"Jesicha, sini aku bantuin ngerapiin barang-barang kamu." pinta Mona sambil tersenyum dan langsung saja menarik pegangan koper milik Jesicha dan mengantarkan koper itu memasuki kamar Jesicha.
Jesicha hanya manggut-manggut dan tersenyum kecil menutupi raut wajahnya yang hampir saja tertangkap kalau-kalau airmatanya hampir saja melesat jatuh.
Jesicha hanya manggut-manggut dan tersenyum kecil menutupi raut wajahnya yang hampir saja tertangkap kalau-kalau airmatanya hampir saja melesat jatuh.
Mona dan Jesicha adalah sahabat sejak mereka kecil dikarenakan rumah mereka berdekatan. Hanya saja, ketika mereka lulus dari taman kanak-kanak mereka berdua harus terpisah. Jesicha harus pindah mengikuti ayahnya ke Bali, karena saat itu kedua orang tuanya harus bercerai dan hak asuh atas Jesicha jatuh ketangan ayahnya yang adalah salah satu orang terkaya sedangkan ibunya harus rela kehilangan Jesicha karena kalah dalam persidangan hak asuh anak. Jesicha lalu menyelesaikan sekolahnya hingga tamat SMA di sebuah sekolah terunggul di Bali. Setelah menyelesaikan sekolahnya disana, dia dikirim oleh ayahnya yang sedang sakit-sakitan untuk datang melanjutkan kuliahnya kembali di Jakarta dan kembali tinggal di rumah mereka yang dulu saat dia kecil tinggal bahagia bersama ayah dan ibunya yang saat itu belum bercerai. Kembali mengulang kisah semasa kecil yang membahagiakan dan menyakitkan di rumah ini.
Jesicha berjalan melihat keadaan rumah ini, masih bersih dan masih tertata rapi layaknya dulu saat keluarganya masih utuh, ada dia, ada ayahnya dan ibunya.
Tampak dia berdiri mematung tiada suara keluar saat menatap ayunan ditaman dikelilingi bunga mawar kesukaan ibunya. Ya tempat itu mengingatkannya kembali kepada ibunya dimana dulu sering sekali dia dan ibunya bermain ditaman itu, bercanda gurau ditaman itu, bernyanyi bersama dan menari bersama bahkan sederetan kenangan bersama ibunya ditempat itu. Tanpa dia sadari airmatanya telah jatuh membasahi pipinya.
"Non Icha?" tanya seorang wanita tua yang umurnya sudah sekitar 50-an , Jesicha memalingkan wajahnya kearah datangnya suara itu. "Ini non Icha kan?" tanya wanita itu lagi seakan menyakinkan penglihatannya bahwa didepannya itu benar-benar Jesicha yang sering disapa Icha sesuai nama panggilan ibunya semasa kecil.
"Iya mbok, ini aku .. ini aku Icha" kata Jesicha pelan sambil menghapus airmatanya ketika tersadar dari lamunannya tentang masa kecilnya.
"Ah syukurlah mbok nggak salah lihat kamu. Ini benar-benar kamu."
Mereka berdua lalu berpelukan. Mbok Narsih begitu namanya. Dia adalah pembantu sekaligus asisten pribadi ibunya Jesicha saat dulu masih menjadi nyonya rumah, di rumah keluarga Permata ini.
"Mbok terima kasih sudah merawat rumah ini, selama ini." kata Jesicha sambil terus memeluk Mbok Narsih.
"Iya non sama-sama. Mbok senang, akhirnya mbok bisa lihat wajahnya non lagi setelah sekian lama mbok nggak lagi bisa lihatin kamu, non. Terima kasih sudah kembali kesini." kata Mbok Narsih sambil mengusap kepala Jesicha.
"Mbok, tahu dimana mama dikuburkan?" tanya Jesicha sesaat setelah melepaskan pelukannya
Namun mbok Narsih hanya terdiam. Mulutnya seperti berbusa, dia tak mampu mengatakannya.
"Jesicha .." panggil Mona yang baru saja muncul di pintu tengah yang mengarah ke arah taman samping rumah besar dan mewah itu sambil berjalan penuh senyum menghampiri mereka berdua. "Mbok, mang Didim sudah didepan bawain belanjaan buat masak katanya." kata Mona pada Mbok Narsih saat sudah tiba di hadapan mereka berdua.
"Iya non Mona." katanya pada Mona, "Non, bibi permisi dulu. Bibi kan harus masak buat non." katanya lagi pada Jesicha dan Mona, lalu berjalan memasuki rumah dan menuju dapur utama rumah itu dibantu mang Didim yang adalah anaknya yang juga bekerja mengurusi rumah ini untuk membantunya membawakan beberapa tas belanjaan bahan-bahan buat dimasak oleh mbok Narsih dan beberapa koki khusus di rumah itu.
"Icha yuk, jalan yuk." ajak Mona
"Tapi pakaianku belum aku rapiin." kata Jesicha seraya berusaha untuk menolak ajakannya Mona. "Alah! itu mah pakaiannya kamu udah dirapiin sama pembantu-pembantunya kamu." kata Mona lagi sekaligus berusaha untuk meyakinkan Jesicha bahwa pakaian dan segala sesuatu yang dibutuhkannya sudah dipersiapkan dan dibereskan oleh pembantunya yang lain yang adalah asisten pembantu dari mbok Narsih.
Awalnya ajakan Mona ditolak oleh Jesicha. Namun karena Mona yang pada dasarnya adalah anak periang yang ajakannya takan mampu ditolak oleh siapapun itu, akhirnya berhasil meluluhkan hati Jesicha untuk menerima ajakannya.
Mona dan Jesicha langsung berjalan memasuki rumah itu untuk berpamitan dengan Mbok Narsih sekaligus mengambil kunci mobilnya.
"Auw!" jeritan keras keluar dari mulut Mona saat dia bertubrukan dengan Mang Didim. Tubrukan tersebut membuat mereka berdua sama-sama saling mundur beberapa langkah kebelakang.
"Non, non nggak apa-apa?" tanya Mang Didim begitu kaget saling bertubrukan dengan Mona tadi.
"Ah iya .. nggak apa-apa kok Mang. Aku juga yang salah, aku nggak lihat dengan benar kalau .." Belum sempat dia melanjutkan kata-katanya, tiba-tiba kepalanya terasa sangat pusing dan matanya sedikit berkunang-kunang. Pandangannya jadi kabur. Mang Didim lalu meraih tangannya "Non, non" panggil Mang Didim untuk menyadarkan Mona dari hampir hilangnya kesadarannya. Suara Mang Didim terdengar sampai ke telinga Jesicha yang sedang mengobrol dengan dua pembantunya yang lain, yang sedang merapikan kamarnya dan pakaian-pakaiannya serta perlengkapannya yang lain dikamar. Jesicha lalu tersadar ada yang memanggil-manggil nama Mona dan tersadar juga Mona tadi sedang mengambil kunci mobil diruang tengah. Jesicha lalu berlari turun mendapatkan Mona yang masih dalam keadaan setengah sadar dalam pegangan tangan seorang pria setengah baya yang berusaha menyadarkan Mona.
"Mona!" teriak kaget Jesicha melihat sahabatnya itu, "Mona, sadar! Sadar! Mona .." teriak Jesicha menyadarkan Mona.
"Eh.." hanya kata itu yang keluar dari mulut Mona begitu tersadar dirinya dihampiri Jesicha dengan ekspresi wajah yang takut dan mencemaskan, dan juga tangannya dipegang oleh Mang Didim dengan ekspresi yang sama.
Tak lama muncul senyuman nakal dibibirnya sambil tertawa, "Haa! Ketipu!" sentak Mona mengagetkan Jesicha dan Mang Didim yang langsung melepaskan tangannya dari Mona.
"Ah kamu ah .." kata Jesicha sambil mencubit lengan Mona.
"Idih sakit tahu." sungut Mona sambil tertawa lagi
"Ya ampun non .. Mamang hampir saja pikir kalau non kenapa-kenapa pas tadi Mamang tabrak." kata Mang Didim sambil tersenyum lega.
Mona masih ketawa dengan penuturan dari kedua orang dihadapannya ini. Mendengar penuturan Mang Didim, Jesicha yang semula sejak tadi belum menatap wajah Mang Didim secara seksama, akhirnya mulai memalingkan wajahnya ke arah berdirinya Mang Didim.
"Kamu .." kata Jesicha sambil menunjuk Mang Didim dan berusaha mengingat sesuatu. "Kamu .." katanya lagi membuat Mang Didim menatap dirinya dengan ekspresi wajah yang kaku.
"Ah ini kunci mobilnya. Ayo Icha," ajak Mona sambil menggandeng Jesicha yang masih menatap Mang Didim sambil berjalan mengikuti langkah kaki Mona yang berjalan menuju mobilnya. Jesicha bertanya-tanya dalam hati "siapa dia, sepertinya aku pernah bertemu dengannya, aku pernah melihatnya, tapi dimana dan kapan."
Mobil BMW berwarna merah berplat B 6115 AMH itu, langsung berjalan meninggalkan pelataran rumah mewah dan besar milik Jesicha itu dan berjalan menyusuri jalanan kota Jakarta.
"Oh ya, aku belum ngucapin ke kamu, selamat datang di kota Jakarta ya Jesicha." kata Mona girang sambil terus berkonsentrasi membawa mobilnya. Terbesit senyum kecil lagi dibibirnya.
Jesicha menatap wajah sahabatnya itu, dalam pikiran Jesicha terus saja mengagumi senyuman Mona. Walaupun mereka berdua sama-sama adalah sosok wanita yang cantik, tapi Jesicha kagum dengan Mona, sepertinya tak ada satupun masalah yang dipikirkannya. Dia selalu saja tersenyum. Masih sama seperti sejak mereka kecil, Mona selalu tersenyum riang sampai sekarang dia juga masih tetap seperti itu layaknya seorang anak kecil yang hidupnya tak pernah terbebani masalah. Dalam hati kecil yang terdalam, sebenarnya Jesicha juga merasa iri dengan keadaan Mona. Dia memiliki keluarga yang utuh. Dia punya ayah dan ibu, dia punya seorang kakak yang sangat menyayanginya. Keluarga Mona tak seperti keluarganya. Ayah dan ibunya telah berpisah, bahkan ayahnya menikah lagi dan bahkan saudara-saudara tirinya dari anak hasil perkawinan ibu tirinya dari sebelum menikah dengan ayahnya, sering mengolok-ngoloknya sejak mereka bersama-sama, bahkan sampai sekarang terus seperti itu. Kasih sayang ayahnya juga jarang dirasakannya. Apa yang menjadi miliknya selalu saja direbut paksa oleh saudara tirinya bahkan kadang dia dipukuli oleh ibu tirinya saat ayahnya tak berada dirumah. Kisah demi kisah teringat lagi dalam ingatannya.
"Hei .." panggil Mona mengagetkan Jesicha dari lamunannya sejak tadi.
"Eh, ada apa Mon?" tanya Jesicha seolah tak menyadari sejak tadi dirinya sedang diamati dengan seksama oleh Mona.
"Mikirin apa sih? Kamu bengong saja daritadi." kata Mona dengan kening terangkat.
"Aku, aku .."
"Ah sudahlah, tak apa." potong Mona, sambil tertawa kecil dia membuka pintu mobil. "Yuk turun. kita sudah sampai" sambungnya lagi
Jesicha lalu tersenyum dan kemudian mengikuti sahabatnya itu turun dari mobil BMW merah tersebut.
"Mau kemana kita Mon?" tanya Jesicha
Dengan tawa kecilnya Mona hanya menggandeng tangan Jesicha memasuki pelataran sebuah panti rehabilitasi milik keluarganya. Panti ini dibangun saat dia masih kecil, tepatnya saat dia memasuki sekolah dasar ayahnya mendirikan sebuah panti rehabilitasi khusus untuk orang-orang dengan gangguan kejiwaan. Semenjak Mona menduduki bangku SMA, dia sering datang ke tempat itu. Yah hal itu terus dilakukannya saat dia menemukan seorang wanita setengah baya dengan pakaian ataupun penampilan yang tak terurus, sedang memakan makanan sisa dari bak sampah sambil memegang boneka barbie yang juga tampak tak terurus juga dirinya sedang disorakin oleh sekelompok anak kecil dengan sebutan, "Orang gila." Muncul rasa kasihan dihatinya, dan akhirnya membawa wanita itu ke tempat panti rehabilitasi milik keluarganya. Bahkan rasa sayangnya sedikit berbeda kepada wanita itu hingga dimintakan kepada ayahnya agar menempatkan kamar perawatan spesial untuk wanita itu.
