"Sudah! Nanti baru sms aja. Aku lagi sibuk. Jangan ganggu!" Adrian langsung menutup telponnya.
Tut.. Tut.. Tut..
Telepon dimatikan dari seberang. Thalita berusaha untuk menelpon kembali Adrian, kekasihnya. Tapi sayangnya yang didengar hanya suara operator, "Nomor yang anda tuju sedang sibuk. Cobalah beberapa saat lagi." Itu dilakukannya berulang kali, tapi yang terdengar olehnya masih sama.
Thalita menarik napasnya dalam-dalam.
"Pufff.. yaaa nggak apa-apalah. Mungkin dia memang sibuk."gumamnya.
Malam itu kebetulan hujan deras didaerah tempat tinggalnya..
Thalita mengambil album besar berwarna pink, didalamnya ada puluhan foto mereka berdua. Kenangan selama mereka berpacaran dulu, semenjak mereka duduk dibangku sekolah menengah pertama hingga lulus dan bahkan sampai sekarang mereka masih menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih walaupun kini mereka berdua tidak berdekatan, tepatnya mereka tinggal di dua kota yang terpisahkan oleh jarak. Thalita dan Adrian harus menjalani "Long distance relationship" semenjak perpisahan mereka 2 tahun lalu ke daerah yang dipilih masing-masing untuk melanjutkan pendidikannya disana.
Sambil tersenyum dia membuka lembar demi lembar album. Semua kenangan mereka, satu per satu ada didalam album itu, bahkan kadang tertawa kecil saat melihat ada foto mereka dengan gaya yang lucu.
"Sayang, aku merindukanmu." Thalita mengirim sms ke Adrian.
Beberapa menit berlalu, dia mencoba mengirim sms lagi.
"Aku merindukanmu Adrian. Aku rindu saat kita sama-sama dulu, jalan bareng, makan bareng, tertawa bareng, bahkan kamu selalu gangguin aku apalagi kalo aku lagi nangis, pasti kamu udah ledekin aku. Tapi aku ngerti kok, kamu lagi sibuk, yang. Aku sayang kamu. Ingat janji kamu ya, Minggu depan kamu datang buat ngerayain anniv ke-5 kita. Aku tunggu sms kamu."
Beberapa jam telah berlalu, dia terus menunggu dan akhirnya tertidur.
***
Keesokkan paginya ..
"Sayang, Thalita.. sayang, hei sayang, Thalita, ayo nak bangun." kata mamanya membangunkannya
"Mama.." jawabnya dengan agak pemalas karena baru terbangun dari tidurnya.
"Mama dan papa, mau ke kantor. Ada rapat yang mama dan papa gak bisa kalo gak datang. Jadi mama dan papa mau ucapin, selamat ulang tahun sayang." sambil mencium dahi putri tunggal mereka ini secara bergantian.
Thalita baru teringat kalau dia hari ini berulang tahun. Sibuk memikirkan Adrian, sampai-sampai ulang tahunnya sendiri tak diingatnya.
"Makasih mama, makasih papa.." bangun dan membalas mencium pipi mama, papa dan memeluk mereka.
"Papa dan mama pergi dulu ya.." kata papanya sambil mengacak-ngacak rambutnya, "Bangun dan mandi gih sana."
"Iya pa.." sambil tertawa kecil dan mengantar orang tuanya ke garasi rumah mereka dan mobil mereka pun melaju meninggalkan pelataran rumah besar itu.
"Non, sarapan untuk non udah bibik taruh dimeja." kata seorang wanita tua berusia 50-an
"Ah iya bik, makasih ya.." jawab Thalita sambil menuju meja makan.
Ting tong.. Ting tong.. Ting tong..
Bunyi bel rumah. Pembantunya bergegas membuka pintu rumah.
Terdengar oleh Thalita, suara dari beberapa orang memanggil namanya saat memasuki rumahnya dan dia kenal dengan baik suara-suara ini, siapa lagi kalau bukan sahabat-sahabatnya semenjak mereka duduk disekolah dasar, mereka bersahabat.
"Thalita! Thalita.. Thalita!" seru mereka sahabat-sahabatnya itu, "Happy birthday!"
Thalita tampak bahagia dengan keberadaan sahabat-sahabatnya itu. Lagu-lagu ucapan selamat dinyanyikan mereka.
