welcome to my blog

welcome to my blog

Sabtu, 30 Maret 2013

Secret Love

"Jesicha, sini aku bantuin ngerapiin barang-barang kamu." pinta Mona sambil tersenyum dan langsung saja menarik pegangan koper milik Jesicha dan mengantarkan koper itu memasuki kamar Jesicha.

Jesicha hanya manggut-manggut dan tersenyum kecil menutupi raut wajahnya yang hampir  saja tertangkap kalau-kalau airmatanya hampir saja melesat jatuh.
Mona dan Jesicha adalah sahabat sejak mereka kecil dikarenakan rumah mereka berdekatan. Hanya saja, ketika mereka lulus dari taman kanak-kanak mereka berdua harus terpisah. Jesicha harus pindah mengikuti ayahnya ke Bali, karena saat itu kedua orang tuanya harus bercerai dan hak asuh atas Jesicha jatuh ketangan ayahnya yang adalah salah satu orang terkaya sedangkan ibunya harus rela kehilangan Jesicha karena kalah dalam persidangan hak asuh anak. Jesicha lalu menyelesaikan sekolahnya hingga tamat SMA di sebuah sekolah terunggul di Bali. Setelah menyelesaikan sekolahnya disana, dia dikirim oleh ayahnya yang sedang sakit-sakitan untuk datang melanjutkan kuliahnya kembali di Jakarta dan kembali tinggal di rumah mereka yang dulu saat dia kecil tinggal bahagia bersama ayah dan ibunya yang saat itu belum bercerai. Kembali mengulang kisah semasa kecil yang membahagiakan dan menyakitkan di rumah ini.

Jesicha berjalan melihat keadaan rumah ini, masih bersih dan masih tertata rapi layaknya dulu saat keluarganya masih utuh, ada dia, ada ayahnya dan ibunya.
Tampak dia berdiri mematung tiada suara keluar saat menatap ayunan ditaman dikelilingi bunga mawar kesukaan ibunya. Ya tempat itu mengingatkannya kembali kepada ibunya dimana dulu sering sekali dia dan ibunya bermain ditaman itu, bercanda gurau ditaman itu, bernyanyi bersama dan menari bersama bahkan sederetan kenangan bersama ibunya ditempat itu. Tanpa dia sadari airmatanya telah jatuh membasahi pipinya.
"Non Icha?" tanya seorang wanita tua yang umurnya sudah sekitar 50-an , Jesicha memalingkan wajahnya kearah datangnya suara itu. "Ini non Icha kan?" tanya wanita itu lagi seakan menyakinkan penglihatannya bahwa didepannya itu benar-benar Jesicha yang sering disapa Icha sesuai nama panggilan ibunya semasa kecil.
"Iya mbok, ini aku .. ini aku Icha" kata Jesicha pelan sambil menghapus airmatanya ketika tersadar dari lamunannya tentang masa kecilnya.
"Ah syukurlah mbok nggak salah lihat kamu. Ini benar-benar kamu."
Mereka berdua lalu berpelukan. Mbok Narsih begitu namanya. Dia adalah pembantu sekaligus asisten pribadi ibunya Jesicha saat dulu masih menjadi nyonya rumah, di rumah keluarga Permata ini.
"Mbok terima kasih sudah merawat rumah ini, selama ini." kata Jesicha sambil terus memeluk Mbok Narsih.
"Iya non sama-sama. Mbok senang, akhirnya mbok bisa lihat wajahnya non lagi setelah sekian lama mbok nggak lagi bisa lihatin kamu, non. Terima kasih sudah kembali kesini." kata Mbok Narsih sambil mengusap kepala Jesicha.
"Mbok, tahu dimana mama dikuburkan?" tanya Jesicha sesaat setelah melepaskan pelukannya
Namun mbok Narsih hanya terdiam. Mulutnya seperti berbusa, dia tak mampu mengatakannya.

"Jesicha .." panggil Mona yang baru  saja muncul di pintu tengah yang mengarah ke arah taman samping rumah besar dan mewah itu sambil berjalan penuh senyum menghampiri mereka berdua. "Mbok, mang Didim sudah didepan bawain belanjaan buat masak katanya." kata Mona pada Mbok Narsih saat sudah tiba di hadapan mereka berdua.
"Iya non Mona." katanya pada Mona, "Non, bibi permisi dulu. Bibi kan harus masak buat non." katanya lagi pada Jesicha dan Mona, lalu berjalan memasuki rumah dan menuju dapur utama rumah itu dibantu mang Didim yang adalah anaknya yang juga bekerja mengurusi rumah ini untuk membantunya membawakan beberapa tas belanjaan bahan-bahan buat dimasak oleh mbok Narsih dan beberapa koki khusus di rumah itu.

"Icha yuk, jalan yuk." ajak Mona
"Tapi pakaianku belum aku rapiin." kata Jesicha seraya berusaha untuk menolak ajakannya Mona. "Alah! itu mah pakaiannya kamu udah dirapiin sama pembantu-pembantunya kamu." kata Mona lagi sekaligus berusaha untuk meyakinkan Jesicha bahwa pakaian dan segala sesuatu yang dibutuhkannya sudah dipersiapkan dan dibereskan oleh pembantunya yang lain yang adalah asisten pembantu dari mbok Narsih.
Awalnya ajakan Mona ditolak oleh Jesicha. Namun karena Mona yang pada dasarnya adalah anak periang yang ajakannya takan mampu ditolak oleh siapapun itu, akhirnya berhasil meluluhkan hati Jesicha untuk menerima ajakannya.
Mona dan Jesicha langsung berjalan memasuki rumah itu untuk berpamitan dengan Mbok Narsih sekaligus mengambil kunci mobilnya.

"Auw!" jeritan keras keluar dari mulut Mona saat dia bertubrukan dengan Mang Didim. Tubrukan tersebut membuat mereka berdua sama-sama saling mundur beberapa langkah kebelakang.
"Non, non nggak apa-apa?" tanya Mang Didim begitu kaget saling bertubrukan dengan Mona tadi.
"Ah iya .. nggak apa-apa kok Mang. Aku juga yang salah, aku nggak lihat dengan benar kalau .." Belum sempat dia melanjutkan kata-katanya, tiba-tiba kepalanya terasa sangat pusing dan matanya sedikit berkunang-kunang. Pandangannya jadi kabur. Mang Didim lalu meraih tangannya "Non, non" panggil Mang Didim untuk menyadarkan Mona dari hampir hilangnya kesadarannya. Suara Mang Didim terdengar sampai ke telinga Jesicha yang sedang mengobrol dengan dua pembantunya yang lain, yang sedang merapikan kamarnya dan pakaian-pakaiannya serta perlengkapannya yang lain dikamar. Jesicha lalu tersadar ada yang memanggil-manggil nama Mona dan tersadar juga Mona tadi sedang mengambil kunci mobil diruang tengah. Jesicha lalu berlari turun mendapatkan Mona yang masih dalam keadaan setengah sadar dalam pegangan tangan seorang pria setengah baya yang berusaha menyadarkan Mona.
"Mona!" teriak kaget Jesicha melihat sahabatnya itu, "Mona, sadar! Sadar! Mona .." teriak Jesicha menyadarkan Mona.
"Eh.." hanya kata itu yang keluar dari mulut Mona begitu tersadar dirinya dihampiri Jesicha dengan ekspresi wajah yang takut dan mencemaskan, dan juga tangannya dipegang oleh Mang Didim dengan ekspresi yang sama.
Tak lama muncul senyuman nakal dibibirnya sambil tertawa, "Haa! Ketipu!" sentak Mona mengagetkan Jesicha dan Mang Didim yang langsung melepaskan tangannya dari Mona.
"Ah kamu ah .." kata Jesicha sambil mencubit lengan Mona.
"Idih sakit tahu." sungut Mona sambil tertawa lagi
"Ya ampun non .. Mamang hampir saja pikir kalau non kenapa-kenapa pas tadi Mamang tabrak." kata Mang Didim sambil tersenyum lega.
Mona masih ketawa dengan penuturan dari kedua orang dihadapannya ini. Mendengar penuturan Mang Didim, Jesicha yang semula sejak tadi belum menatap wajah Mang Didim secara seksama, akhirnya mulai memalingkan wajahnya ke arah berdirinya Mang Didim.
"Kamu .." kata Jesicha sambil menunjuk Mang Didim dan berusaha mengingat sesuatu. "Kamu .." katanya lagi membuat Mang Didim menatap dirinya dengan ekspresi wajah yang kaku.
"Ah ini kunci mobilnya. Ayo Icha," ajak Mona sambil menggandeng Jesicha yang masih menatap Mang Didim sambil berjalan mengikuti langkah kaki Mona yang berjalan menuju mobilnya. Jesicha bertanya-tanya dalam hati "siapa dia, sepertinya aku pernah bertemu dengannya, aku pernah melihatnya, tapi dimana dan kapan."

Mobil BMW berwarna merah berplat B 6115 AMH itu, langsung berjalan meninggalkan pelataran rumah mewah dan besar milik Jesicha itu dan berjalan menyusuri jalanan kota Jakarta.
"Oh ya, aku belum ngucapin ke kamu, selamat datang di kota Jakarta ya Jesicha." kata Mona girang sambil terus berkonsentrasi membawa mobilnya. Terbesit senyum kecil lagi dibibirnya. 
Jesicha menatap wajah sahabatnya itu, dalam pikiran Jesicha terus saja mengagumi senyuman Mona. Walaupun mereka berdua sama-sama adalah sosok wanita yang cantik, tapi Jesicha kagum dengan Mona, sepertinya tak ada satupun masalah yang dipikirkannya. Dia selalu saja tersenyum. Masih sama seperti sejak mereka kecil, Mona selalu tersenyum riang sampai sekarang dia juga masih tetap seperti itu layaknya seorang anak kecil yang hidupnya tak pernah terbebani masalah. Dalam hati kecil yang terdalam, sebenarnya Jesicha juga merasa iri dengan keadaan Mona. Dia memiliki keluarga yang utuh. Dia punya ayah dan ibu, dia punya seorang kakak yang sangat menyayanginya. Keluarga Mona tak seperti keluarganya. Ayah dan ibunya telah berpisah, bahkan ayahnya menikah lagi dan bahkan saudara-saudara tirinya dari anak hasil perkawinan ibu tirinya dari sebelum menikah dengan ayahnya, sering mengolok-ngoloknya sejak mereka bersama-sama, bahkan sampai sekarang terus seperti itu. Kasih sayang ayahnya juga jarang dirasakannya. Apa yang menjadi miliknya selalu saja direbut paksa oleh saudara tirinya bahkan kadang dia dipukuli oleh ibu tirinya saat ayahnya tak berada dirumah. Kisah demi kisah teringat lagi dalam ingatannya.

"Hei .." panggil Mona mengagetkan Jesicha dari lamunannya sejak tadi.
"Eh, ada apa Mon?" tanya Jesicha seolah tak menyadari sejak tadi dirinya sedang diamati dengan seksama oleh Mona.
"Mikirin apa sih? Kamu bengong saja daritadi." kata Mona dengan kening terangkat.
"Aku, aku .."
"Ah sudahlah, tak apa." potong Mona, sambil tertawa kecil dia membuka pintu mobil. "Yuk turun. kita sudah sampai" sambungnya lagi
Jesicha lalu tersenyum dan kemudian mengikuti sahabatnya itu turun dari mobil BMW merah tersebut.
"Mau kemana kita Mon?" tanya Jesicha
Dengan tawa kecilnya Mona hanya menggandeng tangan Jesicha memasuki pelataran sebuah panti rehabilitasi milik keluarganya. Panti ini dibangun saat dia masih kecil, tepatnya saat dia memasuki sekolah dasar ayahnya mendirikan sebuah panti rehabilitasi khusus untuk orang-orang dengan gangguan kejiwaan. Semenjak Mona menduduki bangku SMA, dia sering datang ke tempat itu. Yah hal itu terus dilakukannya saat dia menemukan seorang wanita setengah baya dengan pakaian ataupun penampilan yang tak terurus, sedang memakan makanan sisa dari bak sampah sambil memegang boneka barbie yang juga tampak tak terurus juga dirinya sedang disorakin oleh sekelompok anak kecil dengan sebutan, "Orang gila." Muncul rasa kasihan dihatinya, dan akhirnya membawa wanita itu ke tempat panti rehabilitasi milik keluarganya. Bahkan rasa sayangnya sedikit berbeda kepada wanita itu hingga dimintakan kepada ayahnya agar menempatkan kamar perawatan spesial untuk wanita itu.

Saat mereka memasuki koridor, banyak suara sorak bergembira dari hampir semua pasien di sepanjang taman samping koridor panti itu saat melihat kedatangan Mona. Walaupun mereka dengan gangguan kejiwaan, tapi saat melihat datangnya Mona, mereka yang bertingkah aneh langsung saja jadi kalem bahkan penurut bahkan kelihatan seperti orang sehat datang dan memeluk Mona yang menyambut pelukan mereka satu per satu dengan hangatnya sambil tersenyum manis.
Namun hanya satu pasien di taman itu yang hanya duduk di kursi rodanya sambil menatap sebuah ayunan yang berseberangan dengan sejumlah tanaman bunga mawar, sambil memegang boneka barbienya.
Setelah memperkenalkan Jesicha pada pasien-pasien di panti itu, Mona tersenyum sambil berjalan cepat mendapati wanita setengah baya itu. Jesicha hanya mengikutinya pelan dari belakang.
"Mama," sapa Mona begitu mendapati wanita setengah baya yang duduk di kursi roda itu, "Mama kok sendirian disini?" tanya Mona
"A-na-nak-ku .." kata wanita setengah baya ini dengan terbata-bata seakan suaranya juga hilang ditelan bumi
"Mama, kangen sama Mona?" sambung Mona lagi sambil tersenyum. Wanita setengah baya itu hanya manggut-manggut namun airmatanya jatuh membasahi pipinya.
"Loh .. kok mama nangis? Mona jadi ikut-ikutan sedih. Yah jangan nangis dong ma," pinta Mona sambil mengahapus airmata wanita setengah baya itu kemudian memeluknya.
Sedangkan Jesicha hanya berdiri beberapa langkah di belakang mereka. Dia tak ingin mendekat. Entah kenapa ada sesuatu hal yang bahkan dirinya tak tahu itu apa, ada juga rasa ya rasa ingin melihat sosok waanita yang disebut mama oleh Mona, walaupun bukan ibu kandungnya Mona. Karena yang Jesicha tahu Mona adalah anaknya keluarga Herlambang, dan sahabat dekatnya adalah Mona.
Tak lama mereka bermain di panti rehabilitasi itu, Jesicha yang pada awalnya kalem akhirnya jadi ikut-ikutan menjadi periang saat melantunkan beberapa lagu dan bergoyang bersama beberapa pasien yang sudah hampir sembuh total dan beberapa perawat khusus kejiwaan. Setelah bersenang-senang seharian bersama pasien-pasien itu, mereka berdua pamit untuk pulang.

Mobil merah itu lalu melaju kembali dan akhirnya sampai juga mereka memasuki pelataran halaman depan tempat memarkirkan kendaraan rumah itu.
Mona tampak tersenyum melihat mobil siapa yang sedang parkir lebih dulu tepat di sebelah mobil miliknya. Sedangkan Jesicha tampak bingung melihat mobil itu.
Mereka berdua berjalan memasuki rumah besar dan mewah milik Jesicha itu. Begitu sampai di depan pintu, Jesicha kaget melihat sosok cowok tampan dihadapannya yang berdiri sambil membukakan pintu untuk mereka berdua dan tersenyum lebar. Matanya berbinar-binar.
"Kak Samuel?" tanya Jesicha dengan nada terbata-bata takut dia salah menyebutkan nama cowok dihadapannya ini.
"Hai." sapa Samuel. Samuel adalah kakaknya Mona, yang begitu mendengar cerita dari Mona, adiknya bahwa Jesicha akan kembali ke Jakarta, hari itu langsung pulang kembali ke Indonesia dari Spanyol.
Sambil tertawa melihat tingkah Jesicha dan Samuel, Mona dengan girangnya langsung memeluk Samuel kakaknya setelah sekian lama mereka juga tak bertemu. Kakak-beradik ini bertingkah seperti mereka dulu masih kecil dengan berlari-lari saling mengejar sampai salah satu tertangkap.  Tingkah mereka berdua diperhatikan oleh Jesicha yang masuk sampai ke ruang tengah melihat kakak-beradik ini.
"Nah! ketangkap kamu!" kata Samuel saat dia mendapati adik perempuannya itu dan memeluknya sambil mengangkatkannya tubuhnya sedikit. Kakak-beradik ini tertawa riang melepas kerinduan mereka. Mona memang sangat manja kepada kakaknya tapi kadang dia juga sangat usil mengerjai kakaknya. Walaupun sering dibuat kesal, tapi Samuel selalu saja dibuat tertawa oleh adiknya.
"Eh , udah ah kakak! Aku udah gede tahu!" kata Mona dengan ketus, sambil mencibirkan bibirnya. Kakaknya hanya dibuat ketawa kecil melihat ekspresi wajahnya, namun tatapan matanya tiba-tiba berbelok ke arah berdirinya Jesicha yang menatap dan mendengar pembicaraan mereka sedaritadi. Mona menyadari hal itu lalu memanggil Jesicha. Mereka bertiga lalu duduk bersama-sama di ruang tengah itu sambil mengingat masa kecil mereka. Sebenarnya Jesicha hanya ikut tertawa bersama, karena dia tak bisa memungkiri hatinya berkata lain. Jika berbicara tentang masa kecil, walau dia berusaha tertawa namun hal itu malah membuat hatinya menangis melihat hidupnya tak seindah hidupnya Mona.

"Bi, Mbok Narsih dimana?" kata Jesicha disela-sela tawanya Samuel dan Mona, yang sesaat terdiam dari tawa dan candaan mereka berdua.
"Mbok Narsih lagi pergi diantar mang Didim, non." jawab seorang asisten pembantu yang tepat saat itu meletakkan beberapa jenis makanan ringan di meja.
"Kemana?" tanya Jesicha lagi
"Waduh kalo soal itu bibi kurang tahu non. Soalnya mbok Narsih gak pernah kasih tahu non." jelasnya lagi.
Jesicha hanya manggut-manggut dan melanjutkan pembicaraan mereka bertiga yang tadi sempat tertunda. Hampir semalaman mereka bertiga habiskan dengan mengobrol tentang masa kecil mereka bertiga saat mereka bermain bersama ditaman samping rumah ini, rumah Jesicha ini.

Keesokkan harinya, Jesicha dan Mona memasuki awal semester baru ditempat mereka menuntut ilmu di fakultas kedokteran sebuah perguruan tinggi ternama di Jakarta. Jesicha dan Mona bukan hanya cantik tapi mereka termasuk anak yang pandai dan lulus dengan predikat terbaik di sekolahnya masing-masing. Keduanya juga sama-sama menyukai hal yang sama. Dulu sewaktu mereka kecil, pernak-pernik mereka selalu sama karena mereka sering bermain bersama sejak mereka kecil. Umur mereka hanya berbeda setahun. Mona lebih tua usianya dari Jesicha. Tapi meskipun begitu, keduanya memang sangat akrab. Walau mereka berdua sudah berpisah bertahun-tahun lamanya, tapi keduanya terlihat akrab setelah mereka bertemu lagi.

Saat mata kuliah jam pertama selesai, Jesicha dan Mona sepakat akan bertemu di perpustakaan untuk mempelajari beberapa hal yang tadi di bahas di ruang kuliah oleh dosen. Lalu keduanya berpisah di koridor. Mona berjalan ke ruangan assiten rektor III karena saat itu dia dipanggil untuk mengikuti test pertukaran mahasiswa ke London walau dia baru semester 1 tapi dia memang sangat terkenal di kampus itu baik itu oleh dosen maupun mahasiswa bahkan sampai officce boys dan girls juga mengenalnya karena sikapnya yang bersahabat dengan siapa saja dan dia adalah sosok anak yang periang. Hal itu juga karena dia memang mengikuti jejak ayahnya, Pak dokter Herlambang yang adalah salah satu mahasiswa terpandai yang pernah melakukan tes tersebut sewaktu dia kuliah dan mendapatkan kesempatan ke London untuk melanjutkan kuliahnya di fakultas kedokteran London.

