutkan menulis kata-kata didalam diarynya dan sesekali melayangkan pandangannya ke Bonbon yang sedang asyiknya memakan snack bawaannya tadi.


                                     date: June 30th, 2013

dear diary ..

Kamu membuat aku tersiksa dengan rindu ..
Kamu juga yang membuat aku harus menangis.
Pertengkaran semalam diantara kita,
aku hanya ingin kamu tahu aku kalut dengan kerinduanku padamu.
Semenit saja aku ingin mendengar kabarmu,
Itu membuatku tersenyum bahagia.
Tapi kamu tak bisa membagi waktumu sebaik kamu yang dulu
dan aku mulai merindukan kamu yang dulu .. Aku mulai lelah dengan rindu yang tak terbalas. Mengertilah aku ingin waktumu sedikit untukku.
                                        ***


to be continued..

Senin, 17 Juni 2013

Long Distance Relationship - edisi : Pengertianmu

edisi : -Pengertianmu "kamu ngerti aku dan aku ngerti kamu"-

"Aku ingin seperti ini selalu denganmu Rafa." ungkap Aqila sesaat sebelum dia melabuhkan kepalanya dibahu Rafa.
Rafa hanya terdiam dan mendekap kekasihnya dengan lembut. 

Ditemani cahaya indah sang raja dan ratu langit malam, keduanya saling mendekap melepaskan kerinduan mereka.

"Sayang.." Bisik Rafa pelan ditelinga Aqila
"Hmm.."
"Ada yang ingin aku katakan padamu.."
Aqila mengadahkan kepalanya menatap Rafa lekat-lekat. "Apa?"
"Lusa papa dan mamaku akan pindah ke Singapura."
"Singapura? Lalu?" Aqila menatap Rafa, berharap kalimat selanjutnya bukanlah kalimat yang dia bayangkan.
"Aku juga akan ikut pindah." tutur Rafa pelan. Seakan kalimat itu tak ingin keluar dari mulutnya. Aqila terdiam sejenak. Kristal bening mulai mengalir pelan dari mata indahnya.

Bukan kalimat itu yang ingin didengarnya. Bukan kalimat yang diharapkannya. Dia terdiam dan menatap lurus kedepan. Dia tak ingin Rafa melihatnya menangis.

"Maafkan aku kalau ini harus aku katakan, sayang." Rafa berlutut dihadapan Aqila sambil meraih tangan mungil Aqila.
"Aku tahu.. Aku mengerti kamu harus sama-sama dengan papa dan mama. Aku ikhlas meski aku gak tahu apa arti ikhlas saat melihatmu pergi."
"Aku cinta kamu, Aqila. Selamanya aku akan mencintai kamu, meski untuk beberapa lama kita gak bakalan ketemu."
"Kamu yakin akan tetap mencintaiku meski kita nanti berjauhan?" tanya Aqila
"Aku yakin. Entah kamu percaya atau tidak, aku yakin dengan perasaanku padamu. Kita akan selamanya bersama. Kepergianku kesana pun untuk masa depan kita, untuk kamu."
Aqila tersenyum dan keduanya saling berpelukan. Entah senyuman itu senyuman ikhlas merelakan kepergian Rafa, kekasihnya ataukah senyuman terpaksa agar Rafa tenang dan pergi melanjutkan kuliahnya disana.

***

Hari itu hujan deras.. Tibalah saatnya Rafa bersama kedua orang tuanya berangkat ke Singapura.

"Nomor yang anda tuju sedang berada diluar jangkauan. Cobalah beberapa saat lagi."
Suara operator terdengar ditelinga Rafa.
Rafa sudah putus asa. Sedaritadi dia menunggu Aqila namun dia tak kunjung datang.

"Rafa.. ayo nak. Sudah saatnya kita naik ke pesawat." Ajak mamanya
"Iya ma." Rafa dengan langkah kaki lesuh mengikuti langkah kaki kedua orang tuanya.

"RAFA !!!" Teriak seorang cewek berbaju merah. Suara yang sangat dikenal Rafa. Rafa tersenyum senang dan berbalik menatap cewek cantik yang sedang berlari menujunya.
"Kamu datang sayang.." kata Rafa sambil memeluk erat Aqila, kekasihnya itu.
"Maaf aku telat. Hujan dan macet. Aku sempat singgah dirumahmu, tapi kata bibik kamu dan papa, mama sudah ke bandara. Maaf aku telat."
"Nggak apa-apa. Asalkan kamu ada disini."

Dari jauh, kedua orang tua Rafa saling menatap dan tersenyum melihat mereka.

Tak lama kemudian, panggilan operator di bandara sudah memanggil nama mereka untuk segera naik ke pesawat.
Rafa dengan langkah kaki yang berat berjalan meninggalkan Aqila.

***

Seminggu sudah keduanya dipisahkan oleh jarak. Tapi cinta mereka malah semakin kuat tak lekang oleh jarak dan waktu.
Walaupun Rafa sibuk dengan aktivitas kuliahnya, dia selalu menyempatkan waktunya untuk menghubungi Aqila. Begitupun sebaliknya.