Saat mereka memasuki koridor, banyak suara sorak bergembira dari hampir semua pasien di sepanjang taman samping koridor panti itu saat melihat kedatangan Mona. Walaupun mereka dengan gangguan kejiwaan, tapi saat melihat datangnya Mona, mereka yang bertingkah aneh langsung saja jadi kalem bahkan penurut bahkan kelihatan seperti orang sehat datang dan memeluk Mona yang menyambut pelukan mereka satu per satu dengan hangatnya sambil tersenyum manis.
Namun hanya satu pasien di taman itu yang hanya duduk di kursi rodanya sambil menatap sebuah ayunan yang berseberangan dengan sejumlah tanaman bunga mawar, sambil memegang boneka barbienya.
Setelah memperkenalkan Jesicha pada pasien-pasien di panti itu, Mona tersenyum sambil berjalan cepat mendapati wanita setengah baya itu. Jesicha hanya mengikutinya pelan dari belakang.
"Mama," sapa Mona begitu mendapati wanita setengah baya yang duduk di kursi roda itu, "Mama kok sendirian disini?" tanya Mona
"A-na-nak-ku .." kata wanita setengah baya ini dengan terbata-bata seakan suaranya juga hilang ditelan bumi
"Mama, kangen sama Mona?" sambung Mona lagi sambil tersenyum. Wanita setengah baya itu hanya manggut-manggut namun airmatanya jatuh membasahi pipinya.
"Loh .. kok mama nangis? Mona jadi ikut-ikutan sedih. Yah jangan nangis dong ma," pinta Mona sambil mengahapus airmata wanita setengah baya itu kemudian memeluknya.
Sedangkan Jesicha hanya berdiri beberapa langkah di belakang mereka. Dia tak ingin mendekat. Entah kenapa ada sesuatu hal yang bahkan dirinya tak tahu itu apa, ada juga rasa ya rasa ingin melihat sosok waanita yang disebut mama oleh Mona, walaupun bukan ibu kandungnya Mona. Karena yang Jesicha tahu Mona adalah anaknya keluarga Herlambang, dan sahabat dekatnya adalah Mona.
Tak lama mereka bermain di panti rehabilitasi itu, Jesicha yang pada awalnya kalem akhirnya jadi ikut-ikutan menjadi periang saat melantunkan beberapa lagu dan bergoyang bersama beberapa pasien yang sudah hampir sembuh total dan beberapa perawat khusus kejiwaan. Setelah bersenang-senang seharian bersama pasien-pasien itu, mereka berdua pamit untuk pulang.
Mobil merah itu lalu melaju kembali dan akhirnya sampai juga mereka memasuki pelataran halaman depan tempat memarkirkan kendaraan rumah itu.
Mona tampak tersenyum melihat mobil siapa yang sedang parkir lebih dulu tepat di sebelah mobil miliknya. Sedangkan Jesicha tampak bingung melihat mobil itu.
Mereka berdua berjalan memasuki rumah besar dan mewah milik Jesicha itu. Begitu sampai di depan pintu, Jesicha kaget melihat sosok cowok tampan dihadapannya yang berdiri sambil membukakan pintu untuk mereka berdua dan tersenyum lebar. Matanya berbinar-binar.
"Kak Samuel?" tanya Jesicha dengan nada terbata-bata takut dia salah menyebutkan nama cowok dihadapannya ini.
"Hai." sapa Samuel. Samuel adalah kakaknya Mona, yang begitu mendengar cerita dari Mona, adiknya bahwa Jesicha akan kembali ke Jakarta, hari itu langsung pulang kembali ke Indonesia dari Spanyol.
Sambil tertawa melihat tingkah Jesicha dan Samuel, Mona dengan girangnya langsung memeluk Samuel kakaknya setelah sekian lama mereka juga tak bertemu. Kakak-beradik ini bertingkah seperti mereka dulu masih kecil dengan berlari-lari saling mengejar sampai salah satu tertangkap. Tingkah mereka berdua diperhatikan oleh Jesicha yang masuk sampai ke ruang tengah melihat kakak-beradik ini.
"Nah! ketangkap kamu!" kata Samuel saat dia mendapati adik perempuannya itu dan memeluknya sambil mengangkatkannya tubuhnya sedikit. Kakak-beradik ini tertawa riang melepas kerinduan mereka. Mona memang sangat manja kepada kakaknya tapi kadang dia juga sangat usil mengerjai kakaknya. Walaupun sering dibuat kesal, tapi Samuel selalu saja dibuat tertawa oleh adiknya.
"Eh , udah ah kakak! Aku udah gede tahu!" kata Mona dengan ketus, sambil mencibirkan bibirnya. Kakaknya hanya dibuat ketawa kecil melihat ekspresi wajahnya, namun tatapan matanya tiba-tiba berbelok ke arah berdirinya Jesicha yang menatap dan mendengar pembicaraan mereka sedaritadi. Mona menyadari hal itu lalu memanggil Jesicha. Mereka bertiga lalu duduk bersama-sama di ruang tengah itu sambil mengingat masa kecil mereka. Sebenarnya Jesicha hanya ikut tertawa bersama, karena dia tak bisa memungkiri hatinya berkata lain. Jika berbicara tentang masa kecil, walau dia berusaha tertawa namun hal itu malah membuat hatinya menangis melihat hidupnya tak seindah hidupnya Mona.
"Bi, Mbok Narsih dimana?" kata Jesicha disela-sela tawanya Samuel dan Mona, yang sesaat terdiam dari tawa dan candaan mereka berdua.
"Mbok Narsih lagi pergi diantar mang Didim, non." jawab seorang asisten pembantu yang tepat saat itu meletakkan beberapa jenis makanan ringan di meja.
"Kemana?" tanya Jesicha lagi
"Waduh kalo soal itu bibi kurang tahu non. Soalnya mbok Narsih gak pernah kasih tahu non." jelasnya lagi.
Jesicha hanya manggut-manggut dan melanjutkan pembicaraan mereka bertiga yang tadi sempat tertunda. Hampir semalaman mereka bertiga habiskan dengan mengobrol tentang masa kecil mereka bertiga saat mereka bermain bersama ditaman samping rumah ini, rumah Jesicha ini.
Keesokkan harinya, Jesicha dan Mona memasuki awal semester baru ditempat mereka menuntut ilmu di fakultas kedokteran sebuah perguruan tinggi ternama di Jakarta. Jesicha dan Mona bukan hanya cantik tapi mereka termasuk anak yang pandai dan lulus dengan predikat terbaik di sekolahnya masing-masing. Keduanya juga sama-sama menyukai hal yang sama. Dulu sewaktu mereka kecil, pernak-pernik mereka selalu sama karena mereka sering bermain bersama sejak mereka kecil. Umur mereka hanya berbeda setahun. Mona lebih tua usianya dari Jesicha. Tapi meskipun begitu, keduanya memang sangat akrab. Walau mereka berdua sudah berpisah bertahun-tahun lamanya, tapi keduanya terlihat akrab setelah mereka bertemu lagi.
Saat mata kuliah jam pertama selesai, Jesicha dan Mona sepakat akan bertemu di perpustakaan untuk mempelajari beberapa hal yang tadi di bahas di ruang kuliah oleh dosen. Lalu keduanya berpisah di koridor. Mona berjalan ke ruangan assiten rektor III karena saat itu dia dipanggil untuk mengikuti test pertukaran mahasiswa ke London walau dia baru semester 1 tapi dia memang sangat terkenal di kampus itu baik itu oleh dosen maupun mahasiswa bahkan sampai officce boys dan girls juga mengenalnya karena sikapnya yang bersahabat dengan siapa saja dan dia adalah sosok anak yang periang. Hal itu juga karena dia memang mengikuti jejak ayahnya, Pak dokter Herlambang yang adalah salah satu mahasiswa terpandai yang pernah melakukan tes tersebut sewaktu dia kuliah dan mendapatkan kesempatan ke London untuk melanjutkan kuliahnya di fakultas kedokteran London.
Sedangkan Jesicha berjalan menuju ke perpustakaan. Sambil menunggu Mona, dia mulai mencari-cari buku di deretan buku-buku kesukaannya tentang anatomy dan fisiologi manusia. Saat sedang mencari-cari buku tersebut, dari arah berseberangan tampak pula seorang cowok tampan yang kehadirannya sejak tadi diperhatikan beberapa cewek di ruang perpustakaan tersebut. Saat menemukan buku yang dicari, tak di duga kedua insan yang berseberangan ini sama-sama saling bertatapan saat mengambil buku yang letaknya berlawanan tapi ada sedikit cela diantara deretan buku yang membuat mereka saling bertatapan satu sama lain. Dua pasang mata yang sama-sama indah menunjukkan keindahan dimatanya dan keindahan Sang Pencipta yang menganugerahi kedua pasang mata yang indah ini. Untuk beberapa lama kedua pasang mata mereka tidak berkedip. Tak lama Jesicha tersadar dari pikirannya sejak tadi. Kedua pasang mata itu langsung saja berhenti saling menatap dan segera keduanya sama-sama mengambil buku yang diinginkan masing-masing. Sesaat kemudian, Jesicha langsung bergegas keluar dari blok deretan buku itu lalu mencari tempat duduk sekaligus menghindari tangan dari cowok tadi yang menghampirinya tepat di depan blok deretan buku tempat tadi dia mencari buku. Dengan langkah agak dipercepat, Jesicha melangkah menuju tempat duduk tepat di pojokan ruang perpustakaan itu dan langsung mendudukinya. Wajahnya seakan sedang dipanggang dibara api. Jantungnya tak lagi berdegup dengan teratur. Dalam hati dia mengutuk dirinya sendiri kenapa harus bertemu lagi sama cowok itu. Dia sendiri masih mengingat kejadian di bandara beberapa hari lalu saat dia tiba di bandara dan salah mengambil koper yang sebenarnya adalah milik cowok itu. Perasaan malunya membuat dia tak sanggup mengatakan apapun saat dia bertemu cowok itu lagi.
"Hai," sapa cowok tampan berdada bidang itu saat dia menghampiri Jesicha dan duduk dikursi sebelahnya.
Jantung Jesicha seakan hampir terlepas saat mendengar suara itu. Degupan jantungnya semakin cepat tak teratur. Mulutnya seakan berbusa. Yah dia tak mampu membalas sapaan cowok disebelahnya akhirnya dia pura-pura saja tak mendengar sapaan itu. Tapi wajahnya yang memerah seakan tak bisa dipungkiri oleh dia dan itu tampak jelas apa yang dilihat si cowok, wajahnya memerah. Sambil tersenyum, cowok tampan itu memulai lagi pembicaraannya walau saat itu dia benar-benar tak dipedulikan oleh Jesicha.
"Kamu ingat nggak sama aku? Kita pernah ketemu loh." kata cowok tampan itu.
"Aku ingat kok." kata Jesicha pelan namun tak berani memalingkan wajahnya ke arah si cowok.
"Waktu itu kamu ketinggalan ini juga saat kamu ngembaliin koper aku yang salah kamu ambil." kata si cowok sambil menyerahkan liontin bergambar seorang ibu sedang memeluk anaknya. "Ini punya kamu kan?" sambungnya
"Ah .. ini .. " kata Jesicha tertahan saat menatap liontin itu
"Ini punya kamu kan?" tanya si cowok lagi
Jesicha manggut-manggut, "Terima kasih." sambil mengambil liontin itu
"Oh iya kita belum saling mengenal nama. Aku Dira." katanya sambil menyodorkan tangannya untuk menyalami Jesicha. "Kamu?"
"Aku Jesicha" jawab Jesicha sambil membalas sapaan tangan Dira, si cowok tampan itu.
Mereka berdua lalu mulai bercerita satu sama lain, saling bertukar pendapat tentang buku yang mereka ambil. Karena kebetulan, Dira juga adalah salah satu anak fakultas kedokteran hanya saja dia 2 tingkat diatas Jesicha dan Mona. Topik yang mereka bahas semakin menarik sampai-sampai Jesicha dan Dira tak menyadari kehadiran Mona yang jaraknya hanya beberapa langkah dari keduanya. Mata itu menatap keduanya. Tampak mata Mona seakan berwarna abu-abu, yah apalagi kalau bukan dia sedang berusaha menanahan airmatanya. Matanya benar-benar berkaca-kaca saat melihat cowok tampan dihadapannya. Cowok tampan yang sudah tak asing lagi baginya dan yang semakin membuat hatinya rapuh saat itu adalah kedekatan Jesicha dan Dira.