Sedangkan Jesicha berjalan menuju ke perpustakaan. Sambil menunggu Mona, dia mulai mencari-cari buku di deretan buku-buku kesukaannya tentang anatomy dan fisiologi manusia. Saat sedang mencari-cari buku tersebut, dari arah berseberangan tampak pula seorang cowok tampan yang kehadirannya sejak tadi diperhatikan beberapa cewek di ruang perpustakaan tersebut. Saat menemukan buku yang dicari, tak di duga kedua insan yang berseberangan ini sama-sama saling bertatapan saat mengambil buku yang letaknya berlawanan tapi ada sedikit cela diantara deretan buku yang membuat mereka saling bertatapan satu sama lain. Dua pasang mata yang sama-sama indah menunjukkan keindahan dimatanya dan keindahan Sang Pencipta yang menganugerahi kedua pasang mata yang indah ini. Untuk beberapa lama kedua pasang mata mereka tidak berkedip. Tak lama Jesicha tersadar dari pikirannya sejak tadi. Kedua pasang mata itu langsung saja berhenti saling menatap dan segera keduanya sama-sama mengambil buku yang diinginkan masing-masing. Sesaat kemudian, Jesicha langsung bergegas keluar dari blok deretan buku itu lalu mencari tempat duduk sekaligus menghindari tangan dari cowok tadi yang menghampirinya tepat di depan blok deretan buku tempat tadi dia mencari buku. Dengan langkah agak dipercepat, Jesicha melangkah menuju tempat duduk tepat di pojokan ruang perpustakaan itu dan langsung mendudukinya. Wajahnya seakan sedang dipanggang dibara api. Jantungnya tak lagi berdegup dengan teratur. Dalam hati dia mengutuk dirinya sendiri kenapa harus bertemu lagi sama cowok itu. Dia sendiri masih mengingat kejadian di bandara beberapa hari lalu saat dia tiba di bandara dan salah mengambil koper yang sebenarnya adalah milik cowok itu. Perasaan malunya membuat dia tak sanggup mengatakan apapun saat dia bertemu cowok itu lagi.
"Hai," sapa cowok tampan berdada bidang itu saat dia menghampiri Jesicha dan duduk dikursi sebelahnya.
Jantung Jesicha seakan hampir terlepas saat mendengar suara itu. Degupan jantungnya semakin cepat tak teratur. Mulutnya seakan berbusa. Yah dia tak mampu membalas sapaan cowok disebelahnya akhirnya dia pura-pura saja tak mendengar sapaan itu. Tapi wajahnya yang memerah seakan tak bisa dipungkiri oleh dia dan itu tampak jelas apa yang dilihat si cowok, wajahnya memerah. Sambil tersenyum, cowok tampan itu memulai lagi pembicaraannya walau saat itu dia benar-benar tak dipedulikan oleh Jesicha.
"Kamu ingat nggak sama aku? Kita pernah ketemu loh." kata cowok tampan itu.
"Aku ingat kok." kata Jesicha pelan namun tak berani memalingkan wajahnya ke arah si cowok.
"Waktu itu kamu ketinggalan ini juga saat kamu ngembaliin koper aku yang salah kamu ambil." kata si cowok sambil menyerahkan liontin bergambar seorang ibu sedang memeluk anaknya. "Ini punya kamu kan?" sambungnya
"Ah .. ini .. " kata Jesicha tertahan saat menatap liontin itu
"Ini punya kamu kan?" tanya si cowok lagi
Jesicha manggut-manggut, "Terima kasih." sambil mengambil liontin itu
"Oh iya kita belum saling mengenal nama. Aku Dira." katanya sambil menyodorkan tangannya untuk menyalami Jesicha. "Kamu?"
"Aku Jesicha" jawab Jesicha sambil membalas sapaan tangan Dira, si cowok tampan itu.
Mereka berdua lalu mulai bercerita satu sama lain, saling bertukar pendapat tentang  buku yang mereka ambil. Karena kebetulan, Dira juga adalah salah satu anak fakultas kedokteran hanya saja dia 2 tingkat diatas Jesicha dan Mona. Topik yang mereka bahas semakin menarik sampai-sampai Jesicha dan Dira tak menyadari kehadiran Mona yang jaraknya hanya beberapa langkah dari keduanya. Mata itu menatap keduanya. Tampak mata Mona seakan berwarna abu-abu, yah apalagi kalau bukan dia sedang berusaha menanahan airmatanya. Matanya benar-benar berkaca-kaca saat melihat cowok tampan dihadapannya. Cowok tampan yang sudah tak asing lagi baginya dan yang semakin membuat hatinya rapuh saat itu adalah kedekatan Jesicha dan Dira.

Mona benar-benar tak tahan lagi untuk meluapkan kesedihan dan amarah yang selama ini terpendam. Dia berlari meninggalkan mereka berdua yang masih asyiknya mengobrol tanpa menghiraukan apapun disamping bahkan yang sedang melihat mereka berdua. Dia berlari kencang mencari tempat yang paling sunyi, tempat yang jarang sekali didatangi mahasiswa. Dia naik ke balkon terbuka dilantai 4 gedung fakultas mereka, dia duduk ditepi pembatas balkon yang juga banyak ditumbuhkan sekelompok bunga-bunga.
"Mengapa? mengapa hatiku sesakit ini? mengapa kamu datang lagi? mengapa kamu kembali kesini? dan mengapa saat kamu kembali, bukan aku yang kamu temui pertama? mengapa Dira?" tanya Mona dalam hatinya sambil menangis tersedu-sedu. Sesaat dia tampak seperti bukan sosok Mona yang periang. Dia rapuh, rapuh saat Dira datang lagi, datang lagi tapi bukan dia yang ditemui. Dia harus akui, dalam lubuk hatinya takan pernah bisa menggantikan posisi Dira dengan cowok manapun.

Beberapa jam kemudian, mata kuliah kedua untuk kelasnya Jesicha dan Mona akan segera dimulai. Jesicha menghampiri Mona yang sudah berada di ruangan kuliah.
"Mona, aku tunggu kamu di perpus berjam-jam kamunya nggak datang." kata Jesicha, "Gimana tesnya? kapan?" tanya Jesicha dengan polos karena memang dia tak tahu tentang apa yang terjadi tadi pada Mona saat Mona datang tapi tak diketahui Jesicha.
"Iya , tadi aku nggak sempat kesana soalnya aku sibuk ngurus kelengkapan data-datanya untuk dikirim." katanya kepada Jesicha. Tentu saja dia sedang berbohong.
"Baiklah."

Dua Jam setengah perkuliahan pun berakhir, Mona cepat-cepat bergegas menuju mobil sebenarnya untuk menghindari sosok cowok yang sedang memanggil Jesicha dari jauh begitu mereka ada tempat parkiran kendaraan. Dari dalam mobil, Mona hanya memperhatikan Jesicha yang sedang mengobrol dengan Dira lewat kaca spion mobilnya. Dalam hatinya menangis namun dia takan mungkin bisa menunjukkan hal itu didepan Jesicha.
"Hei, lama?" tanya Jesicha begitu memasuki mobil sambil memasangkan sabuk pengaman kursi duduknya.
"Nggak." jawab Mona dengan singkat sambil melajukan mobilnya kembali ke rumah. Untuk sementara Mona tinggal bersama Jesicha atas permintaan Jesicha sejak dia datang ke Jakarta.
"Oh ya, Mon .. aku baru ketemu tadi sama cowok  yang pernah aku temui dia di bandara secara tak sengaja koper kami tertukar dan aku salah ambil koper miliknya." kata Jesicha menjelaskan sambil tersenyum. Mona hanya mendengarkan dan memperhatikan raut wajah Jesicha memang berbeda dari biasanya. Kali ini Jesicha tersenyum begitu ceria, seperti orang yang jatuh hati. Begitu yang tampak pada wajah Jesicha yang jelas terlihat oleh Mona. "Oh ya, kamu tahu nggak Mon, dia sangat tampan. Bukan cuma dia yang tampan, tapi namanya juga bagus banget" Jesicha terus menjelaskan kepada Mona tentang sosok cowok bernama Dira itu.
"Oh," Mona hanya mampu menngeluarkan kata itu dari mulutnya.
"Aku mau kenalin dia sama kamu tadi, tapi yah kamu malah masuk ke mobil duluan" 
"Nanti lain kali saja Cha." katanya sambil terus berkonsentrasi membawa mobil. Jesicha mengiyakan kata-katanya.
Tak lama mobil merah itu memasuki pelataran depan rumah besar dan mewah itu.

Hari-hari terus berlalu, kedekatan Jesicha dan Dira menjadi semakin dekat. Kemanapun, Dira selalu mengajak Jesicha bersamanya. Terutama saat ke toko buku atau ke perpustakaan saat mereka berada di kampus. Bahkan kedekatan itu membuat diantara keduanya mulai tumbuh bibit-bibit cinta. Tak lama kemudian, Dira dan Jesicha jadian. Sementara setiap kali Dira datang di rumah Jesicha untuk menemuinya, Mona yang sudah mengetahui akan kedatangan Dira selalu berpura-pura sakit ketika setiap kali datang Dira datang. Akhirnya Jesicha tak pernah bisa memperkenalkan Mona pada kekasihnya.

Suatu sore Dira datang di rumah Jesicha untuk menemui Jesicha sekaligus setuju untuk berkenalan dengan sahabat dekatnya Jesicha begitu Jesicha memperkenalkan namanya Mona didepan Dira dan sering bercerita tentang Mona. Tapi lagi-lagi Mona bepura-pura untuk tidak bisa menemui Dira karena sedang sakit dan berusaha meyakinkan Jesicha untuk temui saja Dira, nanti lain kali saja baru Mona berkenalan dengan Dira. Jesicha pun setuju saja dengan permintaan Mona.
Di ruang tamu, Jesicha dan Dira tampak bermesraan sambil duduk bercerita tentang apa saja yang mereka suka. Tanpa disadari lagi, Mona sedang memperhatikan mereka dari bagian ruang tengah.
"Kamu begitu bahagia Dir, beda saat kita dulu. Kenapa harus dia? Kenapa harus dia? Aku juga butuh kamu, tolong perhatiin aku sedikit. Aku nggak bakal nyia-nyiain kamu lagi. Andai kamu tahu, aku masih menunggumu semenjak saat itu." kata Mona dalam hatinya, "Tapi aku akan coba untuk ngelerain kamu untuk dia. Aku sayang kamu Icha, Jaga dia untukku." lanjutnya lagi dalam hati. Setelah itu dia memasuki kamarnya menangis dalam kesunyian kamarnya. Hanya kamarnya saat itu yang seolah menjadi sandaran saat dia menangis.

Kisah cinta Dira dan Jesicha terus berlanjut. Sudah sebulan lamanya mereka menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Selama itu Dira belum pernah bertemu dengan Mona yang sering diceritakan Jesicha, bertatap langsung dengannya. Karena Mona terus saja selalu mencari alasan untuk menghindarinya. Mona tak mau bila nanti Dira tahu bahwa Mona yang dimaksud Jesicha adalah Mona, mantan kekasihnya yang tak lain adalah cinta pertamanya. Mona juga tak ingin membuat Dira saat melihatnya tiba-tiba menjadi sosok Dira yang membenci dirinya, atas kejadian di masa lalu yang memang masih terus membayangi Mona dan karena kejadian itu setiap saat, saat Mona sendirian bukan lagi sosok periangnya yang tampak tapi benar-benar sosok yang berbeda seratus delapan puluh derajat yaitu sosok Mona yang rapuh.

Sementara Samuel, kakanya Mona baru saja pulang dari Malang setelah 1 bulan lalu sebelum Dira dan Jesicha jadian, Samuel sedang berada di luar kota tepatnya ditempat kerjanya kedua orang tua Samuel dan Mona.
"Eh Mang Didim, dimana Mona dan Jesicha?" tanya Samuel begitu turun dari mobilnya dan melihat mang Didim sedang membersihkan mobil merah milik Mona.
"Non Jesicha lagi keluar den. Kalau non Mona lagi di dalam den sama mbok Narsih lagi nyiapin masakan kesukaan aden katanya hari ini karena aden pulang jadi non Mona lagi masak tuh den." jelas Mang Didim.
Sambil tertawa terbahak-bahak, "Serius mang? Sejak kapan adikku itu tahu masak?" tanyanya seakan tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Mang Didim.
Mang Didim hanya ikut tertawa dan setelah mengobrol dengan Mang Didim, Samuel pamit untuk masuk ke dalam rumah melihat Mona adiknya. Sebenarnya dia datang kesini juga untuk melihat Jesicha. Yah karena sejak merekaa kecil, dia sudah menyukai cewek itu bahkan sampai sekarang. Itu terlihat jelas saat Jesicha datang kembali ke Jakarta, Samuel segera pulang dari luar negeri demi melihat pujaan hatinya itu. Tapi sayangnya Samuel tak tahu, Jesicha telah berpacaran dengan Dira yang adalah mantan kekasihnya Mona sekaligus cinta pertamanya.

"Mbok, ini harus ditambahin apa?" tanya Mona sambil terus menggoreng nasi goreng seafood diwajan, dan melihat-lihat bumbu-bumbu yang diletakkan Mbok Narsih di sampingnya. Disaat yang bersamaan Samuel telah ada di dapur, sambil memberi isyarat pada Mbok Narsih, Samuel datang mendekati Mona dengan diam-diam dan berusaha langkah kakinya tidak didengar Mona. Begitu mendapatkan Mona, dia menutup matanya Mona yang sambil menggoreng membuat Mona menjerit, tapi kemudian dia mencium aroma parfum yang memang sangat dikenalinya. Aroma parfum kakaknya, Samuel.
"Huh .. Samuel, lepasin!" sungut Mona
"Kamu tuh ya .. udah tahu masak?" tanya Samuel sambil melepaskan tangannya dari mata Mona.
Mona hanya mencibirkan bibir mungilnya membuat kakaknya tertawa kecil dan mengisyaratkan untuk Mbok Narsih agar membantu Mona memasak. Mbok Narsih mengerti dan mulai mengambil ahli wajan yang dipegang Mona.

"Uh .. adik kakak ini ternyata sudah tahu masak loh." kata Samuel sambil mendekap adiknya dan membuat berantakan rambut Mona. Hal yang paling tak disukai Mona adalah membuat rambutnya berantakan. Tapi entah kenapa kali ini benar-benar dia tak menggubrisnya. Kakaknya ada disini seharusnya dia senang, tapi pikirannya benar-benar tak berada didalam jiwanya saat itu. Dia memikirkan Dira, ya siapa lagi kalau bukan Dira yang saat ini telah menjadi milik Jesicha. Tapi kakaknya seolah mengerti perasaannya, kakaknya juga mengetahui soal Dira bahkan mengenalnya dengan baik. Karena Dira adalah anak teman kedua orang tua mereka. Hanya saja dia tak tahu bahwa Dira sudah datang kembali ke Indonesia dan bahkan sekarang telah menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih dengan Jesicha, cewek yang selama ini mengusik hatinya.
"Hei, kenapa kamu?" kata Samuel sambil mendekap adiknya lebih erat, membuat Mona ikut memeluk kakaknya untuk menyembunyikan matanya yang sudah mulai berkaca-kaca. Samuel tak ingin lebih membuat adiknya sedih dengan pertanyaannya lagi jadi dia hanya memeluk adiknya tuk beberapa lama sampai Mbok Narsih memanggil mereka berdua untuk makan malam.

"Mbok, sejak tadi aku belum lihat Jesicha. Kemana ya?" tanya Samuel disela-sela mereka menikmati makan malam mereka.
"Mbok nggak tahu den. Tadi pagi-pagi sekali non Jesicha sudah pergi tanpa pamit sama mbok. Mbok pikir non Jesicha lagi terburu-buru jadi tak apa. Tapi benar den, mbok nggak tahu kemana perginya. Mungkin sama den Dira."
"Dira?" tanya samuel kaget mendengar nama Dira dan disaat bersamaan pula Mona yang sedang meminum air tersedak membuat kakaknya jadi mengalihkan perhatian kepadanya dan langsung berdiri disampingnya dan menepuk punggungnya.
"De , kamu nggak apa-apa?" tanya Samuel
"Non, non nggak apa-apa?" tanya Mbok Narsih juga, "Tuangkan air lagi pada gelasnya non Mona." perintah Mbok Narsih kepada seorang pembantu yang lain yang bergegas menuangkan air digelasnya Mona.
"Minum pelan-pelan" kata Samuel.
Setelah beberapa saat kemudian, Mona dan Samuel lalu melanjutkan makan malam mereka kembali. Mbok Narsih kemudian mulai berpamitan pada keduanya untuk pergi keluar sebentar menengok seseorang kata Mbok Narsih. Mona dan Samuel mengizinkannya, disaat yang sama bel pintu rumah juga berbunyi.
"Nah mungkin itu non Jesicha baru pulang." kata Mbok Narsih, "Didim, ayo! sekalian kita juga harus pergi." sambung Mbok Narsih dan mang didim menyahut mengiyakannya. Mereka berdu segera pergi membukakan pintu untuk Jesicha dan berpamitan untuk pergi.

"Non, baru pulang?" tanya Mbok Narsih setelah membukakan pintu rumah dan mempersilahkan Jesicha dan Dira untuk masuk. "Kebetulan non, mbok mau pamit sebentar keluar dengan Mang Didim." kata Mbok Narsih sesaat setelah Jesicha duduk dikursi dengan wajah tanpa ekspresi apapun.

Kembali dia teringat kejadian tadi siang, saat dia bertemu dengan Rosa, yang adalah ibu tirinya, istri kedua ayahnya.
Di sebuah kafe ..
"Kamu sudah tahu kan, kondisi papa kamu kayak gimana sekarang?" tanya Rosa, "Well .. aku nggak akan basa-basi. Aku akan minta kamu tanda tangani surat ini, surat pernyataan kalau semua harta milik papa kamu, yang diberikan kepadamu, diserahkan kepadaku atas nama Rosa Candrawinata." katanya sambil menyodorkan surat di sebuah map untuk Jesicha.
"Begitukah? Inginkah sekali kamu menguasai seluruh uang papaku? Aku nggak sebodoh dan selugu dulu ma. Aku akan berusaha melindungi semua harta milik papaku dari peremupuan materiil seperti kamu." tegas Jesicha.
Tapi kata-kata Jesicha sama sekali tak membuat Rosa untuk berhenti dari niatnya yang buruk. Sambil tersenyum sinis, Rosa mengambil sebuah surat. Didalam surat itu berisi permintaan ayahnya Jesicha untuk mencari ibunya Jesicha yang masih hidup. Surat itu tertuju kepada Mang Didim. Lebih membuat Jesicha kaget dengan isi surat itu adalah bukan cuma mencari ibunya yang masih hidup, tapi ternyata mencari anak ibunya yang masih bayi baru beberapa bulan, anak yang dibuang ibunya dulu saat akan menikahi ayahnya karena saat itu keluarga ayahnya tak mengizinkan ibunya untuk membawa anaknya masuk ke rumah mereka dan menikah dengan ayahnya. Karena begitu besar cintanya pada ayahnya sampai dia membuang anaknya sendiri dan sekarang ayahnya benar-benar merasa bersalah terhadap istrinya yang adalah ibunya Jesicha yang telah di ceraikannya karena keluarganya dan Rosa, dan juga kepada anak ibunya yang tak lain adalah saudara tirinya Jesicha. Mereka berdua mempunyai ibu yang sama hanya ayah yang berbeda. Kata demi kata dibaca Jesicha sambil menangis. Hatinya benar-benar dibalut emosi yang tertahan hingga dia meremas-remas pinggiran surat itu. Justru hal itu yag dinantikan Rosa, lagi-lagi dia tersenyum sinis rasanya belum puas dia untuk membuat Jesicha bertekuk lutut dihadapannya dan menyerahkan semua harta kepadanya. Dia lalu mengambil beberapa buah foto dan menyerahkannya kepada Jesicha. Didalam foto-foto itu ada foto ibunya, dia dan ayahnya, juga di foto lain ada foto ibunya menggendong seorang bayi yang dibawahnya bertuliskan nama Aura, tentu saja itu bukan fotonya. Jesicha tak mampu lagi berkata-kata, dari matanya hanya mengeluarkan kumpulan serpihan emosi yang tampak jelas membuat matanya berkaca-kaca.
"Aku akan beri tahu segalanya dimana ibumu, dan saudaramu. Selebihnya kamu harus tanyakan sendiri kepada Mbok Narsih dan Mang Didim. Karena mereka juga mengetahun semuanya kemudian kamu bisa menemukan ibumu yang sudah gila itu dan saudaramu yang lain." kata Rosa sambil tersenyum penuh kemenangan saat Jesicha menyetujui kata-katanya dan menandatangani surat kuasa kepemilikan harta. Kemudian Rosa menceritakan semuanya kepada Jesicha lalu setelah selesai dia pergi meninggalkan Jesicha yang masih duduk terbujur kaku tak tahu harus mengatakan apa. Hanya satu telepon yang dipanggilnya, yaitu Dira dan akhirnya Dira datang menemuinya dan menenangkannya.