Setelah selesai, mereka ikut menikmati beberapa hidangan yang disediakan pembantu keluarga Thalita, kemudian duduk bercanda tawa seperti kebiasaan yang sering mereka lakukan bersama-sama saat mereka bertemu.
"Yuk kita jalan!" ajak salah seorang sahabatnya. "Udah lama kita gak jalan bareng. Apalagi, si Roy udah datang." sambil menatap Roy, sahabat mereka juga.
"SETUJU!" jawab keempat sahabatnya yang lain serentak.
Thalita turut mengiyakan. Mereka berenam lalu melaju dengan mobil milik Roy, ke tempat mereka biasa nongkrong sambil bercanda tawa bahkan bermain beberapa permainan diarena bermain dekat tempat itu.
***
Thalita yang sedang asyik bermain bersama sahabat-sahabatnya sampai tidak mendengar hpnya berbunyi sejak tadi.
"Thalita.. ayo..!" seru Lisye, salah satu sahabatnya dari kejauhan.
"Iya iya, bentar.." jawabnya, sambil melihat LCD hpnya, -sayangku- .
"Halo sayang, maaf.. aku gak sempat ngambil telponnya tadi. Gak kedengeran." kata Thalita begitu telponnya diangkat Adrian. "Aku lagi sama.."
"Sama siapa?! Roy?!" tanya Adrian dengan nada suara yang tinggi dan agak kasar.
Belum sempat Thalita menjelaskan, Adrian sudah membentaknya ditelpon dan menutup telponnya.
Airmatanya turun membasahi pipinya. Lagi-lagi dia harus berusaha mengalah dan menerima saja sikap Adrian, dia tahu dengan benar kalau semenjak mereka dulu bersekolah, Adrian kurang begitu menyukai Roy, sahabatnya.
Tak jauh dari duduknya Thalita, Roy ternyata memperhatikan Thalita dan perlahan-lahan mendekati Thalita. Tanpa mengatakan apapun, dia duduk disamping Thalita. Thalita menyadari kedatangannya dan menghapus airmatanya sendiri.
"Eh Roy.. Kamu kok gak ikut main sama yang lain?" tanya Thalita sambil tersenyum.
"Nggak." jawab Roy singkat.
"Kenapa?" tanya Thalita lagi dan lagi-lagi memberikan senyum palsunya untuk menyembunyikan perasaan sedihnya.
Yah dia memang tak ingin sahabat-sahabatnya tahu, apalagi saat ini mereka sedang bersenang-senang bersama setelah sekian lama baru bertemu kembali.
"Aku pengen duduk disini hanya nemenin kamu." jawab Roy pelan, namun karena bisingnya tempat itu jadi Thalita sama sekali tidak mendengar kata-kata Roy.
"Apa? Sorry, aku gak dengar tadi kamu ngomong apa.. Sorry Roy."
"Gak apa-apa kok. Aku tadi bilang kalo, aku mau duduk-duduk saja." jawab Roy.
Lama mereka berdua terdiam ..
"Thal, ada yang pengen aku bilang ke kamu." kata Roy sambil menatap cewek cantik itu lekat-lekat
"Mau bilang apa?" tanya Thalita
Tapi sesaat sebelum Roy mengatakannya, Lisye dan ketiga sahabatnya yang lain datang menghampiri mereka dan menarik tangan keduanya untuk ikut bermain bersama mereka.
***
Sesampainya dirumah..
"Bik.. papa dan mama udah pulang?" tanya Thalita saat pembantunya membukakan pintu padanya.
"Udah non, ada diruang tengah."
Thalita berlari kecil ketempat papa dan mamanya duduk.
"Papa.. Mama.." panggil Thalita sambil duduk ditengah kedua orang tuanya.
"Hei sayang.. kamu bahagia hari ini?" tanya papanya
"Iya pa.."
Kemudian seperti biasa, dia menghabiskan waktu cerita-cerita bersama kedua orang tuanya yang tampak tertawa melihat putri mereka ini.
Saat sedang nonton, hp Thalita berbunyi, ada sms masuk dan dilayarnya -sayangku- "Thal .. Kita PUTUS saja."
Tangan Thalita terasa gemetar, didalam hatinya terasa ada yang hilang tiba-tiba.