Mona benar-benar tak tahan lagi untuk meluapkan kesedihan dan amarah yang selama ini terpendam. Dia berlari meninggalkan mereka berdua yang masih asyiknya mengobrol tanpa menghiraukan apapun disamping bahkan yang sedang melihat mereka berdua. Dia berlari kencang mencari tempat yang paling sunyi, tempat yang jarang sekali didatangi mahasiswa. Dia naik ke balkon terbuka dilantai 4 gedung fakultas mereka, dia duduk ditepi pembatas balkon yang juga banyak ditumbuhkan sekelompok bunga-bunga.
"Mengapa? mengapa hatiku sesakit ini? mengapa kamu datang lagi? mengapa kamu kembali kesini? dan mengapa saat kamu kembali, bukan aku yang kamu temui pertama? mengapa Dira?" tanya Mona dalam hatinya sambil menangis tersedu-sedu. Sesaat dia tampak seperti bukan sosok Mona yang periang. Dia rapuh, rapuh saat Dira datang lagi, datang lagi tapi bukan dia yang ditemui. Dia harus akui, dalam lubuk hatinya takan pernah bisa menggantikan posisi Dira dengan cowok manapun.
Beberapa jam kemudian, mata kuliah kedua untuk kelasnya Jesicha dan Mona akan segera dimulai. Jesicha menghampiri Mona yang sudah berada di ruangan kuliah.
"Mona, aku tunggu kamu di perpus berjam-jam kamunya nggak datang." kata Jesicha, "Gimana tesnya? kapan?" tanya Jesicha dengan polos karena memang dia tak tahu tentang apa yang terjadi tadi pada Mona saat Mona datang tapi tak diketahui Jesicha.
"Iya , tadi aku nggak sempat kesana soalnya aku sibuk ngurus kelengkapan data-datanya untuk dikirim." katanya kepada Jesicha. Tentu saja dia sedang berbohong.
"Baiklah."
Dua Jam setengah perkuliahan pun berakhir, Mona cepat-cepat bergegas menuju mobil sebenarnya untuk menghindari sosok cowok yang sedang memanggil Jesicha dari jauh begitu mereka ada tempat parkiran kendaraan. Dari dalam mobil, Mona hanya memperhatikan Jesicha yang sedang mengobrol dengan Dira lewat kaca spion mobilnya. Dalam hatinya menangis namun dia takan mungkin bisa menunjukkan hal itu didepan Jesicha.
"Hei, lama?" tanya Jesicha begitu memasuki mobil sambil memasangkan sabuk pengaman kursi duduknya.
"Nggak." jawab Mona dengan singkat sambil melajukan mobilnya kembali ke rumah. Untuk sementara Mona tinggal bersama Jesicha atas permintaan Jesicha sejak dia datang ke Jakarta.
"Oh ya, Mon .. aku baru ketemu tadi sama cowok yang pernah aku temui dia di bandara secara tak sengaja koper kami tertukar dan aku salah ambil koper miliknya." kata Jesicha menjelaskan sambil tersenyum. Mona hanya mendengarkan dan memperhatikan raut wajah Jesicha memang berbeda dari biasanya. Kali ini Jesicha tersenyum begitu ceria, seperti orang yang jatuh hati. Begitu yang tampak pada wajah Jesicha yang jelas terlihat oleh Mona. "Oh ya, kamu tahu nggak Mon, dia sangat tampan. Bukan cuma dia yang tampan, tapi namanya juga bagus banget" Jesicha terus menjelaskan kepada Mona tentang sosok cowok bernama Dira itu.
"Oh," Mona hanya mampu menngeluarkan kata itu dari mulutnya.
"Aku mau kenalin dia sama kamu tadi, tapi yah kamu malah masuk ke mobil duluan"
"Nanti lain kali saja Cha." katanya sambil terus berkonsentrasi membawa mobil. Jesicha mengiyakan kata-katanya.
Tak lama mobil merah itu memasuki pelataran depan rumah besar dan mewah itu.
Hari-hari terus berlalu, kedekatan Jesicha dan Dira menjadi semakin dekat. Kemanapun, Dira selalu mengajak Jesicha bersamanya. Terutama saat ke toko buku atau ke perpustakaan saat mereka berada di kampus. Bahkan kedekatan itu membuat diantara keduanya mulai tumbuh bibit-bibit cinta. Tak lama kemudian, Dira dan Jesicha jadian. Sementara setiap kali Dira datang di rumah Jesicha untuk menemuinya, Mona yang sudah mengetahui akan kedatangan Dira selalu berpura-pura sakit ketika setiap kali datang Dira datang. Akhirnya Jesicha tak pernah bisa memperkenalkan Mona pada kekasihnya.
Suatu sore Dira datang di rumah Jesicha untuk menemui Jesicha sekaligus setuju untuk berkenalan dengan sahabat dekatnya Jesicha begitu Jesicha memperkenalkan namanya Mona didepan Dira dan sering bercerita tentang Mona. Tapi lagi-lagi Mona bepura-pura untuk tidak bisa menemui Dira karena sedang sakit dan berusaha meyakinkan Jesicha untuk temui saja Dira, nanti lain kali saja baru Mona berkenalan dengan Dira. Jesicha pun setuju saja dengan permintaan Mona.
Di ruang tamu, Jesicha dan Dira tampak bermesraan sambil duduk bercerita tentang apa saja yang mereka suka. Tanpa disadari lagi, Mona sedang memperhatikan mereka dari bagian ruang tengah.
"Kamu begitu bahagia Dir, beda saat kita dulu. Kenapa harus dia? Kenapa harus dia? Aku juga butuh kamu, tolong perhatiin aku sedikit. Aku nggak bakal nyia-nyiain kamu lagi. Andai kamu tahu, aku masih menunggumu semenjak saat itu." kata Mona dalam hatinya, "Tapi aku akan coba untuk ngelerain kamu untuk dia. Aku sayang kamu Icha, Jaga dia untukku." lanjutnya lagi dalam hati. Setelah itu dia memasuki kamarnya menangis dalam kesunyian kamarnya. Hanya kamarnya saat itu yang seolah menjadi sandaran saat dia menangis.
Kisah cinta Dira dan Jesicha terus berlanjut. Sudah sebulan lamanya mereka menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Selama itu Dira belum pernah bertemu dengan Mona yang sering diceritakan Jesicha, bertatap langsung dengannya. Karena Mona terus saja selalu mencari alasan untuk menghindarinya. Mona tak mau bila nanti Dira tahu bahwa Mona yang dimaksud Jesicha adalah Mona, mantan kekasihnya yang tak lain adalah cinta pertamanya. Mona juga tak ingin membuat Dira saat melihatnya tiba-tiba menjadi sosok Dira yang membenci dirinya, atas kejadian di masa lalu yang memang masih terus membayangi Mona dan karena kejadian itu setiap saat, saat Mona sendirian bukan lagi sosok periangnya yang tampak tapi benar-benar sosok yang berbeda seratus delapan puluh derajat yaitu sosok Mona yang rapuh.
Sementara Samuel, kakanya Mona baru saja pulang dari Malang setelah 1 bulan lalu sebelum Dira dan Jesicha jadian, Samuel sedang berada di luar kota tepatnya ditempat kerjanya kedua orang tua Samuel dan Mona.
"Eh Mang Didim, dimana Mona dan Jesicha?" tanya Samuel begitu turun dari mobilnya dan melihat mang Didim sedang membersihkan mobil merah milik Mona.
"Non Jesicha lagi keluar den. Kalau non Mona lagi di dalam den sama mbok Narsih lagi nyiapin masakan kesukaan aden katanya hari ini karena aden pulang jadi non Mona lagi masak tuh den." jelas Mang Didim.
Sambil tertawa terbahak-bahak, "Serius mang? Sejak kapan adikku itu tahu masak?" tanyanya seakan tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Mang Didim.
Mang Didim hanya ikut tertawa dan setelah mengobrol dengan Mang Didim, Samuel pamit untuk masuk ke dalam rumah melihat Mona adiknya. Sebenarnya dia datang kesini juga untuk melihat Jesicha. Yah karena sejak merekaa kecil, dia sudah menyukai cewek itu bahkan sampai sekarang. Itu terlihat jelas saat Jesicha datang kembali ke Jakarta, Samuel segera pulang dari luar negeri demi melihat pujaan hatinya itu. Tapi sayangnya Samuel tak tahu, Jesicha telah berpacaran dengan Dira yang adalah mantan kekasihnya Mona sekaligus cinta pertamanya.
"Mbok, ini harus ditambahin apa?" tanya Mona sambil terus menggoreng nasi goreng seafood diwajan, dan melihat-lihat bumbu-bumbu yang diletakkan Mbok Narsih di sampingnya. Disaat yang bersamaan Samuel telah ada di dapur, sambil memberi isyarat pada Mbok Narsih, Samuel datang mendekati Mona dengan diam-diam dan berusaha langkah kakinya tidak didengar Mona. Begitu mendapatkan Mona, dia menutup matanya Mona yang sambil menggoreng membuat Mona menjerit, tapi kemudian dia mencium aroma parfum yang memang sangat dikenalinya. Aroma parfum kakaknya, Samuel.
"Huh .. Samuel, lepasin!" sungut Mona
"Kamu tuh ya .. udah tahu masak?" tanya Samuel sambil melepaskan tangannya dari mata Mona.
Mona hanya mencibirkan bibir mungilnya membuat kakaknya tertawa kecil dan mengisyaratkan untuk Mbok Narsih agar membantu Mona memasak. Mbok Narsih mengerti dan mulai mengambil ahli wajan yang dipegang Mona.
"Uh .. adik kakak ini ternyata sudah tahu masak loh." kata Samuel sambil mendekap adiknya dan membuat berantakan rambut Mona. Hal yang paling tak disukai Mona adalah membuat rambutnya berantakan. Tapi entah kenapa kali ini benar-benar dia tak menggubrisnya. Kakaknya ada disini seharusnya dia senang, tapi pikirannya benar-benar tak berada didalam jiwanya saat itu. Dia memikirkan Dira, ya siapa lagi kalau bukan Dira yang saat ini telah menjadi milik Jesicha. Tapi kakaknya seolah mengerti perasaannya, kakaknya juga mengetahui soal Dira bahkan mengenalnya dengan baik. Karena Dira adalah anak teman kedua orang tua mereka. Hanya saja dia tak tahu bahwa Dira sudah datang kembali ke Indonesia dan bahkan sekarang telah menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih dengan Jesicha, cewek yang selama ini mengusik hatinya.
"Hei, kenapa kamu?" kata Samuel sambil mendekap adiknya lebih erat, membuat Mona ikut memeluk kakaknya untuk menyembunyikan matanya yang sudah mulai berkaca-kaca. Samuel tak ingin lebih membuat adiknya sedih dengan pertanyaannya lagi jadi dia hanya memeluk adiknya tuk beberapa lama sampai Mbok Narsih memanggil mereka berdua untuk makan malam.
"Mbok, sejak tadi aku belum lihat Jesicha. Kemana ya?" tanya Samuel disela-sela mereka menikmati makan malam mereka.
"Mbok nggak tahu den. Tadi pagi-pagi sekali non Jesicha sudah pergi tanpa pamit sama mbok. Mbok pikir non Jesicha lagi terburu-buru jadi tak apa. Tapi benar den, mbok nggak tahu kemana perginya. Mungkin sama den Dira."
"Dira?" tanya samuel kaget mendengar nama Dira dan disaat bersamaan pula Mona yang sedang meminum air tersedak membuat kakaknya jadi mengalihkan perhatian kepadanya dan langsung berdiri disampingnya dan menepuk punggungnya.
"De , kamu nggak apa-apa?" tanya Samuel
"Non, non nggak apa-apa?" tanya Mbok Narsih juga, "Tuangkan air lagi pada gelasnya non Mona." perintah Mbok Narsih kepada seorang pembantu yang lain yang bergegas menuangkan air digelasnya Mona.
"Minum pelan-pelan" kata Samuel.