Kembali dia tersadar sesaat sebelum Mbok Narsih dan Mang Didim hendak keluar dari pintu.
"Mau kemana?" tanya Jesicha saat Mbok Narsih dan Mang Didim akan keluar. "Aku mau bicara mbok!" kata Jesicha dengan tegas. Tatapan matanya juga tampak begitu tegas melihat Mbok Narsih dan Mang Didim yang mengehntikan langkah kakinya keluar.
"Mbok .. mbok tega sama aku! Mbok tega nggak bilang sama aku selama ini tentang mama?" tanya Jesicha sambil berdiri dan menatap Mbok Narsih dengan tatapan mata berkaca-kaca. Ingin dia menangis tapi dia harus menahan emosinya demi mengetahui semuanya. "Mbok juga tahu kan, kalau aku punya saudara lain dari mama? Aku punya seorang kakak. Mbok tahu itu kan?!" tanya Jesicha dengan nada setengah histeris, tanpa dia sadari airmatanya perlahan menetesi pipinya. "dan kamu .." sambil menunjuk kearah Mang Didim, "kamu aku sudah ingat kamu. Kamu yang waktu itu datang ke ruangan kerja mama dan mengatakan sesuatu ke mama dan saat papa datang dengan Rosa si nenek lampir itu, papa mengira kalian berselingkuh!" sambungnya lagi sambil menangis, Dira lalu berusaha mendekapnya untuk menenangkannya. "Aku melihat mama diseret keluar dari rumah oleh Rosa sementara papa hanya terdiam melihat mama diseret dengan tak adil. Aku ingat semuanya. Aku sudah ingat semua" kata Jesicha yang nada suaranya semakin besar hingga terdengar oleh Samuel dan Mona, yang segera berlari kearah ruang tamu depan.
Jesicha sudah terduduk sambil menangis didekapan Dira. Mbok Narsih dan Mang Didim juga ikut menangis, akhirnya semuanya terungkap. Rahasia bertahun-tahun yang disimpan rapat dengan baik akhirnya terungkap satu per satu.
"Maaf Non .. Maafkan Mbok, maafkan kami." kata Mbok Narsih sambil mendekati Jesicha. Jesicha menepiskan belaian tangan Mbok Narsih dan mendorong Mbok Narsih ke lantai. Mang Didim segera mengangkat Mbok Narsih kembali berdiri dan mendekap ibunya itu.
"Non, maafkan mamang dan ibunya mamang. Ketika Tuan besar tahu yang sebenarnya beberapa waktu lalu, Tuan besar jadi sakit-sakitan. Tuan besar pun tahu bahwa Nyonya muda Rosalah yang telah merencanakan semuanya bersama dengan keluarganya Tuan besar. Mamang dipanggil kembali dan disuruh mencari Nyonya besar dan nona muda, kakaknya non."

Kesaksian itu didengar Mona dan Samuel yang sudah berada disitu sejak Mbok Narsih didorong Jesicha hingga jatuh dilantai. Begitu Samuel melihat Jesicha didalam dekapan sosok cowok yang sangat dikenalnya dengan baik, siapa lagi kalau bukan Dira dia juga merasakan sakit yang sama seperti Mona dan mulai menyadari hal inilah yang ternyata membuat perubahan pada adiknya, Mona.
"Mamang tahu dimana ibunya non. Ibunya non masih hidup dan tinggal disebuah panti rehabilitasi khusus yang dibangun oleh dokter Herlambang, ayahnya den Samuel dan Mona, Mona adalah anak ibunya non juga yang tak lain adalah saudara tirinya non." tutur mang Didim menjelaskan pada Jesicha.
Mendengar nama Mona diungkap sebagai saudaranya, Jesicha langsung terbangun dari duduknya, badannya terasa lemas, kakinya tak mampu bertumpu lagi. Bukan hanya Jesicha, Samuel, Dira dan Mona terbelalak mendengar pernyataan mang Didim. Memang selama ini Samuel sudah tahu, bahwa Mona bukan adik kandungnya, karena dia waktu itu sudah cukup besar untuk mengetahuinya tapi dia diminta ole kedua orang tuanya untuk tidak mengatakannya kepada siapapun dan dia juga sangat menyanyangi Mona sebagai adik kandungnya. Mona yang mendengar penuturan itu syok dan berteriak histeris, airmatanya juga berjatuhan tak henti.
"TIDAK!" kata Mona yang memecah keheningan membuat mereka semua menatap Mona dengan kaget bahwa dia mendengar semuanya juga. Bahkan Dira lebih kaget begitu melihat sosok cewek yang selama ini ingin diperkenalkan Jesicha, kekasihnya itu adalah Mona, cinta pertamanya. "Tidak! Tidak! Tidak Mungkin!" kata Mona sambil memukul-mukul dadanya bahkan rasanya ingin mencabut seluruh pakaian ditubuhnya, tak lama dirinya langsung terjatuh pingsan.
"Mona!" teriak Samuel, Dira dan Jesicha serentak. Bahkan Dira lah yang berlari sangat cepat mendapatkan Mona, hal itu disadari Jesicha namun sesaat kemudian dia lalu berlari lari mendapatkan Mona, begitu juga Samuel ikut berlari. Mang didim dan Mbok Narsih juga ikut berlari mendapati Mona yang terkapar dilantai.
Tanpa menunggu komando, Dira langsung menggendong Mona berlari menuju mobil yang ditunjuk Samuel yang berlari mengikutinya, juga Jessicha ikut berlari menyusul setelah meminta Mbok Narsih mengurus segala sesuatu yang diperlukan Mona.

Begitu sampai di rumah sakit, Dira menyerahkan Mona kepada Samuel yang segera menyerahkan perawatan Mona pada pihak rumah sakit. Samuel lalu mengurus biaya administrasi dan segala sesuatu yang diperlukan di rumah sakit untuk perawatan dijalankan pada adiknya. Dari luar ruangan, Dira hanya menatap Mona yang terpapar tak berdaya dikasur ruangan rumah sakit. Tingkah laku Dira yang lebih khawatir terhadap Mona tertangkap lagi oleh Jesicha.
Jesicha lalu memegang bahunya Dira, dan begitu melihat Jesicha, Dira tampak pula merasa bersalah lalu memeluk Jesicha dan menangis.
"Maaf." kata Dira.
Jesicha tak membalas kata-katanya, hanya memeluk Dira lebih erat.

Keduanya lalu berjalan dan duduk ditaman. Lama sekali tak satupun dari keduanya memulai pembicaraan.
"Ada yang ingin kamu bicarakan Dir?" tanya Jesicha memulai pembicaraan.
"Aku .."
"Kamu menyukai Mona?" tanya Jesicha lagi, "Maksudku, sebelumnya kamu pernah mengenal kakakku, Mona?"
Dira hanya manggut-manggut. Hal itu membuat Jesicha menarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskannya. "Huh .."
"Maafkan aku Cha. Aku nggak bermaksud seperti ini." kata Dira
"Aku tahu , aku tahu. Justru aku lah yang harus minta maaf. Ternyata akulah yang merebut kamu dari Mona, yang tak lain ternyata dia adalah saudaraku, anak dari ibuku." kata Jesicha itu ternyata membuatnya harus meneteskan lagi airmatanya.
"Maafkan aku, aku nggak pernah cerita sama kamu kalau aku pernah punya cinta pertama, yaitu Mona." kata Dira lagi sambil menatap Jesicha dan menggenggam tangannya erat-erat. "Aku dulu ninggalin dia karena terpaksa aku harus mengikuti orang tuaku ke luar negeri jadi aku mencari alasan kalau dia tak pernah perhatian padaku. Jadi aku ninggalin dia. Mungkin selama ini dia berpikir dialah yang menyia-nyiakanku, tapi sebenarnya akulah yang telah melukai hatinya, akulah yang menyia-nyiakannya. Aku pikir, kalau aku sudah meninggalkannya, aku takan mungkin ketemu dia lagi jadi aku akan baik-baik saja dan ketika kembali kesini, aku pikir aku bisa memulai hidupku lagi" jelas Dira sambil meneteskan airmatanya juga.
"dan sekarang, kamu belum bisa kan untuk melupakannya?" tanya Jesicha. Dira hanya manggut-manggut membuat Jesicha lalu memeluknya. Dira juga ikut memeluknya.
Ternyata dari kejauhan saat mereka berdua berpelukan, Samuel yang saat itu sudah membawa kedua orang tuanya datang masuk dalam kamar Mona melihatnya, Samuel malah melihat Dira dan Jesicha sedang berpelukkan.
Dalam hati, Samuel sudah pupus harapan pada Jesicha. Hatinya sakit tapi dia mencoba untuk bersikap biasa. Karena dia tak ingin Jesicha tahu tentang perasaannya.

"Ma .. Paa .." kata Mona saat matanya mulai membuka pelan-pelan.
"Sayang .. ini mama, mama disini. Ada papa juga sayang." kata wanita setengah baya yang tak lain adalah Nyonya Herlambang, ibu dari Samuel dan ibu yang telah memelihara dan menjaga Mona seperti anak kandungnya sendiri.
"Iya sayang. Papa disini." kata dokter Herlambang, mengiyakan kata-kata istriya.
"Sam, kenapa adikmu?" tanya ibu Herlambang
Samuel lalu menceritakan semuanya kepada kedua orang tuanya.
"Papa sudah tahu suatu saat ini akan terjadi. Ternyata secepat ini .."
"Pa, ma .." kata Mona lagi begitu matanya telah terbuka dengan baik.
"Hei sayang," sapa dokter Herlambang sambil menggenggam tangan anak kesayangannya itu. "Papa yang akan ngambil alih perawatan kamu, tenang saja ya sayang." sambung papanya
"Permisi, oom .. tante .." sapa Jesicha dan Dira begitu masuk dalam kamar perawatan Mona.
"Jesicha .. ayo masuk." kata ibu Herlambang, "Eh kamu Dira kan?" tanyanya lagi
"Iya tante, oom. Ini aku Dira"
"Oh bagaimana kabar papamu dan mamamu disana?" tanya dokter Herlambang
"Baik oom, terima kasih."
"Oh ya papa akan pergi berbincang dengan dokter Rafa yang tadi menangani kamu. Tunggu ya Mona" kata dokter Herlambang.

Setelah dokter Herlambang pergi, ibu Herlambang lalu menceritakan kisah dulu waktu mereka mengambil Mona di depan rumahnya. Aura nama depannya Mona adalah nama pemberian yang dituliskan disurat yang diletakkan di kerangjang bayi Mona. Cerita selengkapnya diteruskan oleh Mbok Narsih dan Mang didim begitu tiba di kamar perawatannya Mona. Setelah semua cerita usai, Mona dan Jesicha tersenyum dan berpelukkan. Begitu pula Dira dan Samuel juga ikut berpelukan. Semua orang didalam ruangan perawatan itu juga ikut berpelukan rahasia yang terungkap awalnya mendatangkan kesedihan tapi akhirnya bisa mendatangkan kebahagian bagi mereka semua.

Beberapa hari setelah Mona keluar dari rumah sakit, Mona membawa Jesicha bertemu dengan
wanita setengah baya yang beberapa waktu lalu Mona juga pernah membawanya kesini, ke tempat panti rehabilitasi ini. Waktu itu mereka datang sebagai sahabat, karena tidak saling mengetahui mereka mempunyai ibu yang sama. Sekarang mereka datang sebagai saudara. Walaupun beda ayah tapi keduanya saling menyayangi tak seperti Jesicha dengan saudara tirinya yang lain dari istri kedua ayahnya. Memang agak sulit mempertemukan Jesicha dan ibunya yang juga ibunya Mona karena ibu mereka ini mengalami gangguan kejiwaan walau tak separah orang lain. Hanya saja dia tak mampu mengenali anaknya Jesicha. Anehnya waktu itu dia hanya mengenali Mona saat pertama mereka bertemu dia menyebutnya anaknya. Mungkin perasaan seorang ibu, tapi lama-kelamaan dia mengenali anaknya Jesicha juga ketika Jesicha menunjukkan liontin yang dipakainya itu. 

Sedangkan kisah cinta Jesicha dan Dira berakhir begitu saja. Jesicha melepaskan Dira untuk kembali kepada Mona, kakaknya sekaligus sahabatnya karena dia juga sudah mengetahui tentang perasaan Samuel kepadanya. Dira dan Mona kembali bersatu. Kebahagian keduanya segera mereka resmikan dengan pertunangan setelah Mona pulang dari London menyelesaikan kuliah lanjutnya disana. Sementara Samuel dan Jesicha juga bersatu dalam ikatan pernikahan dan mempunyai seorang bayi yang lucu. Beberapa tahun berlalu, Mona kembali ke Jakarta dan meresmikan hubungannya dengan Dira, tak lama kemudian mereka berdua juga menyusul menikah. Sedangkan ibunya mereka berdua akhirnya tinggal lagi bersama mereka setelah sembuh total dari gangguan kejiwaannya, ya kadang-kadang dia tinggal di rumah Mona, kadang juga tinggal di rumahnya Jesicha. Akhirnya mereka semua hidup bahagia selamanya.

Minggu, 10 Maret 2013

Lirik lagu untuk mengenang almarhumah Oma tercinta (Sofia Keljombar dan Selfi Tomasoa)



Oma, oma .. Oma, oma
Beta mau bilang oma, beta mau bilang oma kalo beta rindu oma e ..

Waktu beta kacil oma lole beta e.
Sampe-sampe beta su basar bagini e ..
Rindu oma dolo kele-kele beta e,
Samua sio tar bisa lupa ..

Oma, oma .. Oma, oma
Beta mau bilang oma, beta mau bilang oma kalo beta rindu oma e ..

Waktu beta dengar kabar oma su pigi ..
Sio beta hati loyo tau samua.
Air mata tumpah basa beta pung muka,
Rasa-rasa tu jantung taputus ..

Oma, oma .. Oma, oma
Beta mau bilang oma, beta mau bilang oma kalo beta rindu oma e ..
Oma, oma .. Oma, oma ..
Beta mau bilang oma, kalo beta rindu oma mar oma su seng ada lae

Sabtu, 09 Maret 2013

Fall in Love

Entah sejak kapan rasa itu datang.
Menghampiriku dan menyapaku .. to say "Hi"

Entah sejak kapan mulai datang ..
Jantung terus berdebar , bahkan saat kulihat senyum kecil dibibirmu

Entah sejak kapan,
Rasa itu terus mendalam.
Aku sudah menunggu saat ini .. to say "Fall in love"
Aku sudah jatuh cinta !
Jatuh cinta padamu ..
Kamu luluhkan hatiku hanya dengan senyummu.

Terpesona , aku terpesona pada kamu
Entah sejak kapan itu .. aku terpesona
Kau bahkan melihatku dan tersenyum
Buatku hampir gila dengan debaran ini

Harus ku akui, pertahananku leleh
Seperti lelehan es.
Kamu seperti matahari sanggup melelehkan es dihatiku
Buatku hampir gila dengan debaran ini

Panah cupid kamu telah tertanam dihatiku
Buatku hampir gila dengan debaran ini
Bahkan sampai selamanya, kamu yang mampu, kamu yang mampu buatku hampir gila dengan debaran ini

Aku telah jatuh cinta .. not to say "Hi until Good bye"
Bukan itu ! Bukan, bukan !
Aku benar-benar jatuh ..
Jatuh cinta kepada kamu.
Aku sudah menunggumu, cintamu .. Aku jatuh cinta

Jumat, 08 Maret 2013

Missing You 2

Sekarang rasanya aku akan mati ..
Bagaimana harusnya aku ?
Merindukanmu itu membuatku selalu memanggil namamu.

Sekarang rasanya aku sudah gila.
Kehilangan dirimu ..
Aku benar-benar telah kehilanganmu.

Untuk menahanmu saja aku tak bisa !
Apa yang harus aku lakukan ?
Setiap waktu selalu memikirkanmu ..
Setiap hari aku selalu memanggilmu !

Aku benar-benar merindukanmu ..
Sangat merindukanmu !
Bisakah kamu kembali ?
Aku tidak bisa melihatmu pergi ..
Aku mencintai kamu.
Bahkan aku pun tak bisa mengatakannya saat kamu pergi ..

Aku benar-benar merindukanmu
Maafkan aku terlambat untuk mengatakannya, tapi kamu adalah segalanya bagiku.
Aku cinta, ya aku cinta kamu. Sangat mencintai kamu
Maafkan aku.
Bisakah kamu dengar, aku sangat merindukanmu ?
Bisakah kamu kembali, disini ..
Aku mencintai kamu

Missing you (I miss you, because I miss you)


Sekarang ..
Langit yang sama dan hari-hari yang sama.
Tapi ada satu hal yang berbeda !
Satu hal yang takan lagi sama .. adalah aku telah kehilangan dirimu.
Aku berpikir ..
Cukup tersenyum tuk jalani hariku seperti biasa dan aku akan melupakan segalanya.
Mungkin dengan begitu, takan ada yang tertinggal ..
Aku berpikir bahwa aku telah membiarkan kamu pergi ..
Meninggalkan semuanya.

Tidak ! Tidak !
Aku tidak bisa, aku tidak bisa !
Aku tidak bisa membiarkan kamu untuk pergi ..
Bisakah kamu dengar suara hatiku memanggil namamu untuk jangan pergi ?

Aku merindukanmu, sangat merindukanmu ..
Karena aku sangat merindukanmu.
Selalu seperti ini hatiku selalu memanggil, memanggil kamu
Aku merindukanmu, aku ingin bisa melihatmu, bersama kamu karena aku sangat merindukanmu.

Setiap hari merindumu ..
Setiap hari, rasanya aku akan mati. Bagaimana ?
Apa yang harus aku lakukan tuk menahanmu ?
Apa yang harus aku lakukan ? Tolong katakan ..