Awalnya semuanya baik-baik saja.. Sampai suatu hari, segalanya berubah. Kecelakaan maut merenggut nyawa kedua orang tua Rafa dalam sebuah pesawat. Semuanya itu membuat Rafa tidak bisa menolak untuk menggantikan posisi papanya yang tak lain adalah seorang presiden direktur di sebuah perusahan industri terkenal dan terbesar. Posisi itu membuat Rafa harus bekerja sambil melanjutkan kuliahnya. Tentu saja waktunya sering dihabiskan dipekerjaannya dan kuliahnya. Hal itu berdampak pada hubungan komunikasinya dengan Aqila, yang semakin hari semakin renggang dengan perdebatan kecil diantara keduanya.

"Tinggalkan pesan anda setelah bunyi berikut. Tet." -suara operator-

"Lagi-lagi seperti ini." gumam Aqila dengan kesalnya, sampai-sampai boneka pemberian Rafa dihari jadi setahun mereka jadi pelampiasaan kekesalannya.

Beberapa pesan singkat dia kirimkan ke handphone Rafa. Menunggu dan tak ada balasan. Hingga malam tiba, Aqila masih menunggu.

"Kok smsku gak dibalas sayang? Kamu dimana?"
"Kalo kamu lagi sibuk ngabarin aku .. agar aku tahu kamu sibuk. Jangan diemin aku kayak gini."
"Rafa"
"Aku merindukanmu Rafa."

Sederetan pesan dia kirimkan dan berharap Rafa menghubunginya. Dia terus menunggu dan akhirnya terlelap.

Pagi harinya..
Handphonenya berdering. -Sayang-

"Halo, sayang.. selamat pagi, masih tidur ya? Bangun gih! Mandi sana." kata Rafa dari seberang telpon.
"Semalaman kamu kemana? Telpon gak dijawab. Ditelpon lagi malah suara operator suruh ninggalin pesan. Di sms juga kagak dibalas. Ada apa lagi?!" tekanan suara Aqila terdengar setengah berteriak. Ya jelas saja dia masih marah atas sikap Rafa yang seolah tak memperhatikannya.

"Sudah?" tanya Rafa setelah selesai mendengar omelan Aqila. "Sudah ngomel-ngomelnya?" tanya Rafa lagi. Tapi kali ini tekanan suaranya ikut meninggi.
"Iya sudah!" jawab Aqila masih dengan kekesalannya.
"Oke aku minta maaf kalau aku gak ngabarin kamu. Tapi aku semalaman lembur dengan tugas kantor. Banyak pekerjaan almarhum papa yang harus aku selesein. Kamu bisa gak sih ngertiin aku? Dulu kamu itu gak gini. Lama-lama aku juga jenuh dengan sikap kamu yang mulai gak ngerti keadaan dan posisi aku skarang ini!"
"Jenuh? Terserah deh kamu udah mulai jenuh dengan sikap aku! Aku gak minta lebih kok. Aku hanya minta kabar kamu. Masa iya 24 jam kamu sibuk terus?! Masa iya semenit aja buat ngabarin aku kamu gak punya waktu untuk itu?! Kamu berubah Rafa!"

"Aku berubah apanya? Aku gak berubah.. Malahan kamulah yang memaksaku untuk berubah! Sikap kamu kekanak-kanakan banget Aqila."
"Iya sikapku kekenak-kanankan karena aku merindukan kamu. Aku merindukanmu tapi kamu hanya diam. Kamu terlalu ditenggelamkan oleh kesibukanmu itu. Sedikit waktu untukku apakah kamu gak punya sama sekali?"
"Iya iya.. aku tahu aku salah gak ngasih kabar untukmu, gak ada saat kamu merindukanku. Tapi itu bukan sebuah alasan aku tidak memperdulikan kamu lagi. Kamu salah kalau berpikir aku gak mempedulikanmu. Aku peduli sama kamu, makanya aku ambil alih pekerjaan almarhumah papa karena aku sayang sama kamu, ini untuk masa depan kita. Seharusnya kamu mengerti itu."

Lama keduanya terdiam..

"Apa salahnya kamu menenangkan dirimu sejenak untuk mengerti kalau ini semua juga aku lakukan untuk masa depan kita bersama." kata Rafa, "Sayang.."
"Baiklah, aku mengerti. Aku yang salah sudah marah-marah padamu tanpa mendengar penjelasanmu. Tapi aku ingin kamu mendengarku kali ini. Aku merindukanmu.. Aku rindu saat-saat kita dulu. Dulu kamu bisa membagi waktumu dengan baik. Skarang, semenit untuk ngabarin aku lewat satu pesan singkat pun kamu gak ada waktu. Bisahkan kamu berkaca dari semua yang terjadi dulu? Aku merindukannya." ungkap Aqila pelan.

Perdebatan kecil mereka itu akhirnya terselesaikan. Masalah yang dihadapi pun terselesaikan dengan baik walaupun awalnya keduanya sama-sama saling keras kepala mempertahankan argumen masing-masing.

                                                 to be continued..