"Thal.." panggil mamanya , bingung menatap matanya yang mulai tampak berkaca-kaca dan juga tangannya yang gemetar seolah tak mampu memegang barang ditangannya lebih lama.
"Maaf ma, maaf pa, Thalitha masuk ke kamar duluan. Thalita lupa kalo ada tugas yang harus diselesaikan."
Papanya mengiyakan, tapi mamanya terus manatapnya.
Didalam kamar, dia mencoba menelpon Adrian berulang kali, namun suara operator yang terdengar lagi-lagi olehnya, kadang bunyi masuk terdengar olehnya tapi diputuskan dari seberang telpon.
Dia hanya berbaring dan menangis sambil memeluk bantalnya, tanpa menyadari mamanya ternyata sedang mengintipnya dari balik pintu kamarnya dan perlahan-lahan mendekati Thalita.
"Thal.. sayang.." sambil membelai rambut putrinya
"Ma..ma," Thalita kembali mengusap airmatanya
Sambil tersenyum mamanya memeluknya erat. "Mama tau kok perasaan kamu sekarang. Kamu kenapa lagi? Bertengkar lagi ya sama Adrian?"
Thalita hanya terdiam tanpa kata.
"Kamu gak perlu cerita dulu sama mama, nanti kalau kamu udah tenang, baru cerita ya sayang.." kata mamanya, lalu mencium dahi anaknya.
Malam itu, dia melalui hari pertama tanpa ada ucapan selamat ulang tahun dari Adrian, tak seperti hari-hari sebelumnya dan yang lebih menyakitkan hatinya adalah dia harus menerima kenyataan kalau Adrian sudah memutuskan hubungan asmara mereka.
Sedihnya harus ditahannya sendiri dalam kesendiriannya karena dia tak ingin orang tuanya turut sedih melihat keadaannya ini.
***
Di tempat yang berlainan tepatnya dikota lain, diwaktu yang sama ..
Ternyata diam-diam Adrian sudah mempunyai kekasih yang lain, namanya Britney. Britney yang baru pulang dari Australia dan bertemu dengan Adrian dikampus tempat Adrian belajar dan tepatnya juga tempatnya Britney akan mulai belajar melanjutkan pendidikannya yang sempat terhambat di Australia dan mengharuskan dia pulang ke Indonesia. Mereka berpacaran semenjak beberapa bulan yang lalu.
Malam itu keduanya sedang bersama disebuah diskotik dekat tempat Adrian tinggal.
"Beb, ini jam baru buat kamu." kata Britney sambil menyodorkan kotak jam tangan yang tampak mewah dan mahal.
"Oh ya beb, makasih ya bebku." Adrian mencium pipi Britney dan dengan sekali tarikan Adrian dan Britney mulai turun ditengah-tengah area berdisko.
Entah bagaimana kejadiannya, karena dipengaruhi minuman Adrian dan Britney melakukan suatu kesalahan, malam itu.
***
Dua hari kemudian, saat Thalita sudah berusaha pelan-pelan mengikhlaskan dan melepaskan Adrian. Adrian menghubunginya tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Thalita berusaha menerima telpon itu dengan perasaan layaknya seorang teman, tapi hatinya akhirnya luluh dengan kata-kata Adrian.
"Gak.. Aku gak setuju Thal!" kata Lisye dengan marahnya saat mendengar ceritanya Thalita, ketika dia mengunjungi Thalita dirumahnya. "Aku gak suka dia terus gitu sama kamu."
"Tapi aku sayang banget sama dia Li."
"Aku tau, aku tau! Tapi kalau dia terus egois gitu sama kamu, seenaknya mutusin kamu lalu minta balik sama kamu, dan karena kamu terus-terusan nerima dia, jadinya dia besar kepala lalu seenakn hatinya bikin hati kamu kayak gini." kata Lisye lagi, "Ya ampun, kalau dia ada disini.. Udah gue bikin jadi perkedel. Gak berubah juga dari SMA sampe sekarang." sambungnya, sambil mengepalkan tangannya.
Lisye memang sikapnya kalau sudah marah, tampak seperti laki-laki, yah penampilannya juga tak menunjukkan kalau dia adalah seorang cewek, tepatnya dia tomboy.
"Aku gak apa-apa Li, aku baik-baik saja kok. Udah kamu tau kan, aku dan dia udah mau 5 tahun, aku percaya kok sama dia."