Tidak, tidak .. Aku tidak bisa membiarkanmu pergi !
Aku butuh kamu, aku butuh kamu, sangat mencintaimu ..
Aku bahkan tak mampu mengatakannya saat kamu pergi. Maafkan aku.
Maaf, maafkan aku, aku merindukanmu
Maaf aku terlambat !
Maafkan aku, aku sangat merindukanmu.
Tidak, aku tidak bisa membiarkan kamu untuk pergi
Aku butuh kamu. Maaf aku terlambat .. Dengarlah !
Aku mencintaimu


Senin, 04 Maret 2013

Cerpen: Aku terluka, aku cinta


"Kamu masih cinta kan sama dia?" kata Jems sambil menyuduhkan teh digelas untuk sahabatnya yang sejak tadi terdiam kaku terbungkus selimut hangat. Rasanya mulutnya berbusa tak mampu untuk berucap hanya mengingat kejadian yang baru saja dialaminya.
"Sean," panggil Jems sekali lagi yang sontak membangunkan wanita ini dari lamunannnya. "Kamu tadi dengar apa yang kubilang?"
"Nggak." jawab Sean dengan wajah sedih namun tampak kaku. Pikiran dan hatinya benar-benar kacau.
Dengan wajah sedikit kecewa, Jems mengulang pertanyaannya, pertanyaan yang sama. Namun mulut Sean terasa seperti berbusa. Tak mampu dia mengatakannya. Cinta, ya dia memang sangat mencintai pria itu. Tapi benci, ya dia juga membenci pria itu. Pria yang mencium pipi wanita lain dihadapannya yang membuat seketika dunianya benar-benar hancur.
"Aku akan melupakannya.." kata Sean yang tanpa disadari butiran bening pun jatuh dari mata indahnya.
"Sean .." Jems langsung memeluk sahabatnya itu. "Aku tahu, aku tahu. Aku ada disini, aku ada disini. Aku menemanimu. Tenanglah. Aku akan membantu. Tenanglah aku ada disini." katanya seolah mengerti perasaan dan apa yang akan dikatakan Sean. Memang mereka berdua ini sudah berteman sejak kecil. Mereka saling tahu apa yang dirasakan atau yang dipikirkan. Mereka seperti dua jiwa yang punya satu hati dan satu pikiran.Sean membalas pelukan sahabatnya itu dan langsung saja airmatanya semakin mengalir deras keluar dari kedua bola matanya.
 Hujan yang turun diluar pun dengan derasnya turun membasahi bumi seolah mengerti perasaan yang dirasakan Sean.

Keesokan paginya, Sean bangun dari tempat tidurnya menyadari sahabatnya telah pulang kembali ke rumahnya. Dengan mata yang masih membengkak akibat tangisannya semalam, dia mencoba bangun mendapati handphone yang dibiarkan saja terletak dimeja riasnya.
Wajah sedih kembali menghiasi wajahnya dengan mata berkaca-kaca dengan perasaan yang berkecamuk dihatinya mendapati berpuluh sms dan telpon yang berasal dari pria itu. Kesal, kecewa, ingin marah, ingin rasanya memukul pria ini, lalu melupakannya namun dia tak sanggup. Hatinya masih sepenuhnya milik pria itu.
Tak lama setelah membaca beberapa sms yang berasal dari pria itu, bunyi telpon masuk dari pria itu lagi untuk kesekian kalinya.
"Halo Sean. Sayang, aku .. aku minta maaf. Maafkan aku. Aku khilaf. Aku bodoh. Maafkan aku. Tolong sayang, aku mencintaimu. Aku minta maaf sayang. Aku bodoh" kata pria itu dengan nada suara yang lembut menunjukan penyesalannya. Dalam hati Sean ingin sekali memaafkan pria ini, pria yang dicintainya, namun luka dihatinya begitu dalam. "Sean .. Aku tahu kamu marah, aku tahu kamu kecewa. Pukuli aku saja. Aku tahu aku salah! Aku begitu bodoh menyia-nyiakan wanita yang mencintaiku dan aku sadari aku sangat mencintainya. Aku khilaf, maafkan aku."
"Sudahlah Ramon. Aku nggak apa-apa. Hanya saja, tolong pergilah. Pergi jauh dari hidupku! Aku tak mau lagi melihatmu. Aku tak mau lagi harus mengulang semua yang dulu. Aku sakit. Aku ingin melupakanmu. Sebaiknya kita berteman saja dan melupakan semua yang dulu pernah kita lewati bersama" kata Sean berpura-pura bersikap tidak ada masalah dengan situasi ini. Berpura-pura bersikap menerima padahal kenyataannya hatinya begitu terluka. "Pergi jauhlah dari hidupku dan bersama dia aku rasa kalian cocok. Sama-sama munafik!" dengan nada yang sedikit ditinggakan.
"Apa? Tuhan .. Sean! Benarkah? Kamu ingin melupakanku? Kamu ingin menyudahi semua kenangan kita ini?" tanya Ramon dengan nada suara yang semakin redup. Diseberang sanapun pria ini menangis. Melepaskan? Apa dia harus melepaskan wanita yang dia cintai ini? Tidak, hatinya tak ingin melepaskannya. "Sean, demi Tuhan! Jangan katakan itu. Aku mencintaimu. Tolong jangan seperti ini. Tolong jangan sudahi kisah ini. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Tak mau! Aku benar-benar tak ingin kita berpisah. Jangan katakan itu karena aku tetap tak bisa, aku tak mau!" suara itu mulai terdengar jelas malahan lebih jelas dari sebelumnya.
"Ramon, aku .."
"Tidak! Jangan katakan apapun. Jangan katakan kamu ingin melupakanku atau menyudahi hubungan ini. Sean aku benar-benar mencintaimu. Sungguh aku tak ingin bila kita harus berpisah. Aku dan Bebi adalah suatu kesalahan. Aku khilaf hingga aku menciumnya."
"Ya .. aku mengerti. Tolong berikan aku waktu untuk berpikir, setidaknya untuk melupakan kesalahanmu hari ini."
Lama sekali Ramon terdiam dan beberapa saat kemudian barulah dia menjawab dengan sedikit nada suara yang lagi-lagi redup "Baiklah , aku mengerti. Tapi akan ku buktikan padamu, aku akan memperbaiki semuanya. Semua kesalahanku akan kuperbaiki dan aku akan tunjukan itu padamu."
Tanpa menjawab kata-kata pria itu, dia menutup telponnya karena takut Ramon mendengar dia menangisi semua kenangan mereka dan kata-kata yang baru saja didengarnya dari mulut Ramon. Mungkinkah itu? Mungkinkah hatinya bisa memaafkan pria yang telah menyakiti hatinya itu?

Ting .. Tong ! Ting .. Tong !
Bel apartemen miliknya pun berbunyi. Sambil menghapus airmatanya dia langsung saja membuka pintu bagi tamu yang sejak tadi membunyikan bel apartemen miliknya ini.
"Ta-Da!" kata sosok pria yang datang ini sambil memberikan seikat bunga mawar merah, putih, kuning sambil menghalangi wajahnya dari pandangan Sean.
"Jems?" tebak Sean yang memang sudah tahu bahwa sosok ini adalah Jems, sahabatnya dari nada suaranya memang adalah Jems.
Jems yang sudah ketahuan menyapa Sean lagi sambil tertawa kecil "wah-wah ternyata kamu ngenalin aku ya.. sia-sia dong aku dandan badut begini sambil membawa bunga" Kata-kata ini membuat Sean menyadari bahwa sahabatnya ini memang memakai baju seorang badut dengan make-up badutnya.
Sean lalu mulai tertawa kecil melihat tingkah sahabatnya ini.
"Aku nggak nyangka Jems kamu punya bakat jadi badut." katanya sambil berjalan memasuki ruang tamu apartemennya dan diikuti Jems dari belakang.
"Huh! Aku make ginian buat kamu tahu!" Sungut Jems
Sean hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil duduk di meja makannya yang terletak bersebelahan dengan ruang tamu lalu menuangkan jus yang baru diambilnya dari dalam kulkas.
"Aku cantik kan?" Tanya Jems sambil menyodorkan seikat bunga mawar yang sedaritadi belum diambil dari tangannya.
"Iya deh, kamu cantik." jawab Sean mengiyakan dan mengambil seikat bunga dari tangan sahabatnya itu, sambil mencicipi jus dan roti diatas meja.
Jems dengan sifatnya yang sangat suka mengganggu Sean, menaruh pikiran iseng dalam otaknya untuk merebut roti yang hendak dimakan Sean dan hap!
"JEMS !" teriak Sean saking jengkel dengan sikap iseng Jems, "Balikin itu punya ku!" Sungut Sean sambil berusaha merebut roti itu. Jems berlari memutari meja makan membuat Sean juga harus berlari mendapatkannnya. Sebenarnya dia bisa saja mengambil roti yang lain dan memakannya tapi hanya satu-satunya roti yang di pegang Jems yang dia sukai karena lezat rasanya dibandingkan roti yang lain.
Tiba-tiba tanpa sengaja kaki Jems terpeleset kaki kursi meja makan dan sontak membuat kursi bergeser dari tempatnya dan Sean pun ikut jatuh tertubruk dengan tubuh kekar Jems yang saat itu sudah berbalik berhadapan dengan arah datangnya Sean. "aaaargh!" keduanya sama-sama bersuara dan jatuh terlentang dilantai dengan posisi Sean menindih tubuh Jems. Lama sekali mereka saling menatap dalam posisi tetap masih seperti tadi saat jatuh. Tanpa ada kata terucap, tanpa ada kedipan mata dari dua insan manusia ini. Sean yang baru tersadar segera merebut kembali roti ditangan Jems yang terlentang kaku di lantai.
"Nah! Dapat!" Sean lalu bangkit dari jatuhnya dan kembali mengambil posisi duduk di kursi yang tadi didudukinya dan diikuti dengan bangkitnya Jems yang tadi setelah Sean mengambil rotinya di tangan pria ini masih kaku tanpa ada satupun kata terucap dari bibirnya. Yah setidaknya perasaan itu perasaan itu berbeda dengan sebelumnya. Perasaan apa ini ? Tanyanya dalam hati.
"Hei !"sapa Sean sambil tersenyum kecil dibelahan bibirnya. "Ambil ini, makanlah." sambungnya sambil menyodorkan sepiring roti berbagai macam rasa. Jems yang tersadar dia sedang memikirkan hal yang bukan-bukan akhirnya hanya mampu manggut-manggut tanda mengiyakan kata-kata Sean dengan mengambil salah satu roti tersebut. Sean yang tidak menyadari sedaritadi kedua bola mata pria yang duduk bersebelahan dengannya sedang mengamati wajahnya dalam-dalam walau hanya sebatas lirikan-lirikan kecil, terus saja memakan roti kesukaannya lalu mengambil gelas yang lain dan menuangkan jus yang sama kepada Jems. Dalam hati Jems merasakan debaran yang semakin cepat dan cepatnya sehingga dia kesulitan untuk bernafas bahkan berbicara seperti biasanya dia selalu berbicara banyak hal dengan Sean, tapi kali ini mulutnya terasa kaku. Oh entahlah, Jems hanya bisa melenguh pelan. "Kenapa?" tanya Sean yang baru menyadari wajahnya dipandangi, "Kok kamu lihatin aku gitu?" tanyanya lagi dengan kening sebelah terangkat tanda dia tak mengerti dengan raut wajah yang Jems tunjukan.
"Nggak .. gue nggak apa-apa kok!" kata Jems menyangkalnya, "Aku .." Baru saja dia akan melanjutkan kata-katanya tiba-tiba bunyi bel pintu apartemen milik Sean berbunyi.
"Siapa lagi sih? Masih pagi juga .." sungut Seaan sambil berjalan meninggalkan meja makan dan rotinya yang tinggal beberapa gigitan lagi habis dimakan dan membukakan pintu apartemennya. "Siapa?" Tanyanya sambil membuka pintu, "Aku .." Belum sempat dia melanjutkan, kata-katanya terasa berhenti melihat siapa yang datang ini. Ramon ! ya Ramon .. pria yang dicintainya, namun sekarang ingin dilupakannya.  "Kamu?"
"Ya aku," jawab Ramon sambil memasuki apartemen milik Sean, yang berdiri kaku tak mampu mencegah atau bahkan menyuruhnya keluar dari apartemennya ini.
Ramon tiba-tiba berhenti saat memasuki ruang tamu melihat Jems yang sudah melepaskan rambut badut yang sejak tadi dipakainya. Ramon hanya tersenyum sinis melihat Jems. Tanpa berbicara dia terus saja memasuki ruang tamu Sean dan menduduki kursi tamu yang terletak diruangan itu.
"Sedang apa kamu disini?" tanya Jems dengan agak marah
"Kursinya sudah diganti baru ya?" Ramon mengajukan pertanyaan lain pada Jems
"Aku tanya sedang apa kamu disini?" tanya Jems dengan ketus!
"Jems .." panggil Sean, "Aku ingin berbicara dengan Ramon"sambungnya
"Apa?!" tanya Jems seolah tak percaya apa yang baru saja didengarnya ini. "Apa? bicara? dengan dia? kamu dan dia?" tanya sekali lagi dengan nada suara yang semakin tinggi. Sean hanya manggut-manggut. "Baiklah. Aku mengerti, aku mengerti. Baiklah .. Silahkan" sambungnya lagi dengan kekesalan yang dirasakannya sambil menuju kamar kecil untuk membersihkan wajahnya dan melepas asesoris badut yang dipakainya.

Sementara Ramon dan Sean hanya duduk terdiam lama. Ramon terus saja memandangi wajah Sean yang saat itu menyembunyikan wajahnya dengan uraian rambutnya. Sebenarnya menyembunyikan matanya yang saat itu berkaca-kaca tak mampu harus berkata apa.
Beberapa saat kemudian, Jems keluar dari kamar kecil sambil mengambil jaket miliknya dan berjalan keluar. "Aku ingin membeli minuman dingin sebentar diluar. Rasanya ruangan ini panas banget!" kata Jems masih kesal-kesalnya.
"Baiklah" kata Sean
Setelah Jems keluar dari apartemen Sean. Ramon dan Sean mulai bebicara menyelesaikan masalah mereka. Ramon dengan sikap yang sama dengan yang beberapa jam lalu di telpon tetap melakukan hal yang sama mempertahankan Sean. Namun Sean bersikukuh hatinya sudah tak sanggup harus disakiti terus dan menerus oleh pria yang sama.
"Sudahlah Ramon, kita sudah berakhir. Aku ingin kita berakhir. Kamu lebih pantas bersama dengan Bebi. Kalian dua cocok. Dia lebih pantas mendampingimu" kata Sean yang sudah berdiri dari duduknya dan berjalan kearah jendela besar yang dari jendela itu bisa melihat seluruh pemandangan kota Paris karena apartemen miliknya tepat berada di tengah kota dan dekat dengan Menara Eiffel yang menjadi tujuh keajaiban dunia itu. dan diikuti oleh Ramon.
"Aku tak mau! Aku tak mau! Kita mulai semuanya dari awal lagi Sean, please. Aku sangat mencintaimu. Apapun yang kamu mau, akan aku turuti asalkan kamu kembali padaku. Kita jadian lagi" pinta Ramon sambil memeluk Sean dari belakang. Perdebatan kecil terus berlangsung antara kedua insan ini.
"Ramon!" panggil suara seorang wanita dengan kasarnya. Saat mereka berdua berbalik, betapa kagetnya Ramon melihat sosok wanita yang sudah berada didalam apartemen Sean.
"Bebi .. Bebi?" Tanya Ramon dengan terbata-bata pada sosok wanita yang ternyata adalah Bebi. Yah wanita inilah yang dicium Ramon didepan rumahnya Ramon, didepan mata Sean dan wanita ini juga adalah sahabat terdekat dari Sean.
"Iya aku. Kenapa? Kamu takut?" tanya Bebi dengan garangnya! "Sean aku mau bicara denganmu" kata Bebi pada Sean yang sudah menghampiri mereka berdua sambil menarik tangan Sean dengan paksa dan kasar keluar dari apartemennya dan melepaskan tangannya di koridor depan kamar 156 itu. Tak disangka dikoridor itu ada beberapa teman Bebi yang juga ikut datang.
"Heh ! Kalau kamu masih punya otak, jauhi Ramon. Jangan pernah sekali-kali mengundang Ramon datang di apartemenmu ini." kata Bebi karena merasa kata-katanya tak digubris Sean, Bebi yang sudah terbakar api cemburu langsung hendak mengayunkan telapak tangannya utuk menampar pipi Sean
"Bebi, jangan keterlaluan kamu!" bentak Ramon sambil menahan ayunan tangan Bebi
"Apa? Aku? Kalian memang dasar" sungut Bebi, "aiiiiish! Dasar wanita jalang!"
"Oh jadi seperti ini nih wanita jalang yang kamu maksud Beb?" tanya salah seorang temannya Bebi, dengan sinisnya mereka, mereka berlima mengambil masing-masing telur busuk diwajah Sean. BERUNTUNG! Telur-telur itu belum sempat mengenai wajah Sean, Jems yang sedaritadi memperhatikan mereka saat kembali membeli minuman dingin, langsung saja berlari secepat mungkin, memeluk Sean dalam dekapan dada bidangnya yang kekar sehingga membuat Sean yang agak pendekkan dari dia terhalang oleh amukan telur busuk yang hampir saja mengotori wajah Sean atau bahkan seluruh tubuh Sean dan hal itu disaksikan oleh penghuni apartemen lain yang bersebelahan dengan 156 milik Sean.
"Bebi !!" teriak Ramon.
"Upz, maafkan aku." Sambil tertawa Bebi dan teman-temannya berjalan meninggalkan mereka bertiga.
"Kamu ngak apa-apa?" Tanya Jems sambil tampak senyuman hangat kecil dibelahan bibirnya. Sean hanya mampu mengangguk karena butiran bening itu lagi-lagi menghiasi dua bola matanya, tetap dalam dekapan Jems.
"Sean," panggil Ramon "Kamu baik-baik sajakah?" tanya Ramon mengulang pertanyaan Jems.
Sean lalu melepaskan dekapan dari Jems, dan memandang Ramon dengan mata yang berkaca-kaca akibat airmata yang baru saja mengaliri pipinya. Ramon yang merasakan hal itu, terdiam sebentar melihat airmata Sean. Jantungnya saat itu terasa berhenti melihat tatapan duka dikedua bola mata wanita yang dicintainya ini. "Sean, aku .." kata Ramon terhenti saat tangan yang coba meraih bahu Sean ini dicegah oleh Jems.
Kedua laki-laki ini saling bertatap. Masing-masing menyimpan rasa pada wanita yang sama. Masing-masing saling menatap seolah ingin bertengkar. Bara api seperti tampak pada dua pasang mata pria-pria itu.
"Aku takan biarkan kamu menyakiti Sean lagi." kata Jems menegaskan ucapan dibibirnya sambil melepaskan tangan Ramon.
"Maksudmu?" tanya Ramon, "Aku menyakiti Sean?" sambil tertawa sinis pada Jems, "Aku mencintai dia, mana mungkin aku menyakitinya? Oh aku tahu aku pernah khilaf tapi aku mencintai dia dan akan memperbaiki semuanya. Sean juga masih mencintaiku" sambung Ramon meyakinkan dirinya sendiri bahwa Sean masih mencintainya.
Perdebatan antara Ramon dan Jems semakin memanas. Saking memanasnya, mereka tidak menyadari bahwa Sean sudah menitihkan airmata dengan berdiri mematung tanpa mengucapkan satu katapun dari bibirnya.
"CUKUP!" teriak Sean menghentikan perdebatan dua pria ini dan mereka berdua baru menyadari bahwa Sean sudah menitihkan airmata sejak tadi. Keduanya sama-sama merasakan hal yang sama yaitu gelisah melihat wanita yang sama-sama dicintainya menangis. "Tolong pergi .. Aku sudah tak ingin lagi .. Aku sudah lelah .. Tolong pergi .. " kata-kata ini diucapkan Sean berulang-ulang dengan nada suara bergemetaran. Karena dia sudah tidak tahu lagi apa yang harus dikatakannya. Hatinya benar-benar terluka.
"Sean aku minta maaf" kata Ramon pelan sambil meraih kedua bahu milik wanita ini, yang langsung dihindari wanita ini dengan mundur beberapa langkah kebelakang
"Cukup! Aku capek Ramon .. Tolong pergi. Aku sudah tak bisa lagi bersamamu" kata itu diucapkan lagi oleh Sean, hatinya terasa benar-benar sakit saat mengatakan hal itu. Kata-kata yag berat baginya. Yah berat untuk melepaskan satu-satunya pria yang sejak dulu dicintainya. "Jems, bawa aku kedalam. Tolong, aku ingin istirahat" pintanya pada Jems dan Jems meraih bahunya, mendekapnya dan membawanya masuk kedalam apartemen miliknya itu meninggalkan Ramon yang masih berdiri mematung melihat kepergian wanita yang dicintainya itu bersama dengan pria lain. Pintu apartemen pula seakan-akan itu adalah pintu hatinya Sean yang lama-lama semakin menutup menghalanginya untuk bisa masuk kedalam mendapatkan wanita yang dulu mencintainya dan dicintainya itu.