Setelah beberapa saat kemudian, Mona dan Samuel lalu melanjutkan makan malam mereka kembali. Mbok Narsih kemudian mulai berpamitan pada keduanya untuk pergi keluar sebentar menengok seseorang kata Mbok Narsih. Mona dan Samuel mengizinkannya, disaat yang sama bel pintu rumah juga berbunyi.
"Nah mungkin itu non Jesicha baru pulang." kata Mbok Narsih, "Didim, ayo! sekalian kita juga harus pergi." sambung Mbok Narsih dan mang didim menyahut mengiyakannya. Mereka berdu segera pergi membukakan pintu untuk Jesicha dan berpamitan untuk pergi.
"Non, baru pulang?" tanya Mbok Narsih setelah membukakan pintu rumah dan mempersilahkan Jesicha dan Dira untuk masuk. "Kebetulan non, mbok mau pamit sebentar keluar dengan Mang Didim." kata Mbok Narsih sesaat setelah Jesicha duduk dikursi dengan wajah tanpa ekspresi apapun.
Kembali dia teringat kejadian tadi siang, saat dia bertemu dengan Rosa, yang adalah ibu tirinya, istri kedua ayahnya.
Di sebuah kafe ..
"Kamu sudah tahu kan, kondisi papa kamu kayak gimana sekarang?" tanya Rosa, "Well .. aku nggak akan basa-basi. Aku akan minta kamu tanda tangani surat ini, surat pernyataan kalau semua harta milik papa kamu, yang diberikan kepadamu, diserahkan kepadaku atas nama Rosa Candrawinata." katanya sambil menyodorkan surat di sebuah map untuk Jesicha.
"Begitukah? Inginkah sekali kamu menguasai seluruh uang papaku? Aku nggak sebodoh dan selugu dulu ma. Aku akan berusaha melindungi semua harta milik papaku dari peremupuan materiil seperti kamu." tegas Jesicha.
Tapi kata-kata Jesicha sama sekali tak membuat Rosa untuk berhenti dari niatnya yang buruk. Sambil tersenyum sinis, Rosa mengambil sebuah surat. Didalam surat itu berisi permintaan ayahnya Jesicha untuk mencari ibunya Jesicha yang masih hidup. Surat itu tertuju kepada Mang Didim. Lebih membuat Jesicha kaget dengan isi surat itu adalah bukan cuma mencari ibunya yang masih hidup, tapi ternyata mencari anak ibunya yang masih bayi baru beberapa bulan, anak yang dibuang ibunya dulu saat akan menikahi ayahnya karena saat itu keluarga ayahnya tak mengizinkan ibunya untuk membawa anaknya masuk ke rumah mereka dan menikah dengan ayahnya. Karena begitu besar cintanya pada ayahnya sampai dia membuang anaknya sendiri dan sekarang ayahnya benar-benar merasa bersalah terhadap istrinya yang adalah ibunya Jesicha yang telah di ceraikannya karena keluarganya dan Rosa, dan juga kepada anak ibunya yang tak lain adalah saudara tirinya Jesicha. Mereka berdua mempunyai ibu yang sama hanya ayah yang berbeda. Kata demi kata dibaca Jesicha sambil menangis. Hatinya benar-benar dibalut emosi yang tertahan hingga dia meremas-remas pinggiran surat itu. Justru hal itu yag dinantikan Rosa, lagi-lagi dia tersenyum sinis rasanya belum puas dia untuk membuat Jesicha bertekuk lutut dihadapannya dan menyerahkan semua harta kepadanya. Dia lalu mengambil beberapa buah foto dan menyerahkannya kepada Jesicha. Didalam foto-foto itu ada foto ibunya, dia dan ayahnya, juga di foto lain ada foto ibunya menggendong seorang bayi yang dibawahnya bertuliskan nama Aura, tentu saja itu bukan fotonya. Jesicha tak mampu lagi berkata-kata, dari matanya hanya mengeluarkan kumpulan serpihan emosi yang tampak jelas membuat matanya berkaca-kaca.
"Aku akan beri tahu segalanya dimana ibumu, dan saudaramu. Selebihnya kamu harus tanyakan sendiri kepada Mbok Narsih dan Mang Didim. Karena mereka juga mengetahun semuanya kemudian kamu bisa menemukan ibumu yang sudah gila itu dan saudaramu yang lain." kata Rosa sambil tersenyum penuh kemenangan saat Jesicha menyetujui kata-katanya dan menandatangani surat kuasa kepemilikan harta. Kemudian Rosa menceritakan semuanya kepada Jesicha lalu setelah selesai dia pergi meninggalkan Jesicha yang masih duduk terbujur kaku tak tahu harus mengatakan apa. Hanya satu telepon yang dipanggilnya, yaitu Dira dan akhirnya Dira datang menemuinya dan menenangkannya.
Kembali dia tersadar sesaat sebelum Mbok Narsih dan Mang Didim hendak keluar dari pintu.
"Mau kemana?" tanya Jesicha saat Mbok Narsih dan Mang Didim akan keluar. "Aku mau bicara mbok!" kata Jesicha dengan tegas. Tatapan matanya juga tampak begitu tegas melihat Mbok Narsih dan Mang Didim yang mengehntikan langkah kakinya keluar.
"Mbok .. mbok tega sama aku! Mbok tega nggak bilang sama aku selama ini tentang mama?" tanya Jesicha sambil berdiri dan menatap Mbok Narsih dengan tatapan mata berkaca-kaca. Ingin dia menangis tapi dia harus menahan emosinya demi mengetahui semuanya. "Mbok juga tahu kan, kalau aku punya saudara lain dari mama? Aku punya seorang kakak. Mbok tahu itu kan?!" tanya Jesicha dengan nada setengah histeris, tanpa dia sadari airmatanya perlahan menetesi pipinya. "dan kamu .." sambil menunjuk kearah Mang Didim, "kamu aku sudah ingat kamu. Kamu yang waktu itu datang ke ruangan kerja mama dan mengatakan sesuatu ke mama dan saat papa datang dengan Rosa si nenek lampir itu, papa mengira kalian berselingkuh!" sambungnya lagi sambil menangis, Dira lalu berusaha mendekapnya untuk menenangkannya. "Aku melihat mama diseret keluar dari rumah oleh Rosa sementara papa hanya terdiam melihat mama diseret dengan tak adil. Aku ingat semuanya. Aku sudah ingat semua" kata Jesicha yang nada suaranya semakin besar hingga terdengar oleh Samuel dan Mona, yang segera berlari kearah ruang tamu depan.
Jesicha sudah terduduk sambil menangis didekapan Dira. Mbok Narsih dan Mang Didim juga ikut menangis, akhirnya semuanya terungkap. Rahasia bertahun-tahun yang disimpan rapat dengan baik akhirnya terungkap satu per satu.
"Maaf Non .. Maafkan Mbok, maafkan kami." kata Mbok Narsih sambil mendekati Jesicha. Jesicha menepiskan belaian tangan Mbok Narsih dan mendorong Mbok Narsih ke lantai. Mang Didim segera mengangkat Mbok Narsih kembali berdiri dan mendekap ibunya itu.
"Non, maafkan mamang dan ibunya mamang. Ketika Tuan besar tahu yang sebenarnya beberapa waktu lalu, Tuan besar jadi sakit-sakitan. Tuan besar pun tahu bahwa Nyonya muda Rosalah yang telah merencanakan semuanya bersama dengan keluarganya Tuan besar. Mamang dipanggil kembali dan disuruh mencari Nyonya besar dan nona muda, kakaknya non."
Kesaksian itu didengar Mona dan Samuel yang sudah berada disitu sejak Mbok Narsih didorong Jesicha hingga jatuh dilantai. Begitu Samuel melihat Jesicha didalam dekapan sosok cowok yang sangat dikenalnya dengan baik, siapa lagi kalau bukan Dira dia juga merasakan sakit yang sama seperti Mona dan mulai menyadari hal inilah yang ternyata membuat perubahan pada adiknya, Mona.
"Mamang tahu dimana ibunya non. Ibunya non masih hidup dan tinggal disebuah panti rehabilitasi khusus yang dibangun oleh dokter Herlambang, ayahnya den Samuel dan Mona, Mona adalah anak ibunya non juga yang tak lain adalah saudara tirinya non." tutur mang Didim menjelaskan pada Jesicha.
Mendengar nama Mona diungkap sebagai saudaranya, Jesicha langsung terbangun dari duduknya, badannya terasa lemas, kakinya tak mampu bertumpu lagi. Bukan hanya Jesicha, Samuel, Dira dan Mona terbelalak mendengar pernyataan mang Didim. Memang selama ini Samuel sudah tahu, bahwa Mona bukan adik kandungnya, karena dia waktu itu sudah cukup besar untuk mengetahuinya tapi dia diminta ole kedua orang tuanya untuk tidak mengatakannya kepada siapapun dan dia juga sangat menyanyangi Mona sebagai adik kandungnya. Mona yang mendengar penuturan itu syok dan berteriak histeris, airmatanya juga berjatuhan tak henti.
"TIDAK!" kata Mona yang memecah keheningan membuat mereka semua menatap Mona dengan kaget bahwa dia mendengar semuanya juga. Bahkan Dira lebih kaget begitu melihat sosok cewek yang selama ini ingin diperkenalkan Jesicha, kekasihnya itu adalah Mona, cinta pertamanya. "Tidak! Tidak! Tidak Mungkin!" kata Mona sambil memukul-mukul dadanya bahkan rasanya ingin mencabut seluruh pakaian ditubuhnya, tak lama dirinya langsung terjatuh pingsan.
"Mona!" teriak Samuel, Dira dan Jesicha serentak. Bahkan Dira lah yang berlari sangat cepat mendapatkan Mona, hal itu disadari Jesicha namun sesaat kemudian dia lalu berlari lari mendapatkan Mona, begitu juga Samuel ikut berlari. Mang didim dan Mbok Narsih juga ikut berlari mendapati Mona yang terkapar dilantai.
Tanpa menunggu komando, Dira langsung menggendong Mona berlari menuju mobil yang ditunjuk Samuel yang berlari mengikutinya, juga Jessicha ikut berlari menyusul setelah meminta Mbok Narsih mengurus segala sesuatu yang diperlukan Mona.
Begitu sampai di rumah sakit, Dira menyerahkan Mona kepada Samuel yang segera menyerahkan perawatan Mona pada pihak rumah sakit. Samuel lalu mengurus biaya administrasi dan segala sesuatu yang diperlukan di rumah sakit untuk perawatan dijalankan pada adiknya. Dari luar ruangan, Dira hanya menatap Mona yang terpapar tak berdaya dikasur ruangan rumah sakit. Tingkah laku Dira yang lebih khawatir terhadap Mona tertangkap lagi oleh Jesicha.
Jesicha lalu memegang bahunya Dira, dan begitu melihat Jesicha, Dira tampak pula merasa bersalah lalu memeluk Jesicha dan menangis.
"Maaf." kata Dira.
Jesicha tak membalas kata-katanya, hanya memeluk Dira lebih erat.
Keduanya lalu berjalan dan duduk ditaman. Lama sekali tak satupun dari keduanya memulai pembicaraan.
"Ada yang ingin kamu bicarakan Dir?" tanya Jesicha memulai pembicaraan.
"Aku .."
"Kamu menyukai Mona?" tanya Jesicha lagi, "Maksudku, sebelumnya kamu pernah mengenal kakakku, Mona?"
Dira hanya manggut-manggut. Hal itu membuat Jesicha menarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskannya. "Huh .."
"Maafkan aku Cha. Aku nggak bermaksud seperti ini." kata Dira
"Aku tahu , aku tahu. Justru aku lah yang harus minta maaf. Ternyata akulah yang merebut kamu dari Mona, yang tak lain ternyata dia adalah saudaraku, anak dari ibuku." kata Jesicha itu ternyata membuatnya harus meneteskan lagi airmatanya.
"Maafkan aku, aku nggak pernah cerita sama kamu kalau aku pernah punya cinta pertama, yaitu Mona." kata Dira lagi sambil menatap Jesicha dan menggenggam tangannya erat-erat. "Aku dulu ninggalin dia karena terpaksa aku harus mengikuti orang tuaku ke luar negeri jadi aku mencari alasan kalau dia tak pernah perhatian padaku. Jadi aku ninggalin dia. Mungkin selama ini dia berpikir dialah yang menyia-nyiakanku, tapi sebenarnya akulah yang telah melukai hatinya, akulah yang menyia-nyiakannya. Aku pikir, kalau aku sudah meninggalkannya, aku takan mungkin ketemu dia lagi jadi aku akan baik-baik saja dan ketika kembali kesini, aku pikir aku bisa memulai hidupku lagi" jelas Dira sambil meneteskan airmatanya juga.