"Oke oke, aku akan ngerti karena kamu. Tapi kalau ini terulang lagi, aku udah gak bisa mentolerir semuanya. Oke?"
Thalita mengangguk-angguk dan mendekap sahabatnya itu.
***
Malamnya dirumah Lisye..
"Sepupu!" teriak seorang cewek dari seberang telepon dengan senangnya.
"Siapa ini?" tanya Lisye sambil berusaha menerka-nerka suara siapa ini.
"Oh my GOSss.. Are you forget me?" tanya cewek itu.
"Haa.. Britney.. kamu? Iya kamu kan?" tanya balik Lisye.
Britney adalah sepupunya Lisye.
"Ya ya ya .. ini aku sepupu.." katanya dengan nada sombongnya.
Lisye agak risih dengan hal itu, tapi karena mengingat pesan-pesan mama dan papanya, jadinya dia berusaha saja berbaik-baik dengan sepupunya ini. Lisye sudah tahu dengan jelas, kalau Britney ketika menelponnya akan mulai menyombongkan satu per satu kekayaannya.
"Udah udah udah.." potong Lisye saat mendengar ceritanya Britney. "Kamu telpon ngapaian sih? Gak ada kerjaan lain apa, kalau cuma untuk nyombongin kekayaanmu." kata Lisye ketus
Britney tertawa kecil, "mm-Hmm aku ceritain ke kamu, supaya kamu suatu hari nanti kaya juga sama kayak aku. Hidup kan butuh materi." masih dengan nada yang sama
"Iya memang butuh!" seru Lisye dengan ketusnya, "Tapi hidup itu gak bakalan bahagia kalau cuma materi, tau!"
Britney terus menyela, Lisye tampak mulai bosan mendengar kata-katanya.
"Udahlah ya.. kamu sebenarnya nelpon ngapain sih?"
"Yeee .. aku punya pacar loh.. orangnya ganteng banget." kata Britney
"Ya terus?" Lisye memutar bola matanya.
"Aku udah tidur sama dia.." kata Britney dengan jelasnya.
Britney sudah tahu kalau Lisye bersahabat dengan kekasihnya Adrian, karena itu dia menelpon Lisye karena dia tahu watak Lisye seperti apa, pasti akan mencoba untuk menghalangi hubungan Thalita dan Adrian kalau dia sudah tahu kenyataannya.
"APA?! Gila ya kamu.."
Britney kembali tertawa, "Namanya Adrian."
"Terus maksud kamu apa pake bilang.."
Belum sempat Lisye melanjutkan kata-katanya, Britney memotongnya.
"Adrian.. Wira.. Prasetya.." eja Britney pelan.
Lisye kaget dan penasaran mendengar nama yang samar-samar dari seberang.
"Apa apa kamu bilang? Siapa tadi namanya?" tanya Lisye penasaran
"Namanya.. Adrian Wira Prasetya."
Lisye terperangah mendengarnya, ya mendengar nama itu.
"Kamu kenapa Lis? Halo sepupuku .. halo.." panggil Britney dari seberang telpon
"Kamu gak salah?" tanya Lisye. Suaranya terdengar memelan dan halus.
Sedangkan disana, dalam hati Britney sudah bersorak-sorak tanda dirinya menang satu langkah. Adrian meninggalkannya setelah mendapatkan apa yang dia mau, tapi Britney pun tak ingin dirinya hanya dipermalukan. Dia mengetahui semua tentang Adrian dari sahabat dekatnya Adrian, yang ternyata diam-diam dibelakang Adrian, dia jatuh hati pada Britney.
"Iya .. aku gak salah. Pacarku memang dia."
Setelah perbincangan keduanya ditelpon malam itu, Lisye jadi mulai menyendiri bahkan sering menolak bertemu dengan sahabat-sahabatnya termasuk Thalita, sahabat terdekatnya.
***
Tiga hari kemudian..
"Dia masih gak mau angkat juga ya telponnya?"tanya Thalita
Roy yang menelpon Lisye untuk mengajaknya berkumpul bersama mereka ditempat biasa mereka makan bersama, mengangguk.
"Mungkin gara-gara aku kali ya," tutur Thalita
"Loh kok kamu sih Thal?" tanya seorang sahabatnya, cewek bertopi bundar berwarna merah.