Malam itu hujan deras, Ramon terus berjalan menyisiri jalanan kota Paris sejak pagi saat dia pulang dari apartemen milik Sean.
"Sekarang aku tahu, kalau melihat dia yang kita cintai menangis itu rasanya sakit. Apalagi saat airmatanya bukan kita yang menghapusnya, tapi pria lain. Rasanya lebih sakit. Jantung juga ikut berhenti tak lagi ingin rasanya untuk bernafas kalau dia sudah tak lagi bersama kita" katanya dalam hati, menyesali tingkah lakunya, keikhlafannya dia menyakiti hati wanita yang benar-benar dicintainya dan wanita itu sudah tak ingin lagi bersamanya.
Dia terus berjalan tak tahu lagi harus kemana. Dia benar-benar sendiri sekarang. Kehilangan wanita yang adalah segalanya bagi dirinya. Ini kesalahannya dan dia menyadari hal itu. Namun yang lebih menyakitkan melihat wanita itu bersama dengan pria lain saat itu dia ingin mengakhiri saja hidupnya. Karena hidupnya sudah benar-benar mati tanpa Sean.

Beberapa tahun kemudian ..
Di pelataran Menara Eiffel, Sean duduk sendiri menatap orang-orang disekelilingnya yang sedang asyik dengan kesibukannya sendiri. Dia duduk sendiri melihat sekelilingnya mencari-cari seseorang. "sss" desis Sean saat kedua matanya ditutup dengan sebuah tangan besar. Yah tangan seorang pria. Sambil tersenyum, "Jems," panggil Sean pada sosok pria yang menutupi matanya itu
Jems lalu melepaskan tangannya dari kedua mata Sean dan memberinya seikat mawar putih dan beberapa balon warna-warni berbentuk hati digenggamannya, lalu mengecup dahi Sean saat dia menerima mawar dan balon itu dari Jems.
"Aku mencintaimu" kata Jems sambil membelai rambut panjang wanita dihadapannya ini.
"Aku juga mencintaimu" kata Sean
"Kamu suka?" tanya Jems sambil duduk disamping Sean. Sean hanya manggut-manggut sambil tersenyum membalas tatapan Jems padanya.
"Aku mencintaimu" kata Sean sekali lagi, membuat Jems memeluknya begitu hangat pelukan itu. Pelukan yang didambakan Jems sejak dulu, dan ini terasa seperti mimpi wanita ini sudah menjadi istrinya.
"Terima kasih" kata Jems sambil mengecup kepala Sean yang ditutupi rambut ini.
Sean membalasnya dekan mendekap Jems semakin erat, semakin larut dalam kebahagiaan, semakin terhanyut dalam perasaan membuat kedua bibir ini saling bertemu, saling memberikan kecupan-kecupan lembut membuat balon yang tadi genggam tangan Sean terlepas ke langit, terbawa oleh angin, menerbangkan cinta mereka setinggi-tingginya, cinta yang Jems berikan padanya yang sanggup mengobati luka dihatinya sejak saat itu ..
Terima kasih sudah hadir dihidupku, memberikan sejuta kasih sayang padaku, kasih yang selalu mengobati luka dihatiku, kasih yang selalu mencintaiku tanpa memberikan sekeping luka dihatiku, gumam Sean dalam hatinya. Yah dan menara ini menjadi saksi cinta mereka.

TAMAT

Sabtu, 02 Maret 2013

When I havenn't everything


Bila suatu hari nanti ..
Bila aku bukan siapa-siapa,
Bila aku tak punya apa-apa,
Bila aku tak lagi miliki segalanya ..
Akankah kamu masih mencintaiku hanya karena aku ..

Saat ini aku cemas !
Resah !
Gelisah memikirkan semua mata yang menatapku.
Ku tak punya kekuatan tuk hadapi.
Akankah kamu masih mencintaiku hanya karena aku ..

Aku mencintaimu ..
dan ya, kamu bilang kamu juga mencintaiku!
Apakah itu hanya karena aku ..
Apakah kamu masih mencintaiku ?
Hanya karena aku, tak lagi miliki segalanya apakah kamu tetap mencintaiku ?

Suatu hari nanti saat aku bukan siapa-siapa, saat aku tak punya apa-apa !
Suatu hari nanti saat aku tak lagi milki segalanya,
Apakah kamu masih berdiri disampingku ?
Hanya karena kamu mencintaiku ..

Bila ya ..
Saat itu kan tiba, berdirilah disampingku.
Dekap aku,
Genggam jemariku dan katakan "aku mencintaimu"
Masihkah kamu melakukan hal yang sama saat aku tak lagi miliki segalanya ?
Peluk aku dan katakan padaku.
Hanya karena aku tak lagi miliki segalanya bukan berarti kamu tak lagi mencintaiku.
Akankah itu ?
Hanya karena aku ..

Cerpen : Beautiful Love in Paris



BEAUTIFUL LOVE IN PARIS

Hujan yang turun semakin deras membasahi bumi. Cherry hanya duduk kaku melihat derasnya hujan yang turun. Menatap lurus, entah apa yang sedang dipikirkannya.

“Cherr ..” panggil wanita setengah baya yang sedaritadi memperhatikan raut wajah cherry.
seketika cherry langsung tersentak kaget dari lamunannya, “Eh  ! maa..mah ” jawab cherry dengan nada suara sedikit terbata-bata.  “Ada apa?” sambungnya lagi.
“Nggak sayang, mama cuman sedikit khawatir melihat kamu. Mama perhatikan semenjak Gino meninggal, kamu murung terus.” kata mamanya cherry sembari merangkul putri semata wayangnya itu. “Mama tau perasaan kamu sayang. Mama ngerti banget. Tapi kamu harus kuat Cherr ! Kamu gak boleh terus-terusan sedih. Gino kalo liat kamu sedih seperti ini pun dia akan sedih dan marah kalo kamu terus-terusan kayak gini.” sambung mamanya lagi memberi semangat untuknya, tanpa membiarkan anaknya membalas ucapannya, wanita itu langsung mencium dahi putrinya itu dan memeluknya menghapus kesedihan mendalam yang dirasakan oleh Cherry.

Beberapa menit kemudian .. Tok tok tok !
“Ada apa bi?” ucap mamanya cherry sambil melepaskan pelukannya.
“Maaf bu, ada telpon dari Tuan di Paris”  tutur wanita tua yang berdiri di depan pintu kamar yang sedikit terbuka.
“Oh iya, Bi .. makasih. Sampaikan 5 menit lagi saya akan telpon dia balik” jawab Riska yang adalah mamanya Cherry.
“Baik bu”
“Telpon dari papa kan ma ? papa masih maksain mama untuk aku mengikutinya ke Paris?” Tanya Cherry
“Ah .. mmm sayang, mama bicara dulu ya sama papa. Sudahlah. Ayo istirahat sayang..” jawab mamanya sambil berjalan ke arah pintu kamar mewah dengan hiasan warna merah mudah, warna kesukaan Cherry. “Bonne nuit cher” sambungnya sambil mematikan lampu kamar Cherry dan menutup pintu kamarnya.

Cherry hanya terdiam, tapi kemudian beranjak dari tempat tidurnya dan mengambil sebuah buku diary berwarna putih bergambar hati di laci lemari dekat tempat tidurnya, sambil membuka buku tersebut dan ditemukan sepucuk surat dari laki-laki yang sangat dicintainya. Gino .. yaa Gino. Cowok berwajah tampan dan pintar berbahasa Inggris dan Perancis yang sangat dikagumi cewek-cewek disekolah mereka. Gino adalah kekasihnya semenjak mereka sama-sama duduk di bangku SMP kelas VII, sampai akhirnya menjelang pengunguman kelulusan siswa-siswi di bangku SMA kelas XII, Gino akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya dipelukan Cherry setelah dirawat di Rumah Sakit Harapan Kita  selama sebulan, karena mengidap penyakit gagal jantung.

Aku tahu kamu menyayangiku hingga detik aku menghembuskan nafas terakhirku.
Bahkan hingga detik ini kamu masih menyayangiku.
Terima kasih untuk kasih dan setiamu padaku.
Walau sekarang aku tak dapat lagi menggenggam tanganmu, melihat senyum dan tawamu yang sangat ku sukai, memelukmu dan mencium dahimu, kamu harus ta’u dimanapun aku berada, aku selalu mencintaimu.
Aku bahagia sayang pernah menjadi bagian terindah dalam hidupmu walau itu hanya sesaat.
Aku sekarang sudah berada di suatu tempat terindah, tempat dimana aku masih bisa melihatmu walau tak didekatmu, tapi percayalah aku ada dihatimu dan itu jauh lebih dekat dari apapun.
Aku ingin kamu bahagia, Cherry. Bukan hanya untuk sesaat, tapi untuk selamanya.
Temukan dia yang mampu membuatmu berarti sama seperti aku membuatmu berarti sepanjang nafasku.
Aku selalu berdoa untuk bahagiamu sayangku.

Merci chère
Gino

Setiap kata yang dibaca membuat airmata Cherry terus berlinang membaca surat terakhir kekasih yang sangat dicintainya itu. Cinta pertamanya. Sambil memeluk sepucuk surat itu dia terus menangis hingga terlelap dalam tidurnya.

Disaat yang sama di ruang keluarga ..
“Bonsoir..” sapa Riska
“Bonsoir” sapa balik pria diseberang telpon, “Riska .. Aku rasa kamu sudah tau maksudku menghubungimu.” Sambungnya
“Mas, aku rasa kita sudah membicarakan hal ini berulang-ulang kali. Cherry satu-satunya anak yang kumiliki. Dia itu hidupku, mas.” Tutur Riska
“Aku tau .. tapi kamu juga harus ingat. Cherry adalah anakku juga, bukan cuma kamu. Aku ingin yang terbaik untuk dia. Itu saja. Sebagai papa aku belum pernah memberi kehangatan seorang papa baginya dan kewajibanku sebagai papanya juga ..”
“Mas” potong Riska, “Jangan lagi mengulang kata-kata yang sama setiap kali mas menghubungiku untuk Cherry. Kalo mas memang sayang sama Cherry, waktu itu mas nggak mungkin tega ninggalin dia yang masih bayi bersama denganku demi pergi  ke Paris mengikuti  kata-kata orang tua mas yang ingin memisahkan kita.”
“Iya .. aku salah. Dulu aku demi impianku dan demi menuruti mereka hingga aku harus meninggalkan anak dan istriku. Maafkan aku.” Pintanya. “Tapi izinkan aku untuk menebus kesalahanku. Setidaknya walau aku tak bisa memilikimu dan membahagiakanmu, tapi aku bisa membahagiakan Cherry, anakku, anak kita berdua. Aku tau suamimu yang sekarang mampu untuk membiayai hidupnya, hidup kalian. Tapi tolong Ris, aku tidak punya siapa-siapa lagi selain dia satu-satunya harta terindah bagiku sekarang.”
“Berikan aku waktu untuk berpikir mas ..” pinta Riska pada mantan suaminya 19 tahun yang lalu.
“Baiklah .. aku akan menunggu jawabanmu” kata pria diseberang telpon itu.  Tut tut tut .. bunyi nada telpon yang sudah ditutup.

Riska yang setelah menutup telpon itu, lalu berlari kea rah kamarnya Cherry putri semata wayangnya dan mendapati anaknya yang sudah terlelap sambil memeluk erat sepucuk surat dari almarhum kekasihnya itu. Butiran bening membasahi pipi wanita setengah baya itu, sambil membelai rambut anaknya, dia terus mengusap  linangan airmata di pipinya. “Sakit rasanya sayang, mama melihatmu merasakan rasa yang sesakit ini. Mama nggak mau jauh dari kamu. Tapi kalo kamu tinggal menetap di Indonesia, bakalan lebih susah bagimu untuk ngelupain Gino. Mama juga mau yang terbaik untukmu, Cherry anak mama.” Ucapnya dalam hati sambil terus membelai rambutnya Cherry.

Keesokan paginya ..
“Bi .. Bi .. Bibi” panggil Cherry sambil menuruni tangga rumah mewah milik mereka dengan baju piama berwarna pink
“iya non ..” jawab wanita tua yang dipanggil bibi itu sembil berlari kecil ke arah Cherry.
“Dimana mama dan papa ?”
“Tuan dan nyonya ada di taman bunga samping rumah non ..”
“oh makasih ya bi.”
“iya non. Yaudah bibi balik kerja di dapur dulu ya non, kalo non butuh sesuatu panggil bibi saja”
“iya bi”
sambil berjalan kearah taman bunga disamping rumah besar dan mewah milik mereka itu.
“Papa, mama” panggilnya sembil berlari kecil memeluk mamanya dan papa tirinya yang sudah seperti papa kandung baginya karna sangat menyayanginya, yang seketika menghentikan obrolan mereka ketika putri semata wayang mereka itu datang menghampiri mereka. “loh kok berhenti sih obrolannya? Papa sama mama lagi ngomongin apaan sih? Kok jadi mencurigakan gitu yah?” Tanya Cherry dengan kening berkerut.
“Aduh sini anak papa. Baru bangun yah sayang? Ayo minum teh sama papa dan mama” ajak papa tirinya itu untuk mengalihkan pembicaraan, “Bi Imah ..” panggilnya melanjutkan.
“Pah.. pah .. papa” potong Cherry. “Cherry gak mau minum. Cherry hanya mau tau papa sama mama lagi ngomongin apa. Kok pas cherry datang, kalian malah behenti bicaranya”
“Cherr, cherry” sela mamanya. “Mama sama papa cuma lagi ngebahas soal kamu pergi ke Paris”
“APA ?!!!” mata Cherry langsung terbelalak mendengar kata-kata mamanya.
“Mama sama papa cum..” belum sempat Riska melanjutkan kata-katanya Cherry memotong
“ENGGAK ! sekali aku bilang gak yaah enggak !” teriak Cherry dengan kerasnya “Mama sama papa jahat!” Cherry langsung berlari menuju kamarnya.
“Cherry !” seru papa dan mamanya serentak, sehingga membuat papa tirinya itu beranjak dari duduknya dan mengejar putri kesayangannya yang sudah dibesarkan dan dijaganya selama 15 tahun yang lalu.

“Cherry..” panggil papanya pelan, ketika menghampirinya dan memeluknya. “Hei, lihat papa .. papa sayang kamu nak. Papa sama mama gak mau kehilangan kamu atau harus hidup terpisah jauh dari kamu. Tapi ini untuk kebaikan kamu.”
“Kebaikan apa maksud papa?” Tanyanya dengan suara agak marah “Aku justru sama papa dan mama baik kok. Aku bahagia .. atau karna papa udah merasa terbebani untuk biayain hidup aku pa, gitu pa, karna aku bukan anak kandung papa, iya pa ?!”
“Cherry .. hei sayang, kamu itu anak papa sayang.” Kata papanya sambil memeluknya erat. “Walau kamu bukan anak kandung papa, kamu itu anak yang paling papa sayangi. Papa masih mampu biayain hidup kamu. Tapi ..” melepaskan pelukan “ dengar Cherry, papa mau kamu kesana dan bertemu papa kandungmu. Dia lebih berhak untuk menjagamu dan memberimu kebahagian dan menuntaskan kewajibannya sebagai papamu. Disana kamu akan temukan bahagiamu. Percaya sama papa. Kamu disini hanya akan terluka karna tempat ini mengingatkan kamu kenangan tentang Gino. Papa hanya ingin melihatmu tertawa lepas seperti dulu saat masih ada Gino.” Pintanya
“Paaaaaah ..” isak Cherry
“Papa mohon Cherry. Ini sudah jadi keputusan papa sama mama kamu. Berat untuk papa dan mamamu. Tapi kami rasa ini yang terbaik untukmu”
“Benar sayang” kata mamanya yang sejak tadi berdiri di muka pintu kamar, mengiyakan kata-kata suaminya sambil menghapus airmata dipipinya mendengar kata-kata suaminya.
Cherry hanya terdiam namun beberapa saat kemudian, dia lalu mengangguk mengiyakan permintaan mereka. Mereka bertigapun lalu saling berpelukan lama sekali.

Malamnya ..
Riska sedang sibuk mengirimkan sms ke mantan suaminya di Paris itu yang merupakan papa kandung Cherry.
“Mas Eky, aku dan mas Andi sudah membicarakannya. Mas Andi sudah setuju begitupun Cherry sudah setuju. 3 hari lagi Cherry akan berangkat menuju Paris. Tolong jaga putriku.”

Beberapa menit kemudian bunyi sms masuk dari Eky papa kandung Cherry pun berdering , “Baiklah. Aku tunggu kedatangannya. Aku sendiri yang akan menjemputnya. Terima kasih. Sampaikan salamku untuk suamimu”

3 hari kemudian, Cherry lalu berangkat ke Paris seperti yang dijadwalkan papa dan mamanya. Di dalam pesawat sebelum take-off, “Gino .. aku pergi ke Paris meninggalkan Jakarta, tapi hati aku berat banget, aku gak tau Gin, apa aku bisa terus jalani hidupku setelah kepergianmu. Tapi aku tau kamu , cinta kita selalu bersamaku, dimanapun aku berada.” Katanya dalam hati. Tak lama pesawat itu pun lepas landas menuju Kota Paris.

Di dalam mobil, mamanya terus menangis melihat kepergian anaknya dan harus menerima kenyataan, dia takan bersama putrinya lagi untuk waktu yang lama.
“Ma sudahlah .. Kita kan masih bisa video-call sama Cherry” kata Andi menyemangati istrinya sambil membelai rambut istrinya untuk menenangkannya.
“Iya pa, aku tau. Tapi Paris sama Jakarta itu jauh sekali. Aku gak tega dan aku .. aku gak bisa lagi membelai rambutnya, mencium dahinya bahkan memeluknya.” Isak Riska
Mobil mewah BMW limit-edition itu terus melaju menyisir jalanan.

Setelah berjam-jam kemudian, pesawat yang dinaiki Cherry sampai juga di Paris. Cherry yang baru pertama kali menginjakan kakinya di kota romantis itu, sempat kebingungan mencari-cari dimana papanya saat sudah berada di pintu kedatangan, dan khawatir kalau-kalau dia tidak dijemput papanya. Tiba-tiba ada sosok seorang pria menepuk bahunya langsung saja membuat dia membalikkan badannya dan matanya menatap sosok pria setengah baya dengan wajah tersenyum.
“désolé, mais .. qui .. êtes-vous?” Tanya Cherry dengan nada suara menunjukkan dirinya takut, sambil menerka-nerka siapa pria didepanya ini, dan siapa sosok cowok yang menurutnya sebaya dengannya.
Sambil tersenyum pria setengah baya itu menjawab, “Cherry, ini papa.” Kata Eky sambil mengambil sebuah foto, yang ternyata foto itu adalah foto Cherry dan mamanya semasa Cherry masih bayi, yah sebelum papanya meninggalkan mereka dan pergi ke Paris.
“Papa..”
“Iya sayang” katanya sambil memeluk erat tubuh mungil anaknya, yang selama ini sering ada didalam mimpinya dan angan-angannya untuk memeluk anaknya yang ditinggalkannya 19 tahun lalu.
Lama sekali dia memeluk anaknya, dan akhirnya pelukannya dibalas anaknya itu.