"dan sekarang, kamu belum bisa kan untuk melupakannya?" tanya Jesicha. Dira hanya manggut-manggut membuat Jesicha lalu memeluknya. Dira juga ikut memeluknya.
Ternyata dari kejauhan saat mereka berdua berpelukan, Samuel yang saat itu sudah membawa kedua orang tuanya datang masuk dalam kamar Mona melihatnya, Samuel malah melihat Dira dan Jesicha sedang berpelukkan.
Dalam hati, Samuel sudah pupus harapan pada Jesicha. Hatinya sakit tapi dia mencoba untuk bersikap biasa. Karena dia tak ingin Jesicha tahu tentang perasaannya.
"Ma .. Paa .." kata Mona saat matanya mulai membuka pelan-pelan.
"Sayang .. ini mama, mama disini. Ada papa juga sayang." kata wanita setengah baya yang tak lain adalah Nyonya Herlambang, ibu dari Samuel dan ibu yang telah memelihara dan menjaga Mona seperti anak kandungnya sendiri.
"Iya sayang. Papa disini." kata dokter Herlambang, mengiyakan kata-kata istriya.
"Sam, kenapa adikmu?" tanya ibu Herlambang
Samuel lalu menceritakan semuanya kepada kedua orang tuanya.
"Papa sudah tahu suatu saat ini akan terjadi. Ternyata secepat ini .."
"Pa, ma .." kata Mona lagi begitu matanya telah terbuka dengan baik.
"Hei sayang," sapa dokter Herlambang sambil menggenggam tangan anak kesayangannya itu. "Papa yang akan ngambil alih perawatan kamu, tenang saja ya sayang." sambung papanya
"Permisi, oom .. tante .." sapa Jesicha dan Dira begitu masuk dalam kamar perawatan Mona.
"Jesicha .. ayo masuk." kata ibu Herlambang, "Eh kamu Dira kan?" tanyanya lagi
"Iya tante, oom. Ini aku Dira"
"Oh bagaimana kabar papamu dan mamamu disana?" tanya dokter Herlambang
"Baik oom, terima kasih."
"Oh ya papa akan pergi berbincang dengan dokter Rafa yang tadi menangani kamu. Tunggu ya Mona" kata dokter Herlambang.
Setelah dokter Herlambang pergi, ibu Herlambang lalu menceritakan kisah dulu waktu mereka mengambil Mona di depan rumahnya. Aura nama depannya Mona adalah nama pemberian yang dituliskan disurat yang diletakkan di kerangjang bayi Mona. Cerita selengkapnya diteruskan oleh Mbok Narsih dan Mang didim begitu tiba di kamar perawatannya Mona. Setelah semua cerita usai, Mona dan Jesicha tersenyum dan berpelukkan. Begitu pula Dira dan Samuel juga ikut berpelukan. Semua orang didalam ruangan perawatan itu juga ikut berpelukan rahasia yang terungkap awalnya mendatangkan kesedihan tapi akhirnya bisa mendatangkan kebahagian bagi mereka semua.
Beberapa hari setelah Mona keluar dari rumah sakit, Mona membawa Jesicha bertemu dengan
wanita setengah baya yang beberapa waktu lalu Mona juga pernah membawanya kesini, ke tempat panti rehabilitasi ini. Waktu itu mereka datang sebagai sahabat, karena tidak saling mengetahui mereka mempunyai ibu yang sama. Sekarang mereka datang sebagai saudara. Walaupun beda ayah tapi keduanya saling menyayangi tak seperti Jesicha dengan saudara tirinya yang lain dari istri kedua ayahnya. Memang agak sulit mempertemukan Jesicha dan ibunya yang juga ibunya Mona karena ibu mereka ini mengalami gangguan kejiwaan walau tak separah orang lain. Hanya saja dia tak mampu mengenali anaknya Jesicha. Anehnya waktu itu dia hanya mengenali Mona saat pertama mereka bertemu dia menyebutnya anaknya. Mungkin perasaan seorang ibu, tapi lama-kelamaan dia mengenali anaknya Jesicha juga ketika Jesicha menunjukkan liontin yang dipakainya itu.
Sedangkan kisah cinta Jesicha dan Dira berakhir begitu saja. Jesicha melepaskan Dira untuk kembali kepada Mona, kakaknya sekaligus sahabatnya karena dia juga sudah mengetahui tentang perasaan Samuel kepadanya. Dira dan Mona kembali bersatu. Kebahagian keduanya segera mereka resmikan dengan pertunangan setelah Mona pulang dari London menyelesaikan kuliah lanjutnya disana. Sementara Samuel dan Jesicha juga bersatu dalam ikatan pernikahan dan mempunyai seorang bayi yang lucu. Beberapa tahun berlalu, Mona kembali ke Jakarta dan meresmikan hubungannya dengan Dira, tak lama kemudian mereka berdua juga menyusul menikah. Sedangkan ibunya mereka berdua akhirnya tinggal lagi bersama mereka setelah sembuh total dari gangguan kejiwaannya, ya kadang-kadang dia tinggal di rumah Mona, kadang juga tinggal di rumahnya Jesicha. Akhirnya mereka semua hidup bahagia selamanya.
"Hei .." panggil Mona mengagetkan Jesicha dari lamunannya sejak tadi.
"Eh, ada apa Mon?" tanya Jesicha seolah tak menyadari sejak tadi dirinya sedang diamati dengan seksama oleh Mona.
"Mikirin apa sih? Kamu bengong saja daritadi." kata Mona dengan kening terangkat.
"Aku, aku .."
"Ah sudahlah, tak apa." potong Mona, sambil tertawa kecil dia membuka pintu mobil. "Yuk turun. kita sudah sampai" sambungnya lagi
Jesicha lalu tersenyum dan kemudian mengikuti sahabatnya itu turun dari mobil BMW merah tersebut.
"Mau kemana kita Mon?" tanya Jesicha
Dengan tawa kecilnya Mona hanya menggandeng tangan Jesicha memasuki pelataran sebuah panti rehabilitasi milik keluarganya. Panti ini dibangun saat dia masih kecil, tepatnya saat dia memasuki sekolah dasar ayahnya mendirikan sebuah panti rehabilitasi khusus untuk orang-orang dengan gangguan kejiwaan. Semenjak Mona menduduki bangku SMA, dia sering datang ke tempat itu. Yah hal itu terus dilakukannya saat dia menemukan seorang wanita setengah baya dengan pakaian ataupun penampilan yang tak terurus, sedang memakan makanan sisa dari bak sampah sambil memegang boneka barbie yang juga tampak tak terurus juga dirinya sedang disorakin oleh sekelompok anak kecil dengan sebutan, "Orang gila." Muncul rasa kasihan dihatinya, dan akhirnya membawa wanita itu ke tempat panti rehabilitasi milik keluarganya. Bahkan rasa sayangnya sedikit berbeda kepada wanita itu hingga dimintakan kepada ayahnya agar menempatkan kamar perawatan spesial untuk wanita itu.
Saat mereka memasuki koridor, banyak suara sorak bergembira dari hampir semua pasien di sepanjang taman samping koridor panti itu saat melihat kedatangan Mona. Walaupun mereka dengan gangguan kejiwaan, tapi saat melihat datangnya Mona, mereka yang bertingkah aneh langsung saja jadi kalem bahkan penurut bahkan kelihatan seperti orang sehat datang dan memeluk Mona yang menyambut pelukan mereka satu per satu dengan hangatnya sambil tersenyum manis.
Namun hanya satu pasien di taman itu yang hanya duduk di kursi rodanya sambil menatap sebuah ayunan yang berseberangan dengan sejumlah tanaman bunga mawar, sambil memegang boneka barbienya.
Setelah memperkenalkan Jesicha pada pasien-pasien di panti itu, Mona tersenyum sambil berjalan cepat mendapati wanita setengah baya itu. Jesicha hanya mengikutinya pelan dari belakang.
"Mama," sapa Mona begitu mendapati wanita setengah baya yang duduk di kursi roda itu, "Mama kok sendirian disini?" tanya Mona
"A-na-nak-ku .." kata wanita setengah baya ini dengan terbata-bata seakan suaranya juga hilang ditelan bumi
"Mama, kangen sama Mona?" sambung Mona lagi sambil tersenyum. Wanita setengah baya itu hanya manggut-manggut namun airmatanya jatuh membasahi pipinya.
"Loh .. kok mama nangis? Mona jadi ikut-ikutan sedih. Yah jangan nangis dong ma," pinta Mona sambil mengahapus airmata wanita setengah baya itu kemudian memeluknya.
Sedangkan Jesicha hanya berdiri beberapa langkah di belakang mereka. Dia tak ingin mendekat. Entah kenapa ada sesuatu hal yang bahkan dirinya tak tahu itu apa, ada juga rasa ya rasa ingin melihat sosok waanita yang disebut mama oleh Mona, walaupun bukan ibu kandungnya Mona. Karena yang Jesicha tahu Mona adalah anaknya keluarga Herlambang, dan sahabat dekatnya adalah Mona.
Tak lama mereka bermain di panti rehabilitasi itu, Jesicha yang pada awalnya kalem akhirnya jadi ikut-ikutan menjadi periang saat melantunkan beberapa lagu dan bergoyang bersama beberapa pasien yang sudah hampir sembuh total dan beberapa perawat khusus kejiwaan. Setelah bersenang-senang seharian bersama pasien-pasien itu, mereka berdua pamit untuk pulang.
Mobil merah itu lalu melaju kembali dan akhirnya sampai juga mereka memasuki pelataran halaman depan tempat memarkirkan kendaraan rumah itu.
Mona tampak tersenyum melihat mobil siapa yang sedang parkir lebih dulu tepat di sebelah mobil miliknya. Sedangkan Jesicha tampak bingung melihat mobil itu.
Mereka berdua berjalan memasuki rumah besar dan mewah milik Jesicha itu. Begitu sampai di depan pintu, Jesicha kaget melihat sosok cowok tampan dihadapannya yang berdiri sambil membukakan pintu untuk mereka berdua dan tersenyum lebar. Matanya berbinar-binar.
"Kak Samuel?" tanya Jesicha dengan nada terbata-bata takut dia salah menyebutkan nama cowok dihadapannya ini.
"Hai." sapa Samuel. Samuel adalah kakaknya Mona, yang begitu mendengar cerita dari Mona, adiknya bahwa Jesicha akan kembali ke Jakarta, hari itu langsung pulang kembali ke Indonesia dari Spanyol.
Sambil tertawa melihat tingkah Jesicha dan Samuel, Mona dengan girangnya langsung memeluk Samuel kakaknya setelah sekian lama mereka juga tak bertemu. Kakak-beradik ini bertingkah seperti mereka dulu masih kecil dengan berlari-lari saling mengejar sampai salah satu tertangkap. Tingkah mereka berdua diperhatikan oleh Jesicha yang masuk sampai ke ruang tengah melihat kakak-beradik ini.
"Nah! ketangkap kamu!" kata Samuel saat dia mendapati adik perempuannya itu dan memeluknya sambil mengangkatkannya tubuhnya sedikit. Kakak-beradik ini tertawa riang melepas kerinduan mereka. Mona memang sangat manja kepada kakaknya tapi kadang dia juga sangat usil mengerjai kakaknya. Walaupun sering dibuat kesal, tapi Samuel selalu saja dibuat tertawa oleh adiknya.
"Eh , udah ah kakak! Aku udah gede tahu!" kata Mona dengan ketus, sambil mencibirkan bibirnya. Kakaknya hanya dibuat ketawa kecil melihat ekspresi wajahnya, namun tatapan matanya tiba-tiba berbelok ke arah berdirinya Jesicha yang menatap dan mendengar pembicaraan mereka sedaritadi. Mona menyadari hal itu lalu memanggil Jesicha. Mereka bertiga lalu duduk bersama-sama di ruang tengah itu sambil mengingat masa kecil mereka. Sebenarnya Jesicha hanya ikut tertawa bersama, karena dia tak bisa memungkiri hatinya berkata lain. Jika berbicara tentang masa kecil, walau dia berusaha tertawa namun hal itu malah membuat hatinya menangis melihat hidupnya tak seindah hidupnya Mona.