Thalita lalu menceritakan pertemuan antara Thalita dan Lisye terakhir.
"Yah .. kalau cuman itu, nggak mungkin dia marah sama kamu. Toh dia udah bilang gitu. Kamu kan yang paling dekat dengannya, kagak mungkin dia gitu karena kamu." sambung cewek bertopi bundar itu lagi. Sahabatnya yang lain pun mengiyakan. Roy pun begitu.
"Eh itu dia!" seru seorang sahabatnya yang lain begitu melihat Lisye seperti orang linglung berjalan sendirian.
"Lisye!" panggil seorang sahabatnya, cowok berkaca mata itu melambai-lambaikan tangannya ke Lisye.
Lisye berniat menghindar tapi begitu mendengar Thalita juga ikut memanggilnya, dia pun mengurungkan niatnya dan menghampiri mereka.
"Kalian .."
"Kenapa kamu gak angkat telponmu?" tanya Thalita sesaat setelah Lisye duduk disampingnya.
"Sorry, aku lupa hpku dirumah.." jawab Lisye
Tapi bunyi hpnya terdengar oleh sahabat-sahabatnya.
"Itu apa?" tanya cowok berkacamata
"Maaf semuanya." ucap Lisye
"Ah yasudah gak apa kok." kata Thalita sambil tersenyum dan mendekap Lisye.
Mereka mulai berbincang-bincang dan bercanda gurau. Mata Lisye sesekali melihat Thalita. Dia ingin mengatakan apa yang didengarnya tapi dia takut membuat Thalita sedih. Dia mengurungkan niatnya sementara.
***
Setelah selesai makan, mereka ketempat karaoke untuk bersama-sama merayakan kebersamaan mereka mengingat beberapa diantara mereka akan kembali ke tempat mereka dan melanjutkan pendidikan mereka.
Tak lama kemudian, Lisye pamit ke kamar kecil didalam ruangan itu.
Lisye mengobrol ditelepon dengan Britney. Obrolan mereka terdengar oleh Thalita.
"Thal.. Thal.." ucap Lisye terbata-bata, "Thalita.." begitu membalikan badannya menatap sosok cewek yang sudah berteteskan airmata didepan pintu kamar mandi. "Thal, Thal..!" seru Lisye sambil mengejar Thalita. Sontak saja sahabatnya yang lain bingung dengan situasi itu. "Thal, tunggu." Lisye memegang tangan Thalita.
"Apa lagi? Kamu .. kamu berencana misahin aku sama Adrian? Iya kan? Aku dengar semuanya Li. Kamu tau, sakit banget rasanya kalau sahabatku sendiri ingin misahin aku sama cowok yang paling aku cinta."
"Tapi kamu harus tau Thal.. Aku ngelakuin ini demi kamu!"
"Demi aku apa? Demi aku atau demi kamu?"
"Maksudnya aku.."
"Udahlah. Aku udah gak mau dengar lagi."
Roy mencoba merangkul Thalita, tapi Thalita menepiskan rangkulannya dan membalikkan badannya bergegas pulang.
"Kamu gak tau seperti Adrian!" teriak Lisye menghentikan langkah kaki Thalita. "Kamu gak tau seperti apa dia. Dia udah selingkuh dibelakang kamu disana. Dia sudah tidur sama Britney."
Thalita serasa terhoyak didepan pintu. Tangannya gemetar, badannya lemas. Dia berusaha kuat mendengarnya.
"Kamu mau percaya sama aku atau gak, itu terserah kamu.. yang penting aku sudah jujur semuanya dan.."
PLAK!!!!!
Thalita menampar pipinya Lisye.
"Cukup Li. Cukup! Kamu udah keterlaluan.. Kamu udah nyakitin aku dengan berusaha memisahkan aku sama Adrian, sekarang kamu bilang semua ini maksud kamu apa? Pengen hancurin aku? Salah aku apa sama kamu?"
"Thal ini semua demi kamu.."
"Demi aku? Demi aku apa demi kamu?" tanya Thalita lagi, "Aku tau kok, aku tau dengan jelas dulu waktu kita SMA, kamu dan Adrian diam-diam selingkuh dibelakang aku.Tapi aku diam, aku diam karena aku sayang kamu dan aku sayang dia. Kalian orang-orang berharga dihidupku. Aku pura-pura gak tahu dan hanya diam saat yang sebenarnya aku sudah tahu hubungan kalian." tutur Thalita.