Beberapa saat kemudian ..
“Cherry, tadi mama sama papa kamu dari Jakarta telpon, dan nanyain kamu. Katanya hp kamu masih gak aktif, sayang”
“Iya pa” kata Cherry mengiyakan, “Tadi hp aku habis batreinya”
“Oh iya, papa lupa ngenalin kalian. Cherry ini Reza.” Kata Eky sambil merangkul cowok tampan di sebelahnya itu yang sedaritadii memperhatikan ayah dan anak yang sekian lama baru bertemu.  “dan Eza, ini Cherry”
Reza dan Cherry saling berkenalan. Dalam hati ada rasa kagum antara dua insan ini. Tapi bagi Cherry hanya sebatas rasa kagum dihatinya, karena sampai detik ini dia takan pernah bisa menggantikan sosok Gino dengan yang lain dihatinya. Reza memang tampan, wajahnya seperti orang Korea tapi matanya bulat dan bola matanya agak kebiruan. Yah karena dia adalah anak keturunan Korea dan Perancis. Ibunya berasal dari Seul, Korea Selatan serta masih berdarah Indonesia dari ayah ibunya yang tak lain adalah opanya, dan ayahnya memang dari Paris, yang membuat siapapun cewek yang melihatnya akan terpesona pada pandangan pertama termasuk Cherry. Hal yang sama juga dirasakan Reza, Reza sangat mengagumi kecantikan Cherry, gadis belia dihadapannya ini. Rambutnya terurai lurus dan agak bergelombang pada bagian bawahnya, kulitnya sawo matang dan congkak pada pipinya yang menambah keunikan tersendiri pada gadis ini, apalagi tubuh mungilnya tentu akan membuat orang gemas padanya ketika melihat wajahnya. Setelah berkenalan, Eky mengajak mereka untuk segera naik ke mobil mewah yang sudah menunggu mereka sedaritadi. Begitu mau masuk, pintu mobil dibukakan seorang body-guard papanya
“Merci” kata Cherry sambil memasuki mobil tersebut dan duduk.
Segera setelah mereka bertiga berada didalam, mobil itu pun langsung melaju pulang menuju rumahnya diikuti dua mobil dibelakangnya yang ditempati body-guard papanya dan assisten pribadi papanya yang harus mengikuti papanya kemanapun dia bepergian. 
Mobil itu terus saja melaju dan ketika melewati menara Eiffel, langsung saja mata Cherry tak henti-hentinya kagum dengan keindahannya walau hanya melihatnya dari mobil mewah yang terus melaju.  Ternyata kekaguman Cherry nampak jelas pada raut wajahnya yang diperhatikan papanya.
“Cette voiture s'est arrêtée” suara papanya menghentikan mobil yang mereka tumpangi.
“Yes Monsieur” kata supir yang mengendarai mobil
Cherry menatap wajah papanya yang tersenyum menatapnya. “Turunlah nak. Papa rasa kamu butuh merasakan indahnya tempat ini sebelum kamu tinggal menetap disini bersama papa. Reza akan menemanimu”
“Eza, bisakan kamu menemani putri kecil oom ini ?”
“Bisa oom”
Reza dan Cherry lalu turun dari mobil dan ketika Cherry turun, papanya memberikan pesan untuk Reza agak menjaganya dengan baik dan membawa pulang dia dengan selamat. Pesan-pesan Eky disanggupi oleh Reza. Mobil itu lalu kemudian melaju kembali diikuti dua mobil body-guard papanya itu.

“Ayo !” ajak Reza sambil mempersilahkan Cherry untuk berjalan
Tanpa berkata apa-apa, Cherry mengikuti langkah Reza memasuki pelataran taman yang ditengah-tengahnya terdapat menara yang menjadi salah satu dari tujuh keajaiban di dunia itu. Sambil terus menatap menara Eiffel dan sekelilingnya, Cherry terus saja merasakan kekaguman pada tempat ini. Tempat terindah dari tempat-tempat yang pernah dia datangi sebelumnya bersama Gino. Ah.. lagi-lagi dia teringat akan cowok yang sangat dicintainya hingga detik terakhir hidup Gino dan hingga detik ini. Sikap ceria yang tiba-tiba berubah menjadi murung lagi ternyata lagi-lagi nampak jelas di raut wajahnya dan hal ini tak bisa dia pungkiri dari mata Reza yang terus memandanginya.
“Cherr” panggil Reza yang sontak menyadarkannya dari kemurungannya.
“Eh,”
“Gue perhatikan lo wajah elo murung” Jelas Reza, “Gue pikir lo gak terlalu suka yah tinggal disini ?”
“Ah ! gak .. gak .. gue .. gue hanya ..”
Belum sempat dia melanjutkan kata-katanya, dipotong oleh Reza, “AHA! Gue rasa gue tau gimana caranya buat lo ngerasa senang” kata Reza dengan percaya diri sambil menepuk bahunya Cherry “Tunggu sebentar disini. Jangan kemana-mana. Gue akan kembali” sambungnya melanjutkan kata-katanya tadi sambil berlari kearah perginya penjual balon yang sudah hilang diantara keramaian orang yang sedang menikmati keindahan kota romantis itu.
Cherry hanya terdiam menatap bahunya Reza yang tak lama menghilang diantara keramaian.
Dari arah berlawanan, tampak seorang cowok sedang saling mengejar dengan temannya yang juga cowok saat si cowok tidak memperhatikan larinya, Cherry yang jalan sambil menengok kekiri dan kekanan, langsung bertabrakan dengan si cowok. Sontak saja keduanya sama-sama kaget lalu memalingkan wajah mereka masing-masing dan sama-sama bertatapan. Keempat bola mata dua insan ini saling bertemu dan beradu tanpa mengedipkan mata sekalipun. Tak lama kemudian, lagi-lagi butiran bening jatuh menghiasi pipi Cherry. Mulutnya hanya bergumam satu nama “Gi..Gino”
Nama itu langsung menyadarkan si cowok dari tatapannya pada Cherry, cewek  berparas cantik dihadapannya ini, dan sempat kaget mendengar nama yang digumamkan Cherry sambil tersenyum.
“Siapa?” tanyanya, “Gino siapa?” tanyanya lagi, “Sorry gue bukan Gino. Gue Marcel” katanya dengan gaya yang penuh percaya diri sambil memperkenalkan diri tanpa diminta.
Namun sodoran tangannya tak dibalas Cherry yang masih menatap matanya dengan mata berkaca-kaca dan sedikit berair karena tadi sempat meneteskan airmata.  Hal itu membuat teman-teman Marcel, cowok tampan itu tertawa kecil melihat baru pertama kalinya jabatan tangan teman mereka itu tak dihiraukan oleh cewek. Padahal biasanya, justru cewek-cewek lah yang selalu ingin berkenalan dengannya dan sebagainya. Merasa sudah cukup lama tanggannya tak dihiraukan cewek dihadapannya ini, dia menurunkan kembali tanggannya dan hanya tersenyum lalu kembali menatap mata Cherry yang sejak tadi masih melihat matanya dengan gumaman kecil nama Gino. Dalam hati Marcel juga bertanya, siapa Gino, kenapa cewek ini terus saja menyebutnya Gino. Padahal dia sudah memperkenalkan diri.  Teman-temannya bergerombol datang menghampiri mereka berdua.
“Sudahlah .. elo ditolak men.” Kata salah satu tem annya sambil yang lain ikut tertawa
“ssssstt” desis Marcel, “Hei !” suaranya yang sedikitn keras lalu akhirnya bisa juga menyadarkan  Cherry yang sejak tadi terus memperhatikan  Marcel seolah tak ada siapapun disitu hanya dia dan Gino , yah maksudnya Marcel.  Tapi akhirnya dia menyadari Gino sudah tiada di dunia. Cowok ini hanya mempunyai kemiripan dengan Gino tapi bukan berarti dia Gino.
“Eh, maafin gue.” Ucap Cherry dengan pelan.
“Gak apalah .. oh iya kenalin Gue Marcel” katanya lagi memperkenalkan diri untuk kedua kali
“Gue ..”
Belum sempat Cherry memperkenalkan diri, tiba-tiba ..
“Cherry” panggil seorang dari jarak jauh sambil berlari dengan sedikit cepat kearah mereka, dengan perasaan takut kalau-kalau cowok-cowok yang sedang mengerumuni cewek cantik itu bermaksud jahat padanya. Panggilan itu juga membuat Cherry dan yang lain sama-sama mengarahkan matanya kearah suara tersebut berasal dan itu ternyata adalah Reza yang sedang berlari sambil membawa beberapa balon dan sekotak es krim coklat.
“Lho! Elo Cel” kata Reza
“Lho .. Reza, ngapain lo disini?” Tanya Marcel yang kaget dengan kedatangan Reza sambil menerka-nerka dalam hati ada apa antara cewek cantik yang dipanggil Reza dengan sebutan Cherry ini. Karena dalam bahasa Perancis, panggilan sayang adalah Cher. “Kalian berdua pacaran ya?” sambungnya menanyakan pada cowok dan cewek dihadapannya ini. Pertanyaan ini membuat Cherry dan Reza sama-sama saling menatap.
“Bukan” kata Reza memotong pikiran Marcel yang mulai menerka-nerka lebih sambil memperhatikan apa yang dibawa Reza. “Dia .. dia anaknya bos papa gue” jelas Reza pada Marcel untuk memperjelas kata-katanya tadi dan menghentikan terkaan Marcel yang kemudian menggangguk-ngangguk sebagai tanda mengerti. “Dia baru datang tadi dari Indonesia dan gue diminta papanya untuk ngejagain dia”
“Oh ya ya ya, gue mengerti. Tapi tadi kenapa lo manggil dia dengan sebutan Cherr..”
Belum sempat dia mengatakan Cherry, Cherry langsung memperkenalkan diri
“Cherry.” Suara Cherry keluar dan membuat Marcel sedikit mengerutkan kening, “Nama gue Cherry Aditia” 
Marcel lalu tersenyum lalu mengangguk lagi tanda dia sudah lebih mengerti.
“Welcome to Paris” kata Marcel sambil merentangkan kedua tangannya untuk memperkenalkan Paris, padahal maksudnya adalah untuk memperkenalkan dirinya pada cewek cantik dihadapannya ini. Dalam hatinya sangat mengagumi sosok cewek dihadapannya ini. Baginya Cherry tak seperti cewek-cewek lain yang begitu agresif bila melihatnya, walaupun sempat tadi mata Cherry menatapnya tanpa henti tapi nama yang digumamkan bukan namanya melainkan nama Gino yang masih menjadi tanda tanya tersendiri didalam hatinya.

Mereka semua lalu duduk berbincang-bincang di pelataran tempat duduk di Sungai Seine sambil melihat keindahan kota ini. Namun mata Marcel terus saja memperhatikan wajah Cherry yang lagi-lagi nampak murung dan sejak tadi tak mengeluarkan sepatah katapun sedang yang lain sedang asyik mengobrol mengenail kuliah mereka karena kebetulan mereka berada di satu universitas dan satu fakultas walau berbeda jurusan, tapi mereka cukup saling mengenal nama dan wajah satu sama lain karena sama-sama berasal dari Indonesia. Yah walaupun Reza dan Marcel terbilang sudah cukup lama mereka berdomisili di Paris. Marcel wajahnya yang begitu mirip dengan Gino, tak lain adalah orang Indonesia yang sudah tinggal lama di Paris menjadi warga negara Perancis. Lalu .. sodoran gelas mengagetkan Cherry yang sudah memilih untuk duduk menyendiri terpisah dari keasyikan mengobrol dari cowok-cowok tampan itu. Cherry langsung saja mengangkat kepalanya sedikir melihat kearah sosok cowok yang berdiri disampingnya menyodorkan gelas padanya.
“Marcel ? elo ? ngapain disini ? gak duduk bersama yang lain ?” sederetan pertanyaan Cherry tak dijawab sepatah katapun oleh cowok tampan ini. Dia hanya tersenyum lalu mengambil posisi duduk bersebelahan dengan Cherry
Lama sekali mereka saling berdiam, lalu Marcel kembali menyodorkan gelas yang berisi minuman pada Cherry. 
“Ini .. minumlah. Teh asli buatan Indonesia. Ya siapa tau bisa bantu lo ngelepasin semua dibenak lo yang ngebuat penat dikepala lo” kata Marcel dengan sok tahunya
Cherry yang menerima teh itu lalu meneguknya sedikit demi sedikit.
“Enak kan ?” Tanya Marcel. Cherry hanya menggangguk kecil.  “Itu salah satu bisnis keluarga gue” kata Marcel membuat Cherry menatapnya menunggu penjelasan dari mulut cowok tampan yang duduk disebelahnya ini. “Ya, mama gue orang Indonesia dari oma gua. Tapi hanya tinggal di Indonesia untuk sementara waktu dan pindah kesini.Keluarga kami memang menyediakan minuman seperti ini mengingat banyak orang Indonesia yang sering berkunjung kesini dan juga mengingatkan keluarga gue kalo kami juga orang Indonesia walaupun sudah jadi warga sini” jelasnya sambil sedikit tertawa dibibirnya seolah-olah dia sudah mengetahui apa yang diinginkan cewek cantik yang sedang menatapnya menunggu ceritanya.
Lalu mereka berdua kembali terhening. Begitu melihat ada kapal kecil yang melintasi perairan Sungai Seine, Marcel lalu mengambil kameranya lalu mulai memotret pemandangan disitu. Yah dia memang sangat menyukai segala sesuatu dalam dunia fotografer. Walaupun dia kuliah dibagian bisnis.
Tanpa sengaja kameranya tertuju pada Cherry yang sedang menatap kapal yang lewat itu sambil tersenyum. Cherry yang tersadar dirinya difoto, akhirnya ikut tertawa melihat tingkah laku Marcel saat memotret pemandangan disekitarnya dan dan juga memotret Cherry. Tingkah laku mereka berdua sejak tadi ternyata sedang diperhatikan dengan seksama oleh Reza dari kejauhan. Terlebih Reza lebih memperhatikan wajah Cherry yang mulai berubah dari murung menjadi tawa yang menghiasi bibirnya dan nampak jelas kebahagiaan yang dirasakan cewek cantik itu pada wajahnya. Lama sekali dia memperhatikan mereka berdua, lalu kemudian mulai berjalan menuju mereka.
“Hey Za” kata Marcel yang sudah menyadari kedatangan Reza
Reza hanya membalas dengan senyuman dan meraih tangan Cherry, dan berjalan meninggalkan Marcell. Marcel dengan gerakan cepat langsung meraih tangan Cherry yang lain. Reza dan Marcell saling bertatapan. Cherry dibuat bingung oleh kedua cowok tampan ini yang saling beradu memperebutkan tangan Cherry tapi justru hal itu membuat Cherry merasa kesakitan dengan marahnya Cherry membentak mereka berdua sambil berusaha melepaskan kedua tangannya yang masing-masing dipegang kedua cowok tampan ini. Reza dan Marcel menyadari hal itu dan sama-sama melepaskan tangan Cherry.
‘”Lo berdua napa sih!” katanya dengan jengkel, sambil mengusap-ngusap pada bagian pergelangan tangannya yang sedikit memerah.
“Sorry” Kata mereka berdua serentak
“Yaudah gue mau pulang. Ayo Reza” suntuk Cherry yang langsung berjalan meninggalkan kedua cowok tampan ini.
“Marcel, gue gak mau liat elo ngedeketin Cherry. Inget itu” kata Reza lalu kemudian berlari mengejar Cherry.
Setelah mendapati Cherry, Reza lalu mengantar pulang dia kembali ke rumah besar yang dikelilingi taman itu dan dijaga oleh sistem keamanan 24 jam.

Hari-hari di Paris terus berlalu. Walau segala kebutuhan Cherry selalu dipenuhi tetap saja dia merasa kesepian. Hari-harinya ditemani Reza kalau cowok tampan ini pulang dari kampus, akan diminta papanya untuk menjaga Cherry atau mengajaknya jalan-jalan. Semua tempat indah di Paris sudah mereka kunjungi walau membuatnya merasa kagum tapi ada hal-hal tertentu yang secara tak langsung membuat dia berubah menjadi murung lagi. Semenjak mereka sering berjalan bersama, perasaan cinta dihati Reza pada Cherry mulai tumbuh seiring berjalannya waktu.  Dia selalu mencuri-curi kesempatan untuk menatap Cherry dengan tatapan lain dari biasanya, yakni tatapan cinta dari cowok ke cewek. Hal itu terus dilakukan Reza tanpa diketahui atau disadari oleh Cherry.

Suatu hari, papanya Cherry begitu disibukkan dengan kerjaannya sehingga dia tidak mempunyai kesempatan bersama Cherry. Cherry lalu dititipkannya pada Reza untuk dijaga sebaik-baiknya.
“Iya oom, aku ngerti” kata Reza sambil mengangguk.
Tentu dengan itu papanya Cherry sangat senang mendengarnya dan dia lalu merasa lega saat akan meninggalkan Cherry untuk beberapa hari untuk tujuan bisnisnya di Inggris. Setelah itu, laki-laki setengah baya itu pun segera memasuki mobil miliknya menuju  ke bandara  pribadinya.