"Bi, Mbok Narsih dimana?" kata Jesicha disela-sela tawanya Samuel dan Mona, yang sesaat terdiam dari tawa dan candaan mereka berdua.
"Mbok Narsih lagi pergi diantar mang Didim, non." jawab seorang asisten pembantu yang tepat saat itu meletakkan beberapa jenis makanan ringan di meja.
"Kemana?" tanya Jesicha lagi
"Waduh kalo soal itu bibi kurang tahu non. Soalnya mbok Narsih gak pernah kasih tahu non." jelasnya lagi.
Jesicha hanya manggut-manggut dan melanjutkan pembicaraan mereka bertiga yang tadi sempat tertunda. Hampir semalaman mereka bertiga habiskan dengan mengobrol tentang masa kecil mereka bertiga saat mereka bermain bersama ditaman samping rumah ini, rumah Jesicha ini.
Keesokkan harinya, Jesicha dan Mona memasuki awal semester baru ditempat mereka menuntut ilmu di fakultas kedokteran sebuah perguruan tinggi ternama di Jakarta. Jesicha dan Mona bukan hanya cantik tapi mereka termasuk anak yang pandai dan lulus dengan predikat terbaik di sekolahnya masing-masing. Keduanya juga sama-sama menyukai hal yang sama. Dulu sewaktu mereka kecil, pernak-pernik mereka selalu sama karena mereka sering bermain bersama sejak mereka kecil. Umur mereka hanya berbeda setahun. Mona lebih tua usianya dari Jesicha. Tapi meskipun begitu, keduanya memang sangat akrab. Walau mereka berdua sudah berpisah bertahun-tahun lamanya, tapi keduanya terlihat akrab setelah mereka bertemu lagi.
Saat mata kuliah jam pertama selesai, Jesicha dan Mona sepakat akan bertemu di perpustakaan untuk mempelajari beberapa hal yang tadi di bahas di ruang kuliah oleh dosen. Lalu keduanya berpisah di koridor. Mona berjalan ke ruangan assiten rektor III karena saat itu dia dipanggil untuk mengikuti test pertukaran mahasiswa ke London walau dia baru semester 1 tapi dia memang sangat terkenal di kampus itu baik itu oleh dosen maupun mahasiswa bahkan sampai officce boys dan girls juga mengenalnya karena sikapnya yang bersahabat dengan siapa saja dan dia adalah sosok anak yang periang. Hal itu juga karena dia memang mengikuti jejak ayahnya, Pak dokter Herlambang yang adalah salah satu mahasiswa terpandai yang pernah melakukan tes tersebut sewaktu dia kuliah dan mendapatkan kesempatan ke London untuk melanjutkan kuliahnya di fakultas kedokteran London.
Sedangkan Jesicha berjalan menuju ke perpustakaan. Sambil menunggu Mona, dia mulai mencari-cari buku di deretan buku-buku kesukaannya tentang anatomy dan fisiologi manusia. Saat sedang mencari-cari buku tersebut, dari arah berseberangan tampak pula seorang cowok tampan yang kehadirannya sejak tadi diperhatikan beberapa cewek di ruang perpustakaan tersebut. Saat menemukan buku yang dicari, tak di duga kedua insan yang berseberangan ini sama-sama saling bertatapan saat mengambil buku yang letaknya berlawanan tapi ada sedikit cela diantara deretan buku yang membuat mereka saling bertatapan satu sama lain. Dua pasang mata yang sama-sama indah menunjukkan keindahan dimatanya dan keindahan Sang Pencipta yang menganugerahi kedua pasang mata yang indah ini. Untuk beberapa lama kedua pasang mata mereka tidak berkedip. Tak lama Jesicha tersadar dari pikirannya sejak tadi. Kedua pasang mata itu langsung saja berhenti saling menatap dan segera keduanya sama-sama mengambil buku yang diinginkan masing-masing. Sesaat kemudian, Jesicha langsung bergegas keluar dari blok deretan buku itu lalu mencari tempat duduk sekaligus menghindari tangan dari cowok tadi yang menghampirinya tepat di depan blok deretan buku tempat tadi dia mencari buku. Dengan langkah agak dipercepat, Jesicha melangkah menuju tempat duduk tepat di pojokan ruang perpustakaan itu dan langsung mendudukinya. Wajahnya seakan sedang dipanggang dibara api. Jantungnya tak lagi berdegup dengan teratur. Dalam hati dia mengutuk dirinya sendiri kenapa harus bertemu lagi sama cowok itu. Dia sendiri masih mengingat kejadian di bandara beberapa hari lalu saat dia tiba di bandara dan salah mengambil koper yang sebenarnya adalah milik cowok itu. Perasaan malunya membuat dia tak sanggup mengatakan apapun saat dia bertemu cowok itu lagi.
"Hai," sapa cowok tampan berdada bidang itu saat dia menghampiri Jesicha dan duduk dikursi sebelahnya.
Jantung Jesicha seakan hampir terlepas saat mendengar suara itu. Degupan jantungnya semakin cepat tak teratur. Mulutnya seakan berbusa. Yah dia tak mampu membalas sapaan cowok disebelahnya akhirnya dia pura-pura saja tak mendengar sapaan itu. Tapi wajahnya yang memerah seakan tak bisa dipungkiri oleh dia dan itu tampak jelas apa yang dilihat si cowok, wajahnya memerah. Sambil tersenyum, cowok tampan itu memulai lagi pembicaraannya walau saat itu dia benar-benar tak dipedulikan oleh Jesicha.
"Kamu ingat nggak sama aku? Kita pernah ketemu loh." kata cowok tampan itu.
"Aku ingat kok." kata Jesicha pelan namun tak berani memalingkan wajahnya ke arah si cowok.
"Waktu itu kamu ketinggalan ini juga saat kamu ngembaliin koper aku yang salah kamu ambil." kata si cowok sambil menyerahkan liontin bergambar seorang ibu sedang memeluk anaknya. "Ini punya kamu kan?" sambungnya
"Ah .. ini .. " kata Jesicha tertahan saat menatap liontin itu
"Ini punya kamu kan?" tanya si cowok lagi
Jesicha manggut-manggut, "Terima kasih." sambil mengambil liontin itu
"Oh iya kita belum saling mengenal nama. Aku Dira." katanya sambil menyodorkan tangannya untuk menyalami Jesicha. "Kamu?"
"Aku Jesicha" jawab Jesicha sambil membalas sapaan tangan Dira, si cowok tampan itu.
Mereka berdua lalu mulai bercerita satu sama lain, saling bertukar pendapat tentang buku yang mereka ambil. Karena kebetulan, Dira juga adalah salah satu anak fakultas kedokteran hanya saja dia 2 tingkat diatas Jesicha dan Mona. Topik yang mereka bahas semakin menarik sampai-sampai Jesicha dan Dira tak menyadari kehadiran Mona yang jaraknya hanya beberapa langkah dari keduanya. Mata itu menatap keduanya. Tampak mata Mona seakan berwarna abu-abu, yah apalagi kalau bukan dia sedang berusaha menanahan airmatanya. Matanya benar-benar berkaca-kaca saat melihat cowok tampan dihadapannya. Cowok tampan yang sudah tak asing lagi baginya dan yang semakin membuat hatinya rapuh saat itu adalah kedekatan Jesicha dan Dira.
Mona benar-benar tak tahan lagi untuk meluapkan kesedihan dan amarah yang selama ini terpendam. Dia berlari meninggalkan mereka berdua yang masih asyiknya mengobrol tanpa menghiraukan apapun disamping bahkan yang sedang melihat mereka berdua. Dia berlari kencang mencari tempat yang paling sunyi, tempat yang jarang sekali didatangi mahasiswa. Dia naik ke balkon terbuka dilantai 4 gedung fakultas mereka, dia duduk ditepi pembatas balkon yang juga banyak ditumbuhkan sekelompok bunga-bunga.
"Mengapa? mengapa hatiku sesakit ini? mengapa kamu datang lagi? mengapa kamu kembali kesini? dan mengapa saat kamu kembali, bukan aku yang kamu temui pertama? mengapa Dira?" tanya Mona dalam hatinya sambil menangis tersedu-sedu. Sesaat dia tampak seperti bukan sosok Mona yang periang. Dia rapuh, rapuh saat Dira datang lagi, datang lagi tapi bukan dia yang ditemui. Dia harus akui, dalam lubuk hatinya takan pernah bisa menggantikan posisi Dira dengan cowok manapun.
Beberapa jam kemudian, mata kuliah kedua untuk kelasnya Jesicha dan Mona akan segera dimulai. Jesicha menghampiri Mona yang sudah berada di ruangan kuliah.
"Mona, aku tunggu kamu di perpus berjam-jam kamunya nggak datang." kata Jesicha, "Gimana tesnya? kapan?" tanya Jesicha dengan polos karena memang dia tak tahu tentang apa yang terjadi tadi pada Mona saat Mona datang tapi tak diketahui Jesicha.
"Iya , tadi aku nggak sempat kesana soalnya aku sibuk ngurus kelengkapan data-datanya untuk dikirim." katanya kepada Jesicha. Tentu saja dia sedang berbohong.
"Baiklah."
Dua Jam setengah perkuliahan pun berakhir, Mona cepat-cepat bergegas menuju mobil sebenarnya untuk menghindari sosok cowok yang sedang memanggil Jesicha dari jauh begitu mereka ada tempat parkiran kendaraan. Dari dalam mobil, Mona hanya memperhatikan Jesicha yang sedang mengobrol dengan Dira lewat kaca spion mobilnya. Dalam hatinya menangis namun dia takan mungkin bisa menunjukkan hal itu didepan Jesicha.
"Hei, lama?" tanya Jesicha begitu memasuki mobil sambil memasangkan sabuk pengaman kursi duduknya.
"Nggak." jawab Mona dengan singkat sambil melajukan mobilnya kembali ke rumah. Untuk sementara Mona tinggal bersama Jesicha atas permintaan Jesicha sejak dia datang ke Jakarta.
"Oh ya, Mon .. aku baru ketemu tadi sama cowok yang pernah aku temui dia di bandara secara tak sengaja koper kami tertukar dan aku salah ambil koper miliknya." kata Jesicha menjelaskan sambil tersenyum. Mona hanya mendengarkan dan memperhatikan raut wajah Jesicha memang berbeda dari biasanya. Kali ini Jesicha tersenyum begitu ceria, seperti orang yang jatuh hati. Begitu yang tampak pada wajah Jesicha yang jelas terlihat oleh Mona. "Oh ya, kamu tahu nggak Mon, dia sangat tampan. Bukan cuma dia yang tampan, tapi namanya juga bagus banget" Jesicha terus menjelaskan kepada Mona tentang sosok cowok bernama Dira itu.
"Oh," Mona hanya mampu menngeluarkan kata itu dari mulutnya.
"Aku mau kenalin dia sama kamu tadi, tapi yah kamu malah masuk ke mobil duluan"
"Nanti lain kali saja Cha." katanya sambil terus berkonsentrasi membawa mobil. Jesicha mengiyakan kata-katanya.
Tak lama mobil merah itu memasuki pelataran depan rumah besar dan mewah itu.
Hari-hari terus berlalu, kedekatan Jesicha dan Dira menjadi semakin dekat. Kemanapun, Dira selalu mengajak Jesicha bersamanya. Terutama saat ke toko buku atau ke perpustakaan saat mereka berada di kampus. Bahkan kedekatan itu membuat diantara keduanya mulai tumbuh bibit-bibit cinta. Tak lama kemudian, Dira dan Jesicha jadian. Sementara setiap kali Dira datang di rumah Jesicha untuk menemuinya, Mona yang sudah mengetahui akan kedatangan Dira selalu berpura-pura sakit ketika setiap kali datang Dira datang. Akhirnya Jesicha tak pernah bisa memperkenalkan Mona pada kekasihnya.
Suatu sore Dira datang di rumah Jesicha untuk menemui Jesicha sekaligus setuju untuk berkenalan dengan sahabat dekatnya Jesicha begitu Jesicha memperkenalkan namanya Mona didepan Dira dan sering bercerita tentang Mona. Tapi lagi-lagi Mona bepura-pura untuk tidak bisa menemui Dira karena sedang sakit dan berusaha meyakinkan Jesicha untuk temui saja Dira, nanti lain kali saja baru Mona berkenalan dengan Dira. Jesicha pun setuju saja dengan permintaan Mona.