Penuturan Thalita membuat Lisye berderai airmata. Rahasia yang selama ini dia pendam sendiri tanpa ada sahabatnya yang tahu, akhirnya terkuak dan bukan orang lain yang mengetahuinya tapi Thalita sendiri.
"Kamu tau sakit banget rasanya kalau harus berpura-pura gak tau kebongan dan perselingkuhan kalian dibelakangku.. Sakit banget saat aku dikhianati sahabatku sendiri tapi aku harus berpura-pura gak tahu dengan apa yang terjadi. Aku juga tau, kalian udah putus sekarang. Tapi aku cewek Li, dan aku ngerti perasaan kamu. Bahkan aku tau kamu sampai detik ini masih mencintai Adrian. Lalu sekarang, sekarang.. kamu mau misahin aku sama dia? Makasih banget.. Makasih banget udah nyakitin aku." kata Thalita , yang membuat Lisye tak mampu berkata apa-apa.
Badannya lemas seketika membuat dia jatuh duduk dilantai.
"Belum puas kamu? Masih ingin menyakitiku dengan cara ini? Makasih banget."
Setelah itu, Thalita berlari pulang kerumahnya. Berlari sendirian ditengah hujan deras saat itu, dijalanan yang sepi. Roy berusaha mengejarnya tapi tak berhasil menemukannya. Roy mencari kerumahnya, tapi tak ada satu orang pun dirumahnya.
***
Besok paginya, diruang perawatan rumah sakit..
"Non, ini bibik bawakan bubur ayam." kata pembantunya Thalita saat mendapati dia yang terbaring murung di rumah sakit.
"Iya bik, makasih." jawabnya pelan, "Bik, jangan bilang sama siapa-siapa aku disini ya.." pinta Thalita
"Sama siapa yang kamu gak mau bilang?" tanya Roy begitu tiba didepan Thalita.
"Roy?" tanya Thalita yang tampak kaget dengan kedatangan Roy
"Maafin bibik non, bibik .."
"Aku yang maksain bibik bilang ke aku." kata Roy memotong menjelaskan.
Thalita mengangguk.
"Non, tadi tuan dan nyonya telpon dari luar kota, mereka nanyain keadaan non. Nyonya bilang kalau tuan dan nyonya belum bisa pulang kesini karena hujan deras disana beberapa hari ini." Bibik menjelaskan
"Iya bik, gak apa kok."
Beberapa jam berlalu, Roy setia menemani Thalita dirumah sakit.
Sedangkan si Adrian sudah mendengar perihal kejadian yang terjadi kemarin malam ditempat karaoke oleh sahabat-sahabatnya Thalita yang memarahi Adrian, ya tentunya selain Roy dan Lisye. Adrian berulang kali menelpon Thalita.
-sayangku- Thalita melihat layar hpnya. Berpuluh-puluh telpon dan sms masuk dari Adrian. Tapi tak ada satupun dijawabnya.
***
Besok harinya Thalita sudah dibolehkan kembali kerumahnya. Dia dijemput kedua orang tuanya dan Roy juga tiga sahabatnya yang lain tidak termasuk Lisye.
"Angkatlah Thal.." kata Roy, saat melihat layar hpnya Thalita, sambil menarik kain penghangat menutup tubuh cewek cantik ini.
Thalita mengangguk dan menjawab telpon dari Adrian, sementara Roy dan tiga sahabatnya yang lain berjalan keluar dari kemar, membiarkan Thalita dan Adrian menyelesaikan semuanya.
"Roy," panggil mamanya Thalita
"Ya tante," jawabnya
"Tante boleh bicara sama kamu?"
"Iya boleh tante." Roy mengikuti mamanya Thalita ke balkon lantai 2 rumah besar itu.
"Roy .. tante mau minta kamu untuk jagain Thalita, anak tante satu-satunya. Karena tante tau cuma kamu yang bisa jagain dia, dan yang pastinya kamu takan melukai hatinya."
"Maksud tante?"
Sambil tersenyum, "Tante tau kok kamu sejak dulu suka sama Thalita. Tante dengarnya dari mama kamu. Bahkan tante, om, dan mama sama papa kamu udah ngejodohin kalian."