Tak lama kemudian, bunyi dering handphone milik Reza berbunyi ..
“Bonjuor” sapa Reza
(suara di telpon menjawab) dan mereka mengobrol sesuatu.
“Baiklah, gue akan menuju kesana, Sis” sambungnya kemudian dia menutup telpon
“Mau ke kampus ya Za?” suara kecil itu mengagetkan Reza
“Eh Cherr .. sejak kapan lo disini”
“Udah daritadi kok” katanya, “Lo pergi aja Za, gue gak pa-pa kok disini. Kan pembantu papa gue”
“Gak .. gue akan bawa lo bersama gue” tegas Reza. Dalam hati sebenarnya “Kemanapun gue pergi, gue akan bawa elo juga Cher. Karena gue gak bisa sedetik pun gak liat wajah elo. Gue gak bisa hidup tanpa elo”
Reza lalu menggenggam tangan Cherry erat sekali lalu membawanya menaiki mobil miliknya menuju ke kampus tempat Reza kuliah dan juga tempat Marcel, cowok yang wajahnya begitu mirip dengan Gino.
Begitu tiba dan memarkirkan mobilnya, mereka berdua kemudian turun dari mobil itu dan Reza mengajak Cherry untuk melihat-lihat kedalam universitas terkenal di Paris itu.
“Reza!” teriak seorang cewek cantik bergaya modis ala Perancis itu membuat Reza memalingkan wajah kearah datangnya suara itu yang sedang berjalan penuh langkah percaya diri ke arah Reza dan Cherry yang baru saja hendak memasuki pelataran taman depan kampus terkenal itu.
“Hei” sapa Reza begitu cewek itu berada dihadapannya
“Hei ..” sapa balik cewek itu sambil melirikan matanya sedikit melihat Cherry yang sama sekali tidak melihatnya. Sebenarnya bukan tidak melihatnya saja, tapi memang Cherry tidak peduli dengan kedatangan cewek itu. Siapapun itu Cherry kurang begitu perhatian seperti dulu yah sebelum Gino meninggal dunia dia begitu peduli pada orang lain. Tapi setelah Gino meninggal, baginya duniapun seakan lenyap dan semua terasa percuma saja.
“Gue baru saja mau samperin elo. Eh tak taunya elo disini Sis.” Kata-kata Reza membuat cewek cantik yang bernama Siska ini tidak lagi memperhatikan Cherry
Sambil sedikit memberikan tawa kecil pada belahan bibirnya, Siska menjawab “Gue malah bermaksud mau nyamperin elo. Makanya elo, gue tunggu di parkiran ini”
Keduanya kemudian saling tertawa kecil.
“Oh ya .. kenalin, ini Cherry” kata Reza pada Siska sambil merangkul Cherry. Hal itu membuat Siska, yah cewek cantik ini merasa seperti hatinya tertusuk dengan paku yang dimasukan dalam bara yang panas.
Cherry lalu menyodorkan tangannya ke Siska untuk menyalaminya. Siska yang awalnya berat untuk membalas , akhirnya membalas ketika tatapan mata Reza terus menatapnya seolah menyuruhnya untuk membalas salaman itu.
“Gue Siska”
“Cherry”
“Dia ?” kata Siska terbata-bata
“Dia anak dari bosnya bokap gue”
“Oh” senyum sinis Siska pada Cherry yang sama sekali tak menggubris senyuman sinis itu.
Setelah berbincang-bincang Reza dan Siksa, Reza lalu mengajak mereka bertiga untuk masuk kedalam gedung kampus itu. Tapi Cherry menolak dengan halus dan meminta untuk dia menunggu mereka disini saja. Maksudnya menunggu mereka di taman kampus. Setelah beberapa lama Reza akhirnya memutuskan untuk mengikuti kemauan Cherry, walaupun dia agak sedikit khawatir. Bagaimana kalau Cherry diganggu oleh orang-orang yang iseng. Tapi tatapan Cherry yang begitu meyakinkan Reza akhirnya membuat Reza merelakan Cherry menunggunya ditaman. Reza dan Siska lalu masuk kedalam gedung kampus . Sedangkan Cherry mulai berjalan ditaman kampus mencari tempat agar dia bisa duduk.
Setelah mendapatkan tempat duduk dan mulai duduk, dia mengambil sebuah headset dan memasang pada handphonenya sambil mendengar lantunan musik. Tanpa diketahuinya muncul sosok cowok duduk bersebelahan dengannya yang mulai mengajaknya ngobrol dengan bahasa Perancis. Tanpa melihat kesebelahnya, dia terus saja mendengar musik tanpa peduli apa yang dibicarakan cowok itu. Cowok itu yang merasa dirinya tidak dihiraukan, lalu mencoba melepaskan headset yang menempel pada telinga Cherry. Cherry dengan marahnya berkata-kata dalam bahasa Inggris, “Don’t touch me!” Cherry yang kurang pandai berbahasa Perancis hanya menggunakan bahasa Inggris sebagai komunikasinya. Kata-kata itu diucapkannya tanpa memperhatikan kesebelahnya. Cowok itu terus berusaha melepaskan headset yang masih menempel.
Semakin marahnya, Cherry melepaskan headsetnya sendiri dan dengan suara kasar “Hey! Are you crazy?!” sontak langsung membalikkan badannya dan matanya kesebelah duduknya itu dan betapa kagetnya ternyata cowok tampan yang dihadapannya adalah Gino. Eh bukan-bukan cowok tampan itu adalah Marcel, seorang cowok yang wajahnya sangat mirip dengan Gino, kekasih yang sangat dicintainya yang telah meninggal.
“Gino .. eh maaf.” Katanya meminta maaf saat menyadari dengan cepat siapa cowok disebelah duduknya ini. “Lo Marcel ?”
“Iya .. gue. Masih inget gue ?”
“Iya”
“mmm .. BTW ngapain lo disini ? Sama Reza ya ? Trus mana Reza ?”
“Reza lagi sama Siska”
“Oh Siska ..”
“Iya”
“Terus Reza ninggalin lo sendiri gitu disini ?”
“Gak .. gue yang minta kok”
“Oh”
“Lo ngapain disini ?”
Sambil tertawa, Marcel kemudian menjelaskan bahwa dia itu juga satu kampus dengan Reza.
“Oh”
“Bagaimana .. lo suka disini ?”
“Gue?”
Marcel menggangguk.
“Gue senang kok disini. Hanya saja, gue lebih suka tinggal di Indonesia”
Sambil tertawa, Marcel membalas “Kalo gitu gue akan buat lo ngerasain hal yang menyenangkan lebih dari yang lo rasain di  Indonesia”
Dengan kening terangkat saat kata-kata itu keluar dari mulut Marcel. Cherry hanya mengikuti tarikan tangan Marcel sambil berlari kecil, mereka menyusuri jalanan di kota romantis itu pergi ke menara Eiffel. Disana Marcel menunjukkan hal-hal yang tak pernah dilihat Cherry di kota itu. Cherry yang tadinya kagum sekilas pada kota itu menjadi kagum berbunga-bunga seperti orang yang jatuh cinta ataukah memang dia mulai merasakan benih cinta dihatinya pada Marcel ataukah karena Marcel kebetulan wajahnya mempunyai kemiripan dengan Gino.
Mereka bermain dan bersenang-senang di situ, sampai saat senja hampir menyongsong, Marcel merangkul Cherry pergi mencari tempat duduk dimana dari tempat itu bisa melihat cahaya yang indah yang terpancar dari menara Eiffel.
“Wow” Girangnya Cherry sampai pipinya merah merona tak henti-hentinya melihat keindahan dari menara Eiffel.
“Lo suka ?”
“Gue suka banget Marcel. Gue suka banget ngeliat pemandangan seindah ini. Baru pertama kalinya gue kesini, saat begini dan gue ngerasain indahnya tempat ini”
“Gue senang kalo lo bahagia” kata Marcel sambil tersenyum, “dan gue senang senyum dibibir elo itu karena gue” Kata-kata ini membuat Cherry menjadi kaget dengan sedikit kaget bercampur rasa bahagia dan malu entah bagaimana mengungkapkan bahagianya. Dia hanya terdiam. Mata kedua insan ini saling bertatap lama sekali tanpa mengedipkan matanya. Saling beradu namun bibir tak berucap dalam hati begitu bahagia. Entah bagaimana menjelaskannya apalagi mengungkapkannya. Marcel kemudian tersenyum lagi sambil mencubit pipi Cherry “Hey .. terpesona lo sama gue. Hati-hati loh, jangan sampe lo jatuh hati ama gue” tuturnya sambil tertawa terbahak-bahak. Cherry hanya tersenyum nyengir sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Marcel membawa Cherry berjalan-jalan menikmati pemandangan yang indah di tempat itu. Cherry yang dulunya merasa tempat ini seperti tak berarti, mulai tumbuh rasa suka dan ingin tetap tinggal ditempat ini karena sosok Marcel, sosok cowok yang wajahnya mirip banget dengan Gino.
Setelah mereka selesai bersenang-senang berjalan melihat keindahan kota Paris, Marcel mengantar Cherry pulang ke rumahnya. Saat tiba di rumahnya Cherry, betapa kagetnya Cherry yang membukakan pintu bukan pembantu papanya, tetapi Reza yang sudah lama menunggunya. Cherry pun tersadar tadi dia sedang menunggu Reza di taman dan kemudian mengikuti Marcel berjalan-jalan merasakan kebahagian yang dulu sempat sirna saat Gino meninggal.
“Reza .. “ sapa Cherry
“Siska” Marcel menyebut nama Siska yang berada di belakang Reza saat dia membuka pintu. “Kalian ..”
“Reza” potong Cherry, “Lo .. gue, emmh .. gue minta maaf Za, gue tadi ..”
“Tadi dia bareng gue” Marcel menjelaskan hal yang ingin dijelaskan Cherry pada Reza
“Marcel, lo bareng dia?” tanya Siska yang sudah berada disamping Reza
“Iya .. Oh iya Sorry ya bro gue tadi ajak Cherry jalan-jalan sebentar. Soalnya tadi gue liat dia sendirian”
“Sudahlah .. Thanks sudah nganterin dia sampe sini. Skarang lo boleh pulang!” kata Reza dengan tegas , ada sedikit marah dihatinya tapi dia tak ingin Cherry sampai mengetahuinya. Bisa malu dia kalo sampai dia tahu kalo Reza sebenarnya jatuh cinta pada anak bos papanya.
“Okeh .. ayo Sis, kita pulang. Tadi nyokap telpon nanyain elo”
Siska hanya menggangguk tanda mengerti.
“Cherr , gue pamit. Kapan-kapan kita ketemu lagi. Bonsoir” kata Marcel sambil tersenyum lalu berjalan kearah mobilnya dan diikuti Siska dari belakang.
“Cherr ayo masuk!” panggil Reza yang berjalan memasuki rumah Cherry dan diikuti cewek cantik ini.
“Za .. gue ..”
“Udahlah Cherr, gak pa-pa kok. Gue ngerti .. Istirahatlah. Oh iya, bibi sudah nyiapin air hangat buat lo”
Cherry hanya terdiam dan berjalan memasuki kamarnya. Dalam hati ada rasa bersalah pada Reza yang sikapnya mulai dingin padanya hari ini. Yah sikap ini lain dari sikap Reza yang biasanya selalu khawatir seperti seorang kakak kepada adiknya.
“Andai lo tahu Cherr, gue sayang banget ama elo. Tapi gue sadar kok posisi gue” Ucapnya Reza dalam hatinya yang memperhatikan jalannya Cherry masuk ke kamarnya.
Dalam kamarnya Cherry, dia masih mengingat kejadian tadi sore sampai malam yang dilewatinya bersama Marcel. Dia merasa kalau Gino sedang bersamanya. Yah lagi-lagi dia mengingat Gino wajah yang selalu muncul didepan matanya bila melihat Marcel. Tapi tanpa sadar dia mengeluarkan senyum dan tawa kecil dibibirnya. Tanpa dia sadari juga, Reza sedang memperhatikannya dari pintu kamarnya. Hal yang sama juga malam itu dirasakan oleh Marcel saat dia ada ditempat tidurnya, wajah Cherry yang selalu menghiasi  di langit-langit kamarnya. Bukan hanya dilangit kamarnya tapi memang sudah mengisi hatinya. Karena sedang melamunkan wajahnya Cherry, dia tak menyadari kalau-kalau Siska sudah berada dipinggiran tempat tidurnya sambil menatap heran wajah saudara sepupunya yang sedang tertawa sendiri dengan pandangan lurus ke langit-langit kamarnya.
“WOI .. “ teriak Siska di telinganya. Sontak saja langsung membuat Marcel terkaget dan bangun dari tidurnya serta lamunannya.
“Eh lu Siska .. masuk ketuk dulu kek ..” ujar cowok tampan ini dengan kesalnya.
“Nah lo .. ini nih lo ! haha eh gue  tadi itu udah ketok pintunya elo seperti suara bom tau gak? Lo nya ajah yang  gak dengar. Nah lo ngapain ayo .. ngaku” ledek Siska pada saudara sepupunya itu.
“KEPO .. mau tau urusan orang aja loh”
“Ye itu sih bukan KEPO tau ..” ledek Siska yang semakin membuat Marcel bertambah kesal tapi juga malu-malu. Sekilas hal itu dapat ditangkap oleh Siska. “Lo suka ya sama Cherry?”
“Yeee .. gak”
“Kalo suka bilang aja ..”
“nah lo sendiri suka juga kan sama Reza sejak awal lo datang kesini ?”
“Yeee jangan balik pertanyaan dong”
“Yaudah lah .. jangan bahas. Kenapa lo datang ke kamar gue?”
“Oh iya benar” kata Siska sambil mengusap dahinya, “tante suruh lo tolong cariin album foto kenangan sama oma, yah katanya tante cuma kangen saja sama oma dan suasana di Indonesia sewaktu tante masih kecil” jelasnya
Marcel lalu berdiri dari duduknya dan berjalan menuju ke gudang belakang yang disimpan sejumlah album foto yang sudah usang dan berdebu.
Saat sedang mencari-cari album foto yang dimaksud mamanya, tanpa sengaja dia menjatuhkan setumpuk album foto yang hampir sobek dan samar-samar wajah-wajah orang di kumpulan foto itu. Tapi dia meneruskan mencari album foto yang di maksud mamanya. Setelah ketemu dan hendak keluar gudang, dia lalu balik lagi ketempat jatuhnya album foto yang tadi dan mulai mengambil satu persatu foto-foto yang beramburan dilantai. Saking penasarannya dia, dia lalu berusaha menyingkirkan debu yang telah memenuhi hampir seleuruh dari kumpulan foto di album itu. Matanya terbelalak melihat sosok seorang wanita sedang menggendong dua bayi yang mungil di kedua lengannya dan tampak sosok pria berkumis dan berkacamata dibelakang wanita itu sedang memeluk mereka. Wanita itu tak lain adalah wajah mamanya sendiri. Dalam hati dia bertanya siapa bayi-bayi ini dan siapa pria dibelakang wanita itu. Kelihatan begitu mesra. Tanpa dia sadari mamanya sudah dibelakangnya dan merebut foto itu dari tangannya.
“Mama ..” ucap Marcel sambil berlari mengikuti mamanya menuju kamar mamanya. “Mama .. “ sambil mengusap-ngusap pundak ibunya dan memelukibuny saat ibunya menangis melihat foto itu mengingat kejadian 20 tahun lalu.
“Maafin mama Cel ..” tutur mamanya sambil memeluknya.
“Mama gak salah, ngapaian mama harus minta maaf ?”
“Kamu .. kamu gak tahu Cel, apa yang sudah mama lakuin.”
“Apa maksudnya mama  ? Aku ..”
“Mama udah misahin kamu sama ..”
“Sama siapa ? maksud mama apa ?”
“Sodara kembarmu, kakakmu sendiri.”
Marcel langsung melepaskan pelukannya, baginya dunia seakan telah runtuh saat mendengar kata-kata mamanya. Ternyata selama ini dia mempunyai saudara yang tak lain adalah kembarannya, kakak kandungnya sendiri. Dia mendengar penjelasan cerita ibunya sambil ikut menangis merasakan kepedihan dihati ibu yang telah melahirkan dan membesarkannya ini.
“Ma, mama itu bidadari tanpa sayap yang Tuhan kasih ke aku. Aku gak pernah anggap mama jahat atau apa, karena sudah misahin kami berdua. Aku sayang mama, dan aku bangga miliki mama” tuturnya dengan lembut memberikan kekuatan pada mamanya, walau sebenarnya hatinya juga ikut hancur mengetahui kejadian sebenarnya.

Setelah malam itu, dia jadi tak bisa tidur mengingat cerita ibunya tentang saudara kembarnya. Dia langsung saja mengingat saat pertama dia bertemu dengan Cherry, cewek itu terus saja memanggilnya dengan nama Gino. Mungkin saja yang Cherry maksud adalah saudara kembarnya.
Dipenuhi dengan rasa ingin tahunya, pada keesokan paginya Marcel menelpon ke rumahnya Cherry. Tapi yang menjawab telpon adalah kepala assisten rumah tangga keluarganya Cherry.
“Bonjour, quel est exactement son Aditia famille?” tanya Marcel
“Yes. Est-ce que je peux faire?” tanya balik kepala assisten rumah tangga
“Puis-je parler à Cherry Aditia?” tanya balik Marcel
“Eh bien, je vais connecter à la dame jeune chamber.” Kemudian mengalihkan telpon ke telpon milik Cherry di kamarnya
Kring kring kring .. Cherry yang baru sadar dari tidur nyenyaknya, langsung menekan tombol  menjawab panggilan
“Ya , siapa ?” tanyanya dengan nada suara yang mengantuk.
“Cherry ini gue, Marcel”
“Marcel ?” tanyanya, “Ha, apa ?! Marcel .. ELO ?” tanyanya dengan mata terbelalak sambil bangun dari tidurnya
“Hehe kenapa ? gue ganggu ya ?”
“Oh gak! Nggak sama sekali kok”
“Gue boleh gak ngajakin elo keluar jalan?”
“Jalan ?”
“Iya seperti kemarin. Bagaimana ?”
“Okeh, jam berapa ?”
“ 1 jam lagi gue jemput elo di rumah lo”
“Eh jangan-jangan nanti gue aja yang nemuin lo dimana gitu” tolaknya dengan keras, karena dalam pikirannya bagaimana kalo Reza dan Marcel ketemu. Reza sedang ada di rumah, lagian Reza kurang begitu akrab dengan Marcel walaupun saling kenal. Karena katanya Reza, Marcel adalah tipe cowok yang playboy.
“Lo takut Reza ya?” kata Marcel seolah membaca pikiran Cherry.
Setelah beberapa lama Cherry berpikir, dia akhirnya mengiyakan permintaan Marcel untuk menjemputnya.
“Okeh .. kalo gitu deal gue jemput lo sejam lagi. Udah sana gih lo siap-siap, kan mau jalan sama cowok tampan sedunia” katanya sambil tertawa
“Yeee”
Kemudian telpon mereka sama-sama ditutup, dan bergegas menyiapkan diri mereka masing-masing. Cherry ternyata sudah mulai merasakan lebih dalam perasaannya pada sosok Marcel. Walaupun wajah keduanya sama, tapi bahagia yang didapatkannya ya sama Marcel. Kebahagian yang sama dengan kebahagian yang dulu sirna setelah Gino meninggal.

1 jam kemudian, sesuai janji Marcel datang menghampiri Cherry di rumahnya. Saat hendak turun dari mobilnya, Reza sudah mendahuluinya tepat disamping pintu mobilnya. Mereka berdua saling bertatapan dengan wajah sedikit garang, ya karena mereka saling memperebutkan hatinya Cherry. Walau tak pernah mengatakannya, tapi keduanya saling mengetahui bahwa mereka berdua sama-sama mencintai cewek yang sama.
“Elo” kata Reza dengan sinis, “Mau ngapain elo disini?” tanyanya dengan ketus
“Nah elo, ngapain disini ?” tanya balik Marcel dengan ketus
“Gue ditugasin papanya Cherry buat ngejagain dia.”
“Marcel, Reza” panggil Cherry dari kejauhan yang sudah berdiri di teras rumahnya
“Hei Cherr ..” sapa Marcel sambil menatap Reza dan tersenyum sinis lagi, “Sorry bro, dia milik gue!” bisiknya pada Reza, lalu berjalan ke tempat Cherry berdiri dan menjemputnya untuk memasuki mobilnya.
“Za .. Gue, mau pamit pergi sama Marcel.” Pinta Cherry, tanpa menunggu jawaban “Lo tenang aja kok, gue pasti baik-baik saja. Gue janji gak telat pulangnya. Papa hari ini pulang kan? Gue udah kasih tau papa kok kalo gue mau pergi.” tuturnya dengan lembut lalu mencium pipi Reza, “Makasih ya Za, lo kakak terbaik dalam hidup gue” dan kemudian beranjak menaiki mobil Marcel.
Reza hanya terdiam menatapi laju mobil yang meninggalkan pelataran rumah mewah itu. Dalam hatinya seaakn hancur, yak arena penantiannya selama ini bagi Cherry dia hanya adalah seorang kakak. Kakak ? Benarkah ? Oh dia tak tau lagi harus bagaimana. Cherry, sosok cewek yang selama ini dinantikan, didambakan, ternyata menganggapnya sebagai kakanya, tidak lebih seperti yang diimpikannya. Perasaannya benar-benar hancur.