Di ruang tamu, Jesicha dan Dira tampak bermesraan sambil duduk bercerita tentang apa saja yang mereka suka. Tanpa disadari lagi, Mona sedang memperhatikan mereka dari bagian ruang tengah.
"Kamu begitu bahagia Dir, beda saat kita dulu. Kenapa harus dia? Kenapa harus dia? Aku juga butuh kamu, tolong perhatiin aku sedikit. Aku nggak bakal nyia-nyiain kamu lagi. Andai kamu tahu, aku masih menunggumu semenjak saat itu." kata Mona dalam hatinya, "Tapi aku akan coba untuk ngelerain kamu untuk dia. Aku sayang kamu Icha, Jaga dia untukku." lanjutnya lagi dalam hati. Setelah itu dia memasuki kamarnya menangis dalam kesunyian kamarnya. Hanya kamarnya saat itu yang seolah menjadi sandaran saat dia menangis.
Kisah cinta Dira dan Jesicha terus berlanjut. Sudah sebulan lamanya mereka menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Selama itu Dira belum pernah bertemu dengan Mona yang sering diceritakan Jesicha, bertatap langsung dengannya. Karena Mona terus saja selalu mencari alasan untuk menghindarinya. Mona tak mau bila nanti Dira tahu bahwa Mona yang dimaksud Jesicha adalah Mona, mantan kekasihnya yang tak lain adalah cinta pertamanya. Mona juga tak ingin membuat Dira saat melihatnya tiba-tiba menjadi sosok Dira yang membenci dirinya, atas kejadian di masa lalu yang memang masih terus membayangi Mona dan karena kejadian itu setiap saat, saat Mona sendirian bukan lagi sosok periangnya yang tampak tapi benar-benar sosok yang berbeda seratus delapan puluh derajat yaitu sosok Mona yang rapuh.
Sementara Samuel, kakanya Mona baru saja pulang dari Malang setelah 1 bulan lalu sebelum Dira dan Jesicha jadian, Samuel sedang berada di luar kota tepatnya ditempat kerjanya kedua orang tua Samuel dan Mona.
"Eh Mang Didim, dimana Mona dan Jesicha?" tanya Samuel begitu turun dari mobilnya dan melihat mang Didim sedang membersihkan mobil merah milik Mona.
"Non Jesicha lagi keluar den. Kalau non Mona lagi di dalam den sama mbok Narsih lagi nyiapin masakan kesukaan aden katanya hari ini karena aden pulang jadi non Mona lagi masak tuh den." jelas Mang Didim.
Sambil tertawa terbahak-bahak, "Serius mang? Sejak kapan adikku itu tahu masak?" tanyanya seakan tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Mang Didim.
Mang Didim hanya ikut tertawa dan setelah mengobrol dengan Mang Didim, Samuel pamit untuk masuk ke dalam rumah melihat Mona adiknya. Sebenarnya dia datang kesini juga untuk melihat Jesicha. Yah karena sejak merekaa kecil, dia sudah menyukai cewek itu bahkan sampai sekarang. Itu terlihat jelas saat Jesicha datang kembali ke Jakarta, Samuel segera pulang dari luar negeri demi melihat pujaan hatinya itu. Tapi sayangnya Samuel tak tahu, Jesicha telah berpacaran dengan Dira yang adalah mantan kekasihnya Mona sekaligus cinta pertamanya.
"Mbok, ini harus ditambahin apa?" tanya Mona sambil terus menggoreng nasi goreng seafood diwajan, dan melihat-lihat bumbu-bumbu yang diletakkan Mbok Narsih di sampingnya. Disaat yang bersamaan Samuel telah ada di dapur, sambil memberi isyarat pada Mbok Narsih, Samuel datang mendekati Mona dengan diam-diam dan berusaha langkah kakinya tidak didengar Mona. Begitu mendapatkan Mona, dia menutup matanya Mona yang sambil menggoreng membuat Mona menjerit, tapi kemudian dia mencium aroma parfum yang memang sangat dikenalinya. Aroma parfum kakaknya, Samuel.
"Huh .. Samuel, lepasin!" sungut Mona
"Kamu tuh ya .. udah tahu masak?" tanya Samuel sambil melepaskan tangannya dari mata Mona.
Mona hanya mencibirkan bibir mungilnya membuat kakaknya tertawa kecil dan mengisyaratkan untuk Mbok Narsih agar membantu Mona memasak. Mbok Narsih mengerti dan mulai mengambil ahli wajan yang dipegang Mona.
"Uh .. adik kakak ini ternyata sudah tahu masak loh." kata Samuel sambil mendekap adiknya dan membuat berantakan rambut Mona. Hal yang paling tak disukai Mona adalah membuat rambutnya berantakan. Tapi entah kenapa kali ini benar-benar dia tak menggubrisnya. Kakaknya ada disini seharusnya dia senang, tapi pikirannya benar-benar tak berada didalam jiwanya saat itu. Dia memikirkan Dira, ya siapa lagi kalau bukan Dira yang saat ini telah menjadi milik Jesicha. Tapi kakaknya seolah mengerti perasaannya, kakaknya juga mengetahui soal Dira bahkan mengenalnya dengan baik. Karena Dira adalah anak teman kedua orang tua mereka. Hanya saja dia tak tahu bahwa Dira sudah datang kembali ke Indonesia dan bahkan sekarang telah menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih dengan Jesicha, cewek yang selama ini mengusik hatinya.
"Hei, kenapa kamu?" kata Samuel sambil mendekap adiknya lebih erat, membuat Mona ikut memeluk kakaknya untuk menyembunyikan matanya yang sudah mulai berkaca-kaca. Samuel tak ingin lebih membuat adiknya sedih dengan pertanyaannya lagi jadi dia hanya memeluk adiknya tuk beberapa lama sampai Mbok Narsih memanggil mereka berdua untuk makan malam.
"Mbok, sejak tadi aku belum lihat Jesicha. Kemana ya?" tanya Samuel disela-sela mereka menikmati makan malam mereka.
"Mbok nggak tahu den. Tadi pagi-pagi sekali non Jesicha sudah pergi tanpa pamit sama mbok. Mbok pikir non Jesicha lagi terburu-buru jadi tak apa. Tapi benar den, mbok nggak tahu kemana perginya. Mungkin sama den Dira."
"Dira?" tanya samuel kaget mendengar nama Dira dan disaat bersamaan pula Mona yang sedang meminum air tersedak membuat kakaknya jadi mengalihkan perhatian kepadanya dan langsung berdiri disampingnya dan menepuk punggungnya.
"De , kamu nggak apa-apa?" tanya Samuel
"Non, non nggak apa-apa?" tanya Mbok Narsih juga, "Tuangkan air lagi pada gelasnya non Mona." perintah Mbok Narsih kepada seorang pembantu yang lain yang bergegas menuangkan air digelasnya Mona.
"Minum pelan-pelan" kata Samuel.
Setelah beberapa saat kemudian, Mona dan Samuel lalu melanjutkan makan malam mereka kembali. Mbok Narsih kemudian mulai berpamitan pada keduanya untuk pergi keluar sebentar menengok seseorang kata Mbok Narsih. Mona dan Samuel mengizinkannya, disaat yang sama bel pintu rumah juga berbunyi.
"Nah mungkin itu non Jesicha baru pulang." kata Mbok Narsih, "Didim, ayo! sekalian kita juga harus pergi." sambung Mbok Narsih dan mang didim menyahut mengiyakannya. Mereka berdu segera pergi membukakan pintu untuk Jesicha dan berpamitan untuk pergi.
"Non, baru pulang?" tanya Mbok Narsih setelah membukakan pintu rumah dan mempersilahkan Jesicha dan Dira untuk masuk. "Kebetulan non, mbok mau pamit sebentar keluar dengan Mang Didim." kata Mbok Narsih sesaat setelah Jesicha duduk dikursi dengan wajah tanpa ekspresi apapun.
Kembali dia teringat kejadian tadi siang, saat dia bertemu dengan Rosa, yang adalah ibu tirinya, istri kedua ayahnya.
Di sebuah kafe ..
"Kamu sudah tahu kan, kondisi papa kamu kayak gimana sekarang?" tanya Rosa, "Well .. aku nggak akan basa-basi. Aku akan minta kamu tanda tangani surat ini, surat pernyataan kalau semua harta milik papa kamu, yang diberikan kepadamu, diserahkan kepadaku atas nama Rosa Candrawinata." katanya sambil menyodorkan surat di sebuah map untuk Jesicha.
"Begitukah? Inginkah sekali kamu menguasai seluruh uang papaku? Aku nggak sebodoh dan selugu dulu ma. Aku akan berusaha melindungi semua harta milik papaku dari peremupuan materiil seperti kamu." tegas Jesicha.
Tapi kata-kata Jesicha sama sekali tak membuat Rosa untuk berhenti dari niatnya yang buruk. Sambil tersenyum sinis, Rosa mengambil sebuah surat. Didalam surat itu berisi permintaan ayahnya Jesicha untuk mencari ibunya Jesicha yang masih hidup. Surat itu tertuju kepada Mang Didim. Lebih membuat Jesicha kaget dengan isi surat itu adalah bukan cuma mencari ibunya yang masih hidup, tapi ternyata mencari anak ibunya yang masih bayi baru beberapa bulan, anak yang dibuang ibunya dulu saat akan menikahi ayahnya karena saat itu keluarga ayahnya tak mengizinkan ibunya untuk membawa anaknya masuk ke rumah mereka dan menikah dengan ayahnya. Karena begitu besar cintanya pada ayahnya sampai dia membuang anaknya sendiri dan sekarang ayahnya benar-benar merasa bersalah terhadap istrinya yang adalah ibunya Jesicha yang telah di ceraikannya karena keluarganya dan Rosa, dan juga kepada anak ibunya yang tak lain adalah saudara tirinya Jesicha. Mereka berdua mempunyai ibu yang sama hanya ayah yang berbeda. Kata demi kata dibaca Jesicha sambil menangis. Hatinya benar-benar dibalut emosi yang tertahan hingga dia meremas-remas pinggiran surat itu. Justru hal itu yag dinantikan Rosa, lagi-lagi dia tersenyum sinis rasanya belum puas dia untuk membuat Jesicha bertekuk lutut dihadapannya dan menyerahkan semua harta kepadanya. Dia lalu mengambil beberapa buah foto dan menyerahkannya kepada Jesicha. Didalam foto-foto itu ada foto ibunya, dia dan ayahnya, juga di foto lain ada foto ibunya menggendong seorang bayi yang dibawahnya bertuliskan nama Aura, tentu saja itu bukan fotonya. Jesicha tak mampu lagi berkata-kata, dari matanya hanya mengeluarkan kumpulan serpihan emosi yang tampak jelas membuat matanya berkaca-kaca.
"Aku akan beri tahu segalanya dimana ibumu, dan saudaramu. Selebihnya kamu harus tanyakan sendiri kepada Mbok Narsih dan Mang Didim. Karena mereka juga mengetahun semuanya kemudian kamu bisa menemukan ibumu yang sudah gila itu dan saudaramu yang lain." kata Rosa sambil tersenyum penuh kemenangan saat Jesicha menyetujui kata-katanya dan menandatangani surat kuasa kepemilikan harta. Kemudian Rosa menceritakan semuanya kepada Jesicha lalu setelah selesai dia pergi meninggalkan Jesicha yang masih duduk terbujur kaku tak tahu harus mengatakan apa. Hanya satu telepon yang dipanggilnya, yaitu Dira dan akhirnya Dira datang menemuinya dan menenangkannya.
Kembali dia tersadar sesaat sebelum Mbok Narsih dan Mang Didim hendak keluar dari pintu.
"Mau kemana?" tanya Jesicha saat Mbok Narsih dan Mang Didim akan keluar. "Aku mau bicara mbok!" kata Jesicha dengan tegas. Tatapan matanya juga tampak begitu tegas melihat Mbok Narsih dan Mang Didim yang mengehntikan langkah kakinya keluar.