"Ya tante," jawabnya
"Tante boleh bicara sama kamu?"
"Iya boleh tante." Roy mengikuti mamanya Thalita ke balkon lantai 2 rumah besar itu.
"Roy .. tante mau minta kamu untuk jagain Thalita, anak tante satu-satunya. Karena tante tau cuma kamu yang bisa jagain dia, dan yang pastinya kamu takan melukai hatinya."
"Maksud tante?"
Sambil tersenyum, "Tante tau kok kamu sejak dulu suka sama Thalita. Tante dengarnya dari mama kamu. Bahkan tante, om, dan mama sama papa kamu udah ngejodohin kalian."
Roy sempat bingung darimana mamanya mengetahui perasaannya ke Thalita, perasaan yang dia simpan sejak mereka masih kecil sampai sekarang.
"Cuman ya .. tante waktu itu gak bisa maksain perasaan Thalita karena ternyata Thalita udah jatuh hati pada cowok lain. Tapi sekarang, tante yakin banget dengan kejadian ini semuanya.. kamu bisa jagain dia dan gak nyakitin dia." sambung mamanya Thalita.
"Cuman ya .. tante waktu itu gak bisa maksain perasaan Thalita karena ternyata Thalita udah jatuh hati pada cowok lain. Tapi sekarang, tante yakin banget dengan kejadian ini semuanya.. kamu bisa jagain dia dan gak nyakitin dia." sambung mamanya Thalita.
Roy hanya mengangguk. Setelah itu mamanya Thalita pergi meninggalkan Roy yang masih terdiam berdiri dibalkon.
***
Malamnya..
Di waktu yang sama Thalita setelah selesai berbicara dengan Adrian, dia mengambil laptopnya dan membuka sosial network melihat profilnya Adrian. Dia ingin mencari tahu hal itu sendiri. Dia berusaha tegar saat membuka satu per satu. Dari matanya butiran bening lagi-lagi menghiasi saat melihat semua yang tertulis dan ada disitu.
"Thal, kamu kenapa?" tanya Roy yang saat itu tiba dikamarnya Thalita melihat tangis cewek dihadapannya dia langsung memeluknya erat dan membelai kepalanya.
Thalita sendiri sudah tak sanggup menahan isak tangis yang semakin keras dan derasnya keluar begitu saja.
"Thal, kamu kenapa?" tanya Roy yang saat itu tiba dikamarnya Thalita melihat tangis cewek dihadapannya dia langsung memeluknya erat dan membelai kepalanya.
Thalita sendiri sudah tak sanggup menahan isak tangis yang semakin keras dan derasnya keluar begitu saja.
"Aku sudah baca semuanya Roy, sudah lihat semuanya. Ternyata memang benar.."
Roy terdiam tanpa kata tapi semakin mempererat pelukannya. Papa dan mamanya melihat dari balik pintu tapi mengurungkan niat mereka untuk menemui anak mereka itu karena mereka berdua tahu, Roy bisa menenangkannya.
Setelah selesai menangis, Thalita terlelap dalam tidurnya. Roy dengan setia menjaganya dikursi.
***
Keesokkan harinya..
Thalita bangun dengan perasaan lega, semalam dia sudah melepaskan semuanya. Yah telah melepaskan Adrian yang selama ini mengisi hidupnya selama bertahun-tahun dan tepat hari ini, tepat hari ini adalah anniversarry mereka yang kelima. Semuanya sudah dikuburnya dalam-dalam dihatinya. Walaupun berat, tapi semuanya akhirnya bisa dilepaskan juga. Hari ini dia akan memulai hidupnya yang baru, lembaran hidupnya yang baru bersama orang yang benar-benar mencintainya. Menata hidupnya dari awal lagi dan berusaha tegar menghadapi semua.
Keesokkan harinya..
Thalita bangun dengan perasaan lega, semalam dia sudah melepaskan semuanya. Yah telah melepaskan Adrian yang selama ini mengisi hidupnya selama bertahun-tahun dan tepat hari ini, tepat hari ini adalah anniversarry mereka yang kelima. Semuanya sudah dikuburnya dalam-dalam dihatinya. Walaupun berat, tapi semuanya akhirnya bisa dilepaskan juga. Hari ini dia akan memulai hidupnya yang baru, lembaran hidupnya yang baru bersama orang yang benar-benar mencintainya. Menata hidupnya dari awal lagi dan berusaha tegar menghadapi semua.