Ketika tiba ditaman, tepatnya di Menara Eiffel Marcel dan Cherry menghabiskan waktu bersama, bercanda, tertawa dan bersenang-senang layaknya sepasang kekasih. Marcel begitu menunjukkan perhatiaanya pada Cherry. Benih cinta terasa makin kuat diantara keduanya, walau keduanya masih belum mengungkapkannya. Disatu sisi, Cherry belum terlalu yakin dengan perasaanya karena sosok Gino dan selalu dia yang membayangi Cherry. Hari yang indah bagi keduanya, menghabiskan waktu ditempat itu tidak terasa bagi keduanya. Saat keduanya lelah berjalan, mereka mengambil keputusan untuk beristirahat sejenak di sungai Seine, sekalian untuk menikmati matahari terbenam.
“Gue senang banget liat lo senyum Cherry. Gue suka banget. Suka dari seorang cowok ke cewek” ucap Marcel dengan jujur membuat mata Cherry nampak terbelalak mendengarnya. “Haha .. gue Cuma becanda kale” tawa Marcel
“Ih lo ya ..” sungut Cherry sambil mencubit lengannya Marcel.
“Kamu bahagia Cherry?” tanya Marcel
“Yah.”
“Cher, gue boleh tanya soal .. ?” tanya Marcel masih dipikirkan lagi
“Tanya soal apa?”
“Soal Gino” tuturnya lembut takut membuat Cherry merasa dirinya ikut campur urusan orang lain, “Maaf gue gak bermaksud apa-apa, hanya saja”
“Hanya saja lo penasaran kenapa gue terus manggil elo awal kita ketemu dengan nama Gino?” tanya Cherry seolah mengetahui apa yang Marcel pikirkan, dan dia hanya mengangguk. “Wajahnya mirip banget sama lo. Dia , maksud gue Gino .. Dia adalah cinta pertama gue” katanya menjelaskan pada Marcel. Lalu melanjutkan ceritanya tentang Gino.
“Ayo, lo mau gak ikut gue ke rumah gue?” tanya Marcel setelah mendengar ceritanya Cherry. Tanpa basa-basi menunggu jawabannya Cherry, Marcel langsung menggenggam tangannya Cherry dan membawanya masuk mobilnya dan menuju ke rumahnya untuk bertemu ibunya.
Setelah sampai di rumahnya, Marcel menjelaskan semua pada ibunya. Betapa kaget mendengar penuturan Cherry, kalau anaknya Gino sudah meninggal. Karena mantan suaminya yang tak lain adalah ayah kandung dari Gino dan Marcel. Bukan hanya ibunya yang kaget tapi cewek cantik yang baru mengetahui kalo Gino mempunyai saudara kembar juga ikut kaget mendengar cerita ibunya Gino dan Marcel. Setelah selesai mengobrol, seperti biasa Marcel mengantar Cherry untuk pulang dengan mobilnya saat itu hujan deras. Tapi karena ingin menepati janjinya pada Reza untuk tidak pulang malam, dia memaksakan dirinya untuk pulang, akhirnya Marcel setuju saja untuk mengantarnya padahal ibunya dan dia sudah menyuruh Cherry untuk tetap tinggal di rumah mereka dan pulang besok tapi Cherry memaksa dan Marcel menurut saja.
Sesampainya dirumah, dia disambut papanya dan seorang pembantu yang membawakan kain panas untuknya karena cuaca yang sedang hujan dan dingin.
“Hei sayang” sapa papanya
“Papa .. papa udah pulang ?”
“Iya papa baru saja sampe. Oh ya mana Reza?” tanya papanya yng mengira dia pergi dengan Reza
Cherry yang kebingungan tak tahu harus menjawab apa pada papanya, karena dia pun tak tahu kemana perginya Reza. Seharusnya dia ada dirumah ini menunggu Cherry seperti biasa.
“Cherry .. Cherry .. gak tahu pa.” tuturnya lembut
“Oh ya sudahlah, istirahatlah. Jangan lupa ganti pakaianmu dan jangan lupa ngabarin mama sama papamu di Jakarta”
“Iya pa” jawabnya sambil masuk kekamarnya diikuti pembantunya.

Malam itu hujan begitu deras diluar. Cherry masih belum bisa tidur. Bukan karena dia memikirkan hal yang baru dia tahu tentang Gino dan Marcel adalah kembaran. Tapi karena sejak tadi dia selalu memikirkan Reza. Sudah berulang kali dia menelpon Reza tapi tak ada satupun panggilan yang dijawab.
“Ya ampun .. Za kemana sih lo? Gue kangen .. Gue mau curhat. Ih mas ague dibuat galau sih sama lo. Dasar cowok ! Dasar Reza nyebelin.  Reza nyebelin !” katanya berbicara sendiri sambil ngegemesin boneka bantal yang dihadiain Reza waktu mereka sempat jalan bersama.

Sementara dilain tempat diluar, tepatnya di jalanan. Reza yang tak peduli malam itu hujan deras, terus saja berjalan menyisir pejalanan di kota itu tanpa menggunakan jaket dibadannya ataupun payung. Dia berjalan seperti seorang yang putus asa. Yah tepatnya dia sedang putus cinta, berjalan tanpa arah. Pikirannya kacau,  entah apa yang terus berputar diotaknya. Bahkan hatinya kacau. Tak tahu lagi harus bagaimana.
“Gue sayang banget sama lo Cherr. Gue tau gue gak punya apa-apa. Tapi gue sayang banget sama elo, sayang banget. Tapi apa elo tau perasaan gue? Sakit banget Cherr. Sakit banget gue gak bisa miliki lo. Sakit banget liat elo sama dia.” Katanya dalam hati sambil terus berjalan tanpa arah. “Sampai kapanpun gue akan berhenti cinta sama elo. Walau kenyataan yang gue terima ini sakit banget rasanya. Gue akan simpan perasaan ini sama elo” katanya lagi, dan ..
 BRUUUUUUUKKK! Suara tabrakan terjadi. Dia tertabrak dengan sebuah mobil merah, pengemudi mobil itu langsung bergegas turun dari mobil melihat orang yang ditabraknya. Betapa kagetnya pengemudi itu melihat yang ditabraknya adalah Reza.
“Reza .. Reza bangun Reza, aaaah” teriak Siska yang kaget melihat darah yang mengalir dari kepalanya Reza, karena hujan deras jadi jalanan pun agak sepi dan tak dapat meminta tolong pada siapa-siapa. Akhirnya dia berusaha dengan sekuat tenaganya mengambil Reza dari jatuhnya dijalan dan membawanya masuk ke mobil milik cewek cantik bergaya modis ala Perancis itu, dan segera melajukan mobilnya ke apertemen pribadinya yang memang dekat dengan dearah tempat tadi Reza tertabrak mobilnya. Begitu sampai di apartemennya, dia langsung membersihkan luka dikepala Reza memberikan pertolongan pertama dan menelepon dokter untuk datang memeriksa kondisi Reza.
Keesokan harinya, begitu tersadar Reza langsung kaget mengapa dia ada di apertemen milik Siska ini.
“Bonjour Za, lo sudah bangun ya .. Syukur deh lo gak apa-apa hanya lecet sedikit kata dokter. Kemarin gue takut banget elo kenapa-napa.”
“Sudahlah mana baju gue, gue mau pergi” ucapnya dengan ketus membuat Siska heran baru pertama dia mendengar Reza sekasar ini. Tapi walaupun begitu dia menurut saja memberikan baju ganti untuk Reza
“Za lo mau kemana?” Tanya Siska sambil meraih tangan Reza yang hendak membuka pintu depan apertemen Siska. Tanpa menjawab pertanyaan Siska, Reza melepaskan tangan Siska dan langsung berjalan keluar. “Reza .. walaupun dokter bilang lo gak apa-apa tapi lo harus istirahat. Reza .. !!” teriak Siska didepan pintu apertemennya melihat kepergian Reza

Malamnya Siska menerima telpon dari temannya kalau dia melihat Reza sedang mabuk-mabukkan di sebuah bar. Tak ditunggu lagi Siska langsung menelpon Marcel untuk mengabari Cherry. Setelah menelpon langsung saja Siska menaiki mobilnya menuju ke alamat bar yang di maksud temannya. Sesampainya disana, hatinya begitu tertusuk melihat keadaan Reza yang sedang mabuk dan membentak-bentak pelayan bar.
“Reza ..” panggil Siksa setelah berada di sampingnya Reza, tapi tetap saja Reza tidak mempedulikan kedatangan dia. “Reza !” Teriaknya dengan nada yang masih dikontrol
“Eh Siska .. hehe ngapain eh ngapain lo disini .. hehe eh lo mau minum juga, sini minum sama gue” kata Reza yang sudah kacau dengan alkohol yang diminumnya  sambil menyodorkan gelasnya pada Siska
“Za lo gak boleh gini .. Lo itu butuh MOVE ON” kata Siska sambil meletakkan gelas yang disodorkan Reza di meja.
“Heh memangnya lo tau apa? Lo itu gak tau apa-apa soal gue. Sudahlah kalo gak mau minum lo pulang saja”
“Gue tau .. Gue tau. Bahkan sampai dimana perasaan elo ke Cherry juga gue tau ! Ayo kita pulang” katanya sambil menarik tangan Reza keluar dari bar itu.
“Gue gak mau! Lo itu gak tau gue sayang banget sama Cherry. Gue sakit banget liat dia jalan sama marcel, sepupu lo yang brengsek playboy itu!” kata Reza
Tetapi Siska bersikeras menarik tangan Reza untuk keluar dari bar itu. Ketika membalikkan badannya, mereka berpas-pasan dengan Cherry dan Marcel yang juga datang melihat keadaan Reza sekaligus Cherry mau mengajak Reza untuk pulang. Dalam hati Cherry juga sedih melihat keadaan Reza, tapi dia juga kaget mendengar kata-kata Reza tadi. Yah kata-kata tentang perasaanya.
Cherry tak mau lagi berkata langsung mengambil tangan Reza dari pelukan Siska.
“Ayo kita pulang!” kata Cherry sambil sedikit menghapus airmata yang sempat mengalir dipipinya.
“Eh Cherry ..” kata Reza yang sudah mabuk “Lo datang juga .. gue sayang lo, Cherr” Lanjutnya. Tapi penuturannya ini membuat Marcel dan Siska sama-sama merasakan sakit dihatinya.
“Iya gue juga sayang sama elo jadi ayo kita pulang” jawab Cherry sambil meraih tanggan Reza yang juga ikut meraih tangannya Cherry dan mereka keluar dari bar itu dan pulang ke rumahnya Cherry, tempat dimana Reza juga tinggal sesuai permintaan papanya Cherry. Sementara Marcel dan Siksa menatap kepergian mereka berdua dan merasakan sakit dihatinya mendengar kedua insan itu saling berkata mereka saling sayang. Rasanya hancur sudah apa yang hendak diungkapkan Marcel kepada Cherry 3 hari lagi tepatnya tanggal 14 Februari ini. Yah mengungkapkan tentang perasaannya pada Cherry. Perasaan yang sudah dia pendam saat awal berjumpa dengan Cherry, hancur dalam sekejap. Ah perasaan sesakit ini tak pernah ia rasakan. Biasanya cewek-cewek yang mendekatinya yang merasakan perasaan seperti sekarang yang dia rasakan.

Keesokkan harinya, begitu Reza tersadar dari pengaruh alkohol yang dminumnya, dan mulai berusaha mengingat kejadian kemarin malam. Ada rasa senang di wajahnya saat mengingat Cherry mengatakan dia juga menyayanginya. Tapi benarkah ? Pikirnya sendiri. Bukankah dia hanya menganggapnya kakak ? Ah entahlah .. tapi baginya kata-kata Cherry itu membuat dia bahagia. Ketika keluar dari kamarnya ingin menghampiri Cherry, dia hanya terdiam melihat Cherry yang berdiri mematung menatap keluar jendela kamarnya. Di tangannya ada sepucuk surat yang digenggamnya erat.
“Cherr ..” panggil Reza
“Za .. elo, udah sadar, elo .. “
Tersadar airmatanya sempat menitih, dia berusaha menyembunyikan airmatanya dan matanya yang agak sembab. “Lo .. eh sorry gue belum nyiapin bubur buat lo. Tunggu sebentar gue suruh bibi nyiapinnya dulu” katanya sambil berjalan keluar. Tapi belum sempat dia keluar, Reza sudah menarik tangannya, dan memeluknya.
“Maafin gue” ucap Reza sambil memeluk Cherry yang berusaha melepaskan pelukannya tapi malahan dipeluk semakin erat saja, “Maafin gua, Cher.” Ucapnya lagi
Untuk beberapa saat mereka saling berpelukan. Cherry akhirnya mulai pasrah dalam pelukan Reza yang semakin erat. Reza memeluk semakin erat.
“Za .. gue gak bisa .. bernafas” ucap Cherry pelan dan seperti orang sesak napas. Yah karena pelukan Reza yang semakin erat
“Oh maaf Cherr” kata Reza sambil melepaskan pelukannya.
“Gue bilang bibi dulu biar siapin bubur buat elo. Kan lo masih sakit” kata Cherry. Lalu berjalan meninggalkan ruangan itu, sambil meletakan surat yang dipegangnya.
Reza yang sedaritadi penasaran dengan surat itu  langsung mengambil surat itu dan membaca isinya. Surat itu ternyata dari Marcel. Dari surat itu Reza tahu kalau Marcel dan ibunya akan berangkat ke Indonesia, menengok neneknya disana dan bermaksud juga mengunjungi makam alamarhum kakaknya yaitu Gino 2 hari lagi.
“Za .. ini bubur lo udah siap” panggil Cherry dari kejauhan
Dengan cepat-cepat Reza segera meletakkan surat itu kembali pada tempatnya, dan bergegas menemui Cherry untuk makan.
“Cher, lo sayang gue?”
Dengan sedikit ragu, cherry menjawab “Iya”
Tapi Reza tahu dan dia menyadari akan hal itu kalau Cherry hanya kasihan padanya. Dia tahu betul Cherry. Karena selama ini dia menjadi tempat curhat bagi cewek cantik ini.

2 hari kemudian ..
Reza dengan diam-diam menyusun sebuah rencana bersama Siska, mamanya Marcel dan papanya Cherry untuk menyatukan Marcel dan Cherry.  Mereka setuju dan saat tiba saatnya Marcel dan mamanya berangkat ke Indonesia, mamanya berpura-pura kalau tiket pesawat sudah tidak tahu dimana meletakkannya. Malahan ibunya mengajaknya jalan-jalan ke dekat Sungai Seine dengan alasan ingin melihat bisnis keluarga mereka di daerah sekitaran situ. Akhirnya marcel menyetujui saja permintaan ibunya.
Ketika tiba di daerah sekitaran sungai Seine, ibunya lalu menyuruhnya untuk duduk menunggunya saja. Marcel mengikuti saja dan duduk di dekat sungai Seine sambil mengingat Cherry. Yah ditempat ini mereka juga sering menghabiskan waktu disini selain di dekat menara Eiffel.
“Hei ..” sapa seseorang yang mengagetkan Marcel dari lamunannya tentang Cherry. Betapa kagetnya dia, melihat sosok cewek dihadapannya.
“Cher .. Cher..ry. Elo ?”
“Iya gue ..”
“Kok?”
Sambil tertawa Cherry mengambil posisi duduk di  samping Marcel.
“Gak usah heran begitu. Gue udah tau kok” ujarnya sambil tertawa kecil melihat wajah Marcel yang kebingungan melihatnya
“Udah tau? Maksud lo apa Cher?”
“Haha .. kalo lo suka sama gue.  Yah lo sayang sama gue”
Marcel hanya terdiam. Dalam hatinya “ya ampun. Kok dia bisa tau sih? Gue kan..”
“Gue tau dari Siska.” Kata Cherry yang menyadarkan Marcel, “Siska udah ceritain semuanya  tentang perasaan lo ke gue”
“Gue ..”
“Lo kok tega Cel .. mau ninggalin Paris dan pergi ke Indonesia. Padahal .. Gue mau ngomong loh sama lo” kata Cherry sambil berdiri ditepi sungai Seine
“Ngomong apaan ?” tanya Marcel sambil berdiri tepat disamping Cherry
“Gue juga suka sama lo” tutur Cherry sambil tersenyum dan tawa kecilnya.
Marcel langsung membalikkan badan mungil Cherry berhadapan dengannya. “Lo serius Cherr? Tapi bagaimana dengan Reza?”
“Bro ..” Panggil Reza dari belakang mereka dan Marcel membalikkan kepalanya keraha suara itu. Dia sangat kaget melihat mamanya, Siska dan juga papanya Cherry sudah berada bersama dengan Reza.
“Reza ? Mama ? Siska ? Oom ?“
“Elo itu kalo cinta sama dia jangan ninggalin dia gitu aja dong ! Mau lo gue hajar ?” kata Reza sambil tertawa
Marcel juga ikut tertawa begitu pula, mamanya, Cherry, papanya Cherry dan Siska. Mereka datang menghampiri kedua insan ini.
“Gue sama Cherry gak ada apa-apa kok.” Tutur Reza, “Memang gue suka sama dia, yah gue kagum saja melihat dia habis wajahnya unyu banget gini” lanjutnya sambil mencubit pipi Cherry dan buat Cherry menjerit kecil, “Tapi gue sadar kok, kalo rasa sayang gue sama dia itu sebagai kakak ke adik. Ini berkat ..” katanya terputus sebentar saat memeluk Siska di sampingnya “Siska, pacar gue dan gue sadar ternyata orang yang mencintai kita itulah yang pantas kita cintai”
“Ha ? Serius lo sama Siska?” tanya Marcel lagi dengan kaget lagi. Entah sudah berapa kali dia kibuat kaget hari ini dengan penuturan orang-orang dihadapannya ini
“Iya .. kenapa lo?” tanya Siska dengan mencibirkan bibirnya “Ayo sana .. ceweknya udah dihadapan lo masih aja diem” ledek Siska , membuat Marcel berdesis meledek balik Siska dan Reza
“Eh oom, tante, kita kayaknya gak harus disini deh .. nanti malah ini orang gak ngomong-ngomong!” seru Siska sambil berpelukan dengan Reza
“Iya .. ayo kita minum teh saja diatas” ajak mamanya Marcel
“Baiklah” kata mereka semua serentak
“Marcel, jaga anak kesayangan oom ini baik-baik” kata papanya Cherry memperingatkan
“Baik oom”
Setelah mereka pergi tinggal Cherry dan Marcel. Marcel lalu meraih kedua tangannya Cherry.
“Cherr lo serius sayang sama gue?”
“Lo gak percaya?”
“Gak gue percaya. Cuma nanya doing. Karna yang gue tau .. lo itu sayang banget sama kakak gue”
“Yah dia cinta pertama gue. Gue gak bisa bohong sama perasaan gue kalau gue sayang banget sama dia. Dia bawa cinta kami pergi bersamanya. “ kata Cherry sambil menatap kea rah sungai Seine saat yang sama penuturan itu membuat Marcel lagi-lagi sakit mendengarya, “tapi ..” katanya terputus sambil menatap Marcel, “Dia itu masa lalu gue, dan elo .. elo yang akan jadi masa depan gue! Kedengaranya aneh, kalo gue sayang sama dua orang yang wajahnya mirip banget dan mereka adalah kakak beradik. Tapi” belum semat dia melanjutkan kata-katanya, Marcel sudah memeluknya.
“Gue sayang banget sama elo, cher”
“Je t’aime” kata Cherry sambil membalas pelukan Marcel
“Udah pintar bahasa Perancis yah?”
“yee ngeledek lagi” kata Cherry sambil terus berpelukan dengan Marcel menikmati suasana didekat sungai Seine, menikmati senja yang indah pada hari itu.
 

Yah itulah cerita Cherry dimana menemukan cintanya di Paris. Tak disangka dia jatuh cinta lagi pada sosok cowok yang tak lain adalah kembaran Gino, cowok yang pernah menjadi bagian dalam hidupnya. Sementara Reza dan Siska juga sedang dalam bahagianya, meresmikan hubungan mereka yang baru. Tak disangka juga, penantian Siska yang begitu lama pada Reza akhirnya terbalas.
Akhirnya cerita ini selesai, berakhir dengan bahagia. Mereka menemukan cintanya masing-masing.

TAMAT

Terima kasih kepada mama, papa, ade Jo, Loy, tante Nes, tante Ima, sahabatku Fanny yang sudah memberikan semangat hingga cerita ini boleh terselesaikan.
Terutama, Puji Tuhan dan terima kasih pada-Nya sehingga aku boleh menyelesaikan cerita ini.
Mohon maaf bila ada kata-kata yang salah, atau kurang berkenan. Maklum baru pemula. Hehe :)