"Mbok .. mbok tega sama aku! Mbok tega nggak bilang sama aku selama ini tentang mama?" tanya Jesicha sambil berdiri dan menatap Mbok Narsih dengan tatapan mata berkaca-kaca. Ingin dia menangis tapi dia harus menahan emosinya demi mengetahui semuanya. "Mbok juga tahu kan, kalau aku punya saudara lain dari mama? Aku punya seorang kakak. Mbok tahu itu kan?!" tanya Jesicha dengan nada setengah histeris, tanpa dia sadari airmatanya perlahan menetesi pipinya. "dan kamu .." sambil menunjuk kearah Mang Didim, "kamu aku sudah ingat kamu. Kamu yang waktu itu datang ke ruangan kerja mama dan mengatakan sesuatu ke mama dan saat papa datang dengan Rosa si nenek lampir itu, papa mengira kalian berselingkuh!" sambungnya lagi sambil menangis, Dira lalu berusaha mendekapnya untuk menenangkannya. "Aku melihat mama diseret keluar dari rumah oleh Rosa sementara papa hanya terdiam melihat mama diseret dengan tak adil. Aku ingat semuanya. Aku sudah ingat semua" kata Jesicha yang nada suaranya semakin besar hingga terdengar oleh Samuel dan Mona, yang segera berlari kearah ruang tamu depan.
Jesicha sudah terduduk sambil menangis didekapan Dira. Mbok Narsih dan Mang Didim juga ikut menangis, akhirnya semuanya terungkap. Rahasia bertahun-tahun yang disimpan rapat dengan baik akhirnya terungkap satu per satu.
"Maaf Non .. Maafkan Mbok, maafkan kami." kata Mbok Narsih sambil mendekati Jesicha. Jesicha menepiskan belaian tangan Mbok Narsih dan mendorong Mbok Narsih ke lantai. Mang Didim segera mengangkat Mbok Narsih kembali berdiri dan mendekap ibunya itu.
"Non, maafkan mamang dan ibunya mamang. Ketika Tuan besar tahu yang sebenarnya beberapa waktu lalu, Tuan besar jadi sakit-sakitan. Tuan besar pun tahu bahwa Nyonya muda Rosalah yang telah merencanakan semuanya bersama dengan keluarganya Tuan besar. Mamang dipanggil kembali dan disuruh mencari Nyonya besar dan nona muda, kakaknya non."
Kesaksian itu didengar Mona dan Samuel yang sudah berada disitu sejak Mbok Narsih didorong Jesicha hingga jatuh dilantai. Begitu Samuel melihat Jesicha didalam dekapan sosok cowok yang sangat dikenalnya dengan baik, siapa lagi kalau bukan Dira dia juga merasakan sakit yang sama seperti Mona dan mulai menyadari hal inilah yang ternyata membuat perubahan pada adiknya, Mona.
"Mamang tahu dimana ibunya non. Ibunya non masih hidup dan tinggal disebuah panti rehabilitasi khusus yang dibangun oleh dokter Herlambang, ayahnya den Samuel dan Mona, Mona adalah anak ibunya non juga yang tak lain adalah saudara tirinya non." tutur mang Didim menjelaskan pada Jesicha.
Mendengar nama Mona diungkap sebagai saudaranya, Jesicha langsung terbangun dari duduknya, badannya terasa lemas, kakinya tak mampu bertumpu lagi. Bukan hanya Jesicha, Samuel, Dira dan Mona terbelalak mendengar pernyataan mang Didim. Memang selama ini Samuel sudah tahu, bahwa Mona bukan adik kandungnya, karena dia waktu itu sudah cukup besar untuk mengetahuinya tapi dia diminta ole kedua orang tuanya untuk tidak mengatakannya kepada siapapun dan dia juga sangat menyanyangi Mona sebagai adik kandungnya. Mona yang mendengar penuturan itu syok dan berteriak histeris, airmatanya juga berjatuhan tak henti.
"TIDAK!" kata Mona yang memecah keheningan membuat mereka semua menatap Mona dengan kaget bahwa dia mendengar semuanya juga. Bahkan Dira lebih kaget begitu melihat sosok cewek yang selama ini ingin diperkenalkan Jesicha, kekasihnya itu adalah Mona, cinta pertamanya. "Tidak! Tidak! Tidak Mungkin!" kata Mona sambil memukul-mukul dadanya bahkan rasanya ingin mencabut seluruh pakaian ditubuhnya, tak lama dirinya langsung terjatuh pingsan.
"Mona!" teriak Samuel, Dira dan Jesicha serentak. Bahkan Dira lah yang berlari sangat cepat mendapatkan Mona, hal itu disadari Jesicha namun sesaat kemudian dia lalu berlari lari mendapatkan Mona, begitu juga Samuel ikut berlari. Mang didim dan Mbok Narsih juga ikut berlari mendapati Mona yang terkapar dilantai.
Tanpa menunggu komando, Dira langsung menggendong Mona berlari menuju mobil yang ditunjuk Samuel yang berlari mengikutinya, juga Jessicha ikut berlari menyusul setelah meminta Mbok Narsih mengurus segala sesuatu yang diperlukan Mona.
Begitu sampai di rumah sakit, Dira menyerahkan Mona kepada Samuel yang segera menyerahkan perawatan Mona pada pihak rumah sakit. Samuel lalu mengurus biaya administrasi dan segala sesuatu yang diperlukan di rumah sakit untuk perawatan dijalankan pada adiknya. Dari luar ruangan, Dira hanya menatap Mona yang terpapar tak berdaya dikasur ruangan rumah sakit. Tingkah laku Dira yang lebih khawatir terhadap Mona tertangkap lagi oleh Jesicha.
Jesicha lalu memegang bahunya Dira, dan begitu melihat Jesicha, Dira tampak pula merasa bersalah lalu memeluk Jesicha dan menangis.
"Maaf." kata Dira.
Jesicha tak membalas kata-katanya, hanya memeluk Dira lebih erat.
Keduanya lalu berjalan dan duduk ditaman. Lama sekali tak satupun dari keduanya memulai pembicaraan.
"Ada yang ingin kamu bicarakan Dir?" tanya Jesicha memulai pembicaraan.
"Aku .."
"Kamu menyukai Mona?" tanya Jesicha lagi, "Maksudku, sebelumnya kamu pernah mengenal kakakku, Mona?"
Dira hanya manggut-manggut. Hal itu membuat Jesicha menarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskannya. "Huh .."
"Maafkan aku Cha. Aku nggak bermaksud seperti ini." kata Dira
"Aku tahu , aku tahu. Justru aku lah yang harus minta maaf. Ternyata akulah yang merebut kamu dari Mona, yang tak lain ternyata dia adalah saudaraku, anak dari ibuku." kata Jesicha itu ternyata membuatnya harus meneteskan lagi airmatanya.
"Maafkan aku, aku nggak pernah cerita sama kamu kalau aku pernah punya cinta pertama, yaitu Mona." kata Dira lagi sambil menatap Jesicha dan menggenggam tangannya erat-erat. "Aku dulu ninggalin dia karena terpaksa aku harus mengikuti orang tuaku ke luar negeri jadi aku mencari alasan kalau dia tak pernah perhatian padaku. Jadi aku ninggalin dia. Mungkin selama ini dia berpikir dialah yang menyia-nyiakanku, tapi sebenarnya akulah yang telah melukai hatinya, akulah yang menyia-nyiakannya. Aku pikir, kalau aku sudah meninggalkannya, aku takan mungkin ketemu dia lagi jadi aku akan baik-baik saja dan ketika kembali kesini, aku pikir aku bisa memulai hidupku lagi" jelas Dira sambil meneteskan airmatanya juga.
"dan sekarang, kamu belum bisa kan untuk melupakannya?" tanya Jesicha. Dira hanya manggut-manggut membuat Jesicha lalu memeluknya. Dira juga ikut memeluknya.
Ternyata dari kejauhan saat mereka berdua berpelukan, Samuel yang saat itu sudah membawa kedua orang tuanya datang masuk dalam kamar Mona melihatnya, Samuel malah melihat Dira dan Jesicha sedang berpelukkan.
Dalam hati, Samuel sudah pupus harapan pada Jesicha. Hatinya sakit tapi dia mencoba untuk bersikap biasa. Karena dia tak ingin Jesicha tahu tentang perasaannya.
"Ma .. Paa .." kata Mona saat matanya mulai membuka pelan-pelan.
"Sayang .. ini mama, mama disini. Ada papa juga sayang." kata wanita setengah baya yang tak lain adalah Nyonya Herlambang, ibu dari Samuel dan ibu yang telah memelihara dan menjaga Mona seperti anak kandungnya sendiri.
"Iya sayang. Papa disini." kata dokter Herlambang, mengiyakan kata-kata istriya.
"Sam, kenapa adikmu?" tanya ibu Herlambang
Samuel lalu menceritakan semuanya kepada kedua orang tuanya.
"Papa sudah tahu suatu saat ini akan terjadi. Ternyata secepat ini .."
"Pa, ma .." kata Mona lagi begitu matanya telah terbuka dengan baik.
"Hei sayang," sapa dokter Herlambang sambil menggenggam tangan anak kesayangannya itu. "Papa yang akan ngambil alih perawatan kamu, tenang saja ya sayang." sambung papanya
"Permisi, oom .. tante .." sapa Jesicha dan Dira begitu masuk dalam kamar perawatan Mona.
"Jesicha .. ayo masuk." kata ibu Herlambang, "Eh kamu Dira kan?" tanyanya lagi
"Iya tante, oom. Ini aku Dira"
"Oh bagaimana kabar papamu dan mamamu disana?" tanya dokter Herlambang
"Baik oom, terima kasih."
"Oh ya papa akan pergi berbincang dengan dokter Rafa yang tadi menangani kamu. Tunggu ya Mona" kata dokter Herlambang.
Setelah dokter Herlambang pergi, ibu Herlambang lalu menceritakan kisah dulu waktu mereka mengambil Mona di depan rumahnya. Aura nama depannya Mona adalah nama pemberian yang dituliskan disurat yang diletakkan di kerangjang bayi Mona. Cerita selengkapnya diteruskan oleh Mbok Narsih dan Mang didim begitu tiba di kamar perawatannya Mona. Setelah semua cerita usai, Mona dan Jesicha tersenyum dan berpelukkan. Begitu pula Dira dan Samuel juga ikut berpelukan. Semua orang didalam ruangan perawatan itu juga ikut berpelukan rahasia yang terungkap awalnya mendatangkan kesedihan tapi akhirnya bisa mendatangkan kebahagian bagi mereka semua.
Beberapa hari setelah Mona keluar dari rumah sakit, Mona membawa Jesicha bertemu dengan
wanita setengah baya yang beberapa waktu lalu Mona juga pernah membawanya kesini, ke tempat panti rehabilitasi ini. Waktu itu mereka datang sebagai sahabat, karena tidak saling mengetahui mereka mempunyai ibu yang sama. Sekarang mereka datang sebagai saudara. Walaupun beda ayah tapi keduanya saling menyayangi tak seperti Jesicha dengan saudara tirinya yang lain dari istri kedua ayahnya. Memang agak sulit mempertemukan Jesicha dan ibunya yang juga ibunya Mona karena ibu mereka ini mengalami gangguan kejiwaan walau tak separah orang lain. Hanya saja dia tak mampu mengenali anaknya Jesicha. Anehnya waktu itu dia hanya mengenali Mona saat pertama mereka bertemu dia menyebutnya anaknya. Mungkin perasaan seorang ibu, tapi lama-kelamaan dia mengenali anaknya Jesicha juga ketika Jesicha menunjukkan liontin yang dipakainya itu.
Sedangkan kisah cinta Jesicha dan Dira berakhir begitu saja. Jesicha melepaskan Dira untuk kembali kepada Mona, kakaknya sekaligus sahabatnya karena dia juga sudah mengetahui tentang perasaan Samuel kepadanya. Dira dan Mona kembali bersatu. Kebahagian keduanya segera mereka resmikan dengan pertunangan setelah Mona pulang dari London menyelesaikan kuliah lanjutnya disana. Sementara Samuel dan Jesicha juga bersatu dalam ikatan pernikahan dan mempunyai seorang bayi yang lucu. Beberapa tahun berlalu, Mona kembali ke Jakarta dan meresmikan hubungannya dengan Dira, tak lama kemudian mereka berdua juga menyusul menikah. Sedangkan ibunya mereka berdua akhirnya tinggal lagi bersama mereka setelah sembuh total dari gangguan kejiwaannya, ya kadang-kadang dia tinggal di rumah Mona, kadang juga tinggal di rumahnya Jesicha. Akhirnya mereka semua hidup bahagia selamanya.