"Roy.." panggilnya saat menghampiri Roy yang masih tertidur lelap dikursi. "Roy,"
Roy kaget dari tidurnya dan lebih kagetnya dia, Thalita disampingnya duduk tersenyum dan menatapnya lekat-lekat.
"Thalita.."
Sambil tersenyum lebar, Thalita menariknya bangun dari kursi dan mendudukkannya dimeja makan. Roy tampak bingung dengan sikap Thalita pagi ini, tapi dia bahagia bisa melihat lagi senyum Thalita yang beberapa hari lalu tak ditemukan senyum sebahagia seperti sekarang ini.
"Thalitaku sudah kembali.." gumamnya dalam hati saat melihat senyum seceria itu.
"Hei .. Hei .." Thalita mengagetkan Roy dari tatapannya. "Ayo makan.. mm-Hmm setelah itu kita ketempat biasa."
"Om dan tante, mana?" tanya Roy.
"Papa dan mama udah ke kantor." katanya sambil memakan sarapannya, "Ayo makan.." pintanya saat melihat Roy terus menatapnya.
Roy tersenyum dan ikut menghabiskan sarapannya.
***
Ditempat biasa mereka nongkrong..
Tampak keduanya sedang bermain-main dengan senangnya.
"Thalita! Roy!" seru ketiga sahabatnya dari kejauhan. Tampak juga Lisye bersama-sama mereka, namun hanya terdiam
"Hai.." Thalita ikut melambai-lambaikan tangannya
Mereka menghampiri Thalita dan Roy. Thalita menyapa sahabat-sahabatnya satu per satu dan begitu tiba di Lisye, dia lalu tersenyum melihat Lisye yang hanya tertunduk diam.
"Li .." sapanya.
Lisye menatap Thalita. Matanya berkaca-kaca. Perasaan malu dan bersalah masih menyelimutinya.
"Kita masih sahabatan kan?" tanya Thalita
Dengan tanpa hitungan detik, Lisye langsung memeluk Thalita, saabat terdekatnya dan menangis dipundaknya.
"Sudah, sudah.. Kok Lisye cewek tomboy nangis? Gak asyik ah.." ledek Thalita
Tampak senyum kecil dibibir Lisye dan kembali memeluk erat sahabatnya itu.
Mereka menghampiri Thalita dan Roy. Thalita menyapa sahabat-sahabatnya satu per satu dan begitu tiba di Lisye, dia lalu tersenyum melihat Lisye yang hanya tertunduk diam.
"Li .." sapanya.
Lisye menatap Thalita. Matanya berkaca-kaca. Perasaan malu dan bersalah masih menyelimutinya.
"Kita masih sahabatan kan?" tanya Thalita
Dengan tanpa hitungan detik, Lisye langsung memeluk Thalita, saabat terdekatnya dan menangis dipundaknya.
"Sudah, sudah.. Kok Lisye cewek tomboy nangis? Gak asyik ah.." ledek Thalita
Tampak senyum kecil dibibir Lisye dan kembali memeluk erat sahabatnya itu.
Persahabatan mereka membaik seperti semula. Bagi Thalita, Adrian adalah masa lalu bagian dari hidupnya yang bukan untuk dilupakan tapi sebagai pelajaran tersendiri bagi dirinya. Hal yang sama juga dilakukan Lisye.
Kini Thalita sudah mulai berhasil perlahaN-lahan merelakan cowok yang dicintainya itu. Dia menata kehidupannya dan tentunya menemukan sosok yang lebih baik, yang takan mungkin menyakitinya, ya sosok cowok itu adalah Roy.
Singkat ceritanya, Roy mengakui perasaan yang selama ini dia pendam untuk Thalita.
Thalita menerimanya. Mereka berdua berbahagia dan perjodohan yang awalnya direncanakan kedua orang tua mereka masing-masing terlaksana.
Singkat ceritanya, Roy mengakui perasaan yang selama ini dia pendam untuk Thalita.
Thalita menerimanya. Mereka berdua berbahagia dan perjodohan yang awalnya direncanakan kedua orang tua mereka masing-masing terlaksana.
TAMAT